Anda di halaman 1dari 7

2013

PEMBANGUNAN PERTANIAN
INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI
Terdapat tiga aspek yang bisa menunjukkan indikator (penciri atau penanda) kesejahteraan petani, yaitu : (1) Perkembangan struktur pendapatan, (2) Perkembangan pengeluaran untuk pangan, (3) Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP).

M.FAKRI GUSWANDI 150610100031


1/1/2013

Indikator kesejahteraan petani

Terdapat tiga aspek yang bisa menunjukkan indikator (penciri atau penanda) kesejahteraan petani, yaitu : (1) Perkembangan struktur pendapatan, (2) Perkembangan pengeluaran untuk pangan, (3) Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP). (1). Perkembangan Struktur Pendapatan Struktur pendapatan menunjukkan sumber pendapatan utama keluarga petani dari sektor mana, apakah dari sektor pertanian atau sebaliknya yaitu dari non pertanian. (2). Perkembangan Pengeluaran Untuk Pangan Perkembangan pangsa pengeluaran untuk pangan dapat dipakai salah satu indikator keberhasilan ekonomi pedesaan. Semakin besar pangsa pengeluaran untuk pangan menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga tani masih terkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan dasar (subsisten). Demikian sebaliknya, semakin besar pangsa pengeluaran sektor sekunder (non pangan), mengindikasikan telah terjadi pengeseran posisi petani dasri subsisten kekomersial. Artinya kebutuhan primer telah terpenuhi, kelebihan pendapatan dialokasikan untuk keperluan lain misal pendidikan, kesehatan dan kebutuhan sekunder lainnya. Secara sederhana pangsa pengeluraran untuk pangan dapat dihitung sebagai berikut : (3) Perkembangan Nilai Tukar Petani Secara konsepsi NTP merupakan alat pengukur daya tukar dari komoditas pertanian yang dihasilkan petani terhadap produk yang dibeli petani untuk keperluan konsumsi dan keperluan dalam memproduksi usahatani (Rachmat, M, 2000, Supriyati et.al., 2000, Simatupang P., 2005). Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan nisbah antara harga yang diterima (HT) dengan harga yang dibayar petani (HB) yang dirumuskan sebagai berikut (BPS, 2008, Nurmanaf R, et.al.,2005, Irawan B, et.al.2007, Sudana W., et.al.2007).

Setelah keberhasilan Revolusi Hijau dan In donesia berhasil men capai swasembada pangan, prioritas pembangunan di berbagai negara, termasuk Indonesia, lebih terarah ke sektor industri. Pemicu pokoknya ialah kemajuan suatu negara sering diyakini bergantung pada kemajuan sektor industrinya sehingga banyak negara berkembang yang semula menumpukan perekonomian mereka pada sektor pertanian tergopoh-gopoh mengalihkan prioritas pembangunan untuk lebih mendorong sektor industri. Sesungguhnya, tidaklah salah mendorong pertumbuhan sektor industri karena nilai tambah yang lebih besar akan dapat diperoleh dari sektor tersebut. Akan tetapi, menjadi kurang tepat jika pengembangan industri dilakukan dengan menelantarkan sektor pertanian. Harusnya, industri yang pertama didorong negara agraris ialah agroindustri yang berbasis komoditas pangan dan pertanian yang dihasilkan di dalam negeri. Penurunan perhatian terhadap sektor pertanian walhasil telah dirasakan akibatnya pada saat ini dan cenderung akan semakin parah jika tidak dilakukan upaya pemulihan secara cepat dan tepat. Pada tataran global, harga komoditas pangan mulai naik dan krisis pangan mulai membayangi. Untuk beberapa negara Afrika, hal itu sudah terjadi. Untuk Indonesia, kekhawatiran terhadap kemungkinan kekurangan pangan juga mulai dirasakan. Aksi spontan terhadap isu itu umumnya ialah melakukan upaya teknis agronomis untuk meningkatkan produksi pangan, misalnya memberikan bantuan dan/atau subsidi benih unggul, sarana produksi, serta alat dan mesin pertanian kepada petani. Upaya intensifikasi, ekstensifikasi, dan diversifikasi pangan pada prinsipnya tidaklah keliru. Namun, peningkatan produksi yang dicapai dirasakan relatif tak sebanding dengan anggaran negara yang dibelanjakan untuk program tersebut. Kekurangoptimalan program tersebut disebabkan faktor teknis atau masalah governance.

Kebutuhan Teknologi

Banyak saran muncul untuk persoalan itu, termasuk perlunya pengawasan yang lebih ketat, hukuman yang lebih berat dan secara konsisten diterapkan bagi para pelanggar, dan pengubahan cara pemberian subsidi dari subsidi harga sa rana produksi menjadi subsidi langsung ke petani. Banyak juga saran agar kemaj juan teknologi pertanian perlu m mendapat perhatian dan didorong agar dapat berkontribusi secara lebih nyata terhadap upaya peningkatan produksi pangan. Persoalannya kemudian ialah kemajuan teknologi pertanian kadang memperlebar kesenjangan antara teknologi yang ditawarkan dan kapasitas adopsi petani. Secara umum, tentu tidak banyak yang akan membantah bahwa teknologi dibutuhkan untuk semua sektor pembangunan, termasuk pertanian. Namun, relevansi teknologi yang dikembangkan dengan kebutuhan dan kapasitas adopsi petani perlu secara sungguhsungguh dicermati. Faktor utama penyebab kegagalan atau kurang optimalnya dampak pembangunan pertanian ialah program dan kegiatan yang dilakukan terlalu fokus pada aspek teknis agronomis dan kurang mempertimbangkan dampaknya pada kesejahteraan petani.

Petani Subsistem
Petani harus diposisikan sebagai subjek, bukan objek atau hanya diperlakukan sebagai komponen mesin produksi. Petani perlu diberi insentif agar termotivasi untuk meningkatkan produksi pangan. Bentuk insentif yang paling efektif ialah peningkatan kesejahteraannya. Bukankah tujuan utama pembangunan ialah untuk menyejahterakan rakyat? Rakyat yang kesejahteraannya paling perlu diprioritaskan melalui pembangunan sektor pertanian tentunya adalah petani. Ukuran keberhasilan pembangunan pertanian sering dikaitkan dengan keberhasilan mencapai swasembada pangan atau terwujudnya kondisi ketahanan pangan. Mari kita cermati definisi ketahanan versi Food and Agriculture Organization (FAO) berikut ini, Food security exists when all people, at all times, have physical and economic access to sufficient, safe and nutritious food that meets their dietary needs and food preferences for an active and healthy life. Ringkasnya, ketahanan pangan tercapai jika semua konsumen mendapatkan pangan yang cukup, tetapi tak sedikit pun menyinggung kesejahteraan petani sebagai produsen pangan. Banyak yang

menyatakan `toh' petani selain produsen juga konsumen pangan. Itu betul 100%. Namun, persoalannya bukan di situ. Persoalannya ialah jika jasa para petani dalam memproduksi pangan tidak diimbangi dengan peningkatan kesejahteraan, mereka cenderung akan menjadi petani subsistem. Petani akan memproduksi pangan hanya untuk kebutuhan sendiri, tidak akan termotivasi untuk berpartisipasi dalam program pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan nasional. Untuk tambahan pendapatannya, petani cenderung melakukan diversifikasi pekerjaan, misalnya membudidayakan tanaman perkebunan (karet, kopi, dan sekarang sawit). Justifikasinya ialah banyak lahan sawah yang tadinya ditanami padi sekarang dikonversi menjadi lahan kebun sawit. Opsi lain yang dipilih petani setelah kebutuhan pangan pokoknya dirasakan mencukupi ialah memilih pekerjaan tambahan sebagai buruh konstruksi (untuk wilayah sekitar perkotaan) atau pekerjaan informal lain di kota. Jika petani ditanya tentang alasannya mengapa tidak penuh mendedikasikan pekerjaannya pada budi daya tanaman pangan, salah satu jawaban yang mungkin patut direnungkan ialah, Tidak ada satu orang di desa kami yang naik haji karena bertanam padi, tapi yang mampu naik haji itu adalah para petani yang punya kebun kopi atau sawit. Jika kecenderungan petani untuk meninggalkan kegiatan budi daya tanaman pangan tersebut terus diabaikan, itu akan menjadi ancaman yang serius terhadap upaya memenuhi kebutuhan pangan nasional secara mandiri. Itu mungkin lebih serius jika dibandingkan dengan ancaman penyusutan luas lahan pertanian akibat konversi dan degradasi kualitas lahan. Juga, lebih serius daripada ancaman perubahan iklim global. Keberlanjutan proses produksi pangan secara mandiri akan sangat terancam. Kemandirian pangan yang didengung-dengungkan saat ini mungkin tak akan pernah terwujud. Pengertian ketahanan pangan tetap mengadopsi definisi yang digunakan FAO. Kemandirian pangan ialah kemampuan negara dan bangsa dalam memproduksi pangan yang beraneka ragam dari dalam negeri yang dapat menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup sampai tingkat perseorangan dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam, manusia, sosial, ekonomi, dan kearifan lokal secara bermartabat.

Bagaimana Kondisi kesejahteraan petani di Indonesia?

Jakarta (ANTARA News) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat kesejahteraan petani di Indonesia atau disebut Nilai Tukar Petani (NTP) periode Agustus 2012 mencapai 105,26 poin naik 0,28 persen dibanding NTP periode Juli 2012 sebesar 104,96 poin. "Kenaikan kesejahteraan petani didorong melonjaknya NTP subsektor tanaman pangan sebesar 0,46 persen, NTP subsektor perkebunan rakyat 0,14 persen, NTP subsektor peternakan sebesar 0,05 persen dan NTP perikanan 0,42 persen," kata Kepala BPS Suryamin, di Jakarta, Senin. Menurut Suryamin, sebaliknya berdasarkan pemantauan BPS pada 32 provinsi di Indonesia, NTP yang mengalami penurunan hanya pada subsektor tanaman holtikultura yang merosot 0,01 persen. Dijelaskannya, NTP menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Makin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. "Hampir seluruh NTP meningkat, sehingga mampu mendorong kenaikan NTP gabungan atau nasional," ujarnya Meskipun demikian, Suryamin menuturkan, kenaikan NTP sebesar 0,28 persen tersebut belum menunjukkan ada peningkatan kesejahteraan petani secara berarti karena kenaikannya jauh di bawah tingkat inflasi periode Agustus yang mencapai 0,95 persen. "Inflasi hampir satu persen, sedangkan kenaikan harga produk pertanian kurang dari 0,3 persen. Ini menunjukkan bahwa secara riil, petani yang identik dengan kelompok kelas bawah belum merasakan betul dampak dari kenaikan NTP tersebut," ujarnya. Saat yang bersamaan, dijelaskan Suryamin, BPS juga mencatat Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mencapai 147,26 poin, naik 0,96 persen dibanding Juli 2012 yang mencapai 145,86, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) mencapai 139,9 naik 0,67 persen dari sebelumnya sebesar 138,97 poin. "Berdasarkan penghitungan NTP di 32 propinsi, tercatat 18 propinsi mengalami kenaikan NTP dengan kenaikan tertinggi terjadi di Banten yaitu sebesar 1 persen yang didorong kenaikan apda subsektor tanaman pangan khususnya komoditi padi," ujarnya.

Sebaliknya penurunan NTP terbesar terjadi di Propinsi Bengkulu sebesar 1,73 persen, yang diakibatkan merosotnya subsektor holtikultura khususnya komoditas cabai merah yang menurun 4,96 persen

Berdasarkan data diatas dikatakan bahwa tingkat kesejahteraan petani naik dilihat dari nilai NTP nya. Namun indicator kesejahteraan petani tidak hanya dilihat dari NTP nya. Apabila dilihat dari aspek yang lain,misalnya perkembangan struktur pendapatan dan struktur pengeluaran tidak ada kenaikan yang signifikan. Apalagi dilihat fakta petani di t kepemilikan areal sawahnya hanya 0,3 hektare sampai 0,4 hektare per orang. Belum juga infrastruktur pertanian seperti irigasi banyak yang rusak sehingga areal sawah menjadi kering akibat tidak mendapatkan air irigasi. Begitu banyak factor dilapangan yang membuktikan banyak dari petani belum sejahtera,memang dilihat dari rata rata dari jumlah petani dapat dikatakan sejahtera,karena apabila hitung hitungan diatas kertas tingkat pendapatan para petani kecil tertutupi oleh tingkat pendapatan petani petani besar. Untuk itu pemerintah harus lebih mencermati dan lebih banyak terjun ke lapangan melihat langsung kesejahteraan petani jangan dilihat dari salah satu aspek saja. Kenapa masyarakat Indonesia di bingungkan dan dipermasalahkan dengan komoditi pangan yang menipis atau mahal, apakah tidak bisa masyarakat kita bercocok tanam sendiri yang hanya sekedar untuk memenuhi kebutahan dapur masing masing? Ya tentu saja Bisa jawabannya, kenapa tidak? tidak ada lahan luas, ya di lahan kecil/sempit bisa kita berdayakan, bahkan pekarangan rumah kita pun bisa kita manfaatkan,