Anda di halaman 1dari 16

Kelompok 4

Sindrom

Stevens Johnson merupakan sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir di oritisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat, kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel / bula dapat disertai purpura.

Penyebabnya

yang pasti belum diketahui Salah satu penyebabnya ialah alergi obat secara sistemik. Obat-obatan yang disangka sebagai penyebabnya antara lain : penisilin dan semisintetiknya, streptomisin, sulfonamida, tetrasiklin, antipiretik/analgetik, (misal : derivate salisil / pirazolon, metamizol, metapiron, dan parasetamol) klorpromasin, karbamasepin, kinin antipirin, tegretol, dan jamu. Selain itu dapat juga disebabkan infeksi

Patogenesisnya

belum jelas, disangka disebabkan oleh reaksi alergi tipe III dan IV. Reaksi tipe III terjadi akibat terbentuknya kompleks antigen-antibody yang membentuk mikro presitipasi sehingga terjadi aktivasi neutrofil yang kemudian melepaskan lysozim dan menyebabkan kerusakan jaringan dan organ sasaran (target organ). Reaksi tipe IV terjadi akibat lysozim T yang

Pada sindrom ini terlihat adanya trias kelainan berupa : Kelainan kulit Kelainan selaput lendir di orifisium Kelainan mata

Laboratorium

: Biasanya dijumpai leukositosis atau eosinofilia. Bila disangka penyebabnya infeksi dapat dilakukan kultur darah. Histopatologi : Kelainan berupa infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi sel darah merah, degenerasi lapisan basalis. Nekrosis sel epidermal dan spongiosis dan edema intrasel di epidermis. Imunologi : Dijumpai deposis IgM dan C3

bronkopneumonia, kehilangan cairan / darah, gangguan keseimbangan elektrolit dan syok. Pada mata dapat terjadi kebutaan karena gangguan lakrimal

Penggunaan

obat kostikosteroid Deksamethason secara intravena, dengan dosis permulaan 4-6 X 5 mg sehari Dampak dari terapi kortikosteroid dosis tinggi adalah berkurangnya imunitas, karena itu bila perlu diberikan antibiotic untuk mengatasi infeksi. Pilihan antibiotic hendaknya yang jarang menyebabkan alergi, berspekrum luas dan bersifat bakterisidal. Untuk mengurangi efek samping kortikosteroid diberikan diet yang

a.

Data Subyktif Klien mengeluh demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan / sulit menelan. b. Data Obyektif Kulit eritema, papul, vesikel, bula yang mudah pecah sehingga terjadi erosi yang luas, sering didapatkan purpura. Krusta hitam dan tebal pada bibir atau selaput lendir, stomatitis dan pseudomembran di faring Konjungtiva, perdarahan sembefalon ulkus

c.

Data Penunjang Laboratorium : leukositosis atau esosinefilia Histopatologi : infiltrat sel mononuklear, oedema dan ekstravasasi sel darah merah, degenerasi lapisan basalis, nekrosis sel epidermal, spongiosis dan edema intrasel di epidermis. Imunologi : deposis IgM dan C3 serta terdapat komplek imun yang mengandung

Gangguan

rasa nyaman, demam, nyeri kepala, tenggorokan s.d adaya bula Gangguan pemenuhan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d sulit menelan Gangguan integritas kulit s.d bula yang mudah pecah Kurang pengetahuan tentang proses penyakit s.d kurang informasi Potensial terjadi infeksi sekunder s.d efek samping terpasangnya infus dan terapis

Dx

1. Gangguan rasa nyaman, demam, nyeri kepala, tenggorokan s.d adaya bula Tujuan: Klien merasa nyaman dalam waktu 2 x 24 jam Rencana: Berikan kompres dingin Berikan pakaian yang tipis dari bahan yang menyerap Usahakan pasien bias istirahat 7-8 jam sehari

Dx

2. Gangguan pemenuhan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh s.d sulit menelan Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi selama perawatan Rencana :
Kaji kemampuan klien untuk menelan Berikan diet cair Jelaskan pada klien dan keluarga tentang pentingnya

nutrisi bagi kesembuhan klien Monitoring balance cairan Kaji adanya tanda-tanda dehidrasi dan gangguan elekrolit K/P kolaborasi untuk pemasangan NGT

Tujuan : Kerusakan integritas kulit menunjukan perbaikan dalam waktu 7-10 hari Rencana : Kaji tingkat lesi Hindarkan lesi dari manipulasi dan tekanan Berikan diet TKTP Jaga linen dan pakaian tetap kering dan bersih

Tujuan : Pengetahuan klien/keluarga akan meningkat setelah diberikan penyuluhan kesehatan Rencana : Kaji tingkat pengetahuan klien/ keluarga tentang penyakitnya Jeslakan proses penyakit dengan bahasa yang sederhana Jelaskan tentang prosedur perawatan dan pengobatan

Tujuan : Tidak terjadi infeksi sekunder selama dalam perawatan Rencana : Hindari lesi kulit dari kontaminasi Dresing infus dan lesi tiap hari Kaji tanda tanda infeksi lokal maupun sistemik Ganti infus set dan abocatin tiap 3 hari Kolaborasi untuk pemeriksaan Ro thorax dan labortorium