P. 1
OBAT Pada Penyakit TB Paru

OBAT Pada Penyakit TB Paru

|Views: 217|Likes:
Dipublikasikan oleh Wulan Chii Poetri

More info:

Published by: Wulan Chii Poetri on May 02, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2013

pdf

text

original

OBAT pada Penyakit TB paru

Dosis obat antituberkulosis (OAT) Obat INH Rifampisin Pirazinamid Etambutol Streptomisin Dosis harian (mg/kgbb/hari) 5-15 (maks 300 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 15-40 (maks. 2 g) 15-25 (maks. 2,5 g) 15-40 (maks. 1 g) Dosis 2x/minggu (mg/kgbb/hari) 15-40 (maks. 900 mg) 10-20 (maks. 600 mg) 50-70 (maks. 4 g) 50 (maks. 2,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g) Dosis 3x/minggu (mg/kgbb/hari) 15-40 (maks. 900 mg) 15-20 (maks. 600 mg) 15-30 (maks. 3 g) 15-25 (maks. 2,5 g) 25-40 (maks. 1,5 g)

Pengobatan TBC pada orang dewasa

Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3 Selama 2 bulan minum obat INH, rifampisin, pirazinamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensif), dan 4 bulan selanjutnya minum obat INH dan rifampisin tiga kali dalam seminggu (tahap lanjutan). Diberikan kepada: Penderita baru TBC paru BTA positif. Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3
o o

Diberikan kepada: Penderita kambuh. Penderita gagal terapi. Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3
o o o

Diberikan kepada:
o

Penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif.

Pengobatan TBC pada anak Adapun dosis untuk pengobatan TBC jangka pendek selama 6 atau 9 bulan, yaitu: 1. 2HR/7H2R2 : INH+Rifampisin setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH +Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 7 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH). 2. 2HRZ/4H2R2 : INH+Rifampisin+Pirazinamid: setiap hari selama 2 bulan pertama, kemudian INH+Rifampisin setiap hari atau 2 kali seminggu selama 4 bulan (ditambahkan Etambutol bila diduga ada resistensi terhadap INH).

Pengobatan TBC pada anak-anak jika INH dan rifampisin diberikan bersamaan, dosis maksimal perhari INH 10 mg/kgbb dan rifampisin 15 mg/kgbb. Dosis anak INH dan rifampisin yang diberikan untuk kasus: TB tidak berat INH Rifampisin : 5 mg/kgbb/hari : 10 mg/kgbb/hari

TB berat (milier dan meningitis TBC) INH Rifampisin : 10 mg/kgbb/hari : 15 mg/kgbb/hari

Dosis prednison : 1-2 mg/kgbb/hari (maks. 60 mg

1.

Pirazinamid

Pirazinamid adalah analog nikotinamid yang telah dibuat sintetiknya. Obat ini tidak larut dalam air. Pirazinamid di dalam tubuh di hidrolisis oleh enzim pirazinamidase menjadi asam pirazinoat yang aktif sebagai tuberkulostatik hanya pada media yang bersifat asam. Pirazinamid mudah diserap diusus dan tersebar luas keseluruh tubuh. Ekskresinya terutama melalui filtrasi glomerulus. Pirazinamid terdapat dalam bentuk tablet 250 mg dan 500 mg. Bentuk Sediaan: tablet Tujuan pengobatan : yaitu memusnahkan basil tuberkulosis dengan cepat dan mencegahnya kambuh kembali. Idealnya pengobatan dengan

obat TBC dapat menghasilkan pemeriksaan sputum negatif baik pada uji dahak maupun biakan kuman dan hasil ini tetap negatif selamanya. Jadwal/aturan pengobatan, dosis, saat, frek.penggunaan

Aturan pengobatan yang disampaikan disesuaikan dengan usia dan keadaan pasien Anak-anak : Terapi harian 15 – 30 mg/kg/hari (maksimum : 2 g/hari) Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 50 mg/kg/dosis (maksimal 4 g/dosis) Dewasa : Terapi harian 15 – 30 mg/kg/hari 40 – 55 kg : 1000 mg 56 – 75 kg : 1500 mg 76 – 90 kg : 2000 mg Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy): 50 mg/kg 40 – 55 kg : 2000 mg 56 – 75 kg : 3000 mg 76 – 90 kg : 4000 mg Tiga kali seminggu DOT (directly observed therapy): 25 – 30 mg/kg (maksimal 2,5 g) 40 – 55 kg : 1500 mg 56 – 75 kg : 2500 mg 76 – 90 kg : 3000 mg Pasien usia lanjut : Mulai dari dosis harian yang lebih rendah (15 ditingkatkan sampai dosis yang masih dapat ditoleransi mg/kg) dan

Penyesuaian dosis pada kerusakan ginjal : Cl cr < 50 mL/menit : Hindari penggunaan obat atau turunkan dosis hingga 12 – 20 mg/kg/hari Hidari penggunaan pada hemodialysis atau peritoneal dialysis, juga pada continous arterivenous atau venous hemofiltration.

Penyesuaian dosis kerusakan hati : pengurangan dosis Cara / rute penggunaan

Penggunaan obat ini adalah secara oral Lama penggunaan

Digunakan sebagai bagian dari multidrug regimen. Regimen pengobatan meliputi fase pengobatan awal 2 bulan, diikuti dengan fase lanjutan 4 hingga 7 bulan; frekuensi dan dosis berbeda tergantung dari fase terapi.

2.

Rifampisin

Rifampisin merupakan obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Rifampicin sering dipakai untuk pengobatan tuberculosis (TBC). Obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah infeksi setelah berkontak dengan seseorang yang sedang menderita infeksi serius. Obat ini hanya diberikan dengan resep dokter. Rifampisin bekerja dengan membunuh bakteri yang menyebabkan infeksi. Cara kerja obat ini yaitu dengan menonaktifkan enzim bakteri yang disebut RNA polimerase. Bakteri menggunakan RNA polimerase untuk membuat protein dan untuk menyalin informasi genetik (DNA) mereka sendiri. Ta npa enzim ini bakteri tidak dapat berkembang biak dan bakteri akan mati. Dosis: a. Dewasa 10 mg/kg sehari atau 2-3 kali seminggu Max: 600 mg/hari b. Anak 10-20 mg/kg sehari atau 2-3 kali seminggu Max: 600 mg/hari c. Pada pasien dengan kerusakan hati Diperlukan pe ngurangan dosis

3.

Isoniazid

Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang disingkat dengan INH. Isoniazid secara in vitro bersifat tuberkulostatik (menahan perkembangan bakteri) dantuberkulosid (membunuh bakteri). Mekanisme kerja isoniazid memiliki efek pada lemak, biosintesis asam nukleat,dan glikolisis. Efek utamanya ialah menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan menurunkan jumlah lemak yang terekstrasi oleh metanol dari mikobakterium.

Isoniazid mudah diabsorpsi pada pemberian oral maupun parenteral. Kadar puncak diperoleh dalam waktu 1–2 jam setelah pemberian oral. Di hati, isoniazid mengalami asetilasi dan pada manusia kecepatan metabolisme ini dipengaruhi oleh faktor genetik yang secara bermakna mempengaruhi kadar obat dalam plasma. Namun, perbedaan ini tidak berpengaruh pada efektivitas dan atau toksisitas isoniazidbila obat ini diberikan setiap hari.

4.

STREPTOMISIN

Streptomisin, suatu aminoglikosida, diperoleh dari Streptomyces griseus(1944). Senyawa ini berkhasiat bakterisid terhadap banyak kuman Gram-negatif dan Grampositif. Termasuk M. tuberculosa dan beberapa M.atipis. Streptomisin khusus aktif terhadap mycobacteria ekstraseluler yang sedang membelah aktif dan pesat. Mekanisme kerja berdasarkan penghambatan sintesa protein kuman dengan jalan pengikatan pada RNA ribosomal. Antibiotic ini toksisitas untuk organ pendengaran dan keseimbangan. Oleh karena itu, sebaiknya jangan digunakan untuk jangka waktu lama, karena efek neurotoksis terhadap saraf cranial ke-8 dapat menimbulkan ketulian permanen. Resorpsinya di usus buruk sekali, maka hanya diberikan sebagai injeksi i.m. sejak adanya obat-obat ampuh lain, penggunaan streptomisin terhadap TBC paru telah jauh berkurang. Obat ini masih digunakan bersama dengan tiga obat lainnya untuk TBC otak yang sangat parah (meningitis). Indikasi: Tuberkulosis, dalam bentuk kombinasi dengan obat lain, bersama dengan doksisiklin pada pengobatan brucellosis, enterococcal endokarditis. Streptomisin saat ini semakin jarang digunakan kecuali untuk kasus resistensi. Dosis: i.m. 1 dd 0,5-1 g tergantung dari usia (garam sulfat) selama maksimal 2 bulan. Dosis diturunkan pada pasien dengan berat badan di bawah 50 kg. konsentrasi obat dalam plasma harus diukur pada pasien dengan kerusakan ginjal dan harus digunakan secara hati-hati.

5.

Etambutol : Ethambutol hydrochlorida Etambutol hidroklorida merupakan serbuk kristal berwarna putih, sangat larut dalam air dan larut dalam alkohol. pKa 6,1 dan 9,2

- Nama & Struktur - Sifat Fisikokimia

:

- Keterangan

: Etambutol hidroklorida adalah senyawa sintetik antituberkulosis

Golongan/Kelas Terapi Anti Infeksi

Nama Dagang - Arsitam - ETH Ciba 400 - Tibitol - Bacbutol - Parabutol - Ethambutol (Generik) - Cetabutol - Santibi/Santibi - Corsabutol - Tibigon

Indikasi Tuberkulosis, dalam kombinasi dengan obat lain Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian Pengobatan tuberkulosis: Catatan : digunakan sebagai multidrug regimen. Regimen pengobatan meliputi fase awal selama 2 bulan diikuti dengan pengobatan fase lanjutan selama 4 hingga 7 bulan, frekwensi dan dosis berbeda tergantung dari fase terapi. Anak-anak: Terapi harian 15 – 20 mg/kg/hari (maksimum : 1 g/hari) Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 50 mg/kg (maksimal 4 g/dosis) Dewasa : Terapi harian 15 – 25 mg/kg 40 – 55 kg : 800 mg 56 – 75 kg : 1200 mg 76 – 90 kg : 1600 mg

Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy): 50 mg/kg 40 – 55 kg : 2000 mg 56 – 75 kg : 2800 mg 76 – 90 kg : 4000 mg Tiga kali seminggu DOT (directly observed therapy): 25 – 30 mg/kg (maksimal 2,5 g) 40 – 55 kg : 1200 mg 56 – 75 kg : 2000 mg 76 – 90 kg : 2400 mg Diseminated Mycobacterium Avium Complex (MAC) pada pasien dengan infeksi HIV : 15 mg/kg etambutol dalam kombinasi dengan azitromisin 600 mg sehari Interval dosis pada kerusakan ginjal : Clcr 10 – 50 ml/menit : pemberian tiap 24 – 36 jam Clcr < 10 ml/menit: pemberian tiap 48 jam Hemodialisis : sedikit terdialisis (5% hingga 20%) , pemberian dosis setelah dialisis Peritoneal dialysis : dosis untuk Clcr < 10 ml/menit Pemberian secara continous arterivenous atau venous hemofiltration : pemberian setiap 24 – 36 jam

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->