Anda di halaman 1dari 3

Kenapa Perokok Rentan Terserang Penyakit TBC ?

Merokok dapat menganggu afektivitas sebagian mekanisme pertahanan respirasi. Dalam saluran pernafasan dari bronkus ke atas terdapat lapisan mukosiliaris yang terdiri dari sel-sel memproduksi mukus dan sel-sel silia yang melindungi mukus. Setiap benda asing yang masuk akan ditangkap oleh sel penghasil mukus, kemudian oleh sel silia mukus dan partikel yang terperangkap didalamnya didorong keatas cabang pernapasan dimana mukus dapat keluar sebagai sputum. Asap rokok dapat merangsang produksi mukus dan dapat merusak atau mencederai silia yang menyebabkan pergerakannya meurun. Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya akumulasi mukus yang kental dan terperangkapnya partikel atau mikroorganisme di jalan napas, yang dapat menurunkan pergerakan udara dan meningkatkan resiko pertumbuhan mikoorganisme. Jika mikroorganisme yang terperangkap dan tumbuh di saluran pernapasan itu adalah M. Tuberculosis maka pejamu akan beresiko terkena penyakit TBC.

Apabila Mycobacterium tuberculosis dalam jumlah yang bermakna berhasil menembus mekanisme pertahanan sistem pernafasan dan berhasil menempati saluran nafas bawah, tubuh pejamu akan melakukan respon imun dan implamasi yang kuat. Karena respon imun yang kuat terutam yang diperantarai sel-T, sehingga hanya sekitar 5% orang yang terpajan basil tersebut akan menderita tuberkulosis aktif. Hanya individu yang menderita TBC aktif yang dapat menularkan penyakit ke individu lain dan hanya selama infeksi aktif

Gejala Klinis Penyakit TBC (Tuberkulosis)


Pada infeksi awal gejala mungkin tidak terlihat, dan mungkin tidak akan terlihat bila tidak terjadi infeksi aktif.Apabila terjadi infeksi aktif biasanya pasien memperlihatkan : -Demam -Malaise -Keringat malam -Hilangnya nafsu makan dan menurun berat badan -Batuk purulen produktif disertai nyeri pada infeksi akut.

Diagnosis Penyakit TBC (Tuberkulosis)


-Pemeriksaan Tuberkulin kulit : Jika positif memperlihatkan imunitas seluler dan hanya membuktikan saluran pernafasan bawah pernah terpajan M. tuberculosis. Tidak dapat diketahui bahwa tuberculosis aktif pernah diderita.

-Tuberkulosis aktif diketahui

melalui

pemeriksaan mikroskopis sputum penderita

(Ditemukan Basil M. tubercolosi yang tahan asam) dan atau kultur sel yang diikuti dengan identifikasi dan pengujian obat. -Radiografi dada memperlihatkan pembentukan tuberkel lama atau baru.

Pengobatan Penyakit TBC (Tuberkulosis)


-Individu yang terkena tuberkulosi aktif memerlukan waktu lama karena basil resisten terhadap sebagian besar obat antibiotik dan mudah bermutasi bila terpajan antibiotik yang masih sensitif. Terapi untuk penderita infeksi aktif menggunakan empat kombinasi obat dan setidaknya memakan waktu selama 9 bulan atau lebih lama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Jumlah penderita Tuberkulosis (TB) (penyakit yang menyerang paru) di Indonesia masih menduduki peringkat ke-3 dunia setelah India dan China. Jumlah pasien TB di Indonesia sekitar 5,8 % dari total jumlah pasien TB dunia. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB baru dengan kematian sekitar 91.000 orang. Angka prevalensi TB di Indonesia pada tahun 2009 adalah 100 per 100.000 penduduk dan TB terjadi pada lebih dari 70% usia produktif. Dalam pada itu kerugian ekonomi akibat TB juga cukup besar. Penyakit TB memang telah ditemukan lebih dari 100 tahun yang lalu dan bahkan obatnya juga telah ditemukan sejak 50 tahun silam. Tapi kasusnya masih tetap menjadi ancaman dunia. Data di kementerian kesehatan menunjukkan, angka kematian TB pada tahun 2008 telah menurun tajam menjadi 38 per 100.000 penduduk dibandingkan tahun 1990 sebesar 92 per 100.000 penduduk. Pada tahun 2009 angka cakupan penemuan kasus mencapai 71 % dan angka keberhasilan pengobatan mencapai 90 %. Keberhasilan itu, diakui oleh Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH sebagai upaya keras untuk berjuang menurunkan prevalensi, insiden dan kematian akibat penyakit Tuberkulosis. Walaupun telah banyak kemajuan yang dicapai dalam penanggulangan TB di Indonesia, tapi tantangan masalah TB ke depan masih besar. Terutama dengan adanya tantangan baru berupa perkembangan HIV dan MDR (Multi Drugs Resistancy) TB. Menkes menyadari TB tidak bisa diberantas oleh pemerintah atau jajaran kesehatan saja, tetapi harus melibatkan dan bermitra dengan banyak sektor. (depkes)