Anda di halaman 1dari 11

FERTILITAS

MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Fisiologi Reproduksi Yang dibina oleh Dr. Umie Lestari M.Si dan Dra. Nursasi Handayani M.Si

Oleh Anissa Puspitawangi 100342404256

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI April, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Reproduksi dan aktivitas yang berhubungan dengannya, menembus semua aspek kehidupan kita. Pada hubungan sosial manusia saat ini, meningkatnya tekanan hukum individu dan keejahteraan membuat lebih banyak sikap simpatik terhadap fertilitas tiap individu, yang mana keduanya terbatas dan mendesak. Fertilitas seseorang, pasangan, atau populasi adalah mengenai angka anak yang lahir, dan tingkat fertilitas dari populasi adalah angka kelahiran pada periode pasti yang ditentukan oleh usia reproduktif wanita. Wanita dibandingkan dengan pria digunakan dalam perhitungan ini karena potensi reproduksi wanita terbatas. Dengan demikian, fertilitas adalah suatu ukuran dari hasil sebenarnya proses reproduksi. Sedangkan

fekundibilitas adalah kemungkinan siklus menstruasi pada wanita yang secara periodik dan tetap melakukan seks tanpa menggunakan pengaman, entah terjadi konsepsi (pembuahan) atau tidak. Konsepsi (pembuahan) memiliki indikasi dengan salah satu tes kehamilan secara biokimia (tes positif HCGHuman Chorionic Gonadotrophin) dan atau tes kehamilan secara klinikal (scan USG). Lalu, fekunditas adalah ukuran kapasitas kehamilan dan hasil kelahiran hidup di bawah kondisi yang sama. Keduanya, baik fekundibilitas maupun fekunditas merupakan ukuran potensi reproduktif wanita. Pada kenyataan, fertilitas populasi maupun individu akan jarang mencapai teori maksimum (fekunditas), karena paksaan penempatan pada efisiensi reproduksi. Efek paksaan alami seperti usia dan penuaan pada fertilitas dan fekunditas akan lebih dulu dipertimbangkan. Dengan menyusun makalah ini, saya ingin menunjukkan bahwa untuk wanita, batas tanda pubertas dan menopause terdapat pada periode fertilitas. Bagaimanapun, dengan periode ini, kebanyakan wanita tidak melanjutkan reproduksi. Secara tradisional, ada 3 faktor yang membatasi fertilitas wanita: (1) sosial atau kebiasaan beragama dan tradisi, (2) penggunaan alat kontrasepsi dan induksi penghentian kehamilan, dan (3) patologi (infetilitas atau subfertilitas)

Oleh karena fertilitas merupakan kondisi reproduksi tiap individu, sangat penting bagi kita untuk memahami hal itu. Untuk inilah saya membuat makalah mengenai fertilitas.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan fertilitas, fekundibilitas, dan fekunditas? 2. Apakah yang dimaksud dengan usia, penuaan, dan kapasitas reproduktif pada pria maupun wanita? 3. Bagaimana hubungan paksaan sosial terhadap fertilitas? 4. Bagaimana cara mengontrol fertilitas secara artificial (buatan)?

BAB II ISI 2.1. FERTILITAS, FEKUNDIBILITAS, DAN FEKUNDITAS Fertilitas adalah suatu ukuran dari hasil sebenarnya proses reproduksi. Sedangkan fekundibilitas adalah kemungkinan siklus menstruasi pada wanita yang secara periodik dan tetap melakukan seks tanpa menggunakan pengaman, entah terjadi konsepsi (pembuahan) atau tidak. Konsepsi (pembuahan) memiliki indikasi dengan salah satu tes kehamilan secara

biokimia (tes positif HCG-Human Chorionic Gonadotrophin) dan atau tes kehamilan secara klinikal (scan USG). Lalu, fekunditas adalah ukuran kapasitas kehamilan dan hasil kelahiran hidup di bawah kondisi yang sama. Keduanya, baik fekundibilitas maupun fekunditas merupakan ukuran potensi reproduktif wanita. Pada kenyataan, fertilitas populasi maupun individu akan jarang mencapai teori maksimum (fekunditas), karena paksaan penempatan pada efisiensi reproduksi. Efek paksaan alami seperti usia dan penuaan pada fertilitas dan fekunditas akan lebih dulu dipertimbangkan. Wanita memiliki batas tanda pubertas dan menopause yang terdapat pada periode fertilitas. Bagaimanapun, dengan periode ini, kebanyakan wanita tidak melanjutkan reproduksi. Secara tradisional, ada 3 faktor yang membatasi fertilitas wanita: (1) sosial atau kebiasaan beragama dan tradisi, (2) penggunaan alat kontrasepsi dan induksi penghentian kehamilan, dan (3) patologi (infetilitas atau subfertilitas)

2.2.

USIA, PENUAAN, DAN KAPASITAS REPRODUKTIF Usia seharusnya berbeda dengan penuaan. Usia dimulai pada pembuahan dan diartikan dari apa yang terjadi dengan bagian waktu. Penuaan menjelaskan kemunduran hubungan dengan disfungsi dan penyakit. Penuaan reproduksi bermula selama usia pertengahan, namun pada permulaan dan rangkaian waktunya berubah-ubah secara luas antara individu pada usia yang

sama. Baik pada pria maupun wanita mengalami perubahan angka penuaan menuju sistem saraf pusat sebagai pengendali regulator reproduksi dan fungsi seksual. Kelemahan hormon androgen dihydroepiandrosterone memproduksi dalam jumlah besar oleh adrenal, memiliki neuroprotektif efek yang bisa mengurangi pada beberapa orang yang berumur dan memungkinkan nilai dari penurunan kapasitas untuk memperbaiki dan meneruskan neuron. Pada wanita, perubahan mayoritas terjadi pada menopause, menegaskan siklus terakhir menstruasi, dan ini merupakan akibat dari keletihan fungsi folikel ovarium dan bagian dari proses penuaan. Kebanyakan pria, beda dengan wanita, tidak mengalami keletihan gamet atau secara tiba-tiba mengalami penurunan fertilitas sebagai bagian proses dari pertambahan usia, di sana menjadi tidak ada bukti dari persamaan menopause pada pria. Wanita Menarche Fertilitas pada wanita berbeda-beda sesuai usia. Siklus menstruasi berawal selama pubertas, dan tanda menarche lebih awal terekspresi dari potensi fertilitas wanita dengan terlibatnya keseluruhan ovarium dan siklus uterin yang telah tercapai. Gangguan menarche mengindikasikan diagnosis dari amenorrhoea primer. Ini kemungkinan akibat dari kegagalan kematangan normal yang mendasari mekanisme neuroendokrin; dari kerusakan pada gonad, seperti disgenesis atau agenesis karena abnormalitas kromosom (sindrom turner dan hermaprodit); atau dari kerusakan primer pada traktus genital, seperti kekurangan bagian antara uterus dan vagina (kriptomenorrhoea atau menstruasi yang tersembunyi) atau, memang ketidakadaan genital internal seperti yang terlihat pada sindrom ketidakpekaan androgen. Bagaimanapun, pada sebagian besar wanita, menstruasi siklus awal jarang teratur. Secara umum, fase folikuler cenderung menjadi pendek dengan usia dan fase luteal cenderung lama, untuk alasan yang belum jelas.

Penyebab haid dan menopause Fertilitas tertingi pada wanita pada usia 20an dan menurun setelahnya. Penurunan ini pasti, prinsip, akibat reduksi fekunditas atau perubahan pada perilaku seksual pada wanita tua yang mengalami kesempatan reduksi, atau kecenderungan, seksual yang tidak terlindungi. Ukuran kerentanan tidak punya anak pada wanita pada usia yang berbeda pada pernikahan, yang mencoba secara aktif untuk memiliki keturunan dan memberi kesan penurunan dalam fekunditas. Jadi benar bahwa kemampuan menopang sebuah kehamilan hingga kelahiran sukses menurun perlahan hingga usia 35 tahun, namun secara cepat kemudian ketika frekuensi kegagalan ovulasi meningkat, keguguran kehamilan awal, kematian perinatal atau neonatal, bobot kelahiran rendah, maternal hipertensi, dan malformasi congenital utama, namun tidak khusus, akibat kromosom fetal yang tidak seimbang. Oosit maternal, penyimpanan pada metaphase meiosis kedua sejak fetal hidup, menunjukkan bukti dari peningkatan ketidakstabilan spindel meiosis dan penyebaran kromosom, dan kontribusi terbesar pada penurunan fekunditas itu. Karena itu, tidak mengejutkan bahwa siklus menstruasi tidak tetap kemungkinan dimulai untuk memunculkan kembali pada beberapa wanita di awal 40an dan menandai awal dari haid, sebuah periode dari reproduksi berubah yang kemungkinan akhir di atas 10 tahun sebelum siklus terakhir menstruasi

(menopause). Gejala yang menghubungkan haid dapat termasuk perubahan mood, iritabilitas, libido menurun, dan hot flushes. Gambaran haid penurunan angka folikel ovarium dan reduksi kemampuan reaksi gonadotropin, dan konsekuensinya secara langsung dari angka pasti oosit wanita yang meningkat dari pengakhiran proliferasi mitosis pada sel germinal wanita. Penghentian akhir hidup reproduksi adalah kegagalan fungsi ovarium, meskipun penuaan mengubah sel hipotalamus dan pituitari kemungkinan juga membuat kontribusi menuju haid dsymenorrhoea. Kehilangan oosit prematur, dan menopause prematur, terjadi sekitar 2% wanita, di beberapa awal remaja telat mereka dan awal 20an. Penyebab menopause premature belum jelas. Dengan penurunan angka sedikit preantral/ antral folikel awal, sekresi folikuler inhibin B menurun segera pada haid, kenaikan level FSH karena reduksi feedback negative. Kenaikan FSH ini untuk dapat sementara menyelamatkan proporsi besar folikel kecil dan dapat mempercepat fase folikuler. Selama periode ini, folikel antral masih bertahan dalam peningkatan level inhibin A dan esterogen. Hanya di akhir haid, mendekati menopause, inhibin A dan esterogen jatuh, kemudian LH meningkat juga. Secara bertentangan, level androgen meningkat setelah menopause, akibatnya kombinasi sintesis adrenal akan meningkatkan respon LH sintesis sel interstial ovarium, dan kemungkinan ini akan menyebabkan hisutism dan selanjutnya memperburuk berefek buruk, dengan estrogen rendah kardiovaskuler. Konsekuensi dari menopause Secara fisik, fungsi dan emosi berubah saat haid dan menopause dikendalikan secara langung atau tak langsung oleh perubahan ovarium. Penarikan kembali estrogen bertangguang jawab atas: Perubahan vasomotor, seperti hot flushes dan night sweats; perubahan rasio lipid pada darah, berhubungan dengan peningkatan resiko pembekuan darah; reduksi ukuran uterus dan payudara; dan reduksi pada pelumasan vagina dan kenaikan pH cairan vagina, dengan konsekuensi tidak nyaman selama senggama (dyspareunia) dan bisa terjadi atropic vaginitis. Aktivitas antiparathohormon pada sistem

esterogen juga menurun saat ini, akibat meningkatnya reaksi pemecahan tulang, osteoporosis dan lebih banyak tulang yang rapuh. Pria Kemunduran reproduksi karena usia, meskipun kemungkinan karena penuaan. Pada kebanyakan pria spermatozoa subur dapat diproduksi dengan baik pada usia 40 tahun. Namun volume semen dan pergerakan, kuantitas dan kualitas spermatozoa menurun terus pada keseluruhan pria dewasa pada awal 20an. 2.3. HUBUNGAN PAKSAAN SOSIAL TERHADAP FERTILITAS Diantara variable sosial yang penting yang dapat mempengaruhi fertilitas secara langsung adalah: 1) Diterimanya peraturan sosial pria dan wanita, perasaan dan undang-undang yang seimbang antara kekuatan dan tingkat pendidikan dan ekonomi. 2) Usia wanita ketika menikah dan melahirkan anak pertama, dan tingkat mortalitas maternal 3) Diterimanya ukuran kekeluargaan, terdapatnya perhatian anak, dan rasio seks, yang mungkin juga dipengaruhi oleh inheritance pattern. 4) Sikap melindungi dan mengantisipasi mortalitas anak 5) Ketersediaan keuntungan ekonomi keluarga 6) Diijinkannya frekuensi hubungan seksual dalam hubungan siklus menstruasi, waktu dalam setahun atau kalender agama, usia partner, kondisi sosial dan kesempatan, serta anak yang masih manyusu. 7) Tingkat laktasi maternal (dengan konsekuensi hyperprolaktinaemia dan depresi fertilitas) digantikan oleh subtitusi susu 8) Kemampuan diterimanya interaksi seksual lazim 9) Peraturan sosial dan status belum kawin 10) Kemampuan diterimanya reproduksi dalam sosial, etnik, dan peraturan dengan ketat dikontrol struktur sosial (ibu single atau unmarried, pasangan lesbian, dan gay). 11) Adanya perceraian

12) Kekuatan

kepercayaan

agama

pada

individu

yang

mungkin

juga

mempengaruhi akses menuju pendidikan, informasi, kontrasepsi, kehamilan, dan teknologi yang membantu reproduksi Setiap faktor tersebut akan berpengaruh, dengan berbagai macam variasinya, keseluruhan fertilitas wanita, pasangan atau populasi, dan faktor yang bervariasi akan saling berinteraksi satu sama lain.

2.4.

CARA MENGONTROL FERTILITAS SECARA ARTIFICIAL (BUATAN) Secara sosial, ada 3 kontrol artificial berlebih pada fertilitas yaitu: (1)

kontrasepsi, (2) induksi berakhirnya kehamilan, dan (3) sterilisasi. Tidak semua kontrol ini 100% efektif dan dengan demikian beberapa dari mereka seharusnya terlihat seperti meregulasi fertilitas oleh ditundanya kelahiran atau meningkatnya interval antara kelahiran.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Fertilitas adalah suatu ukuran dari hasil sebenarnya proses reproduksi. Sedangkan fekundibilitas adalah kemungkinan siklus menstruasi pada wanita yang secara periodik dan tetap melakukan seks tanpa menggunakan pengaman, entah terjadi konsepsi (pembuahan) atau tidak. Konsepsi (pembuahan) memiliki indikasi dengan salah satu tes kehamilan secara biokimia (tes positif HCG-

Human Chorionic Gonadotrophin) dan atau tes kehamilan secara klinikal (scan USG). Lalu, fekunditas adalah ukuran kapasitas kehamilan dan hasil kelahiran hidup di bawah kondisi yang sama. Keduanya, baik fekundibilitas maupun fekunditas merupakan ukuran potensi reproduktif wanita. Menopause dimulai pada menstruasi terakhir akibat dari keletihan fungsi folikel ovarium dan bagian dari proses penuaan. Mendekati menopause, inhibin A dan esterogen menurun, LH meningkat. Level androgen meningkat setelah menopause, akibatnya kombinasi sintesis adrenal akan meningkatkan respon LH sintesis sel interstial ovarium.

DAFTAR RUJUKAN

Anoname. 2005. Fertilitas. (Online) (http://id.scribd.com/doc/91373704/makalahfertilitashttp://id.scribd.com/doc/91373704/makalah-fertilitas) diakses tanggal 17 April 2013. Gilbert, S.F . 2010. Developmental Biology. Ed. 8. Sinderland: Sinauer.