Anda di halaman 1dari 10

Multi Manfaat dari Pupuk Organik Padat/Kompos

Ada tiga hal penting kegunaan Pupuk Organik Padat atau Kompos, yakni secara KimiaBiologi dan Fisika. Mari kita cermati!

Manfaat secara KIMIA: Kompos atau pupuk organik padat menyumbang tidak kurang dari 50% Kapasitas Tukar Kation (KTK) dalam tanah. Tingginya KTK tidak hanya berperan dalam membentuk kesuburan, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kapasitas buffer (penyangga) dalam tanah sehingga tanaman dapat tumbuh lebih baik meskipun terdapat bermacammacam cekaman seperti keasaman tanah, pengaruh nutrisi dan kondisi lain-lain dalam tanah yang tidak mendukung. KTK yang tinggi juga akan meningkatkan penggunaan elemen nutrisi.

Fungsi lain adalah melancarkan penyerapan nutrien tanah oleh tumbuhan. Dekomposisi bahan organik atau mineralisasi elemen nutrisi dalam bahan organik akan menghasilkan bermacam-macam nutrien seperti Nitrogen, Fosfor, Pottasium, Sulfur dan nutrisi makro serta mikro dalam berbagai ukuran. Penggunaan pupuk organik padat dari berbagai kombinasi bahan organik akan melengkapi pertukaran kesuburan kimiawi. Ketersediaan pupuk organik padat biasanya juga digunakan sebagai parameter kesuburan tanah. Tingginya kadar bahan organik dalam tanah menunjukkan bahwa tanah relatif subur, sebaliknya bila kadar bahan organik dalam tanah menurun maka tanah akan berkurang kesuburannya. Secara umum, bahan organik memiliki tiga pengaruh pada tanah, yaitu pengaruh fisik, kimia dan biologi. Sedikitnya 50% atau lebih Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah dibentuk oleh bahan organik tanah. Sekitar 92-94% nitrogen tanah dan total fosfor dilepaskan oleh bahan organik. Bahan organik tanah terbentuk dari jaringan tanaman

dan kotoran hewan dalam tanah yang kemudian membentuk humus setelah mengalami proses dekomposisi. Humus memiliki sedikit warna dan akan berubah menjadi hitam setelah terjadi reaksi kimia atau oleh mikroorganime tanah. Manfaat secara BIOLOGI: Kandungan Karbon (C) merupakan sumber energi utama untuk aktivitas mikroorganisme tanah. Penambahan pupuk organik padat dengan C/N (nisbah Carbon terhadap Nitrogen) yang tinggi akan menambah penggandaan mikroorganisme. C/N ratio kompos yang telah menurun akan menyebabkan beberapa mikroorganisme tanah mati dan terdekomposisi, kemudian mikroorganisme mati itu akan menjadi sumber nutrisi dalam tanah. Aplikasi kompos dalam tanah akan memberi manfaat atau keuntungan bagi tanaman, bergantung dari jenis tanaman dan jenis bahan organik. Perlakuan tanah dengan serbuk gergaji, dedaunan, pupuk hijau, limbah roti, bekatul, dll, akan meningkatkan perkembangbiakan cacing tanah dan menghambat pertumbuhan populasi nematoda dalam tanah. Perlakuan tanah dengan batang tanaman gramineae seperti jerami akan menurunkan penyakit Wilt dan Blackleg pada kentang dan mati akar pada kacang polong, pea dan kapas. Aplikasi daun tebu akan menjaga kuningnya pisang. Perlakuan bahan organik dalam tanah akan meningkatkan populasi beberapa mikroorganisme menguntungkan, seperti rhizobia untuk fiksasi nitrogen dan mikoriza untuk meningkatkan penggunaan fosfor tanah. Manfaat secara FISIKA: Kandungan serat dalam bahan organik merupakan bagian terpenting dalam peningkatan kandungan fisik tanah. Tanah akan mengalami perubahan struktur dan kandungan karbon yang tinggi akan merangsang pertumbuhan miselium sehingga akan meningkatkan agregat tanah dan meningkatkan permeabilitas serta aerasi bagian tanah. Kelembaban tinggi akan mengabsorpsi kekuatan dan kandungan karbon tinggi akan meningkatkankan pertumbuhan misselium yang berperan dalam granulasi tanah berpasir serta menambah nutrisi dan daya ikat air. Saat musim dingin, bahan organik tanah akan mengabsorpsi panas dan menjaga temperatur tanah pada level tinggi yang berperan dalam pertumbuhan akar tanaman. Nah, begitu pentingnya manfaat serta kegunaan pupuk organik padat/kompos dalam berbudidaya maka mari kita muliakan bumi pertiwi ini. Mari kita ajak sahabat petani untuk bertani dengan hati, dengan menggunakan teknologi Semua Ridho Illahi (SRI), agar bumi pertiwi tetap lestari. Salam

Read more: http://www.herdinbisnis.com/2012/01/multi-manfaat-dari-pupukorganik.html#ixzz2Rx8ymU00

MANFAAT LAIN JERAMI PADI Penulis: Efendy manan Menyambung tulisan saya beberapa waktu lalu tentang arti penting Jerami sebagai salah satu sumber bahan organik yang mudah,murah dan mampu mensubstitusi kebutuhan pupuk kimia.Saya mencoba mengupas hubungan jerami dan hama penyakit yang memusingkan petani beberapa tahun terakhir ini. Seperti kita maklumi bersama,dalam beberapa tahun belakangan ini petani kita begitu direpotkan oleh silih bergantinya serangan hama penyakit : Penggerek batang, Wereng,Tungro,HDB,Blast , asem2 an dll yang sepertinya sulit dikendalikan oleh pestisida kimia. Kita pun hanya bisa mengkambinghitamkan cuaca ekstrem yang menyebabkan ini semua.Pendapat tersebut tidak salah,namun faktor utama yang menyebabkan ini semua disinyalir adalah kebiasaan petani yang membakar,membuang jerami padi yang terjadi selama puluhan tahun. Nah, pertanyaannya sekarang, mengapa ketiadaan jerami sangat berpengaruh pada ledakan hama penyakit? Pada waktu tanaman dipanen,jerami adalah bagian yang tidak diambil yang kuat mengandung silikat dan selulosa yang tinggi. Dalam penelitian terkandung 5,6% Silika dan 40%-43% C organik (Makarim 2007). Ada apa dengan silika?Silika adalah hara mikro yang yang sangat penting bagi tanaman.Banyak terkandung pada tanaman graminae seperti padi,tebu dan jagung yang terdapat pada daun,batang dan gabah.Secara umum manfaat silikat adalah sbb: 1.Sebagai protector dan regulator dalam proses fotosintesis dan kegiatan enzim. 2.Meningkatkan toleransi tanaman pada kekeringan. 3.Dapat mengurangi tingkat keracuna Fe,Mn dan Al seperti yang terjadi pada tanah masam dan berdrainase buruk. 4.Memperkuat jaringan epidermis batang sehingga lebih tahan rebah 5.Meningkatkan ketersediaan hara P dalam tanah. 6.Meningkatkan ketahanan tanaman pada hama dan penyakit. Peran Silikat pada Padi Silikat tidak termasuk hara esensial bagi tanaman,namun demikian manfaat unsur Si bagi padi sangat penting.Si diperlukan untuk menjadikan tanaman memiliki daun yang lebih tegak (tidak

terkulai) sehingga daun efektif menangkap radiasi matahari dan efisien dalam penggunaan nitrogen.Tanaman cukup Si memiliki daun yang terlapisi Silikat dengan baik.Menjadikannya lebih tahan dari serangan penyakit baik fungi dan blast.Batang juga lebih kuat terhadap serangan penggerek batang dan wereng batanng coklat.Dengan adanya silica yang cukup meningkatkan kemampuan akar mengoksidasi lingkungannya seperti ion fero (fe2+) menjadi feri (fe3+) sehingga pada lahan yang banyak besinya tanaman menjadi tidak keracunan unsure besi,demikian pula dengan Mn2+ yang dalam jumlah banyak dapat meracuni tanaman menjadi berkurang karena teroksidasi menjadi Mn4+. Secara umum,pemeberian silica dapat memperbaiki fisiologis tanaman dan dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama,penyakit dan kerebahan.Penambahan silica pada padi dalam sebuah penelitian meningkatkan jumlah gabah per malai dan bobot gabah isi perumpun (Takahashi 1995).kecukupan silika juga menyebabkan daun bendera tetap tegak sehingga proses fotosintesis dari kanopi dapat meningat sampai 10% (Cock and Yoshida 1970). Peran silikat dalam Ketahanan padi terhadap penyakit Penyakit Blast yang disebabkan oleh cendawan Prycularia Oryzae merupakan salah satu masalah penyakit utama pada padi terutama pada padi gogo.Penyakit Blast menyerang tanaman mulai dari stadia muda hingga pengisian bulir dimulai dari batang,daun hingga leher malai.Serangan serius pada fese vegetative dapat menyebabkan kematian tanaman sedangkan pada fase generative yang dapat meyebabkan patahnya leher malai dan bulir padi yang hampa yang bisa menurunkan hasil panen 50%-90% (Amir dan kardin 1991) Munculnya penyakit blast di lahan sawah,diduga disebabkan kandungan silikat pada lahan sawah sudah mulai menurun karena pengelolaan yang intensif sehingga kehilangan silikat yang tinggi.Peran penting silikat disini adalah tanaman yang memiliki kandungan silikat cukup, batang dan daun memiliki lapisan epidermis yang kuat sehingga memberikan perlindungan terhadap penyakit infeksi yang disebabkan oleh jamur dan bakteri. Peran Silikat dalam ketahanan padi terhadap Hama Seperti kita ketahui bersama masalah utama hama padi yang sering menyerang beberapa tahun belakang ini adalah Wereng batang coklat (WBC) dan Penggerek Batang yang menyerang baik pada stadia vegetative maupun generative,yang tentu saja menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.Berbagai upaya telah banyak dilakukan seperti pengendalian dengan pestisida .Namun cara konvensional ini menimbulkan resistensi/kebal hama terhadap pestisida juga mencemari lingkungan.Sehingga diperlukan alternative pengendalian yang lebih efektif. Ada fakta menarik dari sebuah penelitian bahwa dengan pemberian silikat dapat menekan serangan hama seperti wereng batang coklat,wereng hijau,penggerek batang,wereng punggung putih secara signifikan (Ma dan takahashi 2002).Larva dan hama yang memakan tanaman yang berkadar silikat tinggi alat mulutnya aus sehingga hama tidak menyukainya (Sasamoto 1961) Pengaruh nyata dari aplikasi silikat pada tanaman padi terhadap penurunan intensitas serangan hama adalah, pada batang padi yang mengandung konsentrasi silikat tinggi hanya ditemukan 2

larva penggerek daripada berkadar rendah 22 ekor per pot. Demikian pula dengan jumlah kotoran penggerek,pada batang padi yang berkadar silikat tinggi hanya ditemukan 2 gram kotoran berbeda jauh dengan yang berkadar rendah 139 gram per pot (Ma Takahashi 2002). Dari beberapa fakta penelitian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jerami merupakan salah satu faktor terpenting dalam budidaya padi.Yang tidak hanya sebagai penyumbang terbesar C organik dalam tanah tetapi juga sebagai sumber hara mikro silikat yang penting dalam mengendalikan serangan hama maupun penyakit tanaman padi. Akhir kata,masihkan kita menyia-nyiakan jerami padi dengan membakar dan atau membuangnya??? Sumber: A.K Makarim,Suhartatik,A.Kartohardjono 2010

BIOTEKNOLOGI MIKROBA UNTUK PERTANIAN ORGANIK RINGKASAN Alasan kesehatan dan kelestarian alam menjadikan pertanian organik sebagai salah satu alternatif pertanian modern. Pertanian organik mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari input bahan sintetik, baik berupa pupuk, herbisida, maupun pestisida sintetik. Namun, petani sering mengeluhkan hasil pertanian organik yang produktivitasnya cenderung rendah dan lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit. Masalah ini sebenarnya bisa diatasi dengan memanfaatkan bioteknologi berbasis mikroba yang diambil dari sumber-sumber kekayaan hayati.

Tanah sangat kaya akan keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, recycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen dan membantu penyerapan unsur hara. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut.

Teknologi Kompos Bioaktif Salah satu masalah yang sering ditemui ketika menerapkan pertanian organik adalah kandungan bahan organik dan status hara tanah yang rendah. Petani organik mengatasi masalah tersebut dengan memberikan pupuk hijau atau pupuk kandang. Kedua jenis pupuk itu adalah limbah organik yang telah mengalami penghacuran sehingga menjadi tersedia bagi tanaman. Limbah organik seperti sisa-sisa tanaman dan kotoran binatang ternak tidak bisa langsung diberikan ke tanaman. Limbah organik harus dihancurkan/dikomposkan terlebih dahulu oleh mikroba tanah menjadi unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses pengkomposan alami memakan waktu yang sangat lama, berkisar antara enam bulan hingga setahun sampai bahan organik tersebut benarbenar tersedia bagi tanaman. Proses pengomposan dapat dipercepat dengan menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang berkemampuan tinggi. Penggunaan mikroba dapat mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Di pasaran saat ini banyak tersedia produk-produk biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan, misalnya: SuperDec, OrgaDec, EM4, EM Lestari, Starbio, Degra Simba,

Stardec, dan lain-lain. Kompos bioaktif adalah kompos yang diproduksi dengan bantuan mikroba lignoselulolitik unggul yang tetap bertahan di dalam kompos dan berperan sebagai agensia hayati pengendali penyakit tanaman. SuperDec dan OrgaDec, biodekomposer yang dikembangkan oleh Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), dikembangkan berdasarkan filosofi tersebut. Mikroba biodekomposer unggul yang digunakan adalah Trichoderma pseudokoningii , Cytopaga sp, dan fungi pelapuk putih. Mikroba tersebut mampu mempercepat proses pengomposan menjadi sekitar 2-3 minggu. Mikroba akan tetap hidup dan aktif di dalam kompos. Ketika kompos tersebut diberikan ke tanah, mikroba akan berperan untuk mengendalikan organisme patogen penyebab penyakit tanaman. Biofertilizer Petani organik sangat menghindari pemakaian pupuk kimia. Untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman, petani organik mengandalkan kompos sebagai sumber utama nutrisi tanaman. Sayangnya kandungan hara kompos rendah. Kompos matang kandungan haranya kurang lebih : 1.69% N, 0.34% P2O5, dan 2.81% K. Dengan kata lain 100 kg kompos setara dengan 1.69 kg Urea, 0.34 kg SP 36, dan 2.18 kg KCl. Misalnya untuk memupuk padi yang kebutuhan haranya 200 kg Urea/ha, 75 kg SP 36/ha dan 37.5 kg KCl/ha, maka membutuhkan sebanyak 22 ton kompos/ha. Jumlah kompos yang demikian besar ini memerlukan banyak tenaga kerja dan berimplikasi pada naiknya biaya produksi. Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan ( leguminose ). Mikroba penambat N nonsimbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K. Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza

yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp. Mikroba-mikroba bermanfaat tersebut diformulasikan dalam bahan pembawa khusus dan digunakan sebagai biofertilizer. Hasil penelitian yang dilakukan oleh BPBPI mendapatkan bahwa biofertilizer setidaknya dapat mensuplai lebih dari setengah kebutuhan hara tanaman. Biofertilizer yang tersedia di pasaran antara lain: Emas, Rhiphosant, Kamizae, OST dan Simbionriza. Agen Biokontrol Hama dan penyakit merupakan salah satu kendala serius dalam budidaya pertanian organik. Jenis-jenis tanaman yang terbiasa dilindungi oleh pestisida kimia, umumnya sangat rentan terhadap serangan hama dan penyakit ketika dibudidayakan dengan sistim organik. Alam sebenarnya telah menyediakan mekanisme perlindungan alami. Di alam terdapat mikroba yang dapat mengendalikan organisme patogen tersebut. Organisme patogen akan merugikan tanaman ketika terjadi ketidakseimbangan populasi antara organisme patogen dengan mikroba pengendalinya, di mana jumlah organisme patogen lebih banyak daripada jumlah mikroba pengendalinya. Apabila kita dapat menyeimbangakan populasi kedua jenis organisme ini, maka hama dan penyakit tanaman dapat dihindari. Mikroba yang dapat mengendalikan hama tanaman antara lain: Bacillus thurigiensis (BT), Bauveria bassiana , Paecilomyces fumosoroseus, dan Metharizium anisopliae . Mikroba ini mampu menyerang dan membunuh berbagai serangga hama. Mikroba yang dapat mengendalikan penyakit tanaman misalnya: Trichoderma sp yang mampu mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh Gonoderma sp, JAP (jamur akar putih), dan Phytoptora sp. Beberapa biokontrol yang tersedia di pasaran antara lain: Greemi-G, Bio-Meteor, NirAma, Marfu-P dan Hamago. Aplikasi pada Pertanian Organik Produk-produk bioteknologi mikroba hampir seluruhnya menggunakan bahan-bahan alami. Produk ini dapat memenuhi kebutuhan petani organik. Kebutuhan bahan organik dan hara tanaman dapat dipenuhi dengan kompos bioaktif dan aktivator pengomposan. Aplikasi biofertilizer pada pertanian organik dapat mensuplai kebutuhan hara tanaman yang selama ini dipenuhi dari pupuk-pupuk kimia. Serangan hama dan penyakit tanaman

dapat dikendalikan dengan memanfaatkan biokotrol. Petani Indonesia yang menerapkan sistem pertanian organik umumnya hanya mengandalkan kompos dan cenderung membiarkan serangan hama dan penyakit tanaman. Dengan tersedianya bioteknologi berbasis mikroba, petani organik tidak perlu kawatir dengan masalah ketersediaan bahan organik, unsur hara, dan serangan hama dan penyakit tanaman.

Penulis: Isroi, S.Si, M.Si Peneliti Mikroba Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia Lembaga Riset Perkebunan Indonesia Jalan Taman Kencana No. 1 Bogor 16151 Telp. 0251 324048/327449 Fax. 0251 328516