Anda di halaman 1dari 35

DASAR-DASAR SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH 1.

Pendahuluan

Peningkatan jumlah penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi serta pembangunan di suatu daerah selain mempunyai dampak positif juga menimbulkan dampak negatif. Indonesia yang merupakan negara nomor empat terpadat di dunia dengan prakiraan jumlah penduduk tahun 2007 mencapai 234 juta jiwa, menghadapi banyak permasalah terkait sanitasi lingkungan terutama masalah pengelolaan sampah. Berdasarkan target MDGs (Millineum Development Goals) pada tahun 2015 tingkat pelayanan persampahan ditargetkan mencapai 80%. Tetapi di Indonesia berdasarkan data BPS tahun 2004, hanya 41,28% sampah yang dibuang ke lokasi tempat pembuangan sampah (TPA), dibakar sebesar 35, 59%, dibuang ke sungai 14,01%, dikubur sebesar 7,97% dan hanya 1,15% yang diolah sebagai kompos. Berdasarkan kondisi ini jika tidak dilakukan upaya pengelolaan sampah dengan baik maka tingkat pelayanan berdasarkan target nasional akan sulit tercapai. Telah diketahui bahwa sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu estetika lingkungan, menimbulkan bau, serta mengakibatkan berkembangnya penyakit. Gangguan lingkungan oleh sampah dapat timbul mulai dari sumber sampah, di mana penghasil sampah tidak melakukan penanganan dengan baik. Hal ini dapat terjadi pada penghasil sampah yang tidak mau menyediakan tempat sampah di rumahnya, dan lebih suka membuang sampah dengan seenaknya ke saluran air atau membakarnya sehingga mencemari lingkungan sekitarnya. Tempat sampah yang disediakan di rumah tangga dan lokasi komersial seperti pasar, tidak bertutup, sehingga menyebabkan sampah tercecer dan menjadi tempat berkembangbiaknya lalat serta menimbulkan bau. Selain itu pola penanganan sampah secara umum masih belum sebagaimana yang dipersyaratkan, sehingga timbul masalah pencemaran (Gambar 1).

Gambar 1. Kondisi Eksisting Pengelolaan Sampah Pemerintah menyadari bahwa permasalahan sampah telah menjadi permasalahan nasional. Perlu adanya sistem pengelolaan yang dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir. Selain itu bahwa dalam pengelolaan sampah diperlukan kepastian hukum, kejelasan tanggung jawab dan kewenangan Pemerintah, pemerintahan daerah, serta peran masyarakat dan dunia usaha sehingga perlu adanya Undang-Undang yang mengatur tentang pengelolaan sampah. Pada tahun 2008 disahkan UU no 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah yang bertujuan antara lain : a. Agar pengelolaan ini dapat memberikan manfaat secara ekonomi (sampah sebagai sumber daya), sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat; b. Agar mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh sampah terhadap kesehatan dan lingkungan; c. Agar pengelolaan sampah dapat berjalan secara proporsional, efektif, dan efisien. Kondisi pengelolaan persampahan di berbagai kota di Indonesia ditenggarai cenderung menurun, terlihat dari menurunnya tingkat pelayanan yang hanya 40% pada tahun 2000 (sebelumnya pernah mencapai 50%), walau secara perlahan meningkat kembali menjadi 56% pada 2006 (data BPS, 2006). Dalam kurun waktu tersebut juga terjadi berbagai kasus pencemaran lingkungan yang disebabkan karena pengelolaan sampah yang tidak sesuai dengan standar teknis.

Pengangkutan sampah dari sumber sampah (kawasan perumahan, perkantoran, komersial, industri, dan lain-lain) ke TPA merupakan cara konvensional yang sampai saat ini masih mendominasi pola penanganan sampah di Indonesia. Namun sesuai dengan Undang-Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Persampahan, paradigma pola pengelolaan sampah tidak lagi mengandalkan pola kumpul-angkut-buang, namun beralih ke pola pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak dari sumbernya, sehingga volume sampah yang dibuang ke TPA sudah sangat berkurang. Prasarana pengangkutan sampah dapat berupa gerobak/sepeda/motor sampah atau truk terbuka. Adanya perubahan paradigma penanganan sampah tersebut, maka diperlukan perubahan pola pengangkutan sampah baik untuk sampah tercampur maupun sampah terpilah. Kondisi operasional TPA yang sebagian besar dilakukan secara open dumping pada umumnya karena keterbatasan sumber daya manusia dan dana. Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 mengamanatkan bahwa mulai tahun 2013 tidak diperkenankan lagi operasi TPA secara open dumping. Untuk itu proses perencanaan memegang peranan penting dalam pelaksanaan pengelolaan persampahan. Keterlibatan dalam pengelolaan persampahan tidak hanya oleh pemangku kepentingan tetapi termasuk masyarakat dalam proses pengambilan keputusan. Untuk itu perlu dilakukan identifikasi sampah baik timbulan (berat atau volume) serta komposisinya. 2. Pengertian Sampah

Sejumlah literatur mendefinisikan sampah sebagai semua jenis limbah berbentuk padat yang berasal dari kegiatan manusia dan hewan, dan dibuang karena tidak bermanfaat atau tidak diinginkan lagi kehadirannya (Tchobanoglous, Theisen & Vigil, 1993). Sedangkan dalam PP No. 18/1999 jo PP No. 85/1999 tentang pengelolaan limbah berbahaya dan beracun, secara umum limbah didefinisikan sebagai bahan sisa pada suatu kegiatan dan/atau proses produksi. Definisi sampah mengalami pergeseran pada tahun-tahun terakhir ini karena aspek pembuangan tidak disebutkan secara jelas, dimana pada masa sekarang ada kecenderungan untuk tidak membuang sampah begitu saja, melainkan sedapat mungkin melakukan daur ulang. Hal ini tertuang pula dalam UU no 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Berdasarkan UU no 18 Tahun 2008 disebutkan definisi sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat.

3.

Pengelolaan Sampah

Pengelolaan sampah didefinisikan adalah semua kegiatan yang bersangkut paut dengan pengendalian timbulnya sampah, pengumpulan, transfer dan transportasi, pengolahan dan pemrosesan akhir/pembuangan sampah, dengan mempertimbangkan faktor kesehatan lingkungan, ekonomi, teknologi, konservasi, estetika, dan faktorfaktor lingkungan lainnya yang erat kaitannya dengan respons masyarakat. Menurut UU no 18 Tahun 2008 pengelolaan sampah didefinisikan sebagai kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Kegiatan pengurangan meliputi: a. pembatasan timbulan sampah; b. pendauran ulang sampah; dan/atau c. pemanfaatan kembali sampah. Sedangkan kegiatan penanganan meliputi : a. pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah, dan/atau sifat sampah; b. pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke tempat penampungan sementara (TPS) atau tempat pengolahan sampah 3R skala kawasan (TPS 3R), atau tempat pengolahan sampah terpadu; c. pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah 3R terpadu menuju ke tempat pemrosesan akhir (TPA) atau tempat pengolahan sampah terpadu (TPST); d. pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau e. pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman. 3.1. Prinsip Pengelolaan Sampah Paradigma lama penanganan sampah secara konvensional yang bertumpu pada proses pengumpulan, pengangkutan dan pembuangan akhir perlu diubah dengan mengedepankan terlebih dahulu proses pengurangan dan pemanfaatan sampah. Pengurangan dan pemanfaatan sampah secara signifikan dapat mengurangi kebutuhan pengelolaan sehingga sebaiknya dilakukan di semua tahap yang memungkinkan baik sejak di sumber, TPS, Instalasi Pengolahan, dan TPA. Dengan demikian diharapkan target pengurangan sampah sebesar 20% dapat terpenuhi. Pengurangan dan pemanfaatan sampah sejak disumbernya akan memberikan dampak positif, dalam hal ini peran serta masyarakat sangatlah penting.

Komposisi sampah dengan kandungan organik tinggi (60-80%) merupakan potensi sumber bahan baku kompos yang dapat melibatkan peran serta masyarakat. Daur ulang oleh sektor informal perlu diupayakan menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah perkotaan. Tempat Pemrosesan Akhir merupakan tahap terakhir penanganan sampah. Pemanfaatan TPA sebaiknya untuk jangka panjang (minimal 10 tahun). Insinerator merupakan pilihan teknologi terakhir untuk pengolahan sampah kota, mengingat karakteristik sampah di Indonesia yang masih mengandung organik yang cukup tinggi, biaya investasi dan operasi serta pemeliharaan yang mahal.

Pengelolan persampahan dapat terdiri dari 5 aspek seperti dalam Gambar 2 dibawah ini.

A S P E K T E K N IS O P E R A S IO N A L

ASPEK P E M B IAYA A N

PENG ELO LAAN L IM B A H PA D AT

ASPEK O R G A N IS A S I

ASPEK HUKUM DAN P E R AT U R A N

ASPEK P E R A N S E R TA M A S YA R A K AT

Gambar 2. Aspek-Aspek Pengelolaan Persampahan 3.2. Aspek Pengelolaan Sampah 3.2.1. Aspek Teknis Operasional Aspek Teknis Operasional dapat dibagi lagi atas 6 elemen fungsi (aspek) yaitu, penimbulan (waste generation), penanganan yang terdiri dari pemisahan, penyimpanan dan prosesing di tempat (waste handling, separation, storage and processing at the source), pengumpulan (collection), pemindahan dan pengangkutan (transfer and transport), pemisahan, prosesing dan transformasi (separation and processing and transformation), dan pemrosesan akhir (disposal). Pada Gambar 3 dapat dilihat hubungan antara aspek-aspek dalam penanganan sampah.

Penimbulan

Penanganan: pemisahan, penyimpanan dan prosesing di tempat

Pengumpulan

Transfer dan transport

Pemisahan, prosesing dan transformasi

Pemrosesan Akhir

Gambar 3. Faktor-Faktor dalam pengelolaan sampah (Sumber: Tchobanoglous et al., 1993) Penanggung jawab pengelolaan persampahan dilaksanakan oleh dinas-dinas terkait seperti Dinas Kebersihan. Pengelolaan oleh dinas-dinas terkait ini dimulai dari pengangkutan sampah sampai pemrosesan akhir sampah. Untuk sumber sampah dan pengumpulan di sumber sampah adalah menjadi tanggung jawab pengelola yaitu: 1) Swasta/developer dan atau; 2) Organisasi kemasyarakatan. 3) Sampah B3-rumah tangga ditangani khusus oleh lembaga tertentu Pola operasional dalam pengelolaan sampah ini secara konvensional dapat dilihat pada Gambar 4 berikut.

Gambar 4. Pola Operasional Penanganan Sampah Pola operasional pengelolaan sampah ini kemudian berkembang karena adanya konsep 3R (reduce, reuse dan recycle) yang diterapkan mulai dari sumber sampah. Pola pengelolaan ini dapat dilihat pada Gambar 5. Adanya program 3R diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah yang ditangani di TPS 3R maupun di TPST atau TPA, sehingga menurunkan beban pengolahan sampah pada skala kota maupun skala regional. Dalam menentukan strategi pengelolaan sampah diperlukan informasi mengenai komposisi, karakteristik dan laju penimbulan sampah. Misalnya, sampah yang didominasi oleh jenis sampah organik mudah membusuk memerlukan kegiatan pengumpulan dan pembuangan dengan frekuensi yang lebih tinggi dari sampah yang terdiri atas sampah yang tidak mudah membusuk, seperti kertas, plastik, daun dan sebagainya.

Gambar 5. Teknis Operasional Pengelolaan Sampah Gambar 5. Teknis Operasional Pengelolaan Sampah 3.2.1.1. Penimbulan A. Sumber Sampah Sumber sampah seperti telah dijelaskan dalam UU no 18 Tahun 2008 didefinisikan sebagai asal timbulan sampah. Sampah yang akan dikelola dibedakan atas :

a. b. c.

Sampah rumah tangga didefinisikan sebagai berasal dari kegiatan seharihari dalam rumah tangga, tidak termasuk tinja dan sampah spesifik. Sampah sejenis sampah rumah tangga sebagaimana dimaksud berasal dari kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas sosial,

fasilitas umum, dan/atau fasilitas lainnya.

Sampah spesifik sebagaimana dimaksud meliputi: sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun; sampah yang mengandung limbah bahan berbahaya dan beracun; sampah yang timbul akibat bencana; bongkaran bangunan; sampah yang secara teknologi belum dapat diolah; dan/atau sampah yang timbul secara tidak periodik.

Sampah rumah tangga bersumber dari aktifitas rumah/dapur serta aktifitas rumah tangga lainnya. Jenis atau tipe sampah yang dihasilkan terutama berupa sampah basah dan sampah kering dan debu. Sampah sejenis sampah rumah tangga bersumber dari pasar, pertokoan, restoran, perusahaan dan sebagainya. Sebagian besar kategori sampah ini berasal dari pasar dan kebanyakan berupa sampah organik. Ketegori sampah spesifik dikelola secara terpisah dengan jenis sampah yang lain karena mempunyai sifat spesifik yang harus ditangani secara khusus. Berdasarkan klasifikasi sumber-sumber sampah tersebut, dapat dikembangkan lagi jenis sumbersumber sampah yang lainnya sesuai dengan sumber sampah. Sebagai contoh misalnya, dari sampah pertanian, kandang hewan/pemotongan hewan, instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah dan lain-lain. A.1. Klasifikasi Sumber Sampah Prosentase timbulan sampah adalah 75% timbulan sampah berasal dari permukiman dan 25% dari non permukiman. Ada beberapa kategori sumber sampah yang dapat digunakan sebagai acuan, yaitu: - Sumber sampah yang berasal dari daerah perumahan - Sumber sampah yang berasal dari daerah komersial - Sumber sampah yang berasal dari fasilitas umum - Sumber sampah yang berasal dari fasilitas sosial Klasifikasi kategori sumber sampah tersebut pada dasarnya juga dapat menggambarkan klasifikasi tingkat perekonomian yang dapat digunakan untuk menilai tingkat kemampuan masyarakat dalam membayar retribusi sampah dan menentukan pola subsidi silang.

Daerah Perumahan (rumah tangga) Sumber sampah didaerah perumahan dibagi atas : - Perumahan masyarakat berpenghasilan tinggi (High income) - Perumahan masyarakat berpenghasilan menengah (Middle income) - Perumahan masyarakat berpenghasilan rendah/daerah kumuh (Low income/slum area) Daerah Komersial Daerah komersial umumnya didominasi oleh kawasan perniagaan, hiburan dan lainlain. Yang termasuk kategori komersial adalah pasar pertokoan hotel restauran bioskop salon kecantikan industri dan lain-lain. Fasilitas Umum Fasilitas umum merupakan sarana/prasarana perkotaan yang dipergunakan untuk kepentingan umum. Yang termasuk dalam kategori fasilitas umum ini adalah perkantoran, sekolah, rumah sakit, apotik, gedung olah raga, museum, taman, jalan, saluran/sungai dan lain-lain. Fasilitas Sosial Fasilitas sosial merupakan sarana prasarana perkotaan yang digunakan untuk kepentingan sosial atau bersifat sosial. Fasilitas sosial ini meliputi panti-panti sosial (rumah jompo, panti asuhan) dan tempat-tempat ibadah (mesjid, gereja pura, dan lain-lain). Sumber Lain Dari klasifikasi sumber-sumber sampah tersebut, dapat dikembangkan lagi jenis sumber-sumber sampah yang lain sesuai dengan kondisi kotanya atau peruntukan tata guna lahannya. Sebagai contoh sampah yang berasal dari tempat pemotongan hewan atau limbah pertanian ataupun buangan dari instalasi pengolahan air limbah (sludge), dengan catatan bahwa sampah atau limbah tersebut adalah bersifat padat dan bukan kategori sampah B3. B. Timbulan Sampah Ukuran timbulan sampah dapat didasarkan kepada berat dan volume. - Berdasarkan berat, satuan berat ton, kg Berdasarkan volume, satuan volume liter, m3

Satuan atau Unit Timbulan Limbah Padat Perumahan l/capita.day; kg/orang/hari Komersil l/capita.day; kg/orang.hari

10

Industri Pertanian Jalan

l waste/product.day l waste/ton of raw product l/panjang jalan

Metoda Pengukuran 1. Load-Count Analysis Didasarkan atas jumlah kendaraan pengangkutan yang masuk dilokasi Transfer Station atau Recycling Center atau TPA, bisa berdasarkan jumlah, volume dan berat. 2. WeightVolume Analysis, pengukuran langsung pada kendaraan pengangkut, bisa berdasarkan berat, atau volume. Faktor penting dalam menghitung laju timbulan sampah adalah jumlah penduduk. Oleh karena itu sebelum jumlah timbulan sampah dapat dihitung, terlebih dahulu dilakukan perhitungan terhadap proyeksi penduduk sampai pada tahun perencanaan. 1. Perkembangan Jumlah Penduduk Ada beberapa metoda proyeksi penduduk yang dapat digunakan, antara lain metoda least square, geometric dan eksponensial, di mana pemilihan metoda yang digunakan sangat tergantung kecenderungan pertumbuhan penduduk dan karakteristik kota perencanaan. Metoda tersebut adalah : 1. Metoda Aritmatik Metoda yang terutama digunakan untuk memproyeksikan penduduk pada suatu daerah dimana pertambahan penduduknya terjadi secara linier. Persamaan matematis yang digunakan adalah : Pn = Po + r ( dn ) dimana : Pn = Jumlah penduduk pada akhir tahun periode Po = Jumlah penduduk pada awal proyeksi r = Rata-rata pertambahan penduduk tiap tahun dn = Kurun waktu proyeksi 2. Metoda Geometric Metoda yang digunakan untuk memproyeksikan penduduk pada suatu daerah dimana pertambahan penduduknya terjadi secara eksponensial. Persamaan matematis yang digunakan adalah : Pn = Po ( 1+ r )dn dimana : Pn = Jumlah penduduk pada akhir tahun periode

11

Po = Jumlah penduduk pada awal proyeksi r = Rata-rata pertambahan penduduk tiap tahun dn = Kurun waktu proyeksi 3. Metoda Least Square Rumus yang digunakan adalah : Pn = a + ( b . t ) dimana : t = Tambahan tahun terhitung dari tahun dasar

n px x p n x 2 x
2

Penentukan metoda yang dipakai untuk proyeksi penduduk, terlebih dahulu kita mencari nilai korelasi (r) untuk tiap-tiap metoda. Pada metoda yang mempunyai nilai korelasi paling mendekati nilai 1, itulah yang akan dipakai. Rumus nilai korelasi (r) adalah sebagai berikut :

n(XY ) (Y)( X) 2 2 2 2 {n(Y ) (Y) }{ n(X ) (X)

2. Survey Pengambilan Contoh Sampah di Sumber Sampah Guna menentukan timbulan sampah yang dihasilkan dari suatu permukiman perlu dilakukan suvey pengambilan contoh sampah langsung di sumber sampah. Pengambilan ini untuk mengetahui rata-rata berapa timbulan sampah yang dihasilkan L/orang/hari atau kg/orang/hari. Pelaksanaan survey dan pengambilan contoh berdasarkan SNI M-36-1991-03 Tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan. Penentuan jumlah sampel kepala keluarga (KK) yang representatif mewakili suatu wilayah pemukiman di tentukan berdasarkan persamaan berikut : Jumlah contoh jiwa atau sampel: S = Cd Ps dimana: S = Jumlah contoh (jiwa) Cd = Koefisien perumahan Cd = 1 (Kota besar / metropolitan) Cd = 0,5( Kota sedang / kecil ) Ps = Populasi (jiwa) Jumlah KK yang diamati (1)

12

K =S/N dimana: K = Jumlah contoh (KK) N = Jumlah jiwa per keluarga = 5

(2)

Laju timbulan sampah juga ditentukan oleh klasifikasi pemukiman. Berdasarkan SNI M-36-1991-03 Tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan pemukiman di klasifikasikan atas permukiman permanen, non-permanen dan semipermanen. Jumlah contoh timbulan sampah dari perumahan adalah sebagai berikut : Contoh dari perumahan permanen = (S1 x K) keluarga. Contoh dari perumahan semi permanen = (S2 x K) keluarga. Contoh dari perumahan non permanen = (S3 x K) keluarga. dimana : S1 = Proporsi jumlah KK perumahan permanen dalam (25%) S2 = Proporsi jumlah KK perumahan semi permanen dalam (30%) S3 = Proporsi jumlah KK perumahan non permanen dalam (45%) S = Jumlah contoh jiwa N = Jumlah jiwa per keluarga K = S / N = jumlah KK Klasifikasi pemukiman dilakukan dengan mengumpulkan data sekunder, misalnya kelas jalan, kondisi sosial ekonomi maupun dari keteraturan tata letak bangunannya. Klasifikasi jalan disesuaikan dengan kelas jalan yang berlaku, misalnya jalan arteri, sekunder ataupun lokal. Klasifikasi kondisi sosial ekonomi dapat dibagi sesuai dengan sensus ekonomi yang menunjukkan daerah atas, menengah dan bawah. Klasifikasi tata letak bangunan dibagi menjadi pemukiman teratur dan pemukiman tidak teratur. Klasifikasi pemukiman ini sangat erat kaitannya dengan pengelolaan sampah, karena menyangkut aspek teknis, misalnya jumlah timbulan sampah, sistem pewadahan, pengumpulan dan pengangkutan sampah dan aspek pembiayaan/retribusi. Setelah diketahui jumlah sampel KK yang harus diambil, selama 7 hari berturutturut dilaksanakan pengambilan contoh sampah. Setiap KK diberikan kantong plastic dan diminta untuk memasukkan sampah yang dihasilkan setiap hari ke kantong plastik tersebut dan dilakukan penimbangan sampah setiap harinya sehingga diketahui rata-rata jumlah sampah yang dihasilkan L/orang/hari atau Kg/orang/hari. 3. Penentuan Densitas Sampah Densitas sampah adalah berat sampah yang diukur dalam satuan kilogram dibandingkan dengan volume sampah yang diukur tersebut (kg/m3). Densitas sampah sangat penting dalam menentukan jumlah timbulan sampah. Di samping itu juga penting untuk menentukan luas lahan TPA yang diperlukan.

13

Penentuan densitas sampah ini berdasarkan SNI M-36-1991-03 dilakukan dengan cara menimbang sampah yang disampling dalam 1/5 - 1 m3 volume sampah. Sebuah kotak disiapkan dengan ukuran 20 x 20 cm dan kedalaman 100 cm. Sampah dimasukkan dalam wadah dan dilakukan penimbangan berat serta dilakukan pengetrokkan sebanyak 3 kali kemudian dihitung volume sampah. Berdasarkan hasil ini diketahui berapa besar densitas sampah kg/m3. Densitas ini sangat tergantung sampel sampah yang diukur, apakah sampah lepas dari sumber sampah, sampah di gerobak yang mungkin telah mengalami sedikit pemadatan ataupun sampah di truck compactor yang memang telah dilakukan pemadatan terhadap sampah. B.1. Faktor Penting Menentukan Jumlah Timbulan Sampah Jumlah timbulan sampah perlu diketahui, agar pengelolaan persampahan dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien. Jumlah timbulan sampah ini akan berhubungan dengan elemen-elemen pengelolaan sampah antara lain: - pemilihan peralatan, misalnya wadah, alat pengumpulan dan pengangkutan - perencanaan rute pengangkutan - fasilitas untuk daur ulang - luas dan jenis TPA Banyaknya timbulan sampah di dalam suatu kota dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: a. reduksi di sumber sampah, sangat mempengaruhi jumlah timbulan sampah di suatu kota. Adanya peningkatan reduksi timbulan sampah pada sumber sampah akan menurunkan laju timbulan sampah secara signifikan. Beberapa aktivitas yang ternasuk dalam reduksi sampah seperti : - mengurangi bungkus/packaging - produk lebih tahan lama (dpt digunakan lagi) - mengganti bahan sekali pakai (popok, tempat makanan, piring dll) - sesedikit mungkin menggunakan bahan-bahan/sumber daya alam - tingkatkan bahan yang dapat direcycle atau reused b. recycling, bagian dari upaya mereduksi jumlah sampah. Merupakan metoda yang dapat merubah sampah mempunyai nilai ekonomis. c. kebiasaan masyarakat mempengaruhi penanganan sampah mulai dari sumber sampah. Jika masyarakat mempunyai kebiasaan mengelola sampah dengan baik maka laju timbulan sampah di suatu kota dapat ditekan atau diturunkan. d. Peraturan, terkait dengan kebijakan pemerintah misalkan peraturan untuk mengurangi penggunaan kemasan yang tidak ramah lingkungan. e. Kondisi fisik dan geografi (musim, iklim, dataran tinggi)

14

B.2. Metoda Pengukuran Jumlah Timbulan Sampah Pengukuran jumlah timbulan sampah dapat dilakukan dengan pengukuran berat atau volume sampah atau kedua-duanya. - Pengukuran berat sangat tergantung pada densitas sampah - Volume sampah juga sangat dipengaruhi oleh densitas sampah - Pengukuran berat dan volume sampah. Beberapa metoda yang dapat digunakan untuk mengukur jumlah timbulan sampah, diuraikan sebagai berikut ini. 1) Load-count analysis/Analisis penghitungan beban Jumlah masing-masing volume sampah yang masuk ke TPA dihitung dengan mencatat : volume, berat, jenis angkutan dan sumber sampah, kemudian dihitung jumlah timbulan sampah kota selama perioda tertentu. 2) Weight-volume analysis/Analisis berat-volume Jumlah masing-masing volume sampah yang masuk ke TPA dihitung dengan mencatat : volume dan berat sampah, kemudian dihitung jumlah timbulan sampah kota selama perioda tertentu. 3) Material-balance analysis/Analisis kesetimbangan bahan Material balance lebih baik menghasilkan data untuk sampah rumah tangga, institusi, industri dan material balance juga diperlukan untuk program daur ulang. Berikut ini adalah diagram yang dibuat untuk menghitung jumlah timbulan sampah dari suatu sistem yang telah ditentukan. outflow gas pembakaran dan debu inflow (bahan) Penyimpanan bahan-bahan (bahan baku, produk dan sampah) outflow outflow (produk)

outflow (sampah dan air limbah) Gambar 6. Aliran Kesetimbangan Bahan Cara Menganalisis: Pertama : tentukan batas system (system boundary) kedua : identifikasi seluruh kegiatan di dalam system yang akan menghasilkan sampah

15

ketiga keempat Formula :

: identifikasi jumlah timbulan sampah dari masing-masing aktifitas tersebut : dengan hubungan matematik, tentukan timbulan sampah, pengumpulan dan tersimpan

jumlah timbulan sampah dlm sistem

laju masuk bahan ke dalam sistem

laju masuk bahan ke luar sistem

timbulan / tertahan di dalam sistem

Akumulasi = inflow outflow + timbulan/penimbunan dM/dt = Min Mout + rw Di mana: dM/dt

Min Mout rw t

= = = = =

laju perubahan berat bahan dalam system (lb/d) jumlah bahan yang masuk ke dalam system (lb/d) jumlah bahan yang keluar dari system (lb/d) laju timbulan sampah (lb/d) waktu (d)

Catatan

: Pada proses Komposting rw menjadi negatif

Metoda lain yang dapat sering digunakan untuk menentukan laju timbulan sampah adalah berdasarkan proyeksi penduduk dan penetapan kriteria besar timbulan sampah. Sebagai pedoman, dari hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan, Departemen PU menetapkan kriteria besar timbulan sampah berdasarkan sumber sampah dan karakteristik kota, seperti yang dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2. Tabel 1. Besaran Timbulan Sampah Berdasarkan Komponen-komponen Sumber Sampah Komponen Sumber Volume Berat No Satuan Sampah (Liter) (Kg) 1 Rumah Permanen per orang/hari 2,25 2,50 0,350 0,400 2 Rumah Semi Permanen per orang/hari 2,00 2,25 0,300 0,350 3 Rumah non permanen per orang/hari 1,75 2,00 0,250 0,300 4 Kantor Per pegawai/hari 0,50 0,75 0,025 0,100 5 Toko/Ruko. Per petugas/hari 2,50 3,00 0,150 0,350 6 Sekolah per murid/hari 0,10 0,15 0,010 0,020 7 Jalan arteri sekunder per meter/hari 0,10 0,15 0,020 0,100

16

8 9 10

Sumber : Standar Spesifikasi Timbulan sampah untuk kota kecil & sedang di Indonesia, Dept. PU, LPMB, Bandung, 1993.
Tabel 2. Besaran Timbulan Sampah Berdasarkan Klasifikasi Kota Volume Berat Klasifikasi Kota (L/Orang/Hari) (Kg/Orang/Hari) Kota Besar 2,75 3,25 0,70 0,80 (500.000-1.000.000 jiwa) Kota Sedang 2,75 3,25 0,70 0,80 (100.000 500.000 jiwa) Kota Kecil 2,50 2,75 0,625 0,70 (20.000 100.000 jiwa)

Jalan sekunder Jalan lokal Pasar

kolektor per meter/hari per meter/hari per meter2/hari

0,10 0,15 0,05 0,1 0,20 0,60

0,010 0,050 0,005 0,025 0,1 0,3

No. 1 2 3

B.3. Contoh-Contoh Perhitungan Laju Timbulan Sampah 1. Loud Count Analysis Tentukan berat sampah yang dihasilkan per minggu dari 1200 rumah. Dengan sistem pengumpulan sebagai berikut : - Truk compactor ada 9 buah. - Volume truk compactor : 20 m3 - Jumlah dump truk adalah : 7 buah. - Volume truk : 8 m3 - Jumlah pick-up adalah : 10 - Ukuran pick-up : 2 m3 Jawab : tentukan jumlah sampah yang dihasilkan tiap rumah/minggu - Truk kompaktor : 9 x 20 m3 = 180 m3 - Dump truk : 7 x 8 m3 = 56 m3 - Pick up : 10 x 2 m3 = 20 m3 - Total sampah : 256 m3/minggu - Volume sampah yang dihasilkan setiap rumah : 256 m3/1200 rumah - = 0,2133 m3/rumah/minggu 2. Mass Balance Tentukan berat sampah yang dibuang ke TPA dan berat sampah yang dapat dimanfaatkan dari sampah kota dengan berat 1000 ton/hari, dengan

17

karakteristik 60% sampah organik, 10% sampah kertas, 10% plastik, 5% kaleng, 5% tekstil, logam 5% dan lain-lain 5%. Pemanfaatan sampah organik hanya 50% sebagai kompos sedangkan sisanya adalah residu yang akan dibuang ke TPA. Kertas dan plastik hanya dapat dimanfaatkan masingmasing 8%, sedangkan kaleng dan logam dapat dimanfaatkan semuanya. Tekstil hanya dapat dimanfaatkan 5%. Selain sampah domestik, ada sampah industri yang juga dibuang ke TPA sebesar 0,8 ton/hari dan 70% dari sampah tersebut dapat dimanfaatkan. Jawab : Sampah 1000 ton 600 100 100 50 50 50 50 0,8 1000,8 Organik kertas plastik kaleng tekstil logam lain-lain Sub total ton (industri) 610 0,56 610,56 Dimanfaatkan (ton/hari) 300 80 80 50 50 50 50 390 0,24 390,24 Dibuang ke TPA (ton/hari) 300 20 20

Dengan demikian berat sampah yang dimanfaatkan adalah 610,56 ton/hari dan berat sampah yang dibuang ke TPA adalah 390,24 ton/hari. 3. Perhitungan Jumlah Timbulan Sampah per Kapita Pengamatan dilakukan selama seminggu di salah satu lokasi TPS yang diketahui dengan jelas sumber sampah yang membuang sampahnya ke sana. Data yang diperoleh, jumlah kk yang membuang sampah 1200 rumah. Jumlah jiwa/kk = 5 orang. Jumlah sampah yang masuk ke TPS 35.000 kg. Maka laju timbulan sampahnya adalah: Jawab :

18

Laju = (35.000 kg/minggu)/(1200 x 5)(7 hari/minggu) = 0,83 kg/orang/hari C. Komposisi Sampah Komposisi sampah sangat menentukan sistem penanganan yang dapat dilakuan terhadap sampah. Komposisi menentukan jenis dan kapasitas peralatan, sistem, dan program penanganannya. Komposisi sampah adalah setiap komponen sampah yang membentuk suatu kesatuan, dalam prosentase (%). Komposisi sampah berbeda-beda berdasarkan sumber sampah, karakteristik perilaku masyarakat serta kondisi ekonomi yang berbeda dan proses penanganan sampah di sumber sampah. Pada tabel 3 dapat dilihat komposisi sampah berdasarkan sumber sampah dan komposisi sampah dari masing-masing sumbernya. Tabel 3. Beberapa contoh sumber dan komposisi sampah No. 1. Sumber sampah Kantor Komposisi sampah

2.

Rumah sakit

2. 3. 4. 5. 6.

Pasar Rumah makan Lapangan olah-raga Lapangan terbuka Jalan & lapangan parkir Rumah tangga

Kertas Karton Plastik kertas kapas bekas plastik (pembungkus spuit, spuit bekas) kaca (botol obat, pecahan kaca) sampah organik mudah membusuk plastik kertas / karton sampah makanan kertas pembungkus kertas plastik ranting/daun kering kertas plastik

cartridge printer bekas sampah makanan logam (jarum spuit) perban bekas potongan jaringan
tubuh sisa-sisa obat sampah makanan kayu pengemas karet kain plastik pembungkus sampah makanan potongan rumput potongan rumput daun kering

7.

sampah makanan kertas / karton plastik

logam kain daun, ranting 19

8.

Pembangunan gedung

Selain itu, komposisi sampah akan berbeda untuk setiap kota atau negara, tergantung kondisi ekonomi suatu kota atau negara yang bersangkutan. Pada umumnya makin tinggi tingkat perekonomian suatu kota atau Negara, komposisi organik akan makin menurun dan komposisi non organik (kertas, plastik) akan meningkat. Tabel 4 memperlihatkan perbandingan komposisi sampah beberapa negara tersebut, sedangkan Tabel 5 merupakan komposisi sampah yang dihasilkan di Kecamatan Sukmajaya Depok. Tabel 4. Perbandingan Komposisi Sampah Beberapa Negara No 1 2 3 4 5 6 7 N 1 2 3 4 Negara Thailand Vietnam Malaysia Indonesia Timbulan (kg/cap) 0.65 0.7 0.76 0.6 0.42 0.72 1.12 1.97 Organik (%) 46 55 48 60 75 25.4 11.7 12 Kertas (%) 20 30 2 2 28.7 38.5 43 Plastik (%) 21 9.8 2 1 4.6 11.9 5

pecahan bata pecahan beton pecahan genting

kayu kertas plastik

5 Asia (rata-rata) 6 7 8 Eropa Japan USA

8 Sumber : B.G. Yeoh, Municipal Solid Waste Generation and Composition, Asean Committee On Science & Technology, Sub Committee On Non Conventional Energy Research, 2006

20

Tabel 5. Contoh Komposisi Sampah di Kecamatan Sukmajaya Depok Solid Waste Content Organic >50mm 10-50mm <10mm Inorganic Plastic Paper Textile Glass Metal Rubber Dirt/silt Hazardous Waste Total 75.98% 31.79% 37.87% 6.32% 24.02% 13.43% 6.66% 1.41% 1.58% 0.77% 0.16% 0.00% 0.00% 100.00% 48.77% 15.32% 17.22% 6.66% 3.69% 5.89% 0.00% 0.00% 0.00% 100.00% Mekarjaya Subdistrict (% Weight) Abadijaya Subdistrict (% Weight) 51.23% Kalibaru Subdistrict (% Weight) 68.11% 24.82% 33.80% 9.49% 31.89% 17.06% 8.64% 1.50% 2.51% 1.86% 0.20% 0.00% 0.13% 100.00%

Sumber : Peneliti PSTL-DTS-FTUI, 2007 Komposisi juga akan mempengaruhi pola penanganan sampah terutama penanganan pada sumber sampah. Sebagai contoh jika sampah mengandung banyak bahan organik pada pengelolaan pada sumber sampah akan lebih mudah jika dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik serta adanya proses pengomposan yang sederhana. Metoda atau cara pengambilan contoh sampah untuk mengetahui komposisi sampah tercantum pada SNI M-36-1991-03 Tentang Metode Pengambilan dan Pengukuran Contoh Timbulan dan Komposisi Sampah Perkotaan. Pengambilan contoh sampah sangat mempengaruhi penentuan komposisi fisik sampah. Pengamatan dilakukan paling tidak selama satu minggu berturut turut di lokasi sumber sampah.

21

1.

Pengambilan contoh sampah langsung di rumah tangga Sampah langsung diambil dari beberapa lokasi sampling di rumah tangga. Sebanyak 100 kg sampah kemudian dipisahkan berdasarkan jenis sampah seperti plastik, sampah organik , karet dll. Masing - masing komponen ditimbang beratnya dan komposisi sampah ditentukan berdasarkan rumus berikut :

Beratkompo nensampah x100 % 100 kg


2.

(%) Persentase komposisi sampah

Pengambilan contoh sampah di tempat pembuangan sampah sementara Pengambilan contoh sampah ditentukan berdasarkan area pelayanan dari TPS dan pengetahuan mengenai kondisi di lingkungan sekitar area pelayanan. Sebanyak 100 kg sampah diambil dari alat pengumpul sampah kemudian dibagi sedimikian rupa sehingga homogen. Kemudian dengan cara yang sama ditentukan berdasarkan penentuan komposisi sampah langsung dari rumah tangga.

D. Karakteristik Sampah Karakteristik sampah secara umum dibedakan atas : 1. Karakteristik fisik 2. Karakteristik kimiawi 3. Karakteristik biologi Karakteristik sampah sangat menentukan metoda pengolahan yang akan digunakan. Terutama komposisi berdasarkan karakteristik kimiawi sangat menentukan reaksi komponen unsur pembentuk sampah seperti kandungan unsur Carbon (C), Nitrogen (N), Hidrogen (H) dan Oksigen (O). Kandungan unsur ini sangat menentukan kelayakan metoda pengolahan sampah yang akan dibahas pada Bab lain di dalam modul pelatihan ini.

Karakteristik Fisik , terdiri atas :


1.

2.

Kandungan kadar air, penentuan berapa kandungan kadar air dalam sampah dengan menggunakan metoda gravimetri. Persamaan matematik yang digunakan adalah : M = {(w-d)/w}x100% dimana: w= jumlah berat sampel, kg d = berat sampel setelah dikeringkan 1050 C, kg Spesific Weight / Berat Jenis (berat/volume; kg/liter, lb/ft3)

22

3. 4. 5.

Ukuran partikel dan distribusi partikel Field Capacity, didefinisikan sebagai jumlah total air yang dapat ditahan oleh sampah secara gravitasi Permeabilitas sampah, sangat penting untuk mengetahui pergerakan cairan dan gas dalam landfill.

Karakteristik Kimiawi, terdiri atas : 1. Proximate Analysis


2.

Analisis terhadap kelembaban sampah, kandungan volatile di dalam sampah, fixed carbon, dan ash di dalam sampah.

Fusing point of ash

3. Ultimate Analysis Analisis terhadap unsur-unsur kimia penyusun sampah. Sampah mengandung komponen Carbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Sulfur, dan Ash. Analisis ini sangat menentukan sistem pengolahan sampah yang efektif digunakan untuk memusnahkan sampah. 4. Energy content (Btu/lb) Analisis kandungan energi dalam sampah. Sampah mengandung unsur karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Beberapa jenis sampah yang mempunyai nilai kalor tinggi seperti kayu, serbuk gergaji dan lainnya dapat digunakan sebagai sumber energi. Bomb calorimeter dapat digunakan untuk menentukan nilai kalor dari masing-masing komponen sampah.

Temperatur dimana bisa terbakar sbg abu (clinker) suhu diatas 1000oC

Karakteristik Biologi, terdiri atas : 1. Biodegradability adalah kemampuan sampah untuk diuraikan dengan
memanfaatkan aktivitas mikroorganisme. Ditentukan dengan persamaan : BF = 0.83 0.028 LC dimana : BF = Biodegradable Fraction (fraksi bahan organik yang mudah terurai) LC = Lignin Content (kandungan lignin) Semakin tinggi dari nilai BF, maka mikroorganisme meningkat (Tabel 6). kemampuan diuraikan oleh

23

Tabel 6. Bio degradability Komponen Sampah makanan Kertas Koran Kertas tulis Karton % VS 7-15 94.0 96.0 94.0 LC (%VS) 0.4 21.9 0.4 12.9 BF 0.82 0.22 0.82 0.72

Sampah kebun 50-90 4.1 0.72 Ket : VS = Volatile Solid; LC = Lignin Content; BF = Biodegradable Fraction Produksi bau pada proses penguraian sampah oleh mikoorganisme. Bau timbul akibat pembentukan asam-asam organik rantai pendek, merkaptan, dan H2S. E. Sampah Rumah Tangga B3 Aktivitas di rumah tangga juga menghasilkan sampah yang berkategori sebagai B3 (bahan beracun dan berbahaya). Di berbagai kota besar dan metropolitan, sampah B3 yang dihasilkan dari pemukiman rata-rata berkisar antara 2% sampai dengan 5% dari total komposisi sampah. Sampah B3 ini tidak mempunyai penanganan secara khusus dan sering dicampurkan dengan sampah yang berkategori non-B3. Kondisi ini menimbulkan dampak negatif terutama menyebabkan sampah yang semula berkategori non-B3 akan menjadi B3 dan menyebabkan pengelolaan di TPA semakin sulit. Tingkat pencemaran akan semakin meningkat. Sampah domestik B3 menurut SNI 3242-2008 tentang Pengelolaan Sampah Pemukiman mendefinisikan sebagai sampah yang berasal dari aktivitas rumah tangga, mengandung bahan dan atau bekas kemasan suatu jenis bahan berbahaya dan atau beracun, karena sifat atau konsentarsinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup dan atau membahayakan kesehatan manusia. Sampah ini berbahaya karena mempunyai karakteristik : Mudah meledak, limbah yang pada tekanan dan suhu standar dapat meledak. Contoh sampah di rumah tangga misalkan sisa bensin, pelarut, thinner dan aerosol. Mudah terbakar, material padat, cair, uap, atau gas yang menyala dengan mudah dan terbakar secara cepat bila dipaparkan atau terpapar pada sumber nyala. Contoh sampah di rumah tangga adalah pelarut, etanol, lighter liquid. Bersifat reaktif, merupakan limbah yang pada keadaan normal tidak stabil dan dapat menyebabkan perubahan tanpa peledakan dan limbah yang dapat bereaksi hebat dengan air.

24

Beracun, yaitu Limbah yang mengandung pencemar yang bersifat racun bagi manusia atau lingkungan yang dapat menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, kulit atau mulut. Beberapa contoh sampah B3 di rumah tangga yaitu pengelantang (produk pembersih); shampo (anti ketombe); penghilang cat kuku; kosmetika; obat-obatan; cairan anti beku (produk otomotif); bensin, minyak tanah; cat; baterei; lampu neon, khlorin kolam renang; biosida anti insek; herbisida, pupuk dan lain-lain; Bersifat korosif, yaitu limbah yang menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit dan limbah yang mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk limbah bersifat asam atau lebih besar dari 12,5 untuk yang bersifat basa. Contoh sampah jenis ini di rumah tangga adalah yang mengandung asam sulfat, asam klorida dan lain-lain. Menyebabkan infeksius, yaitu limbah yang mengandung mikroorganisme patogen yang dilihat dari konsentrasi dan kuantitasnya bila terpapar dengan manusia akan dapat menimbulkan penyakit. Contohnya obat-obatan kedaluarsa, pembungkus atau kemasan produk farmasi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh US EPA pada tahun 2001, komposisi sampah B3 di rumah tangga adalah sebagai berikut (Gambar 7). Sampah terbesar adalah dari aktivitas pemeliharaan dan pembersihan di rumah tangga seperti pelarut, thinner dan lem. Sampah lain adalah baterai, sampah ini dihasilkan dalam jumlah cukup besar di rumah tangga karena penggunaanya juga cukup banyak dalam aktivitas sehari-hari.

4% 3% 3% 11% 36%
Household maintenance (paint, thiner, etc) Batteries personal care product (nail polish etc) Cleaner Automotive maintenance Pool chemical

12%

12%

19%

Pharmaceuticals Other

Gambar 7. Komposisi Sampah B3 rumah tangga (US EPA, 2001)

25

Sampai saat ini belum ada pengelolaan sampah khusus B3 dari rumah tangga ini. Upaya sosialisasi ke masyarakat harus dilakukan agar masyarakat mau memisahkan sampah B3 di rumah tangga dan meletakkan pada tempat wadah sampah yang berbeda. Begitupula dengan sarana pengumpul dan pengangkut sampah harus memisahkan sampah B3 ini dari sampah non-B3. Pengolahan dilakukan secara khusus dibawah lembaga tertentu. Peraturan Pemerintah No. 85/1999 jo PP No.18 1999 mengenai Pengelolaan Limbah B3 mewajibkan pengelolaan limbah B3 mulai dari penghasil sampai dengan pengolah limbah B3. Penghasil dalam hal ini sumber sampah mempunyai kewajiban sebagai berikut : 1. Wajib mengolah limbah B3. 2. Wajib menyimpan limbah B3 sebelum dikirim ke Pengolah dengan waktu penyimpanan paling lama 90 hari. 3. Menyediakan tempat penyimpanan limbah B3 sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Bapedal. 4. Melakukan analisa limbah B3 dan mempunyai catatan jenis dan jumlah limbah B3 yang dihasilkan. 5. Melakukan pelaporan mengenai pengelolaan limbah B3 sekurang-kurangnya setiap 6 bulan sekali kepada Bapedal. 6. Memberikan label pada kemasan limbah B3. 7. Mengisi dokumen limbah B3 sebelum diangkut ke Pengumpul/Pengolah. 8. Membantu pengawas/Bapedal dalam melaksanakan pengawasan. 9. Harus mempunyai sistem tanggap darurat dan melaksanakannya bila terjadi keadaan darurat. Namun kewajiban ini lebih banyak diarahkan pada pengolahan sampah B3 dari industri. Melihat fenomena sampah B3 juga dihasilkan di rumah tangga, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan sampah B3 ini. Cara sederhana yang dapat dilakukan adalah pemisahan sampah B3 ini mulai dari sumber sampah sampai ditangani oleh lembaga tertentu. Sebelum ada penanganan sampah B3 rumah tangga secara khusus, maka perlu dilakukan penampungan sementara (temporary storage) sampah b3 rumah tangga di lokasi khusus (TPA) secara aman sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. 3.2.1.2. Penanganan: Pemisahan, Penyimpanan dan Prosesing di Tempat Wadah sampah individual (disumber) disediakan oleh setiap penghasil sampah sendiri sedangkan wadah komunal dan pejalan kaki disediakan oleh pengelola dan atau swasta. spesifikasi wadah sedemikian rupa sehingga memudahkan operasionalnya, tidak permanen dan higienis. Akan lebih baik apabila ada pemisahan wadah untuk sampah basah dan sampah kering.

26

Pengosongan sampah dari wadah individual dilakukan paling lama 2 hari sekali sedangkan untuk wadah komunal harus dilakukan setiap hari.

3.2.1.3. Pengumpulan - Pengumpulan sampah dari sumber dapat dilakukan secara langsung dengan alat angkut (untuk sumber sampah besar atau daerah yang memiliki kemiringan lahan cukup tinggi) atau tidak langsung dengan menggunakan gerobak (untuk daerah teratur) dan secara komunal oleh mayarakat sendiri (untuk daerah tidak teratur). - Penyapuan jalan diperlukan pada daerah pusat kota seperti ruas jalan protokol, pusat perdagangan, taman kota dan lain-lain. 3.2.1.4. Transfer dan Transport Pemindahan - Pemindahan sampah dari alat pengumpul (gerobak) ke alat angkut (truk) dilakukan di trasnfer depo atau container untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan. - Lokasi pemindahan harus dekat dengan daerah pelayanan atau radius 500 m. - Pemindahan skala kota ke stasiun transfer diperlukan bila jarak ke lokasi TPA lebih besar dari 25 km. Pengangkutan - Pengangkutan secara langsung dari setiap sumber harus dibatasi pada daerah pelayanan yang tidak memungkinkan cara operasi lainnya atau pada daerah pelayanan tertentu berdasarkan pertimbangan keamanan maupun estetika dengan memperhitungkan besarnya biaya operasi yang harus dibayar oleh pengguna jasa. - Penetapan rute pengangkutan sampah harus didasarkan pada hasil survey time motion study untuk mendapatkan jalur yang paling efisien. - Jenis truk yang digunakan minimal dump truck yang memiliki kemampuan membongkar muatan secara hidrolis, efisien dan cepat. - Penggunaan arm roll truck dan compactor truck harus mempertimbangkan kemampuan pemeliharaan.

27

3.2.1.5. Pemisahan, Prosesing dan Transformasi - Pengolahan sampah dimaksudkan untuk mengurangi volume sampah yang harus dibuang ke TPA serta meningkatkan efisiensi penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan. - Teknologi pengolahan sampah dapat dilakukan melalui pembuatan kompos, pembakaran sampah secara aman (bebas COx, SOx, NOx dan dioxin), pemanfaatan gas metan dan daur ulang sampah. Khusus pemanfaatana gas metan TPA (landfill gas), dapat masuk dalam CDM (clean developmant mechanism) karena secara significan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca yang berpengaruh pada iklim global. - Skala pengolahan sampah mulai dari individual, komunal (kawasan), skala kota dan skala regional. - Penerapan teknologi pengolahan harus memperhatikan aspek lingkungan, dana, SDM dan kemudahan operasional. 3.2.1.6. Pemrosesan Akhir - Pemilihan lokasi TPA harus mengacu pada SNI 03-3241-1994 tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi TPA. Agar keberadaan TPA tidak mencemari lingkungan, maka jarak TPA ke badan air penerima > 100m, ke perumahan terdekat > 500 m, ke airport 1500 m (untuk pesawat propeler) dan 3000 m (untuk pesawat jet). Selain itu muka air tanah harus > 4 m, jenis tanah lempung dengan nilai K < 10-6 cm/det. - Metode pembuangan akhir minimal harus dilakukan dengan controlled landfill (untuk kota sedang dan kecil) dan sanitary landfill (untuk kota besar dan metropolitan) dengan sistem sel. - Prasarana dasar minimal yang harus disediakan adalah jalan masuk, drainase keliling dan pagar pengaman (dapat berfungsi sebagai buffer zone). - Fasilitas perlindungan lingkungan yang harus disediakan meliputi lapisan dasar kedap air, jaringan pengumpul leachate, pengolahan leachate dan ventilasi gas / flaring atau landfill gas extraction untuk mngurangi emisi gas. - Fasilitas operasional yang harus disediakan berupa alat berat (buldozer, excavator, loader dan atau landfill compactor) dan stok tanah penutup. - Penutupan tanah harus dilakukan secara harian atau minimal secara berkala dengan ketebalan 20 - 30 cm. - Penyemprotan insektisida harus dilakukan apabila penutupan sampah tidak dapat dilakukan secara harian.

28

Penutupan tanah akhir harus dilakukan sesuai dengan peruntukan lahan bekas TPA. Kegiatan pemantauan lingkungan harus tetap dilakukan meskipun TPA telah ditutup terutama untuk gas dan efluen leachate, karena proses dekomposisi sampah menjadi gas dan leahate masih terus terjadi sampai 25 tahun setelah penutupan TPA. Manajemen pengelolaan TPA perlu dikendalikan secara cermat dan membutuhkan tenaga terdidik yang memadai. Lahan bekas TPA direkomendasikan untuk digunakan sebagai lahan untuk berbagai keperluan seperti taman, lapangan olahraga, dan lain-lain.

3.2.2. Aspek Kelembagaan Beberapa kondisi yang ada yang berkaitan dengan aspek kelembagan/institusi adalah : - Sebagian besar institusi pengelola adalah berbentuk Dinas, Suku Dinas, Seksi, Sub Seksi dimana belum ada pemisahan antara operator dan regulator; - Struktur organisasi yang ada belum ditunjang dengan kapasitas (jumlah dan kualitas SDM) yang memadai sesuai dengan kewenangannya; - Tata laksana kerja belum jelas antara bagian administrasi dan pelaksana teknis lapangan, termasuk kewenangan penarikan retribusi serta pengalokasian anggaran untuk pendanaan investasi; - Kurangnya koordinasi dan kerjasama antara instansi terkait yang ada di lapangan. Kelembagaan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah kelembagaan yang sesuai dengan amanat PP 38/2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, PP 41/2007 tentang Pemerintahan Daerah, PP 23/2004 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, serta Permendagri 61/2009 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah. Perangkat peraturan tersebut di atas digunakan sebagai dasar untuk meningkatkan kelembagaan pengelolaan sampah, antara lain : - Memisahkan regulator dan operator pengelola sampah, misalnya membentuk UPTD atau kerjasama dengan swasta sebagai operator; - Peningkatan kualitas SDM melalui training dan rekruitmen SDM untuk jangka panjang sesuai dengan kualifikasi bidang keahlian persampahan/manajemen karena struktur organisasi mencerminkan tugas dan tanggung jawab yang jelas dalam kegiatan-kegiatan penanganan sampah yang harus senantiasa ditunjang dengan kapasitas serta kualitas SDM yang memadai;

29

Untuk pengelolaan sampah lintas kabupaten/kota, dapat dibentuk lembaga pengelola di tingkat provinsi, sedangkan untuk pengelolaan sampah lintas provinsi, dapat dibentuk lembaga pengelola di tingkat nasional.

3.2.3. Aspek Pembiayaan Beberapa kondisi yang ada yang berkaitan dengan aspek pembiayaan adalah : - Keterbatasan biaya, termasuk sumber pendanaan, untuk investasi dan operasi/pemeliharaan mengakibatkan pelayanan pengelolaan sampah yang tidak optimal; - Belum terciptanya iklim yang kondusif untuk kerjasama dengan swasta (Berdasarkan Perpres No. 13 Tahun 2010 tentang Kerjasama antara Pemerintah dan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur); - Tarif/retribusi sampah belum didasarkan pada perhitungan dan pendataan (klasifikasi wajib retribusi) yang memadai dan realisasi penarikan retribusi masih rendah (rata-rata nasional : 20%). Pembiayaan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah : - Investasi yang lebih memadai yang didasarkan pada kebutuhan dan peningkatan sarana prasarana, kapasitas SDM, serta kampanye dan edukasi bidang persampahan; - Biaya operasi dan pemeliharaan yang mencukupi untuk kebutuhan pengoperasian sarana prasarana persampahan yang perhitungannya didasarkan pada kebutuhan alternatif pengoperasian seluruh kegiatan penanganan sampah dari sumber sampai TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) sampah untuk jangka panjang; - Tarif atau retribusi yang disusun berdasarkan struktur/klasifikasi wajib retribusi (cross subsidi), kemampuan daerah, kemampuan masyarakat yang dapat mencukupi kebutuhan operasional pengelolaan sampah (mengarah pada pola cost recovery); - Penerapan pola insentif dan disinsentif bagi para pelaku yang terlibat dalam pengelolaan persampahan; - Pendapatan dari penarikan tarif atau retribusi harus terkoordinasi dan tercatat secara baik dan transparan serta diinvestasikan kembali untuk kepentingan pengelolaan sampah.

30

3.2.4. Aspek Peraturan Berbagai Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Daerah sampai dengan Standar Nasional Indonesia sudah dikeluarkan termasuk Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah, dengan demikian diharapkan pengelolaan sampah dapat dilakukan secara komprehensif dan terpadu dari hulu ke hilir agar memberikan manfaat secara ekonomi, sehat bagi masyarakat, dan aman bagi lingkungan, serta dapat mengubah perilaku masyarakat; secara efektif dan efisien. Beberapa kondisi yang ada yang berkaitan dengan aspek hukum dan peraturan adalah: - Beberapa daerah belum memiliki Perda terkait Institusi, Retribusi dan Ketentuan Penanganan Persampahan; - Kurangnya sosialisasi dan penyuluhan mengenai Perda bidang persampahan; - Belum adanya penerapan sanksi atas pelanggaran dalam bidang persampahan. Hukum dan peraturan yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah : - Pemerintah daerah memiliki Perda yang terdiri dari Perda Pembentukan Institusi, Perda Ketentuan Penanganan Persampahan dan Perda Retribusi, dimana substansi materi Perda harus cukup menyeluruh, tegas dan dapat diimplementasikan untuk jangka panjang (20 tahun); - Penerapan Perda tersebut perlu didahului dengan sosialisasi, uji coba dikawasan tertentu dan penerapan secara menyeluruh. Selain itu juga diperlukan kesiapan aparat dari mulai kepolisian, kejaksaan dan kehakiman untuk penerapan sanksi atas pelanggaran yang terjadi; - Evaluasi Perda perlu dilakukan setiap 5 tahun untuk menguji tingkat kelayakannya. 3.2.5. Aspek Peran Serta Masyarakat Beberapa kondisi yang ada yang berkaitan dengan aspek peran serta masyarakat adalah : - Kesadaran masyarakat terhadap penanganan sampah masih rendah; - Masyarakat belum terinformasikan tentang berbagai peraturan, pedoman, SOP yang ada dalam pengelolaan sampah; - Kurang mengikutsertakan masyarakat dalam proses pengelolaan sampah. Komunikasi yang perlu dibangun secara terus menerus antara pemerintah daerah dengan masyarakat dan diantara masyarakat itu sendiri yang menyangkut baik masalah kebijakan maupun masalah bimbingan teknis.

31

Peran serta masyarakat yang diharapkan dalam pengelolaan sampah adalah : - Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah melalui antara lain kampanye, sosialisasi dan edukasi bidang persampahan; - Mensosialisasikan dan menyebarluaskan NSPK (Norma, Standar, Prosedur, Kriteria) persampahan yang ada; - Perlu dibentuk forum komunikasi sebagai media antara masyarakat dan pemerintah daerah. 3.3. Dampak Pencemaran Akibat Sampah 3.3.1. Potensi Dampak Dalam kenyataannya banyak pengelola kebersihan menghadapi berbagai masalah antara lain tidak tersediaanya prasarana dan sarana, SDM, peraturan, dan dana yang memadai, sehingga tidak dapat menyediakan pelayanan yang baik sesuai dengan ketentuan teknis dan harapan masyarakat, akibatnya sering terjadi pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara (bau), pencemaran air, dan pencemaran tanah. Berbagai potensi yang menimbulkan berbagai dampak dapat meliputi : a. Perkembangan Vektor Penyakit Wadah sampah merupakan tempat yang sangat ideal bagi pertumbuhan vektor penyakit terutama lalat dan tikus. Hal ini disebabkan dalam wadah sampah terdapat sisa makanan. Tempat Penampungan Sementara/Container juga merupakan tempat berkembangnya vektor tersebut karena alasan yang sama. Sudah barang tentu akan menurunkan kualitas kesehatan lingkungan sekitarnya. Vektor penyakit terutama lalat sangat potensial berkembangbiak di lokasi TPA. Hal ini terutama disebabkan oleh frekwensi penutupan sampah yang tidak dilakukan sesuai ketentuan sehingga siklus hidup lalat dari telur menjadi larva telah berlangsung sebelum penutupan dilaksanakan. Gangguan akibat lalat umumnya dapat ditemui sampai radius 1-2 km dari lokasi TPA. b. Pencemaran Udara Sampah yang menumpuk dan tidak segera terangkut merupakan sumber bau tidak sedap yang memberikan efek buruk bagi kawasan disekitarnya terutama permukiman, perbelanjaan, rekreasi, dan lain-lain. Pembakaran sampah seringkali terjadi sehingga menyebabkan gangguan bagi lingkungan sekitarnya. Sarana pengangkutan yang tidak tertutup berpotensi menimbulkan masalah bau di sepanjang jalur yang dilalui, terutama akibat bercecerannya air leachate dari bak kendaraan.

32

Pada TPA terjadi pelepasan zat (partikel dan gas) ke udara dari hasil pengolahan atau pemrosesan sampah yang tidak sempurna, diantaranya berupa : partikulat, SOx, NOx, hidrokarbon, HCI, dioksin, dan lain-lain. Proses dekomposisi sampah di TPA secara kontinu akan berlangsung dan dalam hal ini akan dihasilkan berbagai gas seperti CO, C02, CH4, H2S, dan lain-lain yang secara langsung akan mencemari udara serta mendorong terjadinya emisi gas rumah kaca (Green House Gases) yang mengakibatkan pemanasan global (global warming), disamping efek yang merugikan terhadap kesehatan manusia di sekitarnya seperti ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Pembongkaran sampah dengan volume yang besar dalam lokasi pengolahan berpotensi menimbulkan gangguan bau. Disamping itu juga sangat mungkin terjadi pencemaran berupa asap bila sampah dibakar pada instalasi yang tidak memenuhi syarat teknis. Seperti halnya perkembangan populasi lalat, bau tak sedap di TPA juga timbul akibat penutupan sampah yang tidak dilaksanakan dengan baik. Asap juga seringkali timbul di TPA akibat terbakarnya tumpukan sampah baik secara sengaja maupun tidak. Produksi gas metan yang cukup besar dalam tumpukan sampah menyebabkan api sulit dipadamkan sehingga asap yang dihasilkan akan sangat mengganggu daerah sekitarnya. c. Pencemaran Air Prasarana dan sarana pengumpulan yang terbuka sangat potensial menghasilkan leachate terutama pada saat turun hujan. Aliran leachate ke saluran atau tanah sekitarnya akan menyebabkan terjadinya pencemaran. Instalasi pengolahan berskala besar menampung sampah dalam jumlah yang cukup besar pula sehingga potensi leachate yang dihasilkan di instalasi juga cukup potensial untuk menimbulkan pencemaran air dan tanah di sekitarnya. Leachate yang timbul di TPA sangat mungkin mencemari lingkungan sekitarnya baik berupa rembesan dari dasar TPA yang mencemari air tanah di bawahnya. Pada lahan yang terletak di kemiringan, kecepatan aliran air tanah akan cukup tinggi sehingga dimungkinkan terjadi cemaran terhadap sumur penduduk yang trerletak pada elevasi yang lebih rendah. Pencemaran leachate juga dapat terjadi akibat efluen pengolahan yang belum memenuhi syarat untuk dibuang ke badan air penerima. Karakteristik pencemar leachate yang sangat besar akan sangat mempengaruhi kondisi badan air penerima terutama air permukaan yang dengan mudah mengalami kekurangan oksigen terlarut sehingga mematikan biota yang ada. d. Pencemaran Tanah Pembuangan sampah yang tidak dilakukan dengan baik misalnya di lahan kosong atau TPA yang dioperasikan secara sembarangan akan menyebabkan lahan setempat mengalami pencemaran akibat tertumpuknya sampah organik dan

33

mungkin juga mengandung Bahan Buangan Berbahaya (B3). Bila hal ini terjadi maka akan diperlukan waktu yang sangat lama sampai sampah terdegradasi atau larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan lingkungan sekitarnya. e. Gangguan Estetika Lahan yang terisi sampah secara terbuka akan menimbulkan kesan pandangan yang sangat buruk sehingga mempengaruhi estetika lingkungan sekitarnya. Hal ini dapat terjadi baik di lingkungan permukiman atau juga lahan pembuangan sampah lainnya. Proses pembongkaran dan pemuatan sampah di sekitar lokasi pengumpulan sangat mungkin menimbulkan tumpahan sampah yang bila tidak segera diatasi akan menyebabkan gangguan lingkungan. Demikian pula dengan ceceran sampah dari kendaraan pengangkut sering terjadi bila kendaraan tidak dilengkapi dengan penutup yang memadai. Di TPA ceceran sampah terutama berasal dari kegiatan pembongkaran yang tertiup angin atau ceceran dari kendaraan pengangkut. Pembongkaran sampah di dalam area pengolahan maupun ceceran sampah dari truk pengangkut akan mengurangi estetika lingkungan sekitarnya. Sarana pengumpulan dan pengangkutan yang tidak terawat dengan baik merupakan sumber pandangan yang tidak baik bagi daerah yang dilalui. Lokasi TPA umumnya didominasi oleh ceceran sampah baik akibat pengangkutan yang kurang baik, aktivitas pemulung maupun tiupan angin pada lokasi yang sedang dioperasikan. Hal ini menimbulkan pandangan yang tidak menyenangkan bagi masyarakat yang melintasi/tinggal berdekatan dengan lokasi tersebut. f. Kemacetan Lalu lintas Lokasi penempatan sarana prasarana pengumpulan sampah yang biasanya berdekatan dengan sumber potensial seperti pasar, pertokoan, dan lain-lain serta kegiatan bongkar muat sampah berpotensi menimbulkan gangguan terhadap arus lalu lintas. Arus lalu lintas angkutan sampah terutama pada lokasi tertentu seperti transfer station atau TPA berpotensi menjadi gerakan kendaraan berat yang dapat mengganggu lalu lintas lain; terutama bila tidak dilakukan upaya-upaya khusus untuk mengantisipasinya. Arus kendaraan pengangkut sampah masuk dan keluar dari lokasi pengolahan akan berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas di sekitarnya terutama berupa kemacetan pada jam-jam kedatangan. Pada TPA besar dengan frekuensi kedatangan truck yang tinggi sering menimbulkan kemacetan pada jam puncak terutama bila TPA terletak berdekatan dengan jalan umum.

34

g. Gangguan Kebisingan Kebisingan akibat lalu lintas kendaraan berat/truck timbul dari mesin-mesin, bunyi rem, gerakan bongkar muat hidrolik, dan lain-lain yang dapat mengganggu daerahdaerah sensitif di sekitarnya. Di instalasi pengolahan kebisingan timbul akibat lalu lintas kendaraan truk sampah disamping akibat bunyi mesin pengolahan (tertutama bila digunakan mesin pencacah sampah atau shredder). Kebisingan di sekitar lokasi TPA timbul akibat lalu lintas kendaraan pengangkut sampah menuju dan meninggalkan TPA; disamping operasi alat berat yang ada. h. Dampak Sosial Hampir tidak ada orang yang akan merasa senang dengan adanya pembangunan tempat pembuangan sampah di dekat permukimannya, karenanya tidak jarang menimbulkan sikap menentang/oposisi dari masyarakat dan munculnya keresahan. Sikap oposisi ini secara rasional akan terus meningkat seiring dengan peningkatan pendidikan dan taraf hidup mereka, sehingga sangat penting untuk mempertimbangkan dampak ini dan mengambil langkah-langkah aktif untuk menghindarinya. 3.3.2. Resiko Lingkungan Komponen lingkungan yang diperkirakan akan terkena dampak akibat adanya kegiatan pembangunan sistem penyediaan air bersih akan mencakup : a. Geo-Fisik-Kimia yang meliputi : kuantitas dan kualitas air tanah/permukaan, kualitas udara, kondisi tanah, dan kebisingan; b. Biologis : baik keanekaragaman maupun kondisi flora/fauna; c. Sosio ekonomi budaya : meliputi kependudukan, kesehatan masyarakat, pola kehidupan masyarakat, mata pencaharian, estetika, kecemburuan masyarakat, persepsi masyarakat terhadap proyek, nilai jual tanah, situs sejarah, adat, dan lain-lain; d. Prasarana umum : jalan, saluran drainase, jaringan PLN/Telkom, perpipaan air bersih/air limbah, dll.

35