Anda di halaman 1dari 16

http://buk.depkes.go.id.

keputusan menteri kesehatan republik indonesia nomor 420/menkes/sk/iii/2010 tentang pedoman layanan terapi dan rehabilitasi komprehensif pada gangguan penggunaan napza berbasis rumah sakit, diakses 2 Februari 2013 Cognitif Behavioral Therapy (CBT) Cognitive Behavioral Therapy atau yang lebih dikenal dengan CBT adalah sebuah psikoterapi yang mulai banyak digunakan oleh para profesional dan terapis dalam menghadapi berbagai persoalan-persoalan psikologis individual, bahkan sampai kepada penggunaan dalam manajemen perusahaan dalam meningkatkan kinerja dan produktifitas yang sustainable dan resilience. CBT sebagai sebuah bentuk psikoterapi digunakan oleh para profesional karena: 1. CBT adalah jangka pendek, sangat kompatibel dengan berbagai sumber daya yang tersedia bagi pasien. 2. CBT telah teruji secara klinis dan didukung oleh percobaan empirikal yang solid. 3. CBT terstruktur, goal-oriented (berorientasi pada sasaran perawatan yang telah dirancang), fokus pada masalah yang dihadapi saat ini yang bergumul untuk mengatasi problem NAPZA yang dialami pasien. 4. CBT sangat fleksibel, pendekatan sangat individual tetapi dapat disesuaikan dengan berbagai bentuk perawatan (inpatient, outpatient) demikian juga formatnya (kelompok dan perorangan). 5. Sangat cocok dikombinasikan dengan berbagai terapi seperti MET, Ml, Medis, dll.

Dengan dasar diatas, maka para ahli yang menggunakan CBT mengembangkan apa yang disebut kompetensi CBT untuk berbagai gangguan yang didasari oleh meta-analisa diatas. Asumsi yang dipakai adalah, setiap bentuk gangguan sifatnya sangat khusus. terhadap pribadi yang khusus, lingkungan yang khusus, dan sasaran individu (penderita gangguan) yang juga khusus. Maka untuk setiap gangguan, harus dilakukan studi yang mendalam sehingga dapat diterapkan secara efektif dan efisien, sesuai dengan sifatnya / hakekat CBT. Intervensi CBT lahir dari 2 (dua) teori - teori ilmu psikologi yang telah berkembang sejak tahun 1950 sampai 1970, yaitu mulai dari psikoanalisa; client center Rogerian; terapi perilaku dalam bentuk desentisisasi, modifikasi perilaku, aktivasi perilaku-conditioning; (1950an); lalu terapi kognitif REBT menurut Albert ElHs, cognitive therapy dari Aaron Beck tahun 1970an; dan pada tahun 1990an pendekatan-pendekatan yang baru muncul seperti mindful therapy and acceptance & committment therapy, dengan tujuan utama adalah merestruktur cara berpikir lama dan merubah perilaku lama dalam suatu proses pembelajaran.

Dasar Teori CBT Setiap model dan metoda intervensi, apapun pendekatannya, memerlukan dasar teori yang sudah terbukti (evidence based} dan teruji secara klinis. CBT menggunakan dua teori, yaitu teori terapi kognitif dan teori terapi perilaku yang telah ada dalam dunia terapi selama ini. Untuk menghemat waktu dan mengejar efektifitas, maka dalam praktik, digunakan sekitar 80% terapi kognitif; khususnya bagi pasien remaja dan dewasa. Terapi kognitif, bertujuan untuk membangun pikiran dan tindakan yang lebih rasional, dengan mengidentifikasi keyakinan-keyakinan inti dan asumsi-asumsi yang tidak rasional yang mengakibatkan atau menjadi kebiasaan (otomatis) dan bekerja kearah mengkoreksinya. Sedangkan muatan terapi perilaku, lebih menekankan teori pembelajaran sosial berupa modeling dan conditioning sebagaimana pasien belajar menggunakan NAPZA. Didasari atas kedua terapi diatas, CBT dikembangkan sesuai dengan kondisi dan latar belakang pasien, lingkungan hidupnya, dan budaya lingkungannya. Semakin luas pengetahuan terapis, maka akan sangat efektif bagi terapis dalam mengaplikasikan CBT terhadap pasien. Jadi CBT didasari atas meta-analisa, maka dari itu efektifitasnya sangat tinggi yang akibatnya memiliki efisiensi atau waktu perawatan yang relatif singkat dibanding dengan cara pendekatan tradisional.

Kesiapan Terapis CBT CBT untuk adiksi didasari atas asumsi pendekatan biopsikososial. Dengan demikian para terapis harus mengembangkan pemikiran yang komprehensif terlebih dahulu sebelum melakukan perawatan; pertanyaan-pertanyaan dibawah ini harus menjadi bagian dari asumsiasumsi terapis sebelum menghadapi pasien; yang akan ditanyakan dan di selidiki: Apakah pasian memiliki gangguan atau penyakit tertentu sebelum menggunakan NAPZA dan sebagai akibat dari penggunaan NAPZA; kemana saya harus merujuknya bila hal ini ada? Apakah pasien memiliki gejala dual diagnosis? Merujuk ke psikiater mana yang mengerti masalah adiksi dan gangguan psikiatrik yang berhubungan dengan adiksi. Gangguan psikologis apa saja yang diderita pasien? Perangkat asesmen dan analisa apa yang harus dipakai untuk mengetahuinya? Kemudian dari hasil-hasil diatas apakah tingkat keparahannya pasien? Tingkat perawatan apa yang berguna dan harus dilaksanakan bagi pasien bersangkutan? Apa saja faktor-faktor berisiko bagi pasien bila dia harus menjalani perawatan rawat jalan maupun rawat inap?

Sampai dimana tingkat motivasi pasien untuk berhenti menggunakan NAPZA? Apa faktor-faktor penentu motivasi tersebut sehingga pasien datang keperawatan atau dipaksa menjalankan keperawatan. Apa kekuatan dan kelemahan yang dimiliki pasien sehingga dia mampu bertahan dengan keadaan emosional dan pefilaku sampai saat ini? Latar belakang sosial dan individual perlu diperhatikan.

Dan beberapa pertanyaan yang spesifik yang timbul ketika berhadapan dengan pasien secara langsung; termasuk alat assessmen apa yang nanti akan digunakan, siapa yang akan menjadi pendamping (peer counselor), siapa yang menjadi manager kasus, dan terakhir apakah fasilitas yang dimiliki terapis sudah memadai dalam menjawab pertanyaanpertanyaan diatas.

Keberhasilan menjawab sebanyak mungkin pertanyaan diatas akan menentukan langkah-langkah intervensi selanjutnya apakah menjadi mudah atau sulit. Terapis harus melengkapi diri dengan pertanyaan-pertanyaan diatas yang akan dilakukan pada pasien pada tahap awal perawatan primer.
8 Oktober 2011 Terapi Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Therapy / SFBT)

Tinggalkan Komentar

3 Votes

Seperti namanya, ini adalah tentang terapi yang singkat dan berfokus pada solusi, bukan pada masalah. Ketika ada masalah, banyak profesional menghabiskan banyak waktu berpikir, berbicara, dan menganalisis permasalahan, sementara penderitaan yang dialami klien sedang berlangsung. Terpikir tim profesional kesehatan mental di Pusat Terapi Singkat Keluarga yang begitu banyak waktu dan energi, serta sumber daya banyak, dihabiskan untuk berbicara tentang masalah, daripada berpikir tentang apa yang mungkin membantu klien untuk mendapatkan solusi yang akan membawa pada realistis, bantuan wajar secepat mungkin. Oleh karena itulah muncul Terapi Singkat Berfokus Solusi. Terapi singkat berfokus solusi (SFBT) adalah salah satu pendekatan keluarga, yang dikenal sebagai terapi sistem, yang telah dikembangkan selama 50 tahun terakhir ini, pertama di Amerika Serikat, dan akhirnya berkembang di seluruh dunia, termasuk Eropa. Terapi singkat berfokus solusi disebut hanya sebagai terapi berfokus solusi (TBS) atau terapi singkat. Pelopor terapi singkat berfokus solusi adalah Insoo Kim Berg dan Steve de Shazer, serta praktisi SFBT berbasis sekolah dan ahli lainnya. Kita terfokus kepada segi-segi pokok dari teori SFBT, khususnya cara dimana para praktisi berfokus solusi berpikir tentang perubahan, kapasitas klien, dan sifat resistensi klien. Sejak diciptakan pada tahun 1980-an, terapi singkat berfokus solusi (SFBT) perlahan-lahan telah menjadi sebuah pilihan perlakuan yang umum dan diterima bagi beberapa ahli kesehatan jiwa. Dengan penekanannya terhadap kekuatan klien dan pengobatan jangka pendek, SFBT akan tampak sangat sesuai dengan konteks kesehatan mental (jiwa), dengan berbagai masalah yang timbul di lingkungan sekolah dan muatan kasus yang besar untuk sebagian besar pekerja sosial sekolah (guru BK di sekolah). Salah satu gagasan yang lebih bebas tentang SFBT adalah bahwa perubahan selalu terjadi, dan menuntut agar perhatian konselor terfokus kepada perubahan-perubahan kecil yang membuat perbedaan-perbedaan besar dalam kehidupan klien. Apa yang konselor lakukan dengan perubahanperubahan kecil yang kadang-kadang sulit untuk dilihat adalah apa yang membuat konselor menjadi konselor SFBT. Hal ini membuat konselor bergerak menuju konseling yang lebih berfokus kepada solusi dalam pendekatan-pendekatan mereka terhadap masalah-masalah yang mereka hadapi.

Prinsip Dasar SFBT Prinsip dasar dari terapi singkat berfokus solusi sebagai berikut :

1. Manusia pada dasarnya sehat, memiliki kekuatan atau kelebihan. Insoo Kim Berg dan Steve de Shazer mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan tersebut aktif dalam membantu klien/manusia menangani situasi mereka. Masalahnya bukan pada klien tidak dapat menyelesaikan masalahnya tanpa pelatihan tambahan atau kepatuhan terhadap pandangan/nasihat konselor tentang masalah tersebut. Melainkan kekuatan yang melekat pada mereka lah yang pada akhirnya akan mereka gunakan dalam memecahkan masalah. 2. Manusia memiliki kemampuan (kompetensi) 3. Manusia memiliki keberdayaan (kapasitas) untuk membangun (mengkontruksi) solusi. 4. Manusia tidak terpaku pada masalah tetapi berfokus pada solusi. 5. Perubahan terjadi sepanjang waktu. 6. Manusia tidak bisa mengubah masa lalunya. Konsep Dasar SFBT Terapi berfokus solusi berbeda dari terapi tradisional karena mengabaikan masa lampau dan lebih setuju dengan masa sekarang dan masa yang akan datang. Terapi ini memberi penekanan yang besar pada kemungkinan sedikit atau tidak adanya ketertarikan untuk memperoleh pemahaman terhadap masalah. De Shazer menganjurkan bahwa tidaklah perlu mengetahui sebab-sebab masalah dalam solusinya dan tidak perlu ada hubungan antara masalah dan solusinya. Pengumpulan informasi mengenai masalah tidaklah dibutuhkan untuk terjadi perubahan. Jika memahami dan mengetahui masalah itu tidak penting, maka yang penting adalah mencari solusi masalah yang benar. Mungkin banyak orang mempertimbangkan berbagai solusi, dan apa yang benar bagi seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Di dalam SFBT klien memilih tujuan yang mereka harapkan bisa tercapai di dalam terapi, dan hanya sedikit perhatian yang diberikan untuk diagnosis, pengungkapan riwayat atau eksplorasi masalah. Menurut Gerald Corey, terapi singkat berfokus solusi didasarkan pada asumsi yang optimistik bahwa manusia itu sehat dan kompeten dan memiliki kemampuan untuk membangun solusi yang dapat meningkatkan hidupnya. Lepas dari berbentuk seperti apapun klien yang terlibat dalam terapi adalah mampu. Berg percaya bahwa klien adalah kompeten dan peran konselor adalah membantu klien agar menyadari bahwa ia mempunyai kemampuan itu. Proses terapi menyediakan suatu keadaan yang menjadikan individu memfokuskan diri pada pemulihan dan penciptaan solusi ketimbang membicarakan problem mereka. Sering klien datang ke terapis/konselor, orientasinya ia dalam keadaan bermasalah kendatipun dia memiliki beberapa solusi, tetapi pandangan mereka telah berbalut dalam kekuatan orientasi masalah. Klien sering memiliki satu riwayat yang berakar dalam pandangan mereka. SFBT membalas

kehadiran klien dengan percakapan yang optimistik yang memberikan garis-garis besar keyakinan mereka ke dalam tujuan yang dapat digunakan dan dicapai yang ada di sekitar ruangan. Konselor menjadi alat di dalam membantu orang dalam melakukan perpindahan dari suatu keadaan bermasalah ke suatu dunia yang memiliki berbagai kemungkinan. Konselor mendorong dan menantang klien untuk menulis suatu cerita yang berbeda yang dapat mengarah kepada suatu tujuan baru. Tujuan Konseling SFBT Tujuan dari terapi singkat berfokus solusi sebagai berikut : 1. Mengubah perilaku yang tidak sehat menjadi sehat. 2. Mengantar klien/manusia meraih kehidupan yang lebih sehat dan lebih bahagia baik masa kini maupun ke masa depan. 3. Membantu klien mengidentifikasi perubahan-perubahan yang diinginkan klien, terjadi di dalam kehidupan mereka dan terus terjadi. 4. Membantu klien membangun visi yang dipilih untuk masa depan mereka. 5. Membantu klien mengidentifikasi hal-hal yang baik untuk kehidupan mereka saat ini dan ke masa depan. 6. Membantu klien membawa kesuksesan sekecil apapun ke dalam kesadaran mereka. 7. Membantu klien untuk mengulang keberhasilan yang pernah mereka lakukan. 8. Pengubahan pandangan mengenai situasi atau kerangka berpikir, pengubahan cara menghadapi situasi problematik, dan merekam sumber-sumber dan kekuatan klien. 9. Adanya keterlibatan dalam pemberian bantuan klien untuk menerima pergantian bahasa dan penyikapan dari bicara tentang masalah ke bicara tentang solusi. Klien didorong untuk terlibat dalam perubahan atau bicara solusi daripada bicara masalah/problem, dengan asumsi bahwa apa yang kita katakana kebanyakan akan menjadi apa yang kita hasilkan. Bicara tentang masalah akan menghasilkan masalah berikutnya. Bicara tentang perubahan akan menghasilkan perubahan. Begitu individu/klien itu belajar berbicara dalam pengertian apa yang mereka mampu untuk lakukan secara baik, sumber-sumber dan kekuatan apa yang mereka punyai, dan apa yang mereka telah lakukan dan bisa terlaksana, mereka telah mencapai tujuan utama terapi (Nicholas dan Schwartz). Hubungan Konselor-Klien SFBT Karena terapi berfokus solusi dirancang untuk perlangsungan singkat,tak pelak terapis memainkan peran lebih aktif dalam menggeser fokus secepat mungkin, dari fokus yang tercurah ke problem

fokus yang tercurah ke solusi. Strategi relasiaonal mendasar difungsikan untuk memicu prakarsa klien, membantu klien menumbuhkembangkan tanggung jawab (kemampuan merespon atau response ability) mereka dan menggunakan kemampuan merespon itu dengan lebih baik. Begitu klien bisa berfokus pada solusi, dia pun akan banyak bisa memegang kendali dan bertanggung jawab. Klien pada dasarnya adalah ahli (expert) yang paling mengetahui tujuan-tujuan apa yang ingin mereka bangun. Tujuan-tujuan itu selalu unik bagi setiap klien dan dibangun klien untuk menciptakan hari depan yang lebih baik. Sedangkan klinikus berfokus solusi adalah pakar tentang proses dan struktur teraapi,pakar dalam membantu klien membangun tujuan-tujuan mereka dalam kerangka kerja yang lebih baik menghasilkan solusi yang sukses. Setiap pakar yaitu klien dan terapis memberikan andil untuk penumbuhkembangan solusi bersama. Relasi terapis dengan klien ditujukan untuk meraih suatu manfaat atau tujuan. Klien datang ke terapi karena suatu alasan dan ingin mencapai suatu manfaat dan tujuan. Kedua kolaborator (klien dan terapis) perlu membuat kriteria kemajuan atau keberhasilan pencapaian tujuan, sehingga mereka pun bisa mengakhiri terapi paada waktu yang tepat. Berdasarkan uraian tersebut kami merumuskan hubungan antara konselor dan klien pada terapi singkat berfokus solusi sebagai berikut : 1. Konselor berperan lebih aktif dalam menggeser dari fokus yang tercurah pada problem/masalah ke solusi. 2. Konselor mendorong klien dalam menumbuhkan tanggung jawab, kemampuan merespon (Response Ability). 3. Klien pada dasarnya lebih ahli (expert) atau yang paling mengetahui tujuan yang akan mereka bangun. 4. Hubungan/relasi konselor dan klien dalam terapi singkat berfokus solusi bersifat kolaboratif dan egaliter. Proses Konseling SFBT Bertolino dan OHanlon menekankan pentingnya menciptakan hubungan kerja sama dalam terapi dan memandangnya sebagai kebutuhan untuk keberhasilan terapi. Dengan menyadari bahwa konselor memiliki keahlian di dalam menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa klien adalah ahli dalam kehidupan yang dialaminya dan sering memiliki perasaan yang baik terhadap apa yang sudah atau yang belum dikerjakan di masa lampau, dan juga sama halnya dengan apa yang harus dikerjakan di waktu yang akan datang. Jika klien terlibat di dalam proses terapi dari

awal hingga akhir, kesempatan klien semakin meningkat dan terapi akan berhasil. Singkatnya, hubungan kooperatif dan kolaboratif cenderung akan menjadikan lebih efektif daripada hubungan yang bersifat hierarkhis di dalam terapi. Walter dan Peller menguraikan empat langkah yang memberikan ciri kepada proses SFBT, yaitu : 1. Menemukan apa yang klien inginkan daripada mencari apa yang mereka tidak inginkan. 2. Jangan mencari penyakit dan jangan berusaha mengurangi klien dengan memberikan label diagnostik, alih-alih mencari apa yang bisa dikerjakan klien dengan baik dan mendorong mereka untuk meneruskannya searah dengan yang sudah dilakukan. 3. Jika apa yang klien lakukan tidak bisa terlaksana dengan baik, kemudian doronglah mereka untuk mencoba hal lain yang berbeda. 4. Usahakan terapi berlangsung singkat dengan mendekati setiap pertemuan seolah-olah pertemuan itu sebagai pertemuan terakhir dan hanya satu pertemuan. Edy Legowo (2008:79) Proses pada terapi singkat berfokus solusi mencakup dua aktivitas utama sebagai berikut : 1. Aktivitas menumbuhkembangkan kesadaran (Consciousness Raising) Kebanyakan klien datang ke sesi terapi dengan preokupasi (keterpakuan)pada problem-problem. Misalnya klien mengatakan, Saya depresi sepanjang waktu, Aku tidak bisa mengendalikan keinginanku untuk minum-minuman keras, Saya dan pasangan hidup saya selalu bertengkar, Saya orang yang selalu cemas, Aku tidak bisa tidur, dan sebagainya. Tanggapan alamiah terhadap ungkapan-ungkapan problem itu berupa pengajuan pertanyaan bertajukmengapa?misal:mengapa anda depresi? Mengapa anda minum-minuman keras sampai tidak terkendali, Mengapa Anda dan pasangan hidup Anda selalu bertengkar ?, dan sebagainya. Terapi berfokus solusi justru membantu klien untuk menyadari perkecualian-perkecualian yang terlepas dari problem mereka. Dalam kenyataan, selalu terdapat perkecualian-perkecualian itu, dapat diharapkan klien meraih kendali atau kontrol atas sesuatu yang selama ini terasa sebagai problem yang teratasi. Menumbuhkembangkan kesadaran tentang pengalaman-pengalaman yang justru merupakan perkecualian dari pola baku problem-problem yang selama ini memaku perhatian dan kehidupan klien-bagaikan menapis butir-butir kecil emas dari hamparan pasir-biasa menjadi awal dari pengejawantahan solusi. Kurun-kurun perkecualian itu hampir selalu ada dalam kehidupan setiap klien. Untuk klien-klien yang sangat sulit memfokuskan diri pada kurun-kurun perkecualian yang positif, terapis bisa mengajukan

pertanyaan mukjizat (miracle question) contohnya jika karena suatu mukjizat, anda bebas dari problem-problem anda sepanjang malam, seberbeda apakah kehidupan anda jadinya?. Menumbuhkembangkan pengalaman perkecualian yang positif dalam imajinasi bisa membantu klien menjadi makin menyadari satu-satunya jenis realitas dalam keseluruhan kehidupan mereka. Seyogyanya terapi bisa membantu klien mentransformasikan realitas yang pada mulanya hanya di imajinasikan menjadi tujuan-tujuan spesifik dan praktis yang bisa mereka capai. Maka dapat kami simpulkan bahwa aktivitas menumbuhkembangkan kesadaran klien dapat berupa : 1. Membantu klien untuk makin menyadari kekecualian-kekecualian (exceptions) yang terlepas dari masalah mereka. 2. Membantu klien menjadi semakin menyadari bahwa realitas kehidupan bukan satu-satunya dalam keseluruhan kehidupan mereka. 3. Membantu klien mentransformasikan realitas yang pada mulanya hanya imajinasi menjadi tujuan-tujuan spesifik dan praktis serta dapat dicapai. 2. Membuat Pilihan Sadar (Choosing Conscious) Tujuan-tujuan yang kita pilih untuk menentukan masa depan kita. Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran klien tentang perkecualian-perkecualian positif di tangan kehidupannya yang syarat problem, mereka akan bisa membuat pilihan sadar untuk menciptakan lebih banyak lagi perkecualian-perkecualian seperti itu. Klien yang selalu berfokus pada sebuah kehidupan yang sarat depresi bisa membuat pilihan sadar untuk berpartisipasi dalam kegiatan rohani, berolahraga lebih sering, lebih banyak mendengarkan musik kesukaannya, terutama musik yang meningkatkan kegembiraan. Klien yang berfokus pada program kecanduan minuman keras bisa membuat pilihan sadar untuk memfokuskan diri pada solusi-solusi atas kecanduan minman keras, sehingga dia bisa mencanangkan tujuan-tujuan yang nyata. Water dan Peller (1992) memberikan empat pandangan untuk membuat pilihan sadar yang bersifat terapeutik : 1. Jika pilihan yang dibuat bisa bekerja efektif, jangan berhenti sampai disitu, bergegaslah menjalani pilihan tersebut 2. Jika pilihan yang dibuat itu bekerja kurang efektif perjuangkan agar ia menjadi lebih efektif 3. Jika pilihan yang dibuat itu sama sekali tidak efektif, bereksperimenlah juga berimajinasikanlah mukjizat-mukjizat

4. Perlakuakan setiap sesi konseling atau psikoterapi seolah olah sesi itu adalah sesi terakhir. Maka mulailah berubah sekarang, bukan esok, bukan pekan depan. Berikut dipaparkan rincian langkah membangun solusi dalam SFBT menurut DeShazer, sebagai dirangkum oleh Prochaska $ Norcross (2003): 1. Memfokuskan diri pada tujuan. Terapi dimulai dengan fokus pada tujuan-tujuan di hari kini yang bisa membangun hari depan yang lebih baik. Pertanyaan penting dalam cakupan langkah ini adalah: Apa tujuan anda ketika anda dating kemari ? Terapis membingkai terapi diseputar tujuan-tujuan dihari kini bukan di seputar problem-problem dihari-hari yang telah lewat. 2. Sejenak mendengarkan klien membicarakan problem-problem. Jika klien menanggapi dengan berbicara tentang problem-problem dan keluhan-keluhan, terapis perlu memahami dan berempati. Namun demikian, segera setelah kisah tentang problem-problem yang telah disampaikan oleh klien, terapis bersiap-siap untuk menggeser fokus. 3. Memfokuskan diri pada solusi. Langkah ini digerakkan oleh pertanyaan-pertanyaan; Ketika problem terselesaikan,tindakan apa yang akan anda lakukan secara beda? 4. Memfokuskan diri pada perkecualian. Pertanyaan yang biasa dipakai untuk menemukan perkecualian-perkecualian positif adalah: Bagaimana anda dihari ini mengejawantahkan tindakan yang beda? 5. Membuat penilaian antara pilihan sadar dengan spontanitas. Apakah pengalaman-pengalaman yang bebas dari problem terjadi karena pilihan yang dibuat secara sadar dan sengaja? Ataukah pengalaman-pengalaman yang lebih sehat dan lebih membahagiakan itu terjadi secara spontan? : 1. Jika perkecualian itu sudah berada dibawah kendali klien, bisa segera dibangun tujuantujuan spesifik yang mendorong klien membuat pilihan sadar untuk melakukan lebih banyak laagi hal-hal yang bia membantu dirinya. 2. Jika perkecualian-perkecualian dianggap terjadi secara spontan saja focus diarahkan ke proses terjadinya perkecualian-perkecualian itu. 3. Jika klien menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan jawaban Saya tidak tahu. Terapis perlu berusaha menerangkan kepada klien bahwa perkecualian yang terjadi iitu merupakan tanda yang baik. Dapat diharapkan,upaya tersebut akan membantu klien berfikir beda dan mulai membangun alternatif-alternatif yang sebelumnya tidak terbayangkan.

6. Melangkah dari perubahan-perubahan kecil ke perubahan-perubahan yang lebih besar. Sesisesi lanjutan dilakukan atas dasar capaian-capaian dan tujuan-tujuan yang dibangun pada awal terapi. Seorang klien melukiskan perubahan yang ia alami dalam terapi. 7. Selalu menyadari bahwa setiap solusi adalah unik. Sebagaimana setiap klien adalah individu yang unik, setiap solusipun unik. Terapis perlu bersiap-siap untuk terkejut menyaksikan keunukan ssolusi klien. 8. Memekarkan solusi dari percakapan. Solusi muncul dari dialog-dialog, baik dialog dari diri sendiri maupun percakapan dalam terapi. Jika terapi mendorong klien berbicara tentang problem-problem lama, dia akan menjadi diri yang lama. Perubahan dimulai ketika klien berbicara tentang solusi. Jika terapi niscaya berlangsung singkat saja,niscayalah sesegera mungkin dialog-dialog Terapeutik difokuskan ke solusi-solusi. 9. Menggunakan bahasa klien sendiri. Pandangan De Jong dan Berg sebagaimana dirangkum oleh Cerey (2005), mendeskripsikan struktur penumbuhkembangan solusi dalam SFBT dalam cakupan Lima langkah Berikut; 1. Klien diberi kesempatan untuk mendeskripsikan problem-problemnya. Terapi

mendengarkan dengan penuh hormat dan seksama, sementara percakapan mengarah kejawaban klien atas pertanyaan terapis, Sejauh apakah saya bisa bermanfaat membantu anda memecahkan problem-problem anda? 2. Terapis berkerjasama dengan klien untuk segera mungkin mengembangkan tujuan-tujuan yang jelas. Pertanyaan kunci yang perlu dijawab padaa langkah ini adalah; Apa yang akan menjadi beda dalam kehidupan anda ketika problem-problem anda dapat diselesaikan? 3. Terapis menanyakan kepada klien tentang saat-saat ketika problem-problem klien terjadi atau ketika problem-problem klien berkurang. Klien dibantu untuk mengeksplorasi perkecualiaan-perkecuaian itu sembari menegaskan apa yang akan klien lakukan untuk sengaja menghadirkan perkecualian-perkecualian itu. 4. Pada akhir setiap percakapan menumbuhkembangkan solusi (solution building conversation) terapis memberikan ringkasan umpan balik (summary feedback) kepada klien. Terapis juga memberikan dorongan kepada klien, dan mengusulkan kepada klien hal-hal apa saja yang perlu ia amati dan lakukan sebelum sesi berikutnya, demi kesuksesan penyelesaian problemproblemnya 5. Terapis bersama klien mengevaluasi kemajuan yang telah dicapai,dengan menggunakan skala penilaian (Rating Scale). Klien juga ditanyai apa yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan problem-problemnya dan langkah apa yang akan dilakukan kemudian. Teknik-Teknik Konseling SFBT

Teknik-teknik yang digunakan dalam terapi singkat berfokus solusi sebagai berikut : 1. Perubahan sebelum terapi Penjadwalan suatu janji saja sering membuat perubahan positif dalam perjalanannya. Dengan menanyakan perubahan, konselor dapat merangsang, membangkitkan, dan memperkuat apa yang sudah dilakukan yang merupakan cara untuk membuat perubahan. Perubahan-perubahan ini tidak dapat ditumpukan sepenuhnya pada proses terapi itu sendiri, sehingga pertanyaan itu cenderung mendorong klien untuk tidak banyak bergantung kepada konselor dan lebih bergantung kepada sumber yang dimiliki dalam dirinya untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan. 2. Pertanyaan Ajaib/The Miracle Question (MQ) a. Pengertian MQ adalah teknik bertanya yang digunakan konselor untuk membantu klien bagaimana menetapkan visi ke depan, merupakan suatu keadaan bilamana klien tidak bermasalah, dan itu merupakan tujuan yang hendak dicapai. Klien didorong untuk bertindak apa yang kemungkinan berbeda meskipun problemnya masih ada. De Jong dan Berg (dalam Gerald Corey, 2002:8) mengenali sejumlah alasan bahwa pertanyaan ajaib adalah suatu teknik yang bermanfaat. Dengan bertanya kepada klien untuk mempertimbangkan bahwa suatu keajaiban akan terjadi membuka luasnya kemungkinan-kemungkinan di masa depan. Klien didorong untuk bebas bermimpi sebagai cara mengenali perubahan yang memang mereka inginkan. Pertanyaan ini memiliki focus masa depan yang dari situ klien bisa dapat memulai mempertimbangkan suatu jenis kehidupan yang berbeda yang tidak didominasi oleh suatu masalah tertentu. Intervensi ini mengalihkan penekanan keduanya yaitu masalah masa lalu maupun masa sekarang terhadap hidup di masa yang akan datang. b. Contoh Versi tradisional MQ contoh 1: Jika di suatu pertemuan konseling berakhir, Anda pulang, Anda melakukan apapun yang Anda rencanakan pada hari itu, akhirnya Anda kelelahan dan tidur pada malam harinya. Di tengah malam, saat Anda tidur nyenyak, keajaiban terjadi yaitu semua masalah yang Anda alami hari ini sepertinya terpecahkan semuanya. Tetapi karena keajaiban itu hanyalah mimpi, maka tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa mukjizat terjadi. Ketika Anda bangun pagi hari, bagaimana Anda akan memulai melakukan bahwa keajaiban terjadi? Apa lagi yang akan Anda kerjakan? Apa lagi? Contoh 2:

Jika Anda bangun sampai besok, dan keajaiban terjadi, Anda tidak lagi mudah kehilangan kesabaran, seberbeda apa yang akan terjadi pada diri Anda?Tanda-tanda pertama apa bila kemukjizatan itu terjadi? Respon Klien barangkali : Saya tidak akan kesal ketika seseorang memanggil nama saya. (tidak efektif) Para konselor ingin klien mengembangkan tujuan positif, atau apa yang akan mereka lakukan lebih dari pada apa yang mereka tidak ingin lakukan. Ini akan menjadi lebih baik, karena memberikan kepastian akan keberhasilan. Lebih baik, konselor barangkali meminta klien, Apa yang dapat Anda lakukan, pada saat seseorang memanggil namamu? 3. Pertanyaan Penskalaan/Scaling Questions (SQ) 1. Pengertian SQ adalah teknik yang digunakan konselor untuk mengidentifikasi perbedaan yang bemanfaat bagi klien, dan dapat membantu untuk menetapkan tujuan pula. Kutub dari skala biasanya berentang dari kondisi masalah yang terburuk yang terjadi (0 atau 1) di salah satu ujung, dan di ujung yang lain menggambarkan kondisi terbaik yang mungkin akan dicapai (10). Klien diminta untuk menilai mereka saat ini berada pada posisi skala berapa, dan pertanyaan yang kemudian digunakan untuk mengidentifikasi berbagai sumber. Konselor menggunakan pertanyaan yang memberi skala apabila perubahan dalam pengalaman manusia tidak mudah diamati, seperti perasaan, suasana hati, atau komunikasi. Pertanyaan dengan memberikan skala menjadikan klien untuk memberikan perhatian yang lebih dekat kepada apa yang sedang mereka kerjakan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan kepada perubahan yang mereka kehendaki. 2. Contoh

Apa yang tidak membuatmu terperosok pada jalur skala rendah?, Pengecualian: pada suatu hari ketika Anda berada di satu titik skala yang lebih tinggi, apa yang akan Anda katakan bahwa hal ini merupakan hal yang berada.

Di posisi skala berapa Anda menjadi merasa cukup baik? Apa yang akan terjadi bilamana di suatu hari Anda berada pada titik skala tersebut?

4. Exception Seeking (ES) atau Pertanyaan Kekecualian SFBT mendasarkan pada anggapan bahwa ada saat-saat dalam hidup klien ketika suatu masalahmasalah yang mereka kenali tidak menjadi masalah. Waktu-waktu inilah yang disebut kekecualiankekecualian. Konselor mengajukan pertanyaan kekecualian untuk mengarahkan klien ke arah waktuwaktu ketika problem tidak timbul. Kekecualian adalah pengalaman-pengalaman masa lalu dalam hidup klien yang layak untuk diharapkan muncul ketika ada masalah, meskipun biasanya tidak. Pengungkapan ini mengingatkan kepada klien bahwa problem itu tidak semuanya memiliki kekuatan dan tidak selalu muncul selamanya. Pengungkapan ini juga memberikan bidang peluang bagi munculnya sumber, ditemukannya kekuatan, dan didapatkannya kemungkinan solusi. 1. Para pendukung SFBT berpendapat bahwa selalu ada saat dimana klien merasakan ringan atau bahkan tidak sedang mengalami masalah. 2. Konselor berusaha mendorong klien untuk menjelaskan apa yang berbeda dengan saat ketika ia berada dalam kondisi bermasalah (kasus). 3. Tujuan dari teknik ini adalah agar klien mengulang kesuksesan di masa lalu, dan membantu mereka mendapatkan kepercayaan untuk melakukan perbaikan ke depan berdasarkan pengalaman suksesnya tersebut. 5. Mengatasi Pertanyaan/Coping Question (CQ) 1. Pengertian Teknik CQ dirancang untuk memperoleh informasi tentang berbagai sumber daya yang dimiliki klien, yang saat itu hilang (dilupakan) tak ketahuan. Bahkan mungkin merupakan ceritera dalam kondisi klien takberpengharapan (hoppless). Rasa ingin tahu dan senang dapat membantu klien melihat kekuatan tanpa mempertentangkan dengan kondisi klien senyatanya. Sumber daya yang dimiliki klien ada dua yaitu : 1. Sumberdaya Internal: keterampilan, kekuatan, kualitas, kepercayaan klien dan kapasitas mereka yang berguna. 2. Sumberdaya External: Relasi yang mendukung, seperti, mitra, keluarga, teman, atau kelompok agama dan juga kelompok-kelompok pendukung yang lainnya. 2. Contoh Saya melihat hal itu benar-benar sulit bagi Anda, namun Saya kaget melihat fakta bahwa meskipun dalam kondisi seperti itu Anda mampu me-manage dirimu untuk bangkit, dan setiap pagi Anda melakukan semua yang diperlukan keluargamu. Bagaimana anda melakukannya?

6. Umpan Balik Konselor kepada Klien Para pelaksana konseling umumnya mengambil waktu jeda lima sampai dengan sepuluh menit menjelang setiap akhir pertemuan untuk menyusun suatu ringkasan pesan kepada klien. Selama waktu jeda ini konselor merumuskan umpan balik yang akan diberikan kepada klien setelah waktu jeda. De Jong dan Berg (dalam Gerald Corey, 2002:9) menguraikan tiga bagian pokok untuk umpan balik yang berupa ringkasan: pujian, jembatan, dan anjuran tugas. Pujian adalah pengakuan yang tulus terhadap apa yang telah klien lakukan yang mengarah ke solusi yang efektif. Pujian-pujian ini yang wujudnya berbentuk dorongan, menciptakan harapan, dan penyampaian harapan kepada klien bahwa mereka dapat mencapai tujuan-tujuan mereka dengan menggunakan kekuatan dan keberhasilan mereka. Kedua, sebuah jembatan menghubungkan pujian awal kepada tugas anjuran yang diberikan. Jembatan memberikan alasan penalaran untuk pujian itu. Aspek umpan balik ketiga berisi anjuran tugas kepada klien, yang dapat dipertimbangkan sebagai pekerjaan rumah. Tugas pengamatan maksudnya ialah meminta klien untuk sekedar memberikan perhatiannya kepada beberapa aspek kehidupan mereka. Proses monitoring diri ini membantu klien mencatat perbedaanperbedaan apabila segala sesuatu keadaannya lebih baik. 7. Penghentian Dari awal sekali wawancara berfokus solusi, konselor selalu berpikiran bahwa dalam bekerja akan mengarah kepada penghentian. Begitu klien mampu membangun solusi yang memuaskan, hubungan terapi dapat dihentikan. Sebelum konseling berakhir, konselor membantu klien dalam mengenali hal-hal yang bisa mereka lakukan untuk melanjutkan perubahan-perubahan yang telah mereka lakukan di masa yang akan datang. Klien juga bisa dibantu untuk mengenali rintangan atau hambatan-hambatan yang kemungkinan ditemui dalam perjalanannya memelihara perubahan yang telah mereka lakukan. Karena model terapi ini singkat, berpusat pada masa sekarang, dan dimaksudkan untuk keluhan tertentu, akan sangat mungkin bahwa klien akan mengalami persoalan-persoalan perkembangan lain di kemudian hari. Klien bisa minta pertemuan tambahan kapan saja ketika mereka merasakan adanya kebutuhan yang mereka rasakan untuk kembali ke jalan hidup yang benar. Kecocokannya Diterapkan di Indonesia Terapi singkat berfokus solusi bisa digunakan oleh konselor/guru BK. Terapi ini berlangsung singkat dan bisa digunakan kapan saja maupun dimana saja. Proses yang singkat inilah yang disukai oleh kebanyakan klien-klien di Indonesia. Instan, begitulah orang-orang mengatakan. Klien-klien di Indonesia lebih suka apabila permasalahannya langsung bisa diatasi, tanpa harus menghimpun

sebab-sebab masalah. Konselor/guru BK di Indonesia diharapkan mampu secara kreatif memadukan antara menumbuhkembangkan kesadaran klien dan membuat pilihan perubahan. Pada terapi singkat berfokus solusi, klien di Indonesia diajarkan suapaya tidak perlu terpaku pada masalah. Mereka perlu berfokus pada solusi, bergerak menuju dan mengejawantahan solusi. Oleh karena itu, supaya masalah yang dihadapi cepat teratasi maka konselor Indonesia yang menggunakan teori SFBT tak perlu menggunakan kebiasaan lamanya yaitu dengan pertanyaan mengapa tetapi langsung pada solusinya dengan menggunakan pertanyaan bagaimana tujuan/harapan yang akan Anda inginkan ?. Misalnya pengetahuan tentang mengapa seseorang menjadi peminum minuman keras 25 tahun yang lampau (semisal, karena tekanan kelompok teman sebaya) ternyata tidak bermanfaat banyak, yang lebih bermanfaat adalah bagaimana individu itu kini berubah. DAFTAR PUSTAKA Edy Legowo, dkk. 2008. Modul Pendidikan dan Latihan Profesi Guru Bimbingan Konseling . Surakarta: Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 Michael S. Kelly, dkk. 2009. Solution-Focused Brief Therapy in Schools. Surakarta: Perpustakaan Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret http://himcyoo.wordpress.com/2011/10/08/terapi-singkat-berfokus-solusi-solution-focused-brieftherapy-%E2%80%9Csfbt%E2%80%9D/