Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH TEORI AKUNTANSI

REVENUE & GAINS :


PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

Nama Kelompok :
1. Dion Wahyu Nugroho 110520138
2. Juliana Aritonang 110520411
3. Zeno Alea Alex Sander 110520421
4. Febriana Br Ginting 110520424
5. Ema Juwita 110520675
6. Essa Noorma Etistia 110520680

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI YKPN


YOGYAKARTA
2008
REVENUE & GAINS : PENGAKUAN DAN PENGUKURAN

A. Pengertian
Menurut PSAK No. 23 paragraf 6, pendapatan adalah arus masuk bruto dari
manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu
periode bila arus masuk tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak
berasal dari kontribusi penanam modal.
Menurut SFAC No.6, pendapatan adalah arus masuk atau penambahan
lainnya pada aktiva suatu satuan usaha atau penyelesaian kewajiban-kewajibanya
(atau kombinasi keduanya) dari pengiriman atau produksi barang, pemberian
jasa, atau kegiatan lain yang merupakan kegiatan utama atau pusat dari satuan
usaha yang berkesinambungan.
Menurut Hendriksen, pendapatan adalah hasil dari suatu perusahaan.
Biasanya dapat diukur dalam satuan harga pertukaran yang berlaku. Pendapatan
harus diakui setelah proses penjualan pada dasarnya telah diselesaikan. Dalam
prakteknya pendapatan dapat diakui pada saat penjualan.
Melihat definisi tersebut, maka pendapatan akan diakui dalam laporan laba
rugi kalau kenaikan manfaat ekonomi pada masa depan yang berkaitan dengan
peningkatan aktiva atau penurunan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur
dengan andal. Ini berarti bahwa pengakuan pendapatan terjadi bersamaan dengan
pengakuan kenaikan aktiva atau penurunan kewajiban (misalnya kenaikan bersih
aktiva yang timbul dari penjualan barang atau jasa atau penurunan kewajiban
yang timbul dari pembebasan pinjaman).
Menurut SFAC No 6, Gains adalah peningkatan dalam ekuitas (aset bersih)
dari transaksi sampingan atau insidental suatu entitas dan dari semua transaksi
dan kejadian lain yang mempengaruhi entitas selain yang diakibatkan dari
pendapatan atau investasi oleh pemilik.
B. Karateristik
Karakteristik pendapatan :
• Aliran masuk atau aliran aset adalah jumlah aset baru yang diterima dari
konsumen, aliran dana dari konsumen, kenaikan laba ekonomi, laba
penjualan aset.
• Kegiatan yang mempresentasi operasi utama atau sentral yang terus
menerus adalah pendapatan dari kegiatan normal perusahaan biasanya
diperoleh dari hasil penjualan barang atau jasa yang berhubungan dengan
kegiatan utama perusahaan.
• Pelunasan, penurunan, atau pengurangan kewajiban dimana suatu entitas
mengalami kenaikan aset sebelumnya, misalnya menerima pembayaran di
muka dari pelanggan, pengiriman barang, atau pelaksanaan jasa akan
mengurangi kewajiban yang menimbulkan pendapatan. Jadi kenaikan aset,
pendapatan dapat diartikan sebagai penurunan kewajiban.
• Suatu entitas maksudnya adalah pendapatan didefinisi sebagai kenaikan
aset bukannya kenaikan ekuitas bersih meskipun kenaikan aset tersebut
akhirnya berpengaruh terhadap kenaikan ekuitas bersih.
• Produk perusahaan maksudnya dimana aliran aset dari pelanggan berfungsi
hanya sebagai pengukur, tetapi bukan pendapatan itu sendiri. Produk fisis
yang dihasilkan oleh kegiatan usaha itulah yang merupakan pendapatan.
Produk merupakan pencapaian dari tiap kegiatan produktif. Pendapatan
merupakan aliran masuk aset (unit moneter) dan hal tersebut berkaitan
dengan aliran fisis berupa penyerahan produk (ouput) perusahaan.
Aliran fisis berupa:
1. Kejadian memproduksi dan menjual produk (output).
2. Objek, yaitu produk fisis itu sendiri.
Aliran moneter :
3. Kejadian menaiknya nilai aset perusahaan karena produksi
atau penjualan produk ke konsumen.
4. Objek, yaitu jumlah rupiah atau (kos atau nilai) aset atau
produk yang dihasilkan atau dijual.
• Pertukaran produk, harus dinyatakan dalam satuan moneter untuk dicatat ke
dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang paling objektif adalah jika
jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau pertukaran antara
pihak independen.
• Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa produk, dimana
pendapatan merupakan konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua
pos dengan berbagai bentuk dan nama apapun.

Karakteristik Gain:
• Kenaikan ekuitas (aset bersih).
• Transaksi periferal atau insidental, misalnya: penjualan investasi dalam
surat-surat berharga, penjualan aset tetap, pelunasan utang obligasi sebelum
jatuh tempo.
• Selain yang berupa pendapatan atau investasi oleh pemilik.

C. Pengukuran Pendapatan
Nilai tukar produk atau jasa perusahaan merupakan ukuran terbaik bagi
pendapatan. Nilai tukar ini menunjukkan ekuivalen kas atau nilai sekarang dari
pendiskontoan tagihan uang yang akhirnya akan diterima dari transaksi
pendapatan. Apabila waktu menunggu singkat, maka diskonto dapat diabaikan
karena tiga alasan pragmatik : (1) Dengan tingkat diskonto yang rendah maka
jumlah diskonto akan kecil dan tidak mempengaruhi total nilai pendapatan secara
material. (2) Karena bunga diklasifikasikan sebagai bagian dari total pendapatan,
maka pengaruh utama berasal dari pengaruh waktu. (3) Klasifikasi pendapatan
yang timbul dari saat penantian (bunga) akan hilang dan dimasukkan dalam
klasifikasi pendapatan yang berasal dari penjualan produk atau jasa.
Kriteria di atas untuk pengukuran pendapatan mengacu pada nilai sekarang
dari uang atau ekuivalen uang yang akhirnya akan diterima sebagai hasil proses
produksi atau transaksi pendapatan. Dari kriteria ini jelas bahwa seluruh retur,
potongan dagang (rabat), dan pengurangan-pengurangan lainnya dari harga yang
ditagih harus dikurangkan dari pendapatan yang berasal dari transaksi tertentu.
D. Pengakuan Revenue and Gains
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statement keuangan.Secara
konseptual pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi kualitas keterukuran
(measurability) dan keterandalan (reliability).
Empat transaksi pendapatan yang diakui sesuai dengan prinsip:
• Pendapatan dari penjualan produk diakui pada tanggal saat penjualan.
• Pendapatan dari pemberian jasa diakui pada saat jasa sudah dilakukan dan
dicatat.
• Pendapatan dari penggunaan aktiva lain perusahaan diakui sebagai waktu
yang lalu atau sebagai aktiva yang sudah digunakan.
• Pendapatan dari aktiva yang sudah ditentukan selain dari produk, diakui
pada tanggal penjualan atau tanggal pertukaran.

Saat pengakuan pendapatan menurut Suwardjono (2005):


1. Pada saat kontrak penjualan, jika perusahaan telah menandatangani kontrak
perusahaan dan bahkan sudah menerima kas untuk seluruh nilai kontrak
tetapi perusahaan belum mulai memproduksi barang. Pada keadaan ini
pendapatan sudah terealisasi, tetapi belum terbentuk. Pengakuan harus
menunggu sampai proses penghimpunan cukup selesai yaitu ditahap
penjualan. Pada umumnya perlakuan semacam ini berlaku untuk
perusahaan yang memproduksi barang konsumsi dan jarak antara
penandatanganan kontrak dan penyerahan barang cukup pendek (kurang
dari satu tahun).
2. Selama proses produksi secara bertahap, maksudnya dalam industri tertentu
pembuatan produk memerlukan waktu yang cukup lama. Biasanya produk
semacam itu diperlakukan sebagai projek dan dilaksanakan atas dasar
kontrak sehingga pendapatan telah terealisasi untuk seluruh periode kontrak
tetapi mungkin belum cukup terbentuk pada akhir tiap periode akuntansi.
Dalam hal ini, pengakuan pendapatan dapat dilakukan secara bertahap (per
periode akuntansi) sejalan dengan kemajuan proses produksi atau sekaligus
pada saat projek selesai dan diserahkan. Cara pertama disebut metode
presentasi penyelesaian (percentage-of-completion method), sedangkan
yang terakhir disebut metode kontrak selesai (completed-contract
method).
3. Pada saat produk selesai, jika tidak ada kontrak sebelumnya, hanya kriteria
yang terbentuk yang dipenuhi. Pengakuan pendapatan atas dasar saat
produk selesai diproduksi dapat dianggap layak untuk industri ekstraktif
(pertambangan) termasuk pertanian. Kondisi ini memungkinkan untuk
menaksir dengan cukup tepat nilai jual yang dapat direalisasi suatu
persediaan barang menjadi ada pada tanggal tertentu. Jadi, kondisi ini dapat
mengganti kriteria cukup pasti terealisasi.
4. Pada saat penjualan, pengakuan ini merupakan dasar yang paling umum
karena pada saat penjualan kriteria penghimpunan dan realisasi telah
terpenuhi. Dengan demikian, saat penjualan merupakan saat yang kritis
dalam operasi perusahaan sehingga menjadi standar utama dalam
pengakuan pendapatan. Transaksi penjualan mengakibatkan masuknya aset
baru ke dalam perusahaan untuk menutup kos yang terserap untuk
melaksanakan kegiatan produksi dengan penyerahan produk, menyediakan
dana sebagai imbalan untuk pembayaran pajak kepada pemerintah, bunga
kepada kreditor, dan deviden kepada pemegang saham. Kendati saat
penjualan menjadi standar umum pengakuan pendapatan, terdapat beberapa
hal yang sering diajukan sebagai keberatan terhadap dasar tersebut. Hal
pertama berkaitan dengan kepastian pengukuran pendapatan akibat kos
purna-jual atau pasca-jual (after-sales-cost atau after costs). Ada kegiatan
yang masih dilakukan perusahaan untuk menuntaskan penjualan kos yang
menimbulkan kos. Masalah lain berkaitan dengan kemungkinan atau
pengembalian barang. Akhirnya, masalah kemungkinan ketaktertagihan
piutang bila penjualan tidak tunai (masalah kolektibilitas). Ini berarti
piutang belum merupakan bukti penuh terrealisasinya pendapatan.
5. Pada saat kas terkumpul, pengakuan pada saat kas terkumpul sebenarnya
pengakuan pendapatan berdasarkan asas kas (cash basis). Alasan
digunakannya dasar ini adalah adanya ketidakpastian tentang kolektibilitas
atau ketertagihan piutang. Dengan cara ini, pendapatan diakui sejumlah kas
yang diterima pada saat kas diterima atau terkumpul (sampai akhir periode)
dan baru kemudian menentukan biaya yang berkaitan dengan pendapatan
dasar kas tersebut. Dengan kata lain, pendapatan suatu periode diakui
secara proposional atas dasar kas yang telah diterima dalam periode
tersebut.

E. Pedoman Umum Pengakuan Pendapatan (Menurut SFAC No. 5)


1. Jika produk atau barang dagangan diserahkan atau jasa diberikan kepada
konsumen, pendapatan diakui pada saat penjualan.
2. Jika kontrak penjualan mendahului produksi dan pengiriman, pendapatan
diakui pada saat timbul (earned) dan pengiriman.
3. Jika produk dikontrak sebelum diproduksi, pendapatan diakui secara bertahap
berdasar taksiran.
4. Jika jasa diberikan berlangsung secara bertahap selama suatu perioda dengan
kontrak harga yang pasti, pendapatan diakui bersamaan dengan berjalannya
waktu.
5. Jika produk dapat segera terealisasi karena terjual, pendapatan diakui pada
saat selesainya produksi.
6. Jika aset ditukarkan dengan aset nonmoneter yang tidak segera dapat
dikonversi menjadi kas, pendapatan diakui pada saat transaksi telah selesai
asalkan nilai wajar aset nonmoneter dapat ditentukan dalam kisaran yang
layak.
7. Jika kolektibilitas aset yang diterima untuk produk, jasa atau aset lain
meragukan, pendapatan dapat diakui atas dasar kas yang terkumpul.