Anda di halaman 1dari 2

Miman Munandar (101424022)

Pada percobaan Shell and Tube Heat Exchanger ini bertujuan untuk mempelajari mekanisme transfer panas (Memahami cara kerja peralatan shell and tube) dengan menghitung koefisien perpindahan panas keseluruhan (U) dengan neraca energi dan menggunakan persamaan empiris serta mengetahui bagaimana pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien perpindahan panas. Selain itu percobaan ini juga bertujuan untuk menghitung efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima fuida.

Shell and Tube Heat Exchanger merupakan salah satu jenis heat exchanger. Jika aliran yang terjadi sangat besar, maka digunakan shell and tube heat exchanger, dimana exchanger ini adalah yang biasa digunakan dalam proses industri. Exchanger ini memiliki aliran yang kontinyu. banyak tube yang dipasang secara paralel dan di dalam tube-tube ini fluida mengalir. Tube-tube ini disusun secara paralel berdekatan satu sama lain di dalam sebuah shell dan fluida yang lain mengalir di luar tube-tube, tetapi masih dalam shell. Pada Shell and tube HE ini, fluida dingin mengalir melalui tube (pipa) dan fluida panas melalui shell.

Yang dilakukan adalah mengamati pengaruh perubahan laju alir terhadap perpindahan panas. Pada percobaan ini dilakukan tiga buah variasi laju alir dengan aliran fluida dingin tetap sedangkan aliran fluida panas berubah. dengan temperatur masuk fluida panas dan fluida dingin dibuat tetap. Proses perpindahan panas menggunakan sistem berlawanan arah atau counter current. Pengamatan dilakukan dengan cara mengukur suhu air panas masukkeluar, dan suhu air dingin masuk-keluar yang digunakan untuk menghitung U nya. Setiap suhu yang tercatat memiliki nilai yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa selama proses aliran terdapat perpindahan panas. Dari data yang telah diperoleh, dapat dihitung NRe, Npr, hi, ho, dan kemudian diperoleh kalor (Q), effisiensi, dan didapatkan nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan (U). Perhitungan dilakukan dengan cara neraca energi dan empiris dan disajikand alam tabel berikut:

Laju Alir Panas (Lt/min) 3 5 7

Panas (qi) 7891.589 11098.83 14087.38

Dingin (qo) 2715.044 5230.909 8291.274

Effisiensi ()
34.40427 47.13029 58.85603 49.27491 58.60006 65.80898

ho

U (empiris)
1.401598 1.461962 1.493714

U (N.energi) 4303.954 5432.206 7028.424

6.295899 8.401754 10.04742

Dari hasil perhitungan yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi laju alir, baik untuk fluida panas maupun fluida dingin, koefisien pindah panas keseluruhan (U) semakin besar, dan semakin tinggi pula panas yang diberikan / dilepas oleh fluida panas dan panas yang diterima / diserap oleh fluida dingin semakin tinggi, namun panas yang dilepas selalu lebih besar dibandingkan dengan panas yang diserap, atau dengan kata lain ada energi yang hilang, sedangkan menurut teorinya atau idealnya adalah bahwa energi yang diberikan dalam perpindahan panas harus sama dengan energi yang diterima. Hal tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor, seperti ; panas yang hilang sewaktu masih dalam perjalanan menuju alat, panas yang hilang akibat kontak antara alat dengan udara luar, adanya kerak atau karat dalam alat yang dapat menghalangi perpindahan panas, dan sebagainya. Oleh karena terdapat panas yang hilang, maka disini diperlukan analisa mengenai effisiensi daripada alat yang digunakan. Efisiensi semakin meningkat seiring dengan meningkatnya laju alir yang digunakan. Semakin tinggi laju alir berarti turbulensi aliran meningkat tetapi waktu kontak berkurang. Effisiensi heat exchanger akan meningkat dengan kenaikan laju aliran fluida di tube dan di shell. Namun seharusnya setelah mencapai nilai maksimum, effisiensi akan menurun karena besar perpindahan panas dari udara panas ke udara dingin juga dipengaruhi oleh waktu kontak antara keduanya selain dipengaruhi oleh turbulensi aliran. Permasalahanpermasalahan yang ditemukan setelah proses pengolahan data dilakukan, selain nilai effisiensi yang terus meningkat, nilai koefisien pindah panas yang dihitung dengan cara neraca energi sangat jauh berbeda dengan nilai koefisien pindah panas yang dihitung dengan cara empiris. Hal hal tersebut dapat saja terjadi karena shell and tube heat exchanger seharusnya digunakan untuk fluida yang memiliki perbedaan temperatur antara fluida panas dan dinginnya tinggi. Sedangkan pada percobaan perbedaan temperaturnya rendah, temperatur fluida panas nya pun tidak terlalu tinggi akibat steam karena factor keamanan.