Anda di halaman 1dari 3

A.

Peran Farmasi dalam Penetapan Terapi Peran farmasi dalam hal yang bersangkutan dengan terapi kepada pasien untuk dewasa ini lebih diartikan pada pemberi pelayanan dan informasi kepada pasien, yaitu dengan memberikan obat yang layak, lebih efektif, aman dan memuaskan (IAI, 2010). Dalam mencapai tujuan ini, maka di bagian farmasi menerapkan 2 pendekatan, yaitu: 1. Pendekatan Farmasi klinis Berdasarkan landasan hukum menurut SK MenKes No.436/MenKes/SK/IV/1993 jangkauan farmasi klinis meliputi: melakukan konseling, monitoring efek samping obat, pencampuran obat suntik secara aseptis, menganalisa efektifitas biaya, penentuan kadar obat dalam darah, penanganan obat sitostika, penyiapan total parenteral nutrisi, pemantauan penggunaan obat, pengkajian penggunaan obat. Tujuan farmasi klinis adalah : a) Memaksimalkan efek terapetik yaitu ketepatan indikasi, ketepatan pemilihan obat, ketepatan pengaturan dosis sesuai dengan kebutuhan dan kondisi pasien, serta evaluasi terapi. b) Meminimalkan resiko yaitu memastikan resiko sekecil mungkin bagi pasien, meminimalkan masalah ketidakamanan pemakaian obat meliputi efek samping, dosis, interaksi dan kontraindikasi. c) Meminimalkan biaya yaitu jenis obat yang dipilih adalah yang paling efektif dalam hal biaya dan rasionalitas, terjangkau oleh kemampuan pasien dan rumah sakit d) Menghormati pilihan pasien meliputi keterlibatan pasien dalam proses pengobatan akan menentukan keberhasilan terapi, hak pasien harus diakui dan diterima semua pihak. 2. Pendekatan pharmaceutical care Ada tiga tahap proses yaitu: a) Penilaian (asessment) yaitu menjamin bahwa semua terapi obat terindikasi, efektif, dan aman serta mengidentifikasi masalah terapi. b) Pengembangan perencanaan perawatan (development of care a plan) yaitu pemecahan masalah terapi obat, pencapaian sasaran terapi serta pencegahan masalah. c) Evaluasi yaitu pencatatan hasil terapi yang sebenarnya, evaluasi kemajuan untuk memenuhi sasaran terapi dan memperkirakan kembali munculnya masalah baru. Tujuan akhir dari aktifitas praktik farmasi dalam perannya menentukan terapi untuk pasien adalah kemanfaatan pada pasien dengan meningkatkan dan menjaga kesehatan

mereka. Fokus aktifitas farmasi dalam hal ini adalah mendukung dan mengelola terapi obat, yaitu prioritas pelayanan, tindak lanjut, dan pemantauan dampak terapi (Munif, 2012). Dalam kaitannya dengan penetapan terapi, seorang farmasis tentunya berperan penting dalam penyiapan (dispensing) obat untuk pasien. Dispensing merupakan kegiatan pelayanan yang dimulai dari tahap validasi, interpretasi, menyiapkan/meracik obat, memberikan label/etiket, penyerahan obat dengan pemberian informasi obat yang memadai disertai sistem dokumentasi. Tujuan dispensing : 1. Mendapatkan dosis yang tepat dan aman. 2. Menyediakan nutrisi bagi penderita yang tidak dapat menerima makanan secara oral atau emperal. 3. Menyediakan obat kanker secara efektif, efisien dan bermutu. 4. Menurunkan total biaya obat. Dispensing dibedakan berdasarkan atas sifat sediaannya : 1. Dispensing Sediaan Farmasi Khusus. a. Dispensing sediaan farmasi parenteral nutrisi. Merupakan kegiatan pencampuran nutrisi parenteral yang dilakukan oleh tenaga yang terlatih secara aseptis sesuai kebutuhan pasien dengan menjaga stabilitas sediaan, formula standar dan kepatuhan terhadap prosedur yang menyertai. Kegiatan : Mencampur sediaan karbohidrat, protein, lipid, vitamin, mineral untuk kebutuhan perorangan. Mengemas ke dalam kantong khusus untuk nutrisi Faktor yang perlu diperhatikan : o Tim yang terdiri dari dokter, apoteker, perawat, ahli gizi. o Sarana dan prasarana o Ruangan khusus o Lemari pencampuran Biological Safety Cabinet o Kantong khusus untuk nutrisi parenteral b. Dispensing sediaan farmasi pencampuran obat steril Melakukan pencampuran obat steril sesuai kebutuhan pasien yang menjamin kompatibilitas, dan stabilitas obat maupun wadah sesuai dengan dosis yang ditetapkan. Kegiatan :

Mencampur sediaan intravena kedalam cairan infus Melarutkan sediaan intravena dalam bentuk serbuk dengan pelarut yang sesuai Mengemas menjadi sediaan siap pakai Faktor yang perlu diperhatikan : o Ruangan khusus o Lemari pencampuran Biological Safety Cabinet o HEPA Filter 2. Dispensing Sediaan Farmasi Berbahaya Merupakan penanganan obat kanker secara aseptis dalam kemasan siap pakai sesuai kebutuhan pasien oleh tenaga farmasi yang terlatih dengan pengendalian pada keamanan terhadap lingkungan, petugas maupun sediaan obatnya dari efek toksik dan kontaminasi, dengan menggunakan alat pelindung diri, mengamankan pada saat pencampuran, distribusi, maupun proses pemberian kepada pasien sampai pembuangan limbahnya. Secara operasional dalam mempersiapkan dan melakukan harus sesuai prosedur yang ditetapkan dengan alat pelindung diri yang memadai, sehingga kecelakaan terkendali. Kegiatan : Melakukan perhitungan dosis secara akurat Melarutkan sediaan obat kanker dengan pelarut yang sesuai Mencampur sediaan obat kanker sesuai dengan protokol pengobatan Mengemas dalam kemasan tertentu Membuang limbah sesuai prosedur yang berlaku Faktor yang perlu diperhatikan : o Cara pemberian obat kanker o Ruangan khusus yang dirancang dengan kondisi yang sesuai o Lemari pencampuran Biological Safety Cabinet o Hepa Filter o Pakaian khusus o Sumber Daya Manusia yang terlatih (DEPKES RI, 2006)