Anda di halaman 1dari 12

PARADIGMA BARU MANAJEMEN KEPALA MADRASAH Oleh Khairuddin A.

Pendahuluan Dengan berlakunya UU nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah (otoda), maka terjadi perubahan berbagai kewenangan Pemerintah Pusat (Depdiknas) dalam berbagai hal khususnya yang berkaitan dengan pendidikan. Hal tersebut akan berdampak pada pengelolaan pendidikan di daerah. Di satu sisi upaya otonomi pendidikan akan berpengaruh terhadap berkembangnya madrasah sebagai lembaga pendidikan. Di sisi lain, keragaman potensi sumber daya daerah (termasuk kualitas manajemen kepala madrasah) akan menyebabkan kualitas hasil pendidikan di masing-masing daerah bervariasi. Oleh karena itu, dirasa perlu melakukan pendekatan baru untuk mengatasi berbagai permasalahan pengelolaan madrasah yang selama ini dihadapi antara lain melalui pemberian kewenangan yang seluas-luasnya bagi daerah dan kepala madrasah untuk mengembangkan program madrasah sesuai dengan kebutuhan peserta didiknya. Belajar dari pengalaman terhadap kebijakan sentralistik, disinyalir ada beberapa dampak sistem top-down, yaitu (a) keterbatasan kewenangan kepala madrasah dalam mengelola sumber daya pendidikan madrasah yang dipimpinnya, (b) kemampuan manajemen kepala madrasah dalam mengembangkan program pendidikan belum optimal, (c) pola anggaran yang kurang memungkinkan dalam pemberian imbalan kepada guru yang profesional secara memadai, (d) peran serta masyarakat dalam pengelolaan sekolah terbatas. Dengan demikian, reformasi pengelolaan pendidikan perlu diarahkan untuk dapat terciptanya kondisi yang desentralistik, baik pada tatanan birokrasi maupun pengelolaan madrasah. Khusus pada tingkat madrasah, melalui otonomi yang luas, partisipasai masyarakat perlu ditngkatkan terutama dalam hal perencanaan dan pengelolaan program madrasah melalui konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) maupun berbagai pendekatan manajemen lainnya. Pada dasarnya pendidikan di madrasah memiliki peranan penting, bertanggung jawab untuk mempersiapkan generasi bangsa dalam menghadapi globalisi yang lebih berkualitas (susanto, 1998:4). Di samping itu, globalisasi yang ditandai dengan adanya kompetensi global yang sangat ketat dan cepat, di beberapa negara juga telah berupaya untuk melakukan revitalisasi pendidikan. Revitalisasi ini termasuk pula dalam hal perubahan paradigma kepemimpinan pendidikan. Kepala madrasah sebagai pemimpin pendidikan merupakan tokoh sentral dalam peningkatan mutu, relevansi dan daya saing madrasah. Disebut tokoh sentral dikarenakan peran kepala madrasah yang sangat strategis dalam upaya mewujudkan madrasah yang mampu membentuk insan Indonesia cerdas dan kompetitif. Kepala madrasah sebagai pimpinan diharapkan mampu menjadi penyumbang keberhasilan dalam penguatan tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik pendidikan Indonesia. Keberhasilan kepala madrasah dalam meningkatkan kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen sebagai salah satu kompetensi yang disyaratkan dalam menjalankan tanggung jawabnya yang berkaitan dengan tugas, peran, dan fungsi sebagai kepala madrasah.

Kepala madrasah memegang peranan penting dalam penyelenggaraan pendidikan di madrasah yang diberikan tanggung jawab untuk melakukan pengelolaan penuh terhadap pengaturan jalannya proses pendidikan di madrasah. Peran utama kepala madrasah adalah sebagai pemimpin yang mengendalikan jalannya penyelenggaraan pendidikan di mana pendidikan itu sendiri pada hakikatnya juga berfungsi sebagai sebuah transformasi yang mengubah input menjadi output. Hal ini menentukan suatu proses yang berlangsung secara benar, terjaga sesuai dengan ketentuan dari tujuan pendidikan itu sendiri. Untuk menjamin terselenggaranya pendidikan di madrasah seorang pemimpin sebagai top manager madrasah dalam hal ini kepala madrasah. Kepala madrasah tentunya memerlukan manajemen yang baik dalam rangka menjamin kualitas agar sesuai dengan tujuan pendidikan. Kepala madrasah di samping berfungsi sebagai top manager di madrasah, juga berfungsi sebagai pengawas. Ini dimaksudkan bahwa seorang top manager adalah faktor penentu dalam sukses atau gagalnya suatau organisasi atau usaha dan juga sebagai penentu suksesnya organisasi. Seorang manager yang sukses artinya memiliki kemampuan dalam mengelola organisasinya, mampu mengantisifasi perubahan tiba-tiba, menganalisis kelemahan-kelemahan serta sanggup membawa organisasinya kepada sasaran jangka waktu yang ditetapkan. Ini berarti bahwa ia berfungsi sebagai pengawas utama, pengontrol tertinggi yang melakukan supervisi dalam menemukan atau mengidentifikasi kemampuan atau ketidakmampuan personil (guru, pegawai tata usaha, siswa, dan mitra kerja dalam hal ini komite sekolah) dan memberikan pelayanan kepada semua komponen warga sekolah guna meningkatkan kemampuan keahliannya dan mengelola secara lebih efektif untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar para peserta didik dapat mencapai prestasi hasil belajar yang lebih meningkat (Sartono, 2007:2). Disadari bahwa peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas yang ringan karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan kompleks, baik yang menyangkut perencanaan, pendanaan, maupun efisiensi dan efektivitas penyelenggara sistem madrasah. Peningkatan kualitas pendidikan juga menuntut manajemen kepala madrasah yang lebih baik sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman. Berdasarkan fakta empirik, selama ini aspek manajemen kepala madrasah pada tingkat dan satuan pendidikan belum mendapat perhatian yang serius oleh semua pihak termasuk perubahan paradigma manajemen kepala madrasah yang diwacanakan oleh pemerintah dalam akselerasi mutu pendidikan secara nasional maupun di daerah. Secara konseptual perubahan paradigma pendidikan belum dipahami dan dilaksanakan khususnya oleh para kepala madrasah dengan baik sebagai pengambil kebijakan di lembaga pendidikan maupun instansi terkait lainnya, sehingga seluruh komponen sistem pendidikan kurang berfungsi dengan baik. Lemahnya manajemen kepala madrasah juga memberikan dampak terhadap efisiensi internal pendidikan yang terlihat dari jumlah peserta didik yang tidak berhasail dalam Ujian Nasional (UN), mengulang kelas, bahkan ada juga di antara peserta didik yang putus sekolah.

Keinginan pemerintah, yang digariskan dalam haluan negara dan agar pengelolaan pendidikan diarahkan pada desentralisasi, menuntut partisipasi masyarakat secara aktif untuk merealisasikan otonomi daerah. Karena itu, perlu kesiapan madrasah, sebagai ujung tombak pelaksanaan operasional pendidikan, pada garis bawah. Sistem manajemen pendidikan yang dapat mengakomodasi seluruh elemen esensial diharapkan muncul dari para kepala madrasah sebagai penerima wewenang otonomi sekolah . Pendidikan yang selama ini secara terpusat (sentralisasi) harus diubah untuk mengikuti irama yang sedang berkembang. Otonomi daerah sebagai kibijakan makro akan memberi imbas terhadap otonomi madrasah sebagai subsistem pendidikan nasional. Wewenang dan kekuasaan yang diberikan kepada kepada kepala madrasah sudah selayaknya mempunyai gaya kepeminpinan yang efektif untuk mengatur dan mengembangkan bawahannya secara profesional. Kepala madrasah yang profesional dalam paradigma baru manajemen pendidikan akan memberikan dampak positif dan perubahan yang cukup besar dalam pengembangan sistem pendidikan di madrasah. Dampak tersebut antara lain terhadap efektivitas pendidikan, kepemimpinan madrasah yang kuat, pengelolaan tenaga pendidikan yang efektif, budaya mutu, teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, kemandiriaan, partisipasi warga sekolah dan masyarakat, keterbukaan (transparansi) manajemen, kemauan untuk berubah (psikologis dan fisik) evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan, akuntabilitas, dan sustainabilitas. Kemampuan manajerial yang handal juga membawa suasana madrasah yang sehat dan dinamis. Menciptakan sikap dan semangat serta profesionalisme guru juga banyak tergantung pada kepemimpinan kepala madrasah. Para guru atau staf lainnya akan dapat bekeja dengan baik dan penuh semangat bila kepala madrasah mampu menerapkan kepemimpinanya yang efektif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan profesionalisme guru perlu diperhatikan manajemen dan kepemimpinan kepala madrasah. Selanjutnya, implikasi dari perubahan paradigma pendidikan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada daerah dalam penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Khususnya di provinsi Aceh telah lahirnya Qanun pendidikan Nomor 23 tahun 2002 yang kemudian Qanun tersebut disempurnakan dengan Nomor 5 tahun 2008, secara eksplisit amanatnya adalah Sistem pendidikan yang dikembangkan di Aceh ialah sistem pendidikan nasional yang bersifat Islami berlandaskan pada Alquran, Al-hadist serta nilai-nilai sosial budaya masyarakat Aceh dan filsafat hidup bangsa Indonesia. Karena itu, perubahan paradigma manajemen baru kepala madrasah merupakan suatu keharusan. Berdasarkan paparan di atas untuk mewujutkan peran kepala madrasah yang kuat dalam mengkoordinasikan dan menggerakkan serta menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia di madrasah dalam mewujutkan visi, misi, tujuan dan sasaran madrasah. Berikut ini dikemukan beberapa pendapat para ahli yang berhubungan dengan paradigma baru manajemen kepala madrasah sebagai salah satu alternatif solusi pemacahannya.

B. Pengertian Paradigma, Manajemen dan Kepala Madrasah 1. Pengertian Paradigma Menurut Robert dalam Nugraha (2012: 1-2) mengatakan bahwa paradigma adalah kumpulan tata nilai yang membentuk pola pikir seseorang sebagai titik tolak pandangannya sehingga akan membentuk citra subjektif seseorang mengenai realitas dan akhirnya bagaimana seseorang menanggapi realitas itu. Sedangkan menurut Khun mengatakan bahwa paradigma merupakan landasan berpikir atau konsep dasar yang dianut atau dijadikan model atau pola yang dimaksud oleh para ilmuan dalam upaya mengandalkan studi-studi keilmuan. Paradigma di sini diartikan Khun sebagai kerangka referensi atau pandangan dunia yang menjadi dasar keyakinan atau pijakan suatu teori. Berdasarkan dua pendapat para ahli di atas, paradigma dapat digunakan dalam khasanah keilmuan sebagai model, pola, dan ideal. Dari berbagai model, pola, dan ideal itulah jika dihubungkan dengan fenomena dunia pendidikan dapat menjadi dasar dalam menyeleksi berbagai problem pendidikan untuk ditemukan pemecahannya. Di samping itu paradigma membantu merumuskan berbagai hal dalam bidang pendidikan tentang apa yang harus dipelajari, persoala-persoalan yang harus dijawab, bagaimana harus menjawabnya, serta aturanaturan apa saja yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang harus dikumpulkan dalam menjawab persoalan-persoalan pendidikan. 2. Pengertian Manajemen Selanjutnya berkaitan dengan manajemen di dalam kamus Inggris-Indonesia kata manage diartikan mengurus, mengatur, melaksanakan, dan mengelola. Sementara itu, di dalam kamus besar bahasa Indonesia manajemen diartikan sebagai Proses penggunaan sumberdaya secara efektif untuk mencapai sasaran. Adapun dari segi istilah telah banyak para ahli memberikan pengertian manajemen, dengan formulasi yang berbeda-beda, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian manajemen yang dikemukakan oleh para ahli guna memperoleh pemahaman yang lebih jelas. Manajemen itu adalah pengendalian dan pemanfaatan dari semua faktor dan sumber daya, yang menurut suatu perencanaan diperlukan untuk mencapai atau menyelesaikan tujuan kerja yang tertentu (Atmosudirjo,1982:124). Disisi lain, George, (1986: 4) mengatakan bahwa manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan: Perencanaan, pengoranisasian, menggerakkan, dan pengawasan, yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia serta sumber-sumber lain. Sementara itu, P. Siagian (1997:5) mengatakan manajemen didefinisikan sebagai kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh sesuatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui kegiatan-kegiatan orang lain. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa manajemen merupakan alat pelaksana utama administrasi.

Dengan memperhatikan beberapa definisi di atas nampak jelas bahwa perbedaan formulasi hanya pada penekanan yang berbeda namun prinsip dasarnya sama, yakni seluruh aktivitas yang dilakukan adalah dalam rangka mencapai suatu tujuan dengan memanfaatkan seluruh sumberdaya yang ada. Terlepas perbedaan pendapat dari masing-masing para ahli tersebut, terdapat beberapa prinsip yang bisa dijadikan kesamaan tentang pengertian manajemen antara lain: 1. Manajemen merupakan suatu kegiatan 2. Manajemen menggunakan atau memanfaatkan pihak-pihak lain 3. Kegiatan manajemen diarahkan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Setelah melihat pengertian manajemen, maka nampak jelas bahwa setiap organisasi termasuk organisasi pendidikan seperti madrasah akan sangat memerlukan manajemen untuk mengatur/mengelola kerjasama yang terjadi agar dapat berjalan dengan baik dalam pencapaian tujuan, untuk itu pengelolaannya mesti berjalan secara sistematis melalui tahapan-tahapan dengan diawali oleh suatu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, sampai tahapan pengawasan dan evaluasi dengan menunjukkan suatu keterpadauan dalam prosesnya, mengingat hal itu, maka penting manajemen semakin jelas bagi kehidupan manusia termasuk juga dalam bidang pendidikan. Setelah memperoleh gambaran tentang manajemen secara umum maka pemahaman tentang manajemen pendidikan akan lebih mudah, karena dari segi prinsip serta fungsifungsinya nampaknya tidak banyak berbeda, hanya saja perbedaan terlihat dalam substansi yang dijadikan objek kajiannya yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah pendidikan. Dalam kaitannya dengan manajemen pendidikan Djaman Satori (1980:4) mengatakan administrasi pendidikan dapat diartikan sebagai keseluruhan proses kerjasama dengan memanfaatkan semua sumber personil dan materil yang tersedia dan sesuai untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Jika kita merujuk pada pendapat yang dikemukakan oleh Engkoswara (2001:2) mengatakan ruang lingkup manajemen pendidikan adalah suatu kombinasi antara fungsi manajemen dengan bidang garapan antara lain Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber Belajar (SB), dan Sumber Fasilitas/dana (SFD), sehingga tergambar apa yang sedang dikerjakan dalam konteks manajemen pendidikan dalam upaya untuk mencapai trujuan pendidikan secara produktif (TPP) baik untuk perorangan maupun kelembagaan pendidikan seperti organisasi sekolah merupakan kerangka kelembagaan di mana administrasi pendidikan dapat berperan dalam mengelola organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dilihat dari tingkatan-tingkatan suatu organisasi dalam hal ini sekolah, administrasi pendidikan terdiri dari tiga tingkatan yaitu, (1) institusi (Institusi Level), (2) manajerial (managerial level) dan tingkatan Teknis (technical level).

3. Pengertian Kepala Madrasah Kepala sekolah (Madrasah) dapat diartikan sebagai pemimpin /top manajer di sekolah, maka dipandang perlu mengutip beberapa pendapat para ahli tentang pemimpin adalah sebagai berikut. Kartono (1983) menjelaskan tentang pengertian pemimpin dalam perspektif baru pada dunia modern, pemimpin adalah seseorang yang selalu menstimulir setiap individu untuk berpartisipasi aktif dalam suatu kegiatan berorganisai dan ikut memikul beban tanggung jawab kemanusiaan dalam memikirkan menerapkan nilai-nilai kontribusi sosial masing-masing pada kehidupan bersama. Pemimpin melakukan suatu kegiatan melalui proses evaluasi diri yang didukung oleh kesadaran dalam mengembangkan kreativitas kehidupan bersam sebagai aktualisasi segenap bakat dan kemapuan dalam bentuk berbagai macam kegiatan dan hasil karya. Lebih lanjut Terry (1954) mengungkapkan bahwa kepemimpinan adalah keseluruhan aktivitas/tindakan untuk mempengaruhi serta menggiatkan orang-orang dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan, namun berbeda dengan pendapatnya Hoy (1996) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia dan kemampuan untuk membimbing orang-orang. Hal ini berarti bahwa apabila kepemimpinan itu sebagai suatu seni dan keterampilan untuk mempengaruhi orang-orang di sekitarnya maka yang dimaksud ialah seorang pemimpin yang memiliki seni dalam mempengaruhi orang-orang yang di sekelilingnya agar mau dan bersedia mengikuti jejak kehendak keinginan pemimpin yang bersangkutan. Dari urean pengertian tentang pemimpin tersebut, dapat diperoleh gambaran bahwa kepala madrasah sebagai top manager di madrasah diharapkan memiliki kemampuan dasar yang fundamental dalam mengelola madrasah khususnya di negara kita yang menganut sistem demokrasi kepemimpinan, dan fungsi kepala madrasah melaksanakan usaha bersama serentak dan sistematis mencapai tujuan bersama. Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas terdeskripsilah bahwa pengertian kepala Madrasah adalah seorang individu menjadi pemimpin Madrasah yang menjalankan roda kepemimpinannya.

C. Paradigma Baru Manajemen Kepala Madrasah Semakin rumit dan kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh dunia pendidikan, dibutuhkan paradigma baru manajemen pendidikan yang dinilai lebih mampu menjawab tantangan zaman, yang harus diberdayakan dan dikelola oleh kepala madrasah yaitu paradigma baru Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yaitu Paradigma Manajemen Pendidikan SistemikOrganik paradigma Manajemen Berbasis Sekolah ini menekakan bahwa segala objek, peristiwa,

dan pengalaman merupakan bagian-bagian yang tidak terpisahkan dari suatu keseluruhan yang utuh. Paradigma Manajemen Pendidikan Sistemik-Organik ini menekakankan bahwa proses pendidikan formal dan sistem persekolahan harus memiliki ciri-ciri: (1) pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) daripada mengajar (teaching), (2) pendidikan diorganisir dalam struktur yang fleksibel, (3) pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakter khusus dan mandiri, dan (4) pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan linkungan (Zamroni, 2000). Di samping itu, paradigma manajemen pendidikan Sistemik-Organik menutut pendidikan bersifat doubletrack, yaitu pendidikan sebagai proses yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan dan dinamika masyarakatnya. Dunia pendidikan senantiasa mengaitkan proses pendidikan dengan masyarakat pada umumnya dan dunia kerja pada khususnya. Dengan sistem semacam ini, dunia pendidikan kita diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan dan fleksibilitas tinggi untuk menyesuaikan dengan tuntutan zaman yang senantiasa berubah dengan cepat. Selanjutnya, menurut Consortium on Renewing Education (Murphy dan Louis, ed. 1999: 515) mengatakan bahwa dalam manajemen baru pendidikan ada lima bentuk modal yang perlu dikelola oleh kepala Madrasah untuk keberhasilan pendidikan yang bermutu antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. Integrative capital Human capital Financial capital Social capital Political capital (modal integratif) (modal manusia) ( modal Keuangan) ( modal sosial) ( modal politik)

Modal integratif, adalah modal yang berkaitan dengan penintegrasian empat modal lainnya untuk dapat dimanfaatkan bagi pencapaian program/tujuan pendidikan. Modal manusia, adalah sumber daya manusia yang kemampuan untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan proses pendidikan/pembelajaran. Modal keuangan, adalah dana yang diperlukan untuk menjalankan dan memperbaiki proses pendidikan. Modal sosial, adalah ikatan kepercayaan dan kebiasaan yang menggambarkan sekolah sebagai komunitas. Modal politik, adalah dasar otoritas legal yang dimiliki untuk melakukan proses pendidikan/ pembelajaran. Dengan pemahaman sebagaimana yang dikemukakan di atas, nampak bahwa salah satu fungsi penting dari manajemen pendidikan yang harus mendapatkan perhatian dari kepala madrasah berkaitan dengan proses pembelajaran. Hal ini mencakup dari mulai aspek persiapan sampai dengan evaluasi untuk melihat kualitas dari suatu proses tersebut, dalam hubungan ini madrasah sebagai suatu lembaga pendidikan yang melakukan kegiatan/proses pembelajaran jelas perlu mengelola kegiatan tersebut dengan baik karena proses belajar mengajar ini merupakan kegiatan utama dari suatu madrasah (Hoy dan Miskel 2001). Dengan demikian nampak bahwa guru sebagai tenaga pendidik merupakan faktor penting dalam mananjemen pendidikan, sebab inti proses pendidikan di sekolah pada dasarnya adalah guru, karena

keterlibatannya yang langsung pada kegiatan pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, manajemen Sumber Daya Manusia pendidik dalam suatu lembaga pendidikan akan menentukan bagaimana kontribusinya bagi pencapaian tujuan, dan kinerja guru merupakan sesuatu yang harus mendapat perhatian dari pihak kepala madrasah agar dapat terus berkembang dan meningkat kompetensinya dan dengan peningkatan tersebut kinerja mereka pun akan meningkat, sehingga akan memberikan pengaruh pada peningkatan kualitas pendidikan sejalan dengan tuntutan pengembangan global dewasa ini. Lebih lanjut secara ringkas perubahan pola manajemen pendidikan yang lama (konvensional) ke pola manajemen pendidikan yang baru (MBS) sebagaimana yang ditetapkan oleh pemerintah (Depdiknas) diharapkan mendapat respon yang positif dan dapat dijadikan sebagai referensi atau rujukan bagi kepala madrasah dalam pengelolaan dan pemberdayaan madrasah. Pola manajemen lama dan manajemen Baru dapat digambarkan sebagai berikut: a. Pola Lama - Sentralistik - Subordinasi - Pengambilan keputusan terpusat - Pendekatan birokratik - Mengarahkan - Informasi ada pada yang berwenang - Menghindari resiko - Menggunakan dana sesuai anggaran sampai habis b. Pola Baru - Desentralisasi - Otonomi - Pengambilan keputusan partisipasi - Pengorganisasian yang setara - Memfasilitasi - Motivasi diri dan saling mempengaruhi - Informasi terbagi

- Mengelola resiko - Menggunakan uang sesuai kebutuhan dan seefisien mungkin Pola baru mnajemen pendidikan (MBS) yang diharapkan oleh pemerintah dan pihakpihak lainnya sebagaimana yang dikemukakan di atas dapat terlaksana dengan baik pada tataran praksis di madrasah, maka kepala madrasah diharuskan memiliki dua puluh lima kompetensi yang disyaratkan. Kompetensi yang disyaratkan bagi kepala madrasah sebagai top manager jika merujuk sebagaimana yang dipaparkan dalam usulan Network Pendidikan Balitbang Puspendik antara lain sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. Kompetensi dalam memiliki Landasan dan Wawasan Pendidikan Kompetensi dalam memahami Sekolah sebagai Sistem Kompetensi dalam memahami Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Kompetensi dalam merencanakan Pengembangan Sekolah Kompetensi dalam mengelola kurikulum Kompetensi dalam mengelola Tenaga Kepedidikan Kompetensi dalam mengelola Sarana dan Prasarana Kompetensi dalam Mengelola Kesiswaan Kompetensi dalam Mengelola Keuangan Kompetensi dalam Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat Kompetensi dalam Mengelola Kelembagaan Kompetensi dalam Mengelola Sistem Imformasi Sekolah Kompetensi dalam Memimpin Sekolah Kompetensi dalam Mengembangkan Budaya Sekolah Kompetensi dalam Memiliki dan Melaksanakan Kreativitas, Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan Kompetensi dalam Mengembangkan Diri Kompetensi dalam Mengelola Waktu Kompetensi dalam menyusun dan Melaksanakan Regulasi Sekolah Kompetensi dalam Memberdayakan Sumber Daya Sekolah Kompetensi dalam Melakukan Kordinasi/Penyerasian Kompetensi dalam Mengambil Keputusan Secara Terampil Kompetensi dalam Monitoring dan Evaluasi Kompetensi dalam Melaksanakan Supervisi (Penyeliaan) Kompetensi dalam Menyiapkan, Melaksanakan dan Menindaklanjuti Hasil Akreditasi Kompetensi dalam Membuat Laporan Akuntabilitas Sekolah

Misi desentralisasi pendidikan sebagaimana yang telah dikemukakan adalah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselenggaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tututan zaman. Antara lain terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokratisasi dilakukan dengan mengikut sertakan unsur-unsur pemerintah setempat,

masyarakat, dan orang tua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Hal ini tercermin dengan adanya kurikuklum lokal. Kurikulum juga mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka mengembangkan kebudayaan nasional. Misi desentralisasi pendidikan yang dicetuskan oleh Pemerintah Pusat jika dikaitkan dengan Qanun Pendidikan Aceh setelah dicermati secara seksama, tidak ditemukan adanya konsep yang bertentangan bahkan saling melengkapi. Dengan demikian, kedua konsep tersebut dapat dijadikan rujukan oleh kepala madrasah sebagai top maneger dalam pelaksanaan manajemen pada tingkat dan jejang satuan pendidikan khusunya di provinsi Aceh.

C. Penutup Konsep utama dari MBS adalah otonomi madrasah dan pengambilan keputusan. Otonomi diartikan sebagai kemandirian dalam mengatur madrasah mengurus diri sendiri. Otonomi madrasah adalah kewenangan menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi warga sekolah sesuai dengan peraturan undang-undang pendidikan yang berlaku. Dalam praktiknya dituntut kemampuan yang tinggi dalam banyak hal MBS adalah pengambilan keputusan partisipasi. Bahwa keputusan yang diambil merupakan keputusan yang terbaik secara demokrat dan terbuka yang merupakan pertimbangan dari stakeholder. Pengambilan keputusan secara partisipasi dari semua pihak menjadi merasa memiliki terhadap keputusan itu, sehingga mereka akan bertanggung jawab dan berdikasi sepenuhnya untuk mencapai tujuan madrasah. Bila kita sadari sepenuhnya betapa besar peran dan fungsi madrasah dalam upaya meningkatkan mutu. Madrasah menjadai unit utama pengelolaan proses pendidikan, sedangkan pihak lain merupakan pendukungnya. Tuntunan ini mengisyaratkan kepala madrasah harus cerdas dan terpilih. Kepala madrasah yang cerdas adalah yang banyak gagasan cemerlang dan mampu membuat gagasan yang terealisasi dengan penguasaan manajemen yang baik sebagaimana yang telah dipaparkan.

PARADIGMA BARU MANAJEMEN KEPALA MADRASAH

Disampaikan pada workshop Peningkatan Kompetensi Kepala/wakil Kepala MTs se-Kabupaten Aceh Barat di Auditorium Hotel Meuligo, Meulaboh

OLEH

KHAIRUDDIN

DISELENGGARAKAN OLEH KELOMPOK KERJA KEPALA MADRASAH TSANAWIYAH (K3M) KABUPATEN ACEH BARAT 2012