Anda di halaman 1dari 19

TRIDARMA ILMU TANAH : CITA-CITA DAN KENYATAAN

Oleh: Tejoyuwono Notohadiprawiro

Menerima 'Tridarma' sebagai doktrin yang melandasi segala kegiatan dan corak kehidupan kampus,
berarti kita sanggup memenuhi berbagai tuntutan, baik yang mengenai mutu penyelesaian tugas
maupun yang berkaitan dengan harkat pribadi. Penghayatan Tridarma secara benar dan utuh menjadi
ciri khas insan kampus yang tidak dapat ditawar oleh siapa pun.

Tuntutan mutu penyelesaian tugas dipenuhi dengan jalan:


• Secara malar (continuous) membina dan memacu pendidikan yang paut (relevant) guna
menabur (disseminate) kecendekiaan, ilmu dan kemahiran.
• Secara malar menjalankan dan menggairahkan penelitian sebaik-baiknya untuk
menghidupkan dan membina sumber pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
• Secara malar memelihara dan meningkatkan keterbukaan kampus terhadap masyarakat untuk
memantapkan mekanisme saling tukar, yang pada gilirannya akan melancarkan proses umpan
balik yang tertuju kepada penyuburan silang (crossfertilization) antara kampus sebagai
penghasil dan masyarakat sebagai pengguna ilmu pengetahuan dan teknologi.
Tuntutan harkat pribadi dipenuhi dengan jalan:
• Teguh dalam mempertahankan kebenaran sejati, dari mana pun datangnya, akan tetapi tetap
bersikap terbuka dan dapat memaklumi pendapat yang berbeda.
• Menjauhi sikap ingin maju sendiri dan mendahulukan usaha mengajak orang lain ikut maju.
• Tidak mementingkan diri sendiri dalam soal waktu, kesempatan dan mengembangkan bakat
serta bersedia bekerja keras.
• Menganut pandangan yang luas, serbacakup (comprehensive) dan terpadu.
• Memiliki dedikasi untuk memahami lingkungannya.
Di pihak lembaga pendidikan tinggi, Tridarma mengisyaratkan kewajiban memerankan pelopor dan
pemimpin dalam membina ilmu. Para pakar dan ahli yang bekerja di lembaga lain adalah hasil
tempaan lembaga pendidikan tinggi. Maka kalau negara dan bangsa mengalami keterbelakangan atau
kelesuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak ada pihak yang dapat disalahkan kecuali diri kita
sendiri yang mengasuh lembaga pendidikan tinggi.

Perspektif Sejarah Ilmu Tanah

Perspektif sejarah berguna untuk (1) membantu mengendapkan dalam pikiran kita tahapan-tahapan
rumit yang telah dilalui suatu ilmu, dalam hal ini ilmu tanah, (2) memahami faktor-faktor yang
mempengaruhi kristalisasi pengkajian tanah, dan (3) meramalkan hari depan ilmu tanah.

Manusia secara berangsur mendapatkan pengetahuan sebagai hasil perjuangannya demi


kemaujudannya (existence). Inilah sebabnya mengapa kedokteran, botani dan astronomi merupakan
disiplin ilmu yang tertua, pengetahuan yang pertama-tama dimiliki manusia. Pengetahuan kedokteran
dia perlukan untuk melawan gangguan atau penyakit tubuhnya. Botani berkembang diderita karena
minatnya yang mendalam tentang tumbuhan sebagai bahan obat atau pangan. Gejala ruang angkasa
yang sukar dipahami, perubahan tetap siang dan malam, peredaran matahari dari timur ke barat,
pemunculan bintang menurut musim, dan sebagainya membangkitkan rasa gaib dalam diri manusia.
Dengan diawali penyembahan Dewa Matahari oleh bangsa Mesir Kuno, secara bertahap pengetahuan
manusia bertambah yang akhimya melahirkan astronomi. Dari sesuatu yang dipandang gaib, dipuja
dan disembah, lambat laun berganti menjadi sesuatu yang sangat memikat untuk disingkap
rahasianya, untuk dijamah. Manusia mulai menjelajahi ruang angkasa.

Bagaimana mengenai tanah? Tanah berada di bawah telapak kaki manusia. Setiap saat dia
menginjaknya, akan tetapi dia justru mendongak ke langit untuk memperoleh pertolongan dan
keselamatan dari para Dewa. Selama manusia masih bertempat tinggal di dalam gua-gua atau di
bawah tajuk lebat pepohonan, selama dia puas dengan mencari makan secara berburu binatang dan
memungut hasil tumbuhan, dan selama dia sudah merasa senang meliliti tubuhnya dengan dedaunan,
kulit kayu, atau kulit binatang untuk melindungi badannya dari kedinginan, kehujanan, tusukan duri,
dan gigitan serangga, selama itu pula tanah bukan sesuatu yang perlu diperhatikan.

Kelahiran pengetahuan tentang tanah masih harus menunggu waktu lama sampai manusia
menjinakkan (domesticate) hewan menjadi ternak dan tumbuhan menjadi tanaman. Mulailah manusia
merasa perlu memperhatikan tanah. Keperhatian (concern) manusia yang menempati kawasan
beriklim kering tertuju kepada pencarian padang rumput yang subur untuk menggembalakan ternak,
dan yang menempati kawasan beriklim basah keperhatiannya tertuju kepada pemilihan tanah hutan
yang baik untuk dibuka dan bercocok tanam. Manusia masih bergantung pada alam untuk
memulihkan kesuburan perumputan atau kesuburan tanah hutan. Oleh karena pemulihan ini
memerlukan waktu lama, manusia hidup sebagai peternak nomad atau petani peladang (swidden
cultivators). Penduduk kawasan tropika basah di Afrika, Asia dan Amerika Selatan memahirkan diri
dalam berladang.

Proses pengumpulan dan penghimpunan pengalaman mulai berjalan dan makin melaju setelah
manusia hidup menetap. Diperlukan pengalaman dan pengetahuan yang lebih banyak dan andal untuk
dapat memilih padang rumput atau tanah yang dapat digunakan secara tetap. Lembah-lembah sungai
menjadi pilihan pertama untuk mendirikan permukiman dan mengusahakan pertanian secara menetap.
Tanah lembah sungai disuburkan kembali secara berkala oleh lumpur banjir. Meskipun pemeliharaan
kesuburan tanah masih digantungkan pada alam, akan tetapi oleh karena prosesnya berjalan hanya
berselang musim dan tidak berjangka waktu tahunan seperti pada kawasan perladangan, manusia
dapat menerapkan sistem pertanian menetap di lembah-lembah sungai. Bermukim sepanjang sungai
juga mempertimbangkan kemudahan perhubungan dan perdagangan. Mereka yang kurang beruntung
dengan alamnya, penyuburan tanah harus mereka usahakan sendiri.

Orang-orang Mesir Kuno memanfaatkan kedermawanan Bengawan Nil dengan menetap di sepanjang
lembahnya. Orang-orang Babilonia yang mengusahakan lembah Sungai Eufrat dan Tigris yang
beriklim kering mengembangkan teknik irigasi yang hebat. Akan tetapi teknologi irigasi waktu itu
belum terdukung oleh pengetahuan tanah yang memadai. Maka akhimya tanah-tanah beririgasi di
lembah Sungai Eufrat dan Tigris menjadi rusak karena salinisasi. Larutan garam di dalam air sungai
mengendap dalam tanah karena evaporasi kuat di kawasan beriklim kering. Orang-orang Romawi,
Yunani dan Cina mengembangkan kemahiran memupuk tanah dengan abu, sisa tanaman atau kotoran
ternak. Orang Cina pada 4000 tahun yang lalu telah menerapkan semacam klasifikasi produktivitas
tanah, a.l. untukdasar penetapan pajak bumi (Bennett, 1939; Joffe, 1949; Russell, 1963).

Pengetahuan akan ada kalau ada kebutuhan segera. Macam pengetahuan yang timbul, atau arah
perkembangan suatu pengetahuan tertentu, tergantung pada lingkungan atau keadaan tempat yang
menimbulkan kebutuhan akan pengetahuan itu. Pengumpulan pengetahuan berdasarkan pengalaman
setempat dapat dikerjakan oleh orang awam. Akan tetapi menghimpun pengetahuan yang terpisah-
pisah sehingga menjadi suatu sistem pengertian, atau menumbuhkan ilmu pengetahuan, hanya dapat
dilaksanakan oleh para pakar atau ahli yang berminat. Oleh karena para cendekiawan sudah jauh lebih
dulu menekuni ilmu-ilmu kealaman yang lain maka kemunculan ilmu tanah masih harus menunggu
lama lagi sampai ada diversifikasi minat di kalangan para ahli pikir itu.

Saat tersebut akhimya tiba juga pada menjelang akhir abad ke-18. Tanah mendapatkan perhatian dari
para cerdik pandai yang biasa berkecimpung dalam bidang kimia, fisiologi tumbuhan, bakteriologi
dan geologi beserta bidang ikutannya petrografi dan mineralogi. Terbawa dari latar belakang disiplin
ilmu masing-masing, mereka memperlakukan tanah sebagai suatu bahan. Orang geologi menganggap
tanah sebagai bahan sisa pelapukan batuan. Mereka mengkaji tanah untuk menyidik kembali batuan
asal mulanya menurut mineral dan sibir (fragment) batuan yang tersisa dalam bahan tanah. Orang
ilmu kimia dan fisiologi tumbuhan memusatkan perhatian mereka pada unsur penyusunan tanah dan
mengaitkannya dengan keharaan tanaman. Orang bakteriologi mementingkan unsur atau senyawa
penyusun tanah yang dihasilkan oleh kegiatan biologi, khususnya oleh kegiatan jasad renik.
Berkat kemajuannya yang pesat dan berhasil, ilmu kimia untuk sementara waktu merajai pandangan
ilmiah. Ilmu ini memiliki sarana penelitian ampuh berupa pemikiran dan kegiatan analitik.
Sumbangan Boussingault di Perancis dan Liebig di Jerman kepada ilmu kimia pertanian dapat dicatat
sebagai tonggak sejarah penting bagi perkembangan ilmu tanah. Terutama "teori mineral" dan "hukum
minimum" Liebig yang diumumkannya pada tahun 1840 telah menghidupkan ilmu kesuburan tanah,
suatu cabang ilmu tanah yang bertumbuh pesat dan menjadi cikal-bakal revolusi hijau yang terjadi
pada abad ke-20. Dengan teori dan hukum tersebut Liebig sekaligus menumbangkan "teori humus"
Thaer yang diajukan 30 tahun sebelumnya. Dapat dicatat bahwa ilmu kesuburan tanah modern
menggabungkan teori humus dan teori mineral menjadi satu kesatuan dan menjabarkan ulang hukum
minimum menjadi hukum neraca hara.

Di bawah asuhan ilmu kimia, pengkajian tanah maju dengan pesat. Ilmu tanah berhutang budi kepada
kimia atas sumbangannya berupa metode dan tatacara penelitian serta hukum dasar kimia yang
diterapkan pada tanah selaku medium produksi pertanaman. Akan tetapi di balik keberuntungan ini
terdapat kerugian yang tidak kecil. Pengaruh ilmu kimia yang begitu kuat telah menghambat
perkembangan pengkajian tanah menjadi disiplin ilmu yang hakiki dan mandiri. Pengkajian tanah
menjadi bawahan ilmu kimia. Dengan konsep kimiawi tanah hanya dapat dipandang sebagai bahan
dan tidak dapat dilihat tanah sebagai suatu tubuh alam yang khas. Geologi juga memberikan saham
pada kekeliruan konsep ini. Pada waktu menekuni tanah sebagai limbah batuan, seorang pakar geologi
tidak mempedulikan hubungan tanah dengan lingkungannya. Tanah dianggapnya hanya berkaitan
langsung dengan batuan yang telah dan sedang mengalami pelapukan, dan tidak ada faktor lain di luar
batuan dan pelapukan yang ikut serta menghadirkan tanah.

Fisika juga memberikan sumbangan yang sangat berarti kepada kemajuan pengkajian tanah. Berbagai
sifat fisik dan mekanik tanah yang penting dapat di diungkapkan dengan teori dan hukum fisika. Akan
tetapi sebagaimana ilmu kimia, fisika juga memandang tanah semata-mata sebagai bahan dan bukan
sebagai tubuh

Kita tahu sekarang bahwa pengkajian dan penyelesaian persoalan tanah tidak semudah dugaan orang
sampai akhir abad ke-l9. Membawa cuplikan (sample) tanah ke laboratorium untuk dianalisis sifat-
sifat kimia, fisik, mineralogi dan/atau biologinya belum dapat memecahkan persoalan. Demikian pula
halnya membawa tanah ke rumah kaca untuk percobaan pot.

Tonggak sejarah penting berikutnya bagi perkembangan pengkajian tanah datang pada pergantian
abad ke-19 ke abad ke-20. Tonggak yang satu dipancangkan di Rusia oleh Dokuchaev dan murid-
muridnya pada tahun 1883, dan tonggak yang lain dipancangkan di Amerika Serikat oleh Hilgard
pada tahun 1877. Dokuchaev berlatarbelakang pendidikan geologi dan mineralogi, sedang Hilgard di
samping berpendidikan geologi juga kemudian menguasai zoologi, botani dan agronomi (Joffe, 1949).
Oleh kepeloporan kedua sarjana ini pandangan tentang hakekat tanah berubah dari bahan menjadi
tubuh. Konsep tanah sebagai tubuh alam merupakan pembaharuan total atas pandangan sebelumnya.
Tanah bukan sekadar bahan kimiawi atau benda fisik yang ditemukan di lapangan, bukan semata-mata
substrat yang menghidupkan dan menghidupi tumbuhan, bukan hanya dunia jasad renik yang kaya
raya, dan bukan pula sekadar limbah batuan. Tanah adalah suatu kenyataan alam yang mandiri.

Tanah mempunyai asal-usul, diujudkan di bawah kuasa faktor lingkungan tertentu melalui berbagai
proses khas dan rumit, serta terdistribusikan di muka daratan dengan pola yang dapat ditakrifkan
(distributed with definable patterns). Tanah merupakan suatu sistem terbuka menurut peredaran bahan
dan energi. Kemaujudannya bertumpu pada daya tanggap tubuh tanah terhadap kakas (forces) yang
bertanggung jawab atas pembentukan tanah. Kesudahan tanggapan ini terekam pada morfologi tubuh
tanah (profil tanah) yang terbentuk oleh berbagai proses alihrupa dan alihtempat intemal (internal
transformations and translocations).

Pada waktu dikuasai ilmu kimia, pengkajian tanah berkonsep statika. Buah penelitiannya adalah
cuplikan tanah dari lapisan perakaran tanaman dan ruang kerjanya adalah laboratorium. Dengan
konsep baru, ilmu tanah berurusan dengan dinamika tanah, berarti waktu menjadi faktor penting
secara mutlak dalam menghadirkan sifat tanah. Tanah mernpakan perujudan suatu keseimbangan
dinamik. Pada tahana tunak keseimbangan dinamik (steady state of dynamic equilibrium), anasir-
anasir tanah berada dalam keselarasan timbal balik (mutually adjustment) dan tubuh tanah mencapai
taraf matang. Kematangan ini bersifat nisbi. Apabila kelakuan faktor-faktor berubah maka proses
penyelarasan timbal-balik antar anasir tanah berulang kembali menuju ke pencapaian keseimbangan
dinamik baru. Dengan konsep baru ini buah telaah adalah keseluruhan tubuh tanah dan ruang kerjanya
adalah lapangan tempat tubuh tanah itu berada. Cuplikan tanah dan laboratorium menjadi pelengkap
penelitian untuk meningkatkan daya sidik dan daya ramal. Semua hasil penetapan laboratorium atas
cuplikan tanah dikorelasikan satu dengan yang lain, baik secara vertikal untuk memperoleh rujukan
tubuh maupun secara lateral untuk memperoleh rujukan bentangan. Dengan demikian tiap data tanah
berada dalam suatu sistem informasi yang bermatra ruang. Dengan menginferensikan ciri-ciri tubuh
tanah pada sejarah bentanglahan (landscape) tempat tubuh tanah berada, data tanah memperoleh pula
matra waktu.

Setelah berhasil melahirkan konsep khusus tentang hakekat tanah dan berhasil menguraikan hukum
yang mengatur faktor pembentuk tanah, barulah pengetahuan tanah menjadi suatu disiplin ilmu yang
benar-benar mandiri. Ilmu kealaman yang lain, seperti ilmu kimia, fisika, biologi dan geologi, bukan
lagi "bapak angkat" ilmu tanah melainkan alat. Bahkan kini matematika dan statistika sudah menjadi
alat penting sekali dan lazim digunakan oleh ilmu tanah, khususnya dalam pengacuan (modelling)
reaksi yang berlangsung dalam tanah dan interpolasi batas bentangan jenis tanah di medan
(geostatistics).

Ilmu tanah masih muda sekali, boleh dikatakan umurnya kini baru sekitar satu abad. Akan tetapi
dengan memiliki konsep baru maka sejak awal abad ke-20 ilmu tanah mengalami kemajuan pesat
sekali. Dengan kelincahan dan kemahiran luar biasa, ilmu tanah memanfaatkan setiap kemajuan
dalam ilmu kealaman yang lain dan dalam teknik analisis untuk memperkaya pandangan dan
mencanggihkan metode penelitiannya. Bahkan kenyataan sosial dan ekonomi secara begitu cerdik
dapat diramukan ke dalam ilmu tanah, misalnya yang dikerjakan oleh Profesor Edelman almarhum
dalam bukunya "Sociale en Economische Bodemkunde" (1949). Joffe (1949) mengatakan bahwa ilmu
tanah berdiri di antara ilmu tentang benda hidup dan tak hidup.

Ilmu tanah memperoleh matra lebih luas setelah klasifikasi dan pemetaan tanah berkembang pesat.
Berkat fakta dan bukti yang terkumpul banyak selama penjelajahan medan secara intensif di kawasan
dunia yang luas, konsep tanah sebagai sistem alam kemudian memperoleh konteks baru sebagai
sumberdaya alam. Dengan ini ilmu tanah tidak saja berada di antara alam biotik dan abiotik, akan
tetapi merangkaikan kedua alam tadi, dan bahkan memperoleh gatra sosial dan ekonomi sangat nyata.
Dengan klasifikasi dan pemetaan tanah segala informasi tentang tanah memperoleh makna "tempat"
dan penyalurannya menjadi lebih efektif karena dapat mengikuti asas ekstrapolasi atau adaptasi.

Hal ini jelas berguna sekali bagi penaburan ilmu dan teknologi tanah. Kebutuhan akan pendirian
himpunan ilmu tanah, penerbitan jurnal ilmu tanah, atau penyelenggaraan pertemuan ilmu tanah
secara berkala, menjadi bukti nyata tentang kepentingan penyaluran informasi untuk mendorong
perkembangan ilmu tanah lebih pesat lagi. Misalnya, pertemuan ilmu tanah yang pertama kali
diadakan di Indonesia berlangsung pada tahun 1930 di Yogyakarta. Salah satu jurnal ilmu tanah tertua
"Soil Science" yang sekarang menjadi medium penyiaran ilmu tanah yang disegani, mulai terbit pada
tahun 1916. Soil Science Society of America berdiri pada tahun 1936. Sebagai catatan, Himpunan
Ilmu Tanah Indonesia baru berdiri pada tahun 1961 dan itupun "hidup segan mati tak sudi".

Hakikat Tradisional Ilmu Tanah

Ilmu tanah bermula dari sekumpulan pengalaman sederhana dalam lingkungan masyarakat pedesaan
yang serba sederhana pula. Kemudian dia beruntung dipungut dan dipelihara dalam lingkungan elit
ilmu pengetahuan yang serba angker dan berwibawa di kota-kota agung Berlin, Paris, London dan
Moskwa. Akhirnya ilmu tanah menemukan jatidirinya di alam luas berupa hutan belantara, padang
rumput, gurun, rawa, pegunungan tinggi bersalju dan lembah ngarai berair bah. Berbekal
kecendekiaan elit, ilmu tanah kembali berbaur dengan masyarakat bawah.
Terbawa dari sejarah pertumbuhannya, secara tradisional ilmu tanah terikat erat pada budidaya
tanaman dan ternak. Sampai sekarang pun ilmu tanah menjadi salah satu mata ajaran pokok dalam
kurikulum pertanian. Selama tanaman dibudidayakan pada tanah, selama itu pula pertanian
memerlukan ilmu tanah. Karena ilmu tanah selalu diasosiasikan dengan pertumbuhan tanaman maka
secara tradisional bidang kesuburan tanah menjadi bagian ilmu tanah terpenting dari segi kehidupan
masyarakat. Bahkan dalam pengertian orang awam, ilmu tanah adalah ilmu kesuburan tanah. Bagian
ilmu tanah yang lain, yang bersifat "murni" seperti fisika tanah, kimia tanah, mineralogi tanah, biologi
tanah dan genesis serta klasifikasi tanah, tidak banyak dikenal orang. Orang pada umumnya
beranggapan ilmu tanah adalah bagian dari ilmu pertanian. Ilmu tanah hanya perlu bagi petani dan
kegiatan yang melibatkan tanaman. Akibatnya, ilmu tanah memperoleh ruang cerapan yang sempit.
Cerapan tradisional ini masih melekat pada banyak pihak penggaris kebijakan dan pengambil
keputusan.

Prospek Ilmu Tanah

Dari kenyataan yang dihadapi ilmu tanah dan latar belakang sejarahnya, timbul berbagai pertanyaan
mendasar tentang hari depan ilmu tanah. Sudahkah ilmu tanah sampai pada akhir perkembangannya?
Apakah ilmu tanah sudah menemukan tempat yang sesuai, baik dalam dunia ilmu pengetahuan
maupun dalam kehidupan masyarakat? Mungkinkah bidang pelayanan ilmu tanah diperluas, yang
tidak saja meliputi bidang pertanian akan tetapi mencakup pula bidang kegiatan lain yang berkenaan
dengan penggunaan wilayah? Seberapa siap ilmu tanah mengantisipasi pemunculan kenyataan tadi
dan bagaimana konsekuensi pembaharuan pandangan mengenai hakikat tanah dalam kehidupan
manusia atas perancangan dan pengelolaan pendidikan dan penelitian ilmu tanah? Sekelompok pakar
tanah Amerika Serikat pada tahun 1950-an berupaya menyusun suatu sistem klasifikasi tanah
serbacakup (comprehensive) agar bersifat serbaguna dan tidak hanya berguna bagi kepentingan
pertanian saja. Dengan kata lain para pakar tersebut menginginkan agar informasi tanah dapat
menjangkau berbagai pihak.

Setelah meliwati banyak tahap ujicoba (approximations) dengan kerjasama internasional luas,
akhirnya pada tahun 1975 terbit buku Soil Taxonomy yang dinyatakan sebagai "a basic system of soil
classification for making and interpreting soil surveys". Buku ini sampai sekarang masih mengalami
perbaikan dan penambahan agar dapat menampung semua fakta tanah yang ditemukan di semua
bagian dunia dan dapat melayani secara lebih baik kepentingan-kepentingan lain di luar pertanian.
Soil Taxonomy disusun oleh Soil Survey dari Soil Conservation Service USDA dan diterbitkan
sebagai Agriculture Handbook No. 436. Pada tahun 1966 Soil Science Society of America bersama
dengan American Society of Agronomy menerbitkan buku Soil Surveys and Land Use Planning. Buku
ini menyajikan secara jelas kepentingan informasi tanah berupa peta tanah bagi perencanaan
permasyarakatan (community planning) yang menyangkut pembangunan wilayah pedesaan yang
ditempati penduduk bukan petani, wilayah perkotaan, kawasan rekreasi, taman, dan jaringan jalan
utama (highways). Informasi tanah juga diperlukan untuk penyeragaman penaksiran pajak bumi.
Dengan memperhatikan keadaan tanah, pembangunan sektor bukan pertanian dapat mencapai
efisiensi tinggi dan bersamaan dengan itu memperoleh wawasan lingkungan (Bartelli et al, 1966).
Informasi tanah yang diperlukan sama dengan yang diperlukan pertanian, akan tetapi penafsirannya
tentu berbeda (Kellogg, 1966).
Penerbitan kedua buku tadi pada paro ke dua abad ke-20 menandai terbitnya jaman pembaharuan
makna ilmu tanah. Pelayanan ilmu tanah diharapkan dapat meluas dan menjangkau berbagai gatra
kehidupan masyarakat. Ilmu tanah ingin dihayati kemaujudannya oleh seluruh masyarakat, tidak
hanya oleh masyarakat ketanian saja.

Pada suatu tahap perkembangannya, ilmu tanah pernah dibina oleh geologi. Dalam pengkajian
geologi kuarter diperlukan masukan dari telaah pedogenesis. Fakta ini diungkapkan dalam tulisan-
tulisan Tedrow (1973), Jackson et al. (1973), Yaalon dan Ganor (1973), Mulcahy dan Churchward
(1973), Wada dan Aomine (1973), El/Attar dan Jackson (1973), Gerasimov (1973), Zonn (1973),
Ugolini dan Schlichte (1973), Pons dan van der Molen (1973), van Zindern Bekker dan Butzer
(1973), Birklkeland (1974), Notohadiprawiro (1980), dan Gerrard (1981).
Dalam kurun waktu 25 tahun terakhir terjadi perluasan besar dalam bidang penerapan ilmu tanah,
mencakup arkeologi, ekologi, rekayasa, proyek-proyek pembangunan wilayah, dan tata ruang (Steur,
1967; Limbrey, 1975; Western, 1978; Buringh, 1978; Jenny, 1980; Soil management Support Service,
1981). Akibat pembaharuan cerapan mengenai ilmu tanah kemudian melanda pula bidang kajian
tradisional ilmu tanah. Greenland (1981) misalnya, berpendapat bahwa pengkajian tanah untuk
produksi pertanaman perlu dilatarbelakangi klasifikasi dan geografi tanah. Dengan latar belakang
tersebut kesuburan tanah dapat ditaksir secara baik menurut kriterium kapabilitas bermatra waktu dan
ruang, yang menyiratkan keterlanjutan penggunaan dan efektifitas kegunaannya. Buku Greenland
bersama dengan buku pendahulunya, antara lain yang ditulis oleh Sanchez (1976), Theng (1980) dan
Uehara dan Gillman(1981), menempatkan kajian tanah untuk pertanian dalam sorotan baru. Dalam
sorotan itu kajian tanah tidak dikerjakan untuk memenuhi permintaan pertanian, akan tetapi
dikerjakan untuk menyediakan informasi yang diperlukan pertanian sebagai salah satu pengguna
tanah. Jadi, kajian tanah untuk pertanian ialah kajian tanah menurut metodologi ilmu tanah dengan
diberi tafsir pertanian. Tergantung pada pengguna yang dilayani, kajian tanah yang sama dapat diberi
tafsir teknik sipil, ekologi, geologi, arkeologi, dan sebagainya Maka ilmu tanah bukan bagian dari
pertaniam

Baru-baru ini penempatan ilmu tanah di bawah naungan pertanian dipertanyakan secara tajam oleh
Presiden Soil Science Society of America, Fredd P. Miller (1991). Maka keanggotaan dalam SSSA
pun harus melalui keanggotaan dalam American Sosiety of Agronomy (ASA). Dipertanyakannya
apakah ilmu tanah tidak perlu mencari paradigma baru. Kita terbiasa menjatidirikan lembaga menurut
asal usul. Memang benar bahwa pada awalnya ilmu tanah ditangani oleh para pakar yang terdidik dan
terlatih dalam ilmu kimia, fisika, biologi dan geologi, yang menerapkan asas dan alat mereka pada
pengkajian tanah. Disiplin ilmu tanah mewarisi banyak pandangan dan tata kerja mereka. Akan tetapi
dalam perkembangan selanjutnya ilmu tanah diasuh dan menjadi dewasa di bawah pembinaan dan
kelembagaan pertanian. Dengan demikian ilmu tanah, pakarnya dan himpunannya berkarya dengan
paradigma ketanian. Dengan meluasnya bidang dan bertambahnya keberbagaian persoalan yang dapat
ditangani ilmu tanah dewasa ini, muncul gagasan yang makin meluas dan menguat mengenai memilih
di antara dua pilihan. Pilihan itu ialah tetap setia kepada paradigma ketanian yang telah menjadikan
ilmu tanah kokoh dan terhormat namun tetap saja dipandang sebagai anak asuh pertanian, ataukah
mencari paradigma baru yang membuat ilmu tanah berjatidiri dan berkemandirian secara utuh.
Pembaharuan paradigma dapat berupa mengafiliasikan ilmu tanah dengan ilmu kebumian (earth
sciences).

Ilmu tanah sendiri tidak luput dari pengaruh berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat. Pengaruh terpenting datang dari gerakan pengetatan penggunaan energi fosil atau energi
komersial dan keprihatinan yang terus meningkat mengenai degradasi lingkungan hidup. Sehubungan
dengan kedua hal tadi ilmu tanah terdorong meninjau ulang konsep dan tafsir faktanya. Kegiatan yang
memakan energi fosil banyak ialah pemupukan dan pembenahan tanah (soil amendment) dengan
bahan kimia buatan, irigasi dan pengatusan dengan bangunan bersistem gravitasi dan terutama dengan
sistem pompa, pengolahan tanah dengan mesin, dan pemberantasan hama dan penyakit asal tanah
(soil borne) secara kimiawi. Di samping itu pupuk dan pembenahan tanah buatan serta pestisida
berdaya cemar kuat atas perairan.

Persoalan energi fosil berkenaan dengan pemupukan, pembenahan dan pengolahan tanah
menghadapkan ilmu tanah pada empat pilihan. Pilihan pertama ialah tetap menggunakan masukan
energi fosil bertakaran tinggi seperti sekarang, akan tetapi bersama dengan itu meningkatkan efisiensi
penggunaan berdasarkan kreterium nisbah keluaran/masukan energi yang meningkat. Pilihan kedua
ialah mengurangi kebutuhan total energi fosil dengan menganekaragamkan pertanaman,
menyelaraskan sistem pembudidayaan pertanaman, atau pewilayahan pertanaman menurut asas
agroekosistem. Pilihan ketiga ialah menyulih sebagian atau seluruh kebutuhan energi fosil dengan
energi hayati yang terbarukan dan lebih murah. Pilihan keempat ialah gabungan antara berbagai
pilihan tersebut.

Pilihan pertama dalam kaitannya dengan tanah mengupayakan perbaikan efesiensi penyerapan hara
pupuk oleh perakaran tanaman dengan jalan (1) memilih bahan pupuk yang lebih lambat melepaskan
hara, sehingga laju penyediaan hara setaraf dengan laju penyerapannya dan dengan demikian tidak
ada kelebihan yang terbuang, (2) memasok hara secara berimbang untuk memperoleh tingkat konversi
hara menjadi biomassa berguna yang tinggi, (3) menerapkan teknik pemupukan yang sesuai dengan
sifat tanah untuk mengefektifkan penggunaan hara pupuk, dan/atau (4) mengelola tanah untuk
memperbaiki interaksi antara pupuk dan tanah. Upaya ini perlu dilengkapi dengan upaya agronomi
berupa meningkatkan daya tanaman mengkonversi masukan energi komersial menjadi keluaran energi
hayati berguna dengan jalan (1) menanam varietas tanaman berhasil panen tinggi, dan (2)
menjadwalkan pemupukan menurut fase-fase fisiologi yang bertanggapan paling menguntungkan.

Segi tanah dari pilihan kedua berkenaan dengan menghemat pupuk yang diupayakan dengan jalan (1)
memanfaatkan pupuk yang tersisa dari pertanaman terdahulu untuk pertanaman berikutnya, (2)
menyusun pola pergiliran pertanaman yang kebutuhan pupuk total lebih rendah dari kebutuhan
semula dengan budidaya tunggal, (3) melaksanakan sistem pertanaman yang memanfaatkan sebaik-
baiknya potensi tanah memugar sendiri produktivitasnya, dan/atau (4) memilih tanah yang keadaan
alaminya sesuai dengan kebutuhan suatu macam pertanaman tertentu, berarti perwilayahan budidaya
tanaman menurut kemampuan tanah. Dalam hal pengelolahan tanah dikerjakan dengan mesin, jalan
ketiga juga menghemat energi fosil yang digunakan untuk mengolah tanah. Energi untuk mengolah
tanah juga dapat dihemat dengan menggunakan bahan pembenah tanah (soil amendment). Dengan
mempertahankan struktur dan konsistensi tanah yang baik, dapat diterapkan asas pengolahan tanah
minimum (minimum tillage), bahkan asas tanpa pengolahan tanah (zero tillage).

Peranan ilmu tanah dalam pilihan ketiga ialah menemukan alternatif pembekalan hara dalam tanah.
Suatu alternatif yang sekarang yang sedang giat dikembangkan ialah memapankan di dalam tanah
suatu mekanisme hayati pembekalan hara dengan bioteknologi tanah. Upaya ini dikenal dengan
budidaya organik (organic farming). Budidaya organik merupakan suatu sistem produksi pertanaman
yang berasaskan daur ulang hara secara hayati (Papendick dan Elliott, 1984). Masukan yang
digunakan dalam budidaya organik ialah pupuk organik dan pupuk hayati (biofertilizer). Pupuk hayati
ialah sediaan organik yang peran ameliorasinya berasal dari kandungan jasad renik aktif. Yang
termasuk pupuk hayati antara lain inokulum Rhizobium, inokulum mikorisa, biakan jasad renik
pelarut fosfat, dan biakan jasad renik pengurai bahan organik.

Salah satu upaya yang termasuk pilihan keempat ialah sistem gizi tanaman terpadu (intergrated plant
nutrition system, IPNS). Dalam IPNS sebagian kebutuhan masukan energi fosil berupa pupuk buatan
kimia disulih dengan masukan energi hayati terbarukan berupa pupuk organik dan/atau pupuk hayati.
Di dalam IPNS mekanisme hayati dibangkitkan untuk membentuk sistem bekalan hara di dalam tanah
yang efektif dan mantap. Pembentukan ini memerlukan waktu panjang. Sementara itu digunakan
pupuk buatan kimia untuk memasok hara sebelum sistem bekalan hara hayati dapat berfungsi secara
berkelanjutan. Di bawah binaan FAO (1991) IPNS tengah digalakkan di kawasan Asia dan Pasifik.
Jadi, IPNS menggabungkan pilihan pertama dengan ketiga. Upaya lain ialah menggabungkan pilihan
kedua dan ketiga, atau menggabungkan pilihan pertama, kedua dan ketiga.

Kepentingan mendesak akan penggunaan energi baru dan terbarukan yang diprioritaskan pada energi
pedesaan, dicetuskan dalam "Nairobi Programme of Action". Program ini kemudian didukung FAO
dalam sidangnya yang ke-21 di Roma dalam bulan November 1981 dan dipertegas kembali dalam
Sidang Regional FAO untuk Asia dan Pasifik ke-16 di Jakarta dalam bulan Juni 1982. Sifat energi
terbarukan selalu berkaitan, baik langsung maupun tidak, dengan alam hayati masa kini. Program
Nairobi merupakan awal pengembangan budidaya organik.

Beberapa tahun sebelumnya East-West Center di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat, telah mengaji
dan mengembangkan suatu sistem merasionalkan pemupukan yang berintikan penghematan
penggunaan pupuk buatan kimia yang berkadar energi fosil tinggi. Upaya ini dikerjakan bersama
dengan sejumlah negara Asia dan Pasifik, termasuk Indonesia (Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas
Pertanian UGM). Kegiatan ini dijalankan dengan proyek I.N.P.U.T.S. (Increasing Productivity Under
Tight Supplies), yang dimulai pada tahun 1974 dan berakhir pada tahun 1979.
Dalam gambarannya mengenai pertanian pada abad ke-21, Wittwer (1983) meramalkan bahwa
teknologi produksi pangan akan bergeser dari teknologi bermekanisasi berat yang menggunakan
lahan, air dan energi secara intensif ke teknologi yang lebih berdasarkan biologi dan berkiblat ilmiah,
yang menghemat sumberdaya lahan, air dan energi. Teknologi tersebut pertama, yang sekarang
diterapkan terutama di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, Brasil dan Argentina,
mempunyai keunggulan dalam hal keluaran tiap pekerja usahatani tertinggi di dunia. Teknologi
tersebut kedua, yang dewasa ini pada umumnya dilaksanakan di Jepang, Taiwan, Cina dan Eropa
Barat, mempunyai keunggulan dalam hal hasil panen lebih tinggi tiap satuan luas lahan dan sering
juga disertai dengan indeks pertanaman (cropping index) yang lebih tinggi. Memang produktivitasnya
per pekerja usahatani tidak setinggi teknologi pertama. Dengan kata lain, dunia kita akan berpindah
dari ekonomi yang digerakkan oleh permintaan dengan pandangan ketidakterbatasan sumberdaya ke
suatu ekonomi yang berwawasan keterbatasan sumberdaya.

Dalam kaitannya dengan tanah, gambaran pertanian abad ke-21 mengisyaratkan upaya menyidik
kebutuhan keharaan optimum berbagai spesies tanaman dan merunut sumbangan flora dan fauna
tanah kepada penyediaan hara yang bersumber dalam atmosfer dan tanah. Mekanisme sistem hayati
yang berkomponen ganda dan kompetitif perlu ditelaah mendalam untuk mencapai produktivitas
optimum. Hal ini tidak lain daripada upaya mengembangkan budidaya organik atau IPNS dengan
pupuk organik dan pupuk hayati . Penggunaan jasad renik penambat nitrogen udara, baik yang hidup
bebas maupun yang hidup bersimbiosis dengan tanaman tingkat tinggi (legum), terbukti dapat
mengurangi banyak kebutuhan pupuk nitrogen buatan. Pendauran ulang sisa atau limbah hayati, baik
melalui pencernaan ternak yang menghasilkan kotoran ternak atau pupuk kandang, melalui
pengomposan yang menghasilkan kompos, maupun melalui perombakan biologi langsung dalam
tanah yang merupakan pupuk hijau, tidak sedikit mengurangi kebutuhan pupuk buatan, khususnya
pupuk N dan P.

Inokulasi mikorisa pada tanaman sangat meningkatkan daya akar menyerap hara, terutama P, dan air,
sehingga penggunaan hara dan air menjadi lebih hemat. Diperkirakan perlumbuhan mikorisa yang
baik memperluas permukaan serapan akar sampai 1000 kali. Dengan biakan jasad renik pelarut fosfat,
pupuk fosfat buatan yang mahal (TSP) dapat disulih dengan pupuk fosfat alam yang murah dan awet
dalam tanah. Menyulih TSP dengan fosfat alam di tanah yang kaya akan oksida dan hidroksida Fe dan
Al (tanah merah tropika) meningkatkan efektivitas pemupukan P.

Penggunaan pupuk organik atau mulsa menjadi prasyarat bagi penerapan pengolahan tanah terbatas
atau nihil. Bahan-bahan tersebut juga berperan penting dalam konservasi tanah dan air. Konservasi air
dalam tanah berarti mengurangi kebutuhan akan air irigasi, dan hal ini pada gilirannya membatasi
keperluan membangun bendung (weir) atau waduk, atau memasang pompa untuk menaikkan air
sungai atau air tanah. Sistem konservasi air yang baik, yang menyatu dengan sistem budidaya
pertanaman, akan mendorong perkembangan pertanian tadah hujan.

Pertanian tadah hujan memanfaatkan energi alam gravitasi untuk menyampaikan air dari atmosfer
langsung kepada petak pertanaman. Ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari sistem pertanian
tadah hujan. Keuntungan pertama ialah tidak ada kehilangan lahan produksi karena ditempati oleh
waduk dan jaringan saluran penyalur dan pembagi air sebagaimana halnya pada sistem pertanian
beririgasi. Fakta di Indonesia menunjukkan bahwa untuk mengairi lahan sawah seluas 20-25 ribu ha
diperlukan lahan seluas tidak kurang daripada 10 ribu ha yang harus dikorbankan untuk menempatkan
waduk dan jaringan saluran penyalur dan pembagi air mulai dari tingkat primer sampai dengan tingkat
kuarter. Keuntungan kedua ialah tidak ada kerugian air yang hilang dalam simpanan di dalam waduk
karena penguapan yang dipacu oleh bentangan permukaan air bebas yang luas dan diam yang
menyebabkan suhu air dapat naik lebih tinggi, dan tidak ada air yang hilang merembes liwat dinding
dan dasar saluran penyalur dan pembagi air. Kehilangan air sebanyak 30% boleh dibilang umum
terjadi di jaringan saluran tersier pada lahan pantai di Jawa.

Hujan merupakan sumber air paling murah. Di daerah dengan curah hujan tahunan purata di atas 1200
mm dapat diusahakan pertanaman semusim tadah hujan dengan potensi produksi setaraf dengan yang
beririgasi (Roy & Arora, 1973). Masalahnya ialah bagaimana menangkap air hujan sebaik-baiknya,
mengalihrupakannya secara efektif menjadi lengas tanah yang berguna bagi tanaman, mengawetkan
lengas tanah sehingga dapat memenuhi kebutuhan tanaman sampai hujan berikutnya jatuh, dan
bilamana perlu membuang kelebihan air secara aman tanpa menimbulkan erosi tanah dan pelindian
hara (leaching of nutrients) yang melampui batas terbolehkan (permissible limit). Di sinilah peranan
ilmu tanah menonjol. Ilmu tanah tidak pernah menganjurkan irigasi penuh, kecuali di daerah-daerah
yang beriklim terlalu kering selama seluruh musim tanam. Penggunaan sumber air permukaan dan air
tanah untuk irigasi suplemental adalah cara pengelolaan sumber terbaik. Dalam cara itu sudah
dipertimbangkan pengawetan sumber air dan pemerataan beban penggunaan antar berbagai sumber
air.

Kalau diperlukan irigasi atau pengatusan, penggunaan energi gravitasi jauh lebih baik daripada
menggunakan pompa yang memakan banyak energi komersial. Apalagi kalau pompa dijalankan
dengan energi listrik yang dikonversikan dari energi fosil minyak. Efisiensi konversinya pada
lazimnya tidak lebih daripada 35%. Kebutuhan energi komersial untuk irigasi atau pengatusan dapat
ditekan serendah-rendahnya apabila listrik yang digunakan menjalankan pompa berasal dari PLTA
atau yang dibangkitkan secara fotovoltaik.

Irigasi di daerah langka hujan perlu disertai kewaspadaan terhadap kemungkinan penggaraman tanah.
Karena penguapan kuat, lambat laun terjadi pemekatan garam yang terlarut dalam air, yang kemudian
mengendap dan melonggok dalam tanah. Tanah yang semula normal berubah menjadi tanah garaman.
Apabila pelonggokan garam mencapai kadar gawat, tidak ada lagi tanaman yang dapat tumbuh,
kecuali yang sangat tahan garam, misalnya pohon korma, bayam dan kapas, atau tumbuhan halofita
liar. Makin kering iklimnya, berarti makin besar evaporasinya daripada curah hujannya, makin tinggi
kadar garam terlarutkan dalam air irigasi, dan/atau makin lambat permeabilitas tubuh tanah, bahaya
penggalarnan tanah karena irigasi makin besar. Kejadian semacam inilah yang telah menghancurkan
pertanian yang semula sangat subur di lembah sungai Eufrat - Tigris pada jaman kerajaan
Mesopotamia yang sekarang menjadi negara Irak. Pengetahuan tentang kimiawi air irigasi, laju
evaporasi, reaksi pertukaran ion antara larutan tanah dan kompleks jerapan tanah, serta laju perkolasi
air sepanjang tubuh tanah, diperlukan secara mutlak bagi perencanaan irigasi di daerah iklim kering.

Ilmu tanah berkepentingan dengan peningkatan efektivitas penggunaan energi pancar matahari untuk
fotosintesis sehubungan dengan peningkatan penghasilan biomassa nabati. Peningkatan produksi
biomassa nabati diperlukan untuk memperbanyak sisa pertanaman yang dapat didaurkan ulang
sebagai pupuk organik atau mulsa untuk memperbaiki produktivitas tanah, atau mempertahankan
kebaikannya, dan menyehatkan ekosistem tanah. Menyehatkan ekosistem tanah, disamping
diperlukan sehubungan dengan memantapkan produktivitas tanah dan meningkatkan efektivitas
pupuk, juga berguna menekan penyakit lewat tanah (soil-borne diseases) yang menyerang akar dan
pangkal batang tanaman (Lynch, 1983; Christensen, 1987). Maka ilmu tanah dapat berbicara banyak
dalam merancang pola tanam dan sistem pertanaman dengan agronomi. Dengan konsep penyehatan
tanah, ilmu tanah dapat membantu upaya menghemat pestisida, yang berarti menghemat energi fosil
atau energi komersial dan menekan bahaya pencemaran atas perairan.

Dengan sifat-sifat fisik, kimia dan biologinya, suatu hamparan tanah dapat digunakan membersihkan
limbah industri dan permukiman dari bahan atau zat pencemar. Dengan struktur yang dimilikinya,
tanah dapat menyaring bahan pencemar yang tersuspensi dalam limbah cair. Dengan kemampuan
menukar ion pada mineral lempung dan bahan humus yang dikandungnya, tanah dapat menyerap zat
pencemar berupa ion yang terlarut dalam limbah cair. Dengan populasi jasad renik pengurai yang
hidup di dalamnya, tanah dapat menguraikan senyawa organik pencemar menjadi senyawa organik
sederhana atau senyawa mineral yang tidak berbahaya. Dengan demikian ilmu tanah dapat
menyumbang kepada rekayasa sanitasi lingkungan.

Orang yang pernah berkendaraan mobil meliwati perbukitan napal (marl) atau gamping yang bertanah
hitam, tentu merasakan ayunan khas bagaikan naik kapal. Hal itu disebabkan karena tanah semacam
itu (vertisol) mempunyai konsistensi yang amat goyah berkenaan dengan kandungan mineral lempung
montmorilonit yang merajai. Sewaktu basah tanah ini mudah membengkak, melunak dan menjadi
sangat liat, sedang sewaktu kering mudah mengerut, meretak lebar dan menjadi sangat keras. Oleh
tekanan beban tanah yang basah cenderung melongsor, dan tanah yang kering cenderung gugur masuk
ke dalam retakan-retakan. Maka karena pengaruh perubahan kelembaban musiman permukaan tanah
vertisol menjadi bergelombang, atau disebut mempunyai timbulan mikro (microrelief) gilgai. Dengan
teknologi perangai tanah ini dapat dikendalikan. Perubahan kadar lengas dalam tanah dicegah jangan
sampai terlalu besar agar supaya konsistensi tanah lebih mantap, atau struktur tanah dimantapkan
dengan bahan pembenah tanah (soil conditioner) sehingga konsistensi tanah tidak mudah berubah
karena perubahan kadar air. Berdasarkan peta tanah rencana jalur jalan raya dapat dibuat menghindari
daerah bertanah vertisol, atau bilamana tidak mungkin menghindarinya dapat menetapkan ruas jalan
mana dan berapa panjangnya yang memerlukan konstruksi khusus. Jadi, peta tanah yang semula
dibuat untuk keperluan pertanian, dapat dimanfaatkan untuk rekayasa jalan raya.

Laporan penyigian tanah (soil survey) dan peta tanah bermanfaat pula untuk menyusun rencana tata
permukiman dan peruntukan kawasan industri. Misalnya, sanitasi lingkungan tempat tinggal perlu
menetapkan berapa jarak aman menurut ukuran kesehatan antara sumur rumah tangga dan comber
(septic tank), berapa besar ukuran comber yang efektif, atau berapa ukuran dan kerataan sumur
resapan yang diperlukan untuk mempertahankan kelancaran pengatusan dan pengisian cadangan air
tanah. Hal-hal itu tergantung pada daya resap tanah atau daya antar airnya ke arah samping dan ke
arah bawah, baik dalam keadaan tak jenuh maupun dalam keadaan jenuh.

Peta tanah berisi petunjuk jalur dan jeluk (depth) penanaman jaringan pipa penyalur minyak atau air
untuk menghindari atau sekurang-kurangnya membatasi kerusakan pipa karena korosi oleh tanah
masam sulfidik atau sulfurik, atau keretakan karena tekanan tanah vertik yang membengkak dan
mengerut kuat sejalan dengan perubahan kadar air musiman. Korosi pipa penyalur minyak menjadi
persoalan berat di daerah perminyakan Balikpapan karena sebagian jalur pipa meliwati tanah sulfat
masam.

Dengan peta tanah pemekaran kota dapat diatur sehingga tidak banyak menghabiskan tanah yang baik
untuk pertanian. Juga dapat memilih tapak (sites) yang tanahnya tidak mengandung persoalan
pengatusan yang berat. Peta tanah sebagai himpunan statistik tanah yang bermatra ruang diperlukan
dalam menyusun peraturan perundangan tentang lahan dan untuk melandasi petunjuk pelaksanaanya
agar mencerminkan kekhususan kedaerahan. Informasi tanah yang terdapat dalam laporan penyigian
tanah atau yang teringkas pada peta tanah dapat dimanfaatkan untuk mengadilkan penetapan pajak
bumi. Berdasarkan informasi itu taksiran nilai tanah atau tingkat pengembangan lahan (land
development) yang telah dicapai dapat dibuat secara lebih terandalkan (Bartelli et al., 1966).

Perkembangan Masa Depan Penelitian Ilmu Tanah

Perjalanan waktu dengan dampak dramatik telah memaksa ilmu tanah memperbaharui paradigmanya.
Urusan ilmu tanah berubah dengan laju cepat. Perkembangan teknik percobaan dan peralatan
mendorong pengkajian ulang persoalan lama dan diperoleh pemahaman baru. Khususnya penggunaan
acuan matematik telah memaksa terjadinya banyak perubahan. Ilmu tanah sekarang kurang berkiblat
disiplin. Dulu batasan antar bagian ilmu tanah jelas dan ilmu tanah semata-mata merupakan bidang
kerja para pakar tanah. Sekarang bagian-bagian ilmu tanah cenderung berbaur, saling mengisi dan
saling mendukung, dan penyelesaian persoalan tanah tertentu memerlukan kegiatan bersama antara
pakar tanah dan pakar lain. Misalnya, dalam kajian mengenai perilaku akar dalam tanah dan interaksi
tanah-tanaman-atmosfer diperlukan kerjasama dengan pakar fisiologi tumbuhan. Dalam hal evaluasi
penerapan organisme yang direkayasa secara genetik pada tanah diperlukan kerjasama dengan pakar
mikrobiologi. Muncul pula pertanyaan, apakah kepakaran lain tersebut dapat dikembangkan di
kalangan para pakar tanah sendiri (Boersma, 1987). Pendek kata, penelitian ilmu tanah masa depan
bersifat serbacakup dengan konsep holistik.

Apa pun tujuan akhir suatu kajian tanah, penyelesaian analitik memegang peran penting karena
hasilnya menjadi dasar perencanaan dan pelaksanaan percobaan laboratorium dan lapangan atau
pengujian acuan numerik (Parlange et al., 1987). Ini berarti bahwa penelitian ilmu tanah masa depan
makin memerlukan kecakapan mengolah ilmu dasar, seperti fisika, ilmu kimia, biologi dan
matematika.
Dalam hal fisika tanah persoalan yang tetap penting ialah pengangkutan air dan larutan dalam tanah,
mekanisme fisik dan kimia tanah yang berdaya pengaruh atas pengangkutan tersebut, khususnya yang
berlangsung pada aras mikroskopik untuk dapat menjelaskan gejala yang diurusi pada aras
makroskopik, dan pendalaman tentang makna agihan besar butir (particle-size distributions) dalam
memberikan informasi penting tentang sifat lengas tanah (Parlange et al., 1987; Wierenga, 1987).
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa dinamika dan statika air dalam tanah menjadi masalah yang
menduduki tempat penting dalam penelitian fisika tanah pada masadepan. Hal ini tidak saja
menonjolkan kepentingan tanah dalam menyediakan air bagi masyarakat nabati pada umumnya dan
bagi pertanaman (crops) pada khususnya, akan tetapi juga menonjolkan kepentingan tanah dalam daur
hidrologi.

Pembukaan lahan alami menjadi lahan binaan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan penyediaan
tempat tinggal penduduk, serta konversi penggunaan lahan dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain,
dapat diramalkan akan melaju semakin cepat. Sehubungan dengan ini masalah pengusikan tanah yang
mengarah ke erosi tanah, longsoran lahan (landslide) dan pemampatan tanah (soil compaction) akan
tetap menjadi bahan penelitian fisika tanah penting, bahkan bertambah penting, pada masa
mendatang. Menurut McCoy (1987) pemampatan tanah merupakan persoalan pertanian utama yang
kegawatannya meningkat berkenaan dengan perluasan mekanisasi, penggunaan mesin dan alat yang
makin besar dan berat, pengolahan tanah yang makin intensif, dan penjadwalan pekerjaan lapangan
yang buruk berkenaan dengan kandungan air kritik dalam tanah yang berkaitan dengan cuaca atau
musim basah.

Penjadwalan yang buruk dapat terjadi karena mengejar intensitas pertanaman (cropping intensity)
yang tinggi. Dalam hal pembukaan lahan baru penjadwalan yang buruk sering berkenaan dengan
pengejaran sasaran luas pembukaan yang harus dicapai dalam suatu jangka waktu tertentu,
sebagaimana terjadi pada pembukaan lahan untuk transmigrasi di Indonesia.

Pemampatan tanah berakibat buruk atas hasil panen pertanaman, terutama karena perubahan yang
terjadi dalam lingkungan akar tanaman. Penyingkiran persoalan pemampatan tanah dapat diusahakan
lewat pengertian yang lebih baik mengenai mekanisme tanggapan pertanaman terhadap pemampatan
pada aras antar muka (interface level) akar dengan tanah. (McCoy, 1987).

Umat manusia menghadapi tantangan penyelamatan lingkungan hidup dan konservasi sumberdaya
alam yang makin kuat. Ilmu kimia tanah dan mikrobiologi tanah berpotensi besar membantu
mencarikan jawaban atas tantangan itu. Jawabannya diusahakan lewat berbagai jalan, antara lain
membatasi penggunaan pupuk buatan, mendaurulangkan sisa pertanaman dan limbah organik,
menerapkan bioteknologi tanah dalam produksi pertanian, termasuk penyehatan ekosistem tanah dan
penggunaan pupuk hayati (biofertilizers), dan memanfaatkan kemampuan tanah berfungsi sebagai
piranti sanitasi.

Berkenaan dengan hal-hal tadi penelitian tanah pada masa mendatang perlu diarahkan ke
pengembangan pengetahuan tentang kinetika proses kimia dan biologi tanah. Kinetika proses yang
khusus masih perlu didalami ialah yang menyangkut mekanisme reaksi adsorpsi - desorpsi di
permukaan bahan penyusun tanah, dinamika pelarutan dan pengendapan. mineral dalam tanah,
kerjasama kimiawi permukaan bahan mineral dengan bahan organik dalam reaksi katalisis, proses
pendauran hara secara hayati, dan interaksi tanaman - mikrobia di dalam risosfer (Elliott &
Fredrickson,1987; Mortland,1987; Sparks,1987; Stevenson, 1987).

Pada waktu ini bioteknologi tanah baru berada pada awal perkembangannya. Prospeknya sangat
cerah, baik dilihat dari segi penyuburan tanah, penyehatan ekosistem tanah dalam arti menekam
populasi jasad patogen tanaman dan jasad pemukim akar yang menghambat pertumbuhan akar
(inhibitory root colonizers), maupun dari segi pembersihan tanah yang tercemar (Elliott &
Fredrickson, 1987; Focht, 1987; Stevenson, 1987). Banyak hal masih perlu diketahui dan didalami
sebelum bioteknologi tanah dapat diterapkan secara berhasil. Untuk ini diperlukan penelitian yang
mendalam mengenai ekologi mikrobia tanah (Schmidt, 1987) dan biokimia tanah, termasuk kinetika
biodegradasi sehubungan dengan genetika dan evolusi jasad (Focht, 1987; Stevenson, 1987). Inilah
masalah- masalah yang menantang untuk diteliti pada masa mendatang.

Di bidang kesuburan tanah masih tetap dihadapi persoalan pengelolaan dan penyuburan tanah untuk
mencapai hasil panen maksimum menurut ekonomi secara berkelanjutan. Maka rekomendasi pupuk
dan pemupukan pada masa mendatang diberikan berdasarkan evaluasi dampak lingkungan dan
ekonomi potensial. Karena banyak faktor yang harus diperhitungkan bersama-sama, teknologi
komputer dan teknik analisis sistem menjadi alat pokok bagi seorang pakar kesuburan tanah. Sistem
uji tanah perlu dikembangkan untuk dapat menghasilkan informasi terandalkan dan dapat lebih mudah
dinasabahkan (related) dengan cuaca atau musim, ketersediaan air bagi pertanaman, sistem
pengolahan tanah, varietas tanaman, jarak tanam, dan pergiliran pertanaman. Kesuburan tanah tidak
lagi difahami menurut konsep Liebig, Mitscherlich- Baule-Spillman, atau konsep kimiawi-fisiologi
sederhana yang lain (Halvorson & Murphy, 1987; Westerman & Tucker, 1987). Penelitian kesuburan
tanah menyangkut banyak parameter dan hasilpanen suatu pertanaman ditentukan oleh seperangkat
faktor abiotik - biotik - agronomi - rekayasa yang berinteraksi secara rumit.

Kajian pengelolaan hara perlu memperhatikan ekologi patogen tanaman lewat tanah (soilborne) agar
jangan sampai justru mengaktifkannya, syukur dapat menekan daya serangnya (Christensen, 1987),
dan memperhatikan sistem perakaran tanaman dan nasabah akar - trubus (root - shoot relationship)
untuk memperoleh kesudahan yang lebih memuaskan (Grunes, et al., 1987).

Kegaraman dan kemasaman tanah tetap menjadi pumpun (focus) perhatian dalam masalah kesuburan
tanah. Untuk dapat meneliti secara cermat interaksi kegaraman tanah dengan keluaran tanaman
diperlukan sekali acuan fisiologi serbacakup (comprehensive physiological model) yang memerikan
(describe) mekanisme ketenggangan (tolerance) garam dalam tanaman. Dalam hal kemasaman tanah
diperlukan pengetahuan tentang peran bahan organik, asam organik, dan dandanan (make-up)
mineralogi tanah atas kegiatan A1 dan kadarnya dalam larutan tanah serta kejenuhannya pada
kompleks pertukaran. Kimiawi A1 yang rumit perlu difahami secara baik (Adams & Doerge, 1987).

Dalam upaya pemahaman hakekat unsur-unsur logam peracun tumbuhan, muncul konsep
antimetabolit. Suatu logam beracun yang dalam Daftar Periodik Unsur berada dalam golongan yang
sama dengan suatu unsur hara penting dapat menjadi antimetabolit unsur hara tersebut. Apabila suatu
antimetabolit beracun menyulih kedudukan unsur hara dalam suatu ensim atau proses yang
memerlukan unsur hara tersebut, dapat diharapkan terjadi penghalangan metabolisme. Misalnya Al
menyulih B, As menyulih P, Se menyulih S, dan Cd menyulih Zn (Blevins, 1987). Dengan konsep
antimetabolit perkara kesuburan dan cekaman (stress) kimiawi tanah beroleh latar belakang biokimia
tumbuhan yang kuat.

Pedogenesis merupakan salah satu gatra (aspect) pokok tanah yang menelaah sejarah pembentukan
dan perkembangan tanah serta latar belakang produktivitas tanah. Kini makin banyak orang mengakui
kepentingan pengetahuan tentang pedogenesis dan paleosol (tanahpurba) untuk penelitian arkeologi,
geomorfologi, dan geologi kuarter (a.l. Tedrow, 1973; Ugolini & Schlichte, 1973; Zorm, 1973;
Limbrey, 1975; Foss & Collins, 1987).

Tanah ikut dalam interaksi yang berlangsung antar komponen lingkungan sehingga banyak perubahan
dalam lingkungan meninggalkan jejak pada tanah. Sehubungan dengan ini pertanyaan mendasar yang
diajukan dewasa ini ialah "bagaimana tanah alamiah bereaksi terhadap perubahan-perubahan dalam
lingkungan yang diimbas (induced) oleh manusia?" Pengetahuan tentang pedogenesis dapat
mencarikan jawabannya dan dengan demikian dapat membantu merancang pengelolaan lingkungan
(Bryant & Olson, 1987).

Informasi tanah diperlukan oleh kalangan yang makin luas, tidak hanya terbatas oleh kalangan
pertanian dan yang berkaitan dengan pertanian atau tanaman. Untuk keperluan konstruksi diperlukan
informasi tanah. Misalnya untuk merancang fondasi bangunan, untuk membatasi kebocoran saluran
pembekal air pertanian, rumahtangga atau industri, atau pembuang limbah cair, dan untuk
menghindari tanah yang berdaya korosi kuat atas bagian konstruksi yang ditanam dalam tanah, atau
untuk menetapkan di tempat mana bagian konstruksi perlu dilindungi dengan bahan tahan korosi
kalau tanah semacam itu terpaksa tidak dapat dihindari. Pipa penyalur minyak yang terpaksa melewati
tanah sulfat masam menghadapi persoalan korosi berat, misalnya di daerah Balikpapan.

Semua informasi tanah yang diperlukan oleh berbagai kalangan perlu diperhatikan dalam menyigi
tanah (soil survey) agar peta tanah yang dihasilkan menjadi sistem informasi tanah serbaguna.
Tantangan yang dihadapi ilmu tanah pada masa mendatang ialah membuat dirinya berguna bagi
berbagai pihak, tidak hanya untuk pertanian saja. Maka diperlukan pembaharuan sistem informasi
tanah (SIT). Peta tanah merupakan SIT yang sudah lama dikenal baik oleh masyarakat. Namun untuk
menyajikan informasi tanah serbaguna kemampuan peta tanah terbatas. Data yang telah diolah
menjadi suatu peta tidak siap untuk diolah ulang untuk menghasilkan informasi lain. Maka di samping
peta tanah perlu dikembangkan SIT terkomputer yang tidak saja melancarkan pemasukan dan
pengambilan kembali (retrieval) data, akan tetapi juga memperbanyak data yang dapat dimasukkan
dan parameter yang dapat dicakup, dan memungkinkan mengolah ulang data untuk memperoleh
informasi lain.

Dengan mengganti asas Linnean (skala biner atau dikotomi) dengan asas numerikal (skala nominal,
pencirian "multistate", analisis "cluster" atau analisis diskriminan ganda), klasifikasi tanah menjadi
jauh lebih gayut (relevant) dengan hakekat tanah. Hal ini pada gilirannya meningkatkan sekali harkat
peta tanah sebagai sumber informasi. Penggunaan asas matematika ini tidak saja melancarkan
klasifikasi tanah (memilahkan tanah menjadi berbagai kelas), akan tetapi juga memudahkan alokasi
atau identifikasi tanah (memasukkan tanah dalam kelas-kelas yang sesuai).

Akhir-akhir ini pemetaan tanah juga mengalami kemajuan yang sangat berarti dengan penerapan
geostatistik. Dengan cara ini penggarisan batas satuan peta tanah menjadi lebih terandalkan. Semula
keragaman tanah dalam ruang dianggap rambang (random) karena perubahan sifat tanah ke arah
lateral tidak dapat dipertalikan (related) dengan sebab yang terkenali. Dengan pengetahuan yang lebih
mendalam tentang tanah sebagai sistem terungkaplah bahwa sebagian keragaman rambang temyata
merupakan keragaman sistematis. Ini berarti bahwa perubahan sifat tanah dapat dikaitkan dengan
sebab yang terkenali. Keragaman berskala besar tidak menimbulkan kesulitan dalam pengamatan,
pengukuran, dan pengenalan sebab yang menimbulkan (timbulan, bahan induk, hidrologi, dan
sebagainya). Maka penentuan batas antar satuan peta tanah dapat mudah dikerjakan secara interpolasi.
Akan tetapi keragaman berskala kecil, karena sulit diamati, diukur secara cermat dan ditentukan
sebab-sebab yang menimbulkannya, sering memberikan kesan sebagai galat rambang (random error)
dalam pengamatan, sehingga lepas dari perhatian sebagai tanda perubahan satuan peta tanah. Padahal
keragaman tersebut sebenarnya merupakan keragaman sistematis. Akibatnya, pemilahan satuan peta
tanah menjadi tidak cermat.

Statistik biasa tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan keragaman
sistematis, karena selalu berpangkal pada hipotesis nihil (null hypothesis) yang keragaman harga
variabel dalam suatu populasi dianggap timbul secara rambang. Geostatistik menggunakan teori
otokorelasi dan semi-varian untuk memerikan (describe) perubahan harga variabel medan menurut
jarak. Konsep yang mendasarinya ialah bahwa suatu harga variabel merupakan akibat kedudukan titik
pengamatan dalam bentanglahan (landscape) dan kaitannya dengan titik-titik pengamatan
tetangganya. Diasumsikan bahwa pengamatan jarak dekat menghasilkan harga variabel yang lebih
mirip satu dengan yang lain daripada yang berjarak lebih jauh. Dalam analisis keragaman dalam ruang
geostatistik berguna untuk menginterpolasi harga variabel secara optimum di tempat-tempat yang
tidak diamati.

Konseptualisasi Ilmu Tanah

Agar mampu melayani kepentingan berbagai kalangan, ilmu tanah perlu mencari paradigma baru.
Dengan pembaharuan paradigma, ilmu tanah tidak lagi semata-mata menjadi bagian ilmu-ilmu
pertanian. Pelayanannya kepada ilmu- ilmu pertanian hanyalah salah satu tugasnya. Ilmu tanah
menjadi bagian ilmu- ilmu kebumian (earth sciences) bersama dengan geofisika, geomorfologi,
stratigrafi, paleontologi, mineralogi, petrologi, sedimentologi, volkanologi, meteorologi, klimatologi,
hidrologi, hidrografi, dan oseanografi.

Ada tiga faktor yang menyebabkan ilmu tanah berkembang pesat sejak kira- kira pertengahan abad
ke-20 ini, baik dalam hal hakekatnya sebagai ilmu maupun dalam hal kegunaannya bagi masyarakat
luas. Faktor pertama ialah masukan hukum, teori dan tata kerja (termasuk peralatan) ilmu-ilmu dasar
secara efektif, seperti fisika, ilmu kimia, biologi dan matematika. Faktor kedua ialah pengakuan
universal hakekat tanah sebagai sumber daya alam terbarukan. Faktor ketiga adalah kemajuan yang
sangat berarti dalam klasifikasi tanah, penghimpunan informasi tentang tanah sebagai bagian dari
sistem informasi geografi (SIG), dan pemetaan tanah dengan teknik penginderaan jauh.

Peranan faktor pertama sangat berarti yang menyebabkan ilmu tanah memperoleh kesanggupan besar
menelaah secara mendalam berbagai persoalan tanah dan yang berkaitan dengan tanah. Salah satu
penemuan yang menonjol ialah bahwa kebanyakan tanah tropika menghendaki asas pengelolaan yang
berbeda dengan yang dikembangkan berdasarkan teori dan pengalaman yang diperoleh di kawasan
iklim sedang. Kebanyakan tanah tropika dirajai oleh mineral lempung bermuatan rendah, karena itu
beraktivitas rendah (low activity clay, LAC), dan bermuatan terubahkan (variable charge), yang
tingkat dan tanda muatannya bergantung pada pH. Tanah kawasan iklim sedang tersusun atas lempung
bermuatan sedang sampai tinggi dan tetap (permanent charge). Konsekuensi dalam pengelolaan tanah
antara lain pengapuran yang menjadi salah satu teknologi unggulan memperbaiki produktivitas tanah-
tanah masam di negara beriklim sedang tidak dapat diterapkan begitu saja di negara beriklim tropika.
Matematika mencermatkan daya kerja ilmu tanah, termasuk perancangan klasifikasi dan sistem
informasi tanah serta pelaksanaan pemetaan tanah (de Gruijter, 1977; Webster, 1979). Kemajuan
dalam ilmu tanah meningkatkan kesanggupannya melayani masyarakat dengan informasi yang lebih
terandalkan.

Pengakuan universal hakekat tanah sebagai sumberdaya alam terbarukan menyebabkan pengetahuan
tentang tanah tidak mungkin diabaikan dalam merancang pembangunan dan pengembangan wilayah.
Tanah sebagai hakiki wilayah dan pengetahuan dapat mengisi kebulatan kebijakan tataguna lahan. Di
samping sebagai sumberdaya alam terbarukan dan ekosistem, tanah secara timbal balik menentukan
nilai guna sumberdaya alam yang lain, yang bersama dengan tanah membentuk kesatuan lahan.

Dari pemahaman faktor-faktor pemacu kemajuan ilmu tanah dan arah perkembangan ilmu tanah, baik
yang sudah tampak maupun teramalkan, timbul sejumlah konsekuensi penting sekali atas perancang-
bangunan pendidikan berupa kurikulum dan pelaksanaan pengajaran ilmu tanah di perguruan tinggi.
Kurikulum ilmu tanah perlu disusun dan pengajarannya perlu dilaksanakan dengan mengingat hal-hal
berikut ini.
Ilmu dasar berupa fisika, ilmu kimia, biologi dan matematika diberi bobot memadai didalam
kurikulum.
Hakekat tanah sebagai suatu sistem bermatra ruang dan waktu difahamkan secara jelas di dalam
mengajarkan ilmu tanah. Ini berarti setiap sifat, perilaku dan gejala tanah harus didudukkan sebagai
fungsi jeluk (depth), tempat dan waktu untuk mengembangkan cerapan (perception) mengenai tanah
sebagai suatu tubuh medan yang dinamis.
Tanah selalu menjalankan interaksi malar (continous) dengan tubuh medan dinamis yang lain, seperti
atsmosfer, biosfer, hidrosfer, dan litosfer, di dalam kerangka sistem yang disebut lahan. Dengan
demikian kemaujudan (existence) tanah dan harkatnya sebagai suatu sumberdaya serta terbaruannya
ditentukan oleh watak interaksi tersebut dan sistem pengelolaan lahan sebagai wahana interaksi.
Penanaman pengertian ini mempersyaratkan: Kurikulum ilmu tanah memuat mata ajaran
meteorologi, klimatologi, fenologi, ekologi tumbuhan, biologi tanah, hidrologi, geomorfologi, geologi
dan mineralogi.

Pengajaran ilmu tanah menggunakan hampiran geografi dan serba cakup (comprehensive).
Penguasaan analisis sistem dan teknik pengimakan (simulation) dengan menggunakan acuan
(rnodels). Penguasan ini dapat dibentuk lewat suatu mata ajaran khusus atau dengan cara
membahasnya sebagai suatu komponen mata ajaran ilmu tanah tertentu.
Memberikan bobot memadai kepada latihan lapangan.
Kegiatan ini memberikan latihan kepada para mahasiswa menggunakan bentang lahan (landscape)
sebagai acuan berskala sesungguhnya.

Memperluas ruang lingkup penerapan ilmu tanah, tidak hanya mencakup bidang pertanian saja,
akan tetapi mencakup bidang kekaryaan yang lain.
Sehubungan dengan ini pengajaran ilmu tanah membahas masalah tanah dari berbagai sudut, meliputi
pertanian dalam arti luas (termasuk kehutanan dan perikanan darat), rekayasa, tataruang untuk industri
dan permukiman, sanitasi lingkungan, geologi kuarter, arkeologi, dsb. Dengan demikian kesanggupan
pakar tanah diperluas sehingga dapat melayani kebutuhan berbagai disiplin akan pengetahuan tanah.

Klasifikasi dan pemetaan tanah, serta pemekarannya menjadi klasifikasi dan pemetaan kemampuan
dan kesesuaian lahan, merupakan saluran informasi dan sarana komunikasi yang penting sekali antara
ilmu tanah dan masyarakat. Maka pelatihannya menjadi bagian mutlak pendidikan ilmu tanah.

Peta tanah merupakan dokumen inventarisasi sumberdaya tanah yang sangat perlu, yang berisi
informasi tentang harkat aktual dan potensial tanah di setiap tempat. Peta tanah juga dapat digunakan
sebagai medium umpanbalik penting kepada penelitian tanah. Dengan peta tanah dapat diadakan
pentahkikan (verification) hipotesis proses pembentukan tanah atau peran faktor pembentuk tanah.

Sayang sekali kecakapan membaca peta tanah belum merata di kalangan para pejabat pembuat
kebijakan, pengawas pembangunan wilayah dan pelaksana kegiatan fisik pembangunan wilayah.
Mereka belum memahami hubungan antara skala peta dan jumlah serta rincian informasi tanah yang
dikandung satuan peta tanah. Akibatnya, ada yang menggunakan peta tanah melebihi batas
keterandalan informasi yang dikandungnya, artinya menggunakan suatu peta tanah berskala kecil
untuk suatu perancangan yang seharusnya menggunakan peta tanah berskala lebih besar. Sebaliknya,
ada yang menilai kadar informasi peta tanah berskala kecil dengan kriteria baku kadar informasi peta
tanah berskala besar. Akibatnya, mereka menilai peta tanah yang dimiliki tidak berguna untuk
rancangan pembangunan apa pun. Maka melatih membaca peta tanah masyarakat pengguna lahan dan
pihak-pihak yang terlibat atau bersangkutan dengan pembangunan wilayah menjadi salah satu acara
penting darma pengabdian kepada masyarakat. Acara semacam ini dapat dimasukkan dalam program
kuliah kerja nyata (KKN), sambil melatih mereka mengenali sumberdaya tanah sebagai suatu kimah
(asset) yang tersediakan di wilayah mereka.

Seorang pakar tanah yang tidak menguasai pengertian tentang hakekat ruang dan waktu dari gejala
tanah tidak memiliki konsep serbacakup yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan tanah yang
pada umumnya bersifat luas dan rumit. Orang tersebut cenderung terpancang pada suatu pandangan
yang memperlakukan gejala tanah sebagai suatu kenyataan yang berdiri sendiri, baik pada skala ruang
maupun pada skala waktu. Pandangan semacam ini melemahkan konseptualisasi persoalan tanah
secara makro. Padahal dalam pembangunan nasional diperlukan konsep makro terlebih dulu untuk
menyiapkan landasan yang kokoh bagi penerapan konsep mikro. Konsep mikro yang memperlakukan
gejala tanah sebagai sesuatu yang bersifat statis dan terisolasi dari pengaruh atau interaksi dengan
gejala tanah sekitarnya, diterapkan pada komponen pembangunan nasional berupa proyek individual.
Tanpa kerangka yang disiapkan dengan konsep makro, proyek individual akan berjalan sendiri
terlepas dari keteraturan sistem pembangunan. Bahkan proyek tersebut dapat saling berbenturan.
Dalam pembangunan jangka panjang tahap kedua (PJPT II) Indonesia masih memerlukan lebih
banyak pakar tanah yang berpandangan makro daripada yang berpandangan mikro. Kebutuhan ini
harus tercermin pada kurikulum, sistem pengajaran dan pengarahan penelitian ilmu tanah

Penelitian tanah, apa pun segi dan tujuannya, perlu menggunakan banjar faktor tahana (state factor
sequences) menurut tempat dan waktu sebagai kerangka telaah. Dengan kata lain, setiap hasil
penelitian harus dapat didudukkan pada suatu sistem lahan tertentu yang ditakrifkan (defined) jelas.
Sistem lahan tersebut dikenal dengan sebutan tapak tolok (benchmark site) dan penelitiannya menjadi
penelitian tolok (benchmark research). Hanya dengan demikian setiap hasil penelitian tanah dapat
menyumbang kepada inventarisasi sumberdaya tanah dan kepada kemajuan ilmu tanah yang pada
hakekatnya merupakan ilmu lapangan. Maka pengamatan, pengukuran dan percobaan lapangan
menjadi kegiatan pokok penelitian tanah, sedang kegiatan di laboratorium dan rumah kaca berfungsi
komplementer. Dengan penelitian yang dikerjakan semata-mata di laboratorium atau rumah kaca,
kerumitan (complexity) persoalan sesungguhnya tidak terungkapkan secara baik karena permainan
peluang tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Hasilnya memberikan gambaran yang sedikit-
banyak doyong (biased). Oleh karena selalu berurusan dengan persoalan yang bertingkat kerumitan
tinggi dan bergatra ganda maka setiap peneliti tanah diharapkan mahir bekerja dengan analisis sistem
dan teknik pengimakan.

Apabila pendapat tadi dapat kita terima maka timbul konsekuensi penting berupa pembaharuan
pengelolaan ilmu tanah. Yang pertama-tama kita perlukan ialah memberikan paradigma baru kepada
disiplin ilmu tanah, yang tidak semata-mata berurusan dengan pertanian. Ruang lingkup perhatian
ilmu tanah diperluas. Kemudian kita perlu memadukan semua bidang kajian tanah yang ada di
berbagai fakultas menjadi suatu forum ilmu tanah yang lebih produktif dan lebih terarah. Ilmu tanah
menjadi utuh sebagai sumber konsep dan asas penguraian masalah ketanahan dan kelahanan.

Misalnya, masalah irigasi dan pengatusan (drainage) dikembalikan kepada asasnya sebagai tindakan
hidromeliorasi lahan dan dengan demikian menjadi mata rantai daur hidrologi. Interaksi tanah dengan
air dan selanjutnya pengaruh timbal-balik hasil interaksi tersebut dengan kinerja pertanaman (crop
performance), dan akhimya berakibat atas perilaku hidrologi, menjadi konsep telaah. Irigasi dan
pengatusan bukan semata-mata soal rekayasa dan konstruksi. Penggunaan air konsumtif oleh
pertanaman, neraca air lahan, dinamika lengas tanah, pengawetan lengas tanah, dan transformasi fisik,
kimia dan biologi dalam tubuh tanah sehubungan dengan perubahan tata lengas, memberikan corak
utama pada pengajaran, penelitian dan pelayanan kepada masyarakat di bidang irigasi dan pengatusan.
Irigasi dan pengatusan menjadi subyek antar-disiplin, antara rekayasa dan ilmu tanah.

Pekerjaan konstruksi untuk pembangunan kawasan permukiman dan industri, jalur jalan raya, dan
sebangsanya tidak dapat diselesaikan hanya dengan bekal mekanika tanah. Bidang-bidang ilmu tanah
lain perlu dilibatkan, seperti fisika tanah sebagai induk mekanika tanah, kesuburan tanah dan
konservasi tanah. Pekerjaan semacam itu tidak mungkin mengabaikan keperluan akan adanya jalur
hijau dan taman, pengatusan, sanitasi lingkungan dan pencegahan erosi tanah. Maka di samping
pengetahuan tentang sifat mekanik tanah, diperlukan pula pengetahuan tentang antara lain histeresis
pergerakan air dalam tanah, pengangkutan larutan pada aras (level) mikroskopik, pengangkutan
senyawa organik, keragaman ruang gejala fisik tanah, ketersediaan hara dalam tanah, keadaan fisik
dan kimia tanah yang dapat mencekam pertumbuhan tanaman, proses pertukaran ion dalam tanah.
erodibilitas tanah, dan erosivitas huian.

Secara ringkas dapatlah dikatakan bahwa konseptualisasi tridarma ilmu tanah memerlukan dua
tindakan: (1) pembenahan asas pembinaan ilmu tanah, dan (2) penyesuaian struktur pengelolaannya
Kedua tindakan tersebut mengarah kepada pembaharuan kebijakan ilmu pengetahuan (science policy)
dan pembaharuan pengelolaan penelitian (research management) untuk ilmu tanah. Kurikulum, sistem
pengajaran dan organisasi akademik ilmu tanah perlu segera dibenahi untuk dapat mengantisipasi
kecenderungan perubahan paradigma ilmu tanah dan perluasan bidang kekaryaan ilmu tanah.

Sebagai bandingan, di Amerika Serikat berlaku suatu ketentuan bahwa untuk memperoleh surat
pengakuan resmi sebagai ahli tanah dari Soil Science Society of Amerika, seseorang wajib
menunjukkan tanda lulus mata ajaran fisika, biologi (termasuk botani), penyakit tanaman (mencakup
penyakit kekurangan hara), ilmu-ilmu kebumian, statistik dan ilmu komputer. Ini menandakan bahwa
ruang kerja ilmu tanah meluas dan karena itu sebagai ahli tanah perlu menguasai sejumlah ilmu
pelengkap bagi jaminan profesionalismenya. Di University of California, Davis, ilmu tanah berada
dalam kelompok "agriculture and environmental sciences". Di University of Arizona, ilmu tanah
berada dalam kelompok "agriculture and renewable natural resources".

Di Jepang, Korea dan negara-negara Asia pada umumnya, termasuk Indonesia, ilmu tanah secara
struktural berada dalam fakultas pertanian. Selama kedudukan struktural ini yang sesuai tradisi tidak
mengganggu implementasi pembaharuan konsep tridarma ilmu tanah, kedudukan tradisional tersebut
tidak perlu diubah. Untuk menjamin pelancaran implementasi pembaharuan konsep, barangkali ada
baiknya mendirikan suatu lembaga pengasuh ilmu kebumian yang ilmu tanah termasuk di dalamnya.
Di Universitas, lembaga termaksud dapat bersifat inter-universitas, semacam pusat antar universitas
(PAU), atau bersifat intra-universitas, semacam pusat studi (PS).

Kepustakaan

Adams, J.F., & Doerge, T.A. (1987). Soil salinity and acidity as factors in plant nutition. Dalam:
Future Developments in Soil Science Research. Madison: Soil Science Society of America (SSSA).
Bartelli, L.J., Klingebiel, A.A., Baird, J.V., & Heddleson, M.R. (1966). Soil surveys and land use
planning. Madison: SSSA and American Society of Agronomy (ASA).
Bennett, H.H. (1939). Soil conservation. New York: McGraw-Hill Book Co.
Birkeland, P.W. (1974). Pedology, weathering, andgeornorphological research. London: Oxford
University Press.
Blevins, D.G. (1987). Future developments in plant nutrition research. Dalam: Future Developments
in Soil Science Research. Madison: SSSA
Boersma, L. (1987). Foreword. Dalam: Future Developments in Soil Science Research. Madison:
SSSA
Bryant, R.B., & Olson, C.G. (1987). Soil genesis: opportunities and new directions for research.
Dalam: Future Developments in Soil Science Research. Madison: SSSA.
Buringh, P. (1979). Introduction to the study of soils in tropical and subtropical regions. Wageningen:
PUDOC.
Christensen, N.W. (1987). Nutrient management and ecology of soilborne plant pathogens. Dalam:
Future Development in Soil Science Research. Madison: SSSA.
De Gruijter, J.J. (1977). Numerical classification of soils and its application in survey. Wageningen:
PUDOC
Edelman, C.H. (1949). Sociale en economische bodemkunde. N.V. Noord Hollandsche Uitg. Mij.
El-Attar, H.A., & Jackson, M.L. (1973). Montmorillonitic soils developed in Nile River sediments.
Soil Science 116(3): 191-201.
Elliott, L.F., & Fredrickson, J.k;. (1987). Plant-microbe interactions in the rhizosphere. Dalam: Future
Developments in Soil Science Research. Madison: SSSA.
FAO (1991). Asian experiences in integrated plant nutrition. Bangkok: RPA Report 1991/7.
Focht, D.D. (1987). Ecological and evolutionary considerations on the metabolism of xenobiotic
chemicals in soils. Dalam: Future Developments in Soil Science Research. Madison: SSSA.
Foss, J.E., & Collins, M.E. (1987). Future users of soil genesis and morphology in allied sciences.
Dalam: Future developments in Soil Science Research. Madison: SSSA.
Gerassimov, I.P. (1973). Chernozems, buried soils, and loesses of the Russian Plain: their age and
genesis. Soil Science 116(3):202-210.
Gerrard, A.J. (1981). Soils and landforms. An integration of geomorphology and pedology. London:
George Allen & Unwin.
Greenland, D.J., ed. (1981). Characteriation of soils in relation to their classification and management
for crop production: examples from some areas of the humid tropics. Oxford: Clarendon Press.
Grunes, D.L., Rickman, R.W., & Klepper, B. (1987). Plant roots in relation to soil fertility. Dalam:
Future Developments in Soil Science Research. Madison: SSSA.
Halvorson, A.D., & Murphy, L.S. (1987). Interaction of soil fertility with other inputs in crop
production for maximum economic return. Dalam: Future Developments in Soil Science Research.
Madison: SSSA.
Jackson, M.L., Gillette, D.A., Danielsen, E.F., Blifford, I.H., Bryson, R.A., & Syers, J.K. (1973).
Global dustfall during the quaternary as related to environments. Soil Science 116(3):135-145.
Jenny, H. (1980). The soil resource, origin and behavior. Springer-Verlag. New York. Ecological
Studies 37.
Joffe, J.S. (1949). Pedology. New Brunswick: Pedology Publications.
Kellogg, C.E. (1966). Soil surveys for community planning. Dalam: L.J. Bartelli, A.A. Klingebiel,
J.V. Baird, & M.R. Heddleson (eds), Soil Surveys and Land Use Planning. Madison: SSSA & ASA.
Limbrey, S. (1975). Soil science and archaeology. London: Academi Press.
Lynch, J.M. (1983). Soil biotechnology. Oxford: Blackwell Scientific Publications.
McCoy, E.L (1987). Energy requirements for root penetration of compacted soil. Dalam: Future
Developments in Soil Science Research. Madison: SSSA
Miller, F.P. (1991). Soil science: should we change our paradigm? Agronomy News. October.
Mordand, M.M. (1987). Soil surface chemistry: history and preview. Dalam: Future Developments in
Soil Science Research. Madison: SSSA.
Mulcahy, M.J., & Churchward, H.M. (1973). Quaternary environments and soils in Australia. Soil
Science 116(3):156-169.
Notohadiprawiro, Tejoyuwono (1980). Suatu hampiran pedologi untuk mengkaji pendamparan
dataran Bonorowo di Kedu Selatan, Jawa Tengah.
• Kebanyakan tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral (kuarsa,
feldspar, mika, hornblende, kalsit, dan gipsum), meskipun ada yang berasal
dari tumbuhan (gambut/peat; Histosol)

• Tanah adalah material yang tidak padat yang terletak di permukaan bumi,
sebagai media untuk menumbuhkan tanaman (SSSA, Glossary of Soil
Science Term)
• Jenny, H (1941) dalam buku Factors of Soil Formation : tanah terbentuk dari
interaksi banyak faktor, dan yang terpenting adalah : bahan induk (parent
material); iklim (climate), organisme (organism)’; topografi (Relief); waktu
(time).
s = f (cl, o, r, p, t, ….
• Jika 1 faktor saja yang mempengaruhi sedang yang lain konstan, misal iklim
yang mempengaruhi pembentukan tanah maka fungsi tersebut dapat ditulis :
S atau s = f (cl) o,r,p,t,…..
• Climosequence : pembentukan tanah yang hanya dipengaruhi oleh faktor
iklim, sedang faktor yang lain konstan. Istilah yang sama untuk
Biosequences, toposequences, lithosequences, dan chronosequences.
• Tanah dapat terbentuk dari pelapukan batuan padat (in situ) atau merupakan
deposit dari material/partikel yang terbawa oleh air, angin, glasier (es), atau
gravitasi. Apabila material yang terbawa tersebut masuk ke lahan (land),
maka disebut landform.

Penamaan landform berdasar pada cara transport maupun bentuk akhir.


Contoh : Alluvial berasal dari aliran air; morain berasal dari gerakan es dan
membeku; dunes berasal dari gerakan angin thd pasir; colluvium berasal dari
gravitasi.
• Batuan akan terlapukkan secara fisik disebut : disintegrasi (disintegration),
maupun secara kimia disebut : dekomposisi (decomposition/decayed) dan
diubah menjadi material yang lebih halus. Secara fisik misalnya pengaruh
suhu, tekanan, akar tanaman. Secara kimia yang sangat berperan adalah
keberadaan air, misal hidrolisis, oksidasi, reduksi, dehidrasi, dll.
• Laju pelapukan tergantung pada : (1) temperatur; (2) laju air perkolasi; (3)
status oksidasi dari zona pelapukan; (4) luas permukaan bahan induk yang
terekspose; (5) jenis mineral.
• Mineral adalah substansi inorganik yang homogen dengan komposisi tertentu,
dan mempunyai ciri fisik berupa ukuran, warna, titik leleh, dan kekerasan.
Mineral dapat digolongkan sebagai mineral primer maupun mineral sekunder.
• Tipe batuan ada 3 yaitu : (1) batuan beku (igneous rock), (2) batuan
sedimen (sedimentary rock), (3) batuan metamorfosis (metamorphic
rock)
• Batuan beku berasal dari pemadatan magma yang membeku. Dibagi menjadi
batuan asam (acidic rock) : relatif tinggi kandungan kuarsa; mineral silikat
warna terang Ca atau K/Na dan batuan basa (basic rock) : rendah
kandungan kuarsa; kandungan mineral ferromagnesium warna gelap
(hornblende, mika, piroksin) tinggi
di sadur dari bahan kuliah DASAR-DASAR ilmu Tanah, Fakultas
Pertanian Universitas Universitas Andalas