Anda di halaman 1dari 2

Lampung Post Page 1 of 2

Copyright © 2003 Lampung Post. All rights reserved.


Rabu, 1 April 2009

BENCANA ALAM: Banjir Bandang, Sumbar Merugi Rp90 Miliar


PADANG (Lampost): Banjir bandang di Kabupaten Tanah Datar dan Agam, Sumatera Barat, menimbulkan
kerugian mencapai Rp90 miliar.

Pemerintah daerah di dua kabupaten itu masih terus mengumpulkan data dan mulai membersihkan lokasi yang
diterjang banjir bandang (galodo).

Sekretaris Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana (PB) Kabupaten Tanah Datar, Altris Suandi,
mengatakan di wilayahnya kerugian yang sudah didata mencapai Rp74,2 miliar.

Kerugian tersebut dihitung dari rumah yang hancur dan rusak sebanyak 99 unit, jembatan hancur dan rusak
berat 30 unit, jalan rusak 5 km, sawah yang tertimbun dan hancur 270,5 hektare, irigasi yang rusak sebanyak
165 unit. "Hari ini tim masih mengevaluasi ke lapangan untuk menilai kelayakan rumah. Bagi yang tidak layak,
kami akan relokasi," kata Altris, Selasa (31-3).

Sementara itu, lanjut Altris, dari total 788 pengungsi yang kehilangan tempat tinggal, sebagian sudah mulai
meninggalkan pengungsian berpindah ke rumah kerabat. "Untuk memastikan kondisi di hulu sungai, kami juga
sudah mengirim tiga regu tim gabungan SAR. Tim ini menyisir hingga hulu untuk mengecek jika masih ada
kantong air dan reruntuhan yang berpotensi longsor dan menjadi banjir bandang."

Meski hanya memakan satu korban jiwa, banjir bandang kali ini jauh lebih besar jika dibanding dengan 1979
atau 30 tahun silam.

Sementara itu, Bupati Agam Aristo Munandar mengatakan kerugian yang dialami tiga kecamatan setempat,
yakni Canduang, Baso, dan Ampek Angkek mencapai Rp15 miliar. "Korban jiwa tidak ada, tapi 10 hektare
sawah rusak, lima jembatan roboh, dan empat kerbau hanyut."

Terjangan galodo juga menyebabkan suplai listrik untuk 3.000 pelanggan yang disuplai dari 10 gardu di
wilayah yang berada di kaki Gunung Marapi tersebut padam. Public Relations Officer Assistant PT PLN
Sumbar Asep Irman mengatakan suplai listrik diupayakan pulih secara bertahap dan diharapkan selesai pada
Kamis (2-4).

Banjir bandang yang melanda Desa Petapahan dan Desa Toar, Kecamatan Gunung Toar, Kabupaten Kuantan
Singingi (Kuansing), Senin (30-3), diduga kuat akibat maraknya aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI)
dan illegal logging di kawasan Sungai Batang Petapahan.

Akibatnya terjadi kerusakan lingkungan di daerah aliran sungai yang berujung pada bencana banjir bandang.
"Kemungkinan banjir ini terjadi akibat maraknya aktivitas penambangan emas tanpa izin yang membuat
pendangkalan di Sungai Batang Petapahan," kata Camat Gunung Toar Akhyan Amorfhis, kemarin.

Selain itu, lanjutnya, penggundulan hutan di kawasan Sungai Batang Petapahan sebagai akibat dari aktivitas
illegal logging juga turut menjadi pemicu terjadinya bencana banjir bandang di Gunung Toar. Akibatnya,
kawasan hutan di pinggiran sungai yang biasanya menjadi pelindung desa kini tidak mampu lagi menahan
luapan air sungai.

Kini, kata Akhyan, warga korban banjir sudah kembali ke rumah masing-masing menyusul surutnya air banjir.
Namun, warga masih waspada terhadap kemungkinan banjir susulan.

Adapun korban banjir bandang yang menghantam Desa Petapahan dan Desa Toar terdata mencapai 956 jiwa.
Banjir tiba-tiba akibat meluapnya Sungai Petapahan mengakibatkan sekitar 250 rumah dan 40 hektare sawah
milik warga rusak luluh lantak terendam air. n MI/U-1

http://lampungpost.com/cetak/cetak.php?id=2009040106273640 4/2/2009
Lampung Post Page 2 of 2

http://lampungpost.com/cetak/cetak.php?id=2009040106273640 4/2/2009