Anda di halaman 1dari 12

Ujian Akhir Semester Ganjil 2008

Mata Kuliah : Politik Global AS


Semester V
Dosen : Prof. Anak Agung Banyu Perwita, Ph. D
Tanggal / Hari : 9 Desember 2008/Selasa
Sifat Ujian : Take Home Exam

Pengaruh Krisis Nuklir Korea Utara terhadap


Kepentingan Nasional Amerika Serikat

Peserta Ujian

NPM : 2006330015
Kelas : B
No. Ujian : 0098

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS KATOLIK PARAHYANGAN

2008
Pendahuluan

Pada Ujian Akhir Semester kali ini, penulis diminta untuk mengidentifikasi tantangan
dan hambatan dari Politik Luar Negeri yang diberlakukan oleh Amerika Serikat dalam
menghadapi era baru dan untuk mencapai pengaruh-pengaruh Amerika Serikat di berbagai
daerah dan wilayah. Penulis diminta untuk memberikan saran kepada President Barrack
Obama berupa opsi-opsi dari US Grand Strategy dalam menentukan kebijakan luar negeri
nya.
Seiring dengan berjalannya waktu, Dunia telah secara jelas menyaksikan semua
peristiwa historis yang telah dan mungkin akan terjadi. Amerika Serikat adalah salah satu dari
Negara di dunia yang di kenal sebagai Negara Super Power atau pada waktu tertentu lebih
dapat disebut sebagai hyper power mengingat kekuatan dan pengaruh politik yang sangat
besar di hampir seluruh belahan dunia. Banyak cara telah digunakan untuk memenuhi
kepentingan nasional AS, salah satunya adalah dengan tetap melakukan peranannya dalam
memelihara perdamaian dan keamanan dunia. Orang-orang boleh berkata bahwa opsi yang
AS lakukan adalah suatu kesalahan besar karena kebijakan tersebut telah membuat banyak
orang di wilayah lain menderita.
Berbagai media massa baik internasional maupun nasional mengkritik berbagai
kebijakan luar negeri Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Bush yang dianggap gagal
menggambarkan grand strategy kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam menangani
tantangan kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Sebagai penasihat kebijakan luar negeri
Amerika Serikat, saya akan menjelaskan tantangan kebijakan luar negeri Amerika Serikat dan
kerangka grand strategy kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Makalah ini dibuat untuk mencoba menjelaskan bagaimana krisis nuklir di Korea
Utara merupakan sebuah ancaman bagi kepentingan nasional Amerika Serikat dan instrumen-
instrumen yang digunakan Amerika Serikat untuk mengatasi masalah tersebut.
Dear, Mr. President,
Pada Tanggal 11 September 2001 terjadi tragedi yang dahsyat, yakni runtuhnya
gedung menara kembar World Trade Center (WTC) di New York dan gedung Pentagon di
Virginia. Kedua gedung yang menjadi simbol kebesaran AS itu ditabrak oleh empat buah
pesawat terbang sipil tujuan Los Angeles dan San Fransisco yang dibajak oleh teroris.
Keempat pesawat itu adalah Boeing 767 American Airlines Penerbangan 11 yang menabrak
WTC sebelah utara, United Airlines Penerbangan 175 yang menabrak WTC sebelah selatan,
Boeing 757 American Airlines Penerbangan 77 yang ditabrakan ke bagian barat Pentagon,
dan yang terakhir adalah Boeing 757 United Airlines Penerbangan 93 yang tidak sampai pada
sasaran, yaitu menabrak Gedung Putih, dan jatuh di dekat Pittsburgh.1
Setelah kejadian 9/11, AS pun mengumumkan politik luar negerinya yang baru, yaitu
memerangi terorisme dan kepemilikan Weapon of Mass Destruction (WMD), serta negara-
negara yang dituduh mensponsori terorisme.2 Dan sejak saat itu, AS pun mulai gencar dalam
memberantas segala bentuk terorisme di muka bumi. Tragedi 9/11 juga telah mendorong AS
untuk merumuskan kebijakan barunya dalam bidang keamanan yang memuat tujuh elemen.
Adapun lima dari tujuh elemen itu adalah3 :
1. Mempertahankan dunia unipolar, dimana AS merupakan kekuatan yang tiada
tandingannya. Terutama setelah Uni Soviet runtuh, AS harus mencegah munculnya
kompetitor baru di Eropa dan Asia.
2. Pengakuan bahwa terorisme merupakan ancaman baru.
3. Konsep pencegahan Perang Dingin sudah ketinggalan zaman. Saat ini pencegahan,
kedaulatan, dan perimbangan kekuatan harus berjalan bersama. Hal ini dikarenakan
ancaman yang ada sekarang ini bukanlah berasal dari negara adikuasa lain, tetapi dari
jaringan teroris transnasional.
4. Perlunya pemaknaan ulang arti kedaulatan. Karena kelompok-kelompok teroris tidak
dapat ditangkal, maka AS harus disiapkan untuk melakukan intervensi di mana-mana
dan kapan saja harus siap bertindak dahulu menghancurkan ancaman.
5. AS perlu memainkan peran langsung dan leluasa memusnahkan ancaman.

Dengan politik luar negeri yang baru tersebut, AS mulai menancapkan bendera perang
kepada segala bentuk ancaman, terutama dalam kaitannya dengan terorisme. Termasuk juga

1
“Rekaman Peristiwa 9/11 di Koran”, Kompas, 11 September 2006, hlm 39.
2
“The New Enemy”, The Economist, 15 September 2001, hlm 15.
3
“Revolusi Bush Sumber Perhara”, Kompas, 11 September 2006, hlm 38.
dengan krisis nuklir Korea Utara yang pernah melakukan uji coba senjata nuklirnya (yang
kemudian dinilai tidak berhasil) Walaupun begitu, AS tetap berjaga-jaga dengan segala
kemungkinan yang bisa terjadi apabila ada tindak lanjut dari Korea Utara mengenai program
mereka yang akan mengganggu kepentingan nasional jangka panjang AS di Asia Timur dan
hegemoni AS dalam memegang peranan penting dalam dunia internasional.

Dear, Mr. President,


Hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Korea Utara memang tidak pernah rukun.
Hal ini dikarenakan adanya perbedaan ideologi yang dianut oleh kedua buah negara yang
saling bertentangan. Sejak zaman Perang Dingin hingga sekarang, AS yang berideologikan
demokrasi selalu merasa terancam dengan kehadiran negara-negara yang berideologikan
komunis, terutama yang memiliki power yang kuat, seperti Korea Utara saat ini. Tindakan
apapun yang dilakukan oleh Korea Utara selalu dianggap sebagai ancaman bagi
pemerintahan AS. Sebenarnya, ketidakpercayaan antara kedua belah pihak telah berlangsung
sejak Perang Korea tahun 1950-1953 dan hingga kini terus berlanjut.4 Terlebih lagi dengan
keputusan yang diambil oleh Pemerintah Korea Utara untuk keluar dari Non-Proliferation
Treaty (NPT) dan kemudian menyatakan bahwa selama ini mereka tengah memproduksi
senjata nuklir, kian membuat hubungan kedua negara menjadi semakin memanas. AS yang
merasa gerah dengan tindakan Korea Utara ini, langsung menuduh Korea Utara telah
melanggar isi perjanjian dari NPT. Sedangkan Korea Utara yang merasa sebagai negara
berdaulat, merasa bahwa ia berhak untuk menjaga keamanan negaranya sendiri dengan cara
apapun, termasuk dengan memproduksi senjata nuklir.
Walaupun Korea Utara selama ini telah memproduksi senjata nuklir, namun Korea
Utara sendiri tetap berpendapat bahwa program nuklirnya itu bukanlah merupakan ancaman
bagi keamanan dunia internasional. Namun lebih merupakan bentuk antisipasi Korea Utara
terhadap tekanan dan serangan yang selama ini dilancarkan oleh AS. Sebenarnya yang Korea
Utara inginkan hanyalah agar AS menghentikan aksi-aksi konfrontatifnya terhadap Korea
Utara dan berjanji tidak akan mengagresi Korea Utara. Tetapi di lain pihak, AS membantah
hal tersebut dan mengatakan bahwa pemerintahannya tidak pernah memiliki niat untuk
mengagresi Korea Utara.5

Dear, President,
4
“Sanksi AS Ancaman Bagi Perundingan Nuklir”, http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/03/lua08.html, tgl
akses 8 Desember 2008, jam 11.36.
5
Ibid.
Keputusan Korea Utara untuk melakukan uji 7 peluru kendali bulan Juli 2005,
termasuk satu peluru kendali jarak jauh Taepodong-2 yang jangkauannya dipercaya bisa
mencapai Alaska, membuat masyarakat internasional marah dan khawatir.6
KCNA, media milik pemerintah Korea Utara, menyatakan, uji coba nuklir yang
dilakukan di bawah tanah pada hari Senin pagi itu, dinyatakan berhasil.7 Ini dilakukan dengan
mengandalkan kekuatan teknologi yang dikembangkan sendiri. Pemerintah Korea Utara juga
mengklaim, tak terjadi kebocoran bahan radioaktif ke luar lokasi uji coba
Sejumlah pejabat pemerintah Korea Selatan mengungkapkan, uji coba nuklir
dilakukan di Hwadaeri dekat Kilju, wilayah pantai sebelah tenggara pada pukul 10.36 waktu
setempat. Lokasi uji coba adalah daerah pegunungan dengan tinggi 360 meter, dengan
terowongan di dalamnya. Telah terdeteksi getaran seismik sebesar 3,58 magnitudo setara
dengan ledakan 800 ton dinamit seiring uji coba itu. Meski demikian, para pejabat tersebut
menyatakan belum ditemukan peningkatan radiasi yang dirasakan setelah uji coba nuklir
tersebut.
Hal senada juga diungkapkan oleh United States Geological Survey (USGS).
Lembaga ini mengatakan bahwa pada hari Senin, tanggal 9 Oktober 2006 itu, pihaknya telah
mendeteksi sebuah gempa bumi sebesar 4,2 skala Richter di Korea pada pukul 1.35 GMT. 8
USGS mengatakan getarannya sangat dekat ke permukaan tanah.
Selain khawatir dengan program peluru kendali Korea Utara, masyarakat
internasional juga khawatir atas tujuan program nuklirnya. Pengembangan senjata nuklir
dikhawatirkan dapat mengancam keamanan masyarakat dunia. Amerika, Cina, Jepang, Rusia
dan Korea Selatan berulang kali mencoba membujuk Korea Utara untuk menghentikan
program pengembangan nuklirnya. AS juga khawatir kalau Korea Utara nantinya akan
dengan mudah menjual teknologi nuklirnya kepada siapapun demi sejumlah uang (hal ini
dikarenakan Korea Utara merupakan salah satu negara miskin di Asia), sehingga akan dapat
menimbulkan ancaman baru terhadap dunia internasional.
Pada tanggal 4 Juli waktu Amerika Timur, atau bertepatan hari kemerdekaan Amerika
Serikat, Korea Utara mengadakan uji coba peluncuran 7 peluru kendali (rudal). 9 Hal ini tidak
saja diduga sebagai tindakan provokasi terhadap Amerika Serikat, tetapi juga menunjukkan
bahwa Korea Utara tidak memperdulikan peringatan Amerika Serikat, Jepang, Cina, dan
6
http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/09/060919_koreautara.html, diakses pada tanggal 7
Desember 2008 pukul 19:45 WIB
7
http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=113617 diakses pada tanggal 7 Desember 2008 pukul 19:45 WIB.
8
Ibid.
9
http://indonesian.rti.org.tw/indonesian/special/Perspektif/Perspektif_10.htm diakses pada tanggal 7 Desember
2008 pukul 18:43 WIB.
negara-negara tetangga lainnya di Asia. Usaha-usaha telah dilakukan, terutama melalui
kerjasama negara-negara yang terlibat dalam Six Party Talk.
Pihak-pihak utama dalam kasus ini, yakni Amerika Serikat dan Korea Utara, bersikap
balas-membalas. Setelah uji coba peluncuran peluru kendali oleh Korea Utara, Amerika
Serikat mengintensifkan sanksi terhadap Korea Utara. Kini, Korea Utara menimpakan semua
tanggung jawab tidak dapat dipulihkannya Pembicaraan Enam Pihak kepada Amerika
Serikat. AS pun memulai usahanya dengan membawa isu ini untuk dibicarakan di dalam
sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) bahkan kalau mungkin
pun, AS hendak menjatuhkan sanksi bagi Korea Utara. Di lain pihak, Korea Utara yang
menghadapi ancaman sanksi dari AS terlihat tenang-tenang saja, bahkan tetap menjalankan
rencananya untuk mengadakan uji coba senjata nuklir. Bahkan Korea Utara sempat
mengajukan tawaran kepada AS bahwa mereka mungkin akan membatalkan rencana uji
cobanya jika AS mau melakukan perundingan bilateral dengan Korea Utara. 10 Namun AS
yang sudah menganggap Korea Utara (beserta Irak dan Iran) sebagai “axis of evil”, tidak mau
melakukan perundingan langsung dengan Korea Utara.

Mr. President,
Ada dua alasan mengapa Korea Utara giat mengembangkan program nuklirnya.
Pertama, pembekuan program nuklir yang bersumber pada plutonium tahun 1994 tidak
membuahkan hasil timbal-balik yang diharapkan. Pyongyang menuduh Amerika Serikat
mengingkari Agreed Framework 1994 yang disepakati dengan menunda pengapalan 500.000
ton minyak ke Korea Utara. Amerika Serikat berdalih, penundaan dilakukan karena Korea
Utara terus menjalankan program HEU.
Kedua, Korea Utara berambisi menjadi negara nuklir. Dengan memiliki senjata nuklir,
negara dapat survive dan memiliki sarana blackmail. Tuduhan “axis of evil” semakin
meyakinkan Korea Utara akan perlunya kemampuan bela diri. Pyongyang berpendapat,
kepemilikan senjata nuklir adalah hak negara berdaulat untuk mempertahankan kebebasan
bangsa, keamanan negara, dan mencegah perang.
Atas dasar alasan-alasan di atas, Korea Utara menolak patuh pada ketentuan
internasional dan makin diperparah dengan tim inspeksi Badan Tenaga Atom Internasional
pada tanggal 31 Desember 2002 dan penarikan diri dari Traktat Nonproliferasi Nuklir pada
tanggal 9 Januari 2003.11

10
“Jika AS Mau Berunding Uji Coba Nuklir Batal”, Kompas, 9 Oktober 2006, hlm 9.
11
ibid.
Melihat konsekuensi yang mungkin dapat ditimbulkan akibat krisis nuklir di Korea
Utara ini, maka sudah tidak aneh lagi bila AS merasa bahwa isu ini sangat penting bagi
politik luar negerinya. Karena selain isu ini mengganggu usaha pencapaian kepentingan
nasional AS serta mengganggu strategi jangka panjangnya di Asia Timur, AS juga merasa
bahwa ia perlu untuk menjalankan strategi keamanannya yang baru agar hegemoni AS dapat
terus dipertahankan dan agar AS dapat tetap terus memegang peranan penting dalam dunia
internasional, sehingga AS dapat memenuhi cita-citanya sebagai “kota di atas bukit” yang
terus menerus akan dijadikan panutan oleh negara lain yang ada “di bawahnya”.
Jika hingga kini AS masih mencari senjata pemusnah massal Irak, Korea Utara
mengaku memiliki sedikitnya satu senjata nuklir (CNN, 29/4/2003).12 Pengakuan yang
disampaikan dalam dialog AS-Korea Utara di Beijing baru-baru ini menimbulkan
kekawatiran AS. Kekhawatiran tidak hanya karena daya musnahnya, tetapi juga kemungkinan
teknologi nuklir Korea Utara “pindah tangan” ke negara bengal (rouge states) lain atau jatuh
di tangan organisasi terorisme.
Perkembangan persenjataan nuklir mengancam keamanan dan kedamaian dunia.
Kepemilikan senjata nuklir menyulitkan Amerika Serikat untuk mempertahankan
hegemoninya di dunia internasional. Hal ini merupakan kepentingan nasional Amerika
Serikat pada taraf sangat penting.

Mr. President,
Kepentingan nasional Amerika Serikat yang termasuk dalam kategori penting, antara
lain : ketersediaan bahan baku nuklir. Melihat program nuklir di Libya, Iran, atau Korea
Utara, Amerika Serikat khawatir bahan baku nuklir akan habis. Pada kenyataannya Amerika
Serikat merupakan konsumen uranium terbesar saat ini – tidak memiliki sumber daya alam
yang signifikan, atau belum mau terbuka mengenai potensi bahan baku nuklir di Amerika.
Krisis nuklir ini juga mengganggu stabilitas ekonomi dunia internasional.
President Bush telah memperingatkan bahwa pengujian nuklir Korea Utara akan
menjadi ancaman dan mendesak masyarakat internasional bekerja untuk meminta Pyongyang
tidak membahayakan stabilitas dan keamanan dunia.13
Upaya-upaya diplomasi dan pertemuan-pertemuan khusus merupakan alat utama
untuk dapat bernegosiasi dengan Korea Utara, tapi keberhasilan yang didapat juga sangat

12
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/12/opini/300231.htm, diakses pada 7 Desember 2008 pukul
01:00 WIB
13
http://www.kapanlagi.com/h/0000137577.htm, diakses pada 8 Desember 2008 pukul 15:00 WIB
sedikit. Pilihan kebijakan alternatifnya berupa isolasi, sanksi ekonomi, atau serangan militer.
Dalam menghadapi Korea Utara, posisi dasar AS adalah penyelesaian melalui jalur diplomasi
tanpa megesampingkan pilihan instrumen ekonomi atau militer.

Dear, Mr. President,


Sejak tanggal 27 hingga 29 Agustus 2005, Cina, Korea Utara, Amerika Serikat, Rusia,
Jepang, dan Korea Selatan telah mengadakan Pembicaraan Enam Pihak yang pertama di
Beijing.14 Para peserta sama-sama mengusulkan terwujudnya denuklirisasi di Semenanjung
Korea, dan sepakat menyelesaikan masalah nuklir secara damai melalui dialog.
Pembicaraan Enam Pihak yang pertama merupakan satu langkah penting bagi
penyelesaian masalah nuklir Korea secara damai. Pendirian AS berangsur-angsur melunak.
Presiden Bush menyatakan akan memberi jaminan keamanan tertulis dalam bentuk tertentu
kepada pihak Korea Utara, sedangkan Korea Utara juga bersikap menahan diri. Jaminan
berdialog ini juga dinyatakan pada saat pertemuan dirinya dengan Perdana Menteri Cina.15
Pihak Korea Utara juga bersedia meneruskan proses dialog dan menuntut Amerika Serikat
membatalkan pelaksanaan sanksi dan blokade, apabila menginginkan Korea Utara
membekukan kegiatan nuklirnya. Di samping itu, Amerika Serikat dan negara-negara
tetangga Korea Utara harus memberi bantuan energi kepada Korea Utara, termasuk tenaga
listrik nuklir minyak berat. Inilah dasar meneruskan pembicaraan enam pihak.16
Korea Utara berpandangan penghancuran senjata nuklir harus dimulai oleh Amerika
Serikat sebagai pemilik senjata nuklir terbesar di dunia dan Amerika Serikat memanfaatkan
saluran diplomasi untuk mengisolasi Korea Utara dan menekan negara itu agar menerima tim
inspeksi PBB.17 Di pihak lain, Amerika Serikat melihat kesediaan Korea Utara berunding
sebagai taktik mengulur waktu untuk mengembangkan program nuklirnya.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Korea Utara akan menghentikan semua program
pengembangan nuklirnya dan kembali ke Pakta Non-Proliferasi Nuklir (NPT). Tindakan ini
dilanjutkan dengan datangnya 10 anggota tim pemantau Badan Tenaga Atom Internasional
atau IAEA di Pyongyang dengan membawa alat pemantau aktivitas nuklir di Korea Utara
pada tanggal 14 Juli 2007.18

14
http://id.chinabroadcast.cn/1/2003/12/26/1@2630.htm diakses pada tanggal 6 Desember 2008 pukul 20:05
WIB.
15
ibid.
16
ibid.
17
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/12/opini/300231.htm, diakses pada tanggal 7 Desember 2008
pukul 20:45 WIB.
Setelah Pembicaraan Enam Pihak tentang krisis nuklir Korea Utara, Amerika Serikat
mengenakan sanksi moneter terhadap Korea Utara dengan alasan Korea Utara mencetak uang
dolar AS yang palsu.
Amerika Serikat mengenakan embargo ekonomi terhadap Korea Utara. Sejak tahun
2005, Amerika Serikat memberantas kegiatan moneter ilegal Korea Utara. Bulan September
tahun lalu, dengan alasan Bank Delta Asia Makao membantu Korea Utara mencuci uang,
Amerika Serikat menghentikan semua hubungannya dengan bank ini. Selain itu, ada delapan
perusahaan Korea Utara yang dimasukkan dalam daftar hitam (black list) karena mempunyai
hubungan dengan bank Delta Asia Makao.19
Wakil Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Su-hon hari Selasa dalam pidatonya di
depan Pemandangan Umum Sidang Majelis Umum PBB ke-6l mengatakan, mengingat ulah
sabotase Amerika Serikat terhadap Pembicaraan Enam Pihak, Korea Utara dewasa ini tidak
akan kembali ke Pembicaraan Enam Pihak dan menjadikan pencabutan sanksi moneter
sebagai syarat untuk kembali ke Pembicaraan Enam Pihak.20

Mr. President,
Apabila diplomasi tidak efektif, apakah AS akan menggunakan instrumen militer?
Apabila Korea Utara melancarkan uji coba peledakan nuklir, pemerintah AS kemungkinan
akan mempertimbangkan untuk mengambil berbagai tindakan keras, termasuk sanksi
kemiliteran terhadap Korea Utara.21
Satu hal yang pasti, tindakan militer akan berakibat fatal. Perang menciptakan
instabilitas keamanan, sosial, politik dan ekonomi di Semenanjung Korea. Kemampuan
nuklir Korea Utara yang dibarengi sikap “nothing to lose” dapat mendorong “total war”.
Jenderal Gary Luck, Komandan Militer AS di Korea Selatan, memperkirakan satu juta orang
akan tewas jika perang terjadi, termasuk 80.000-100.000 tentara AS (Foreign Affairs,
Maret/April, 2003). Ratusan ribu pengungsi diperkirakan mengalir dari Korea Utara ke Cina

18
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0301/05/ln/duni03.htm diakses pada tanggal 7 Desember 2008 pukul
21:41 WIB.
19
http://indonesian.rti.org.tw/indonesian/special/Perspektif/Perspektif_10.html, diakses pada tanggal 7
Desember 2008 pukul 19:56 WIB.
20
http://id.chinabroadcast.cn/1/2006/09/29/1@50923.html, diakses pada tanggal 7 Desember 2008 pukul 19:56
WIB.
21
http://rki.kbs.co.kr/indonesian/news/news_detail.htm?No=11557 diakses pada tanggal 7 Desember 2008
pukul 19:56 WIB.
atau Korea Selatan. Saat ini saja diperkirakan sekitar 200.000 pengungsi Korea Utara telah
berada di wilayah Cina.22
Jepang, Korea Selatan dan Cina paling mengkawatirkan perang. Kekhawatiran bukan
saja soal banyaknya korban manusia, juga malapetaka ekonomi akibat perang. Jangankan
perang, saling gertak saja telah menimbulkan dampak luar biasa pada pasar uang dan aliran
modal yang bisa memicu krisis ekonomi kawasan. Sebuah institut penelitian Korea Selatan
meramalkan jika ketegangan terus berlangsung, pertumbuhan ekonomi Korea Selatan turun
sampai 1.4% dibanding 6.2% tahun 2005.23
Besarnya resiko berakibat kecilnya kemungkinan tindakan militer terhadap Korea
Utara dalam waktu dekat. Resesi ekonomi AS saat ini juga tidak mendukung. Ekonomi AS
tumbuh dibawah 2,2% tiga tahun terakhir, pengangguran bertambah lebih 400.000 dan dollar
terus melemah. Defisit anggaran tahun 2006 lebih US$300 milyar. 24 Peningkatan anggaran
militer akan mengganggu posisi fiskal yang rentan.

Kesimpulannya,

Menurut saya, Kepentingan nasional AS yang utama adalah mempertahankan


keamanan negaranya (homeland security) secara khusus, dan dunia secara umum. Program
22
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/12/opini/300231.htm, diakses pada tanggal 8 Desember 2008
pukul 18:55 WIB.
23
ibid.
24
ibid.
pengembangan nuklir dan uji coba nuklir yang dilakukan oleh Korea Utara jelas merupakan
ancaman bagi kepentingan nasional AS. Untuk mengatasi ancaman tersebut, AS
menggunakan berbagai cara atau instrumen politik luar negerinya.
Isu mengenai krisis nuklir Korea Utara amatlah penting bagi AS karena AS memiliki
kepentingan nasional yang hendak dicapai di Asia Timur. Sehingga untuk mencapai
kepentingannya itu, AS pun harus bertindak manakala ada ancaman di salah satu negara yang
ada di kawasan itu (dalam hal ini adalah Korea Utara).
Dalam menghadapi aksi Korea Utara ini, AS pun harus menggunakan berbagai
instrumennya. Mulai dari hard power (militer) sampai soft power (ekonomi dan diplomasi).
Namun tidak semua instrumen itu dipakai oleh AS. Ada instrumen yang belum digunakan,
seperti : penjatuhan sanksi baru yang lebih tegas, melakukan kontrol terhadap ekspor,
ataupun memberikan bantuan kepada rakyat Korea Utara yang miskin. Dan adapula
instrumen yang mungkin tidak akan digunakan oleh AS, yaitu : military defence dan military
pre-emptive. Karena diperkirakan, keduanya hanya akan membahayakan kelangsungan hidup
negara-negara sekutunya, yaitu Korea Selatan dan Jepang.
Semoga Presiden dapat memilih dan melaksanakan kebijakan dengan baik

Your executive analise,


Amanda Kuswandi

DAFTAR PUSTAKA
• “Jika AS Mau Berunding Uji Coba Nuklir Batal”, Kompas, 9 Oktober 2006, hlm 9.
• “Rekaman Peristiwa 9/11 di Koran”, Kompas, 11 September 2006, hlm 39.
• “
Revolusi Bush Sumber Perhara”, Kompas, 11 September 2006, hlm 38.
• “Sanksi AS Ancaman Bagi Perundingan Nuklir”,
http://www.sinarharapan.co.id/berita/0512/03/lua08.html, tgl akses 8 Desember 2008, jam
11.36.
• “The New Enemy”, The Economist, 15 September 2001, hlm 15.
• http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2006/09/060919_koreautara.html, diakses
pada tanggal 7 Desember 2008 pukul 19:45 WIB
• http://id.chinabroadcast.cn/1/2003/12/26/1@2630.htm diakses pada tanggal 6 Desember
2008 pukul 20:05 WIB.
• http://indonesian.rti.org.tw/indonesian/special/Perspektif/Perspektif_10.htm diakses pada
tanggal 7 Desember 2008 pukul 18:43 WIB.
• http://www.kapanlagi.com/h/0000137577.htm, diakses pada 8 Desember 2008 pukul
15:00 WIB
• http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/12/opini/300231.htm, diakses pada tanggal
7 Desember 2008 pukul 20:45 WIB.
• http://www.kompas.com/kompas-cetak/0305/12/opini/300231.htm, diakses pada 7
Desember 2008 pukul 01:00 WIB
• http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=113617 diakses pada tanggal 7 Desember 2008
pukul 19:45 WIB.