Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I LAPORAN KASUS I.I. IDENTIFIKASI Nama Umur Jenis kelamin Berat badan Panjang badan Agama Alamat Kebangsaan MRS : M. Aldo Ramadhan : 3 tahun 10 bulan : Laki-laki : 12 kg : 105 cm : Islam : Jl. Murai 3 : Indonesia : 27 Juli 2012

1. 2. ANAMNESA (Alloanamnesa dengan ibu, tanggal 30 Juli 2012) Keluhan utama Keluhan tambahan : demam sejak 8 hari SMRS : perut terasa sakit dan tidak bisa BAB

Riwayat perjalanan penyakit Sejak 8 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh demam, demam dirasakan naik turun. Suhu naik terutama malam hari dan turun pada pagi hari, tetapi turun tidak pernah sampai normal, menggigil (-), batuk (-), pilek (-), mual (-), muntah (-), perut sakit (-), mimisan dan gusi berdarah (-). Sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh tidak BAB. BAK biasa. Pasien pernah berobat ke puskesmas dan diberi obat penurun

panas dan antibiotic tetapi tidak ada perubahan. Akhirnya pasien masuk RSUD BARI. Pasien menyangkal pernah bepergian keluar kota.

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga Tidak ada satu pun kelurga os yang mengalami keluhan seperti yang rasakan.

Riwayat kehamilan dan kelahiran Masa kehamilan : Cukup bulan, Kontrol kandungan teratur, riwayat minum alkohol dan jamu (-) Partus Ditolong oleh Panjang badan lahir Berat badan lahir Keadaan saat lahir : Spontan pervaginam : bidan : 47 cm : 2400 gr : Sehat

Riwayat makan dan minum Ibu penderita mengaku tidak memberikan ASI eksklusif sejak lahir Penderita mendapat susu formula sejak lahir sampai dengan sekarang Usia 2 bulan diberikan tambahan bubur susu Usia 5 bulan diberikan bubur tim Usia 6 bulan diberikan makanan lunak dan buah-buahan Usia 1 tahun anak telah makan nasi, lauk pauk, dan sayur-mayur

Kesan : gizi baik (kualitas dan kuantitas makanan cukup baik)

Riwayat Perkembangan Membalik : 3 bulan Tengkurap : 3 bulan Duduk : 5 bulan Merangkak : 7 bulan Berdiri : 16 bulan Berjalan : 18 bulan Tertawa : 5 bulan Berceloteh : 6 bulan Memanggil mama/papa : 9 bulan Kesan Perkembangan Sesuai Usia Riwayat Imunisasi BCG Hepatitis B Polio DPT Campak Kesan : 1x, usia 40 hari, scar (+) lengan kanan atas. :dilakukan.Kapan,dan berapa kali ibu lupa : dilakukan.Kapan,dan berapa kali ibu lupa : dilakukan.Kapan,dan berapa kali ibu lupa : dilakukan.Kapan,dan berapa kali ibu lupa : imunisasi dasar tidak dapat dievaluasi, dan ibu mengakui imunisasi dasar sudah lengkap dan selalu mengikuti jadwal imunisasi yang tertera pada KMS Riwayat sosial ekonomi Keadaan sosial. ekonomi. kebiasaan dan lingkungan Penderita tinggal dirumah permanen, beratap seng, dinding beton, lantai semen, terdiri dari 1 buah kamar tidur dihuni oleh 3 orang. Kamar mandi di dalam rumah, sumber air minum dari PAM, sumber penerangan listrik dan sampah dibuang di tempat pembuangan sampah.

1. 3. PEMERIKASAAN FISIK Keadaan Umum

Tampak sakit sedang Kesadaran Nadi Pernapasan Suhu Berat Badan Tinggi Badan : Kompos mentis : 124x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup : 38x/menit : 36,80C : 12 kg : 105 cm

Keadaan spesifik a. Kepala Bentuk Rambut Mata Hidung : oval, simetris : lurus, tidak mudah dicabut : konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-), edema palpebra (+) : nch(-), sekret (-) mukopurulen, mukosa hipermis (-), konka hipertropi (-) Telinga Mulut : sekret (-) : mukosa bibir kering (-), rhagaden (+), sianosis (-), coated tongue (+) Tenggorokan : faring hiperemis (-), tonsil T1/T1 tidak hiperemis Leher : pembesaran KGB (-)

b. Toraks Pulmo Inspeksi : simetris, retraksi (-) Palpasi Perkusi : stemfremitus kanan=kiri : sonor pada lapangan paru kanan dan kiri

Auskultasi: vesikuler (+)/(+), wheezing (-), ronchi (-) Jantung Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat Palpasi : iktus kordis tidak teraba

Perkusi

: batas jantung dalam batas normal

Auskultasi : bunyi jantung I/II normal, murmur (-), gallop (-).

c. Abdomen Inspeksi : datar Palpasi : lemas, hepar tidak teraba, lien tidak teraba, nyeri tekan

epigastrium (+) Perkusi : timpani

Auskultasi : bising usus (+) normal

d. Genital : tidak ada kelainan. e. Ekstremitas : akral hangat, sianosis (-), CRT<2 1.4. PEMERIKSAAN PENUNJANG Darah rutin Pemeriksaan HB Leukosit Trombosit Hitung Jenis Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit HT 0 1 1 64 30 1 33% 0-1% 1-3% 2-6% 50-70% 20-40% 2-8% 40-48% 22/06/2012 10,9 g/dl 5.900 398.000 Nilai Rujukan L: 14-16 g/dl L: 5000-10.000 L: 150.000- 400.000

Pemeriksaan widal thypus (o) : 1/320

1.5. RESUME Dari anamnesis didapatkan bahwa Sejak 8 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh demam, demam dirasakan naik turun. Suhu naik terutama malam hari dan turun pada pagi hari, tetapi turun tidak pernah sampai normal, menggigil (-), batuk (-), pilek (-), mual (-), muntah (-), perut sakit (-), mimisan dan gusi berdarah (-). Sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh tidak BAB. BAK biasa. Pasien pernah berobat ke puskesmas dan diberi obat penurun panas dan antibiotic tetapi tidak ada perubahan. Akhirnya pasien masuk RSUD BARI. Pasien menyangkal bepergian ke luar kota. Pemeriksaan fisik tampak sakit sedang suhu 36,8 C, rhagaden (+), coated tongue (+), nyeri epigastrium (+). Pemeriksaan lab widal thypus (o) : 1/320.

1. 6. DIAGNOSA BANDING 1. Demam Thypoid 2. DBD 3. Malaria

1.7. DIAGNOSA KERJA Demam Thypoid

1.8. PENATALAKSANAAN AWAL Bedrest sampai 7 hari bebas panas Diet: bubur saring sampai 7 hari bebas panas IVFD D5% gtt 11x/menit Kloramfenikol 4 x 300 mg (4 x II cth) Candistatin 1 x 1 ml

1. 9. PROGNOSA Quo ad vitam Quo ad fungsionam : bonam : bonam

1.10. Follow up Tanggal 28/07/2012 Pukul: 07.00 BB = 12 kg Ks: Kepala: Conjungtiva anemis (-), sklera ikerik(-), sianosis (-), rhagaden (+), coated tongue (+) Leher: TAK Thorak: Simetris, retraksi (-) P/ vesikuler (+), wh (-), rh (-), C/ BJ I/II reguler, m(-), gallop (-) Abdomen: datar, lemas, h/l ttb, bu (+) n Nyeri epigastrium Ekstremitas: akral hangat, CRT< 2 A : Demam Thypoid 29/07/2012 07.00 BB = 12 kg S : nyeri perut dan sariawan O : Ku: tampak sakit sedang, sens: CM P : 123X/m RR: 40x/m Ks: Kepala: Conjungtiva anemis (-), sklera ikerik(-), sianosis (-), rhagaden (+), coated tongue (+) Leher: TAK Thorak: Simetris, retraksi (-) P/ vesikuler (+), wh (-), rh (-), C/ BJ I/II reguler, m(-), gallop (-) T: 36,5 0C Bedrest sampai 7 hari bebas panas Diet: bubur saring sampai 7 hari bebas panas IVFD D5% gtt 11x/menit Kloramfenikol 4 x 300 mg (4 x II cth) Candistatin 1 x 1 ml Perjalanan Penyakit S : demam, nyeri perut O : Ku: tampak sakit sedang, sens: CM P : 127X/m RR: 40x/m T: 37, 9 0C Instruksi Dokter Bedrest sampai 7 hari bebas panas Diet: bubur saring sampai 7 hari bebas panas IVFD D5% gtt 11x/menit Kloramfenikol 4 x 300 mg (4 x II cth) Candistatin 1 x 1 ml

Abdomen: datar, lemas, h/l ttb, bu (+) n Nyeri epigastrium Ekstremitas: akral hangat, CRT< 2 A : Demam Thypoid 30/07/2012 07.00 BB = 11 kg S : nyeri perut dan sariawan O : Ku: tampak sakit sedang, sens: CM P : 128X/m RR: 42x/m Ks: Kepala: Conjungtiva anemis (-), sklera ikerik(-), sianosis (-), rhagaden (+), coated tongue (+) Leher: TAK Thorak: Simetris, retraksi (-) P/ vesikuler (+), wh (-), rh (-), C/ BJ I/II reguler, m(-), gallop (-) Abdomen: datar, lemas, h/l ttb, bu (+) n Nyeri epigastrium Ekstremitas: akral hangat, CRT< 2 A : Demam Thypoid 31/07/2012 07.00 BB = 11,5 S : nyeri perut dan sariawan O : Ku: tampak sakit sedang, sens: CM P : 120X/m RR: 43x/m Ks: Kepala: Conjungtiva anemis (-), sklera ikerik(-), sianosis (-), rhagaden (+) Leher: TAK Thorak: Simetris, retraksi (-) P/ vesikuler (+), wh (-), rh (-), T: 36,1 C
0 0

Bedrest sampai 7 hari bebas panas

T: 36,3 C

Diet: bubur saring sampai 7 hari bebas panas

IVFD D5% gtt 11x/menit Kloramfenikol 4 x 300 mg (4 x II cth)

Candistatin 1 x 1 ml

Bedrest sampai 7 hari bebas panas

Diet: bubur saring sampai 7 hari bebas panas IVFD D5% gtt 11x/menit Kloramfenikol 4 x 300 mg (4 x II cth) Candistatin 1 x 1 ml

C/ BJ I/II reguler, m(-), gallop (-) Abdomen: datar, lemas, h/l ttb, bu (+) n Nyeri epigastrium Ekstremitas: akral hangat, CRT< 2 A : Demam Thypoid 01/08/2012 BB:12 kg S : tidak ada keluhan O : Ku: tampak sakit sedang, sens: CM P : 127X/m RR: 45 x/ menit Ks: Kepala: Conjungtiva anemis (-), sklera ikerik(-), sianosis (-), rhagaden (+), Leher: TAK Thorak: Simetris, retraksi (-) P/ vesikuler (+), wh (-), rh (-), C/ BJ I/II reguler, m(-), gallop (-) Abdomen: datar, lemas, h/l ttb, bu (+) n Ekstremitas: akral hangat, CRT< 2 A : Demam Thypoid T: 36,30C Bedrest sampai 7 hari bebas panas Diet: bubur saring sampai 7 hari bebas panas IVFD D5% gtt 11x/menit Kloramfenikol 4 x 300 mg (4 x II cth) Candistatin 1 x 1 ml

10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Demam Tifoid 2.1.1. Definisi Adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Penyakit ini ditandai oleh panas berkepanjangan ditopang dengan bakteremia tanpa ketelibatan struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalamsel fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan Peyers patch. Terminologi lain yang erat kaitannya dengan demam tifoid adalah demam paratifoid dan demam enterik. Demam paratifoid secara patologik maupun klinis adalah sama dnegan demam tifoid namun biasanya lebih ringan, penyakit ini disebabkan oleh Salmonella enteriditis. Sedangkan demam enterik dipakai baik pada demam tifoid maupun demam paratifoid. Terdapat 3 bioserotipe Salmonella enteriditis yaitu bioserotipe paratyphi A, paratyphi B (S. Schotsmuellen) dan paratyphi C (S. Hirschfeldii).1,2

2.1.2. Etiologi Salmonella typhi merupakan bakteri gram negatif, mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora, fakultatif anaerob. Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari oligosakarida, flagelar antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri dari polisakarida. Mempunyai makromulekular lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel dan dinamakan endotoksin. Salmonella typhi juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik.1,2,3

2.1.3. Patofisiologi Patogenesis demam tifoid melibatkan 4 proses kompleks mengikuti ingesti organisme yaitu :

11

1. Penempelan dan invasi sel-sel M Peyers patch 2. bakteri bertahan hidup dan bermultiplikasi di makrofag Peyers patch, nodus limfatikus mesenterikus dan organ-organ ekstra intestinal sistem retikuloendotelial 3. bakteri bertaan hidup didalam aliran darah, dan 4. produksi enterotoksin yang meningkatkan kadar cAMP didalam kripta usus dan menyebabkan keluarnya elektrolit dan air kedalam lumen intestinal Bakteri salmonella typhi bersama makanan/minuman masuk kedalam tubuh melalui mulut pada saat melewati lambung dengan suasana asam (PH < 2) banyak bakteri yang mati. Keadaan seperti aklorhidiria, gastrektomi, pengobatan dengan antagonis reseptor histamin H2, inhibitor pompa proton atau antasida dalam jumlah besar, akan mengurangi dosis infeksi. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus. Diusus halus, bakteri melekat pada selsel mukosa dan kemudian menginvasi mukosa dan menembus dinding usus tepatnya di ileum dan jejunum. Sel-sel M, sel epitel khusus yang melapisi Peyers patch, merupakan tempat internalisasi Salmonella typhi. Bakteri

mencapai folikel limfe usus halus, mengikuti aliran ke kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang melewati sirkulasi sistemik sampai ke jaringan RES di organ hati dan limpa. Salmonella typhi mengalami multiplikasi di dalam sel fagosit mononuklear didalam folikel limfe, kelenjar limfe mesenterika, hati dan limfe. Setelah melalui periode waktu tertentu (periode inkubasi), yang lamanya ditentukan oleh jumlah dan virulensi kuman serta respons imun pejamu maka Salmonella typhi akan keluar dari habitatnya dan melalui duktus toraksikus masuk kedalam sirkulasi sistemik. Dengan cara ini organisme dapat mencapai organ manapun, akan tetapi tempat yang disukai oleh Salmonella typhi adalah hati, limpa, sumsum tulang, kandung empedu dan Peyers patch dari ileum terminal. Invasi kandung empedu dapat terjadi baik secara langsung dari darah atau penyebaran retrograd dari empedu. Eksresi organisme di empedu dapat menginvasi ulang dinding usus atau dikeluarkan melalui tinja.

12

Peran Endotoksin Peran endotoksin dalam patogenesis demam tifoid tidak jelas, hal tersebut terbukti dengan tidak terdeteksinya endotoksin dari Salmonella typhi menstimulasi makrofag didalam hati, limpa, folikel limfoma usus halus dan kelenjar limfe mesenterika untuk memproduksi sitokin dan zat-zat lain. Produk dari makrofag inilah yang dapat menimbulkan nekrosis sel, sistem vaskular yang tidak stabil, demam, depresi sumsum tulang, kelainan pada darah dan juga menstimulasi sistem imunologik.

Respon Imunologik Pada demam tifoid terjadi respon imun humoral maupun selular baik ditingkat lokal (gastrointestinal) maupun sistemik. Akan tetapi bagaimana mekanisme imunologik dalam menimbulkan kekebalan maupun eliminasi terhadap Salmonella typhi tidak diketahui dengan pasti. Diperkirakan bahwa imunitas selular lebih berperan. Penurunan jumlah limfosit T ditemukan pada pasien sakit berat dengan demam tifoid. Karier memperlihatkan gangguan reaktivitas selular terhadap antigen salmonella ser. typhi pada uji hambatan migrasi lekosit. Pada karier, sejumlah besar basil virulen melewati usus tiap harinya dan dikeluarkan dalam tinja, tanpa memasuki epitel pejamu.1,3,4

13

PATHWAYS

14

2.1.4. Manifestasi Klinik Periode inkubasi demam tifoid 5-40 hari dengan rata-rata antara 10-14 hari. Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, ini disebabkan faktor galur Salmonela, status nutrisi dan imunologik pejamu serta lama sakitnya di rumahnya. Pasien tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit, step-ladder temperature chart yang ditandai dengan demam timbul insidius, kemudian naik secara bertahap tiap harinya dan mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama, setelah itu demam akan bertahan tinggi dan pada minggu ke 4 demam turun perlahan secara lisis, kecuali apabila terjadi fokus infeksi seperti kolesistitis, abses jaringan lunak maka demam akan menetap. Demam lebih tinggi saat sore dan malam hari dibandingkan dengan pagi harinya. Pada saat demam sudah tinggi dapat disertai gejala sistem saraf pusat, seperti kesadaran berkabut atau delirium atau obtundasi atau penurunan kesadaran mulai apati sampai koma. Gejala lain yang menyertai demam adalah nyeri kepala, malaise, anoreksia, nausea, mialgia, nyeri perut dan radang tenggorokan. Dapat juga dijumpai syok hipovolemik sebagai akibat kurang masukan cairan dan makanan. Gejala gastrointestinal pada kasus demam tifoid sangat bervariasi. Pasien dapat mengeluh diare, obstipasi, atau obstipasi kemudian disusul episode diare, pada sebagian pasien tampak lidah kotor dengan putih ditengah sedang tepi dan ujungnya kemerahan, banyak dijumpai meteorismus, lebih banyak ditemukan hepatomegali dibanding splenomegali. Rose spot, suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1-5 mm sering dijumpai pada daerah abdomen, toraks, ekstremitas dan punggung pada orang kulit putih, tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak indonesia. Ruam ini muncul pada hari ke 7-10 dan bertahan selama 2-3 hari. Bronkitis banyak dijumpai pada demam tifoid, bradikardi relatif jarang dijumpai pada anak.5

15

2.1.5. Diagnosis dan Pemeriksaan Penunjang Anamnesis : Gejala klinis : Demam, gangguan gastrointestinal,

perubahan/gangguan kesadaran. Keluhan: o Nyeri kepala (frontal) o Kurang enak di perut o Nyeri tulang, persendian, dan otot o Berak-berak o Muntah Gejala: o Demam o Nyeri tekan perut o Bronkitis o Toksik o Letargik o Lidah tifus (kotor) Pemeriksaan Penunjang : Darah tepi : anemia normokromi normositik (akibat perdarahan usus atau supresi pada sumsum tulang), leukosit rendah (jarang dibawah 3000/l3), leukosit meningkat mencapai 20.000-25.000 /l3 (bila abses piogenik), tromositopeni sering dijumpai. Biakan urin, feses Biakan spesimen yang berasal dari aspirasi sumsum tulang mempunyai sensitivitas tertinggi, hasil positif didapat pada 90% kasus (prosedur invasif sehingga tidak dipakai dalam praktek seharihari) Biakan spesimen empedu dari duodenum (pada keadaan tertentu) Uji serologi Widal : antibodi aglutinasi terhadap antigen somatik (O), flagela (H). Titer aglutinin O 1/200 atau pada titer sepasang terjadi kenaikan 4x (demam tifoidapat ditegakkan). Aglutinin H banyak 100% 75% 75% 60% 60% 40% (Sjamsuhidayat,1998) 100% 50% 50% 50% 50%

16

dikaitkan dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau, sedang Vi aglutinin dipakai pada deteksi pembawa kuman S.typhi (karier) Rontgen bila diduga terjadi perforasi, adaya cairan pada peritoneum dan udara bebas. Diagnosis Pasti : Isolasi S.typhi dari darah (pada dua minggu pertama sakit)2

2.1.6. Tatalaksana Tirah baring Pemenuhan kebutuhan cairan Pemberian nutrisi Antibiotik : o Kloramfenikol : 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4x pemberian selama 10-14 hari / sampai 5-7 hari setelah demam turun, pada kasus malnutrisi atau penyakit, pengobatan dapat diperpanjang sampai 21 hari (4-6 minggu untuk osteomielitis akut & 4 minggu untuk meningitis) o Ampisilin : 200 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4x pemberian secara IV. o Amoksilin : 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4x pemberian per oral o Seftriakson 100 mg/kgBB/hari dibagi dalam 1 atau 2 dosis (maksimal 4 gram/hari) selama 5-7 hari atau sefotaksim 150200 mg/kg/hari dibagi dalam 3-4 dosis efektif pada isolat yg rentan Cefixime oral : 10-15 mg/kgBB/hari selama 10 hari, terutama apabila jumlah leukosit < 2000 l atau dijumpai resistensi terhadap S.typhi. Dexametason IV (3mg/kg diberikan dalam 30 menit untuk dosis awal dilanjutkan dengan 1mg/kg tiap 6 jam sampai 48 jam) pada demam tifoid berat seperti delirium, obtundasi, stupor, koma dan shock. Transfusi darah (bila disertai penyulit perdarahan usus)

17

Transfusi trombosit (untuk pengobatan trombositopenia yang cukup berat)

Laparotomi harus segera dilakukan pada perforasi metronidazol

usus +

Pada karier tanpa penyakit saluran empedu : Ampisilin (atau amoksisilin) dosis 40mg/kg/hari dalam 3 dosis peroral + probenecid 30 mg/kg/hari dalam 3 dosis peroral atau TMP-SMZ selama 4-6 minggu. Bila terdapat kolesistitis atau kolelitiasis dianjurkan kolesistektomi setelah pemberian antibiotik (ampisilin

200mg/kgBB/hari dalam 4-6 dosis IV) selama 7-10 hari, setelah kolesistektomi dilanjutkan dengan amoksisilin 30 mg/kgBB/hari dalam 3 dosis peroral selama 30 hari. Kasus demam tifoid yang mengalami relaps diberi pengobatan sebagai kasus demam tifoid serangan pertama.2

2.1.7. Komplikasi Perforasi usus halus (0,5-3%) sedangkan perdarahan usus pada 1-10% kasus demam tifoid anak. Penyulit biasanya terjadi pada minggu ke-3 sakit, walau pernah dilaporkan pada minggu pertama. Komplikasi didahului dengan penurunan suhu, tekanan darah dan peningkatan frekuensi nadi. Pada perforasi usus halus ditandai oleh nyeri abdomen lokal pada kuadran kanan bawah, nyeri menyelubung, kemudian akan diikuti muntah, nyeri pada perabaan abdomen, defance muskulare, hilangnya keredupan hepar dan tanda-tanda peritonitis yg lain. Beberapa kasus perforasi usus halus mempunyai manifestasi klinis yang tidak jelas. Dilaporkan pula kasus komplikasi neuropsikiatri, sebagian besar bermanifestasi gangguan kesadaran, disorientasi, delirium, obtundasi, stupor bahkan koma. Penyakit neurologi lain : trombosis serebral, afasia, ataksia serebral akut, tuli, mielitis transversal, neuritis perifer maupun kranial, meningitis, ensefalomielitis, sindrom Guillain-Barre tapi jarang gejala sisa yang permanen.

18

Pneumonia sebagai penyulit sering dijumpai pada demam tifoid. Keadaan ini dapat ditimbulkan oleh kuman Salmonella typhi , namun seringkali sebagai akibat infeksi sekunder oleh kuman lain. Penyulit lain yang dapat dijumpai adalah trombositopenia, koagulasi, intravaskular diseminata, hemolytic uremic syndrome (HUS) , Fokal infeksi dibeberapa lokasi sebagai akibat bakteremia misalnya infeksi pada tulang, otak, hati, limpa, otot, kelenjar ludah & persendian. Pada umumnya relaps lebih ringan dibandingkan gejala demam tifoid sebelumnya dan lebih singkat.4

2.1.8. Prognosis Dinegara maju dengan terapi antibiotik yang adekuat, angka mortalitas <1%. Dinegara berkembang angka mortalitasnya >10%, biasanya karena keterlambatan diagnosis, perawatan dan pengobatan. Munculnya komplikasi seperti perforasi gastrointestinal atau perdarahan hebat, meningiis, endokarditis dan pneumonia mengakibatkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Relaps dapat timbul beberapa kali. Individu yang mengeluarkan S. ser. Typhi 3 bulan setelah infeksi umumnya menjadi karier kronik. Risiko mejadi karier pada anak-anak rendah dan meningkat sesuai usia. Karier kronik terjadi pada 1-5% dari seluruh pasien demam tifoid. Insiden penyakit traktur biliaris lebih tinggi pada karier kronis dibandingkan dengan populasi umum.2,3

2.1.9. Pencegahan - Perhatikan kualitas makanan dan minuman - Untuk makanan, pemanasan sampai suhu 57C beberapa menit dan secara merata dapat mematikan kuman S. typhi - Pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah, serta kesadaran individu terhadap higiene pribadi - Imunisasi aktif dapat membantu menekan angka kejadian demam tifoid.2,4

19

2.1.10. Vaksin demam tifoid Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi, S. paratyphi A, S. paratyphi B yang dimatikan (TAB Vaccine) telah puluhan tahun digunakan dengan cara pemberian suntikan subkutan; namun vaksin ini hanya memberikan daya kekebalan yang terbatas, disamping efeksamping lokal pada tempat suntikan yang cukup sering. Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi hidup yang dilemahkan (Ty-21a) diberikan per oral tiga kali dengan interval pemberian selang sehari, memberi daya perlindungan 6 tahun. Vaksin Ty-21a diberikan pada anak berumur diatas 2 tahun. Vaksin yang berisi komponen Vi dari Salmonella typhi diberikan secara suntikan intramuskular memberikan perlindungan 60-70% selama 3 tahun.1,2

20

BAB III PEMBAHASAN

Pada kasus ini ada seorang anak berusia 3 tahun 10 bulan datang ke RSUD bari. Berdasarkan alloanamnesa dengan orangtua penderita, dan setelah dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan : Demam sejak 8 hari SMRS, demam dirasakan naik turun, terutama pada malam hari dan turun pada pagi hari, tetapi turun tidak pernah sampai normal, menggigil (-), batuk (-), pilek (-), mual (-), muntah (-), perut sakit (-). Susah BAB. Pernah berobat ke puskesmas dan diberi obat penurun panas dan antibiotik tetapi tidak ada perubahan. Pasien tidak pernah pergi keluar kota. Rhagaden (+), coated tongue (+), nyeri epigastrium (+) Berdasarkan hal diatas diagnosa sementara yang dapat ditegakkan adalah demam thypoid. Untuk lebih memastikannya maka dilakukan pemeriksaan laboratorium dan diperoleh hasil : Widal thypus (o) 1/320 Hasil pemeriksaan laboratorium ini mendukung ditegakkannya diagnosa demam thypoid. Dari diagnose diatas dapat dijelaskan bahwa penatalaksanaan yang tepat untuk kasus ini adalah : Bedrest sampai 7 hari bebas panas Diet, bubur saring Kloramfenikol 100 mg/kgBB sampai 7 hari bebas panas

Prognosis penyakit ini tergantung dengan ketepatan terapi, usia, keadaan kesehatan sebelumnya serta komplikasinya. Relaps dapat timbul beberapa kali, karier kronik terjadi pada 1-5% penderita thypoid.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Behrman, Kliegman, Arvinka. Nelson. Ilmu Kesehatan Anak. Vol 3. Edisi 15. EGC. Jakarta: 2000; 2. Standar Penatalaksanaan Ilmu Kesehatan Anak, bagian IKA RSMH, 2012. 3. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI. Ilmu Kesehatan Anak Jilid 2. Jakarta.2005 4. Juwono R. Demam Tifoid. In: Noer MS, editor. Buku ajar ilmu penyakit dalam. 3th ed. Jakarta: BalaiPenerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003. p. 435-441. 5. Jawetz E, Melnick JL, Andelberg EA. Batang gram negatif enterik. In Setiawan I, editor. Mikrobiologi kedokteran. Edisi 20. Jakarta:EGC, 1996. 299-303.