Anda di halaman 1dari 42

BAB I PENDAHULUAN Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Upaya-upaya itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Yang bersifat permanen dinamakan pada wanita tubektomi dan pada pria vasektomi.1 Akses terhadap pelayanan ke;uarga berencana yang bermutu merupakan suatu unsur pemting dalam upaya mencapai pelayanan kesehatan reproduksi sebagaimana tercantum dalam program aksi dari International Conference on population and Development, Kairo, 1994. Secara khusu dalam hal ini termasuk hak setiap orang untuk memperoleh informasi dan akses terhadap berbagai metode kontrasepsi yang aman, efektif , terjangkau dan akseptabel. 2 Sementara itu peran dan tanggung jawab pria dalam Keluarga Berencana perlu ditingkatkan. Program keluarga Berencana perlu ditingkatkan agar pria dapat mendukung pilihan kontrasepsi oleh istrinya, meningkatkan komunikasi di antara suami istri, meningkatkan penggunaan metode kontrasepsi pria, meningkatkan upaya pencegahan IMS, dll. 2 Apabila pasangan seksual yang diperkirakan subur dan tidak menggunakan metode kontrasepsi apapun, sekitar 90 persen wanita yang bersangkutan akan hamil dalam 1 tahun. Wanita muda berapapun usianya yang tidak ingin hamil seyogyanya dinasehati untuk menggunakan kontrasepsi setiap kali mereka memulai aktivitas seksual. 3 Sampai saat ini belum ada suatu cara kontrasepsi yang 100% ideal. Yang ada ialah kontrasepsi yang memenuhi syarat atau hampir memenuhi syarat. Yang penting adalah memakai salah satu cara kontrasepsi jauh lebih baik dari tidak memakai kontrasepsi sama sekali. Ciri-ciri suatu kontrasepsi yang ideal meliputi daya guna (cara penggunaanya sederhana, lama kerjanya dapat diatur menurut keinginan), aman pemakaiannya, harganya murah dapat dijangkau masyarakat luas, estetik (tidak mengganggu hubungan persetubuhan, dapat diterima oleh pasangan suami istri), mudah didapat, tidak memerlukan motivasi terus-menerus (tidak memerlukan bantuan medik atau kontrol yang ketat selama pemakaian), efek samping minimal.1,3

BAB II
1

TINJAUAN PUSTAKA II.1 Definisi Kontrasepsi berasal dari kata Kontra berarti mencegah atau melawan, sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur (sel wanita) yang matang dan sel sperma (sel pria) yang mengakibatkan kehamilan. Maksud dari kontrasepsi adalah menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel telur yang matang dengan sel sperma tersebut. 1,4 Jadi, Kontrasepsi ialah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Yang bersifat permanen dinamakan pada wanita tubektomi dan pada pria vasektomi.1,4 Sampai sekarang cara kontrasepsi yang ideal belum ada. Kontrasepsi ideal itu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: 1 1. Dapat dipercaya 2. Tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan 3. Daya kerjanya dapat diatur memenuhi kebutuhan 4. Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus 5. Tidak memerlukan motivasi terus menerus 6. Mudah melaksanakannya 7. Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat 8. Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan yang bersangkutan. Menurut cara pelaksanaannya kontrasepsi dibagi dua, yaitu cara temporer (spacing) dan cara permanen (kontrasepsi mantap). Cara temporer (spacing) yaitu menjarangkan kelahiran selama beberapa tahun sebelum hamil lagi. Cara permanen (kontasepsi mantap) yaitu mengakhiri kesuburan dengan cara mencegah kehamilan secara permanen, pada wanita disebut sterilisasi dan pada pria disebut vasektomi. 5,6 Metode-metode Kontrasepsi yang saat ini digunakan antara lain, yaitu: 7 1. Metode Amenorea Laktasi (MAL) 2. Keluarga Berencana Alamiah (KBA) 3. Sanggama Terputus (Coitus Interruptus) 4. Tekhnik fisik, kimiawi atau barier (sawar)
2

5. Kontrasepsi Kombinasi 6. Kontrasepsi Progestin 7. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim 8. Sterilisasi permanen atau Kontrasepsi Mantap II.2 Metode Kontrasepsi II.2.1 Metode Amenore Laktasi (MAL) Menyusui penting untuk kesehatan bayi dan mengatur jarak kehamilan. Bagi ibu yang menyusui kecil kemungkinannya terjadi ovulasi selama 10 minggu pertama setelah melahirkan. Namun, menyusui bukan merupakan metode keluarga berencana yang dapat diandalkan bagi wanita yang bayinya hanya disusui selama 3-4 jam siang hari dan mendapat makanan lain. 3 Metode amenore laktasi adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian air susu ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman apapun lainya. Dapat dipakai sebagai kontrasepsi bila; menyusui secara penuh (full breast feeding) dan lebih efektif bila pemberianya 8 kali sehari, belum haid, umur bayi kurang dari 6 bulan. MAL efektif sampai 6 bulan, dan harus dilanjutkan dengan pemakaian metode kontrasepsi lainnya. Cara kerjanya adalah dengan penundaan/penekanan ovulasi.6,7 Keuntungan Metode Amenore Laktasi (MAL), yaitu: 7 o Efektifitas tinggi (keberhasilan 98% pada enam bulan pascapersalinan) o Segera efektif o Tidak mengganggu senggama o Tidak ada efek samping secara sistemik o Tidak perlu pengawasan medis o Tidak perlu obat atau alat o Tanpa biaya Yang dapat menggunakan MAL adalah ibu yang menyusui secara eksklusif, bayi berumur kurang dari 6 bulan dan belum mendapat haid setelah melahirkan. Yang seharusnya tidak menggunakan MAL adalah sudah mendapat haid setelah bersalin, tidak menyusui secara eksklusif, bayinya sudah berumur lebih dari 6 bulan, serta bekerja dan terpisah dari bayi lebih lama dari 6 jam. Laktasi dikaitkan dengan adanya prolaktinemi dan prolaktin menekan adanya ovulasi. 4,7
3

II.2.2 Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA) o Manfaat KBA7 Dapat digunakan untuk menghindari atau mencapai kehamilan. Tidak ada resiko kesehatan yang berhubungan dengan kontrasepsi. Tidak ada efek samping sistemik. Murah atau tanpa biaya. Sebagai kontrasepsi sedang (9-20 kehamilan per 100 perempuan selama tahun pertama pemakaian. Catatan utuk MOB bila aturan ditaati kegagalan 0% (kegagalan metode/methode failure dan 0-3% kegagalan pemakai/users failure, yaitu pasangan dengan sengaja atau tanpa sengaja melanggar aturan untuk mencegah kehamilan). Keefektifan tergantung dari kemauan dan disiplin pasangan untuk mengikuti instruksi. Perlu ada pelatihan sebagai persyaratan untuk menggunakan jenis KBA yang paling efektif secara benar. Dibutuhkan pelatih/guru KBA (bukan tenaga medis). Pelatih/guru KBA harus mampu membantu ibu mengenali masa suburnya, memotivasi pasangan untuk menaati aturan jika ingin menghindari kehamilan dan menyediakan alat bantu jika diperlukan, misalnya buku catatan khusus, termometer (oral atau suhu basal). Perlu pantang selama masa subur untuk menghindari kehamilan. Perlu pencatatan setiap hari. Infeksi vagina membuat lendir serviks sulit dinilai. Termometer basal diperlukan untuk metode tertentu. Tidak terlindung dari IMS termasuk HBV (Virus Hepatitis B) dan HIV/AIDS.

o Keterbatasan 7

o Yang dapat menggunakan KBA7

Semua perampuan semasa reproduksi, baik siklus haid teratur maupun tidak teratur, tidak haid baik karena menyusui maupun pramenopause. Semua perempuan dengan paritas berapapun termasuk nulipara. Perempuan kurus atau gemuk. Perempuan yang merokok. Perempuan dengan alasan kesehatan tertentu antara lain hipertensi sedang, varises, dismenore, sakit kepala sedang atau herat, mioma uteri, endometritis, kista ovarii, anemia defisiensi besi, hepatitis virus, malaria, trombosis vena dalam, atau emboli paru.

Pasangan dengan alasan agama atau filosofi untuk tidak menggunakan metode lain. Perempuan yang tidak dapat menggunakan metode lain. Pasangan yang ingin pantang sanggama lebih dari seminggu pada setiap siklus haid. Pasangan yang ingin dan termotivasi untuk mengobservasi, mencatat, dan menilai tanda dan gejala kesuburan.

o Yang tidak dapat menggunakan KBA7 Perempuan yang dari segi umur, paritas atau masalah kesehatannya membuat kehamilan menjadi suatu kondisi tinggi. Perempuan sebelum mendapat haid (menyusui, segera setelah abortus), kecuali MOB. Perempuan dengan siklus haid yang tidak teratur, kecuali MOB. Perempuan yang pasangannya tidak mau berkerjasama (berpantang) selama waktu tertentu dalam siklus haid. Perempuan yang tidak suka menyentuh daerah genitalianya. Dalam mengguankan kontrasepsi alamiah, dianjurkan untuk tidak menggunakan salah satu metode saja, tapi mengkombinasikan keduanya. 1,6 Macam- macam KBA : 6,7 yang paling efektif adalah metode lendir serviks/metode ovulasi billing(MOB). metode suhu basal

cara yang kurang efektif misalnya sistem kalender atau pantang berkala (kegagalan cukup tinggi > 20% dan waktu pantang yang lebih lama.

II.2.2.1 Metode Ovulasi Billing/ Metode Lendir Serviks Dalam metode ini dilakukan penilaian lendir serviks. Sifat cairan vagina bervariasi selama siklus haid. Lendir di vagina diperiksa dengan jari tangan klien sendiri kedalam vagina dan mencatat bagaimana lendir itu dirasakan setiap hari. Naumn tidak dianjurkan untuk periksa kedalam vagina . 6,7 Setelah haid berakhir, umumnya wanita mengalami beberapa hari tidak ada lendir dan daerah vagina dirasakan kering. Ini dikenal sebagai hari-hari kering. 6,7 Setelah itu, seorang wanita mulai melihat adanya lendir. Lendir ini secara klinis lengket seperti bubur atau rapuh. Warnanya berpariasi dari kuning sampai putih. Karena lendir ini tidak seberapa lembab, daerah vagina masih dirasakan kering atau seperti lengket. Bila terdapat lendir jenis apapun sebelum ovulasi, saat-saat ini disebut masa subur. 6,7 Saat ovulasi terjadi dan estrogen meningkat, lendir menjadi basah. Lendir ini jumlahnya bertambahsecara bertahap dan warnanya semakin jernih. Lendir ini menjadi semakin basah, elastis dan licin. Lendir ini seperti putih telur dan dapat diregangkan diantara kedua jari. Ini adalah jenis lendir yang memungkinkan sperma hidup dan berenang menuju sel telur. 6,7 II.2.2.2 Metode Suhu Basal Hormon progesterone yang disekresi korpus luteum setelah ovulasi bersifat termogenik atau memproduksi panas. Ia dapat menaikkan suhu tubuh 0,05 derajat sampai 0,2 derajat C dan mempertahankannya pada tingkat ini sampai pada haid berikutnya. Peningkatan suhu tubuh ini disebut sebagai peningkatan termal dan ini merupakan dasar dari Suhu Tubuh Basal. Oleh karena itu siklus ovulasi dapat dikenali dari catatan suhu tubuh. 1,6,7 II.2.2.3 Metode Pantang Berkala Cara pantang bekala mula-mula diperkenalkan oleh Kyusaku Ogino dari Jepang dan Herman Knaus dari Jerman tahun 1931. Oleh karena itu cara ini sering juga disebut cara OginoKnaus.mereka bertitik tolak dari hasil penyelidikan bahwa sorang wanita hanya dapat hamil selama beberapa hari saja dalam tiap daur haidnya. Masa subur yang juga disebut fase ovulasi
6

mulai 48 jam sebelum ovulasi dan berakhir 24 jam setelah ovulasi. Sebelum dan sesudah masa itu, wanita tersebut berada dalam masa tidak subur. 1,6 Prinsip pantang berkala ialah tidak melakukan persetubuhan pada masa subur istri. Untuk menentukan masa subur istri dipakai tiga patokan, yaitu: 1,6 ovulasi umumnya terjadi 14 2 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Sperma dapat hidup dan membuahi dalam 48 jam setelah ejakulasi Ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi.

Jadi, jika konsepsi ingin dicegah, koitus harus dihindari sekurang-kurangnya selam 3 hari (72 jam), yaitu 48 jam sebelum ovulasi dan 24 jam sesudah ovulasi terjadi. 1 Kesulitan cara ini ialah bahwa waktu yang tepat dari ovulasi sulit untuk ditentukan ; ovulasi umumnya terjadi 14 2 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Dengan demikian pada wanita dengan haid yang tidak teratur, saat terjadinya ovulasi sulit atau sama sekali tidak dapat diperhitungkan. Selain itu, ada kemungkinan bahwa pada wanita dengan haid teratur, oleh salah satu sebab (misalnya karena sakit) ovulasi tidak datang pada waktu atau sudah datang sebelum saat semestinya. 1 Pada wanita dengan daur haid tidak teratur, akan tetapi dengan variasi yang tidak jauh berbeda, dapat diterapkan masa subur dengan suatu perhitungan, dimana daur haid terpendek dikurangi dengan 18 hari dan daur terpanjang dikurangi dengan 11 hari. Masa aman adalah sebelum daur haid yang telah dikurangi. Untuk dapat mempergunakan cara ini, wanita yang bersangkutan sekurang-kurangnya harus mempunyai catatan tentang lama daur haidnya selama 6 bulan, atau lebih baik jika wanita tersebut mempunyai catatan tentang lama daur haidnya selama 1 tahun penuh.1 Cara ini akan lebih tinggi efektivitasnya jika dibarengi pula dengan pengukuran suhu basal badan; dengan pengukuran ini dapat ditentukan dengan tepat saat terjadinya ovulasi. Menjelang ovulasi suhu basal badan turun, kurang dari 24 jam sesudah ovulasi suhu badan naik lagi sampai tingkat lebih tinggi lebih tinggi daripada tingkat suhu sebelum ovulasiu, dan tetap tinggi sampai akan terjadi haid. Bentuk grafik suhu basal dengan demikian adalah bifasis, dengan dataran pertama lebih rendah daripada dataran kedua, dengan saat ovulasi diantaranya. 1

II.2.3 Sanggama Terputus (Coitus Interuptus) Mupakan metode keluarga berencana (KB) tradisional, di mana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi. Cara ini merupakan cara kontrasepsi yang tertua yang dikenal oleh manusia, dan mungkin masih merupakan cara yang banyak dilakukan sampai sekarang.1,7 o Cara kerja : alat kelamin (penis) dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina sehingga tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum, dan kehamilan dapat dicegah. 7 o Manfaat : kontrasepsi (efektif bila dilaksanakan dengan benar, tidak mengganggu produksi ASI, dapat digunakan sebagai pendukung metode KB lainnya, tidak ada efek samping, dapat digunakan setiap waktu, tidak membutuhkan biaya) dan nonkontrasepsi (meningkatkan keterlibatan suami dalam KB, untuk pasangan memungkinkan hubungan lebih dekat dan pengertian yang sangat dalam). 7 o Keterbatasan : efektifivitas bergantung pada kesediaan pasangan untuk melakukan sanggama terputus setiap melaksanakannya (angka kegagalan 4-27 kehamilan per 100 perempuan per tahun), efektivitas akan jauh menurun apabila sperma dalam 24 jam sejak ejakulasi masih melekat pada penis, memutus kenikmatan dalam berhubungan seksual. ,2 o Dapat dipakai untuk : suami istri yang ingin berpartisipasi aktif dalam KB, pasangan yang taat beragama atau mempunyai filosofi untuk tidak memakai metode-metode lain, pasangan yang memerlikan kontrasepsi dengan segera, pasangan yang memerlukan metode sementara, sambil menunggu metode yang lain, pasangan yang membutuhkan metode pendukung, pasangan yang melakukan hubungan seksual tidak teratur. 7 o Tidak dapat dipakai untuk : suami dengan pengalaman ejakulasi dini, suami yang sulit melakukan sanggama terputus, suami yang memiliki kelainan fisik atau psikologis, ibu yang memiliki pasangan yang sulit bekerja sama, pasangan yang kurang dapat saling berkomunikasi, pasangan yang tidak bersedia melakukan sanggama terputus. o Instruksi bagi pemakai metode sanggama terputus: 7 Meningkatkan kerja sama dan membangun saling pengertian sebelum melakukan hubuingan seksual dan pasangan harus mendiskusikan dan menyepakati penggunaan metode senggama terputus.

Sebelum berhubungan pria terlebih dahulu mengosongkan kandung kemih dan membersihkan ujung penis untuk menghilangkan sperma dari ejakulasi sebelumnya.

Apabila merasa akan ejakulasi, pria segera mengeluarkan penisnya dari vagina pasangannya dan mengeluarkan sperma di luar vagina. Pastikan pria tidak terlambat melaksanakannya. Sanggama tidak dianjurkan pada masa subur.

II.2.4 Metode Barier / Sawar II.2.4.1 Kondom Merupakan selubung/sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan di antaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat berhubungan seksual. Terbuat dari karet sintetis yang tipis, berbentuk silinder, dengan muaranya berpinggir tebal, yang bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti puting susu. Berbagai bahan telah ditambahkan pada kondom baik untuk meningkatkan efektivitasnya (misalnya penambah spermisida) maupun sebagai aksesoris aktivitas seksual. Standar kondom dilihat dari ketebalannya, pada umumnya tebalnya 0,02 mm.1,7 Tidak hanya mencegah kehamilan, tetapi juga mencegah infeksi menular seksual (IMS) termasuk HIV/AIDS, efektif bila dipakai dengan baik dan benar, dapat dipakai bersama kontrasepsi lain untuk mencegah infeksi menular seksual (IMS). Tipe kondom terdiri dari; kondom biasa, kondom berkontur (bergerigi), kondom beraroma dan kondom tidak beraroma. 1,7 Kondom pria dan wanita; kondom pria sudah cukup dikenal namun untuk kondom wanita walaupun sudah ada, belum populer dengan alasan ketidaknyamanan (berisik).5 o Cara kerja 7 Menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas sperma di ujung selubung karet yabg dipasngkan pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan. Mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dan HIV/AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain (khusus kondom kondom yang terbuat dari lateks dan vinil).

o Efektivitas 7 Cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan tidak efektif karena tidak dipakai secara konsisten. Secara ilmiah hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun. o Manfaat 7 Untuk Kontrasepsi : Efektif bila digunakan dengan benar. Tidak mengganggu produksi ASI. Tidak mengganggu kesehatan pengguna kondom. Tidak mempunyai pengaruh sistemik. Murah dan dapat dibeli secara umum. Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus. Metode kontrasepsi sementara bila kontrasepsi lainnya harus ditunda. Memberikan dorongan kepada suami untuk ikut ber-KB. Dapat mencegah penularan IMS. Mencegah ejakulasi dini. Membantu mencegah terjadinya kanker serviks (mengurangi iritasi bahan karsinogenik eksogen pada serviks). o Saling berinteraksi sesama pasangan. Mencegah imuno infertilitas. Keterbatasan 7 Efektivitas tidak terlalu tinggi. Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi. Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan langsung). Pada beberapa pemakai bisa menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan ereksi. Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual.
10

Untuk Nonkontrasepsi :

Beberapa pemakai malu untuk membeli kondom di tempat umum. Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah.

o Cara penggunaan : 7 Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual. Agar efek kotrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida ke dalam kondom. Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet, gunting atau benda tajam lainnya pada saan membuka kemasan. Pasangkan kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya pada glans penis dan tempatkan bagian penampung sperma pada ujung uretra. Lepaskan gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan tersebut ke arah pangkal penis. Pemasangan ini harus dilakukan sebelum penetrasi penis ke vagina. Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada bagian ujungnya, maka saat memakai, longgarkan sedikit bagian ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi. Kondom dilepas sebelum penis melembek. Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan lepaskan kondom di luar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma di sekitar vagina. Gunakan kondom hanya untuk satu kali pakai. Buang kondom lepas pakai pada tempat yang aman. Sediakan kondom dalam jumlah yang cukup di rumah dan jangan disimpan di tempat yang panas karena hal ini dapat menyebabkan kondom menjadi rusak atau robek saat digunakan. Jangan gunakan kondom bila kemasannya robek atau kondom tampak rapuh/kusut. Jangan gunakan minyak goreng, minyak mineral, atau pelumas dari bahan petrolatum karena akan segera merusak kondom.

11

II.2.4.2 Diafragma Vagina Adalah kap berbentuk bulat cembung, terbuat dari lateks (karet) yang diinsersikan ke dalam vagina sebelum berhubungan seksual dan menutup serviks. 2,5 Jenis 7 Flat spring (flat metal band). Coil spring (coiled wire). Arching spring (kombinasi metal spring).

Cara kerja 7 Menahan sperma agar tidak mendapatkan akses mencapai saluran alat reproduksi bagian atas (uterus dan tuba falopii) dan sebagai alat tempat spermisida. Manfaat 7 Kontrasepsi Efektif bila digunakan dengan benar. Tidak mengganggu produksi ASI. Tidak mengganggu hubungan seksual karena telah terpasang sampai 6 jam sebelumnya. Tidak mengganggu kesehatan pasien. Tidak mempunyai pengaruh sistemik. Salah satu perlindungan terhadap IMS/HIV/AIDS, khususnya apabila digunakan dengan spermisida. Bila digunakan pada saat haid, menampung darah menstruasi. Efektivitas sedang (bila digunakan dengan spermisida angka kegagalan 6-16 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama). Keberhasilan sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan mengikuti cara penggunaan. Motivasi diperlukan berkesinambungan dengan menggunakannya setiap berhubungan seksual.
12

Nonkontrasepsi

Keterbatasan 7

Pemeriksaan pelvik oleh petugas kesehatan terlatih diperlukan untuk memastikan ketepatan pemasangan. Pada beberapa pengguna menjadi penyebab infeksi saluran uretra. Pada 6 jam pascahubungan seksual, alat masih harus ada diposisinya.

II.2.4.3 Spermisida Spermisida adalah bahan kimia (biasanya non oksinol-9) digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma. Dikemas dalam bentuk : 1,7 Aerosol (busa). Tablet vaginal, suppositoria, atau dissolvable film. Krim. Cara kerja 7 Menyebabkan sel membran sperma terpecah, memperlambatkan pergerakan sperma, dan menurunkan kemampuan pembuahan sel telur. Pilihan : 7 Manfaat 7 Kontrasepsi: Efektif seketika (busa & krim). Tidak mengganggu produksi ASI. Bisa digunakan sebagai pendukung metode lain. Tidak mengganggu kesehatan. Tidak mempunyai pengaruh sistemik. Mudah digunakan. Meningkatkan lubrikasi selama hubungan seksual. Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus. Busa (aerosol) efektif setelah insersi Busa spermasida dianjurkan apabila digunakan hanya sebagai metode kontrasepsi. Tablet vagina, suppositoria, dan film penggunaanya disarankan menunggu 10-15 menit sesudah dimasukkan sebelum hubungan seksual. Jenis spermisida jelli biasanya hanya digunakan dengan diafragma.

Nonkontrasepsi:
13

Salah satu perlindungan terhadap IMS (HBV dan HIV/AIDS).

Keterbatasan 7 Efektivitas kurang (18-29 kehamilan per 100 perempuan per tahun pertama). Efektivitas sebagai kontrasepsi bergantung pada kepatuhan mengikuti cara penggunaan. Ketergantungan pengguna dari motivasi berkelanjutan dengan memakai setiap melakukan hubungan seksual. Pengguna harus menunggu 10-15 menit setelah aplikasi sebelum melakukan hubungan seksual (tablet busa vagina, suppositoria dan film). Efektivitas aplikasi hanya 1-2 jam.

II.2.5 Kontrasepsi kombinasi Kontrasepsi kombinasi terdiri atas komponen estrogen dan progesteron. 8 Mekanisme kerja estrogen: 8 Esrogen mempunyai khasiat kontrasepsi dengan jalan mempengaruhi ovulasi, perjalanan ovum, atau implantasi. Ovulasi dihambat melalui pengaruh estrogen terhadap hipotalamus dan selanjutnya menghambat FSH dan LH. Ovulasi tidak selalu dihambat oleh pil kombinsi yang mengandung estrogen 50 mikrogram atau kurang. Kalaupun daya guna preparat ini tinggi (95-98% menghambat ovulasi), hal itu adalah pengaruh progesterone di samping estrogen. Implantasi telur yang sudah dibuahi dihambat oleh estrogen dosis tinggi (dietil stilbestrol, etinil estradiol) yang diberikan pada pertengahan siklus haid. Jarak waktu diantara konsepsi dan implantasirata-rata 6 hari. Biopsi endometrium yang dilakukan sesudah pemberian estrogen dosis tinggi pasca-konsepsi menunjukkan efek antiprogesteron, yang dapat menghambat implantasi. Perjalanan ovum dipercepat dengfan pemberian estrogen pasca konsepsi Mekanisme kerja progesteron: 8 Funsi progesterone ialah menyiapkan endometrium untuk implantasi dan mempertahan kan kehamilan. Disamping itu, progesterone mempunyai pula khasiat kontrasepsi, sebagai berikut. 8

14

1. Lendir serviks mengalami perubahan menjadi lebih pekat, sehingga penetrasi dan transportasi sperma selanjutnya lebih sulit. 2. Kapasitas sperma dihambat oleh progesterone. Kapasitasi diperlukan oleh sperma untuk membuahi sel telur dan menembus rintangan disekeliling ovum. 3. Jika progesterone diberikan sebelum konsepsi, maka perjalanan ovum dalam tuba akan terhambat. 4. Implantasi dihambat bila progesterone diberikan sebelum ovulasi. Walaupun dapat terjasi, produksi progesterone dari korpus luteum akan berkurang, sehingga implantasi dihambat. 5. Pengahmbatan ovulasi melalui fungsi hipotalamus-hipofisis-ovarium. II.2.5.1 Pil Kombinasi Merupakan pil kontrasepsi yang sampai saat ini dianggap paling efektif. Selain mencegah terjadinya ovulasi, pil juga mempunyai efek lain terhadap traktus genitalis, seperti menimbulkan perubahan-perubahan pada lendir serviks, sehingga menjadi kurang banyak dan kental, yang mengakibatkan sperma tidak dapat memasuki kavum uteri. Juga terjadi perubahan-perubahan pada motalitas tuba falopii dan uterus. Dewasa ini terdapat banyak macam pil kombinas, tergantung dari jenis dan dosis estrogen serta jenis progestogen yang dipakai. 1 Jenis: 7 Monofasik: pil kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis yang sama, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Bifasik: pil kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis dua dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Trifasik: pil kemasan 21 tablet mengandung hormon aktif estrogen/progestin (E/P) dalam dosis tiga dosis yang berbeda, dengan 7 tablet tanpa hormon aktif. Mekanisme kerja: 6,7 Pil-pil hormonal terdiri atas komponen estrogen dan progestagen. Walaupun banyak hal masih belum terang, namun pengetahuan kita tentang 2 komponen tersebut tiap hari bertambah. Yang jelas ialah bahwa hormon steroid sintetik dalam metabolismenya sangat berbeda dari hormon steroid yang dikeluarkan ovarium. Umunya dapat dikatakan komponen estrogen dalam pil dengan jalan menekan sekresi FSH menghalangi maturasi folikel dan ovarium, karena
15

pengaruh estrogen dari ovarium tidak ada tidak terdapat pengeluaran LH . di tengah-tengah daur haid kurang terdapat FSH dan tidak ada peningkatan kadar LH menyebabkan ovulasi terganggu. Pengaruh komponen progestagen dalam pil kombinasi memperkuat khasiat estrogen untuk mencegah ovulasi, sehingga dalam 95-98% tidak terjadi ovulasi. Selanjutnya estrogen dalam dosis tinggi dapat pula mempercepat perjalanan ovum dan menyulitkan terjadinyta implantasi dalam endometrium dari ovum yang sudah dibuahi. 1 Komponen progestagen dalam pil kombinasi seperti disebut diatas memperkuat daya estrogen untuk mencegah ovulasi. Progestagen sendiri dalam dosis tinggi dapat menghambat ovulasi, akan tetapi tidak dalam dosis rendah. Selanjutnya, progestagen mempunyai khasiat sebagai berikut: 1,2,7 1. lendir serviks uteri menjadi lebih kental, sehingga menghalangi penetrasi spermatozoon untuk masuk dalam uterus 2. kapasitasi spermatozoon yang perlu untuk memasuki ovum terganggu 3. beberapa progestagen tertentu , seperti noretinodrel mempunyai efek antiestrogenik terhadap endometrium, sehingga menyulitkan implantasi ovum yang dibuahi. Manfaat1,7 Memiliki efektivitas yang tinggi (hampir menyerupai efektivitas tubektomi), bila digunakan setiap hari (1 kehamilan per 1000 perempuan dalam tahun pertama penggunaan). Resiko terhadap kesehatan sangat kecil. Tidak mengganggu hubungan seksual. Siklus haid menjadi teratur, banyaknya darah haid berkurang (mencegah anemia), tidak terjadi nyeri haid. Dapat digunakan jangka panjang selama perempuan masih ingin menggunakannya untuk mencegah kehamilan. Dapat digunakan sejak usia remaja hingga menopause. Mudah dihentikan setiap saat Kesuburan segera kembali stelah penggunaan pil dihentikan Dapat digunakan sebagai kontrasepsi darurat. Membantu mencegah :
16

Kehamilan ektopik, Kanker ovarium, Kanker endometrium, Kista ovarium, Penyakit radang panggul, Kelainan jinak pada payudara, Dismenore, atau Akne.

Kelebihan dan kekurangan pil kombinasi 1,7 Kelebihan pil kombinasi antara lain efektifitasnya daspad dipercaya (daya guna teoritis hampir 100%,. Daya guna pemakaian 95-98% frekuensi koitus tidak perlu diatur keluhan-keluhan disnebore yang primer jadi berkurang atau hilang sama sekali. siklus haid jadi teratur kekurangan pil kombinasi antara lain pil harus diminum setiap hari, sehingga kadang-kadang merepotkan motivasi harus kuat adanya efek samping walaupun sifatnya sementara, seperti mual, sakit kepala, muntah nyeri payudara, dan lain-lain. Kadang-kadang setelah berhenti minum pil dapat timbul amenore yang persisten Tidak mencegah penyakit menular seksual Untuk golongan penduduk tertentu harganya masih mahal.

Yang dapat menggunakan pil kombinasi: 7 Pada prinsipnya hampir semua ibu boleh menggunakan pil kombinasi, seperti : Usia reproduksi Telah memiliki anak ataupun yang belum memiliki anak. Gemuk atau kurus.
17

Menginginkan metode kontrasepsi dengan efektivitas tinggi. Setelah melahirkan dan tidak menyusui. Setelah melahirkan 6 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif, sedangkan semua cara kontrasepsi yang dianjurkan tidak cocok bagi ibu tersebut. Pascakeguguran. Anemia karena haid berlebihan. Nyeri haid hebat. Siklus haid tidak teratur. Riwayat kehamilan ektopik. Kelainan payudara jinak. Kencing manis tanpa komplikasi pada ginjal, pembuluh darah, mata, dan saraf. Penyakit tiroid, penyakit radang panggul, endometriosis, atau tumor ovarium jinak. Menderita tuberkulosis (kecuali yang sedang menggunakan rifampisin). Varises vena.

Yang tidak boleh menggunakan pil kombinasi: 7 Hamil atau dicurigai hamil. Menyusui eksklusif. Perdarahan pervaginam yang belum diketahui penyebabnya. Penyakit hati akut (hepatitis). Perokok dengan usia > 35 tahun. Riwayat penyakit jantung, stroke, atau tekanan darah > 180/110 mmHg. Riwayat gangguan faktor pembekuan darah atau kencing manis > 20 tahun. Kanker payudara atau dicurigai kanker payudara. Migrain dan gejala neurologik fokal (epilepsi/riwayat epilepsi). Tidak dapat menggunakan pil secara teratur setiap hari.

Waktu mulai menggunakan pil kombinasi: Setiap saat selagi haid, untuk meyakinkan kalau perempuan tersebut tidak hamil.
18

Hari pertama sampai hari ke 7 siklus haid. Boleh menggunakannya pada hari ke 8, tetapi perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain (kondom) mulai hari ke 8 sampai hari ke 14 atau tidak melakukan hubungan seksual sampai telah menghabiskan paket pil tersebut. Setelah melahirkan : -Setelah 6 bulan pemberian ASI eksklusif. -Setelah 3 bulan dan tidak menyusui. -Pascakeguguran (segera atau dalam waktu 7 hari) Bila berhenti menggunakan kontrasepsi injeksi, dan ingin menggantikan dengan pil kombinasi, pil dapat segera diberikan tanpa perlu menunggu haid. Instruksi pemakaian: 7 Lihat cara mengeluarkan pil dari kemasannya dan ikuti panah yang menunjuk deretan pil berikutnya. Sebaiknya pil diminum setiap hari, lebih baik pada saat yang sama setiap hari. Pil yang pertama dimulai pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid. Sangat dianjurkan penggunaannya pada hari pertama haid. Pada paket 28 pil, dianjurkan mulai minum pil plasebo sesuai dengan hari yang q ada pada paket. Beberapa paket pil mempunyai 28 pil, yang lain 21 pil. Bila paket 28 pil habis, sebaiknya mulai minum pil dari paket yang baru. Bila paket 21 habis, sebaiknya tunggu 1 minggu baru kemudian mulai minum pil dari paket yang baru. Bila muntah dalam waktu 2 jam setelah menggunakan pil, ambillah pil yang lain. Bila terjadi muntah hebat, atau diare lebih dari 24 jam, maka bila keadaan memungkinkan dan tidak memperburuk keadaan pemakai, pil dapat diteruskan. Bila muntah dan diare berlangsung sampai 2 hari atau lebih, cara penggunaan pil mengikuti cara menggunakan pil lupa. Bila lupa minum 1 pil (hari 1-21), segera minum pil setelah ingat boleh minum 2 pil pada hari yang sama. Tidak perlu menggunakan metode kontrasepsi yang lain. Bila lupa 2 pil atau lebih (hari 1-21), sebaiknya minum 2 pil setiap hari sampai sesuai jadual yang ditetapkan. Juga sebaiknya gunakan metode kontrasepsi yang
19

lain atau tidak melakukan hubungan seksual sampai telah menghabiskan paket pil tersebut. Bila tidak haid, perlu segera tes kehamilan. Pada permulaan penggunaan pil kadang-kadang timbul mual, pening atau sakit kepala, nyeri payudara, serta perdarahan bercak (spotting) yang bisa hilang sendiri. Kelainan seperti itu muncul terutama pada 3 bulan pertama penggunaan pil, dan makin lama penggunaannya kelainan tersebut akan hilang dengan sendirinya. Cobalah minum pil pada saat hendak tidur atau pada saat makan malam. Bila tetap saja muncul keluhan, silahkan konsultasi ke dokter. Beberapa jenis obat dapat mengurangi efektivitas pil, seperti rifampisin, fenitoin (Dilantin), barbiturat, griseofulvin, trisiklik antidepresan, ampisilin, dan penisilin, tetrasiklin. Bagi pengguna obat-obat tersebut untuk jangka panjang sebaiknya menggunakan pil kombinasi dengan dosis etinilestradiol 50 g atau dianjurkan menggunakan metode kontrasepsi yang lain. Tabel. 1 penanganan efek samping yang sering terjadi atau masalah kesehatan lainnya Efek samping atau masalah Penanganan Amenorea (tidak ada perdarahan, atau Periksa dalam atau tes kehamilan, bila spotting) tidak hamil dan meminum pil dengan benar, tenanglah. efek Tidak datang haid kemungkinan adekuatnya besar karena estrogen kurang terhadap

endometrium. Tidak perlu pengobatan khusus. Coba berikan pil dengan dosis estrogen 50 g, atau dosis estrogen tetap, tetapi dosis progestin dikurangi. Bila terjdi hamil intrauterin, hentikan pil, yakinkan bahwa pil yang telah diminum tidak punya efek pada janin. Mual, pusing, atau muntah (akibat reaksi Tes kehamilan, atau pemeriksaan
20

anafilaktik) Perdarahan pervaginam/spotting

genikologik. Bila tidak hamil, minum pil saat makan malam, atau sebelum tidur. Tes kehamilan, atau pemeriksaan genikologik. Minum pil pada waktu yang sama. Jelaskan bahwa perdarahan/spotting hal biasa terjadi pada 3 bulan pertama, dan lambat laun akan terhenti. Bila spotting tetap terjadi, ganti pil dengan dosis estrogen lebih tinggi/50 g, sampai perdarahan teratasi, lalu kembali ke dosis awal. Bila spotting timbul lagi, lanjutkan lagi dengan 50 g, atau ganti dengan metode kontrasepsi lain.

II.2.5.2 Suntikan kombinasi Jenis suntikan kombinasi adalah 25 mg Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA) dan 5 mg Estradiol Sipionat yang diberikan injeksi I.M sebulan sekali (Cyclofem), dan Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan injeksi I.M sebulan sekali. 7 Cara kerja: 7 Menekan ovulasi dengan jalan menekan pembentukan realizing factor dari hipotalamus. Membuat lendir serviks menjadi kental sehingga penetrasi sperma terganggu. Perubahan pada endometrium (atrofi) sehingga implantasi terganggu. Menghambat transportasi gamet oleh tuba.

Efektivitas: 7 Sangat efektif (0,1-0,4 kehamilan per 100 perempuan) selama tahun pertama penggunaan. Keuntungan kontrasepsi 7 Risiko terhadap kesehatan kecil Tidak berpengaruh terhadap hubungan saumi istri Tidak diperlukan pemeriksaan dalam Jangka pangka
21

Efek samping sangat kecil Klien tidak perlu menyimpan obat suntik.

Kerugian 7 Terjadi perubahan pola haid Mual, sakit kepala, nyeri payudara ringan, tapi keliuhan ini akan hilang setelah suntikan kedua dan ketiga Harus kembali setiap 30 hari Efektivitasnya berkurang bila digunakan bersamaan dengan obat-obat eplepsi (fenitoin dan barbiturat) atau obat tuberculosis (rifampisin) Dapat terjadi efeksamping yang serius Penambahan berat badan Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B, HIV Kemungkinan terlambanya pemulihan kesuburan setelah penghentian pemakaian.

II.2.6 Kontrasepsi Progestin II.2.6.1 Kontrasepsi Suntik Progestin Sangat efektif, aman, dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi, kembalinya kesuburan lebih lambat, rata-rata 4 bulan, cocok untuk masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI. 7 Tersedia 2 jenis kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, yaitu : 7 Depo Medroksiprogesteron Asetat (Depoprovera), mengandung 150 mg DMPA yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara disuntik intramuskular/I.M (disuntik didaerah bokong). Depo Noretisteron Enantat (Depo Noristerat), mengandung 200 mg Noretindron Enantat, diberikan setiap 2 bulan I.M. Cara kerja Mencegah ovulasi. Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma. Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi.
22

Menghambat transportasi gamet oleh tuba. Kedua kontrasepsi suntik tersebut memiliki efektivitas yang tinggi, dengan 0,3 kehamilan

Efektivitas per 100 perempuan-tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara teratur sesuai jadual yang telah ditentukan. Kuntungan metode ini adalah efektivitas tinggi, sederhana pemakaiannya, cukup menyenangkan bagi akseptor (injeksi hanya 4x setahun), bersifat reversible, cocok untuk ibu yang menyusui anak. Kekurangan metode ini adalah: sering menimbulkan perdarahan yang tidak teratur (spotting), dan dapat menimbulkan amenore. 1 Waktu pemberian dan dosis Depo provera sangat cocok untuk program postpartum oleh karena tidak mengganggu laktasi, dan terjadinya amenore setelah suntikan-suntikan Depo provera tidak akan mengganggu ibu-ibu yang menyusui anaknya dalam masa post partum, karena dalam masa ini terjadi amenore laktasi. Untuk program post partum, depo provera disuntikkan sebelum ibu meninggalkan rumah sakit; sebaiknya sesudah air susu ibu terbentuk, yaitu kira-kira hari ke-3 sampai dengan hari ke5, dan disuntikkan dalam dosis 150 mg/cc sekali 3 bulan. Suntikan harus intra muscular dalam. 1 II.2.5.2 Kontrasepsi Pil Progestin (minipil) Cocok untuk perempuan menyusui yang ingin memakai pil KB, sangat efektif pada masa laktasi, dosis rendah, tidak menurunkan produksi ASI, tidak memberikan efek samping estrogen, efek samping utama adalah gangguan perdarahan bercak, atau perdarahan tidak teratur, dapat dipakai sebagai kontrasepsi darurat. 8 Jenis Minipil 7 Kemasan dengan isi 35 pil : 300 g levonorgestrel atau 350 g noretindron. Kemasan dengan isi 28 pil : 75 g desogestrel. Menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid seks di ovarium (tidak begitu kuat). Endometrium mengalami transpormasi lebih awal sehingga implantasi lebih sulit. Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi sperma.
23

Cara Kerja Minipil 7

Efektifitas 7

Mengubah mobilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu.

Sangat efektif (98,5%). Pada penggunaan minipil jangan sampai terlupa satu-dua tablet atau jangan sampai terjadi gangguan gastrointestinal (muntah, diare), karena akibatnya kemungkinan terjadi kehamilan sangat besar. Penggunaan obat-obat mukolitik asetilsistein bersama dengan minipil perlu dihindari karena mukolitik jenis ini dapat meningkatkan penetrasi sperma sehingga kemampuan kontraseptif dari minipil dapat terganggu. 7 Agar didapatkan kehandalan yang tinggi, maka: 7 Jangan sampai ada tablet yang lupa. Tablet digunakan pada jam yang sama (malam hari).

Sanggama sebaiknya dilakukan 3 20 jam setelah penggunaan minipil. II.2.6.3 Kontrasepsi Implan Jenis: 7 Norplant. Terdiri dari 6 batang silastik lembut berongga dengan panjang 3,4 cm,dengan diameter 2,4 mm, yang diisi dengan 36 mg Levonorgestrel dan lama kerjanya 5 tahun. Implanon. Terdiri dari 1 batang putih lentur dengan panjang kira-kira 40 mm,dan diameter 2 mm, yang diisi dengan 68 mg 3-keto-desogestrel dan lama kerjanya 3 tahun. Jadena dan Indoplant. Terdiri dari 2 batang yang diisi dengan 75 mg Levonorgestrel dengan lama kerja 3 tahun.

QuickTime and a TIFF (Uncompressed) decompressor are needed to see this picture.

Gambar kontrasepsi implan subdermal,4


24

Norplant adalah suatu kontrasepsi yang mengandung levonogestrel yang dibungkus dalam kapsul silastic-silicone (polimethylsilixane) dan disusukkan di bawah kulit. Jumlah kapsul yang disusukkan dibawah kulit adalah sebanyak 6 kapsul dan masing-masing kapsul panjangnya 34 mm dan berisi 36 mg levonogestrel. Setiap hari sebanyak 30 mcg levonogestrel dilepaskan ke dalam darah secara difusi melalui dinding kapsul. Levonogestrel adalah suatu progestin yang dipakai juga dalam pil KB seperti mini-pill atau pil kombinasi atau pun pada AKDR yang bioaktif. 1 Cara kerja 7 Lendir serviks menjadi kental. Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi. Mengurangi transportasi sperma. Menekan ovulasi.

Efektifitas 7 Sangat efektif (kegagalan 0,2 1 kehamilan per 100 perempuan). Pada kebanyakan pemakai dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa perdarahan bercak (spotting), hipermenorea, atau meningkatnya jumlah haid, serta amenore. Timbulnya keluhan-keluhan, seperti : nyeri kepala, peningkatan/penurunan berat badan, nyeri payudara, perasaan mual, pening/pusing kepala, perubahan perasaan/mood atau kegelisahan/nervousness, membutuhkan tindakan pembedahan minor untuk insersi dan pencabutan, tidak memberikan efek protektif terhadap infeksi menular seksual termasuk AIDS, pemakai tidak dapat menghentikan sendiri pemakaian kontrasepsi sesuai dengan keinginan, akan tetapi harus pergi ke klinik untuk pencabutan, efektivitasnya menurun bila menggunakan obat-obat tuberkulosis (rifampisin) atau obat epilepsi (fenitoin dan barbiturat), terjadi kehamilan ektopik sedkit lebih tinggi (1,3 per 100.000 perempuan per tahun). II.2.6.4 AKDR dengan Progestin

Keterbatasan 7

25

Jenis AKDR yang mengandung hormon steroid adalah progestasert yang mengandung progesterone dan Mirena yang mengandung levonogestrel. 1,7 1. Progestasert. Ko-polimer etilen vinil assetat berbentuk T ini memiliki batang vertical yang mengandung 38 mg progesterone dan barium sulfat dalam dasar silicon. Alat ini meneluarkan progesterone sekitar 65 mcg/hari kedalam rongga uterus selama 1 tahun. Jumlah ini tidak mempengaruhi kadar progestreron plasma. Alat ini memiliki panjang 36 mm dan lebar 32 mm, dan terdapat benang hitam atau biru tua yang melekata ke pangkal batang. Untuk memasang harus digunakan teknik penarikan. 1 2. AKDR Levinigestrel (AKDR LNg). Alat ini serupa dengan progestasert, tetapi mengandung levonogestrel. Keunggulan utamnya adalah keharusan mengganti yang hanya setiap 5 tahun, dibandingkasn dengan progestasert yang setiap tahun. Alat ini membebaskan levonnogestrel kedalam uterus dengan kecepatan relatif konstan 20 mcg/hari, yang secara nyata mengurangi efek sistemik progestin. AKDR ini adalah polietilen berbentuk huruf T yang batangnya terbbungkus oleh campuran polidimetilsiloksan/levonogestrel. Campuran ini dilapisi oleh suatu membran permeabel yang mengatur kecepatan pembebasan hormon. 1 Cara kerja7 Endometrium mengalami transformasi yang ireguler, epitel atrofi sehingga mengganggu implantasi. Mencegah terjadinya pembuahan dengan mengeblok bersatunya ovum dengan sperma. Mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopii. Menginaktifkan sperma. Sangat efektif, yaitu 0,5 1 kehamilan per 100 perempuan selama satu tahun pertama penggunaan. II.2.7 Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang (dapat sampai 10 tahun: CuT-380A), haid menjadi lebih lama dan lebih banyak, pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan, dapat dipakai oleh semua usia reproduksi, tidak boleh dipakai oleh perempuan yang terpapar pada Infeksi Menular Seksual/IMS.
26

Efektifitas7

QuickTime and a TIFF (Uncompressed) decompressor are needed to see this picture.

Gambar posisi IUD dalam rahim,4 Mekanisme kerja AKDR Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR belum diketahui. Pendapat terbanyak adalah bahwa AKDR dalam kavum uteri menimbulkan reaksi peradangan endometrium yang disertai dengtan sebukan leukosit yang dapat mengah]curkan blastokista atau sperma. 1,10 Dalam kepustakaan lain mengatakan cara kerja AKDR yang mengandung tembaga mekanisme kerjanya dengan cara menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii, mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri, AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi, memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus. 7 Jenis-jenis AKDR Sampai sekarang telah terdapat berpuluh-puluh jenis AKDR; yang paling banyak digunakan dalam program keluarga berencana di Indonesia ialah AKDR jenis Lippes loop. AKDR dapat dibagi dalam bentuk yang terbuka linear dan bentuk tertutup sebagai cincin. Yang termasuk dalam golongan bentuk terbuka dan linear antara lain Lppes loop, Sal-T-coil, multiload sedang yang termasuk dalam golongan bentuk tertutup dengan bentuk dasar cincin antara lain adalah Ota ring, Antigon F, Ragab ring, cincin gravenberg, cincin Half-Stone, Birnberg biw, dan lain-lain. 1 Secara umum, AKDR terdiri dari 2 jenis. Jenis yang secara kimiawi inert terdiri dari bahan tidak terserap terutama polietilen, dan dibubuhi oleh barium sulfat agar radioopak. Pada

27

AKDR yang aktif secara kimiawi, terjadi elusi tembaga atau zat progestasional secara terusmennerus yang telah dibahas diatas. 2,10

QuickTime and a TIFF (Uncompressed) decompressor are needed to see this picture.

Gambar jenis-jenis kontrasepsi AKDR4

Keuntungan-keuntungan alat kontrasepsi dalam rahim 7 Umumnya memerlukan satu kali pemasangan dan dengan demikian satu kali motivasi Tidak menimbulkan efek sistemik Ekonomis Efektivitas cukup tinggi Bersifat reversible

Efek samping AKDR Perdarahan Rasa nyeri dan kejang diperut Gangguan pada suami ekspulsi

AKDR Post-Plasenta : teknik ini cukup aman, dapat juga dilakukan pada saat seksio sesaria. Efektivitas : AKDR post-plasenta telah dibuktikan tidak menambah resiko infeksi, perforasi dan perdarahan, diakui bahwa ekspulsi lebih tinggi (6-10%), dan harus disadari oleh pasien bila mau akan dapat dipasang lagi, kemampuan penolong meletakkan di fudus uteri amat memperkecil resiko ekspulsi, sehingga perlu pelatihan, kontraindikasi

28

pemasangan AKDR/IUD post-plasenta (ketuban pecah lama, infeksi intrapartum, dan perdarahan postpartum) AKDR umumnya jenis Cu-T dimasukkan ke dalam fundus uteri dalam 10 menit setelah plasenta lahir, penolong telah menjepit AKDR di ujung jari tengah dan telunjuk yang selanjutnya menyusuri sampai ke fundus, pastikan bahwa AKDR diletakkan dengan benar di fundus, tangan kiri penolong memegang fundus dan menekan ke bawah, jangan lupa memotong benang AKDR sepanjang 6 cm sebelum insersi. II.2.8 Kontrasepsi Mantap II.2.8.1 Tubektomi 1,2,8 Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan fertilitas/kesuburan seorang perempuan. Sangat efektif dan permanen, tindakan pembedahan yang aman dan sederhana, tidak ada efek samping, konseling dan informed consent (persetujuan tindakan) mutlak diperlukan. Keuntungan tubektomi ialah motivasi hanya satu kali saja sehingga tidak diperlukan motivasi yang berulang-ulang, efektifitas hampir 100%, tidak mempengaruhi libido seksualis, kegagalan dari pihak pasien tidak ada. 7,8 Metode dengan operasi dewasa ini dijalankan atas dasar sukarela dalam rangka keluarga berencana. Kerugiannya adalah bahwa tindakan ini dapat dianggap bersifat tidak reversible, walaupun sekarang ada kemungkinan untuk membuka tuba kembali pada mereka yang aklhirnya masih menginginkan anak lagi dengan rekanalisasi. Oleh karena itu penutupan tuba hanya dapat dikerjakan pada nereka yang memenuhi syarat-syarat tertentu. 1,8 Seminar kuldoskopi Indonesia pertama di Jakarta (18-19 Desember 1972) mengambil kesimpulqn, sebaiknya tubektomi sukarela dilakukan pada wanita yang memenuhi syarat-syarat berikut: 8 1. umur termuda 25 tahun dengan 4 anak hidup 2. umur sekitar 30 tahun dengan 3 anak hidup 3. umur sekitar 35 tahun dengan 2 anak hidup Tindakan yang dilakukan sebagai tindakan pendahuluan untuk mencapai tuba falopii terdiri atas pembedahan transabdominal seperti: laparotomi, mini laparotomi, laparoskopi; dan pembedahan tranvaginal, seperti kolpotomi posterior, kuldoskopi; serta pembedhan transervika (trans-uterin), seperti penutupan lumen tuba histeroskopik. 8
29

Mekanisme kerja : mengoklusi tuba falopii (mengikat dan memotong atau memasang cincin) sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum. 7 Metode tubektomi antara lain : 1,8 1. Pomeroy 1,8 Metode Pomeroy merupakan cara yang paling sederhana dan paling sering dilakukan. Bagian tengah tuba dijepit sedemikian rupa sehingga membentuk lingkaran, kemudian diikat pada bagian pangkalnya dan direseksi di atas ikatan. Dilaporkan adanya 1 kegagalan dari setiap 300-500 kasus.

Gambar metode Pomeroy10 2. Parkland 1,8 Metode Parkland serupa dengan dengan metode Pomeroy, namun masing-masing ujung tuba diikat tersendiri untuk mencegah rekanalisasi. Kedua tuba dibebaskan dari mesosalping pada daerah yang avaskular, kemudian diikat pada 2 tempat, dan selanjutnya segmen tengah tuba direseksi sepanjang 1-2 cm.

30

Gambar Metode Parkland10 3. Madlener 1,8 Cara Madlener serupa dengan cara Pomeroy, tetapi pangkal dari loop dijepit (crushed) dengan klem kemudian diligasi tanpa direseksi.

4. Irving 1,8 Masing-masing tuba diligasi pada 2 tempat menggunakan benang yang diserap, kemudian dipotong dengan bagian proksimal yang lebih panjang. Dibuat lubang pada dinding uterus anterior atau posterior dekat utero-tubal junction kemudian ditanamkan ujung tuba proksimal ke dalam uterus sampai miometrium kemudian dijahit. Ujung tuba distal ditanamkan ke dalam mesosalping dan kemudian dijahit.

31

Gambar Metode Irving10 5. Uchida 1,8 Bagian serosa tuba dipisahkan dari bagian muskularis tuba dengan menginjeksikan larutan salin isotonik subserosa. Dilakukan insisi linear pada balooning serosa, kemudian dipisahkan secara tumpul bagian serosa tuba dengan bagian muskularis tuba. Bagian muskularis tuba diligasi pada 2 tempat dengan jarak kurang lebih 5 cm kemudian direseksi. Bagian serosa tuba ditutup dan dijahit dengan bagian proksimal muskularis tuba di dalamnya, sedangkan bagian distal muskularis tuba tetap di luar. 6. Kroener (Fimbriektomi) 1,8 Kedua tuba pada bagian ampula diikat di 2 tempat menggunakan benang silk, kemudian bagian distal ampula beserta seluruh fimbriae direseksi.

32

Kroener melaporkan tidak ada kegagalan, tetapi peneliti lain melaporkan tingkat kegagalan 3%. Kegagalan cara ini biasanya disebabkan karena terdapat bagian jaringan fimbria yang tertinggal, atau terjadi rekanalisasi pada bagian proksimal tuba. II.2.8.2 Vasektomi Vasektomi adalah prosedur klinik untuk menghentikan kapasitas reproduksi pria dengan jalan melakukan oklusi vasa deferensia sehingga alur transportasi sperma terhambat dan proses fertilisasi (penyatuan dengan ovum) tidak terjadi. 7 Mekanisme Tindakan Vasektomi merupakan operasi kecil dimana vas deferens yang berfungsi sebagai saluran transportasi spermatozoa dipotong dan disumbat. Setelah operasi minor ini, spermatozoa akan terbendung pada ujung vas sisi testis yang telah disumbat. Karena vasektomi tidak mempengaruhi fungsi dari kelenjar-kelenjar asesoris maka produksi cairan semen tetap berlangsung dan pria yang divasektomi tetap berejakulasi dan ejakulatnya tanpa mengandung sel spermatozoa. Testis juga tidak terpengaruh dan tetap berfungsi penuh sehingga pria tetap mempunyai perasaan, keinginan, dan kemampuan seksual yang sama dengan sebelum vasektomi. Indikasi vasektomi merupakan upaya untuk menghentikan fertilitas dimana fungsi reproduksi merupakan ancaman atau gangguan terhadap kesehatan pria dan pasangannya serta melemahkan ketahanan dan kualitas keluarga. Serta pasangan suami-istri tidak menghendaki kehamilan lagi. 1,7 Kontra indikasi Sebetulnya tidak ada kontraindikasi untuk vasektomi; hanya bila ada kelainan local atau umum yang dapat mengganggu sembuhnya luka operasi, kelainan ini harus disembuhkan dahulu. 1 Keuntungan vasektomi ialah: tidak menimbulkan kelainan fisik maupun mental, tidak mengganggu libido seksualitas, dapat dikerjakan secara poliklinik. 1 Komplikasi : dapat terjadi saat prosedur berlangsung atau beberapa saat setelah tindakan seperti reaksi anafilaksis yang disebabkan oleh penggunaan lidokain atau manipulasi berlebihan anyaman pembuluh darah di sekitar vasa deferensia. Komplikasi pascatindakan dapat berupa hematoma skloratis, infeksi atau abses pada testis, atrofi testis, epididimitis kongestif, atau

33

perdarahan kronis granuloma di tempat insisi. Penyulit jangka panjang yang dapat mengganggu upaya pemulihan fungsi reproduksi adalah terjadinya antibodi sperma. 7

BAB III ILUSTRASI KASUS Identitas Pasien Nama Usia Agama Pekerjaan No.RM Masuk RS Anamnesis Dilakukan secara autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 25/10/2012. Keluhan utama Mules-mules sejak 7 jam SMRS, HPHT 20-20-2012 Riwayat penyakit sekarang
34

: Ny. T.S : 24 tahun : Islam : Ibu Rumah Tangga : 202.85.53 : 25-10-2012 pukul 06.00 WIB

Pasien mengaku hamil 36 minggu, HPHT 20-10-2012, ANC dilakukan dibidan sebanyak 3 kali selama kehamilan, USG juga dilakukan 3x dan hasil berat bayi > 3.000 gr. Demam (-), keutihan (+), BAK (+). RPD : HT (-), DM post kuretase di klinik pada kehamilan 8 minggu, yaitu 11 hari SMRS pada tanggal 6 Juli 2011 ( HTA 10/5/2011) yang sengaja digugurkan dan dilakukan atas kemauan sendiri karena tidak mau hamil lagi. 1 minggu sebelumnya pasien minum obat tradisional berupa jamu. Sekarang pasien mengeluh Keluar darah banyak dan bergumpal sejak 5 jam SMRS, sebelumnya flek-flek, nyeri perut (+), mules (-), mual (-), BAB dan BAK dbn. Saat ini pasien mengatakan ingin menggunakan kontrasepsi agar tidak hamil lagi dan setuju untuk dipasang spiral setelah dilakukan kuretase di Rumah Sakit umum Pertsahabatan. Riwayat penyakit dahulu Diabetes melitus (-), hipertensi (-), alergi (-), hepatitis (-), jantung (-), paru (-), riwayat tindakan pembedahan sebelumnya (-). Riwayat penyakit keluarga Diabetes melitus (-), hipertensi (-), alergi (-), jantung (-), paru (-). Riwayat menikah Menikah 1 x pada tahun 2002 yaitu pada usia 26 tahun Riwayat menstruasi Menarche usia 17 tahun, teratur, dengan siklus 28 hari, lama haid 5 hari GP 2-3X/hari, nyeri haid (-) Riwayat obstetri Riwayat obstetri : G3 1. , lahir spontan di Bidan, dengan berat lahir 3500 gr, sekarang usia 8 tahun 2. , lahir spontan di Bidan, dengan berat lahir 3500 gr, sekarang usia 2 tahun 3. ini, pada kehamilan 6 minggu dilakukan kuretase dengan sengaja di gugurkan
35

Riwayat kontrasepsi Pasien belum pernah menggunakan kontrasepsi apapun Riwayat sosioekonomi Pasien adalah ibu rumah tangga, Suami pasien sebagai penjual koran, Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan dilakukan pada tanggal 17 Juli 2011 pukul 07.00 di IGD Kebidanan Status Generalis Kesadaran: komposmentis; keadaan umum: baik; gizi: baik Tekanan darah Nadi Suhu Kepala Mata Leher Paru Jantung Abdomen Ekstremitas Status Gynekologi I : v/u tenang, perdarahan aktif (+) Io : portio licin, ostium terbuka, tampak jaringan di introitus, perdarahan aktif (+) VT : CUT sedikit membesar, teraba jaringan di OUE, nyeri goyang portio -/-, CD tidak menonjol, parametrium lemas Pemeriksaan penunjang Ultrasonografi (17 Juli 2011)
36

: 110/70 mmHg : 90x/menit, reguler, isi cukup : 36,8C : normocephal, deformitas (-) : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/: JVP 5-2 cm H2O, pembesaran KGB (-) : vesikuler +/+, ronki -/-, wheezing -/: Bunyi jantung I, II normal, murmur (-), gallop (-) : datar, lemas, nyeri tekan (-), BU (+) normal : akral hangat, edema -/-, CRT < 3

Frekuensi pernapasan : 18x/menit, kedalaman cukup

tampak bayangan hipo-hiperekoik ukuran 28 mm X 40 mm Ovarium kanan dan kiri dalam batas normal. cairan bebas (-) kesan : sisa konsepsi Pemeriksaan laboratorium (17 Juli pukul 08.10) Jenis Hemoglobin Hematokrit MCV MCH MCHC Eritrosit Leukosit Trombosit Tes kehamilan GDS Urin lengkap Warna urin Kejernihan Protein urin Leukosit Eritrosit Bakteri Diagnosis Sisa konsepsi pada P2A1 post kuretase Tatalaksana Rencana diagnosis Observasi tanda vital, perdarahan Cek DPL, urinalisis, GDS, Tes kehamilan 17/07/2011 11,4 34 92.9 31 33,3 3,68 juta 13.340 343.000 Positif 87 Merah Keruh ++ 4-6 Penuh Negatif Nilai normal 12-16 g/dl 35-42% 80-100 fL 25-34 pg 32-36% 2,6-5,5 juta 5-10 rb/mm3 150rb-440rb/mm3 1-5 menit Kuning Negatif 1-4 0-1 Negatif

Rencana terapi Kuretase tajam AB post kuretase: Ceftriaxon 1x2 gr IV, metronidazole 3x500 mg pemasangan IUD post kuretase
37

Rencana edukasi Menjelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai rencana diatas dan keuntungan dan kerugian serta efek samping dari kontarasepsi spiral. Laporan kuretase dan pemasangan IUD Pasien dalam posisi litotomi dalam analgesi neuroleptik Asepsis dan antisepsis genitalia eksterna dan sekitarnya Kandung kemih dikosongkan Dipasang spekulum bawah dan atas Portio dijepit pada jam 12 Spekulum atas di lepas, dilakukan sonde uterus Sondase masuk 10 cm Dengan menggunakan kuret tajam didapatkan jaringan 10 cc, jaringan dikirim untuk pemeriksaan PA Dipastikan tidak ada sisa, kuretase selesai Kemudian di lakukan pemasangan IUD Sondase masuk 10 cm AKDR dimasukkann ke dalam uterus melalui OUE sambil mengadakan tarikan ringan pada cunam cerviks Tabung penyalur digerakkan didalam uterussesuai dengan arah poros kavum uteri yang telah ditentukan lebih dahulu dengan sonde uterus Sambil mengeluarkan tabung penyalur perlahan-lahan, plunger menahan AKDR dalajm posisinya Setelah tabung penyalur keluar dari uterus, pendorong juga dikeluarkan Cunam dilepas Benang AKDR digunting 3 cm dari ostium Pemasangan IUD selesai

38

BAB III PEMBAHASAN Pasien Ny. 45 tahun datang dengan keluhan utama keluar darah dari kemaluan sejak 5 jam SMRS. Pasien mengaku post kuretase di klinik pada kehamilan 8 minggu, atas keinginan sendiri, hal itu disebabkan karena pasien tidak mau punya anak lagi. Oleh karena itu dokter menyarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi IUD, tujuan kontrasepsi adalah untuk mencegah kehamilan yang bersifat reversibel. Dilihat dari segi fisiologi dan psikologi waktu pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) paling ideal segera dipasang setelah abortum. Kecuali pada septic abortion merupakan kontra indikasi. Pemasangan alat kontrasepsi dalam rahim dapat dipasang dalam keadaan berikut: Sewaktu haid sedang berlangsung Sewaktu post partum Sewaktu post abortum Beberapa hari setelah haid terakhir

Adapun efek samping dari alat kontrasepsi dalam rahim berupa: Perdarahan Rasa nyeri dan kejang di perut
39

Gangguan pada suami Ekspulsi (pengeluaran sendiri)

Keuntungan dari alat kontrasepsi dalam rahim dibanding dengan kontraseps yang lain adalah: Umumnya memerlukan satu kali pemasangan dan dengan demikian satu kali motivasi Tidak menimbulkan efek sistemik Ekonomis Efektivitas cukup tinggi Bersifat reversibel

BAB III KESIMPULAN

Kontrasepsi ialah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Usaha-usaha itu dapat bersifat sementara, dapat juga bersifat permanen. Yang bersifat permanen dinamakan pada wanita tubektomi dan pada pria vasektomi. Kontrasepsi memiliki peranan dalam setiap fase reproduksi, yaitu untuk menunda kehamilan atau menjarangkan kehamilan. Untuk mencapai tujuan tersebut, berbagai cara dapat dilakukan, antara lain penggunaan pil KB/ kontrasepsi oral, suntikan atau implan, penggunaan alat dalam saluran reproduksi (kondom, alat kontrasepsi dalam rahim/implan), operasi (tubektomi, vasektomi) atau dengan obat topikal intravaginal yang bersifat spermisid. Dari sekian banyak cara tersebut, penggunaan obat oral termasuk cara yang paling banyak digunakan karena sudah lama dikenal dan efektivitasnya sebagai kontrasepsi cukup tinggi.

40

DAFTAR PUSTAKA
1. Winknjosastro H, Saifudin AB. Ilmu Kandungan. Kontrasepsi. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Edisi kedua. Jakarta, 2008. 2. Saifuddin AB, Affandi B,dkk. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Mutu Pelayanan Keluarga Berencana. YBPS, Jakarta, 2003. 3. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ. Contraception and Sterilization. Williams Obstetrics 22st ed. McGraw-Hill, USA, 2005:725-47 4. Anonym. [Online]. 2009 [dikutip 21 Juli 2011]; Tersedia dari: Kontrasepsi. www.medicastore.com 5. Mochtar R. Sinopsis Obstetri.Edisi kedua. Jakarta: EGC. 2005. hal 255-334. 6. Mansjoer A, dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Kontrasepsi. Edisi Ketiga. Jilid 1.Media Aesculapius FKUI. 2001 7. Saifuddin AB, Affandi B,dkk. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Metode Kontrasepsi. YBPS, Jakarta, 2003. 8. Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. Kontrasepsi. Edisi ketiga. Cetakan Kesembilan. YBPSP. 2007. hal 905-36.

41

9. Departemen Obstetri dan Ginekologi RSCM. Kontrasepsi. Buku Panduan Pelayanan Medis. RSUPN DR. Cipto Mangunkusumo. 2007. hal 98-16 10. Sklar AJ. Tubal Sterilzation.[Online]. 2010 [dikutip 21 Juli 2011]; Tersedia dari: Emedicine. www. emedicine.com.

42