Anda di halaman 1dari 16

Manajemen Konflik dalam

Pengelolaan Sumberdaya
Alam ‘Bersama’

oleh
Iwan Tjitradjaja
Disampaikan pada perkuliahan Agency, Pengetahuan, dan
Lingkungan Alam di Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada, yang diselenggarakan atas dasar kerjasama
Academy Professorship Indonesia (API) bidang
Ilmu Sosial-Humaniora dengan Sekolah Pascasarjana
Universitas Gadjah Mada, 14 Maret 2008
Isu degradasi dan destruksi sumberdaya alam

 Penggundulan hutan
 Pencemaran sungai dan danau
 Penyusutan perikanan
 Pengrusakan terumbu karang
 Pengrusakan lahan gambut
 Pencemaran air tanah
 Pencemaran udara
 dst-nya
Sumberdaya alam ‘bersama’

 Bernilai – ragam sumberdaya alam


 Tersedia untuk banyak orang
 Dapat mengalami degradasi akibat
penggunaan yg berlebihan
Tragedi sumberdaya alam ‘bersama’
(Hardin, 1968)
 sumberdaya bersama mengandung logika yang menjebak para
penggunanya untuk berlomba-lomba mengeksploitasi sumberdaya
ybs hingga berakhir pada kerusakan yang membawa tragedi bagi
semuanya.
Bayangkan sebuah padang penggembalaan yang terbuka untuk
semua penggembala. Tiap penggembala tentu berupaya untuk
memelihara dan membawa ternaknya sebanyak mungkin ke
padang penggembalaan itu. Selama jumlah penggembala dan
ternak berada dibawah ambang batas daya dukung padang
penggembalaan itu, maka tidak ada masalah dengan pasokan
pakan rumput bagi semua ternak gembalaan. Sampai pada
suatu waktu ketika tercapai stabilitas sosial yang mendorong
pertambahan penduduk sedemikian rupa, sehingga jumlah
penggembala juga meningkat. Pada waktu itulah, logika yang
melekat pada sumberdaya bersama yang aksesnya bebas mulai
bekerja hingga menghasilkan tragedi.
Tragedi…(lanj.)
Logikanya sbb:
Tiap penggembala yang rasional akan berusaha
memaksimalkan keuntungannya. Secara sadar, dia
akan mempertanyakan apa gunanya menambah tiap
ekor ternak gembalaan ? Kegunaan menambah ternak
gembalaan ini dapat diperkirakan dengan menghitung
unsur positip dan negatifnya. Unsur positipnya, bila
ternak tambahan tsb besar dan gemuk lalu dijual, si
penggembala akan mendapatkan semua hasil penjualan
dari tiap ekor ternak tambahan tsb (artinya,
keuntungan yang akan diperoleh si penggembala
adalah +1 ). Unsur negatipnya adalah akibat aktivitas
merumput si ternak tambahan tsb, pasokan dan
produktivitas rumput padang penggembalaan ybs
berkurang/rusak; tetapi, akibat tsb tidak ditanggung
oleh si penggembala sendiri, melainkan oleh semua
penggembala yang mempunyai ternak gembalaan di
padang penggembalaan itu (artinya, kerugian yang
ditanggung si penggembala adalah sebagian dari –1 ).
Tragedi…(lanj.)
Logikanya sbb:
Dengan logika perhitungan demikian,maka tiap
penggembala yang rasional akan menyimpulkan bahwa
pilihan yang masuk akal baginya adalah terus
menambah jumlah ekor ternak gembalaannya.
Kesimpulan inilah yang kemudian menggiring tiap
penggembala ke dalam perangkap sistem yang
memaksanya untuk menambah jumlah ternaknya tanpa
batas – dalam sebuah padang rumput yang daya
dukungnya terbatas. Dengan demikian, kehancuran
merupakan akhir dari tujuan kemana tiap orang
bergegas mengejar kepentingan terbaiknya dalam
suatu masyarakat yang percaya pada kebebasan
menggunakan sumberdaya bersama.
Tragedi…(lanj.)

 Problem ‘externalities’
 Problem ketiadaan jaminan kepastian
 Problem ‘penunggang gratis’
Problem ‘externalities’

Pada sumberdaya bersama yang bebas akses


melekat apa yang disebut sebagai problema
‘externalities.’ Orang tampaknya tidak mungkin
mengekang perilakunya sendiri dalam
pemanfaatan sumberdaya apabila keuntungan
dari tindakannya secara penuh langsung dia
peroleh, sedangkan kerugian yang timbul sebagai
akibat dari tindakan tersebut ditanggungnya
bersama dengan masyarakat secara keseluruhan
atau kelompok masyarakat tertentu.
Problem ketiadaan jaminan kepastian

Pada sumberdaya bersama yang bebas akses


melekat pula situasi ketiadaan jaminan kepastian.
Seorang pengguna tampaknya tidak mungkin
secara sukarela mengekang perilaku
pemanfaatan sumberdaya yang
menguntungkannya, meskipun perilaku tsb
berakibat merugikan banyak orang dan
keberlanjutan sumberdaya ybs, apabila orang ybs
mengetahui tidak ada jaminan yang memastikan
para pengguna lainnya juga akan melakukan
pengekangan perilaku yg sama.
Problem ‘penunggang gratis’

– Potensi keuntungan yang hilang sebagai akibat


pengekangan perilaku pemanfaatan sumberdaya
yang dilakukan oleh seorang pengguna itu justru
bisa saja diambil dan dinikmati orang lain yang
menjadi ‘penunggang bebas’ dalam situasi
ketiadaan jaminan kepastian tsb.
Institusi pengelolaan sumberdaya alam
‘bersama’

 Aturan main berkenaan dengan sumberdaya


alam ‘bersama’
 Siapa yg dapat mengakses sda ybs
 Apa yang dapat dilakukan pada sda ybs
 Siapa yg terlibat utk memutuskan tentang hal tsb dan ttg
pelimpahan hak dan kewajiban pada yang lainnya
 Norma dan nilai
Institusi… (lanj.)

 Rejim ‘akses terbuka’ – ketiadaan institusi


 Rejim properti pemerintah
 Rejim properti swasta
 Rejim properti ‘kelompok bersama’
Konflik dalam pengelolaan ‘sda bersama’

 Konflik mengenai akses pada, kontrol atas,


dan pemanfaatan ‘sda bersama’ seringkali
terjadi pada situasi berikut ini:
 dimana hak atas kepemilikan tidak jelas atau sulit
ditegakkan
 dimana terdapat multipel pemanfaatan dan klaim yang
saling bersaing
Konflik dalam …..(lanj.)

 Ciri-ciri umum dari konflik ‘sda bersama’


– Bersifat abstrak (berkenaan dg definisi problem
pemanfaatan sda dan nilai-nilai yg jadi sumbernya), tapi
sekaligus kongkrit (berkenaan dg kepentingan dan tuntutan
penggunaan sda dari pihak yg berkonflik
– Bertumpu pada nilai, kebutuhan dan kepentingan individual
atau kelompok yang berbeda/bertentangan
– Bergantung pada persepsi, penilaian dan penafsiran fakta
subyektif yang beragam
– Beragam ukuran
– Terkait dengan dinamika budaya, sosial, ekonomi dan
ekologi
Manajemen konflik dalam pengelolaan
‘sda bersama’

 Manajemen konflik: membangun dan


mengembangkan mekanisme penanganan
konflik dengan tujuan untuk mencegah
berkembangnya konflik menjadi kekerasan
dan yang secara sosial, ekonomi, dan
ekologis destruktif, dan mengubahnya
menjadi hubungan sosial yang konstruktif
dan kooperatif.
Pustaka rujukan terbatas utk diskusi

– Hardin, G. (1968) The Tragedy of the Commons. Science


162:1243-48
– McCay, B.M.,&J.M.Acheson,eds (1987) The Question of the
Commons. Tucson:The University of Arizona Press.
– Ostrom, E. (1990) Governing the Commons.
Cambridge:Cambridge University Press.
– Ostrom,E., et al, eds.(2002) The Drama of the Commons.
Washington,DC: National Academy Press.
– Adams,W.M., et al (2003) Managing Tragedies: Understanding
Conflict over Common Pool Resources. Science 302: 1915-1919.
– Bruckmeier,K.(2005) Interdisciplinary Conflict Analysis and Conflict
Mitigation in Local Resource Management. Ambio 34(2):65-73.