Anda di halaman 1dari 15

BAB I INDIVIDU DAN ASPEK PERKEMBANGAN

Manusia sebagai makhluk yang berfikir atau homo sapiens, makhluk yang berbuat atau homo faber, dan makhluk yang dapat dididik atau homo educandum. Berbagai pandangan telah membuktikan bahwa manusia adalah makhluk yang kompleks. Lain dengan pandangan manusia Indonesia secara utuh artinya manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan menunggalnya berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kodrati manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu individu dan sosial, jasmani dan rohani, serta dunia dan akhirat. Keseimbangan hubungan tersebut menggambarkan keselarasan hubungan antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam dan lingkungan sekitarnya, dan manusia dengan Tuhannya. Setiap individu memiliki karakteristik bawaan (heredity) dan lingkungan

(environment). Karakteristik bawaan merupakan karakter keturunan yang dibawa sejak lahir baik yang berkaitan dengan faktor biologis maupun sosial psikologis. Kepribadianprilaku-apa yang diperbuat, dipikirkan, dan dirasakan oleh seseorang (individu) merupakan hasil dari perpaduan antara faktor biologis sebagaimana unsur bawaan dan pengaruh lingkungan. Individu dalam perkembangannya senantiasa ditandai oleh karakteristik pribadinya yang berbeda dengan yang lain. Perbedaan individu terjadi pada: (1) kognitif, (2) kecakapan bahasa, (3) kecakapan motorik, (4) latar belakang, (5) bakat, dan (6) kesiapan belajar. Tujuh aspek pertumbuhan dan perkembangan individu antara lain: (1) pertumbuhan fisik, (2) intelek, (3) bakat khusus, (4) emosi, (5) sosial, (6)bahasa, dan (7) sikap, nilai, dan moral.

BAB II PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANREMAJA

Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua istilah yang senantiasa digunakan secara bergantian. Keduanya tidak bisa dipisah-pisah, akan tetapi saling bergantung satu dengan lainnya bahkan bisa dibedakan untuk maksud lebih memperjelas penggunaannya. Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses kematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat dalam perjalanan waktu tertentu. Sedangkan perkembangan adalah proses perubahan pada suatu

waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksi dengan lingkungan. Selain itu perkembangan merupakan proses perubahan akibat dari pengalaman. Istilah perkembangan dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologis yang menampak. Prinsip perkembangan remaja meliputi: (1) Perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti, (2) Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi, artinya setiap aspek perkembangan individu, baik fisik maupun psikis (emosi dan inteligensi) maupun sosial, satu sama lain saling mempengaruhi, (3) Perkembangan mengikuti pola atau arah tertentu, artinya perkembangan terjadi secara teratur mengikuti pola atau arah tertentu dansetiap tahap perkembangan merupakan hasil perkembangan dari tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi perkembangan selanjutnya, (4) Perkembangan terjadi pada tempo yang berlainan, artinya perkembangan fisik dan mental mencapai kematangan terjadi pada tempo dan waktu yang berbeda (ada yang cepat dan ada pula yang lambat), (5) Setiap fase perkembangan mempunyai ciri khas, dan (6) Setiap individu yang normal akan mengalami fase/tahap perkembangan, artinya bahwa dalam menjalani hidup yang normal dan berusia panjang individu akan mengalami fase-fase perkembangan: bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan masa tua. Karakteristik remaja yang berhubungan dengan pertumbuhan (perubahan-perubahan fisik) ditandai oleh adanya kematangan seks primer dan sekunder. Sedangkan karakteristik yang relevan dengan perkembangan (perubahan-perubahan aspek psikologis dan sosial). Ditandai oleh: (1) emosionalitas tinggi; (2) keadaannya tidak stabil; (3) sangat sugestibel; (4) mencari identitas diri; (5) pergaulan dengan teman sebaya menjadi amat kuat (aktivitas kelompok); (6) tertarik pada lawan jenis; (7) bersifat kritis; (8) berkeinginan besar mencoba segala hal yang belum diketahuinya; (9) seringkali mengadakan pertentangan; (10) keinginan menjelajah ke alam sekitar yang lebih luas; dan (11) mengkhayal dan berfantasi. Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan manusia terdapat dua aspek penting yang berpengaruh yaitu kematangan dan pengalaman. Kedua aspek bagaikan pendulum tingkat kepentingannya bagi terjadinya proses pertumbuhan dan kematangan Keduanya merupakan aspek yang tidak dapat diabaikan oleh para pendidik. manusia.

BAB III PERTUMBUHAN FISIK


Pertumbuhan fisik adalah perubahan-perubahan fisik yang terjadi dan merupakan gejala primer dalam pertumbuhan remaja. Perubahan-perubahan ini meliputi: perubahan ukuran tubuh, perubahan proporsi tubuh, ciri-ciri kelamin utama (primer), dan ciri-ciri kelamin kedua (skunder). Perubahan fisik sepanjang masa meliputi tiga hal yaitu (1) percepatan pertumbuhan, (2) proses kematangan seks, dan (3) keanekaragaman perubahan proporsi tubuh. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik remaja, yaitu keluarga, gizi, gangguan emosional, jenis kelamin, status sosial ekonomi, kesehatan, dan bentuk tubuh. Perubahan psikologis muncul antara lain sebagai akibat perubahan-perubahan fisik. Di antara perubahan-perubahan fisik yang terbesar mempengaruhi psikis remaja adalah pertumbuhan tubuh, badan menjadi tinggi dan panjang, mulai berfungsinya alat-alat reproduksihaid bagi remaja wanita, dan mimpi basah bagi remaja laki-laki, dan tandatanda kelamin kedua yang tumbuh. Perubahan-perubahan fisik itu menyebabkan kecanggungan bagi remaja karena ia harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya sendiri. Pertumbuhan badan yang mencolok misalnya, atau pembesaran payudara yang cepat membuat remaja merasa tersisih dari teman sebayanya. Demikian pula dalam menghadapi haid dan mimpi yang pertama, anak-anak remaja perlu mengadakan penyesuaian tingkah laku yang tidak ada dukungan dari orangtua. Perubahan fisik hampir selalu dibarengi dengan perubahan perilaku dan sikap. Keadaan ini sering kali menjadi sedikit parah karena sikap orang-orang berada di sekelilingnya dan sikapnya sendiri dalam menanggapi perubahan fisik itu. Upaya membantu pertumbuhan fisik remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan seperti kelompok remaja yang terbentuk di sekolah antara lain: olah raga, seni, belajar, dan semacamnya. Demikian pula kelompok remaja dapat terbentuk di luar sekolah seperti kelompok olah raga, kesenian/musik, pramuka, karangtaruna, remaja masjid/gereja, dan sebagainya.

BAB IV INTELIGENSI DAN BAKAT


Di dalam psikologi dikenal istilah yang juga mulai populer di kalangan masyarakat luas, yaitu inteligensi. Inteligensi ini sekaligus dapat menggantikan berbagai macam istilah yang ada hubungannya dengan kecerdasan. Karena itu selanjutnya akan dibahas mengenai istilah inteligensi (kecerdasan) saja dan tidak lagi menggunakan istilah-istilah yang digunakan oleh awam. Psikologi pada hakekatnya adalah ilmu tentang tingkah laku. Karena itu yang dipelajari dalam psikologi adalah tingkah laku manusia maupun hewan, tetapi khususnya tingkah laku manusia. Berbicara mengenai inteligensi, tingkah laku dapat dibagai dalam tingkah laku yang hanya sedikit membutuhkan inteligensi dan tingkah laku yag membutuhkan inteligensi. Tersirat dalam tes itu bahwa inteligensi sebagai suatu kemampuan mental tunggal yang sifatnya umum dan melandasi berbagai fungsi yang berbeda-beda. Inteligensi dianggap sebagai suatu kemampuan global. Faktor g. Tidak lama setelah skala inteligensi Binet dikembangkan, pakar-pakar lain, seperti Charles Sperman dan Louis Thurstone, mulai mempertanyakan pemikiran Binet mengenai inteligensi umum. Sperman (1932), penemu analisis faktor, mengusulkan bahwa paling tidak ada dua faktor di dalam inteligensi, yakni faktor umum g yang merupakan faktor penentu utama dalam perilaku inteligen, dan banyak faktor-faktor spesifik lainnya yang disebut s. Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang dengan suatu latihan khusus memungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, Misalnya, kemampuan berbahasa, bermain musik, dan lain-lain. Seseorang berbakat main musik misalnya, dengan latihan yang sama dengan orang lain yang tidak berbakat musik, akan lebih cepat menguasai ketrampilan tersebut. Dengan demikian keahlian bakat harus ditunjang oleh faktor lingkungan ini, faktor keturunan dan dikembangkan melalui olahan lingkungan misalnya, melalui latihan.

BAB V KECERDASAN MAJEMUK


Kecerdasan adalah kemampuan memecahkan masalah dan membuat suatu produk yang bermanfaat bagi kehidupan (Amstrong, 1994; McGrath & Noble, 1996). Kebanyakan

orang mengenalnya sebagai prediksi kesuksesan di sekolahbakat bersekolah. Sementara kecerdasan sejati mencakup berbagai keterampilan yang lebih luas pada semua segi kehidupankecerdasan majemuk/ganda. Kecerdasan majemuk adalah teori kecerdasan yang dikembangkan Howard Gardner 18 tahun silam yang mengemukakan bahwa paling tidak ada delapan jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal-linguistik, logis-matematis, visual-spasial, kinestetik, musik, intrapribadi, antarpribadi, dan naturalis. Sementara kecerdasan sejati mencakup berbagai keterampilan yang lebih luas pada semua segi kehidupankecerdasan majemuk. Kecerdasan majemuk adalah teori kecerdasan yang dikembangkan Howard Gardner 18 tahun silam yang mengemukakan bahwa paling tidak ada delapan jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan verbal-linguistik, logis-matematis, visual-spasial, kinestetik, musik, intrapribadi, antarpribadi, dan naturalis. Prinsip-prinsip kecerdasan mejemuk sebagaimana dikemukakan oleh Amstrong (1994) adalah sebagai berikut: 1. Setiap individu memiliki semua jenis kecerdasan Teori kecerdasan majemuk mengemukakan bahwa setiap individu memiliki kemampuan dari kedelapan inteligensi. Kedelapan kecerdasan tersebut berfungsi secara bersama-sama pada setiap orang secara unik. 2. Kebanyakan individu dapat mengembangkan setiap jenis kecerdasan pada tingkat kemampuan yang memadai. Howard Gardner meyakini bahwa setiap orang memiliki

kemampuan mengembangkan semua jenis kecerdasannya pada tingkat yang memadai jika diberikan dorongan, pengayaan, dan pembelajaran yang layak. 3. Setiap kecerdasan biasanya bekerja bersama secara kompleks Dalam kehidupan tidak ada kecerdasan yang berdiri sendiri, kecuali pada kasus tertentu yang sangat langka. Dalam berfungsinya, kecerdasan berinteraksi antara satu kecerdasan dengan kecerdasan yang lain dalam kehidupan individu. 4. Ada berbagai macam cara untuk menjadi cerdas dalam setiap kategori kecerdasan. Tidak ada satu standar karakteristik yang harus digunakan sebagai kriteria untuk menentukan kecerdasan dalam satu bidang tertentu. Bisa saja seseorang tidak bisa membaca, namun sangat cerdas dari segi kemampuan kebahasaan karena ia mampu menceritakan suatu kisah yang menakjubkan atau karena ia memiliki kosa kata yang sangat banyak. Kesulitan belajar sebagaimana ditunjukkan adanya gejala ketidakmampuan belajar mencakup segala sesuatu dari kesulitan dalam membaca dan menulis, hingga kekacauan, kecanggungan, sulit bergaul, dan bahkan depresi. Penyebab ketidak-mampuan belajar itu

berbeda-beda di antaranya: faktor keturunan, trauma sebelum kelahiran atau selama kelahiran, dan kesulitan perkembangan selama masa kanak-kanak. Individu yang mengalami ketidakmampuan belajar spesifik seringkali memiliki masalah belajar yang terbatas hanya beberapa tugas atau keterampilan tertentu. Seseorang siswa mungkin dapat membaca tetapi tidak mampu menulis. Yang lain mampu menulis dengan baik tetapi menghadapi kesulitan berhitung. Yang lain lagi mungkin mahir dalam sebagian besar mata pelajaran sekolah tetapi menghadapi kesulitan untuk mengenali wajah kenalan (proso-pagnosia) atau kesulitan dalam mempelajari langkah dansa (dis-praksia). Teori kecerdasan majemuk menyajikan suatu model yang memaknai semua ketidakmampuan belajar yang dialami seseorang. Teori itu mengatakan bahwa ada ketidakmampuan belajar tertentu pada setiap kecerdasan. Karena kebudayaan Amerika sangat berorientasi pada kecerdasan linguistik dan logis-matematis, maka sebagian besar ketidakmampuan belajar yang menjadi pusat perhatian masyarakat cenderung berkisar pada keterampilan nalar dan verbal: disleksia (kesulitan membaca), disgrafia (kesulitan menulis), diskalkulia (kesulitan berhitung), dan masalah-masalah akademis, kinestetik-jasmani, dan spasial, dan bahkan ketidakmampuan dalam kecerdasan intrapribadi. Teori kecerdasan majemuk memiliki implikasi bagi guru dalam pembelajaran. Teori tersebut mengatakan bahwa kedelapan kecerdasan tersebut diperlukan agar individu berfungsi secara produktif dalam masyarakat. Oleh karena itu guru hendaknya memandang bahwa semua kecerdasan sama penting dalam kehidupan. Hal ini berbeda dari system pendidikan tradisional yang menempatkan pentingnya pengembangan dan penggunaan kecerdasan linguistik dan matematis. Dengan demikian, teori kecerdasan majemuk

mempunyai implikasi bahwa guru hendaknya menyadari dan mengajar dalam perspektif kemampuan siswa yang lebih luas dari kegiatan pembelajaran selama ini (Brualdi, 1999). Kecerdasan majemuk dapat diaplikasikan dengan berbagi cara dan pada berbagai aspek dalam kegiatan pembelajaran. Beberapa aplikasi kecerdasan majemuk yang akan dikemukakan berkaitan dengan perencanaan pembelajaran, pengembangan strategi

pembelajaran, dan pengembangan penilaian. 1. Perencanaan Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk Perencanaan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk adalah kegiatan perancangan pembelajaran dengan memperhatikan dan menggunakan kedelapan jenis kecerdasan yang dikemukakan Gardner. Untuk merancang pembelajaran yang memuat kecerdasan majemuk dapat mengikuti tahap-tahap (Amstrong, 1994) sebagai berikut: a. Penetapan suatu sasaran belajar atau topik yang spesifik

b. Pengajuan pertanyaan-pertanyaan pokok berkaitan dengan kecerdasan majemuk c. Pembuatan pertimbangan berbagai kemungkinan

d. Curah Pendapat e. f. g. Pemilihan aktivitas yang layak Penetapan rencana pembelajaran Implementasi rencana pembelajaran

2. Pengembangan Strategi Pembelajaran Berbasis Kecerdasan Majemuk Teori kecerdasan majemuk memberikan kesempatan kepada para guru

mengembangkan strategi pembelajaran yang relatif baru dalam kegiatan pembelajaran. Di antara beberapa strategi pembelajaran pokok untuk setiap kecerdasan adalah sebagai berikut. Strategi pembelajaran bagi kecerdasan verbal-linguistik antara lain bercerita, curah pendapat, perekaman, penulisan jurnal, dan penerbitan. Strategi pembelajarn untuk kecerdasan logis matematis adalah kuantifikasi dan kalkulasi, pertanyaan Sokrates, Heuristik, dan berpikir ilmiah. Strategi pembelajaran bagi kecerdasan visual-spasial adalah visualisasi, isyarat warna, metapora, sketsa ide, dan symbol grafis. Strategi pembelajaran untuk kecerdasan kinestetik adalah jawaban dengan menggunakan isyarat tubuh, teater kelas, konsep-konsep kinestetik, manipulasi objek, dan peta tubuh. Strategi pembelajaran untuk inteligensi musik adalah irama dan lagu, diskografis, musik supermemori, konsepkonsep musik, dan musik layak suasana (Amstrong, 1994). Adapun strategi pembelajaran untuk kecerdasan antarpribadi adalah berbagi dengan sebaya, simulasi, kelompok kooperatif, dan tutorial silang usia. Strategi pembelajaran untuk kecerdasan intrapribadi adalah kegiatan satu menit refleksi, koneksi pribadi, pilihan waktu, saat-saat ekspresi emosi dan belajar mandiri.. Adapun beberapa strategi pembelajaran bagi kecerdasan naturalis adalah observasi, klasifikasi dan organisasi, komparasi,.pajan tumbuhan dan binatang, dan wisata alam (Amstrong, 1994; Hoerr, 1999). 3. Pengembangan penilaian (asesmen) berbasis kecerdasan majemuk Pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk adalah kegiatan pembelajaran yang memberikan kesempatan bagi setiap siswa mengembangkan semua jenis kecerdasannya berdasarkan kelemahan dan kekuatannya. Cara belajar siswa beragam bergantung pada kekuatan dan kelemahan masing-masing. Karena itu menilai kemajuan belajar siswa

dengan cara yang sama untuk setiap siswa tidak akan mencerminkan kekuatan dan kelemahan siswa secara tepat. Untuk itu diperlukan cara menilai kemajuan belajar yang cocok dengan cara

belajar setiap siswa. Karena itu teknik penilaian otentik adalah teknik yang tepat untuk mengetahui kemajuan belajar siswa dalam konteks ini. Teknik ini lebih menekankan pada penilaian yang disesuaikan dengan kondisi siswa. Dalam hal ini teknik tersebut memberikan kesempatan siswa untuk menunjukkan performansi belajar mereka sesuai dengan cara mereka sendiri dengan menggunakan kecerdasan yang berbeda-beda. Beberapa teknik penilaian otentik tersebut antara lain portofolio, proyek mandiri, jurnal siswa, penyelesaian tugas kreatif, catatan anekdot, observasi, dan wawancara (Gardner, 1993; Amstrong, 1994). Dalam keseluruhan sistem pembelajaran mutakhir (Contextual Teachinglearning), asesmen otentik memusatkan pada tujuan, meliputi hands-on learning, menghendaki pembuatan pola kerjasama dan kolaborasi, dan penggunaan higher order thinking. Oleh karena itu, maka pembelajaran meminta siswa untuk menampilkan penguasaan tuntasnya akan tujuan dan depth of understanding-nya (Gardner, 1993, 1999), dan pada waktu yang sama akan meningkatkan pengetahuan dan menemukan cara-cara untuk mengembangkan. Asesmen otentik mendorong siswa untuk menggunakan kemampuan akademik dalam konteks real-world untuk tujuan yang signifikan. Asesmen autentik akan menguntungkan siswa, sebab: Siswa berkesempatan menampilkan secara penuh bagaimana pemahaman material akademik mereka, Siswa akan menampilkan dan memperkuat kompetensi mereka, misalnya dalam hal mengumpulkan informasi, menggunakan berbagai sumber, menangani teknologi, dan berpikir secara sistematis, Siswa berkesempatan menghubungkan belajarnya dengan pengalaman nyata mereka, dunianya sendiri, dan masyarakat luas. Siswa berkesempatan mengasah higher order thinking-nya, Siswa menerima tanggung jawab dan membuat pilihan-pilihan, Dalam mengerjakan tugas, berkolaborasi dengan orang lain, dan Siswa berkesempatan belajar mengevaluasi tingkat performansinya sendiri.

Salah satu bentuk asesmen yang diajarkan langsung oleh Gardner adalah asesmen performansi. Seperti proyek dan portfolio, asesmen performansi melaksanakan peristiwa pembelajaran dan penilaian secara simultan. Dalam tugas performansi, siswa menampilkan kepada audience bahwa mereka telah menguasai secara tuntas tujuan belajar khusus. Seseorang siswa yang berbakat musik dapat menunjukkan pengetahuannya akan Romeo dan Juliet Shakespeare melalui mengkomposisi dan menampilkan musik pengiring. Sementara sekelompok siswa lainnya menulis dan menampilkan skrip drama Romeo dan Juliet. Ketika siswa (siswa-siswa) menampilkan performansinya, anggota audiensi seringkali membantu mengevaluasi tampilan siswa. Mereka dibantu oleh guru untuk memahami dan menerapkan evaluasi tugas performansi. Performansi menunjukkan bahwa siswa telah: Tuntas akan informasi, konsep, dan keterampilan khusus yang terkandung dalam tujuan belajar; Memahami dan menemukan kriteria yang tepat bagi performance. Misalnya, model dari kayu dari teater Elizabeth, komposisi musik, dan cat minyak. Menampilkan minat dan bakat pribadinya, Berkomunikasi secara efektif dengan audience, Memberikan uraian secara berimbang dan/atau diskusi balikan pada tugas performansi akhir (Gardner, 1993).

BAB VI KECERDASAN EMOSIONAL


Dalam belahan otak dalam (sub cortex) bersemayam kemampuan inteligensi emosional. Kemampuan tersebut mempengaruhi kerja kemampuan berpikir rasional manusia. Ada dua kemungkinan pengaruh, yakni pengaruh positif dan negatif. Inteligensi emosional berpengaruh positif bila menjadikan perilaku manusia lebih arif. Sebaliknya, pengaruh kemampuan emosional terhadap proses berpikir rasional bersifat negatif bila perilaku manusia menjadi lebih dikuasai suasana emosional dan bersifat irrasional. Kemampuan inteligensi emosional lebih berkaitan dengan dua kemampuan utama manusia yaitu kemampuan memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri dan

mengendalikan diri(inteligensi intrapersonal) serta kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain secara harmonis (inteligensi interpersonal). Dalam kehidupan sehari-hari, siswa perlu dipahami tampilan inteligensi emosional. Anak-anak didik dapat dikelompokkan menjadi anak yang berpenampilan inteligensi emosional tingi dan rendah. Pendidik bertugas memantau dan mengarahkan anak didik untuk menguasai karakteristik inteligensi emosional tingi. Ada sejumlah keyakinan yang harus dikuasai pendidik dalam memahami dan memberi fasilitas bagi perkembangan kecerdasan emosional anak didiknya. Awal dari seluruh kegiatan pendidikan, harus dimulai dari penguasaan pendidik atas tampilan inteligensi emosionalnya sendiri dan dilanjutkan dengan memahami tampilan inteligensi emosional anak didinya.

BAB VII PERKEMBANGAN SOSIAL DAN BAHASA


Membicarakan perkembangan sosial remaja tidaklah cukup hanya membicarakan nilai-nilai dan sikap-sikap sosial remaja. Melainkan perlu pula dibahas lingkungan sosial yang melengkapi hidup remaja beserta tuntutan-tuntutan yang terkandung di dalamnya. Untuk membahas lingkungan sosial remaja tersebut dibicarakan pula: (1) Arti kelompok bagi remaja, (2) Tugas-tugas perkembangan remaja, (3) Sosialisasi remaja, (4) Hambatanhambatan sosial remaja. Sudah tentu yang menjadi fokus pembicaraan adalah: (5) Sikapsikap sosial remaja. Sebagaimana fungsinya bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan seseorang dalam pergaulannya atau komunikasinya dengan orang lain. Bahasa merupakan alat/sarana bergaul. Oleh karena itu penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seseorang memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak bayi mulai bisa berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seorang (bayi-anak) dimulai dengan meraban (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa satu suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial.Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa adalah: umur, kesehatan/fisik, kecerdasan, sosial ekonomi keluarga, dan lingkungan.

Perkembangan bahasa aplikasinya dalam pembelajaran,makaguru seharusnya mengembangkan strategi belajar mengajar bidang bahasa dengan memfokuskan pada potensi dan kemampuan anak. Pertama, anak perlu melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajaran yang telah diberikan dengan kata dan bahasa yang disusun oleh siswa sendiri. Dengan cara ini senantiasa guru dapat melakukan identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa siswasiswanya. Kedua, berdasar hasil identifikasi itu guru melakukan pengembangan bahasa siswa dengan menambahkan perbendaharaan bahasa lingkungan yang telah dipilih secara tepat dan benar oleh guru. Cerita siswa tentang isi pelajaran yang telah diperkaya itu diperluas untuk langkahlangkah selanjutnya, sehingga para siswa mampu menyusun cerita lebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri. Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara mandiri, baik lisan maupun tulis, dengan mendasarkan bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan bahasa anak dan membentuk pola bahasa masing-masing. Dalam penggunaan model ini guru harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas. Dalam pada itu sarana perkembangan bahasa seperti buku, surat kabar, majalah, dan lain-lainnya hendaknya disediakan di sekolah maupun di rumah.

BAB VIII PERKEMBANGAN MORAL-SPIRITUAL


Perilaku moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.Nilai-nilai moral itu, seperti (a) seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan memelihara hak orang lain, dan (b) larangan mencuri, berzina, membunuh, meminum minuman keras dan berjudi. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya. Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, tertutama dari orang tuanya. Dia belajar untuk mengenal nilai-nilai dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dalam mengembangkan moral anak, peranan orangtua sangatlah penting, terutama pada waktu anak masih kecil.

Perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, sebagai berikut: 1) Pendidikan langsung, yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orangtua, guru atau orang dewasa lainnya. Disamping itu, yang paling penting dalam pendidikan moral ini, adalah keteladanan dari orangtua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral 2) Identifikasi, yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya (seperti orangtua, guru, kyai, artis atau orang dewasa lainnya) 3) Proses coba-coba (trial & error), yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya. Perkembangan spiritual lebih spisifik akan dibahas manusia berkebutuhan terhadap agama. Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk Allah SWT, adalah dia dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran-Nya. Dengan kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama). Karena memiliki fitrah ini, kemudian manusia dijuluki sebagai Homo Devinans, dan Homo Religious, yaitu makhluk yang bertuhan atau beragama. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan spiritual-keberagamaan adalah faktor pembewaan dan faktor lingkungan, di antaranya lingkungan keluarga (orangtua), sekolah, dan lingkungan masyarakat. Kohlberg mengemukakan teori perkembangan moral dari yang paling dasar menuju ke puncak moral. Pada awalnya orang mengembangkan moral berdasar nilai-nilai orang lain. Lambat-laun moral berkembang ke arah keputusan pribadi.

BAB IX KEBUTUHAN DASAR DAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN REMAJA


Sebagian besar remaja menghadapi tugas perkembangan sebagai suatu yang menantang, namun sebagian besar tidaklah tak dapat ditanggulangi. Galibnya, remaja sedang menguji kemerdekaan dirinya dari belenggu orangtuanya; namun mereka bukanlah, dan tidak ingin, secara total mandiri. Orangtua dan orang dewasa harus menyediakan suatu lingkungan

yang mendukung untuk anak remaja yang sedang mencari dan menyelidiki identitas diri mereka. Orang tua dan orang dewasakebanyakan berpegang teguh dalam prinsip. Remaja memerlukan orang tua untuk memainkan peran aktif di antara orangtua-orang tua yang masih hidup dan memiliki kemauan juga yang mungkin berbeda dari remaja. Bagaimanapun, orang dewasa harus menyediakan anak remaja beberapa ruang untuk bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan mereka sendiri serta bertanggung jawab atas konsekuensi dari

keputusan yang diambilnya. Ketika remaja membuat kesalahan atas keputusan yang diambil, mereka memerlukan dukungan dan bimbingan dari orang tua dan orang dewasa untuk membantu mereka untuk mengetahui dari pengalaman menghadapi sesuatu terkait dengan keputusan tersebut. Dengan mengetahui tugas perkembangan anak remaja, orang tua dan orang dewasa dapat membantu kekeliruan yang diperbuat oleh anak remaja menjadi peluang yang mampu meningkatkan penguasaan anak remaja atas ketrampilan hidup. Kadang-Kadang interaksi antar orangtua dan orang dewasa lain dengan anak remaja akan menjadi tantangan dan pertentangan yang tidak pasti, tetapi adalah penting bahwa orang tua dan orang dewasa tetap tabah dan memberi kepercayaan kepada anak remajanya serta yakin bahwa anaknya akan sanggup menyelesaikan segala urusan. Orang tua dan orang dewasa mempunyai sebuah peran yang penting untuk dilakukan dan diperkirakan mempunyai dampak positif bila secara tidak kentara mereka hidup di antara anak remajanya. Kompleksitas perubahan yang dihadapi individu mulai terasa pada dekade kedua ketika manusia hidup. Tentu saja, masa remaja ditandai oleh banyak perubahan-- biologi, phisik, emosional dan intelektual. Informasi dari rangkaian perubahan-perubahah dalam berbagai bidang tersebutakan menjadi "petunjuk jalan (road map)" untuk mengantisipasi dari anak remaja. Penggunaan petunjuk jalan ini, orang tua dan orang dewasa lain dapat mendukung anak remaja atas perjalanan mereka ke arah mencapai tujuan mereka, yakni menjadi orang dewasa yang produktif dan berkompeten.

BAB X PERMASALAHAN REMAJA DAN ISU-ISU KESEHATAN


Dengan jelas tampak bahwa perilaku bermasalah menyebar dan cepat mencapai puncak selama masa remaja dan awal kedewasaan. Kebutuhan akan program pencegahan dini terhadap perilaku bermasalah menjadi nyata. Usaha-usaha ini harus diarahkan baik remaja yang beresiko tinggi maupun remaja yang beresiko rendah, dengan informasi yang dimodifikasi untuk profil perilaku beresiko secara individual. Strategi pencegahan dan intervensi ganda menjadi model yang efektif komprehensif untuk memenuhi kebutuhan

beragam populasi remaja. Program pencegahan majemuk yang terdiri atas strategi primer, sekunder, dan trertier dijelaskan sebagai berikut. Primer. Pencegahan dirancang untuk semua remaja tanpa kecuali, dengan asumsi bahwa semua remaja membutuhkan informasi cara-cara untuk mencegah terjadinya perilaku target (perilaku bermasalah). Strategi ini dimaksudkan sebagai strategi universal berlaku untuk semua remaja. Dilakukan oleh orangtua dan berkolaborasi dengan anak remajanya. Sekunder. Pencegahan ditujukan kepada anggota populasi remaja yang oleh lingkungannya atau karakteristik individualnya diduga beresiko.Secara khusus tidak meliputi perilaku yang menunjukkan gejala untuk dicegah, atau perilakunya belum teridentifikasi secara pasti sebagai perilaku beresiko tinggi. Tertier. Usaha intervensi terhadap perilaku yang benar-benar menunjukkan gejala beresiko tinggi. Intervensi ini dilakukan secara intensif oleh ahli dan dirancang untuk mengubah perilaku bermasalah dan juga untuk mencegah perilaku bermasalah kambuh di kelak kemudian hari.

BAB XI PENYESUAIAN DIRI REMAJA


Bertambahnya usia anak dan semakin melebarnya pergaulan membuat anak-anak harus mampu mengadakan berbagai penyesuaian diri. Bagi remaja, penyesuaian diri yang utama adalah mempersiapkan dirinya menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. Salah satu tugas berat remaja adalah menjadi manusia yang asertif dalam menyampaikan gagasan dan rencana perilaku. Dalam hal ini seringkali remaja menemukan hambatan sebab adanya beda perlakuan orang tua. Orang tua kadang memperlakukan anak remajanya sebagai kanak-kanak sementara itu di saat lain memperlakukan mereka sebagai orang dewasa. Anak remaja perlu berkesempatan untuk belajar dari segala lini, bahkan anak remaja perlu belajar dari keputusan-keputusan pribadi yang salah. Dalam hal ini apa yang harus dilakukan orang tua? Saran yang diberikan kepada orang tua adalah agar mereka memberi banyak peluang bagi anak remajanya untuk mandiri. Biarkan anak belajar bahkan dari kesalahankesalahannya sendiri. Yang dipersiapkan orang tua bukan larangan dan hukuman, tetapi

menunggu sampai anak remajanya berhasil menyelesaikan masalah dan orangtua memberikan dukungan dan pujian atas keberhasilan anak remajanya yang telah mampu belajar menyesuaikan diri terhadap berbagai keadaan.