Anda di halaman 1dari 11

Sudah bukan rahasia lagi, negeri kita yang dulunya terkenal dengan hutannya,

sekarang dimana-mana telah banyak hutan yang rusak. Salah satu hutan yang telah

rusak adalah hutan mangrove. Hutan mangrove di sepanjang pantai barat dan timur

pulau Sumatera telah rusak parah. Kawasan hutan mangrove adalah salah satu

kawasan pantai yang sangat unik, karena keberadaan ekosistem ini pada daerah

kawasan estuary. Mangrove hanya menyebar pada kawasan tropis sampai subtropics

dengan kekhasan tumbuhan dan hewan yang hidup disana. Keunikan ini tidak

terdapat pada kawasan lain, karena sebagian besar tumbuhan dan hewan yang hidup

dan berasosiasi di sana adalah tumbuhan khas perairan estuary yang mampu

beradaptasi pada kisaran salinitas yang cukup luas.

Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang

didominasi oleh beberapa spesies pohon mangrove yang mampu tumbuh dan

berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur. Komunitas vegetasi ini

umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan supratidal yang cukup mendapat aliran

air, dan terlindung dari gelombang besar dan arus pasang surut yang kuat.

Fungsi dan Manfaat Hutan Mangrove

Fungsi ekosistem mangrove mencakup:

- fungsi fisik (menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dari

erosi laut/abrasi, intrusi air laut, mempercepat perluasan lahan, dan mengolah

bahan limbah)

- fungsi biologis (tempat pembenihan ikan, udang, tempat pemijahan beberapa

biota air, tempat bersarangnya burung, habitat alami bagi berbagai jenis biota)
dan

- fungsi ekonomi (sumber bahan baker, pertambakan, tempat pembuatan garam,

bahan bangunan dll.

Menurut Wada (1999) bahwa 80% dari ikan komersial yang tertangkap di

perairan lepas/dan pantai ternyata mempunyai hubungan erat dengan rantai makanan

yang terdapat dalam ekosistem mangrove. Hal ini membuktikan bahwa kawasan

mangrove telah menjadi kawasan tempat breeding & nurturing bagi ikan-ikan dan

beberapa biota laut lainnya. Hutan mangrove juga berfungsi sebagai habitat satwa

liar, penahan angina laut, penahan sediment yang terangkut dari bagian hulu dan

sumber nutrisi biota laut.

Kusmana (1996) menyatakan bahwa hutan mangrove berfungsi sebagai:

1) penghalang terhadap erosi pantai dan gempuran ombak yang kuat

2) pengolah limbah organic

3) tempat mencari makan, memijah dan bertelur berbagai biota laut

4) habitat berbagai jenis margasatwa

5) penghasil kayu dan non kayu dan

6) potensi ekoturisme.

Venkataramani (2004) menyatakan bahwa hutan mangrove yang lebat

berfungsi seperti tembok alami. Dibuktikan di desa Moawo (Nias) penduduk selamat

dari terjangan tsunami karena daerah ini terdapat hutan mangrove yang lebarnya 200-

300 m dan dengan kerapatan pohon berdiameter > 20 cm sangat lebat. Hutan

mangrove mengurangi dampak tsunami melalui dua cara, yaitu: kecepatan air
berkurang karena pergesekan dengan hutan mangrove yang lebat, dan volume air dari

gelombang tsunami yang sampai ke daratan menjadi sedikit karena air tersebar ke

banyak saluran (kanal) yang terdapat di ekosistem mangrove.

Penyebaran vegetasi mangrove ditentukan oleh berbagai faktor lingkungan,

salah satu diantaranya adalah salinitas. Berdasarkan salinitas kita mengenal zonasi

hutan mangrove sebagai berikut (De Haan dalam Russell & Yonge, 1968):

A) Zona air payau hingga air laut dengan salinitas pada waktu terendam air

pasang berkisar antara 10-30%

(A1) Area yang terendam sekali atau dua kali sehari selama 20 hari dalam

sebulan. Hanya Rhizophora mucronata yang masih dapat tumbuh.

(A2) Area yang terendam 10-19 kali perbulan: ditemukan Avicennia (A. alba,

A. marina), Sonneratia sp. dan dominan Rhizosphora sp.

(A3) Area yang terendam kurang dari sembilan kali setiap bulan. Ditemukan

Rhizophora sp., Bruguiera sp.

(A4) Area yang terendam hanya beberapa hari dalam setahun. Bruguiera

gymnorrhiza dominan dan Rhizophora apiculata masih dapat hidup.

B) Zona air tawar hingga air payau, dimana salinitas berkisar antara 0-10%

(B1) Area yang kurang lebih masih dibawah pengaruh pasang surut: asosiasi

Nypa.

Hutan Mangrove di Indonesia


Luasan hutan mangrove di dunia 15,9 juta ha dan 27%-nya atau seluas 4,25

juta ha terdapat di Indonesia (Arobaya dan Wanma, 2006). Menurut Anonim (1996)
bahwa luas hutan mangrove di Indonesia sebesar 3,54 juta ha atau sekitar 18-24%

hutan mangrove dunia, merupakan hutan mangrove terluas di dunia. Negara lain yang

memilki hutan mangrove yang cukup luas adalah Nigeria seluas 3,25 juta ha.

Tabel 1. Luas hutan mangrove di Indonesia (Supriharyono, 2000)


No. Wilayah Luas (ha)
1. Aceh 50.000
2 Sumatera Utara 60.000

3 Riau 95.000

4 Sumatera Selatan 195.000

5 Sulawesi Selatan 24.000

6 Sulawesi Tenggara 29.000

7 Kalimantan Timur 150.000

8 Kalimantan Selatan 15.000

9 Kalimantan Tengah 10.000

10 Kalimanta Barat 40.000

11 Jawa Barat 20.400

12 Jawa Tengah 14.041

13 Jawa Timur 6.000

14 Nusa Tenggara 3.678

15 Maluku 100.000

16 Irian Jaya 2.934.000

Total 3.806.119

Kompas (2000) menyatakan bahwa luas hutan mangrove di Sumatera Barat

36.550 ha, tersebar di kabupaten Pasaman (3.250 ha) dengan tingkat kerusakan 30%,
Kabupaten Pesisir Selatan 325,7 ha dengan tingkat kerusakan 70%, Kabupaten

Kepulauan Mentawai 32.600 ha dengan tingkat kerusakan 20%, Kabupaten Agam 55

ha dengan tingkat kerusakan 50%, Kota Padang 120 ha dengan tingkat kerusakan

70%, Kabupaten Padang Pariaman 200 ha dengan tingkat kerusakan 80%. Tingkat

kerusakan hutan mangrove di Sumatera Barat adalah 53,34%. Akibatnya terjadi

penurunan hasil tangkapan ikan menjadi hanya 8.320 ton/tahun.

Pantai Timur Lampung yang semula hutan mangrovenya 20.000 ha telah

menurun menjadi hanya 2.000 ha. Pantai Timur Tulangbawang (Lampung) dari

12.000 ha telah 85% nya rusak berat. Menurut data tahun 1980, luas hutan mangrove

Propinsi Lampung adalah 17.000 ha. Kompas (2006) menyatakan bahwa dari 36.000

ha hutan mangrove di Aceh hampir 75% nya telah punah karena ditebang. Menurut

data PT Inhutani, setiap tahun sekitar 500 ha hutan mangrove dibuka dan sekitar

216.000 m3 kayu mangrove dijadikan arang.

Pada intinya data tentang berkurangnya kawasan mangrove ini kami

tampilkan sebagai alasan mengapa merasa penting untuk mengetahui pengelolaan

kawasan mangrove dengan mengetahui terlebih dahulu penyebab berkurang dan

rusaknya kawasan mangrove sehingga dapat mengetahui langkah untuk

pengelolaannya.

Faktor Penyebab Rusaknya Hutan mangrove


Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan pesatnya kegiatan

pembangunan di pesisir bagi berbagai peruntukan (perkebunan, tambak, pemukiman,


kawasan industri, wisata dll.), tekanan ekologis terhadap ekosistem pesisir, khususnya

ekosistem hutan mangrove semakin meningkat pula. Meningkatnya tekanan ini

tentunya berdampak terhadap kerusakan ekosistem hutan mangrove baik secara

langsung seperti kegiatan penebangan atau konversi lahan maupun secara tidak

langsung seperti pencemaran oleh limbah berbagai kegiatan pembangunan.

Dampak kegiatan manusia pada ekosistem hutan mangrove


Kegiatan Dampak potensial
- Tebang habis - Berubahnya komposisi tumbuhan mangrove
- Tidak berfungsinya daerah mencari makanan
dan pengasuhan
- Pengalihan aliran air - Peningkatan salinitas hutan mangrove
tawar, misalnya
pembangunan irigasi. - Menurunnya tingkat kesuburan hutan.

- Konversi menjadi lahan - Mengancam regenerasi stok ikan dan udang


pertanian, perikanan, di perairan lepas pantai yang memerlukan
pemukiman dll. hutan mangrove.
- Terjadinya pencemaran laut oleh bahan
pencemar yang sebelumnya diikat oleh
substrat hutan mangrove.
- Pendangkalan perairan pantai.
Erosi garis pantai dan intrusi garam.

- Pembuangan sampah Penurunan kandungan oksigen terlarut, timbul


cair gas H2S.

- Pembuangan sampah - Kemungkinan terlapisnya pneumatofora yang


padat mengakibatkan matinya pohon mangrove.
Perembesan bahan-bahan pencemar dalam
sampah padat.

- Pencemaran minyak Kematian pohon mangrove


tumpahan
- Penambangan dan - Kerusakan total ekosistem mangrove
ekstraksi mineral baik di sehingga memusnahkan fungsi ekologis hutan
dalam hutan maupun mangrove (daerah pencarian makanan)
didaratan sekitar hutan
mangrove. - Pengendapan sedimen yang dapat mematikan
pohon mangrove.

Usaha pengelolaan kawasan Mangrove


Untuk konservasi hutan mangrove dan sempadan pantai, Pemerintah R I telah

menerbitkan Keppres No. 32 tahun 1990. Sempadan pantai adalah kawasan tertentu

sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan

kelestarian fungsi pantai, sedangkan kawasan hutan mangrove adalah kawasan

pesisir laut yang merupakan habitat hutan mangrove yang berfungsi memberikan

perlindungan kepada kehidupan pantai dan lautan. Sempadan pantai berupa jalur

hijau adalah selebar 100 m dari pasang tertinggi ke arah daratan.

Upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki dan melestarikan

hutan mangrove antara lain:

1. Penanaman kembali mangrove

Kegiatan ini dilakukan untuk mencegah Instrusi air laut. Penanganan dampak

instrusi air laut ini sangat penting, karena air tawar yang tercemar intrusi air

laut akan menyebabkan keracunan bila diminum dan dapat merusak akar

tanaman. Instrusi air laut telah terjadi dihampir sebagian besar wilayah pantai

Bengkulu. Dibeberapa tempat bahkan mencapai lebih dari 1 km.

2. Pengaturan kembali tata ruang wilayah pesisir: pemukiman, vegetasi, dll.


Wilayah pantai dapat diatur menjadi kota ekologi sekaligus dapat

dimanfaatkan sebagai wisata pantai (ekoturisme) berupa wisata alam atau

bentuk lainnya.

3. Peningkatan motivasi dan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan

memanfaatkan mangrove secara bertanggungjawab.

4. Ijin usaha dan lainnya hendaknya memperhatikan aspek konservasi.

5. Peningkatan pengetahuan dan penerapan kearifan lokal tentang konservasi

6. Peningkatan pendapatan masyarakat pesisir

7. Program komunikasi konservasi hutan mangrove

8. Penegakan hukum.

9. Perbaikkan ekosistem wilayah pesisir secara terpadu dan berbasis masyarakat.

Pentingnya perlindungan ekosistem dan sumberdaya pesisir

Ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang merupakan suatu himpunan

integral dari komponen hayati dan nonhayati, mutlak dibutuhkan oleh manusia untuk

hidup dan untuk meningkatkan mutu kehidupan. Semakin meningkatnya

pembangunan ekonomi di kawasan pesisir, makin meningkatkan pula ancaman

terhadap degradasi ekosistem dan sumberdaya pesisir, dan laut, seperti eksploitasi

lebih, degradasi habitat, penurunan keanekaragaman hayati, padahal ekosistem dan

sumberdaya pesisir dan laut menjadi tumpuan pembangunan nasional sebagai sumber

pertumbuhan baru. Karena itu, untuk mempertahankan dan melindungi keberadaan

dan kualitas ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut yang bernilai ekologis dan

ekonomis penting, diperlukan suatu perencanaan dan pengelolaan yang berkelanjutan.


Dalam rencana pengalokasian kawasan konservasi, diperlukan sedikitnya

empat tahapan dalam proses pemilihan lokasi (Agardy,1997):

1. Identifikasi habitat atau lingkungan kritis. Distribusi sumberdaya ikan

ekologis dan ekonomis penting, dan bila memungkinkan lokasi proses-

proses ekologis kritis dan dilanjutkan dengan memetakan informasi-

informasi tsb dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis.

2. Teliti tingkat pemanfaatan sumberdaya dan identifikasi sumber-sumber

degradasi di kawasan: petakan konflik pemanfaatan sumberdaya, berbagai

ancaman langsung (mis,over eksloitasi) dan tidak langsung

(mis,pencemaran) terhadap ekosistem dan sumberdaya.

3. Tentukan lokasi dimana perlu dilakukan konservasi (mis, lokasi yang

diidentifikasi oleh pengambil kebijakan menjadi prioritas untuk

dilindungi).

4. Kaji kelayakan suatu kawasan prioritas yang dapat dijadikan kawasan

konservasi, berdasarkan proses perencanaan lokasi.

Batas dan Zonasi Lokasi

Pengelolaan zona dalam kawasan konservasi didasarkan pada luasnya

berbagai pemanfaatan sumberdaya kawasan. Aktivitas di dalam setiap zona

ditentukan oleh tujuan kawasan konservasi, sebagaimana ditetapkan dalam rencana

pengelolaan. Zona-zona tertentu menuntut pengelolaan yang intensif.


Secara umum zona di suatu kawasan konservasi dapat dikelompokkan atas 3

zona, yaitu:

1. Zona inti atau perlindungan

2. Zona penyangga

3. Zona pemanfaatan

Kriteria pemilihan lokasi kawasan konservasi

Penerapan kriteria sangat membantu dalam mengidentifikasi dan memilih

lokasi perlindungan secara objektif yaitu kriteria ekologi, sosial dan ekonomi (Salm

et al,2000).

Kriteria ekologi yaitu:nilai suatu ekosistem dan jenis biota di pesisir dan laut

dapat dilihat dari kriteria berikut: keanekaragaman hayati, kealamian, ketergantungan,

keterwakilan, keunikan, Integritas, produktivitas, kerentangan.

Kriteria sosial yaitu manfaat sosial dan budaya pesisir dapat dilihat dari

kriteria : penerimaan sosial, kesehatan masyarakat, rekreasi, budaya, estetika, konflik

kepentingan, keamanan, aksesibilitas, kepedulian masyarakat, konflik dan

kompatibilitas dan kriteria ekonomi yaitu manfaat ekonomi pesisir seperti:

kepentingan perikanan, bentuk ancaman, mafaat ekonomi dan pariwisata.

Keterpaduan dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan konservasi di

pesisir dan laut mencakup empat aspek yaitu: Keterpaduan ekologis, keterpaduan

sektor, keterpaduan disiplin ilmu dan keterpaduan stakeholder.