Anda di halaman 1dari 2

KPR Turun, Kredit Bermasalah Meningkat

Putra Klaten bantul solotigo Tegal


Klaten......
Mardi
Kuningan.....Forum Betawi rempug..............
Katolik

Seiring terjadinya krisis, permintaan kredit pemilikan


rumah atau KPR mulai turun. Masyarakat cenderung
mengerem belanja, termasuk rumah. Krisis juga
menyebabkan kredit bermasalah sektor properti
meningkat.
Direktur Utama BTN Iqbal Latanro, akhir pekan lalu
di Jakarta, menjelaskan, hingga akhir Februari 2009,
KPR secara industri masih tumbuh meskipun lebih
lambat dibandingkan sebelumnya. "Daya beli
masyarakat sebenarnya masih ada, namun mereka
KOMPAS/YUNIADHI AGUNG cenderung mengerem belanja untuk mengantisipasi
Pekerja bekerja lembur untuk menambal dinding di salah risiko ke depan," kata Iqbal.
satu lantai pada proyek pembangunan rumah susun di
Jalan Ciledug Raya, Jakarta Selatan, Senin (16/3). BTN mencatat, penyaluran KPR baru sebesar Rp 1,1
Pembangunan rumah susun untuk hunian menjadi pilihan
untuk mengatasi keterbatasan lahan di Kota Jakarta. triliun selama bulan Februari 2009.
Tidak rem kredit
Iqbal mengatakan, meskipun risiko sektor riil dan konsumen meningkat, BTN tidak mengerem
kreditnya secara drastis. Ke depan, BTN berencana tetap ekspansif menyalurkan KPR. Menurut Iqbal,
peningkatan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) saat ini memang lebih tinggi dibanding
tahun-tahun sebelumnya. Namun, secara keseluruhan, angka NPL KPR BTN masih di bawah 4 persen.
Peningkatan NPL KPR, kata Iqbal, salah satunya dipicu oleh berkurangnya pendapatan sejumlah
nasabah akibat pemutusan hubungan kerja.
Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi kredit KPR dan kredit pemilikan apartemen (KPA) per akhir
Januari mencapai Rp 123,53 triliun, hanya tumbuh 0,6 persen dibanding Desember 2008.
Data BI juga tergambar dalam Seminar Pemasaran dan Investasi Properti untuk Mengantisipasi Krisis
Ekonomi Global, yang diselenggarakan Universitas Tarumanagara di Jakarta, Sabtu (21/3). Dalam
seminar terungkap, krisis ekonomi global yang berimbas ke perekonomian Indonesia
berdampak pada melemahnya industri properti, khususnya segmen menengah ke atas.
Pelemahan sektor properti itu perlu disikapi pengembang dengan mengembangkan inovasi produk dan
strategi pemasaran agar proyek tetap berjalan.
Kelas menengah
Anggota Staf Pengajar Jurusan Perencanaan Kota dan Real Estat Fakultas Teknik Universitas
Tarumanagara Irwan Wipranata mengatakan, pengaruh krisis terhadap bisnis properti antara lain
terlihat dari menurunnya daya beli perumahan, khususnya perumahan kelas menengah. Pertumbuhan
ekonomi nasional yang melemah juga berpengaruh pada menurunnya bisnis ritel, perkantoran,
apartemen, dan hotel. Sektor ritel bahkan sudah mengalami kelebihan penawaran.
"Turunnya permintaan di sektor properti perlu disikapi pengembang dengan melakukan inovasi produk
dan strategi pemasaran agar proyek terus berjalan," kata Irwan.
Industri properti, ujar Irwan, bisa berkolaborasi dengan subsektor industri kreatif guna meningkatkan
daya tarik, di antaranya arsitektur atau seni rupa.
Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk Ignesjz Kemalawarta mengemukakan, inovasi produk
merupakan salah satu strategi pengembang dalam mempertahankan konsumen di tengah menurunnya
permintaan dan pengetatan pengeluaran. Inovasi produk yang diterapkan, antara lain, menggeser
pembangunan kawasan perkantoran dari yang semula terfokus di pusat kota ke pinggiran kota, untuk
mengurangi biaya operasional. Pergeseran itu didukung dengan penyediaan fasilitas hunian,
perbelanjaan, dan infrastruktur.

Pengamat properti, Panangian Simanungkalit, mengatakan, tingkat hunian mal dan pusat perbelanjaan
tahun ini diprediksi 60-70 persen, atau turun dibandingkan degnan tahun 2000, yakni 80-90 persen.
Pembangunan mal dan pusat perbelanjaan juga akan melambat.