Anda di halaman 1dari 41

BAB I PENDAHULUAN

I.

LATAR BELAKANG MASALAH GIP0A0 U39th H34mg Janin Tunggal Hidup Intra Uterin Letak Lintang dengan PEB, CPD dan obesitas merupakan sebuah kasus yang kompleks, dimana dalam penanganannya membutuhkan ketelitian dan ketrampilan penolong. Kehamilan letak lintang dengan PEB, CPD dan obesitas membutuhkan penanganan segera mengingat resiko yang lebih besar terhadap morbitas maupun mortalitas ibu dan janin. Sectio saesaria dalam hal ini merupakan cara untuk pengakhiran kehamilan yang tepat demi keselamatan ibu dan janin. Pada banyak kasus dengan PEB sering terlambat untuk dirujuk ke rumah sakit. Hal ini menyebabkan morbiditas dan mortalitas pada ibu yang berlanjut menjadi eklampsia menjadi lebih besar. Sedangkan pada kasus dengan CPD dan obesitas sering berpengaruh pada kehamilan maupun prognosis persalinan.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

1. LETAK LINTANG A. Definisi Letak lintang adalah suatu keadaan dimana janin melintang di dalam uterus dengan kepla apada sisi yang satu dan bokong pada satu sisi yang lain. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior), di belakang (dorsoposterior), di atas (dorsosuperior), di bawah (dorsoinferior). B. Etiologi : Multiparitas disertai dinding uterus yang lembek Kelainan bentuk rahim (uterus akuartus, uterus subseptus) Kehamilan prematur

C.

Kehamilan kembar Hidrmanion Keadaan yang menghalangi turunnya kepala ke dalam rongga panggul ( panggul sempit, tumor daerah panggul, plasenta previa) Diagnosis

Inspeksi : uterus tampak lebih melebar, fundus uteri lebih rendah tidak sesuai dengan usia kehamilan. Palpasi : fundus uteri dan di atas simphisis kosong, kepala janin berada disamping, denyut jantung janin ditemukan disekitar umbilikus. Pemeriksaan dalam : teraba bahu dan tulang-tulang iga, bila ketiak dapat diraba maka arah menutupnya menunjukkan letak kepala janin berada. D. Mekanisme Persalinan Pada letak lintang dengan ukurang panggul normal dan janin cukup bulan tidak dapat terjadi persalinan spontan. Ketika bahu masuk ke dalam ronga panggul seluruh ronggga akan terisi oleh bahu dan bagian-bagian lain dari janin sehingga janin tidak dapat turun lebih lanjut. Segmen atas rahim terus berkontraksi dan segmen bawah rahim akan menipis dan melebar sehingga membentuk lingkaran retraksi patologik, hal ini dinamakan letak lintang kasep dan janin akan meninggal. Janin yang meninggal ini akan menjadi lembek, kadang persalinan spontan dapat terjadi dengan keadaan janin konduplikasio korpore atau lahir dengan evolusio spontanea menurut cara Denman atau Douglas. E. Penanganan Apabila pada pemeriksaan antenatal didapatkan letak lintang, sebaiknya diusahakan mengubah menjadi presentasi kepala dengan versi luar setelah letak janin berubah ibu dianjurkan untuk menggunakan korset dan dilakukan pemeriksaan antenatal ulangan untuk menilai letak janin. Pada permulaan persalinan dapat diusahakan versi luar asalkan pembukaan masih kurang dari 4 cm dan ketuban belum pecah. Pada primigravida bila cersi luar tidak berhasil sebaiknya dilakukan seksio sesarea. Pada multipara apabila riwayat obstetri baik,
2

tidak ada kesempitan panggul, janin tidak seberapa besar dapat ditungggu sampai pembukaan serviks lengkap untuk kemudian dilakukan versi ekstraksi. Versi ekstraksi dapat dilakukan pula pada kehamilan kembar apabila setelah bayi pertam lahir ditemukan bayi kedua berada dalam letak lintang. Pada letak lintang kasep, versi ekstraksi dapat menyebabkan ruptur uteri sehingga bila janin masih hidup sebaiknya segera dilakukan seksio sesarea, sedangkan bila janin sudah mati dapat dilahirkan pervaginam dengan dekapitasi.

2. PREEKLAMSIA BERAT A. Etiologi Penyebab prereklamsia sampai sekarang belum diketahui. Penelitian terbaru menggunakan faktor faktor resiko yang ada untuk mengembangkan teori mengenai penyebab preeklamsia yang sebenarnya. B. Patofisiologi Teori yang dapat diterima harus dapat menerangkan hal berikut ini : 1. Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas, kehamilan ganda, dan mola hidatidosa. 2. Sebab bertambahnya frekuensi dengan makin tuanya kehamilan. 3. Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus. 4. Sebab jarangnya terjadi eklamsia pada kehamilan berikutnya. Hilangnya gejala preklamsia setelah lahirnya plasenta, menunjukkan kemungkinan bahwa plasenta memiliki peranan utama pada kondisi ini. Ditambah lagi, wanita yang mengalami peningkatan jaringan plasenta saat hamil, seperti pada mola hidatidosa dan kehamilan kembar, menunjukkan peningkatan prevalensi terjadinya preeklamsia. Bahkan, adanya hipertensi dan proteinuri setelah usia kehamilan 20 minggu harus dicari kemungkinan adanya kehamilan mola, karena ia meningkatan kemungkinan bertambahnya jaringan plasenta yang dapat menyebabkan timbulnya gejala preeklamsia. Penyebab lainnya antara lain penghentian obat atau kelainan kromosom pada janin ( misalnya : trisomi ).

Beberapa teori telah dikemukakan sebagai upaya untuk menerangkan terjadinya preeklamsia. Sebuah teori menyatakan bahwa gejala pereeklamsia timbul akibat adanya peningkatan jumlah sirkulasi mediator aktif pada kehamilan. Misalnya, peningkatan kadar angiotensin II selama kehamilan dapat menyebabkan terjadinya spasme pembuluh darah. Teori kedua menyatakan bahwa gangguan perkembangan plasenta menyebabkan disfungsi endotel pembuluh darah plasenta dan insufisiensi uteroplasental. Disfungsi endotel pembuluh darah menyebabkan peningkatan permeabilitas, hiperkoagulabilitas, vasospasme yang luas. Teori lainnya menyatakan bahwa peningkatan cardiac output selama kehamilan dapat menyebabkan terjadinya preeklamsia. Peningkatan tekanan dan aliran darah mengakibatkan dilatasi kapiler, yang dapat merusak organ organ, yang berakhir pada terjadinya hipertensi, proteinuria, dan edema. Teori lain yang diajukan berdasarkan penelitian epidemiologi, menunjukkan adanya peranan penting dari faktor genetik dan imunologik. Peningkatan prevalensi juga ditemukan pada pasien yang menggunakan kontrasepsi, wanita multipara dengan pasangan baru, dan wanita nullipara menunjukkan peran imunologis. Selain itu, analisa pola genetik mendukung hipotesa adanya penurunan preeklamsia dari ibu ke janin melalui gen resesif. Hampir 10% wanita dengan preeklamsia berat dan 30 50% wanita dengan eklamsia mengalami hemolisis, peningkatan enzim hepar, dan rendahnya jumlah trombosit. Semua ini dikenal sebagai HELLP syndrome. Wanita dengan preeklamsia dan HELLP syndrome menunjukkan nekrosis hepatoselular dan disfungsi hepar. Mereka juga peningkatan angka kematian, dan sepertiga wanita dengan preeklamsi berkembang menjadi disseminated intravascular coagulation. C. Gambaran Klinik Biasanya tanda preeklamsi timbul dalam urutan: pertambahan berat badan yang diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria. Pada preeklamsia berat ditemukan gejala subyektif separti sakit kepala daerah frontal, diplopia, penglihatan kabur, nyeri di daerah epigastrium, penurunan jumlah urin, mual, dan muntah. Tekanan darah meningkat karena adanya spasmus pembuluh darah disertai dengan retensi garam dan air. Dengan biopsi ginjal, Altchek dkk (1968) menemukan spasmus yang hebat pada arteriola glomerolus. Pada beberapa kasus lumen arteriola begitu
4

kecilnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Bila dianggap bahwa spasmus arteriola juga ditemukan di seluruh tubuh, maka mudah dimengerti bahwa tekanan darah yang meningkat nampaknya merupakan usaha mengatasi kenaikan tahanan perifer, agar oksigenasi jaringan dapat dipenuhi. Timbulnya edema didahului oleh bertambahnya berat badan yang berlebihan. Penambahan berat yang perlu dicurigai jika dalam seminggu peningkatannya 1 kg atau lebih. Tambahan berat yang mendadak serta berlebihan dan merata selama kehamilan terutama disebabkan oleh retensi cairan dalam jaringan. Proteinuria biasanya timbul belakangan dalam perjalanan penyakitnya. Dapat terjadi wanita tersebut sudah melahirkan sebalum proteinuria diketahui, maka wanita itu mengalami preeklamsia sejati tanpa proteinuria. Jika tidak ada penyakit ginjal yang mendasari maka setelah satu minggu persalinan, proteinuria dan hipertensi membaik. Oliguria, trombositopenia, edema paru, sianosis, serta HELLP Syndrome juga mengalami gejala preeklamsi berat. D. Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik ditemukan: 1. 2. 3. eklamsia. 4. 5. Ptechiae dan memar dapat menunjukkan koagulopati Perlunakan kuadran kanan atas abdomen atau midepigastrik sebagai akibat nekrosis hepatuselular. E. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Diagnosis dapat dibuat bila wanita tersebut sehat sebelum hamil, tanpa hipertensi, proteinuria atau edema. Adanya koma, kejang, nyeri kepala, gejala neurologist lokal, dan gangguan visual pada ibu hamil, dapat menjadi bukti adanya preeklamsia atau terjadinya perdarahan serebral, edema , vasospasme, atau trombosis. Pasien juga mengeluhkan penurunan jumlah urin dan nyeri abdomen. Hipertensi tanpa gejala yang ditemukan selama Ante Natal Care Edema merata memiliki spesifisitas yang tinggi bagi preeklamsia Gejala gejala neurologis, seperti edema papil dan hiperefleksia harus ditangani segera, karena dapat merupakan tanda tanda mulai terjadinya

Diagnosis preeklamsia ditegakkan berdasarkan: 1. Peningkatan tekanan darah 140/90 mmHg 2. Atau peningkatan tekanan sistolik > 30 mmHg atau diastolik > 15 mmHg 3. Atau peningkatan mean arterial pressure > 20 mmHg, atau MAP > 105 mmHg 4. Diukur pada dua kali pemeriksaan dengan jarak waktu 6 jam 5. Proteinuria signifikan, 300 mg/24 jam atau > 1 gram/ml 6. Edema umum atau peningkatan berat badan berlebihan Disebut preeklamsia berat jika ditemukan satu atau lebih gejala dibawah ini: 1. Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolik 110 mmHg, atau kenaikan sistolik > 30 mmHg dan diastolik > 15 mmHg 2. Proteinuria 5 gram atau 3+ dalam pemeriksaan kualitatif ( tes celup strip/dipstick ) 3. Oliguria <400cc/24 jam 4. Sakit kepala hebat dan gangguan penglihatan 5. Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan abdomen 6. Edema paru dan sianosis 7. Adanya HELLP Syndrom 8. Pertumbuhan janin terhambat Uji Diagnostik: 1. Uji diagnostik dasar: 2. Uji laboratorium dasar: Evaluasi haematologik, pemeriksaan fungsi hati, pemeriksaan fungsi ginjal 3. Uji untuk meramalkan hipertensi: Roll over test atau Pemberian infus angiotensin II 4. USG Untuk melihat perkumbangan fetus. Selain itu, pada wanita yang menunjukkan gejala dan tanda preeklamsia pada usia kehamilan > 20 minggu, sebaiknya dilakukan pemeriksaaan dengan USG untuk menyingkirkan kemungkinan adanya kehamilan mola. 5. Kardiotokografi F. Penatalaksanaan

Pengobatan hanya dapat dilakukan secara simptomatis, karena etiologi preeklamsia dan faktor apa dalam kehamilan yang menyebabkannya belum diketahui. Tujuan utama dalam pengelolaan ialah : 1. 2. 3. lainnya 4. Mencegah hipertensi yang menetap Penatalaksanaan aktif: kehamilan harus segera diakhiri bersamaan dengan pemberian pengobatan medicinal. Indikasinya ialah: Kehamilan > 37 minggu Ada tanda eklamsia mengancam Kegagalan terapi pada perawatan konserfatif dalam waktu setelah 6 jam pengobatan medicinal terjadi kenaikan tekanan darah atau setelah 24 jam pengobatan gejala menetap atau meningkat Adanya tanda gawat janin Adanya tanda pertumbuhan janin terganggu Sindroma HELLP Mencegah timbulnya eklamsia Melahirkan janin hidup, dengan trauma seminimal mungkin Mencegah perdarahan intrakranial serta kerugiaan pada organ vital

Pengobatan medicinal: Segara masuk Rumah Sakit Tirah baring, miring kesatu sisi ( kiri ) Obat anti kejang ( MgSO4 ) Obat anti hipertensi ( nifedipine, pindolol, dan alfa metal dopa ) Diuretikum Cairan: Dextrose 5 % yang tiap liternya diselingi RL 500cc ( 2:1 )

Syarat pemberian MgSO4: Harus tersedia kalsium glukonas 10 % ( 1 gram dalam 10cc ), bila perlu dibarikan IV 3 menit ( dalam keadaaan siap pakai ) Refleks patella + kuat Frekuensi pernafasan > 16 X/menit
7

Produksi urin > 100cc dalam 4 jam sebelumnya

MgSO4 dihentikan bila ada tanda intoksikasi dan setelah 8 24 jam pasca persalinan, yaitu berupa: Frekuensi pernafasan < 16 X/menit Refleks patella (-) Urin < 30 ml/jam dalam 4 jam terakhir

Antihipertensi diberikan bila: Tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolik 110 mmHg

Penatalaksanaan obstetrik: Belum inpartu: 1. Induksi persalinan 2. SC, dilakukan bila induksi gagal dan ada kontraindikasi. Pengelolaan konserfatif: Kehamilan dapat dipertahankan bersamaan dengan pemberian pengobatan medicinal: Indikasi: kehamilan preterm ( <37 minggu ) Pengobatan medicinal sama dengan pengelolaan aktif. Bila dalam 3 hari tekanan darah tidak terkontrol, obat antihipertensi dapat diganti dengan golongan alfa metil dopa 3 X 250 mg Pemberian MgSO4 selama 24 jam Komplikasi yang terjadi pada pre-eklamsia berat dapat meningkatkan morbiditas dan motalitas pada ibu, janin dan neonatus. Komplikasi berat pada ibu penderita preeklampsia berat adalah terjadinya komplikasi ke berbagai organ dan sistem seperti kardiopulmoner, hematologi dan koagulasi, susunan syaraf pusat dan penglihatan, hati dan saluran cerna dan gagal ginjal akut. G. Komplikasi

1. terjadi setelah

Komplikasi sistem kardiopulmoner Yang paling sering terjadi adalah edema pulmoner. Edema pulmoner dapat timbulnya kejang. Paling tidak ada 2 mekanisme yang menyebabkannya yaitu : a. Aspirasi pneumonitis yang terjadi saat pasien terjadinya kejang b. Gagal jantung yang disebabkan oleh hipertensi yang berat dan juga pemberian cairan intravena yang berlebihan Komplikasi lain termasuk serangan jantung dan paru, emboli paru, iskemia miokard dan post partum circulatory collaps. muntah bersamaan dengan

2.

Komplikasi sistem hematologi Komplikasi hematologi dan hemostasis termasuk perdarahan yang secara klinis membutuhkan transfusi darah, ekimosis, pembentukan hematoma, adanya DIC dengan masa protrombin parsial memanjang (>40 detik), kadar fibrinogen rendah (<300mg/dl) dan adanya hasil pemecahan fibrin.

3.

Komplikasi pada susunan syaraf pusat Komplikasi pada susunan syaraf pusat dapat berupa trombosis vena sentralis otak, ensefalopati hipertensif, perubahan sensorik, edema serebral, lepasnya retina atau kebutaaan sesaat.

4.

Komplikasi hati dan saluran cerna Komplikasi pada saluran cerna dan hati termasuk hematoma subkapsuler, ruptur kapsul hati, pankreatitis atau kombinasi. Pada sebagian penderita preeklampsia dapat terjadi peningkatan aktivitas enzim ALT dan AST yang terkadang disertai dengan ikterus ringan.

5.

Komplikasi ginjal Komplikasi pada ginjal dapat berupa gagal ginjal akut atau acute tubular necrosis. Oliguria sering dijumpai pada pre-eklampsia yang umumnya kembali normal setelah persalinan. Peningkatan kadar ureum, kreatinin dan asam urat penderita pre-eklampsia dapat terjadi yang dapat berkhir pada anuria. Komplikasi ginjal pada umumnya disertai oleh abruptio plasenta.

Komplikasi gangguan elektrolit berupa hiponatremia dan hiperklaemia dapat terjadi karena diet rendah garam dan pengobatan diuretik. Hiponatremia perlu diwaspadai karena dapat mengakibatkan circulatory collaps.

6.

Sindroma HELLP Sindroma HELLP pertama kali dipopulerkan oleh weinstein pada tahun 1982, merupakan singkatan dari beberapa kelainan yang dijumpai pada sindroma ini yaitu hemolysis, elevated liver enzymes dan low platelet count. Sindroma ini merupakan suatu bentuk atipik dari pre-eklampsia atau eklamsia yang khas ditandai oleh disfungsi hati, anemia hemolitik mikroangiopati dan trombositopenia. Sindroma HELLP akibat pre-eklampsia merupakan penyebab terbanyak kematian ibu dihubungkan dengan hipertensi

7.

Komplikasi janin Akibat ketidakseimbangan arus darah uterus oleh vasospasme yang terjadi karena tekanan darah yang tinggi, plasenta menjadi abnormal. Patologi ini dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, peningkatan angka solusio plasenta, gawat janin dan kematian janin. Pengaruh pengobatan juga harus diperhatikan efeknya terhadap janin sehingga tidak timbul efek samping obat yang diderita janin.

8.

Komplikasi neonatus Neonatus dari ibu penderita pre-eklampsia sering mengalami retardasi pertumbuhan intrauterina, akibatnya bayi lahir tidak saja bayi yang kecil untuk masa kehamilan dengan morbiditas asfiksia, hipoglikemia, infeksi, trombositopenia dan lain-lain) akan tetapi juga bayi prematur/imatur. Dengan demikian bayi yang lahir dari ibu penderita pre-eklampsia juga mencakup kelainan yang biasa ditemukan pada bayi prematur/imatur seperti sindroma gawat nafas, hipotermia, infeksi, hipoglikemia, hiperbilirubinemia, cacat bawaan, dan lain-lain.

3. OBESITAS Obesitas adalah salah satu penyebab paling sering komplikasi pada kehamilan. Obesitas sulit diukur, pengukuran terbaik untuk obesitas adalah dengan menggunakan indeks massa tubuh (BMI). Mengukur obesitas dengan menggunakan BMI memiliki beberapa ketebatasan diantaranya tidak memperdulikan usia, jenis kelamin, dan budaya
10

yang mempengaruhi berat badan. Akan tetapi BMI merupakan langkah praktis yang diterima dunia Internasional untuk menduga obesitas.

Seorang ibu disebut obesitas apabila BMI sebelum hamil lebih dari 25. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi peningkatan berat badan selama hamil adalah: Berat badan ibu pada awal kehamilan Faktor genetik Penurunan aktivitas fisik Konsumsi kalori berlebihan selama hamil Berat janin Ukuran plasenta Jumlah air ketuban

Beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat obesitas diantaranya adalah: 1. Pada kehamilan Bisa mengidap DM gestational Pre Eklampsia Pertumbuhan janin yang abnormal Persalinan gagal Distosia bahu Kesulitan memonitor denyut jantung janin Meningkatkan risiko infeksi Gangguan pembekuan darah Postnatal depression

2. Saat persalinan

3. Sesudah kelahiran

4. CEPHALOPELVIC DISPROPORTION A. Definisi

11

CPD adalah ketidakseimbangan antara kepala janin dan panggul ibu.CPD timbul dari analisis terhadap ukuran pelvis yang sempit, berat badan bayi yang besar atau kombinasi keduanya.Pada keadaan ini janin tidak dapat dilahirkan pervaginam. Keadaan panggul merupakan faktor penting dalam kelangsungan partus, tetapi yang tidak kurang penting ialah hubungan antara kepala janin dengan panggul ibu. Besarnya kepala janin dalam perbandingan dengan luasnya panggul ibu menentukan apakah ada disproporsi cephalopelvic atau tidak. B. Etiologi 1. Panggul sempit 2. Janin besar 3. Panggul sempit dan janin yang besar Masih ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan apakah partus pervaginam akan berlangsung dengan baik atau tidak, akan tetapi faktor-faktor ini baru bisa diketahui pada waktu partus, seperti 1. Penyempitan dari kekuatan his dan terjadinya moulage pada janin. Klasifikasi Panggul Sempit rongga pelvis dapat menimbulkan distosia saat persalinan.

Penyempitan rongga pelvis yang dapat terjadi antara lain penyempitan pintu atas panggul (pelvic inlet), penyempitan pintu tengah panggul (midpelvis), dan penyempitan pintu bawah panggul (pelvic outlet), serta kombinasi antara ketiganya. a. Penyempitan pintu atas panggul (pelvic inlet) Pintu bawah panggul dianggap sempit apabila konjugata vera (diameter anteroposterior) kurang dari 10 cm dan diameter transversa kurang dari 12 cm 1,2. konjugata vera diperiksa dengan cara mengukur konjugata diagonal sehingga didapatkan penilaian kasar konjugata obstetri yang biasanya memiliki diameter 1,5 cm lebih kecil dibandingkan konjugata diagonal. Oleh karena itu penyempitan pintu atas panggul sering didefinisikan sebagai ukuran konjugata diagonal kurang dari 11,5 cm. Untuk kepentingan persalinan maka diameter biparietal fetus yang berada dalam batas
12

normal berkisar 9,5-9,8 cm, oleh karena itu persalinan akan menjadi sulit apabila fetus harus melewati ruangan konjugata vera kurang dari 10 cm b. Penyempitan pintu tengah panggul (midpelvis) pintu tengah panggul dianggap menyempit apabila jumlah distansia interspinarum dan sagital posterior < 13,5 cm. Jika distansia interspinarum kurang dari 8 cm maka pintu tengah panggul dianggap menyempit, sedangkan bila distansia interspinarum kurang dari 10 cm maka terdapat alasan bagi kita untuk mewaspadai kemungkinan penyempitan pintu tengah panggul2. c. Penyempitan pintu bawah panggul (pelvic outlet) Definisi penyempitan bawah panggul adalah distansia intertuberous ischii < 8 cm1,2. Pintu bawah panggul dibentuk oleh dua segitiga dengan intertuberous ischii sebagai dasaarnya. Bagian segitiga anterior sebelah lateral dibatasi oleh ramus pubis, dan batas puncak segitiga anterior dibatasi oleh bagian inferior simfisis pubis. Puncak segitiga posterior dibatasi oleh ujung dari vertebra S 3. Berkurangnya distansia intertuberous mengakibatkan arkus pubis menyempit ( < 90o) sehingga segitiga anterior menyempit. Berdasarkan penyempitan ini, agar kepala janin dapat lahir diperlukan ruangan yang lebih besar pada bagan belakang pintu bawah panggul sehingga kepala terpaksa ke arah posterior. Berhasil atau tidaknya persalinan tergantung dari ukuran segitiga posterior. Distosia yang disebabkan penyempitan pintu bawah panggul tidak seberat penyempitan pintu tengah panggul dan umumnya penyempitan pintu bawah panggul biasanya diikuti dengan penyempitan pintu tengah panggul.Walaupun distosia yang terjadi pada penyempitan pintu bawah panggul tidak berat, namun distosia yang terjadi dapat menyebabkan robekan perineum. Sudut arkus pubis yang tajam menyebabkan occiput tidak dapat keluar secara langsung dibawah simfisis pubis, sehingga occiput terpaksa bergerak jauh ke bawah mengikuti ramus ischiopubis dan menyebabkan distensi perineum yang berlebihan sehingga meningkatkan resiko terjadi robekan perineum. Pada wanita yang lebih pendek dari pada ukuran normal bagi bangsanya, kemungkinan panggul kecil perlu diperhatikan pula.

13

Akan tetapi apa yang dikemukakan diatas tidak bisa diartikan bahwa seorang wanita dengan bentuk badan normal tidak bisa memiliki panggul dengan ukuranukuran yang kurang dari normal, ditinjau dari satu atau beberapa bidang panggul. 2. Makrosomia (ukuran fetus besar) Makrosomia menurut Williams Obstetric edisi 21 adalah berat fetus diatas 4500 gram. Permasalahan yang timbul pada makrosomia sebenarnya bukan karena kepala tidak melewati panggul, namun dikarenakan terjadi distosia bahu. Pada tahun 1997 ACOG telah menyimpulkan bahwa seksio sesarea elektif pada wanita hamil dengan diabetes hanya rasional pada berat janin > 4250 gram. Sedangkan dua pertiga dari janin dengan seksio sesarea yang dilakukan setelah kegagalan forcep di Parkland Hospital memiliki berat rata-rata 3700 gram. Hal ini menunjukan disproporsi cephalopelvic tidak berhubungan dengan berat janin yang besar (makrosomia) C. DIAGNOSIS PANGGUL SEMPIT DAN DISPROPORSI CEPHALOPELVIC Anamnesis Anamnesis kadang-kadang sudah membawa pikiran kearah kemungkinan kesempitan panggul dan memberi petunjuk penting, sebagaimana adanya : tuberkulosis pada columna vertebrae atau pada panggul luxatio coxae congenitalis dan poliomyelitis. Anamnesis tentang partus-partus terdahulu bisa memberi petunjuk tentang keadaan panggul. Jika partus tersebut berjalan lancar dengan dilahirkannya janin dengan berat badan yang normal, maka kecil kemungkinan bahwa menderita kesempitan panggul yang berarti. Faktor resiko yang dapat mengarah ke disproporsi cephalopelvik antara lain: taksiran berat janin lebih dari 3000 gram berat badan sebelum hamil, bila BMI sebelum hamil > 25 kg/m2 maka resiko CPD meningkat nullipara
14

wanita

yang bersangkutan

dan belum pernah atau tidak ada pelvimetri yang memadai6 Pada wanita yang lebih pendek dari pada ukuran normal bagi bangsanya, kemungkinan panggul kecil perlu diperhatikan pula. Akan tetapi apa yang dikemukakan diatas tidak bisa diartikan bahwa seorang wanita dengan bentuk badan normal tidak bisa memiliki panggul dengan ukuran-ukuran yang kurang dari normal, ditinjau dari satu atau beberapa bidang panggul. Untuk menghitung kapasitas pelvis, pada pemeriksaan dalam dicari konjugata vera melalui konjugata diagonal, distansia interspinarum, dan distansia intertuberos. Arkus pubis < 900 menunjukan adanya penyempitan pelvis. Kepala janin yang belum engaged mungkin menandakan kepala janin terlalu besar atau kapasitas pelvis yang rendah. Pada hamil tua dengan janin dalam presentasi kepala bisa dinilai agak kasar adanya disproporsi cephalopelvic dan kemungkinan mengatasinya. Pemeriksaan pelvimetry yang lebih sempurna ialah metoda MULLER MUNRO KERR, yaitu tangan yang satu memegang kepala janin dan menekannya ke arah rongga panggul, sedangkan 2 jari tangan yang lain dimasukkan ke dalam rongga vagina untuk menentukan sampai berapa jauh kepala mengikuti tekanan tersebut, dan ibu jari tangan yang masuk dalam vagina memeriksa dari luar hubungan antara kepala dan symphysis Pengukuran panggul (pelvimetri) Merupakan cara pemeriksaan yang penting untuk mendapat keterangan lebih banyak tentang keadaan panggul Pelvimetri luar Pelvimetri dalam metoda OSBORN

Pemeriksaan ultrasonografi (USG)

15

Pengukuran diameter biparietalis dengan cara ultrasonik yang sudah mulai banyak dilakukan memberikan hasil yang cukup memuaskan. Cara ini tidak berbahaya dibandingkan dengan pemeriksaan roentgenologik. D. Komplikasi CPD 1. Bahaya Pada Ibu Partus lama seringkali disertai pecahnya selaput ketuban pada pembukaan kecil, bisa menimbulkan dehidrasi serta asidosis, dan infeksi intrapartum. regangan segmen bahwa uterus dan pembentukan lingkaran retraksi patologik (BANDL). Keadaan ini terkenal dengan nama ruptura uteri mengancam. Jika tidak segera diambil tindakan untuk mengurangi regangan, akan timbul ruptura uteri. Dengan partus tidak maju karena disproporsi cephalopelvic, jalan lahir pada suatu tempat mengalami tekanan yang lama antara kepala janin dan tulang panggul, kemudian timbul gangguan sirkulasi kemudian timbul : ischemia necrosis terjadi beberapa hari postpartum fistula vesicocervicalis, atau fistula vesicovaginalis, atau fistula rectovaginalis.

2. Bahaya Pada Janin Partus lama bisa meningkatkan kematian perinatal, apalagi jika ditambah dengan infeksi intrapartum.Prolapsus funiculi, jika terjadi, mengandung bahaya yang sangat besar bagi janin dan memerlukan kelahirannya dengan segera jika ia masih hidup Dengan adanya disproporsi cephalopelvic kepala janin bisa melewati rintangan panggul dengan mengadakan moulage. Moulage bisa dialami oleh kepala janin tanpa

16

akibat yang jelek sampai batas-batas dilampaui, terjadi : sobekan pada tentorium cerebelli dan perdarahan intracranial.

tertentu, akan tetapi jika batas-batas tersebut

Selanjutnya tekanan oleh promontorium atau kadang-kadang oleh symphysis pada pintu atas panggul sempit menyebabkan perlukaan jaringan di atas tulang kepala janin, malahan bisa menimbulkan fraktur os parietalis

E. Penatalaksanaan Sekarang ini 2 cara merupakan tindakan utama untuk menangani partus pada disproporsi cephalopelvic, yakni: 1. seksio cesarea 2. partus percobaan. Di samping itu, kadang-kadang ada indikasi untuk melakukan symphysiotomy dan craniotomia; Symphysiotomy jarang sekali dilakukan di Indonesia, sedangkan craniotomia hanya dikerjakan pada janin mati. 1. Sectio cesarea Secara umum seksio cesarea dibagi menjadi dua antara lain: secara elektif atau primer, yakni sebelum partus mulai atau pada awal partus, dan secara sekunder, yakni sesudah partus berlangsung selama beberapa waktu. 1.1. Seksio cesarea elektif Seksio cesarea elektif direncanakan lebih dahulu dan dilakukan pada kehamilan cukup bulan. Seksio cesareaelektif dilakukan atas indikasi kesempitan panggul yang cukup berat, atau terdapat disproporsi cephalopelvic yang nyata

17

kesempitan ringan jika faktor-faktor lain yang merupakan komplkasi, seperti primigravida tua, kelainan letak janin yang tidak bisa diperbaiki, kehamilan pada wanita yang mengalami masa infertilitas yang lama, penyakit jantung ibu dan lain-lain.

2. Seksio cesareasekunder Seksio cesareasecunder dilakukan karena partus percobaan dianggap partus pervaginam tidak atau belum dipenuh 3.Partus Percobaan
persalinan percobaan merupakan suatu test terhadap kekuatan his

gagal, atau

timbul indikasi untuk menyelesaikan partus selekas mungkin, sedang syarat-syarat untuk

dan daya akomodasi, termasuk moulage kepala janin, kedua faktor ini tidak bisa diketahui sebelum partus berlangsung selama beberapa waktu. Oleh karena itu pemilihan kasus-kasus untuk partus percobaan harus dilakukan dengan cermat.

BAB II KASUS A. Identitas Nama Umur Alamat No.Cm Datang / tgl : Ny.S : 39 thn : Bakung Lor RT 3 RW 4 : 037857 : 9 Januari 2009, pkl 17:50

B. Anamnesis 1. Keluhan Utama : Sesak napas


18

2. Keluhan tambahan 3. Riwayat penyakit sekarang

::

Pasien datang diantar dengan surat pengantar dari RSUD Purworejo dengan keluhan sesak napas dan udem sejak 1 minggu yang lalu. Pasien hamil 34 minggu, belum kenceng-kenceng, ketuban belum pecah, darah dan lendir belum keluar. HPHT : 09-05-2008, HPL : 16-02-2009. 4. Riwayat nikah 5. Riwayat KB 6. Riwayat ANC : 1x : disangkal : 2x di bidan

7. Riwayat penyakit dahulu: Riwayat penyakit darah tinggi disangkal Riwayat penyakit jantung disangkal Riwayat penyakit ginjal disangkal Riwayat penyakit DM disangkal Riwayat penyakit paru disangkal

8. Riwayat penyakit keluarga : Riwayat penyakit darah tinggi disangkal Riwayat penyakit jantung disangkal Riwayat penyakit ginjal disangkal Riwayat penyakit DM disangkal Riwayat penyakit paru disangkal

19

C. Pemeriksaan Fisik Status Presentasi Keadaan Umum Kesadaran Tanda Vital : jam 17.25 WIB, tanggal 16-12-2008 : baik : compos mentis : TD N R S Status Generalis : TB = 138 cm, BB = 85 kg Udem anasarka Mata Hidung Thorax Cor : Konjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/: discharge -/: : S1> S2 reguler, bising(-), Gallop (-) : 210/ 150 mmhg : 80 x/menit : 20 x/menit : 36,5 C

Pulmo : Suara dasar vesikuler, Rhonki basah (+/+), Wheezing (-) Status Obstetri : 1. Pemeriksaan Luar Inspeksi Palpasi Leopold I Leopold II : Perut cembung : Lemak tebal, TFU sulit dinilai : Sulit dinilai : Teraba bulat keras di sebelah kanan,

20

Teraba bulat lunak di sebelah kiri Leopold III Leopold IV Auskultasi : Sulit dinilai : Divergen : DJJ

2. Pemeriksaan Dalam (VT) Pembukaan 0 cm Portio tebal Kantong ketuban (+) UUK sulit dinilai UPD : teraba promontorioum

Diagnosis : G1P0A0 U39th H34mg janin tunggal intra uterin letak lintang belum inpartu dengan PEB, CPD, obesitas dan suspek udem pulmo. 3. Pemeriksaan penunjang : Laboratorium Darah lengkap HB Leukosit Hematokrit Eritrosit Trombosit MCV MCH MCHC : 9,8gr/dl : 9100/ul : 29 % : 3,17 juta/ul : 333.000/ul : 91,8fl : 30,9pgr : 33,7 % Faal hemostasis Waktu perdarahan : Waktu pembekuan : Glukosa sewaktu Protein total Albumin Globulin SGOT SGPT : 90 mg/dl

: 6,08 gr/dl : 3,73 gr/dl : 2,35 gr/dl : 29 ul/dl : 24 ul/dl

21

Hitung jenis Eusinofil Basofil Batang Segmen Limfosit Monosit Foto thorax :0% :0% :0% : 79% : 17% :4%

LDH Ureum darah

: 661 ul/dl : 38,9 mg/dl

Kreatinin darah: 0,67 mg/dl Elektrolit Natrium Kalium Klorida : 145 mmol/l : 4,9 mmol/l : 99 mmol/l

Hasil : udem pulmo, efusi pleura sinistra dan kardiomegali Diagnosis : G1P0A0 U39th H34mg janin tunggal intra uterin letak lintang belum inpartu dengan PEB, CPD, obesitas dan udem pulmo.

Jam 19:30 Lapor dokter jaga, instruksi : - IVFD MgSO4 Jam 22:20 Dokter jaga visite dan dilakukan USG Hasil : Janin hidup, letak lintang Nifedipin 3 x 10 mg Lasik 1 amp Posisi setengah duduk Konsul interna

Instruksi : konsul anestesi pro ICU Jam 22:45 Konsul interna, instruksi : cek AGD Konsul anestesi : acc ICU
22

Jam 00.00 Pasien masuk ICU Lapor dokter jaga, instruksi : - Pemantauan DJJ dan HIS per 2 jam DJJ normal, his jarang - Lasik extra 2 ampul - Digoxin extra tab

D. Follow Up ICU Tanggal 09 Januari 2009 S : Sesak napas O : ku/kes : sedang/cm VS : TD N R S : 180 / 140 mmhg : 80 x/ menit : 20 x/menit : 36,5C

Status generalis : udem anasarka Status lokalis R.abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi : Cembung : DJJ : Lemak tebal, janin letak lintang :

R.genitalia eksterna: PPV :-

23

BAK Hasil AGD PH PO2 : 7,2

: (+) DC 50 cc

: 203,3 mmHg

PCO2 : 49 mmHg HCO3 : mmol/L Total CO2 plasma : 25,7 mmol/L BE : -2,5 mmol/L

HCO3 : 22,4 mmol/L O2 saturasi : 99,6 % Waktu perdarahan : 13,2 Waktu pembekuan : 32,0 Ass : G1P0A0 U39th H34mg janin tunggal intra uterin letak lintang belum inpartu dengan PEB, CPD, obesitas dan udem pulmo Terapi : - Lasix 3 x 2 ampul Ceftriaxone 2 x 1 ampul Nifedipin 3 x 10 mg prn Digoxin 2 x 1,5 mg Aspar K 1 x 1 mg IVFD RL + MgSO4 Jumlah urin 1100ml/24 jam

Tanggal 10 Januari 2009 S : Sesak napas

24

O : ku/kes : sedang/cm VS : TD N R S : 170 / 130 mmhg : 80 x/ menit : 20 x/menit : 36,5C

Status generalis : udem anasarka Status lokalis R.abdomen Inspeksi : Cembung :

Auskultasi : DJJ Palpasi : Lemak tebal, supel, janin letak lintang

R.genitalia eksterna: PPV BAK Hasil lab Darah lengkap HB Leukosit : 8,0gr/dl : 12.300/ul Protein total Albumin Globulin Ureum darah : 5,13 gr/dl : 3,00 gr/dl : 2,13 gr/dl : 49,9 mg/dl :: (+) DC 150 cc

Hematokrit : 24 % Eritrosit : 2,49 juta/ul

Kreatinin darah: 0,81 mg/dl GDS Elektrolit Natrium Kalium : 138 mmol/l : 4,5 mmol/l : 86

Trombosit : 256.000/ul MCV MCH MCHC : 95 fl : 32 pgr : 34 %

25

Hitung jenis Eusinofil Basofil Batang Segmen Limfosit Monosit :0% :0% :0% : 80% : 11% :9%

Klorida Kalsium

: 107 mmol/l : 8,1

Ass : G1P0A0 U39th H34mg janin tunggal intra uterin letak lintang belum inpartu dengan PEB, CPD, obesitas dan udem pulmo Terapi : - Lasix 3 x 2 ampul Ceftriaxone 2 x 1 ampul Nifedipin 3 x 10 mg prn Digoxin 2 x 1,5 mg Aspar K 1 x 1 mg

Instruksi : Operasi SC cito

Jam 13.00 operasi dimulai Jam 13.20 bayi lahir dengan A/S 7-8-9 Jam 13.50 operasi selesai
26

Bayi lahir Berat badan

: laki-laki : 2700 gram

Panjang badan : 47 cm Lingkar kepala : 33 cm Lingkar dada Kelainan Anus : 32 cm : (-) : (+)

Diagnosa prabedah : G1P0A0 U39th H34mg janin tunggal hidup intra uterin letak lintang dengan CPD, PEB, udem ulmo dan obesitas. Diagnosa pasca bedah :

P1A0 U39th post SCTP atas indikasi letak lintang, PEB, CPD, obesitas.

Jenis operasi

: Sectio Cesarea Transperitoneal Profunda : 10-01-2009 : 13.00 WIB : 13.50 WIB

Tanggal pembedahan Pembedahan dimulai Pembedahan selesai Laporan operasi :

Penderita tidur telentang di meja operasi dalam spinal anestesi Asepsis dan Antisepsis daerah abdomen Pasang duk steril kecuali daerah tindakan Incisi dinding abdomen pada linea mediana mulai atas simfisis sampai dengan 2 cm di bawah pusat Buka dinding abdomen lapis demi lapis sampai peritoneum terbuka
27

Incisi segmen bawah rahim secara semilunar, air ketuban berwarna jernih Dengan meluksir kepala lahir bayi dengan A/S 7-8-9 dan berat badan 2700 gram Placenta lahir spontan, kotiledon lengkap Klem tepi-tepi luka Diberi oksitosin 10 iu pada sepertiga lateral atas paha kanan Uterus dijahit dengan jahitan kontinus interlocking menggunakan dexon no.I Bersihkan cavum abdomen, dilakukan eksplorasi : kontraksi uterus baik, perdarahan (-),organ-organ luar t.a.k Tutup dinding uterus lapis demi lapis Operasi selesai Instruksi post op : - Infus RL / D5 / D5 32 tetes/ menit - Ceftriaxone injeksi 2 x 1 ampul - Remopain 3 x 1 ampul - Vitamin C - Pengawasan, cek Hb 8 jam post op Hb : 8 g/dL

Tanggal 11-01-2009 S :O : ku/kes : sedang/cm VS : TD N R : 140 / 80 mmhg : 72 x/ menit : 20x/menit


28

: 36,8C : udem anasarka :

Status generalis Status lokalis R.abdomen Inspeksi

: tampak luka post op ditutup perban, rembesan (-)

Auskultasi : Bu (+) N Palpasi Perkusi : Nyeri tekan (+) < TFU 2 jari dibawah pusat : Timpani

R.genitalia eksterna PPV BAK Elektrolit Natrium : 149mmol/l Kalium : 4,6 mmol/l Klorida : 94 mmol/l Kalsium : 8,6 Ass : P1A0 U39th post SCTP atas indikasi letak lintang, PEB, CPD, obesitas. : (+) sedikit : (+) DC 50 cc

Terapi : - Infus RL 32 tetes/ menit - Ceftriaxone injeksi 2 x 1 ampul - Remopain 3 x 1 ampul stop - NB 500 mg
29

- Metilprednisolon 3 x 125 mg - Antrain extra 1 ampul - Lasix 3 x 2 ampul - Aspar K 1 x 1 mg - Paracetamol prn - Vitamin C

Tanggal 12-01-2009 S :O : ku/kes : sedang/cm VS : TD N R S : 140 / 80 mmhg : 72 x/ menit : 20x/menit : 36,8C : udem anasarka :

Status generalis Status lokalis R.abdomen Inspeksi

: tampak luka post op ditutup perban, rembesan (-)

Auskultasi : Bu (+) N Palpasi Perkusi : Nyeri tekan (+) < TFU 2 jari dibawah pusat : Timpani

R.genitalia eksterna PPV : (+) sedikit


30

BAK : (+) DC 50 cc Ass : P1A0 U39th post SCTP atas indikasi letak lintang, PEB, CPD, obesitas. Terapi : - Infus RL/NaCl/KN 3 32 tetes/ menit - Ceftriaxone injeksi 2 x 1 ampul - Remopain 3 x 1 ampul stop - NB 500 mg - Metilprednisolon 3 x 125 mg - Antrain extra 1 ampul - Lasix 3 x 2 ampul - Aspar K 1 x 1 mg - Paracetamol prn

Tanggal 13-01-2009 S :O : ku/kes : sedang/cm VS : TD N R S : 140 / 80 mmhg : 70 x/ menit : 20x/menit : 36,8C d.b.n :

Status generalis Status lokalis R.abdomen Inspeksi

: tampak luka post op ditutup perban, rembesan (-)


31

Auskultasi : Bu (+) N Palpasi Perkusi : Nyeri tekan (+) < TFU setinggi pusat : Timpani

R.genitalia eksterna : PPV BAK : (+) sedikit : (+) DC

Ass : P1A0 U39th post SCTP atas indikasi letak lintang, PEB, CPD, obesitas. H3 Terapi : - Infus RL 32 tetes/ menit - Ceftriaxone injeksi 2 x 1 ampul - NB 500 mg - Metilprednisolon 3 x 125 mg - Vit C - Pindah Flamboyan

E. Follow Up Flamboyan Tanggal 14-01-2009 S :O : ku/kes : sedang/cm VS : TD : 140 / 110 mmhg


32

N R S

: 84 x/ menit : 20x/menit : 36,5C : d.b.n :

Status generalis Status lokalis R.abdomen Inspeksi

: tampak luka post op ditutup perban, rembesan (-)

Auskultasi : Bu (+) N Palpasi Perkusi : Nyeri tekan (+) < TFU setinggi pusat : Timpani

R.genitalia eksterna : PPV : (+) sedikit

BAK : (+) Ass : P1A0 U39th post SCTP atas indikasi letak lintang, PEB, CPD, obesitas. H4 Terapi : - amoksisilin 3 x 500 mg - Asam mefenamat 3 x 500mg - GV

Tanggal 15-01-2009 S :O : ku/kes : sedang/cm VS : TD N : 140 / 90 mmhg : 84 x/ menit


33

R S

: 22x/menit : 37C : d.b.n :

Status generalis Status lokalis

R.abdomen Inspeksi : tampak luka post op ditutup perban, rembesan (-)

Auskultasi : Bu (+) N Palpasi Perkusi : Nyeri tekan (+) < TFU setinggi pusat : Timpani

R.genitalia eksterna : PPV : (+) sedikit

BAK : (+) Ass : P1A0 U39th post SCTP atas indikasi letak lintang, PEB, CPD, obesitas. H5

Terapi : - ceftriaxone 2 x - lasix 1 x 1 amp - lainnya lanjutkan

Tanggal 16-01-2009 S :O : ku/kes : sedang/cm VS : TD N : 130 / 80 mmhg : 88 x/ menit


34

R S

: 20x/menit : 38,5C : d.b.n : d.b.n

Status generalis Status lokalis R.abdomen Inspeksi

: tampak luka post op ditutup perban, rembesan (-)

Auskultasi : Bu (+) N Palpasi Perkusi : Nyeri tekan (+) < TFU setinggi pusat : Timpani

R.genitalia eksterna : PPV : (+) sedikit

BAK : (+) Ass : P1A0 U39th post SCTP atas indikasi letak lintang, PEB, CPD, obesitas. H6 Terapi : lanjutkan

Tanggal 17-01-2009 S :O : ku/kes : sedang/cm VS : TD N R : 130 / 90 mmhg : 82 x/ menit : 22x/menit


35

: 36,5C : d.b.n : R.abdomen : tampak luka post op ditutup perban, rembesan (-)

Status generalis Status lokalis Inspeksi

Auskultasi : Bu (+) N Palpasi Perkusi : Nyeri tekan (+) < TFU setinggi pusat : Timpani

R.genitalia eksterna : PPV : (+) sedikit

BAK : (+) Ass : P1A0 U39th post SCTP atas indikasi letak lintang, PEB, CPD, obesitas. H6 Terapi : pasien pulang

36

BAB III PEMBAHASAN Pasien ini didiagnosis dengan GIP0A0 U39th H34mg Janin Tunggal Hidup Intra Uterin Letak Lintang dengan PEB, CPD dan obesitas. Diagnosis letak lintang dapat ditegakkan dengan inspeksi, palpasi dan pemeriksaan dalam namun karena pasien ini termasuk dalam kategori obesitas menjadikan hasil pemeriksaan fisik tidak meyakinkan sehingga dilakukan pemeriksaan penunjang berupa USG untuk memberi kepastian diagnosis letak lintang. Berdasarkan tinjauan pustaka, hal yang dapat menyebabkan posisi janin dalam letak lintang pada pasien ini adalah panggul yang sempit sehingga dapat menghalangi turunnya kepala ke pintu panggul. Penanganan yang sesuai untuk pasien ini adalah sectio sesarea atas indikasi letak lintang dan suspek panggul sempit. Pasien ini didiagnosa PEB dengan dasar diagnosis umur kehamilan > 20 minggu, tekanan darah 160/110, proteinuria 7,5 g/dl dan didapatkan udem anasarka. Penganan pasien dengan PEB pada kasus kali ini sudah sesuai yaitu dengan pemberian MgSO4 4 gr bolus dan 6 gr IV untuk mencegah terjadinya kejang dan untuk mencegah menjadi eklampsia dan untuk penanganan tekanan darah diberikan preparat nifedipin 3 x 10 mg, hal ini sudah sesuai dengan protap pengelolaan PEB sedangkan pada kasus udem pulmonal merupakan komplikasi dari PEB yang pada kasus kali ini di berikan penangan dengan preparat Lasix 3x2 ampul untuk mengurangi udem pulmonal yang sudah sesuai dengan terapi untuk penanganan udem pulmonal setelah diketahui diagnosis udem pulmonal dari pemeriksaan foto thoraks. Diagnosis ketiga pada pasien ini adalah obesitas yang didapatkan pada pemeriksaan berat badan yaitu 85 kg dan tinggi badan 138 cm. Obesitas adalah salah satu penyebab paling sering komplikasi pada kehamilan. Obesitas sulit diukur, pengukuran terbaik untuk obesitas adalah dengan menggunakan indeks massa tubuh (BMI). Mengukur obesitas dengan
37

menggunakan BMI memiliki beberapa keterbatasan diantaranya tidak memperdulikan usia, jenis kelamin, dan budaya yang mempengaruhi berat badan. Akan tetapi BMI merupakan langkah praktis yang diterima dunia Internasional untuk menduga obesitas. Seorang ibu disebut obesitas apabila berat badan sebelum hamil lebih dari 25. BMI pasien ini saat sebelum hamil adalah 34 sehingga pada pasien ini mengalami obesitas. Komplikasi yang terjadi akibat obesitas pada pasien ini antara lain pre eklampsi, kesulitan memonitor denyut jantung bayi, serta kesulitan proses operasi. Pasien ini didiagnosa cpd berdasarkan tinggi badannya yang relatif pendek, dimana tinggi badan <145 cm merupakan resiko terhadap cpd meskipun tidak selalu pasti demikian. Pada pemeriksaan dalam teraba bagian promontorium, dimana normalnya promontorium tidak teraba. Ini menandakan pada pasien didapatkan penyempitan pada jalan lahir (panggul atas). Diagnosa cpd dapat ditegakkan berdasarkan ukuran pelvimetri roentgenologi dimana pada pasien ini tidak dilakukan. Pemeriksaan osborn test juga akurat untuk memeriksa cpd yang pada pasien ini juga tidak dilakukan. Dari USG didapatkan data janin hidup letak lintang, dimana seharusnya dalam USG bisa diukur diameter biparietalis yang efektif untuk mendiagnosa CPD, dari USG juga seharusnya bisa didapatkan tafsiran berat janin, yang apabila > 3000 gr faktor resiko terhadap CPD, namun pada pasien ini juga tidak dilakukan. Pasien nullipara dengan pemeriksaan pelvimetri yang tidak memadai seperti pada pasien ini juga merupakan faktor resiko yang mengarah ke CPD. CPD bisa mengakibatkan komplikasi yang membahayakan bagi janin dan ibu, dimana bahaya pada ibu seperti regangan segmen bawah uterus, dehidrasi, sedangkan pada bayi perdarahan intrakranial maka melihat kemungkinan diatas dan dilihat dari keadaan daripada ibu yang kurang baik (PEB dan oedem pulmo) maka panatalaksanaan SC pada pasien ini sudah tepat.

38

BAB IV PENUTUP

A.Kesimpulan Diagnosis kasus ini adalah GIP0A0 umur 39 tahun hamil 34 minggu janin tunggal hidup intra uterin letak lintang dengan CPD, PEB dan obesitas Penanganan kasus ini adalah dengan seksio sesaria atas indikasi primi tua, letak lintang, CPD, PEB dan obesitas. B.Saran Diperlukan deteksi dini tanda-tanda kegawatan dalam proses persalinan sehingga dapat dipilih cara pengakhiran persalinan yang cepat dan tepat sehingga mortalitas dan morbiditas ibu dan janin dapat diturunkan

39

DAFTAR PUSTAKA

40

1.

Martohoesodo,S,Abdullah,MN, gangguan dalam kala II persalinan: ilmu kebidanan, yayasan bina pustaka Sarwono Prawirohardjo, jakarta

2.

Wiknososastro,H sectio casarea: ilmu bedah kebidanan,Edisi pertama, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, jakarta

3.

Ruptura Uteri dalam standar Pelayanan medis RSUP Dr.Sardjito, Medika Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

4.

Mochtar,R,Sinopsis Obstetri : Obstetri operatif obstetri sosial, edisi 2 EGC, jakarta

41