P. 1
KPR BNI Griya

KPR BNI Griya

5.0

|Views: 3,931|Likes:
Dipublikasikan oleh jhon vakra
kpr bni
kpr bni

More info:

Published by: jhon vakra on Apr 03, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2012

pdf

text

original

Hati-hati dengan KPR BNI Griya Saya Satpam Sebuah rumah Sakit Betawi Asli Kreo Selatan

Ciledug Tangerang Lhooooo Asli Surabaya Lhooooooooooo Betawi emang topp Dengan ini saya, Dini.Brahmana memohon saran/bantuan mengenai keluhan saya kepada BNI dikarenakan sampai saat ini saya belum mendapatkan tanggapan dari keluhan tersebut dari pihak BNI. ========================================================================= = Pada bulan April tahun 2008, saya dan suami (alm.) membeli sebuah apartemen di daerah Kemang, Jakarta dengan menggunakan KPR BNI Griya dari Bank BNI cabang Kota, Jl. Lada No.1 Jakarta Kota atas nama suami saya. Pada tanggal 23 Juni 2008, suami saya meninggal dunia. Saat itu saya langsung memberikan informasi mengenai hal ini kepada BNI dan di terima oleh Pak Sigit di bagian Sentra Kredit Konsumen (SKK) dan saya mendapatkan informasi bahwa pada saat itu juga rekening KPR akan diblokir dan semua bunga akan dihentikan. Karena KPR dijamin oleh asuransi jiwa atas nama suami saya, maka saya mengajukan klaim asuransi tersebut. Pengajuan klaim baru bisa saya laksanakan pada awal Juli 2008 karena diperlukan dokumen2 pendukung yang harus saya urus terlebih dahulu dan memakan waktu yang tidak sebentar. Formulir pengajuan klaim serta dokumen pendukung tersebut akan diteruskan oleh pihak BNI kepada Auransi Jiwasraya. Di bulan Agustus 2008, saya menghubungi BNI kembali untuk menanyakan kelanjutan proses klaim. Saya mendapatkan informasi bahwa klaim belum dapat di proses karena masih diperlukan dokumen yang telah dilegalisir oleh Kelurahan dan Kecamatan. Saya sempat terkejut karena tidak ada informasi sebelumnya mengenai hal itu. Tetapi saya masih berusaha untuk bersabar mengingat Pak Sigit sangat cooperative serta menaruh perhatian penuh dalam menangani kasus ini. Saya juga menyadari bahwa verifikasi dokumen adalah wewenang dari pihak asuransi.Kemudian saya memenuhi semua persyaratan tersebut dengan harapan proses klaim akan cepat selesai. Pada pertengahan bulan September 2008, saya mendapatkan informasi dari pihak Asuransi Jiwasraya bahwa klaim saya tidak dapat dibayarkan penuh sesuai jumlah sisa kredit (outstanding balance) karena saya hanya membayar premi sebagian???? dan mereka meminta saya untuk mengklarifikasi kembali kepada BNI. Saya katakan bahwa saya telah menyediakan dana di rekening tabungan BNI untuk pendebetan premi asuransi secara penuh dan kalau pihak BNI hanya mendebet separuh, itu bukan kesalahan saya,karena saldo pada saat itu lebih dari cukup dan saya mempunyai bukti yang tercetak di buku tabungan. Saya mulai merasa ada yang tidak beres antara BNI dan Jiwasraya, tapi sekali lagi saya berusaha untuk bersabar dan bekerja sama dengan baik. Lalu saya menghubungi pihak BNI dan mendapatkan informasi bahwa ada kekurangan pendebetan, namun hal ini sudah di proses lebih lanjut dengan pihak Jiwasraya. Saya hubungi kembali pihak Jiwasraya dan saya tanyakan mengapa pihak Jiwasraya dapat mengeluarkan polis dengan pertanggungan penuh sementara premi belum dibayar penuh oleh BNI. Dalam hal ini saya tidak mendapatkan informasi yang jelas dan terjadi saling menyalahkan antara BNI dan Jiwasraya. Kemudian saya katakan kepada kedua belah pihak bahwa semua itu adalah urusan internal antara BNI dan Jiwasraya dimana saya sebagai nasabah yang telah memenuhi kewajibannya tidak perlu tahu masalah internal mereka dan sangat tidak profesional apabila

proses tertunda sekian lama karena ketidakberesan internal dan nasabah yang menjadi korban. Saya makin yakin ada ketidakberesan dalam administrasi mereka, tetapi lagi2 saya masih mencoba untuk bersabar karena pada dasarnya saya bukan orang yang suka dengan konflik. Di bulan Oktober 2008, kembali saya menghubungi kedua belah pihak diatas untuk lagi2 menanyakan proses yang masih tertunda dan pada saat itu saya sudah mulai tidak sabar. Informasi yang saya terima adalah proses sudah tinggal mendapatkan persetujuan dari pimpinan yang berwenang, namun karena terpotong libur panjang Idul Fitri maka sedikit ada penundaan. Lagi2 saya mencoba untuk mengerti kondisi tersebut. Karena kesibukan saya menjelang akhir tahun 2008, maka saya baru dapat menghubungi kedua belah pihak pada bulan Januari 2009 dan ternyata klaim sudah disetujui dan telah dibayarkan oleh pihak asuransi kepada BNI dengan pertanggungan penuh sesuai dengan sisa kredit (outstanding balance).Di sini saya merasa bahwa sayalah yang telah aktif menghubungi kedua belah pihak, proses tertunda sekian lama (kurang lebih 7 bulan!!!!) tanpa adanya rasa bersalah dari kedua pihak, menganggap hal ini adalah hal biasa dan kalau saya tidak aktif menanyakan maka tidak ada orang yang menghubungi saya. Karena saya sudah capek dan merasa percuma untuk meminta pertanggung jawaban atas lamanya proses klaim, maka saya tidak mau mempermasalahkan lebih lanjut, yang penting semua sudah beres. Saya kemudian menghubungi BNI kembali untuk mengurus pengambilan dokumen2 yang dijaminkan. Namun alangkah terkejutnya saya ternyata BNI belum bisa mengembalikan dokumen2 tersebut karena saya masih mempunyai tunggakan yang berasal dari bunga berjalan antara bulan Juni 2008 ke bulan Juli 2008 (jeda waktu untuk mengurusan klaim) dan ditambah dengan biaya administrasi sebesar 2% karena saya dianggap melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo?????, padahal kasus ini adalah kasus kematian dimana pelunasan sebelum jatuh tempo bukan atas kehendak debitur. Saya merasa sangat dipermainkan dalam hal ini dan saya sudah tidak dapat tinggal diam. Disini pun saya masih memenuhi permintaan BNI untuk membuat surat keberatan atas biaya2 tersebut dan meminta untuk menghapuskan biaya2 tersebut walaupun seharusnya tanpa saya minta, BNI selayaknya menghapuskan biaya2 tersebut dikarenakan semua pokok pinjaman telah lunas dan ini tidak dapat disamakan dengan kasus yang biasa (mengingat ketidakberesan yang terjadi) dan saya telah bersabar menunggu sampai 7 bulan. Kasus saya mungkin dapat juga dipelajari oleh pihak Auditor BNI dimana ada ketidakberesan administrasi BNI kota. Tanggal 2 Februari 2009 saya mendapatkan surat balasan yang ditandatangani oleh Bpk. Sandy Setiawan selaku wakil pimpinan SKK yang menolak permintaan saya. Kembali saya terkejut-kejut atas perlakuan BNI kepada nasabahnya. Saya kemudian menghubungi Pak Sandy untuk membicarakan hal ini, tapi saya mendapatkan jawaban yang sangat-sangat tidak profesional sebagai seorang pimpinan dimana saya mendapatkan kesan bahwa sebagai kreditur BNI bisa bersikap sangat arogan dimana biaya2 tersebut tidak dapat dihapuskan dan apabila saya tidak mau membayar maka dokumen tetap akan ditahan sampai jatuh tempo. Sebegitu kakunya kah prosedur di BNI????.Lalu saya katakan bagaimana dengan uang yang telah dibayarkan oleh asuransi. Jawabannya adalah uang tersebut tidak dapat diberikan kepada saya, akan ditahan oleh BNI dan akan dipakai untuk membayar cicilan tiap bulan sampai dengan jatuh tempo kredit????? baru setelah itu dokumen jaminan dapat saya ambil. Tentunya itu sangat tidak masuk akal !!!! dan saya merasa adanya pembodohan terhadap konsumen. Saya sangat tersinggung karena semua pokok pinjaman telah dilunasi. Kemudian Pak Sandy juga mengatakan :"Jadi berapa yang Ibu sanggup bayar, kalau tidak sanggup bayar silahkan membuat surat ketidak sanggupan untuk membayar"...pernyataan ini jelas2 sangat tidak profesional dimana saya jadi seperti seorang PENUNGGAK HUTANG!!! yang tidak mampu bayar sedangkan saya tidak mempunyai hutang di BNI. Saya sangat marah dan tidak dapat terima akan pernyataan tersebut dimana

saya harus memohon sesuatu yang tidak saya lakukan dan itu tidak layak diberlakukan kepada saya. Harusnya sebagai seorang pimpinan dapat lebih mempelajari kasus tersebut sebelum membuat suatu keputusan. Sudah untung saya tidak menuntut BNI atas lamanya proses klaim. Untuk saat ini semua sudah tidak dapat ditoleransi kembali...saya akan menggunakan JALUR HUKUM untuk menyelesaikan kasus ini karena saya telah terlalu lama dipermaikan.Sebagai langkah awal, saya meminta BNI untuk memberikan permintaan maaf secara tertulis atas kasus diatas. Saya telah rugi waktu, rugi tenaga serta adanya pelecehan atas harga diri saya sebagai debitur yang telah memenuhi kewajibannya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->