Anda di halaman 1dari 29

OLAP dan Terminologi Multi-Dimensional Database

Inti sari
Multi-dimensional database merupakan suatu cara yang
digunakan untuk melakukan analisa data guna mendukung
keputusan. Teknologinya di dukung dengan menggunakan
metoda OLAP yang dapat dirancang dengan cara khusus. Multi-
dimensi data mempunyai konsep Dimensi, Hirarki, Level, dan
anggota yang merupakan suatu cube atau kubus yang
mempunyai hubungan struktur diantaranya. Konsep ini cukup
baik dipergunakan pada data yang dapat dibuat suatu agregat
yang menghasilkan bentuk keluaran berupa kalkulasi untuk
sebuah aplikasi bisnis.
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi database saat ini
berkembang sangat pesat, banyak betuk-bentuk
yang dulu “hanya“ mempunyai teknologi sebagai
tempat penyimpanan data yang terdiri dari field-
field, record dan diolah serta ditampilkan
menjadi informasi dalam berbagai format
tampilan yang sederhana, bermula dari bentuk
yang sederhana tersebut maka didapatkan suatu
metoda untuk menampilkan suatu database
yang berguna untuk menganalisa data untuk
suatu keperluan tertentu. Dengan memanfaatkan
relational database yang sudah ada maka
didapat suatu cara untuk mengantisipasi
kebutuhan guna menganalisa data secara cepat
untuk membantu mendapatkan keputusan dalam
suatu aplikasi atau organisasi
2. OLAP
OLAP (On-Line Analytical Processing) adalah suatu pernyataan yang
bertolak belakang atau kontras dengan OLTP (On-Line Transaction
Processing). OLAP menggambarkan sebuah klas teknologi yang dirancang
untuk analisa dan akses data secara khusus. Apalabila pada proses
transaksi pada umumnya semata-mata adalah pada relational database,
OLAP muncul dengan sebuah cara pandang multidimensi data.Cara
pandang multimensi ini didukung oleh tehnologi multidimensi database.
Cara ini memberikan tehnik dasar untuk kalkulasi dan analisa oleh sebuah
aplikasi bisnis.
OLTP mempunyai karakteristik beberapa user dapat
creating,updating,retrieving untuk setiap record data, lagi pula OLTP sangat
optimal untuk updating data. OLAP aplikasi digunakan untuk analisa dan
mengatur frekuensi level dari agregat/jumlah data. OLAP database
biasanya di update pada kumpulan data, jarang sekali dari multiple source
dan menempatkan kekuatan analisa pada pada back-end pada operasi
aplikasi. Sebab itulah maka OLAP sangat optimal digunakan untuk analisis.
Relational database merupakan suatu bentuk yang baik untuk
mendapatkan suatu record dalam kapasitas jumlah record yang kecil,
namun tidak cukup baik dalam mendapatkan suatu record dalam kapasitas
jumlah record yang sangat besar serta membuat suatu summaries data
untuk di analisa, ini memerlukan respone time yang lambat dan
membutuhkan cukup waktu.
Gambar.1 Arsitektur OLTP dan OLAP
Aplikasi menggunakan OLPT cendrung atomized untuk “record-at-a-
time‿ data. Dengan OLAP aplikasi lebih cendrung pada summarized
data. Sedangkan OLTP aplikasi lebih cendrung tidak mempunyai
historical data.. hampir setiap aplikasi OLAP dikaitkan dengan
kebutuhan historical data. Jadi OLAP database membutuhkan
kemampuan untuk menangani “time series data‿.Aplikasi dan database
menggunakan OLTP lebih cendrung pada proses pengelompokan data
(data entry). Sedangkan OLAP lebih cendrung pada “subject
oriented
OLTP (Relational) OLAP (Multidimensional)

Automized Summarized

Present Historical

Record at a the time Many record at a time

Process Oriented Subject Oriented


3. Konsep Multi-dimensional data
Pada Relational database data dikelompokan dalam sebuah list
record. Setiap record mempunyai informasi yang dikelompokan
dalam fields. Pusat dari objek metedata pada Multidimensional
adalah cube atau kubus yang mengandung hubungan struktur
dimensi, hirarki, level dan anggota.

3.1 Dimensi
Dimensi merupakan sebuah kategori yang independent dari
multidimensional database. tipe dari dimensi ini mengandung item
yang digunakan sebagai kriteria query untuk ukuran database.
Contoh pendistribusian obat di suatu daerah. Dimensi Daerah =
{Jawa Timur, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatra Selatan,
Surabaya, Bandung Jakarta, Palembang, Dago, Caringin, Senen,
Matraman}. Dimensi Waktu = { Tahun 1999, Tahun 2000, Tahun
2001, Bulan April, Bulan Maret, Bulan Juni, Bulan Juli, Tanggal 1,
Tanggal 2, Tanggal 3, Tanggal 10, Tanggal 12}. Dimensi Obat = {
Anti Biotik, Vitamin, Ampicilin, Amoxcicilin, Enervon C, Redoxon,
Hemaviton}.
3.2 Hirarki
Hirarki merupakan bentuk kesatuan dari sebuah dimensi. Sebuah
dimensi bisa terbentuk dari multilevel, yang mempunyai parent-
child relationship. Hirarki didefinisikan bagaimana hubungan antar
level. Pada Dimensi Daerah Mempunyai Hirarki
3.3 Level
Level merupakan sebuah kumpulan dalam hirarki. Sebuah dimensi
mempunyai multiple layer informasi, setiap layer adalah level. Seperti
- Propinsi = {DKI Jakarta, Jawa barat,Jawa Timur, Sumatra Selatan}
- Kab./Kodya = { Jakarta Pusat, Bandung, Surabaya, Palembang}
- Kecamatan = { Dago, Caringin, Senen, Matraman}
Obat Daerah Waktu Jumlah
Ampicilin Dago 1990 2359
Ampicilin Dago 1991 5489
Ampicilin Senen 1992 2546
Redoxon Matraman 1990 1254
Redoxon Senen 1991 623
Redoxon Dago 1992 2452
Redoxon Matraman 1992 1254
Enervon-C Senen 1990 1254
Enervon-C Dago 1991 1258
Vit.C Senen 1992 671
Amoxicilin Dago 1990 7983
Enervon-C Caringin 1992 568
Data diatas bisa digambarkan dalam bentuk 2 dimensi.
Dimensi 1
Penjualan Obat
th 1990 1991 1992

Dimensi 2 Obat Daerah

Ampicilin Dago 2359 5489

Senen 2546

……….

Enervon-C Dago 1258

Senen 1254

…………
Dari data diatas dapat di bentuk suatu analisa data. Data tersebut
dapat diambil suatu analisa untuk total penjualan obat merk
Ampicilin atau total penjualan obat selama tahun 1990 atau total
penjualan untuk daerah matraman.data tersebut dapat di
gambarkan dalam bentuk kubus dimensi.
Setiap sel pada kubus merepresentasikan satu nilai variabel jumlah dari
vektor-vektor sumbu dari kubus.
Terlihat terdapat hubungan antara dimensi obat dengan dimensi
waktu dan dimensi daerah yang menggunakan hirarki pada level
kelurahan.untuk mempermudah pengelompokan data dan pencarian
total dari masing-masing informasi yang di inginkan dapat dipilah
dalam bentuk hirarki “drill down‿ atau pngelompokan sesuai dengan
hirarki pada level yang di inginkan, Obat vs Kab.Kod , obat vs
Propisi.

3.5 n-dimensional
untuk bentuk dua dimensi merupakan suatu yang mudah dimengerti.namun dalam
representasi multidimensional bentuk matrik dua dimensi dapat di rubah dalam
bentuk tiga dimensi . pada dua dimensi terdapat dua permukaan (sumbu vektor) ,tiga
dimensi terdapat 6 permukaan (sumbu vektor), pada 4 dimensi terdapat 12
permukaan (sumbu vektor). Maka untuk n dimensi di dapat n(n-1) permukaan
(sumbu vektor). Sedangkan sel yang akan terisi seperti contoh pada gambar.6 di atas
dimensi Daerah mempunyai 4 item, dimensi waktu punya 3 item, dimensi obat punya
5 item, maka akan terdapat 4×3x5 = 60 sel yang berkoresponden dengan 60 record
relasionalnya. untuk mendapatkan analisa pada data kubus dapat dilakukan dengan
memutar permukan kubus 90 derjat, maka akan didapat menganalisa dimensi Daerah
vs Obat atau dimensi Daerah vs Waktu atau dimensi Waktu vs Obat.
4. Skema Konsep data
Konsep data pada gambar.4 dapat di gambarkan secara Entity Relationship.
Skema konsep data pada gambar.7 dapat dilihat hubungan inter relasi antar
dimensi-dimensi maupun hubungan antar hirarki yang mempunyai atribut-
atribut pada levelnya.disini kita dapat membuat suatu agregat antara hirarki
kabupaten/kodya pada dimensi daerah dengan hirarki antibiotik pada
dimensi obat, atau agregat antara hirarki bulan pada dimensi waktu dengan
hirarki obat generik pada dimensi obat. Penggunaan konsep data dengan
menggunakan multidimensi ini akan menghasilkan suatu bentuk keluaran
berupa nilai yang dapat dijadikan acuan pengambilan kepurusan seperti
tabel yang tertera pada gambar.4. Pembuatan agregat dengan dimensi ini
merupakan salah satu bentuk konsep data model yang dapat juga
dituangkan dalam query language seperti diagram berikut:
pembuatan Cube dan dimensi didefinisikan dengan menggunakan metoda MDX sbb
………………………………………………..
Dim strBuatKubus As String
strBuatKubus = “CREATECUBE=CREATE CUBE Sample( ”
strBuatKubus = strBuatKubus & “DIMENSION [Obat],”
strBuatKubus = strBuatKubus & “LEVEL [All Obat] TYPE ALL,”
strBuatKubus = strBuatKubus & “LEVEL [Obat Category] ,”
strBuatKubus = strBuatKubus & “LEVEL [Obat SubCategory] ,”
……………………..
sedangkan insert MOLAP didefinisikan:
………………………………
Dim strSisip As String
strSisip = strSisip & _
“SELECT Obat_class.Obat_kategori AS Col1,”
strSisip = strSisip & _
“Obat_class.Obat_subkategori AS Col2,”
strSisip = strSisip & “Obat_class.Obat_namaobat AS Col3,”
…………………………..
…………………
penulisan document didefinisikan:
Debug.Print “Dimension Name(s) written to Document”
For di = 0 To cdf.Dimensions.Count - 1
.InsertAfter “Dimension: ” & cdf.Dimensions(di).Name.InsertAfter vbCrLf
SenCount = SenCount + 1
docWord.Paragraphs(SenCount).Range.Bold = True
docWord.Paragraphs(SenCount).Range.Italic = False
docWord.Paragraphs(SenCount).Range.Font.Size = 14
untuk membuka File Cube didefinisikan:
………………………………………….. cat.ActiveConnection = “DATA
SOURCE=c:\Data.cub;Provider=msolap;” …………………………………………

5. Penutup
Dengan adanya metoda Multi-Dimensional database serta aplikasi
teknologinya menggunakan OLAP, maka metoda ini cukup baik digunakan
pada aplikasi bisnis untuk kebutuhan menganalisa data guna mendukung
keputusan.
Daftar Pustaka
1. Thanh Binh Nguyen, A Min Tjoa, and Roland Wagner, An Object
Oriented Multidimensional Data Model for OLAP, 1997
2. David C.Hay, From Relational to a multi-dimensional database, Essential
Strategies Inc, 1997
3. Rob Mattison, Data Warehousing “Strategi
Sistem Pendukung e-Learning di Web
Intisari
Pertumbuhan teknologi internet memberikan kesempatan untuk diaplikasikan dalam
berbagai bidang termasuk pendidikan tinggi, dalam rangka meningkatkan kualitas
pendidikan. Dalam makalah ini, kami membahas tentang faktor-faktor penting yang harus
dipertimbangkan ketika kita membangun sistem pendukung distance learning
menggunakan teknologi internet atau web, dan juga perlu kita pertimbangkan tentang
Open Source yang diimplementasikan untuk membuat sistem dengan biaya rendah tanpa
menurunkan performansinya dan keandalannya.
Pendahuluan
Sejalan dengan kemajuan teknologi jaringan dan perkembangan internet, memungkinkan
penerapan teknologi ini di berbagai bidang termasuk di bidang pendidikan atau latihan.
Di masa datang penerapan teknologi internet di bidang pendidikan dan latihan akan
sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan,
terutama di Indonesia yang wilayahnya tersebar di berbagai daerah yang sangat
berjauhan. Sehingga diperlukan solusi yang tepat dan cepat dalam mengatasi berbagai
masalah yang berkaitan dengan mutu pendidikan sekarang. Dengan adanya aplikasi
pendidikan jarak jauh yang berbasiskan internet, maka ketergantungan akan jarak dan
waktu yang diperlukan untuk pelaksanaan pendidikan dan latihan akan dapat diatasi,
karena semua yang diperlukan akan dapat disediakan secara online sehingga dapat
diakses kapan saja.
Pada paper ini dibahas hal-hal yang diperlukan dalam penerapan teknologi internet untuk
bidang pendidikan.
Aplikasi Web
Web merupakan salah satu tekonologi internet yang telah
berkembang sejak lama dan yang paling umum dipakai dalam
pelaksanaan pendidikan dan latihan jarak jauh (e-Learning).
Secara umum aplikasi di internet terbagi menjadi 2 jenis, yaitu
sebagai berikut:
Synchronous System
Aplikasi yang berjalan secara waktu nyata dimana seluruh
pemakai bisa berkomunikasi pada waktu yang sama, contohnya:
chatting, Video Conference, dsb.
Asynchronous System
Aplikasi yang tidak bergantung pada waktu dimana seluruh
pemakai bisa
mengakses ke sistem dan melakukan komunikasi antar mereka disesuaikan
dengan waktunya masing-masing, contohnya: BBS, e-mail, dsb.
Dengan fasilitas jaringan yang dimiliki oleh berbagai pendidikan tinggi atau
institusi di Indonesia baik intranet maupun internet, sebenarnya sudah
sangat mungkin untuk diterapkannya sistem pendukung e-Learning berbasis
Web dengan menggunakan sistem synchronous atau asynchronous, namun
pada dasarnya kedua sistem diatas biasanya digabungkan untuk
menghasilkan suatu sistem yang efektif karena masing-masing memiliki
kelebihan dan kekurangannya.
Dibeberapa negara yang sudah maju dengan kondisi infrastruktur jaringan
kecepatan tinggi akan sangat memungkinkan penerapan teknologi
multimedia secara waktu nyata seperti video conference untuk kepentingan
aplikasi e-Learning, tetapi untuk kondisi umum di Indonesia dimana
infrastruktur jaringannya masih relatif terbatas akan mengalami hambatan
dan menjadi tidak efektif. Namun demikian walaupun tanpa teknologi
multimedia tersebut, sebenarnya dengan kondisi jaringan internet yang ada
sekarang di Indonesia sangat memungkinkan, terutama dengan
menggunakan sistem asynchronous ataupun dengan menggunakan sistem
synchronous seperti chatting yang disesuaikan dengan sistem pendukung
pendidikan yang akan dikembangkan.
Sistem Pendukung Pendididikan
Dengan adanya sistem ini proses pengembangan pengetahuan tidak hanya
terjadi di dalam ruangan kelas saja dimana secara terpusat guru memberikan
pelajaran secara searah, tetapi dengan bantuan peralatan komputer dan
jaringan, para siswa dapat secara aktif dilibatkan dalam proses belajar-
mengajar. Mereka bisa terus berkomunikasi sesamanya kapan dan dimana
saja dengan cara akses ke sistem yang tersedia secara online. Sistem
seperti ini tidak saja akan menambah pengetahuan seluruh siswa, akan
tetapi juga akan turut membantu meringankan beban guru dalam proses
belajar-mengajar, karena dalam sistem ini beberapa fungsi guru dapat
diambil alih dalam suatu program komputer yang dikenal dengan istilah
agent [5].
Disamping itu, hasil dari proses dan hasil dari belajar-mengajar bisa
disimpan datanya di dalam bentuk database, yang bisa dimanfaatkan untuk
mengulang kembali proses belajar-mengajar yang lalu sebagai rujukan,
sehingga bisa dihasilkan sajian materi pelajaran yang lebih baik lagi.
4. Collaboration
Collaboration didefinisikan sebagai kerjasama antar peserta dalam rangka mencapai
tujuan bersama [1]. Collaboration tidak hanya sekedar menempatkan para peserta ke
dalam kelompok-kelompok studi, tetapi diatur pula bagaimana mengkoordinasikan
mereka supaya bisa bekerjasama dalam studi [2].
Saat ini penelitian di bidang kolaborasi melalui internet dikenal dengan istilah CSCL
(Computer Supported Collaborative Learning), dimana pada prinsipnya CSCL
berusaha untuk mengoptimalkan pengetahuan yang dimiliki oleh para peserta dalam
bentuk kerjasama dalam pemecahan masalah. Kenyataannya kolaborasi antar peserta
cenderung lebih mudah dibandingkan dengan kolaborasi antara peserta dengan guru
[6].
Gambar 1 menunjukkan konsep e-Learning dengan metoda CSCL, yang terdiri dari
pemakai dan tool yang digunakan. Pemakai terdiri dari siswa dan guru yang
membimbing, dimana siswa itu sendiri terbagi menjadi siswa dan siswa lain yang
bertindak sebagai collaborator selama proses belajar. Para peserta saling
berkolaborasi dengan tool yang tersedia melalui jaringan intranet atau internet,
dimana guru mengarahkan jalannya kolaborasi supaya mencapai tujuan yang
diiginkan.
Dalam pelaksanaan sistem e-Learning, kolaborasi antar siswa akan menjadi faktor
yang esensial [3][5], terutama pada sistem asynchronous dimana para siswa tidak
secara langsung bisa mengetahui kondisi siswa lain, sehingga seandainya terjadi
masalah dalam memahami makalah yang disediakan, akan terjadi kecenderungan
untuk gagal mengikutinya dikarenakan kurangnya komunikasi antar siswa, sehingga
timbul kecenderungan terperangkap pada kondisi standstill, sehingga menyebabkan
hasil yang tidak diharapkan.Ada 5 hal essensial [6] yang harus diperhatikan dalam
menjalankan kolaborasi lewat internet, yaitu sebagai berikut:
(a) clear, positive interdependece among students
(b) regular group self-evaluation
(c) interpersonal behaviors that promote each member’s learning and success
(d) individual accountability and personal responsibility
(e) frequent use of appropriate interpersonal and small group social skills
Dalam proses kolaborasi antar siswa, guru bisa saja terlibat didalamnya secara
tidak langsung, dalam rangka membantu proses kolaborasi dengan cara
memberikan arahan berupa message untuk memecahkan masalah. Sehingga
diharapkan proses kolaborasi menjadi lebih lancar.
5. Konfigurasi Sistem
Gambar 2 menunjukkan struktur global dari sistem pendukung untuk e-Learning.
Pemakai sistem dalam hal ini siswa dan guru dapat mengakses ke sistem dengan
menggunakan piranti lunak browser.
Seperti pada gambar 2, Implementasi client/server untuk sistem penunjang pendidikan berbasis
kolaborasi di internet, pada dasarnya harus memiliki bagian-bagian sebagai berikut:
• Collaboration, untuk melakukan kerjasama antar siswa dalam pemecahan masalah yang
berkaitan dengan materi pelajaran. Kolaborasi ini bisa diwujudkan dalam bentuk diskusi atau
tanya-jawab dengan memanfaatkan fasilitas internet yang umum dipakai misalnya: e-mail,
BBS, chatting, dikembangkan sesuai dengan kebutuhan aplikasi yang akan dibuat.
• Database, untuk menyimpan materi pelajaran dan record-record yang berkaitan dengan proses
belajar-mengajar khususnya proses kolaborasi.
• Web Server, merupakan bagian mengatur akses ke sistem dan mengatur tampilan yang
diperlukan dalam proses pendidikan. Termasuk pula pengaturan keamanan sistem.
Pengembang aplikasi seperti ini bisa dilakukan dengan
menggunakan software sebagai berikut:
Linux
Platform OS
Web Server Apache+Tomcat
Programming Java
Script Java Server Page
Database MySQL / Postgress
Frame Work Struts
Development Tool Eclipse
Keuntungan menggunakan software diatas yaitu seluruhnya merupakan Open Source
yang bisa didownload secara gratis dari web site masing-masing, sehingga dalam
implementasinya bisa ditekan biaya serendah mungkin, tanpa mengurangi realibilitas
sistem itu sendiri. Keuntungan lainnya yaitu untuk akses ke sistem seperti ini tidak
tergantung pada suatu platform operating system. Oleh karena itu, dengan penerapan
berbagai software Open Source seperti ini, diharapkan akan dicapai suatu sistem e-
Learning yang aman, terpercaya, performance tinggi, multiplatform, dan biaya
rendah.

Sejalan dengan perkembangan teknologi jaringan khususnya internet, dan pemerataan pemakaian
fasilitas internet di Indonesia, maka sudah selayaknya untuk memulai penerapan teknologi ini di
bidang pendidikan, yang diharapkan dapat menunjang peningkatkan mutu pendidikan khususnya
pendidikan tinggi dan institusi yang relatif telah memiliki fasilitas jaringan komputer.
Dalam makalah ini telah dibahas berbagai fasilitas penunjang yang bisa dikembangkan dengan
memanfaatkan teknologi internet dengan biaya yang seminimal mungkin melalui pemanfaatan
Open Source tanpa mengurangi kualitas sistem.
Faktor kolaborasi menjadi penting dalam rangka menciptakan sistem pendidikan yang lebih
efektif, karena dalam sistem pendidikan jarak jauh faktor komunikasi antar peserta akan menjadi
penentu dalam menentukan perolehan pengetahuan yang dicapai oleh setiap siswa.
Permasalahan kedepan yang perlu dikembangkan adalah sebagai berikut:
• Pengembangan Student Model dari database untuk menformulasikan
karakter siswa sehingga sistem mampu mendeteksi kondisi siswa yang
bermasalah.
• Pengaturan pemakaian tool synchronous dan asynchronous dalam
pelaksanaan kolaborasi, supaya tidak terjadi duplikasi yang membahas
masalah yang sama berulang-ulang.
• Membuat fasilitas penyusunan makalah di Web yang memudahkan para
guru tanpa perlu mengetahui perintah-perintah secara mendetail, yang
disesuaikan dengan kebutuhan untuk berkolaborasi.
Daftar Pustaka
[1] Marion A. Barfurth, “Understanding the Collaborative Learning Process in a
Technology Rich Environment: The Case of children’s Diagreements‿,
Departemnet of Science and Education, University of Quebeca Hull.
[2] Johnson D. W., Johson R. T., and Smith K., “Active Learning: Cooperation in the
Classroom‿, Edina, MN: Interaction Book Company (1991).
[3] Ana Hadiana, Kenji Kaijiri, “Collaboration Learning Support System Using
Q&A‿, 4th International Conference of Information Technology for High
Education and Training (2003)
[4] Japanese Association of Education Engineering, “Dictionary of Education
Engineering‿, Jikkyou Publisher
[5] Yutaka Matsusita, Kenichi Okada, “Collaboration and Communacation‿,
Kyouritu Publisher
[6] Johson D. W., “Learning together and alone‿, Englewood Cliffs, NJ: Prentice
Hall.