Anda di halaman 1dari 20

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Pembangunan peternakan merupakan pembangunan salah satu subsektor pada sektor pertanian yang strategis dalam upaya memantapkan ketahanan pangan dan mencerdaskan bangsa. Sebagai subsektor yang berperan sangat besar dalam ketahanan pangan, salah satu masalah pokok yang dihadapi subsektor peternakan adalah penyediaan bahan pangan asal ternak untuk memenuhi konsumsi protein hewani yang saat ini masih tergolong rendah yaitu 5,1 gram per kapita per hari setara dengan konsumsi daging 7,7 kilogram, telur 4,7 kilogram dan susu 7,5 kilogram per kapita per tahun. Salah satu sektor peternakan yang berpotensi baik untuk dikembangkan adalah ternak kerbau. Kerbau termasuk ternak ruminansia besar yang mempunyai potensi tinggi dalam menyediakan daging. Tetapi dalam pengembangannya di Indonesia, terdapat problematika yang cukup membuat ternak kerbau terhambat pengembangannya. Dalam pidato sambutan Gubernur Jawa Tengah pada pembukaan Semiloka Kerbau Nasional dijelaskan bahwa penurunan populasi kerbau merupakan suatu permasalahan yang harus diupayakan solusinya secara serius. Permasalahan yang terjadi pada umumnya disebabkan karena rendahnya produktivitas ternak yang disebabkan kualitas bibit yang kurang baik, tidak adanya seleksi bibit dan terjadinya inbreeding (kawin dengan kerabat dekat), dan tata laksana pemeliharaan yang masih tradisional, sehingga menyebabkan jarak beranak menjadi panjang, lebih dari 18 bulan. Oleh karena itu, perlu dicari terobosan baru dalam bidang peternakan kerbau seperti penggunaan teknologi dalam bidang pembibitan, pengawasan terhadap pemotongan ternak agar tidak berlebihan serta upaya percepatan penambahan populasi ternak kerbau. Salah satu yang menyebabkan rendahnya populasi kerbau disebabkan oleh keterbatasan bibit unggul, mutu pakan rendah, perkawinan silang dalam

kekurangan pengetahuan peternak dalam menangani produk dan reproduksi ternak tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, ternak kerbau merupakan salah satu sektor ternak yang berpotensi dikembangkan sebagai salah satu sumber daging di Indonesia. Namun, dalam pengembangannya mengalami beberapa problematika. Maka, perlu untuk diketahui mengenai problematika-problematika tersebut dimana nantinya akan ditemukan solusi-solusi untuk kerbau menanggulangi dan akhirnya problematika akan dan

meningkatkan

pengembangan

meningkatkan

kesejahteraan peternak kerbau. I.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah pada makalah ini yaitu : 1. Apa yang menjadi masalah pemeliharaan kerbau di Indonesia? 2. Bagaimana solusi untuk mengatasi masalah pemeliharaan kerbau di Indonesia?

II. TINJAUAN PESTAKA

Populasi kerbau di dunia sekitar 158 juta ekor dan 97% berada di Asia (FAO, 2000) sehingga dapat dikatakan bahwa kerbau adalah ternak Asia. Di Indonesia, populasi kerbau tahun 2008 berjumlah 2,2 juta ekor, dimana lebih dari setengahnya (51%) berada di Pulau Sumatera. Tiga propinsi dengan jumlah populasi kerbau terbanyak adalah Nanggroe Aceh Darussalam (410,5 ribu ekor), Sumatera Barat (197,3 ribu ekor) dan Sumatera Utara (189,2 ribu ekor). Selama lima tahun terakhir (2004-2008) populasi kerbau naik turun dan cenderung mengalami penurunan sekitar 8,8% (DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN, 2008). Pertumbuhan populasi kerbau yang kurang menggembirakan dikarenakan beberapa sebab di antaranya adalah masyarakat yang memiliki kerbau hanya sebagai keeper (bukan sebagai producer atau breeder), penyusutan luasan padang pangonan dan daya dukungnya dengan signifikan (DIWYANTO, 2006). Penyakit, perhatian peternak yang kurang baik dalam manajemen

pemeliharaan, dan lain-lain. Pengetahuan peternak yang kurang baik dalam tingkah laku biologi kerbau juga sering menyebabkan kerbau tidak dapat berproduksi dan bereproduksi seperti yang diharapkan (HANDIWIRAWAN, 2006), Dengan permintaan daging yang semakin meningkat, diperlukan upaya untuk meningkatkan populasi. Sebaiknya Pemerintah mencari langkah-langkah terobosan sehingga mencapai keseimbangan antara produksi dan permintaan. Hingga saat ini Propinsi Jambi masih mendatangkan ternak potong dari daerah lain, mencapai 25.654 ekor per tahun (Dinas Peternakan Propinsi Jambi, 2006). Melaporkan sistem pemeliharaan ternak kerbau umumnya masih tradisional dengan penguasaan lahan yang kurang ekonomis, kualitas pakan yang rendah, terbatasnya pengetahuan peternak tentang reproduksi dan belum diterapkan teknologi tepat guna. (Dwiyanto dan Subandrio,1995)

II.

PEMBAHASAN

Kerbau merupakan salah satu ternak ruminansia besar yang mempunyai potensi tinggi dalam menyediakan daging. Kerbau merupakan ternak asli daerah panas dan lembab, khususnya bagian utara tropika. Tujuan pemeliharaan kerbau sebagai tenaga kerja penghasil daging serta susu. Beberapa potensi yang memiliki ternak kerbau antara lain mampu memanfaatkan pakan berkualitas rendah, dapat bertahan dalam lingkungan yang cukup keras dan dapat dikembangkan pola ekstensif maupun terintegrasi dengan komoditas lain. Namun, pada kenyataan usaha ternak kerbau belum berkembang disebabkan oleh masih rendahnya produktivitas kerbau melalui kebijakan pendukung,terutama dalam hal pemuliaan, permodalal, aplikasi teknologi, kelembagaaan, serta peningkatan kemampuan dan wawasan peternak. Dalam Prosiding Seminar Lokakarya Nasional Kerbau (2009), bahwa perkembangan populasi kerbau selama 10 tahun terakhir kurang mengembirakan, bahwa terjadi penurunan populasi dari tahun ke tahun. Populasi kerbau terbesar di beberapa wilayah di indonesia, data statistik pada tahun 2008 menujukkan bahwa sekitar 23,6 % dari populasi kerbau yang ada terdapat di pulau jawa. Secara umum kerbau di pelihara oleh peternak diperdesaan dengan rata-rata kepemilikan1-2 ekor/petani. Salah satu yang menyebabkan rendahnya populasi kerbau di sebabkan oleh keterbatasan bibit unggul, mutu pakan rendah, perkawinan silang dalam kekurangan pengetahuan peternak dalam menangani produk dan reproduksi ternak tersebut.

Manajemen pemeliharaan ternak kerbau meliputi : 1. Manajemen Perkandangan Untuk pemeliaraan ternak kerbau yang baik peternak memerlukan perkandangan dan peralatan kandang yang baik yang berfungsi sebagai tempat tinggal ternak untuk melindungi dari pengaruh buruk iklim (hujan, panas, angin,

temperatur) dan gangguan lainnya seperti hewan liar dan pencurian ternak. Agar ternak dapat berproduksi secara optimal maka kandang harus mampu memberikan tempat yang nyaman bagi ternak. Dalam pembuatan kandang ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan yaitu faktor biologis, faktor teknis dan ekonomis. Masingmasing faktor dijelaskan sebagai berikut: Faktor Biologis: faktor biologis, bagi ternak kerbau yang perlu dipertimbangkan adalah sensitifitas respon ternak terhadap unsur iklim. Misal ternak yang sensitif terhadap panas maka perlu merancang kandang agar tidak menyebabkan iklim didalam kandang panas. Hal ini bertujuan agar ternak dapat berproduksi secara optimal. Pada daerah yang padang rumputnya masih cukup luas, kerbau masih bisa dipelihara secara ekstensif (dibiarkan berkeliaran di padang rumput mencari pakan sendiri tanpa diberi fasilitas kangdang). Kerbau-kerbau tersebut dikandangkan hanya pada musim membajak sawah. Ada juga yang memelihara secara semi instensif, dilepas disiang hari dan dikandangkan di malam hari. Namun bagi daerah yang lahan untuk ternak sudah sangat terbatas, fungsi kandang sangat penting untuk memudahkan pemeliharaan tanpa menggangu kepentingan manusia. Kerbau membutuhkan kandang yang sangat sederhana di banding dengan kandang sapi. Persyaratan kandang kerbau terbuat dari: Kandang kerbau terbuat dari bahan-bahan yang murah tapi kuat Kandang kerbau pada umunya tidak memerlukan atap seperti sapi atau kambing, atap dibutuhkan hanya untuk melindungi ternak kerbau dari sinar matahari Ternak Kerbau termasuk ternak yang membutuhkan air, jadi biasanya disamping kandang perlu dibuatkan kubangan yang sewaktu-waktu kerbau masuk untuk berkubang Mengingat kondisi udara di Indonesia yang panas, maka dinding kandang tidak perlu rapat, sehingga udara bisa masuk lebih banyak.

Kebutuhan luasan kandang bagi ternak kerbau kurang lebih sama dengan sapi yakni sekitar 12m2 /ekor 2. Manajemen Bibit Seleksi kerbau dilakukan untuk mendapatkan calon kerbau yang memiliki kualitas dan penampilan yang bagus. Adapun untuk seleksi bibit kerbau dilakukan berdasarkan performan anak dan individu calon bibit kerbau. Agar dalam pemeliharaan/budidaya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, maka diperlukan seleksi kebau secara baik. Sedangkan untuk mendapatkan kerbau yang baik, maka diperlukan seleksi bibit kerbau juga. Seleksi kerbau dilakukan untuk mendapatkan calon kerbau yang memiliki kualitas dan penampilan yang bagus. Adapun seleksi kerbau tergantung pada tujuan pemeliharaan, yaitu : 1) Pemeliharaan kerbau untuk mencari pengembangbiakan sebaiknya dipilih kerbau yang berusia gudel pascasapih, karena mudah dipelihara dan diarahkan sebagai calon kerbau bibit yang baik; 2) Untuk memperoleh bibit kerbau yang akan dijadikan ternak kerja, sebaiknya dibeli bibit kerbau dengan berat sekitar 200 -250 kg, sudah dilatih sebagai ternak kerja, sehat dan tidak cacat; 3) Kerbau yang akan digemukan sebaiknya dibeli dalam keadaan kurus tapi sehat, tidak cacat dan berat tubuhnya sekitar 200 kg; 4) Kerbau yang akan dijadikan ternak perah, sebaiknya dipilih kerbau yang termasuk tipe perah seperti kerbau Murrah. Bibit kerbau perah dapat diperoleh dari kerbau hasil pembibitan atau kerbau yang sudah dipelihara sebagai ternak perah. Untuk seleksi bibit kerbau dilakukan berdasarkan performan anak dan individu calon bibit kerbau, kriteria seleksi yang dapat digunakan, yaitu : 1) Seleksi dilakukan oleh peternak terhadap bibit ternak yang akan dikembangkan di peternakan maupun terhadap keturunan/bibit ternak yang diproduksi baik oleh kelompok peternak rakyat maupun perusahaan peternakan untuk keperluan peremajaan atau dijual sebagai bibit; 2) Seleksi calon bibit jantan dipilih dari hasil perkawinan 5 - 10 % pejantan terbaik yang dikawinkan dengan betina unggul 75 80 % dari populasi selanjutnya dilakukan uji performan yang dilanjutkan dengan

uji zuirat untuk menghasilkan proven bull; 3) Seleksi calon bibit betina dipilih dari hasil perkawinan 5 - 10 % pejantan terbaik yang dikawinkan dengan betina unggul 75 - 80 % dari populasi selanjutnya dilakukan uji performan. Persyaratan teknis secara umum : 1) Kerbau bebas dari penyakit, terutama penyakit menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), radang limpa (Anthraks), Septichaemia Epizootica (SE), kluron menular (Brucellosis), dan lainlain; 2) Kerbau bibit harus sehat dan bebas dari segala cacat fisik seperti cacat mata (kebutaan), tanduk patah, pincang, lumpuh, kaki dan kuku abnormal, serta tidak terdapat kelainan tulang punggung atau cacat tubuh lainnya; 3) Semua kerbau bibit betina harus bebas dari cacat alat reproduksi, abnormal ambing serta tidak menunjukan gejala kemandulan; 4) Kerbau bibit jantan harus siap sebagai pejantan serta tidak menderita cacat pada alat kelminnya.

3. Manajemen pakan Pemberian pakan pada kerbau disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan dan ukuran tubuhnya. Kebutuhan pakan kerbau dengan berat badan sekitar 500kg, untuk hidup pokok membutuhkan 7-9kg bahan kering. Bagi ternak kerbau yang bekerja perlu ditambahkan sekitar 1/3 hari dari kebutuhan pokonya. Penambahan yang sama bahkan lebih dari induk yang sedang menyusui. Dalam kondisi kerbau tidak bekerja, mereka biasanya dibiarkan merumput sendiri dipinggir sungai, dipinggir jalan atau pematang sawah. Kecuali dalam kondisi perlu diberikan dalam kandang malam hari. Umumnya petani menambah rumput alam yang dipotong dan diberi dalam kandang di sore hari. Ternak yang dipelihara secara ditanbat di padang penggembalaan selama siang hari maka biasanya pada malam harinya masih diberi tambahan berupa rumput potong sekitar 20 kg/ekor/hari. Sedang bagi kerbau yang dikandangkan terus menerus, diberikan hijauan dua kali lebih banyak yaitu mencapai 40 kg/ekor/hari.

4. Manajemen Perkawinan Umumnya perkawinan ternak kerbau menggunakan pejantan yang tersedia di lahan penggembalaan. Kadangkala pejantan disewa dari petani lainnya, karena tidak semua petani memiliki kerbau pejantan. Biaya mengawinkan ternak bervariasi pada tiap daerah. Di Nagari Ladang Laweh (Tanah Datar) misalnya, setiap mengawinkan ternaknya petani membayar sekitar Rp 25.000-30.000 sampai terjadi kebuntingan. Sedang di Nagari Tanjung Bonai (Tanah Datar), petani membayar Rp 5.000 setiap kawin, dengan istilah beli tali buat pejantan. Petani yang memiliki pejantan mengandalkankan kerbau jantan tersebut untuk mengawini betina yang ada di kelompoknya. Kerbau betina umumnya beranak pertama kali pada umur 4 tahun dengan lama kebuntingan 10,5 bulan. Bila pakannya cukup memadai maka 3-4 bulan setelah melahirkan induk kerbau biasanya sudah dapat dikawinkan lagi. Sebagian petani melaporkan jarak beranak selama 14 bulan. Namun umumnya ditemui bahwa usia kebuntingan induk sekitar dua bulan pada saat anak sudah berumur setahun. Dengan demikian jarak beranak menjadi 21 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat reproduksi kerbau hanya mencapai 60%. Apabila dikelola dengan baik maka jarak beranak dapat dipersingkat lagi, terutama dengan penyediaan pakan yang memadai bagi kebutuhan induk dan bagi produksi susunya. Sesudah beranak, saluran reproduksi (uterus) akan kembali ke bentuk serta ukuran semula. Proses pengembalian ini berlangsung selama 25 - 35 hari. Namun demikian, proses tersebut dapat lebih lama lagi uterus terinfeksi sesudah beranak. Hal ini dapat terjadi jika induk beranak dalam kondisi kurang higienis atau dalam keadaan abnormal seperti distocia, uterus mengalami prolapus dan plasenta tertarik. Tanda-tanda birahi akan tampak 30 - 60 hari sesudah beranak. Perkawinan yang dilakukan dengan tidak memperhatikan musim kawin, akan mengurangi nilai keberhasilan. Kegagalan perkawinan akan nambah panjang jarak antara satu kelahiran dan kelahiran berikutnya. Apabila melihat jarak antara 2 kelahiran dan

lama kebuntingan masing-masing 450 - 580 hari dan 310 - 317 hari, maka terkesan bahwa kerbau tersebut tidak bunting cukup lama. Keberadaan Dan Peran Kerbau di Indonesia Populasi kerbau di Indonesia beradasarkan statistik peternakan pada tahun 2008 adalah sekitar 1,9 juta ekor (DITJEN PETERNAKAN, 2008) tersebar di seluruh provinsi. Jumlah populasi 10 provinsi tertinggi di jumpai di beberapa provinsi antara lain ; profinsi NAD (280.662 ekor), sumatra barat (196.854 ekor), nusa tenggara barat (161.450 ekor), sumatra utara(155.341 ekor), banten (153.004 ekor), nusa tenggara timur (148.772 ekor), jawa barat (145.847 ekor), sulawesti selatan (130.109 ekor), jawa tengah (102.591 ekor), dan sumatra selatan (77.271 ekor). Sebagian besar termaksud kerbau lumpur (bubalus-bubalus) yang berkembang di bentuk menurut agreokosisten sehingga menunjukan berbagai tipe kerbau. Di toraja (sulawesi

selatan) ada kerbau bonga, di daerah Alabio ( kalimantan Selatan), ada kerbau rawa/kalang, di tapanuli selatan (sumatra utara), ada kerbau binanga, di maluku kerbau Moa. Disamping itu di daerah taman nasional baluran didapatkan pula kerbau Liar (ZULBARDI dan KUSUMARINGRUM, 2005). Sampai tahun tahun 2008, populasi kerbau di pulau jawa terjadi penurunan yang signifikant dihampir semua provinsi potensial kecuali di banten yang terjadi sedikit peningkatan populasi. Di taman nasional baluran(TNB) sapi bali (banteng) kalah perkembangannya dari kerbau di TNB cukup baik sehingga perlu dilakukan pengurangan populasi dengan penangkap kerbau baluran, mendomestikasinya untuk dipelihara dan di berikan pada petani didaerah sekitarnya. Akan tetapi pemeliharaan hanya bertahan sekitar 3 tahun kemudian dijual untuk dipotong. Kerbau di indonesia sebagain besar di pelihara pada usaha tani kecuali di perdesaan. Untuk kondisi demikian program pemeliharaan kerbau sebaiknya di arahkan pada tujuan ganda (dual purpose). Tujuan ganda yang paling mendesak untuk di indonesia adalah memproduksi daging dan susu sebagai bahan dasar perbaikan gizi masyarakaT. Permintaan dan penawaran daging dan susu semakin tidak seimbang, sehingga import di tidak dapat dihindari, malah setiap tahun cenderung semakin

membesar. Selain itu didaerah perdesaan ternak kerbau berfungsi sebagai tenaga kerja untuk membajak lahan pertanian menarik/penggangkutan perdesaan, sumber pupuk dan sekaligus pemberian keuntungan pendapatan bagi pemilik (KUSNADI et al, 2005). Di beberapa daerah usah ternak kerbau sudah ada yang mengarah pada usaha kormersial, seperti di daerah sumatra utara usaha ternak kerbau murah. Sudah ada yang merupakan usaha pokok dan sebagaian sumber mata pencarian keluarga peternak dengan kisaran populasi kepemilikan antara 75-300 ekor kerbau/keluarga. Umumnya usaha ternak kerbau murah di tunjukan untuk memproduksi susu segar dan menghasilakan bibit ternak kerbau ini berada di sekitar daerah perkebunan kelapa sawit, karet atau perkebunan tebu, karena di daerah tersebut terdapat sumber daya pakan yang cukup berlimpah untuk kebutuhan ternak kerbau. Produksi susu segar kerbau dijual untuk di minum dalam bentuk susu segar atau untuk diolah menjadi makanan, yang dikenal dengan nama dadih. Dari rata-rata produksi susu, seekor kerbau mampu menghasilkan 9-12 liter susu segar per hari. Karena kadar lemak susu kerbau cukup tinggi sebetulnya sangat potensial untuk di jadikan bahan untuk membuat keju atau produk olahan susu lainnya, dimana sampai saat ini di daerah tersebut belum banyak di jumpai. Sementara itu, dari hasil penjualan anak kerbau lepas sapih (umur 6-7 bulan) per populasi induk 100 ekor dapat menghasilkan paling tidak sekitar 80 ekor per tahun. Sehingga usaha ternak kerbau murrah ini sangat layak di usahakan secara komersial di daeah lahan usaha perkebunan atau pertanian. Kerbau telah lama berkembang dan dipelihara pada suatu agroekisistem yang spesifik terseleksi secara alamiah dan menghasilkan tipe kerbau yang berkarakter spesifik. Kelemahan ternak kerbau yakni mempunyai kemampuan terbatas untuk merubah kelebihan tenaga/energi menjadi jaringan lemak dibanding dengan ternak sapi (MORAN, 1975). Hal initersebut merupakan penyebab rendahnya pertambahan bobot badan kerbau walaupun diberi makanan yang berkualitas bagus. Salah satu kelebihan kerbau yang selama ini dipercayai ialah kemampuannya untuk mencernapakan yang mengandung serat kasar tinggi, kerbau mampu mencerna

jerami padi yang tersedia melimpah saat musim panen. Jerami tersebut dapat diimpan sebagai cadangan pakan dimusim kemarau. Beberapa kendala yang dihadapi yang mengakibatkan perkembangan produksi kerbau agak lambat antara lain; tingkat repoduksi rendah, kesulitan mendeteksi uterus, masa kebuntingn lebih lama dibandingkan dengan sapi, dan interval kelahiran lebih panjang. Namun demikian kerbau mampu survive dengan pakan yang berkualitas rendah dibandingkan sapi. Selain itu, kemempuan dan kemauan petani/ peternak kerbau tidak di dukung tidak tersedianya pejantan sehinnga alternative lain untuk mengatasinya adlah dengan cara perkawinan dengan inseminasi buatan (IB). Kendala ini adalah adanya lecendrungan performan produksi menurun dan ternak kerbau yang semakin mengecil bobot badannya, hal ini di duga akibat proses perkawinan yang tidak terencana, sehinngga peluang munculnya efek negativ perkawinan inbreeding (sedarah) semakin meluas. Lain halnya di daerah agroekosistem lahan rawa dan lebak seperti daerah kalimantan selatan, potensi rumput alam di daerah Kalimantan Selatan, potensi

rumput alamdi daerah lahan rawan dan lebak tersebut sangat potensial untuk usaha kerbau kalang secara ekstensif dengan biaya produksi yang murah. Mugkin perlu diteliti peluang untuk memproduksi susu kerbau kalang di daerah tersebut sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani kerbau di daerah tersebut. Masalah Pemeliharaan Kerbau di Indonesia Faktor pemeliharaan kerbau yang menyebabkan menurunnya populasi kerbau di indonesia tidak berbeda jauh dengan di negara-negara asia lainnya. Penurunan produktivitas kerbau disebabkan faktor internal dan faktor eksternal. 1. Faktor internal Faktor internal ditentukan oleh sifat atau karakteristik dari suatu jenis ternak. Pada kerbau sifat internal yang berpengaruh terhadap kendala peningkatan populasi adalah:

a. Masak lambat Kerbau termasuk hewan yang lambat dalam mencapai dewasa kelamin (Subiyanto, 2010). Pada umumnya kerbau mencapai pubertas pada usia yang lebih tua, sehingga kerbau mencapai dewasa kelamin pada usia minimal 3 tahun. 2-3 tahun (Lendhanie, 2005) b. Lama bunting Kerbau akan mengandung anaknya selama 10,5 bulan, sedangkan sapi hanya 9 bulan. Menurut Keman (2006) lama bunting pada kerbau bervariasi dari 300-344 hari (rata-rata 310 hari) atau secara kasar 10 bulan 10 hari. Dikemukakan pula oleh Hill (1998) bahw lama bunting pada kerbau lebih lama dan lebih bervariasi. Untuk kerbau kerja, lama buntuing kerbau mesir bervarisi 325-330 hari. Hasil penelitian Landhanie (2005) di Desa Sapala, kecamatan Danau Panggang lama bunting kerbau rawa mencapai 1 tahun. c. Berahi tenang Tanda-tanda berahi pada kerbau, umumnya tidak tampak jelas (Subiyanto, 2010). Sifat ini menyulitkan paa pengamatan berahi untuk program inseminasi buatan. Meskipun fenomena ini bisa diatasi dengan menggunakan jantan, namun kelangkaan jantan dan sistem pemeliharaan yang terkurung memungkinkan perkawinan tidak terjadi. d. Waktu berahi Umumnya berahi pada kerbau terjada pada saat menjelang malam sampai agak malam den menjelang pagi atau subuh atau lebih pagi (Toilehere, 2001). Menurut Hill (1988) tanda-tanda berahi da kativitas perkawinan pada jkerbau mesir pada umumnya terjadi pada malam hari. Pada saat seperti ini umumnya kerbau-kerbau betina di Indonesian sedang berada dalam kandang yang tertutup yang tidak memungkinkan terjadinya perkawinan.

e. Jarak beranak yang panjang Jarak beranak yang panjang merupakan implikasi dari sifat-sifat reproduksi lainnya. Pada kerbau keerja jarak beranak bervariasi dari 350-800 haru dengan rata-rata 553 hari (Keman, 2006). Menurut Hill (1988) jarak beranak pada kerbau bervariasi dari 334-650 hari. Tyergantung pada manajemen yang dilakukan.

Menurut Ladhanie (2005) jaerak beranaka pada kerbau rawa antara 18-24 bulan. f. Beranak pertama Panjang sifat-sifat produksi lain akan berpengaruh langsung terhadap beranak pertama pada kerbau. Hasil survei di Indonesia terutama si NAD< Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa timur, NTB dan Dulaweisi Selatan, umur pertama kali beranak masing-masing 45,0; 49,6; 47,7; 49,1; 45,6 dan 49,2 bulan denga rata-rata 47,7 bulan (Keman, 2006), sementara itu di Brebes, Pemalang, semarang dan Pati ratarata umur pertama kali8 beranak, berturut-turut adalah 44, 40, 44, dan 42 (Keman 2006). 2. Faktor eksternal Faktor eksternal yang berpengaruh langsung terhadap performa reproduksi adalah: a. Pakan Menurut Murtidjo (1991), makanan ternak kerbau dapat dibagi dalam beberapa golongan menurut kebutuhan, usia, dan manfaat ternak kerbau, yaitu makanan pengganti untuk anak kerbau (gudel), makanan kerbau dara, makanan kerbau dewasa, makanan kerbau laktasi, dan makanan kerbau kering kandang. Bahan baku makanan ternak kerbau digolongkan menjadi 8 kelas, yakni hijauan kering, hijauan segar, silase, makanan sumber energi, makanan sumber protein, makanan sumber mineral, makanan sumber vitamin, dan makanan tambahan. Kontribusi pakan sangat kuat pengaruhnya terhadap performa reproduksi. Makanan berperan penting dalam perkembangan umum dari tubuh dan reproduktif (Tillman, et al., 1983).

Peternak kerrbau di negara kita pada dasarnya merupakan peternak tradisional dan merupakan kegiatan yang turun menurun sehingga pemberian pakan umumnya didapat pada saat digembalakan. Rumput yang tumbuh di lapangan, di pematang sawahn atau pinggir-pinggir jalan adalah pakan yang tersedia pada saat digembalakan. Pakan yang diberikan di kandang pada umumnya jerami kering yang kadangkadang disiram larutan garam dapur. Pada musim kemarau ketersediaan rumpur alam akan sangat menurun jumlahnya dan secara langsung akan berpengaruh langsung terhadap asupan pakan pada ternak. Pakan dengan kualitas dan kuantitas seperti ini akan berpengaruh tidak baik terhadap performa reproduksi. Diperparah lagi oleh tugan yang harus dilakukan pada saat musim mengolah sawah. Meskipun salah satu keunggulan kerbau adalah mampu memamfaatkan pakan dengan kualitas rendah, namun untuk mendapatkan performa reproduksi yang baik memerlukan makanan yang cukup, baik kualitas maupun kuantitas. Solusi untuk mengatasi masalah pemeliharaan ternak kerbau di indonesia Banyak faktor yang harus dilakukan pada pemeliharaan kerbau dalam rangka meningkatkan populasi dan kualitas kerbau diantaranya adalah: 1. Mengupayakan terbentuknya village breeding system (VBC) yang secara khusus mengupayakan pengembangan kerbau. 2. Mengadakan upaya recording serta seleksi kerbau berdasarkan performa dan asal usul ternak dengan cara penjaringan ternak yang baik berdasarkan standarisasi. 3. Penerapan teknologi, khusunya untuk mengolah limbah pertanian (jerami padi, pucuk tebbu, jerami jagung, jerami kedelai). 4. Komitmen yang berkelanjutan. Penurunan populasi kerbau di daerah-daerah tertentu sudah lama terjadi, namun sampai sejauh ini dorongan pemerintah, terutama pemerintah daerah belum nyata mendorong perkembangan populasi di daerahnya masing-masing. Tidak sedikit peternak kerbau berlokasi jauh dari pusat pemerintah sehingga banyak yang tidak tersentuh oleh laju pembangunan.

Fasilitas untuk peningkatan populasi baik software maupun hardware belum sampai ketangan peternak kerbau. Peternak kerbau seolah berjalan sendiri tanpa tahu kemana tujuanya. 5. Pembentukan kelompok ternak. Memungkinkan dapat mendorong peningkatan populasi. Dalam kelompok para peternak bisa merencanakan usaha yang akan dilakukan sehubungan dengan peningkatan populasi, termaksud terbentuknya kandang kelompok. Kandang kelompok bila dikelola dengan baik dengan kesadaran yang tinggi dapat memecahkan masalah ketiadaan jantan dan keterlambatan perkawinan. 6. Melakukan seleksi, baik pada kerbau betina maupaun pada kerbau jantan, terutama pada kerbau jantan. Mengingat satu ekor jantan dalam 1 tahun mampu mengawini 50 ekor betina dan bila semua berhasil bunting maka akan lahir anak kerbau yang genetikanya baik. Pada saat ini justru kerbau betina atau jantan yang tampilanya lebih besar adalah yang paling cepat masuk rumah potong. Peran pemerintah disini melakukan penjaringan agar fenomena yang sudah lama terjadi ini akan dihentikan minimal dikurangi. 7. Peternak yang memiliki kerbau yang baik dan memenuhi standar bibit perlu mendapat penghargaan dengan memberikan sertifikat. Hal ini bisa merangsang prestasi selanjutnya dan akan berpengaruh positif terhadap lingkungan. 8. Mengembangkan program inseminasi buatan pada daerah-daerah yang padat populasi kerbaunya. Penerapan inseminasi buatan (IB) pada kerbau adalah salah satu cara untuk mengatasi terbatasnya pejantan unggul sepanjang secara sosial ekonomi dapat dipertanggungjawabkan (SUBIYANTO, 2010) peran pemerintah harus mengangtifkan kembali produksi mani beku kerbau di balai-balai inseminasi buatan. Dengan inseminasi buatan juga dapat mencegah terjadinya kawin silang dalam. 9. Peningkatan pendidikan inseminator. Inseminator buatan pada ternak bukan pekerjaan mudah untuk itu diperlukan pengetahuan dan keterampilan, lebih-lebih pada kerbau yang saat berahinya sulit diamati. Meskipun demikian kita bila kita mau kita bisa. Pengalaman telah menunjukkan bahwa beberapa tahun yang lalu

pada sapi potong, yang pada saat itu sulit melakukan inseminasi buatan pada sapi potong karena sapi potong terutama sapi lokal juga memperlihatkan berahi tenang. Pada saat ini meningkatnya pengetahuan dan keterampilan para inseminator inseminasi buatan pada sapi potong sudah bisa dilakukan dengan prestasi yang baik. 10. Lokasi peternak kerbau yang umumnya masih berjauhan, akan menyulitkan pelaksanaan inseminasi buatan. Seorang inseminator mungkin saja melayani peternak yang jaraknya dari pos bisa belasan kilometer. Dalam rangka mempercepat peningkatan populasi maka program sinkronisasi birahi waktu pelaksanaan dan jumlah yang akan diinseminasi bisa diatur dan fasilitas inseminasi bisa lebih efisien. Penggunaan teknik sinkronisasi birahi akan mampu meningkatkan efisiensi produksi dan reproduksi kelompok ternak, disamping juga mengoptimalisasi pelaksanaan inseminasi butan dan meningkatkan fertilitas . 11. Untuk meningkatkan mutu genetic kerbau di suatu wilayah, bisa dilakukan dengan membeli pejantan unggul hasil seleksi dari wilayah lain atau menggunakan pejantan IB persilang dengan tipe perah juga bisa dilakukan dengan harapan keturunanya bisa menghasilkan susu yang lebih banyak, minimal bisa memberi susu keturunanya dalam jumlah yang mencukupi.

III. KESIMPULAN

Ternak kerbau merupakan salah satu ternak rumianasia besar yang berperan sebagai penghasil daging untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Secara umum kerbau merupakan sektor ternak yang potensial untuk dikembangkan. Namun, berdasarkah hasil-hasil penelitian diketahui bahwa populasi kerbau cenderung terus menurun. Berbagai problema atau kendala pengembangan kerbau di Indonesia yaitu tingkat repoduksi rendah, kesulitan mendeteksi uterus, masa kebuntingn lebih lama dibandingkan dengan sapi, dan interval kelahiran lebih panjang. Untuk memanajemen pemeliharaan ternak kerbau ini yang perlu di perhatikan adalah kandang, bibit, pakan kemudian manajemen perkawinan, karena dalam ke empat hal ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan populasi ternak. Oleh sebab itu harus selalu di perhatikan. Upaya peningkatan produktivitas kerbau di Indonesia dapat dilakukan melalui kegiatan seleksi sederhana yang dilakukan peternak dan program pemuliaan berkelanjutan yang dilakukan pemerintah dan swasta.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2006.

Sulawesi Tenggara dalam Angka.

BPS Provinsi Sulawesi

Tenggara. http://www.sultra.dalam.angka2006.bps. 15 Agustus 2009. Buku/Brosur " Teknik Pengelolaan Ternak Kerbau ", Dinas Pertanian dan Peternakan, Kabupaten Tangerang-Provinsi Banten 2008. Ditjennak, 2004. Dalam http; www.ditjennak.go.id/basisdataproses.asp?yhn1

=2004&thn2=2008&jt=kerbau&button=submit&rep=2&ket=populasi+nasion al+%28per+provinsi%29+. Gunawan, dkk. 2010. Kebijakan Pengembangan Pembibitan Kerbau Mendukung http://www.scribd.com/doc/16994754/ Kelas-X-SMK - Teknik - Ternak RuminansiaCaturto. http://www.deptan.go.id/daerah-new/jambi/disnakjambi/kerbau-,gif Keman, S. 2006. Reproduksi ternak kerbau. Menyongsong rencana kecukupan daging tahun 2010. Pros. Orasi dan sSeminar Pelepasan dosen purna tugas 2006. Fakultas peterenakan. UGM. Yogyakarta. http://www.scribd.com/doc/16994754/ Kelas-X-SMK-Teknik-Ternak RuminansiaCaturto. http://www.deptan.go.id/daerah-new/jambi/disnakjambi/kerbau-,gif. Lendhanie, UU. 2005. Karakteristik Reproduksi kerbau rawa dalam lingkungan peternakan Rakyat Bioscientiae, 2.(1) kondisi http:/

Bioscientiae.tripod.com Murtidjo, B.A., 1992. Memelihara Kerbau. Kanisius. Yogyakarta Murti, T.W., 2006. Ilmu Ternak Kerbau. Kanisius. Yogyakarta

Peningkatan produksi dan daya saing. Makalah presentase dalam lokakarya RPJP Pustlitbang Peternkan pada 27 januari 2011, Bogor Pros. Semiloka Kerbau Nasional di Brebes, Jateng. 2009. Bogor. Hlm. 109-118. Pedoman "Pengembangan Budidaya Ternak Kerbau", Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan 2003; Rusastra, I.W. 2011. Kinerja industri peternakan: isu dan kebijakan antisipatif Swasembada Daging Sapi/Kerbau. Seminar Lokakarya Pustlitbang Peternakan, Bogor. StepanusB.2008.Kerbautradisi orang toraja. http://www.google.co.id/kerbau+dalam. Setyawan . 2010. Perkembangan Program Aksi Pembibitan Ternak Kerbau di Kabupaten Brebes. . Seminar Lokakarya Peternakan Kabupaten Brebes. Subiyanto.2010.PopulasiKebausemakinmenurun.http:/www.dijennak.go.id/bulletin.ar tikel3.pdf Talib, C. 2010. Peningkatan populasi dan produktivitas kerbau di padang penggembalaan tradisional. Toilehere, MR. 2001./ Potensi dan pengembangan kerbau di Indonesia. Suatu tinjauan reproduksi. Workshop kebijakan ketahanan pangan kerbau sebagai sumber keanekaragaman protein hewani. Kerjasama pustlitbang peternakan dan dinas pertanian peternakan provinsi Bnnaten, Cilegon. Tillman, dkk. 1982. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadja Mada University oress, Fakultas Peternakan,. UGM. Jogjakarta Nasional Kerbau. 2010 Dinas Nasional Kerbau 2010. Pustlitbang Peternakan

Triwulanngsih E., 2006. Kerbau Sumber Daging dan Susu, Mungkinkah?. Balai PenelitianTernakBogor,Indonesia.http://www.balitnak.bogor.kerbau.sumber.d aging.dan.susu.mungkinkah. 11 Agustus 2009.