Anda di halaman 1dari 16

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

Proses Divestasi Saham PT Newmont Nusa Tenggara Tahun 2010

16 November 2011

atar Belakang
o Kontrak karya antara Pemerintah RI dan PT NNT yang ditandatangani tanggal 2 Desember 1986. o Para pihak : Pemerintah RI diwakili Menteri ESDM dan PT NNT diwakili oleh Newmont Indonesia Limited dan PT Pukuafu Indah.

o Area : Terdiri dari 5 blok yaitu


Batu Hijau, Elang, Rinti, North Lunyuk & Teluk Panas, meliputi area seluas 88000 hektar di Pulau Sumbawa.

o Jangka waktu 30 tahun, dimulai 1 Maret 2000 dan dapat diperpanjang PT NNT dengan persetujuan Pemerintah Indonesia.
Page 2

etentuan Divestasi
o Pada saat pendirian, saham PT NNT dimiliki oleh Nusa Tenggara Mining Corp. (Jepang) sebesar 35%, Newmont Indonesia Limited (USA) sebesar 45% dan PT Pukuafu Indah (Indonesia) sebesar 20%. o Pada angka 3 Pasal 24 Kontrak Karya diatur bahwa saham PT NNT yang dimiliki oleh asing harus ditawarkan untuk dijual atau diterbitkan, pertama kepada Pemerintah dan kedua (jika Pemerintah tidak menerima atau menyetujui penawaran dalam 30 hari sejak tanggal penawaran) kepada warga negara Indonesia atau perusahaan Indonesia yang dikendalikan oleh warga negara Indonesia. o Jumlah saham yang ditawarkan dan jadwal divestasi sesuai Pasal 24 Ayat 4 Kontrak Karya adalah sebagai berikut: a. Tahun 2005 : tidak ada divestasi karena Indonesia sudah memiliki 20%. b. Tahun 2006 : 3% (minimal kepemilikan Indonesia 23%) c. Tahun 2007 : 7% (minimal kepemilikan Indonesia 30%) d. Tahun 2008 : 7% (minimal kepemilikan Indonesia 37%) e. Tahun 2009 : 7% (minimal kepemilikan Indonesia 44%) f. Tahun 2010 : 7% (minimal kepemilikan Indonesia 51%)

Page 3

ekanisme Divestasi Sesuai Kontrak Karya (Pasal 24)


2

Dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah akhir tahun kalender, PT NNT menyampaikan penawaran saham kepada Pemerintah cq. Menteri ESDM (Pasal 24 Ayat 5).

Paling lambat 1 (satu) bulan setelah penawaran disampaikan PT NNT, Pemerintah Pemerintah cq. Menteri ESDM harus menyampaikan jawaban Pemerintah menerima tawaran pembelian saham (Pasal 24 ayat 3).

Pembayaran akan dilakukan dalam waktu 3 (tiga) bulan sesudah tanggal diterimanya (acceptance) penawaran seperti ditetapkan dalam Pasal 24 Ayat 5.

Dalam hal Pemerintah tidak berminat, PT NNT akan menawarkan saham divestasi tersebut kepada WNI atau perusahaan yang dikendalikan oleh WNI

1
3

ronologis Divestasi sampai dengan Tahun 2009


31 Maret 2009, Putusan Arbitrase Internasional, antara lain: 1. PT NNT dinyatakan default, 2. PT NNT wajib melakukan divestasi tahun 2006 dan 2007 sebesar 10% kepada Pemerintah Daerah dan tahun 2008 sebesar 7% kepada Pemerintah RI November 2009, pembelian 24% saham (divestasi saham tahun 2006-2009) PT NNT oleh PT Multi Daerah Bersaing, perusahaan joint venture yang dibentuk oleh PT Multicapital (75%) dan BUMD PT Maju Daerah Bersama (25%)

1986, Kontrak Karya ditandatangani

2006-2008, PT NNT tidak melaksanakan divestasi saham sesuai Pasal 24 Ayat 4 Kontrak Karya

2000, tambang mulai berproduksi

2008, Pemerintah melakukan gugatan ke arbitrase internasional untuk divestasi saham tahun 2006 -2008

30 September 2009, batas akhir pelaksanaan putusan arbitrase

Page 5

rosesDivestasi Saham
18 November 2010, PT NNT menyampaikan penawaran harga saham divestasi kepada Menteri ESDM dengan nilai US $ 271,6 juta 17 Desember 2010, Menteri ESDM menyampaikan kepada PT NNT bahwa Pemerintah RI cq. Menteri Keuangan akan melaksanakan pembelian saham divestasi PT NNT. Saham tersebut harus free dan clear dari gadai dan tuntutan hukum 1 Februari 2011, Keputusan Menteri Keuangan Nomor KMK 43/KMK.06/2011 tentang Penunjukan PIP sebagai Pembeli Saham Divestasi PT NNT untuk Tahun 2010

17 Maret 2011, Menteri ESDM meneruskan permintaan perpanjangan waktu kepada PT NNT (surat Nomor 1641/80/ MEM.B /2011).

4
24 Januari 2011, Menteri Keuangan menyampaikan surat kepada Presiden RI guna merekomendasikan PIP sebagai pembeli saham divestasi PT NNT untuk tahun 2010

16 Desember 2010, Menteri Keuangan menyatakan bahwa Pemerintah RI akan melaksanakan pembelian saham divestasi PT NNT kepada Menteri ESDM. Saham tersebut harus free dan clear dari gadai dan tuntutan hukum

15 Maret 2011, Menteri Keuangan menyampaikan permintaan perpanjangan jangka waktu selama 30 hari sejak tanggal 17 Maret 2011 kepada Menteri ESDM Page 6

rosesDivestasi Saham(2)
18 Maret 2011, PT NNT menyetujui perpanjangan waktu 30 hari terhitung sejak 17 Maret 2011 18 April 2011, penandatanganan Statement of Mutual Agreement antara Kepala PIP, pemegang Saham Asing PT NNT (NTP BV), dan Presiden Direktur PT NNT.

06 Mei 2011, penyampaian surat kepada Presiden RI

09 Mei 2011, penyampaian surat kepada Ketua DPR

10

11

12

13

14

14 April 2011, Menkeu menegaskan kembali bahwa Pemerintah akan menyelesaikan pembelian saham divestasi dengan syarat free & clear dan PT NNT diminta melakukan koordinasi dengan PIP sebagai wakil pemerintah dalam pembelian saham divestasi serta penegasan bahwa Pemerintah memiliki hak penuh atas divestasi

06 Mei 2011, penandatanganan Sales and Purchase Agreement Saham Divestasi Tahun 2010 sebesar 7% antara PIP dan NTP BV, pemegang saham asing PT NNT

09 Mei 2011, penyampaian surat kepada Pemda NTB, KSB dan KS


Page 7

omposisi Kepemilikan Saham PT NNT


Pada Saat Pendirian

PT NNT
Newmont Indonesia Limited (NIL)-45% Nusa Tenggara Mining Corp (NTMC-35%) PT Pukuafu Indah (PTPI)-20%

Tahun 2009, setelah divestasi saham tahun 2006-2009

PT NNT

NIL-31,5%

NTMC-24,5%

PTPI-20%

PT Multi Daerah Bersaing (MDB)-24%

Tahun 2010, sebelum divestasi saham 7%

PT NNT

NIL-31,5%

NTMC-24,5%

PTPI-17,8%

PT MDB-24%

PT Indonesia Masbaga Investama-2,2%


Page 8

Asing, 56%

Pihak Indonesia, 44%

embelian Saham Divestasi oleh Pemerintah


1. Kepemilikan 51% oleh beberapa unsur nasional secara bersama-sama akan menjaga kepentingan nasional berdasarkan prinsip-prinsip international best practice.
2. Mendukung dan memastikan compliance perusahaan terhadap pembayaran pajak, royalti, kewajiban corporate social responsibility sehingga multiplier effect dari industri tersebut dapat lebih dirasakan masyarakat sekitar. 3. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam PT NNT akan menciptakan model bisnis yang lebih baik untuk memberikan kontribusi bagi peningkatan nilai PT NNT.

4. Membangun governance dan pengawasan yang lebih baik bagi pelaksanaan pengusahaan pertambangan di Indonesia sehingga menciptakan iklim bisnis dan mekanisme kerja sama pengelolaan pertambangan di Indonesia yang kondusif, adil dan juga memberikan manfaat yang besar bagi Negara.
5. Mendorong PT NNT untuk segera go public. 6. Pendayagunaan dana PIP untuk menghasilkan return yang lebih baik.
Page 9

erbandingan Harga Saham Divestasi PT NNT


(dalam jutaan USD)

282.03 300 246.75 246.75

246,8

250

200 109.08

150

100

50

3%

7%

7%

7%

7%

0 2006 2007 2008 2009 2010

10

PERBEDAAN PENDAPAT ANTARA BPK & PEMERINTAH


Pembelian 7% saham divestasi PT. NTT

BPK
Pembelian Saham Divestasi perlu Persetujuan DPR UU No. 17/2003 pasal 24 ayat 7 Dalam keadaan tertentu, untuk penyelamatan perekonomian nasional, Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman dan/atau melakukan penyertaan modal kepada perusahaan swasta setelah mendapat persetujuan DPR. Pembelian 7% saham PT. NTT terlebih dahulu harus mendapat persetujuan DPR. PP No. 44/2005 pasal 6 Penyertaan modal ke dalam Perseroan Terbatas yang di dalamnya belum terdapat saham milik Negara dilakukan dalam keadaan tertentu untuk menyelamatkan perekonomian nasional.

Kemenkeu
Pembelian Saham Divestasi tidak memerlukan Persetujuan DPR (1/4) UU No. 1/2004 lex spesialis UU No. 17/2003 (vide Pasal 29) Pasal 29: Ketentuan mengenai pengelolaan keuangan negara dalam rangka pelaksanaan APBN dan APBD ditetapkan dalam undang-undang yang mengatur perbendaharaan negara,yang dituangkan dalam UU No.1/2004. UU No. 1/2004 Pasal 7 ayat (2) huruf h Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara berwenang (h) menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi UU No. 1/2004 pasal 41 Ayat (1) Pemerintah dapat melakukan investasi jangka panjang untuk memperoleh manfaat ekonomi, sosial dan/atau manfaat lainnya. Ayat (2) Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk saham, surat utang, dan investasi langsung. Ayat (3) Investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah. 11

PERBEDAAN PENDAPAT ANTARA BPK & PEMERINTAH


Pembelian 7% saham divestasi PT. NTT

BPK
Pembelian Saham Divestasi perlu Persetujuan DPR UU No. 17/2003 pasal 24 ayat 7 Dalam keadaan tertentu, untuk penyelamatan perekonomian nasional, Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman dan/atau melakukan penyertaan modal kepada perusahaan swasta setelah mendapat persetujuan DPR. Pembelian 7% saham PT. NTT terlebih dahulu harus mendapat persetujuan DPR. PP No. 44/2005 pasal 6 Penyertaan modal ke dalam Perseroan Terbatas yang di dalamnya belum terdapat saham milik Negara dilakukan dalam keadaan tertentu untuk menyelamatkan perekonomian nasional.

Kemenkeu
Pembelian Saham Divestasi tidak memerlukan Persetujuan DPR (2/4) PP No. 1 Tahun 2008 Pasal 10 Kewenangan pengelolaan Investasi Pemerintah dilaksanakan oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara. Pasal 11: Ayat (1) Kewenangan pengelolaan Investasi Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 meliputi kewenangan regulasi, supervisi, dan operasional. Ayat (2) Dalam rangka pelaksanaan kewenangan regulasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri Keuangan selaku pengelola Investasi Pemerintah berwenang dan bertanggung jawab: a. merumuskan kebijakan, mengatur, dan menetapkan pedoman pengelolaan Investasi Pemerintah; b. menetapkan kriteria pemenuhan perjanjian dalam pelaksanaan Investasi Pemerintah; dan c. menetapkan tata cara pembayaran kewajiban yang timbul dari proyek penyediaan Investasi Pemerintah dalam hal terdapat penggantian atas hak kekayaan intelektual, pembayaran subsidi, dan kegagalan pemenuhan Perjanjian Investasi. 12

PERBEDAAN PENDAPAT ANTARA BPK & PEMERINTAH


Pembelian 7% saham divestasi PT. NTT

BPK
Pembelian Saham Divestasi perlu Persetujuan DPR UU No. 17/2003 pasal 24 ayat 7 Dalam keadaan tertentu, untuk penyelamatan perekonomian nasional, Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman dan/atau melakukan penyertaan modal kepada perusahaan swasta setelah mendapat persetujuan DPR. Pembelian 7% saham PT. NTT terlebih dahulu harus mendapat persetujuan DPR. PP No. 44/2005 pasal 6 Penyertaan modal ke dalam Perseroan Terbatas yang di dalamnya belum terdapat saham milik Negara dilakukan dalam keadaan tertentu untuk menyelamatkan perekonomian nasional.

Kemenkeu
Pembelian Saham Divestasi tidak memerlukan Persetujuan DPR (3/4) PP No. 1 Tahun 2008 Pasal 11: Ayat (3) Dalam rangka pelaksanaan kewenangan supervisi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri Keuangan selaku pengelola Investasi Pemerintah berwenang dan bertanggung jawab: a. melakukan kajian kelayakan dan memberikan rekomendasi atas pelaksanaan Investasi Pemerintah; b. memonitor pelaksanaan Investasi Pemerintah yang terkait dengan dukungan pemerintah; c. mengevaluasi secara berkesinambungan mengenai pembiayaan dan keuntungan atas pelaksanaan Investasi Pemerintah dalam jangka waktu tertentu; dan

d. melakukan koordinasi dengan instansi terkait khususnya sehubungan dengan Investasi Langsung dalam penyediaan infrastruktur dan bidang lainnya, termasuk apabila terjadi kegagalan pemenuhan kerjasama.

13

PERBEDAAN PENDAPAT ANTARA BPK & PEMERINTAH


Pembelian 7% saham divestasi PT. NTT

BPK
Pembelian Saham Divestasi perlu Persetujuan DPR UU No. 17/2003 pasal 24 ayat 7 Dalam keadaan tertentu, untuk penyelamatan perekonomian nasional, Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman dan/atau melakukan penyertaan modal kepada perusahaan swasta setelah mendapat persetujuan DPR. Pembelian 7% saham PT. NTT terlebih dahulu harus mendapat persetujuan DPR. PP No. 44/2005 pasal 6 Penyertaan modal ke dalam Perseroan Terbatas yang di dalamnya belum terdapat saham milik Negara dilakukan dalam keadaan tertentu untuk menyelamatkan perekonomian nasional.

Kemenkeu
Pembelian Saham Divestasi tidak memerlukan Persetujuan DPR (4/4) PP No. 1 Tahun 2008 Pasal 11: Ayat (4) Dalam rangka pelaksanaan kewenangan operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Menteri Keuangan selaku pengelola Investasi Pemerintah berwenang dan bertanggung jawab: a. mengelola Rekening Induk Dana Investasi; b. meneliti dan menyetujui atau menolak usulan permintaan dana Investasi Pemerintah dari Badan Usaha, BLU, Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota, BLUD, dan/atau badan hukum asing; c. mengusulkan rencana kebutuhan dana Investasi Pemerintah yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara; d. menempatkan dana atau barang dalam rangka Investasi Pemerintah; e. melakukan Perjanjian Investasi dengan Badan Usaha terkait dengan penempatan dana Investasi Pemerintah; f. melakukan pengendalian atas pengelolaan risiko terhadap pelaksanaan Investasi Pemerintah; g. mengusulkan rekomendasi atas pelaksanaan Investasi Pemerintah; 14

PERBEDAAN PENDAPAT ANTARA BPK & PEMERINTAH


Pembelian 7% saham divestasi PT. NTT

BPK
Pembelian Saham Divestasi perlu Persetujuan DPR UU No. 17/2003 pasal 24 ayat 7 Dalam keadaan tertentu, untuk penyelamatan perekonomian nasional, Pemerintah Pusat dapat memberikan pinjaman dan/atau melakukan penyertaan modal kepada perusahaan swasta setelah mendapat persetujuan DPR. Pembelian 7% saham PT. NTT terlebih dahulu harus mendapat persetujuan DPR. PP No. 44/2005 pasal 6 Penyertaan modal ke dalam Perseroan Terbatas yang di dalamnya belum terdapat saham milik Negara dilakukan dalam keadaan tertentu untuk menyelamatkan perekonomian nasional.

Kemenkeu
Pembelian Saham Divestasi tidak memerlukan Persetujuan DPR (4/4) PP No. 1 Tahun 2008 Pasal 11 ayat (4): h. mewakili dan melaksanakan kewajiban serta menerima hak pemerintah yang diatur dalam Perjanjian Investasi; i. menyusun dan menandatangani Perjanjian Investasi; j. mengusulkan perubahan Perjanjian Investasi; k. melakukan tindakan untuk dan atas nama pemerintah apabila terjadi sengketa atau perselisihan dalam pelaksanaan Perjanjian Investasi; l. melaksanakan Investasi Pemerintah dan Divestasinya; dan m. apabila diperlukan, dapat mengangkat dan memberhentikan Penasihat Investasi.

15

TERIMA KASIH

16