Anda di halaman 1dari 3

Kenapa Asa Rakyat Memiliki Rumah

Bertumpu Pada BTN?

Putra Asli Semarang, Bantul, Wonosari, Kendal

Kristen Katolik...

Betawi Cipadu dan Tukang Ojeg Deplu gg Bahagia Kreom Selatan ciledug Tangerang

Kenapa Asa Rakyat Memiliki Rumah Bertumpu Pada BTN?

Track record Bank Tabungan Negara (BTN) dengan core business di sektor perumahan
memang belum tersaingi bank lain. Tak heran, kalau dulu banyak perumahan kerap
disebut perumahan BTN. Padahal perumahan itu dibangun oleh pengembang, dan BTN
hanya memfasilitasi penyediaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) RSH bersubsidi saja. Pendek kata,
sejak dulu kalau rakyat ingin punya rumah, yang terpikirkan hanya satu, BTN.

Semua rakyat berhak hidup sejahtera, punya tempat tinggal dan mendapatkan lingkungan hidup
yang baik dan sehat. Ini bukan sebuah slogan kosong semata. Setidaknya ada tiga undang-
undang yang memberi amanat itu. Selain Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28, Undang-undang
no 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia pasal 40 dan Undang-Undang No 4/1992 Tentang
Perumahan Permukiman pasal 5 juga memerintahkan pemerintah agar menyediakan hunian layak
bagi rakyat.

Meski UU sudah menegaskan semua rakyat punya hak sama dalam memiliki rumah, namun
masalah penyediaan rumah memang bukan perkara enteng. Barangkali, itu penyebab Ketua
Umum Realestat Indonesia (REI) Ir.Teguh Satria mengeluh, pasokan Rumah Sederhana Sehat
(RSH) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) lebih sedikit dibanding masa sebelum krisis
ekonomi.

Pernyataan Teguh mengacu pada kesuksesan pencapaian kerjasama pemerintah, perbankan dan
pengembang yang mampu menyediakan RSH sekitar 190 ribu unit per tahun pada era 90-an.
Dalam sepuluh tahun terakhir, tiap tahunnya pasokan baru RSH sulit menembus angka 100 ribu
unit. Baru pada tahun 2007 saja, pasokan rumah baru bisa melewati angka 100 ribu unit.

Padahal, dalam setahun, kalangan MBR rata-rata membutuhkan 800 ribu unit rumah. Minimnya
pasokan berbuntut pada munculnya kesenjangan pasokan dan kebutuhan (backlog) rumah. Pusat
Study Property Indonesia (PSPI) mencatat, pada 2005 saja, backlog rumah mencapai 834.174
unit. Hingga hari ini, backlog perumahan lebih dari 9 juta unit. Bukan itu saja, saat ini ada sekitar
13 juta unit rumah tidak layak huni. Sementara kawasan permukiman kumuh di perkotaan telah
mencapai lebih dari 54 ribu Ha.

Dengan kondisi seperti itu, maka keluhan Teguh Satria menjadi sangat relevan. Kenapa pasokan
Rsh masih jauh dari target yang diinginkan? Artinya, pemenuhan kebutuhan akan perumahan
masih sangat jauh dari memadai.

Padahal, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah mencanangkan program sejuta rumah dan
seribu menara rumah susun. Itu dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM) 2005-2009, duet SBY-JK memasang target pembangunan perumahan 1.350.000 unit.
Jumlah itu terdiri dari RS/RSH sebanyak 1.265.000 unit, Rusunawa sebanyak 60.000 sarusun dan
Rusunami sebanyak 25.000 sarusun. Artinya, dalam setahun pemerintah harus mendorong
pembangunan dan transaksi jual beli RSH sebanyak 250 ribu unit.

Perubahan kepemimpinan nasional sejak jatuhnya Soeharto ke BJ Habibibe, Gus Dur dan
Megawati memang punya dampak besar bagi penyediaan RSH. Tidak semua presiden punya
kepedulian besar terhadap sektor perumahan. Itu terbukti dari dilikuidasinya Kementrian
Perumahan Rakyat.

Disisi lain, krisis ekonomi membuat kalangan perbankan menarik diri dari bisnis pembiayaan
perumahan lantaran takut terkena dampak missmacth pendanaan. Sementara dalam waktu
bersamaan, banyak perusahaan pengembang tak mampu lagi membangun lantaran bangkrut.
Belum lagi anjloknya daya beli konsumen. Kondisi tersebut memang berbuntut pada rendahnya
pasokan dan pembelian RS.

Untungnya dalam kondisi 'kacau'itu, bisnis perumahan masih tertolong oleh keberadaan BTN.
Bank itu tetap fokus pada pembiayaan perumahan. Meskipun BTN pun harus berjuang sendirian
membantu masyarakat yang ingin membeli rumah lewat fasilitas KPR bersubsidi.

Selain strategi bisnis, boleh jadi langkah BTN tetap bermain di bisnis pembiayaan perumahan tak
terlepas dari perjalanan sejarahnya. Bank BUMN ini telah terjun dalam bisnis pembiayaan
perumahan sejak tahun 1976.

Dan sejak itu pula, BTN konsisten dengan bisnis memfasilitasi pembelian rumah lewat KPR.
Hingga 2006, total kucuran KPR BTN telah mencapai Rp 47,1 triliun, untuk memfasilitasi
pembelian rumah sebanyak 2.460.782. Pada tahun 2007, BTN berhasil menyalurkan kredit sekitar
Rp 8,5 triliun.

Dengan pertumbuhan bisnis perumahan yang terus membaik, maka pada 2008 BTN langsung
menyiapkan dana kredit sekitar Rp 10 triliun. Bahkan rencananya, pada tahun 2012, total kucuran
KPR BTN akan mencapai Rp 86 triliun.

Jutaan orang telah merasakan manfaat keberadaan BTN. Dalam beberapa tahun ke depan, jutaan
orang lagi akan bertambah daya belinya untuk bisa memiliki rumah. Tak heran kalau nama BTN
melekat di hati banyak orang yang bisa memiliki rumah dengan bantuan BTN.

Mujib misalnya, warga perumahan Bumi Bekasi Baru di kawasan Rawa Lumbu, Bekasi ini menilai,
BTN telah memberinya peluang memiliki rumah. Pada tahun 1990an, dengan uang muka sekitar
Rp 7 juta, Mujib sudah bisa memiliki rumah seharga Rp 30an juta. "Cicilannya sangat ringan dan
banyak kemudahan kita dapat," urainya.

Mujib mencontohkan, dalam membayar cicilan, pihaknya banyak dibantu BTN. "Saya nggak
pusing, punya duit kita bisa bayar lebih banyak, nggak punya duit kita nggak dikejar-kejar debt
collector" ujar Mujib.

Senada dengan Mujib, Angga Suryadi, warga perumahan Taman Cileungsi juga menggambarkan
mudahnya memperoleh KPR bersubsidi dari BTN. "Dengan surat-surat lengkap, cukup waktu dua
minggu, urusan sudah clear dan saya langsung punya rumah meskipun kecil," ungkapnya.

Saat itu Angga berniat membeli RSH tipe 27 dengan harga Rp 54 juta. "Uang mukanya Rp18 juta,
itu juga saya cicil 10 kali,"jelas Angga. Sementara angsuran per bulan, kata Angga, hanya kena
Rp 600 ribu. "Nah yang paling saya senang, kalau saya terlambat bayar atau sedang tidak punya
uang, saya tidak perlu takut dikejar debt collector, paling-paling ada surat cinta yang melayang
dari BTN," urainya.
Mujib dan Angga hanya dua contoh dari jutaan orang yang akhirnya bisa mewujudkan mimpinya
mempunyai hunian layak dan lingkungan sehat. Bahkan, bukan hanya masyarakat yang akan
terbantu BTN. Barangkali realisasi program perumahan kabinet SBY-JK juga akan tertolong oleh
BTN. Apalagi saat ini, kinerja BTN amat cemerlang.

Loan to Deposit Ratio (LDR) BTN pada tahun 2007 mencapai 92,4 persen. Artinya, kemampuan
BTN dalam melakukan peran intermediasi perbankan atau menyalurkan dana pihak ketiga ke
dalam bentuk kredit sangat tinggi.

Sementara bank lain, rata-rata LDR tak beranjak dari 60an persen. Sementara untuk Non
Performing Loan (NPL) alias kredit macetnya, hanya 2,48 persen. Sejauh ini, kiprah BTN memang
sulit ditandingi perbankan lain. Barangkali, hanya BTN, bank yang bermanfaat bagi kalangan MBR
dengan kinerja yapg sangat bagus. (Harian Ekonomi Neraca)