Anda di halaman 1dari 5

AL-HADAAD (BERKABUNG)

Oleh
Ustadz Kholid Syamhudi
Manakala musibah ini menimpa, banyak orang mengungkapkan perasaan berkabungnya
dengan berbagai cara. Di antaranya, ada yang berkabung dengan menaikkan bendera
setengah tiang karena wafatnya seorang pemimpin atau tokoh besar. Atau kaum laki-laki
berkabung atas kematian salah seorang keluarga atau kerabatnya. Ada yang
mengungkapkannya dengan mengenakan pakaian serba hitam sebagai simbol duka.
Bagaimanakah dengan Islam?
Islam telah menetapkan, bahwa berkabung hanyalah untuk wanita jika suaminya atau
salah satu keluarganya meninggal dunia, dengan cara-cara yang telah ditetapkan syariat.
MAKNA BERKABUNG DALAM ISLAM
Berkabung, dalam bahasa Arabnya adalah al hadaad (
) . Maknanya, tidak
mengenakan perhiasan baik berupa pakaian yang menarik, minyak wangi atau lainnya
yang dapat menarik orang lain untuk menikahinya [1]. Pendapat lain menyatakan, al
hadaad adalah sikap wanita yang tidak mengenakan segala sesuatu yang dapat menarik
orang lain untuk menikahinya seperti minyak wangi, celak mata dan pakaian yang
menarik dan tidak keluar rumah tanpa keperluan mendesak, setelah kematian
suaminya[2]
JENIS BERKABUNG
Al hadaad, terbagi menjadi dua. Pertama, berkabung dari kematian suami selama empat
bulan sepuluh hari. Kedua, berkabung dari kematian salah satu anggota keluarganya,
selain suami selama tiga hari.
Pembagian ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam :

















"Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berkabung
atas kematian melebihi tiga hari, kecuali atas kematian suaminya" [3]
Dan dalam riwayat Bukhari terdapat tambahan lafazh :






"Maka ia berkabung atas hal tersebut selama empat bulan sepuluh hari"[4]
HUKUM BERKABUNG ATAS KEMATIAN SUAMI
Ulama ahlu sunnah sepakat, kecuali Al Hasan Al Bashri, Al Hakam bin Utaibah dan Asy
Syabi, menyatakan bahwa hukum berkabung dari kematian suami selama empat bulan

sepuluh hari adalah wajib.


Allah berfirman:
















"Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri
(hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber'iddah) empat bulan sepuluh hari.
Kemudian apabila telah habis masa 'iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali)
membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui
apa yang kamu perbuat" [Al Baqarah:234].
Dari Zainab bintu Abu Salamah, beliau berkata :




















"Aku telah mendengar Ummu Salamah berkata: Seorang wanita datang menemui
Rasulullah dan berkata,Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya putriku ditinggal mati
suaminya, dan ia mengeluhkan sakit pada matanya. Apakah ia boleh mengenakan celak
mata?. Lalu Rasulullah menjawab Tidak! sebanyak dua atau tiga kali, semuanya
dengan kata tidak. Kemudian Rasulullah berkata: Itu harus empat bulan sepuluh hari,
dan dahulu, salah seorang dari kalian pada zaman jahiliyah membuang kotoran binatang
pada akhir tahun.[5]

















"Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk berkabung
atas kematian melebihi tiga hari, kecuali atas kematian suaminya.[6]
Perkataan Ulama Dalam Hal Ini :
Ibnu Qudamah (wafat tahun 620 H) menyatakan: Kami tidak mengetahui perbedaan
pendapat di antara para ulama tentang kewajiban Al hadaad (berkabung) atas wanita yang
suaminya meninggal kecuali dari Al Hasan, beliau menyatakan tidak wajib. Namun
pendapat ini adalah pendapat yang syadz (aneh, menyelisihi) pendapat para ulama dan
menyelisihi sunnah sehingga pendapat tersebut tidak signifikan.[7]
Ibnu Al Qayyim (wafat tahun 751H) berkata : Umat telah berijma tentang kewajiban
Ahdaad bagi wanita yag ditinggal mati suaminya, kecuali yang diriwayatkan dari Al
Hasan dan Al Hakam bin Utaibah.[8]
HUKUM BERKABUNG ATAS KEMATIAN SALAH SATU KELUARGA SELAIN
SUAMI
Bekabung atas kematian salah seorang kerabat atau keluarga selain suami diperbolehkan

selama tiga hari saja dan tidak boleh lebih. Walaupun diperbolehkan, namun bila suami
mengajak berhubungan intim, maka wanita tersebut tidak boleh menolaknya.
Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H) menegaskan: Syariat memperbolehkan seorang wanita
untuk berkabung atas kematian selain suaminya selama tiga hari, karena kesedihan yang
mendalam dan penderitaan yang mendera karena kematian orang tersebut. Hal itu tidak
wajib menurut kesepakatan para ulama. Namun seandainya suami mengajaknya
berhubungan intim (jima) maka ia tidak boleh menolaknya.[9]
Ibnu Hazm (wafat tahun 456 H) menyatakan: Seandainya seorang wanita berkabung
selama tiga hari atas kematian bapak, saudara, anak, ibu atau kerabat lainnya, maka hal
itu mubah.[10]
Ibnu Al Qayyim (wafat tahun 751 H) juga menyatakan: Berkabung atas kematian suami
hukumnya wajib dan atas kematian selainnya boleh saja.[11]
SYARAT-SYARAT DIWAJIBKANNYA AL-HADAAD [12]
1). Wanita tersebut berakal dan baligh. Para ulama telah bersepakat bahwa wanita yang
baligh dan berakal diwajibkan melewati masa al hadaad. Namun mereka masih berselisih
pendapat tentang wanita yang belum memasuki masa baligh atau gila. Pendapat yang
rajih adalah pendapat mayoritas ulama yang mewajibkannya
2). Beragama Islam. Syarat ini juga telah disepakati para ulama. Perbedaan pendapat
terjadi pada wanita ahli kitab apakah dikenakan kewajiban ini atau tidak ? Pendapat yang
rajih adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan hal itu diwajibkan atas wanita
ahli kitab yang menikah dengan muslim, lalu suaminya meninggal dunia.
3). Menikah dengan akad yang shahih.
MASA WAKTU BERKABUNG DAN CARA MENGHITUNG HARINYA
Masa berkabung bagi wanita adalah empat bulan sepuluh hari. Ini berlaku pada semua
wanita, kecuali yang hamil. Wanita hamil yang ditinggal mati suaminya, berkabung
sampai melahirkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
"Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka
melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah
menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya" [Ath Thalaaq : 4]
Juga hadits Subaiah yang berbunyi:

"Umar bin Abdillah bin Al Arqam Az Zuhri menulis surat kepada Abdullah bin Utbah

memberitahukan kepadanya, bahwa Subaiah telah menceritakan kepadanya bahwa ia


(Subaiah) adalah istri Saad bin Khaulah yang berasal dari Bani Amir bin Luai dan dia
ini termasuk orang yang ikut perang Badr. Lalu Saad meninggal dunia pada haji wada
sedangkan Subaiah dalam keadaan hamil. Tidak lama kemudian setelah suaminya wafat,
ia melahirkan. Ketika selesai nifasnya, maka Subaiah berhias untuk dinikahi. Abu
Sanaabil bin Bakak seorang dari Bani Abduddar menemuinya sembari berkata:
Mengapa saya lihat kamu berhias, tampaknya kamu ingin menikah? Tidak demi Allah!
Kamu tidak boleh menikah sampai selesai empat bulan sepuluh hari. Subaiah berkata:
Ketika ia bicara demikian kepadaku, maka aku memakai pakaianku pada sore harinya,
lalu aku mendatangi Rasulullah dan menanyakan hal tersebut. Kemudian Rasulullah
memberikan fatwa kepadaku, bahwa aku telah halal dengan melahirkan dan
memerintahkanku menikah bila kuinginkan.[13]
Oleh karena itu Imam Ibnu Al Qayyim menyatakan: Adapun orang yang hamil, jika
telah melahirkan, maka gugurlah kewajiban berkabungnya tersebut menurut kesepakatan
mereka (para ulama), sehingga ia boleh menikah, berhias dan memakai wangi-wangian
untuk suaminya (yang baru) dan berhias sesukanya.[14]
Sedangkan Ibnu Hajar menyatakan: Mayoritas ulama dari para salaf dan imam fatwa di
berbagai egeri berpendapat bahwa orang yang hamil jika wafat suaminya menjadi halal
(boleh menikah) dan selesai masa iddahnya dengan melahirkan.[15]
Masa berkabung ini dimulai dari hari kematian suami, walaupun berita kematiannya
terlambat ia dengar. Demikianlah pendapat mayoritas para sahabat, para imam empat
madzhab, Ishaq bin Rahuyah, Abu Ubaid dan Abu Tsaur.[16]
Perhitungannya dengan menggunakan bulan Hijriyah. Sebagai contoh, seorang wanita
ditinggal mati suaminya pada lima hari sebelum bulan Dzulhijjah, maka ia hitung sisa
Dzulhijah tersebut dan melihat hilal Muharram, Shafar, Rabiul awal dan Robiu Al
Tsani, bila telah genap empat bulan, maka ia gabungkan sisa hari dalam bulan Dzulhijah
yang telah dilewati sebelumnya dengan menambahinya sampai genap sepuluh hari empat
bulan. Setelah itu, ia boleh berhias sebagaimana wanita lainnya.
HAL-HAL YANG DILARANG DALAM MASA BERKABUNG
Secara ringkas, wanita yang sedang menjalani masa berkabung, tidak boleh melakukan
segala sesuatu yang diharamkan pada wanita yang sedang menunggu masa iddah seperti
berhias atau hal-hal lain yang dapat menarik perhatian lelaki untuk menikahinya.
Diharamkan pada wanita yang berkabung ini semua yang diharamkan pada orang yang
menunggu masa iddah dari berhias atau yang lainnya yang dapat menarik untuk
menikahinya.
Maraji
1. Fathul Bari, Ibnu Hajar, tanpa cetakan dan tahun, Al Maktabah Al Salafiyah, Mesir
2. Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat, Muhammad Al Hamuud
Al Najdi,cetakan pertama tahun 1415 H, Dar Al Fath

3. Al Mughni, Ibnu Qudamah, tahqiq Abdul Muhsin bin Abdullah Al Turki dan Abdul
Fattah bin Muhammad Al Halwu, cetakan kedua tahun 1413H, penerbit Hajar, Kairo
4. Zaad Al Maad Fi Hadyu Khoirul Ibad, Ibnu Al Qayyim, Tahqiiq Syuaib Al Arnauth
dan Abdul Qadir Al Arnauth, cetakan ketiga tahun 1421H Muassasah Al Risalah
5. Al Muhalla , Ibnu Hazm tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, tanpa cetakan dan tahun,
Daar Al Turats, Mesir
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005. Diterbitkan Yayasan
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo
57183 Telp. 0271-761016]
________
Footnotes
[1]. Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar, tanpa cetakan dan tahun, Al Maktabah As Salafiyah,
Mesir, hlm. 3/146.
[2]. Lihat Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al Mukminat, Muhammad Al
Hamuud An Najdi, Cetakan Pertama, Tahun 1415 H, Dar Al Fath, hlm. 8.
[3]. HR Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Thalaq, bab Wujub Al Ihdaad, no. 3714.
[4]. HR Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al Janaaiz, bab Ihdaad Al Marah Ala Ghairi
Zaujiha, no. 1280. Lihat Fathul Bari, Op.cit, hlm. 3/146.
[5]. HR Bukhari, Kitab Thalaq, Bab Tahiddu Al Mutawaffa Anha Arbaata Asyhur Wa
Asyra, no. 5.335. Lihat Fathul Bari, Op.cit, hlm. 9/484.
[6]. HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Thalaq, bab Wujub Al Ihdaad no. 3714.
[7]. Al Mughni, Ibnu Qudamah, tahqiq Abdul Muhsin bin Abdullah At Turki dan Abdul
Fatah bin Muhammad Al Halwu, Cetakan Kedua, Tahun 1413H, Penerbit Hajar, Kairo,
Mesir, hlm. 11/284.
[8]. Zaad Al Maad Fi Hadyu Khairul Ibad, Ibnu Al Qayyim, tahqiq Syuaib Al Arnauth
dan Abdul Qadir Al Arnauth, Cetakan Ketiga, Tahun 1421H Muassasah Ar Risalah, hlm.
5/618.
[9]. Fathul Bari, Op.cit., 3/146.
[10]. Al Muhalla, Ibnu Hazm, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, tanpa cetakan dan
tahun, Daar Al Turats, Mesir, hlm. 10/280.
[11]. Zaad Al Maad, Op.cit., 5/618.
[12]. Diringkas secara bebas dari Al Kalimaat Al Bayyinaat Fi Ahkam Hadaad Al
Mukminat, Muhamad Al Hamuud An Najdi, Op.cit. hlm. 11-13.
[13]. HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab Thalaq, bab Inqidha Al Mutawaaffa Anha
Zaujuha, no. 3707.
[14]. Zaad Al Maad, Op.cit, hlm. 5/619.
[15]. Fathul Bari, Op.cit., hlm. 9/474.
[16]. Lihat Al Kalimaat Al Bayyinat, Op.cit., hlm. 19.