Anda di halaman 1dari 2

Kefanatikan Syaithan Bisu Dalam Bid’ah dan

Maksiyat

Bismillahi aktubu,

Terdapat persatuan secara Islami antara sesama ahlus Sunnah. Justru yang
suka berpecah belah dan membiarkan adanya perbedaan persepsi terhadap
sesuatu hal yang sama, ialah dari golongan ahli Bid’ah dan ahli Maksiyat.

Ada Da’i atau Ustadz yang takut ini takut itu. Takut tidak dipanggil lagi oleh
umatnya untuk berceramah di suatu tempat jika mereka berbicara tentang
Bid’ah.

Misalnya: Takut bicara soal Bid’ah Maulid Nabi yang meniru budaya Ulang
Tahun dari Kafirun, Natalan. Mempraktekkan peninggalan kaum Syi’ah
Fathimiyyah. Yakni kaum yang berusaha mencuri Hajar Aswad.
Tasyabbuh dan melebihi kaum Kafirun digabung menjadi satu.

Takut bicara soal Bid’ah Tahlilan. Bahkan rela mencampakkan nama


seorang mantan guru pesantren dari dalam buku pesantren miliknya, padahal
pesantren miliknya pernah menerima pengajaran dari Da’i tersebut. Hanya
karena dia menyatakan Tahlilan sebagaimana apa kata dari Imam Syafi’i
Rahimahullah.
Jadi tidak pantas orang semacam itu untuk mengklaim dirinya sebagai
penganut Mazhab Syafi’i.

Mazhab yang menyatakan bahwa Sekulerisasi ialah wajib, tentu saja


merupakan Mazhab dari Syi’ah.

Yakni dari golongan yang menyatakan bahwa Jihad Fi Sabiilillah tidak akan
terjadi kecuali sesudah Imam Mahdi datang.

Hanya Allahu Subhaanahu wa Ta’ala yang pantas untuk membalas secara


setimpal terhadap perkataan dan keyakinan kaum demikian. Wallahul
musta’an.
Assalamu manit taba’al huda (Semoga kedamaian, kesejahteraan dan
keselamatan dari segala aib bagi manusia bagi yang mengikuti petunjuk).

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh (Semoga kedamaian,


kesejahteraan dan keselamatan dari segala aib bagi manusia, dan kasih
sayang kepada Allah dan keberkahan dari-Nya agar dicurahkan kepada
kalian).