Anda di halaman 1dari 54

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Era reformasi adalah era perubahan. Perubahan disegala bidang kehidupan demi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Salah satunya adalah dibidang hukum. Dalam bidang hukum, diarahkan pada pembentukan peraturan perundang-undangan yang memfasilitasi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam, seperti politik & ekonomi dan menegakkan hukum tersebut. Seperti kita ketahui bahwa banyak peraturan perundangundangan kita yang masih berasal dari masa pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa reformasi ini telah banyak dihasilkan produk perundangundangan seperti UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU No 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Penyelesaian Sengketa di Luar Pengadilan, UU No 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi dan lain lain dimana semua itu rata-rata adalah bentukan hukum dibidang sektoral dan bukan paada pembaharuan hukum yang bersifat dasar (Basic Law). Hukum kontrak kita masih mengacu pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata atau Burgerlijk Wetboek Bab III tentang Perikatan (selanjutnya disebut buku III) yang masuk dan diakui oleh Pemerintahan Hindia Belanda melalui asas Konkordansi yaitu asas yang menyatakan bahwa peraturan yang berlaku di negeri Belanda berlaku pula pada pemerintahan Hindia Belanda (Indonesia), hal tersebut untuk memudahkan para pelaku bisnis eropa/ Belanda agar lebih mudah dalam mengerti hukum. Dan seiring berjalannya waktu maka pelaku bisnis lokal pun harus pula mengerti isi peraturan dari KUHPerdata terutama Buku III yang masih merupakan acuan umum bagi pembuatan kontrak di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Hukum Kontrak Seperti diketahui bersama bahwa Hukum Perjanjian adalah bagian hukum perdata (privat). Hukum ini memusatkan perhatian pada kewajiban untuk melaksanakan kewajiban sendiri (self imposed obligation). Disebut sebagai bagian dari hukum perdata disebabkan karena pelanggaran terhadap kewajiban-kewajiban yang ditentukan dalam kontrak, murni menjadi urusan pihak-pihak yang berkontrak. Sejak abad ke-19 prinsipprinsip itu mengalami perkembangan dan Pergeseran demikian disebabkan oleh : a. Tumbuhnya bentuk-bentuk kontrak standar. b. Berkurangnya makna kebebasan memilih dan kehendak para pihak, sebagai akibat meluasnya campur tangan pemerintah dalam kehidupan rakyat. c. Masuknya konsumen sebagai pihak dalam berkontrak. Macam-Macam Sistem Hukum Dunia Pada berbagai dasarnya banyak sistem hukum yang dalam dianut sejarah oleh dan negara-negara didunia, namun berbagai pergeseran penting.

perkembangannya ada 4 macam sistem hukum yang sangat mempengaruhi sistem hukum yang diberlakukan di berbagai negara tersebut. Adapun sistem hukum yang dimaksud adalah sebagai berikut : 2.2 Sistem Hukum Eropa Kontinental Berkembang di negara-negara Eropa (istilah lain Civil Law = hukum Romawi). Dikatakan hukum Romawi karena sistem hukum ini berasal dari kodifikasi hukum yang berlaku di kekaisaran Romawi pada masa Pemerintahan Kaisar abad 5 (527-565 M). Kodifikasi hukum itu merupakan Yustinianus kumpulan

dari berbagai kaidah hukum yang ada sebelum masa Yustinianus yang disebut Corpus Juris Civilis (hukum yg terkodifikasi). Corpus Juris Civilis dijadikan prinsip dasar dalam perumusan dan

kodifikasi hukum di negara-negara Eropa daratan seperti Jerman, Belanda, Prancis, Italia, Amerika Latin, Asia (termasuk Indonesia pada masa penjajahan Belanda). Artinya adalah menurut sistem ini setiap hukum harus dikodifikasikan sebagai daar berlakunya hukum dalam suatu negara. a. Prinsip utama Prinsip utama atau prinsip dasar sistem hukum Eropa Kontinental ialah bahwa hukum itu memperoleh kekuasaan mengikat karena berupa peraturan yang berbentuk undangundang yang tersusun secara sistematis dalam kodifikasi. Kepastian hukumlah yang menjadi tujuan hukum. Kepastian hukum dapat terwujud apabila segala tingkah laku manusia dalam pergaulan hidup diatur dengan peraturan tertulis, misalnya UU. Dalam sistem hukum ini, terkenal suatu adagium yang berbunyi kata tidak lain ada hukum selalu selain undang-undang. dengan Dengan hukum diidentifikasikan

undang-undang (hukum adalah undang-undang). b. Peran Hakim Hakim dalam hal ini tidak bebas dalam menciptakan hukum baru, karena hakim hanya berperan menetapkan dan menafsirkan c. Putusan Hakim Putusan hakim tidak mengikat umum tetapi hanya mengikat para pihak yang berperkara saja (doktrins res ajudicata) sbgmana yurisprudensi sebagai sistem hukum Anglo Saxon (Mazhab / Aliran Freie Rechtsbegung) d. Sumber Hukum Sumber hukum sistem ini adalah 1) Undang-undang dibentuk oleh legislatif (Statutes). 2). Peraturan-peraturan negara = PP, dll), 3). Kebiasaan-kebiasaan (custom) yang hidup dan diterima sebagai hukum oleh masyarakat selama tidak bertentangan dengan undang-undang. hukum(Regulation = administrasi peraturan-peraturan yang ada berdasarkan wewenang yang ada padanya.

e. Penggolongannya Berdasarkan sumber hukum diatas maka sistem hukum Eropa Kontinental penggolongannya ada dua yaitu: 1) Bidang hukum publik Hukum publik yang mencakup serta negara. peraturan-peraturan dan hubungan-hubungan hukum antara mengatur kekuasaan wewenang

penguasa/negara masyarakat dan

Termasuk dalam hukum publik ini ialah : a. Hukum Tata Negara b. Hukum Administrasi Negara c. Hukum Pidana

2) Bidang hukum privat. Hukum privat mencakup peraturan-peraturan hukum yang mengatur tentang hubungan antara individu-individu dalam memenuhi kebutuhan hidup demi hidupnya. Yang termasuk dalam hukum privat adalah : 1) Hukum Sipil 2) Hukum Dagang Sejalan hukum dengan itu perkembangan semakin sulit peradaban ditentukan. manusia Hal itu sekarang, batas-batas yang jelas antara hukum publik dan privat disebabkan faktor-faktor berikut: 1). Terjadinya sosialisasi di dalam hukum sebagai akibat dari makin banyaknya bidang-bidang kehidupan masyarakat. Hal itu pada dasarnya memperlihatkan adanya unsur kepentingan umum/masyarakat yang perlu dilindungi dan dijamin, misalnya saja bidang hukum perburuhan dan hukum agraria. 2). Makin banyaknya ikut campur negara di dalam bidang kehidupan yang sebelumnya hanya menyangkut hubungan perorangan,misalnya saja bidang perdagangan, bidang perjanjian dan sebagainya.

Sistem hukum di Indonesia banyak dipengaruhi oleh Belanda yang telah menancapkan pilar-pilar ketentuan yang mengikat antara masyarakat dengan penguasa maupun masyarakat dengan masyarakat sendiri. Sistem hukum yang dimaksud adalah sistem hukum Eropa atau disebut juga sistem hukum Romawi Jerman. Adapun sumber dari sistem hukum Eropa atau Romawi Jerman ini adalah hukum Romawi kuno yang dikembangkan di benua Eropa (Eropa Kontinental) oleh negara-negara seperti Prancis, Spanyol, Portugis dan lain-lain. Berkembangnya sistem hukum Romawi Jerman adalah berkat usaha dari Napoleon Bonaparte yang berusaha menyusun Code Civil atau Code Napoleon dengan sumber berasal dari hukum Romawi. Sistem hukum ini pertama kali berkembang dalam hukum perdatanya atau private law atau civil law yaitu hukum yang mengatur hubungan sesama anggota masyarakat. Oleh karena itu, sistem hukum Romawi Jerman ini lebih terkenal dengan nama sistem hukum civil law. Civil law ditandai oleh kumpulan perundang-undangan yang menyeluruh dan sistematis, yang dikenal sebagai hukum yang mengatur hampir semua aspek kehidupan. Unsur kontrak dalam civil law sistem terdiri dari empat unsur, sebagai berikut: 1. Kapasitas Para Pihak 2. Kebebasan Kehendak Dasar Dari Kesepakatan 3. Subjek yang pasti 4. Suatu sebab yang diijinkan (A Premissible Cause) 2.3 Sistem Hukum Anglo Saxon Mula-mula berkembang di negara Inggris, dan dikenal dgn istilah Common Law atau Unwriten Law (hukum tidak tertulis). Sistem hukum common law ini dianut oleh negara-negara yang berbahasa Inggris beserta dengan persemakmurannya, seperti negara Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Kecuali negara bagian Lousiana di Amerika Serikat dan provinsi Quebec di Kanada yang menganut sistem hukum civil law. a. Sumber Hukum Putusan-putusan yurisprudensi mewujudkan (judicial kepastian hakim/putusan decisions). hukum, maka pengadilan melalui atau hakim Putusan-putusan

putusan-

putusan

hakim

itu

prinsip-prinsip

dan

kaidah-kaidah

hukum dibentuk dan mengikat umum. Kebiasaan-kebiasaan dan peraturan hukum tertulis yang berupa undangundang dan peraturan administrasi negara diakui juga, kerena pada dasarnya terbentuknya kebiasaan dan peraturan tertulis tersebut bersumber dari putusan pengadilan. Putusan pengadilan, kebiasaan dan peraturan hukum tertulis tersebut tidak tersusun secara sistematis dalam kodifikasi sebagaimana pada sistem hukum Eropa Kontinental. b. Peran Hakim Hakim berfungsi tidak hanya sebagai pihak yang bertugas menetapkan dan menafsirkan peraturan-peraturan hukum saja. Hakim juga berperan besar dalam menciptakan kaidah-kaidah masyarakat. Hakim mempunyai wewenang yang luas untuk menafsirkan peraturanperaturan hukum dan menciptakan prinsip-prinsip hukum baru yang berguna sebagai pegangan bagi hakim-hakim lain dalam memutuskan perkara sejenis. Oleh karena itu, hakim terikat pada prinsip hukum dalam putusan pengadilan yang sudah ada dari perkara-perkara sejenis (asas doctrine of precedent). Namun, bila dalam putusan pengadilan terdahulu tidak ditemukan prinsip hukum yang dicari, hakim berdasarkan prinsip kebenaran dan akal sehat dapat memutuskan perkara dengan menggunakan metode penafsiran hukum. Sistem hukum Anglo-Amerika sering disebut juga dengan istilah Case Law. c. Penggolongannya Dalam perkembangannya, sistem hukum Anglo Amerika itu mengenal pula pembagian hukum publik dan hukum privat. Pengertian yang diberikan kepada hukum publik hampir sama dengan pengertian yang diberikan oleh sistem hukum eropa kontinental. Sementara bagi hukum privat pengertian yang diberikan Amerika (Saxon) agak berbeda oleh sistem hukum Anglo dengan pengertian yang hukum yang mengatur tata kehidupan

diberikan oleh sistem Eropa kontinental. Dalam sistem hukum Eropa kontonental hukum privat lebih dimaksudkan sebagai kaidah-kaidah hukum perdata dan hukum dagang yang dicantumkan dalam kodifikasi kedua hukum itu. Berbeda dengan itu bagi sistem hukum Anglo Amerika pengertian hukum privat lebih ditujukan kepada kaidah-kaidah hukum tentang hak milik (law of property), hukum tentang orang (law of persons, hukum perjanjian (law of contract) dan hukum tentang perbuatan melawan hukum (law of tort). Seluruhnya tersebar di dalam peraturan-peraturan tertulis, putusanputusan hakim dan kebiasaan 2.4 Sistem Hukum Adat Berkembang dilingkungan kehidupan sosial di Indonesia, Cina, India, Jepang, dan negara lain. Di Indonesia asal mula istilah hukum adat adalah dari istilah Adatrecht yang dikemukakan oleh Snouck Hugronje. Ada dua pendapat mengenai asal kata adat ini. Disatu pihak ada yang menyatakan bahwa adat diambil dari bahasa Arab yang berarti kebiasaan. Sedangkan menurut Prof. Amura, istilah ini berasal dari Bahasa Sanskerta karena menurutnya istilah ini telah dipergunakan oleh orang Minangkabau kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Menurutnya adat berasal dari dua kata, a dan dato. A berarti tidak dan dato berarti sesuatu yang bersifat kebendaan. 2.4.1 Perdebatan Istilah Hukum Adat Hukum Adat dikemukakan pertama kali oleh Prof. Snouck Hurgrounje seorang Ahli Sastra Timur dari Belanda (1894). Sebelum istilah Hukum Adat berkembang, dulu dikenal istilah Adat Recht. Prof. Snouck Hurgrounje dalam bukunya de atjehers (Aceh) pada tahun 1893-1894 menyatakan hukum rakyat Indonesia yang tidak dikodifikasi adalah de atjehers. Kemudian istilah ini dipergunakan pula oleh Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven, seorang Sarjana Sastra yang juga Sarjana Hukum yang pula menjabat sebagai Guru Besar pada Universitas Leiden di Belanda. Ia memuat istilah Adat Recht dalam bukunya yang berjudul Adat Recht van Nederlandsch Indie (Hukum Adat Hindia Belanda) pada tahun 1901-1933.

Perundang-undangan

di

Hindia

Belanda

secara

resmi

mempergunakan istilah ini pada tahun 1929 dalam Indische Staatsregeling (Peraturan Hukum Negeri Belanda), semacam Undang Undang Dasar Hindia Belanda, pada pasal 134 ayat (2) yang berlaku pada tahun 1929. Dalam masyarakat Indonesia, istilah hukum adat tidak dikenal adanya. Hilman Hadikusuma mengatakan bahwa istilah tersebut hanyalah istilah teknis saja. Dikatakan demikian karena istilah tersebut hanya tumbuh dan dikembangkan oleh para ahli hukum dalam rangka mengkaji hukum yang berlaku dalam masyarakat Indonesia yang kemudian dikembangkan ke dalam suatu sistem keilmuan. Dalam bahasa Inggris dikenal juga istilah Adat Law, namun perkembangan yang ada di Indonesia sendiri hanya dikenal istilah Adat saja, untuk menyebutkan sebuah sistem hukum yang dalam dunia ilmiah dikatakan Hukum Adat. Pendapat ini diperkuat dengan pendapat dari Muhammad Rasyid Maggis Dato Radjoe Penghoeloe sebagaimana dikutif oleh Prof. Amura : sebagai lanjutan kesempuranaan hidupm selama kemakmuran berlebihlebihan karena penduduk sedikit bimbang dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah, sampailah manusia kepada adat. Sedangkan pendapat Prof. Nasroe menyatakan bahwa adat

Minangkabau telah dimiliki oleh mereka sebelum bangsa Hindu datang ke Indonesia dalam abad ke satu tahun masehi. Prof. Dr. Mohammad Koesnoe, S.H. di dalam bukunya mengatakan bahwa istilah Hukum Adat telah dipergunakan seorang Ulama Aceh yang bernama Syekh Jalaluddin bin Syekh Muhammad Kamaluddin Tursani (Aceh Besar) pada tahun 1630. Prof. A. Hasymi menyatakan bahwa buku tersebut (karangan Syekh Jalaluddin) merupakan buku yang mempunyai suatu nilai tinggi dalam bidang hukum yang baik. 2.4.2 Definisi Hukum Adat Menurut Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven, hukum adat adalah keseluruhan aturan tingkah laku positif yang disatu pihak mempunyai sanksi

(hukum) dan dipihak lain dalam keadaan tidak dikodifikasi (adat). Tingkah laku positif memiliki makna hukum yang dinyatakan berlaku disini dan sekarang. Sedangkan sanksi yang dimaksud adalah reaksi (konsekuensi) dari pihak lain atas suatu pelanggaran terhadap norma (hukum). Sedang kodifikasi dapat berarti sebagai berikut.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kodifikasi berarti himpunan berbagai peraturan menjadi undang-undang; atau hal penyusunan kitab perundang-undangan; atau penggolongan hukum dan undang-undang berdasarkan asas-asas tertentu dl buku undang-undang yg baku.

Menurut

Prof.

Djojodigoeno

kodifikasi

adalah

pembukuan

secara

sistematis suatu daerah / lapangan bidang hukum tertentu sebagai kesatuan secara bulat (semua bagian diatur), lengkap (diatur segala unsurnya) dan tuntas (diatur semua soal yang mungkin terjadi). 2.4.3 Sifat hukum adat Tradisional dengan berpangkal pada kehendak nenek moyangnya. Berubah-ubah karena pengaruh kejadian dan keadaan sosial yang silih berganti. Karena sumbernya tidak tertulis, hukum adat tidak kaku dan mudah menyesuaikan diri. 2.4.4 Lingkungan Hukum Adat Prof. Mr. Cornelis van Vollenhoven membagi Indonesia menjadi 19 lingkungan hukum adat (rechtsringen). Satu daerah yang garis-garis besar, corak dan sifat hukum adatnya seragam disebutnya sebagai rechtskring. Setiap lingkungan hukum adat tersebut dibagi lagi dalam beberapa bagian yang disebut Kukuban Hukum (Rechtsgouw). Lingkungan hukum adat tersebut adalah sebagai berikut. 1. Aceh (Aceh Besar, Pantai Barat, Singkel, Semeuleu) 2. Tanah Gayo, Alas dan Batak 1. Tanah Gayo (Gayo lueus) 2. Tanah Alas 3. Tanah Batak (Tapanuli)

1. Tapanuli Utara; Batak Pakpak (Barus), Batak karo, Batak Simelungun, Lumbun Julu) 2. Tapanuli Selatan; Padang Lawas (Tano Sepanjang), Angkola, Mandailing (Sayurmatinggi) 3. Nias (Nias Selatan) 3. Tanah Minangkabau (Padang, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, tanah Kampar, Kerinci) 4. Mentawai (Orang Pagai) 5. Sumatera Selatan 1. Bengkulu (Renjang) 2. Lampung (Abung, Paminggir, Pubian, Rebang, Gedingtataan, Tulang Bawang) 3. Palembang (Anak lakitan, Jelma Daya, Kubu, Pasemah, Semendo) 4. Jambi (Orang Rimba, Batin, dan Penghulu) 5. Enggano 6. Tanah Melayu (Lingga-Riau, Indragiri, Sumatera Timur, Orang Banjar) 7. Bangka dan Belitung 8. kalimantan (Dayak Kalimantan Barat, Kapuas, Hulu, Pasir, Dayak, Kenya, Dayak Klemanten, Dayak Landak, Dayak Tayan, Dayak Lawangan, Lepo Alim, Lepo Timei, Long Glatt, Dayat Maanyan, Dayak Maanyan Siung, Dayak Ngaju, Dayak Ot Danum, Dayak Penyambung Punan) 9. Gorontalo (Bolaang Mongondow, Boalemo) 10. Tanah Toraja (Sulawesi Tengah, Toraja, Toraja Baree, Toraja Barat, Sigi, Kaili, Tawali, Toraja Sadan, To Mori, To Lainang, Kep. Banggai) 11. Sulawesi Selatan (Orang Bugis, Bone, Goa, Laikang, Ponre, Mandar, Makasar, Selayar, Muna) 12. Kepulauan Ternate (Ternate, Tidore, Halmahera, Tobelo, Kep. Sula) 13. Maluku Ambon (Ambon, Hitu, Banda, Kep. Uliasar, Saparua, Buru, Seram, Kep. Kei, Kep. Aru, Kisar) 14. Irian 15. Kep. Timor (Kepulauan Timor, Timor, Timor Tengah, Mollo, Sumba, Sumba Tengah, Sumba Timur, Kodi, Flores, Ngada, Roti, Sayu Bima) 16. Bali dan Lombok (Bali Tanganan-Pagrisingan, Kastala, Karrang Asem, Buleleng, Jembrana, Lombok, Sumbawa) Batak Toba (Samosir, Balige, Laguboti,

10

17. Jawa Pusat, Jawa Timur serta Madura (Jawa Pusat, Kedu, Purworejo, Tulungagung, Jawa Timur, Surabaya, Madura) 18. Daerah Kerajaan (Surakarta, Yogyakarta) 19. Jawa Barat (Priangan, Sunda, Jakarta, Banten) 2.4.5 Sistem hukum adat di Indonesia Hukum adat mengenai tata negara, yaitu tatanan yang mengatur susunan dan ketertiban dalam persekutuan-persekutuan hukum, serta susunan dan lingkungan kerja alat-alat perlengkapan, jabatan-jabatan, dan penjabatnya. Hukum adat mengenai warga (hukum warga) Hukum pertalian sanak (kekerabatan) Hukum tanah Hukum perutangan Hukum adat mengenai delik (hukum pidana) Yaitu berperan dalam menjalankan sistem hukum adat adalah pemuka adat (pengetua-pengetua adat), karena ia adalah pimpinan yang disegani oleh masyarakat. 2.4.6 Sumber Hukum Sistem hukum adat umumnya bersumber dari peraturanperaturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang serta dipertahankan berdasarkan kesadaran hukum masyarakatnya. Sifat hukum adat adalah tradisional dengan berpangkal pada kehendak nenek moyangnya. Hukum adat berubah-ubah karena pengaruh kejadian dan keadaan sosial yang silih berganti. Karena sifatnya yang mudah berubah dan mudah menyesuaikan dengan perkembangan situasi sosial, hukum diri. Sistem tatanan hukum adat di Indonesia dan dibagi dalam tiga kelompok, yaitu :Hukum adat mengenai tata negara, yaitu yang mengatur susunan hukum, ketertiban susunan dalam dan persekutuan-persekutuan serta adat elastis sifatnya. Karena sumbernya tidak tertulis,hukum adat tidak kaku dan mudah menyesuaikan

11

lingkungan kerja alat-alat perlengkapan, jabatan-jabatan, dan penjabatnya. Hukum adat mengenai warga (hukum warga) terdiri dari: - Hukum pertalian sanak (kekerabatan) - Hukum tanah - Hukum perutangan Hukum adat mengenai delik berperan pemuka dalam adat menjalankan (pengetua-pengetua (hukum pidana), yang hukum adat ia adalah adalah adat), karena sistem

pimpinan yang disegani oleh masyarakat. 2.5 Sistem Hukum Islam Islam adalah salah satu agama yang dianut oleh masyarakat dunia saat ini dan termasuk di antara agama-agama besar di dunia, jumlahnya tak kurang dari penduduk dunia saat ini 6,8 Milyar. Sedangkan di Indonesia menjadi agama yang dianut oleh mayoritas penduduk, lebih dari 85% jumlah penduduk. Fakta ini tidak terlepas dari sejarah masuk dan berkembangnya berbagai agama dan kepercayaan di Indonesia sejak berdirinya negara Nusantara I Sriwijaya, negara Nusantara II Majapahit, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan, masa orde lama, masa orde baru, masa reformasi, dan hingga saat ini.

Boleh dikatakan penyebaran Islam di Indonesia hampir sebagian besar merupakan andil dan peran para pedagang. Mereka yang berstatus sebagai pedagang itu ada yang dianggap sebagi wali (Wali Sanga) oleh masyarakat di Pulau Jawa. Dalam menjalankan misinya mendakwahkan Islam, tak jarang para wali menerapkan strategi dakwah melalui unsur-unsur budaya masyarakat tempatan. Ini dapat dilihat dari seni yang merupakan akulturasi nilai-nilai Islam dan budaya Jawa, misalnya wayang, penggunaan bedug, seni arsitektur masjid, perayaan keagamaan, dan sebagainya. Perkembangan terbentuknya negara Indonesia dan tatanan kenegaraanya itu, jika dilihat dari sisi pengaturan kehidupan beragama warga negaranya, Indonesia dikatakan bukan sebagai negara agama

12

(teokrasi) dan bukan pula negara sekuler oleh Gus Dur dikatakan sebagai negara yang bukan-bukan. Indonesia dikatakan bukan sebagai negara agama (teokrasi) yang berdasar penyelenggaraan negara pada agama tertentu saja, karena negara tidak campur tangan terhadap tata cara pengamalan, ritual masing-masing agama. Yang diatur adalah administrasi setiap agama yang ada di Indonesia sehingga dalam menjalankan kegiatan agama dan keagamaan tidak berbenturan dan mengganggu agama lain. Di sinilah pentingnya menjaga dan membangun Kerukunan Umat Beragama sebagai salah satu tugas Negara untuk melindungi setiap warganya dalam memeluk agama dan beribadat menurut kepercayaannya. Indonesia juga bukan negara sekuler apalagi negara atheis, karena negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa seperti tercantum dalam Sila Pertama Pancasila dan warga negaranya pasal 29 UUD 1945 ini, agama tidak atau membenarkan hidup tanpa memeluk

kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Dalam konstelasi sistem hukum dunia atau sistem hukum utama (major legal system), hukum Islam (Islamic Law) diakui dalam masyarakat Internasional di antara hukum hukum lainnya seperti Hukum Sipil (Civil Law), Hukum Kebiasan Umum (Common Law), Hukum Sosilis (Socialist Law), Sub-Saharan Africa, dan Far East. 2.5.1 Defenisi Hukum Islam Suatu sistem hukum yang mendasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah (kitab Al-quran) dan rasul-nya (kitab hadis) kemudian disebut dengan syariat atau hasil pemahaman ulama te rhadap ketentuan di atas (kitab fiqih) kemudian disebut dengan ijtihad yang menata hubungan manusia dengan allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan benda. Sistem hukum Islam berasal dari Arab, kemudian berkembang ke negaranegara lain seperti negara-negara Asia, Afrika, Eropa, Amerika secara individual maupun secara kelompok. 2.5.2 Sumber Hukum Quran, yaitu dari kitab Allah suci kepada kaum Nabi muslimin Muhammad yang SAW

diwahyukan

13

melalui Malaikat Jibril. Sunnah SAW. Ijma, yaitu kesepakatan para ulama besar tentang suatu hak dalam cara hidup. Qiyas, yaitu analogi dalam mencari sebanyak mungkin persamaan antara dua kejadian. 2.5.3 Tujuan Syariat Islam Sebagai hukum dan ketentuan yang diturunkan Allah swt, syariat Islam telah menetapkan tujuan-tujuan luhur yang akan menjaga kehormatan manusia, yaitu sebagai berikut : Pemeliharaan atas keturunan. Misalnya, syariat Islam mengharamkan zina dan mengharuskan dijatuhkannya sanksi bagi pelakunya. Hal ini untuk menjaga kelestarian dan terjaganya garis keturunan. Dengan demikian, seorang anak yang lahir melalui jalan resmi pernikahan akan mendapatkan haknya sesuai garis keturunan dari ayahnya. Pemeliharaan atas akal. Misalnya, syariat Islam mengharamkan segala sesuatu yang dapat memabukkan dan melemahkan ingatan, seperti minuman keras atau beralkohol dan narkoba. Islam menganjurkan setiap Muslim untuk menuntut ilmu dan mengembangkan kemampuan berpikirnya. Jika akalnya terganggu karena mengonsumsi minuman beralkohol, akalnya akan lemah dan aktivitas berpikirnya akan terganggu. Pemeliharaan atas kemuliaan. Misalnya, Islam mengatur masalah tentang fitnah atau tuduhan dan melarang untuk membicarakan orang lain. Hal ini untuk menjaga kemuliaan setiap manusia agar ia terhindar dari halhal yang dapat mencemari nama baik dan kehormatannya. Pemeliharaan atas jiwa. Misalnya, syariat Islam telah menetapkan sanksi atas pembunuhan, terhadap siapa saja yang membunuh seseorang tanpa alasan yang benar. Dalam Islam, nyawa manusia sangat berharga dan patut dijaga keselamatannya. Nabi (hadist), yaitu cara hidup dari nabi Muhammad SAW atau cerita tentang Nabi Muhammad

14

Pemeliharaan atas harta. Misalnya, syariat Islam telah menetapkan sanksi atas kasus pencurian dengan potong tangan bagi pelakunya. Hal ini merupakan sanksi yang sangat keras untuk mencegah segala godaan untuk melakukan pelanggaran terhadap harta orang lain. Pemeliharaan atas agama. Misalnya, syariat Islam memberikan kebebasan bagi setiap manusia untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaannya. Islam tidak pernah memaksakan seseorang untuk memeluk Islam. Akan tetapi, Islam mempunyai sanksi bagi setiap muslim yang murtad agar manusia lain tidak mempermainkan agamanya

2.5.4 Sistem hukum Islam dalam Hukum Fikh Sistem hukum Islam dalam Hukum Fikh terdiri dari dua bidang hukum, yaitu : 1) Terhadap haji), rohaniah upacara 2) Allah (sholat, puasa, zakat, menunaikan ibadah pada dasarnya ialah tidak dipelajari di Hukum (ibadat), cara-cara menjalankan yang

tentang kebaktian fakultas hukum. Tetapi di

UNISI diatur dlm mata kuliah fiqh Ibadah. Hukum duniawi, terdiri dari : Muamalat, yaitu tata tertib hukum dan peraturan mengenai hubungan antara manusia dalam bidang jual-bei, sewa menyewa, perburuhan, hukum tanah, perikatan, hak milik, hak kebendaan dan hubungan ekonomi pada umumnya. Nikah syarat (Munakahah), dan yaitu perkawinan dalam arti membetuk sebuah keluarga yang tediri dari syaratrukun-rukunnya, hak dan kewajiban, dasar-dasar perkawinan monogami dan akibat-akibat hukum perkawinan. Jinayat, kejahatan. Sistem hukum Islam menganut suatu keyakinan dan ajaran islam dengan keimanan lahir batin secara individual. Negarayaitu pidana yang meliputi ancaman hukuman terhadap hukum Allah dan tindak pidana

15

negara yang menganut sistem hukum Islam dalam bernegara melaksanakan peraturan-peraturan hukumnya sesuai dengan rasa keadilan berdasarkan penganut asas peraturan hukum perundangan Islam, agama yang Islam bersumber dari Quran. Dari uraian diatas tampak jelas bahwa di negara-negara berpengaruh sangat besar terhadap cara pembentukan negara maupun cara bernegara dan bermasyarakat bagi warga negara dan penguasanya. Rene Devid dan John E.C. Brierley menyebutkan terdapat tiga sistem hukum yang dominan yakni sistem hukum: civil law, common law, dan socialist law. Namun, dalam perkembangannya sistem socialist law ini ternyata banyak dipengaruhi oleh sistem civil law dimana negara-negara sosialis banyak menganut sistem civil law. Sehubungan dengan hal tersebut diatas maka dapat dikatakan bahwa sistem hukum yang dominan hanya dua yaitu sistem hukum civil law dan common law. Umumnya di negara dengan sistem hukum common law terdapat ketidak pastian hukum dan untuk menghindari hal tersebut maka sejak abad ke-19 dipegang asas hukum yang bernama the rule of precedent yaitu keputusan-keputusan hakim yang sudah ada harus dijadikan pegangan atau keputusan hakim itu harus mengikuti keputusan hakim sebelumnya. The rule of precedent sering disebut juga sebagai doktrin stare decisis yang berarti sebagai to stand by (previous) decisions (berpegang/berpatokan pada putusanputusan sebelumnya). Sekilas mengenai perbedaan antara civil law (Eropa Continental) dengan common law (Anglosaxon) dapat dilihat dari segi perkembangan keduanya. Perkembangan sistem civil law diilhami oleh para ahli hukum yang terdapat pada universitas-universitas, yang menentukan atau membuat peraturan hukum secara sistematis dan utuh. Sedangkan perkembangan sistem common law terletak pada putusan-putusan hakim, yang bukan hanya menerapkan hukum tetapi juga menetapkan hukum. Dalam pembuatan kontrak di sistem common law, para pihak memiliki kebebasan untuk menyepakati persyaratan yang diinginkan, sepanjang persyaratan tersebut tidak melanggar kebijakan publik ataupun melakukan tindakan yang melanggar hukum. Jikaada persyaratan tertentu yang tidak tercakup, hak dan kewajiban yang wajar akan

16

diterapkandiambil dari ketetapan hukum yang ada atau praktek bisnis yang biasa dijalankan oleh para pihak atau industri. Hukum di negara dengan sistem civil law pada umumnya ditujukan untuk menetapkan suatu kaidah atau norma yang berada di suatu lingkungan masyarakat untuk diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat itu sendiri. Dengan demikian, hukum merupakan bagian integral dari kehidupan bersama yang mengatur dan menguasai sesama manusia. Jadi dapat dikatakan hukum terdapat dalam masyarakat manusia sehingga dalam setiap masyarakat selalu ada sistem hukum. Hal ini sesuai adagium: ubi societas ibi jus yang artinya (dimana) ada masyarakat (disitu) ada hukum. Berbeda dengan sistem hukum common law yang tidak mengenal pembagian secara prinsipil atas hukum publik dan hukum perdata, maka pada sistem hukum civil law pembagian hukum publik dan hukum perdata (privat) merupakan hal yang sangat esensial. Hukum Publik lazimnya dirumuskan sebagai hukum yang mengatur kepentingan umum dan mengatur hubungan penguasa dengan warga negaranya. Pelaksanaan Sedangkan peraturan hukum publik dilakukan antar oleh penguasa. yang Hukum Perdata keluarga diserahkan adalah dan di hukum dalam perorangan

mengatur hak dan kewajiban perorangan yang satu terhadap yang lain di dalam hubungan Pelaksanaannya pergaulan masyarakat. Perkataan kepada masing-masing pihak.

Hukum Perdata dalam arti yang luas meliputi semua hukum privat materiil, yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan. Keberadaan hukum perdata yang mengatur hubungan sesama manusia atau masyarakat merupakan warisan peninggalan politik Pemerintah Hindia Belanda. Pedoman politik bagi Pemerintah Hindia Belanda terhadap hukum di Indonesia dituliskan dalam pasal 131 Indische Staatsregeling, yang dalam pokoknya sebagai berikut: (a) Hukum Perdata dan Dagang (begitu pula dengan Hukum Pidana besertas hukum Acara perdata dan Pidana) harus diletakkan dalam kitab-kitab atau undang-undang, yaitu yaitu dikodifisir. (b) Untuk golongan bangsa Eropa dianut (dicontoh) perundang-undangan yang berlaku di Negeri Belanda (asas konkordansi). (c) Untuk golongan bangsa Indonesia asli dan Timur Asing (Tiong Hoa, Arab, India dan sebagainya), jika ternyata kebutuhan kemasyarakatan mereka menghendakinya, dapatlah peraturan-peraturan untuk bangsa

17

Eropa dinyatakan berlaku bagi mereka, baik seutuhnya maupun dengan perubahan-perubahan dan juga diperbolehkan membuat suatu peraturan baru bersama, untuk selainnya harus diindahkan aturan-aturan yang berlaku di kalangan mereka, dan boleh diadakan penyimpangan jika diminta oleh kepentingan umum atau kebutuhan masyarakat mereka (ayat 2). (d) Orang Indonesia asli dan Timur Asing, sepanjang mereka belum ditundukkan dibawah suatu peraturan bersama dengan bangsa Eropa, diperbolehkan menundukkan diri: pada hukum yang berlaku untuk bangsa eropa. Penundukan ini boleh dilakukan baik secara umum maupun secara hanya mengenai suatu perbuatan tertentu saja (ayat 4). (e) Sebelum hukum untuk bangsa Indonesia ditulis didalam undangundang, bagi mereka itu akan tetap berlaku hukum yang sekarang berlaku bagi mereka, yaitu Hukum Adat: (ayat 6). Dengan adanya ketentuan tersebut diatas, maka pengaturan untuk tunduk terhadap hukum perdata dapat diklasifikasikan sehingga jelas aturan hukum yang mengatur hubungan antar sesama masyarakat. Namun, seiring dengan perkembangan waktu dan sosial bagsa Indonseia saat itu, dapat pula kemungkinan terjadinya penundukan diri pada Hukum Eropa yang telah diatur dalam Staatsblaad 1917 No. 12. Peraturan ini mengenal empat macam penundukan, antara lain: (a) Penundukan pada seluruh Hukum Perdata Eropa; (b) Penundukan pada sebagian hukum Perdata Eropa, yakni hanya pada hukum kekayaan harta benda saja (vermogensrecht), seperti yang dinyatakan berlaku bagi golongan Timur Asing bukan Tiong Hoa; (c) Penundukan secara diam-diam, yang mengandung maksud jika seorang bangsa Indonesia asli melakukan suatu perbuatan hukum yang tidak dikenal didalam hukumnya sendiri, ia dianggap secara diam-diam menundukkan dirinya pada hukum Eropa. 2.6 Pengertian Kontrak Kontrak (Perjanjian) adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seseorang yang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Yang bertugas untuk melaksanakan kontrak adalah mereka yang menjadi subjek dalam kontrak.

18

Bentuk perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis. Menurut J.Satrio, perjanjian dapat mempunyai dua arti, yaitu: 1. Arti luas adalah Suatu perjanjian berarti setiap perjanjian yang menimbulkan akibat hukum sebagai yang dikehendaki oleh para pihak. 2. Arti sempit adalah Perjanjian berarti hanya ditunjukan kepada hubungan-hubungan hukum dalam lapangan hukum kekayaan saja. Hukum Perjanjian di Indonesia menganut ketentuan dari Belanda yang dapat dilihat dalam Buku III KUH Perdata. Belanda mendasarkan Hukum Perjanjian kedalam 3 (tiga) prinsip, yaitu: (a) Prinsip kewajiban para pihak, karena dalam hal ini perjanjian yang dibuat merupakan undang-undang yang berisi kewajiban-kewajiban bagi para pihak dan harus ditaati oleh pembuatnya yaitu para pihak dalam perjanjian. (b) Prinsip kebebasan berkontrak, dalam hal ini para pihak bebas membuat perjanjian dengan siapa saja dan para pihak bebas menentukan isi dari perjanjian, asalkan sesuai dengan undang-undang yang dipilih. (c) Prinsip Konsensualisme, merupakan prinsip yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, melainkan cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan adalah persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak. Istilah kontrak berasal dari bahasa inggris yaitu Contracts, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut dengan overeenkomst (perjanjian) atau kontrak di atas dalam pasal 1313 KUHP Perdata berbunyi Suatu perjanjian adalah suatu pembuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikat dirinya terhadap satu orang atau lebih sedangkan kontrak kerja konstruksi itu sendiri cukup jelas pengertiannya dalam Undang undang tentang jasa konstruksi No. 18/1999 yang menyatakan bahwa kontrak kerja konstruksi adalah Keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. Dari uraian tersebut di atas dapat menyimpulkan secara bebas bahwa pengertian kontrak kerja konstruksi adalah suatu perbuatan hukum antara pihak pengguna jasa dengan pihak penyedia jasa konstruksi dalam

19

melaksanakan pekerjaan jasa konstruksi dimana dalam hubungan hukum tersebut diatur mengenai hak dan kewajiban para pihak. Kita memahami mengenai definisi kontrak kerja konstruksi ada baiknya apabila kami memaparkan secara garis besar hal-hal yang mendasari atas sahnya suatu kontrak atau perjanjian, menurut Salim H.S.,S.H.,M.S. dalam bukunya Hukum Kontrak Teori dan Teknik penyusunan kontrak menurut pasal 1320 KUH Perdata sebagai berikut : 1. Kesepakatan kedua belah pihak, syarat pertama syahnya suatu kontrak adalah adanya kesepakatan atau consensus kedua belah pihak, hal ini diatur dalam pasal 1320 ayat 1 KUH Perdata bahwa yang dimaksud dengan kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antara satu orang atau lebih dengan pihak lainnnya yang sesuai itu adalah pernyataannnya, karena kehendak itu sendiri tidak dapat dilihat atau diketahui orang lain. Pada dasarnya cara yang paling banyak dilakukan oleh para pihak yaitu dengan bahasa sempurna secara lisan dan tertulis, tujuan pembuatan perjanjian secara tertulis adalah agar memberikan kepastian hukum bagi para pihak dan sebagai alat bukti yang sempurna dikala timbul perselisihan atau sengketa dikemudian hari. 2. Kecakapan bertindak, kecakapan bertindak adalah kecakapan atau kemampuan untuk melakukan perbuatan hukum, perbuatan hukum adalah perbuatan yang akan menimbulkan akibat hukum, maka dari itu orang orang yang akan mengadakan ataupun yang menandatangani perjanjian haruslah orang orang yang cakap dan mempunyai wewenang hukum untuk melakukan perbuatan hukum, sebagaimana ditentukan oleh undang-undang. 3. Adanya objek perjanjian didalam berbagai literature disebutkan bahwa yang menjadi objek perjanjian adalah prestasi (pokok perjanjian), Prestasi adalah apa yang menjadi kewajiban debitur dan apa yang menjadi hak kreditur (Yahya harahap, 1986 : 10 ; Mertokusumo, 1987 : 36). 4. Adanya Causa yang halal dalam pasal 1320 KUH Perdata tidak dijelaskan mengenai KUH yang halal di dalam pasal 1337 KUH Perdata hanya disebutkan causa yang terlarang. Suatu sebab adalah terlarang apabila bertentangan dengan undang-undang kesusilaan dan ketertiban umum.

20

Dari

apa

yang

diuraikan

diatas

setidaknya

dapat

memberikan

gambaran yang jelas bahwa kontrak kerja konstruksi merupakan dasar atau awal adanya hubungan hukum antara pengguna dan penyedia jasa konstruksi, hal-hal yang mengatur mengenai hak dan kewajiban para pihak haruslah diatur secara jelas, tegas dan terperinci karena kontrak kerja konstruksi merupakan awal dari suatu proses penegakkan dan perlindungan hukum bagi para pihak yang membuat kesepakatan kerja konstruksi. Dengan adanya perlindungan dan penegakan hukum dari suatu kontrak kerja konstruksi maka para pihak dapat merasa tenang dalam melaksanakan hak dan kewajibannya apalagi dengan lahirnya UU No. 18/1999 tentang jasa konstruksi beserta peraturan pelaksanaannnya setidaknya semakin memperjelas perlindungan dan penegakkan hukum dalam dunia jasa konstruksi. Dalam melaksanakan proses awal pembuatan suatu Kontrak Kerja Konstruksi Tim penyusun ingin memberikan saran walaupun mengenai pengaturan ini telah diatur secara minimal khususnya dalam bagian ketiga mengenai kontrak konstruksi pasal 22 UU No. 18/1999, saran tersebut adalah sebagai berikut : 1. Buatlah kontrak kerja konstruksi secara jelas, tegas , cermat dan terperinci. 2. Perhatikan subyek hukum yang akan mengadakan atau menandatangani perjanjian karena apabila subyek hukumnya tidak layak atau tidak berwenang melakukan perbuatan hukum maka akan berakibat pula pada batalnya kontrak yang telah dibuat. 3. Buatlah dengan detail dan terperinci mengenai klausul pilihan hukum apabila terjadi sengketa hal ini sangat penting untuk menghindari keragu raguan hukum akibat samarnya penerapan klausa pilihan hukum yang hanya akan mengakibatkan berlarut larutnya penyelesaian sengketa apabila timbul sengketa. 4. Buatlah dengan detail klausul mengenai proses dan tata cara pengajuan klaim. 5. Buatlah dengan detail mengenai klausul keadaan memaksa atau Force Majeure, hal ini untuk menghindari salah penafsiran atas suatu keadaan memaksa diluar kendali para pihak karena apabila keadaan

21

memaksa ini timbul biasanya para pihak lebih diliputi oleh perasaan emosi daripada logika atas suatu peristiwa yang terjadi. 6. Secara umum kontrak kerja yang akan dibuat tentunya haruslah mengacu kepada perundang undangan yang berlaku dalam hal ini peraturan yang mengatur mengenai dunia konstruksi diantaranya UU No. 18/1999 tentang jasa konstruksi, PP No.28/2000 tentang usaha dan peran masyarakat jasa konstruksi, PP No. 29/2000 tentang penyelenggaraan jasa konstruksi, PP No. 30/2000 tentang pembinaan penyelenggaraan jasa konstruksi, UU No. 30/2000 tentang Arbitrase dan alternative penyelesaian sengketa dan peraturan peraturan perundangan lainnya. 7. Disamping itu beberapa peraturan lain yang terkait dengan bangunan yang perlu diperhatikan adalah Undang Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan peraturan Pemerintah No. 36 tahun 2005 tentang peraturan Pelaksanaan Undang Undang No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung. 8. Konsultasikan kepada para ahli sebelum menandatangani suatu kontrak atau perjanjian karena bisaanya dalam suatu kontrak terdapat bahasa atau istilah yang memiliki penafsiran berbeda. Selain pengertian umum atas kontrak kerja konstruksi sebagaimana yang telah kami uraikan di atas dalam dunia konstruksi khususnya dalam lingkup internasional dikenal pula beberapa bentuk syarat-syarat kontrak konstruksi yang diterbitkan oleh beberapa Negara atau asosiasi profesi diantaranya adalah FIDIC (Federation Internasinale des Ingenieurs Counsels ), JCT (Joint Contract Tribunals), AIA (American Instite of Architects) dan SIA (Singapore Institute of Architects) dan lain-lain, bahkan di Indonesia sering pula dijumpai standar kontrak yang memakai standar atau sistem yang digunakan oleh negara-negara yang lebih maju seperti FIDIC, JCT dan lainlain, hal demikian tidaklah menjadi suatu masalah selama para pihak menyepakati dan disesuaikan dengan iklim dan kondisi yang ada di Indonesia. Dari uraian tersebut di atas sekali lagi ditekankan bahwa kontrak dalam suatu kesepakatan kerja konstruksi merupakan hal yang sangat penting dan tidak bisa dipandang remeh karena kontrak atau perjanjian merupakan landasan dan pondasi dari suatu aturan main dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi bagi para pihak khususnya pengguna

22

maupun penyedia jasa apabila terjadi perselisihan antara para pihak akibat klaim yang tidak terselesaikan dengan baik. Pembatalan perjanjian yang menimbulkan kerugian Ada tiga bentuk ingkar janji,yaitu : 1. Tidak memenuhi prestasi sama sekali, 2. Terlambat memenuhi prestasi,dan 3. Memenuhi prestasi secara tidak sah. Syarat-syarat sah perjanjian Syarat yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu perjanjian: 1. 2. 3. 4. 2.7 Sepakat mereka yang mengikat dirinya. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan. Suatu hal tertentu. Suatu sebab yang halal.

Bentuk Kontrak Menurut sistem hukum perdata Indonesia, suatu perjanjian dapat dibuat dalam bentuk: 1) Lisan (consent) untuk perjanjian-perjanjian yang sederhana (simple), artinya isi perjanjiannya singkat, ringkas, jelas, dan mudah diingat. 2) Tertulis (contract) untuk perjanjian yang isinya cukup padat, luas dan rinci, serta syarat dan prosedur pemenuhan rumit (sophisticated), sehingga sulit diingat. Perjanjian yang dibuat dalam bentuk tertulis menggunakan format khusus, yaitu kontrak (contract), yang terdiri atas: 1) Kontrak baku (standardized contract) baik isi, bentuk, maupun cara penutupannya dirancang, dibuat, ditetapkan, digandakan, serta disebarluaskan secara sepihak oleh salah satu pihak, tanpa kesepakatan dengan pihak lainnya (take it or leave it contract). 2) Kontrak nonbaku dibuat berdasarkan kesepakatan para pihak.

23

Kriteria tingkat kepastian hukum kontrak yang tinggi dapat dilihat dari berbagai segi berikut ini: 1) Bentuk dibuat dalam bentuk tertulis sehingga tidak mudah diubah 2) Keaslian bersih tanpa coretan atau hapusan 3) Bahasa mempergunakan bahsa dan istilah hukum yang baku, dipakai khusus di bidang hukum, tidak mempunyai arti ganda dan sudah terarah 4) Struktur dibuat sistematis, tidak tumpang tindih, dan tidak berulang-ulang 5) Substansi materi ketentuan pasal demi pasal dibuat lengkap dan rinci, tidak ambiguitas, serta tidak banyak interpretasi 6) Masa berlaku tetapkan secara pasti 7) Kesaksian perlu adanya pihak ketiga yang menyaksikan bahwa perjanjian itu benar terjadi dan seperti yang disepakati pihak-pihak 8) Otensitisitas dapat dihadapan notaris, dapat juga oleh pihakpihak sendiri.

2.8

Sumber Hukum Kontrak Pada dasarnya sumber hukum kontrak dapat dibedakan

menurut sistem hukum yang mengaturnya. Sumber hukum, dapat dilihat dari keluarga hukumnya. Ada keluarga hukum Romawi, common law, hukum sosialis, hukum agama, dan hukum tradisional. Di dalam penyajian tentang sumber hukum kontrak ini hanya dibandingkan antara sumber hukum kontrak menurut Eropa Kontinental, terutama KUH Perdata dan common law, terutama Amerika. Kedua sumber hukum itu disajikan berikut ini. 1. Sumber Hukum Kontrak dalam Civil Law Pada dasarnya sumber hukum dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu sumber hukum materil dan sumber hukum formal. Sumber hukum materil ialah tempat dari mana materi hukum itu diambil. Sumber hukum materil ini merupakan faktor yang membantu pembentukan hukum, misalnya hubungan sosial, kekuatan politik, situasi sosial ekonomi, tradisi (pandangan keagamaan dan kesusilaan), hasil penelitian ilmiah, perkembangan internasional, dan

24

keadaan

geografis.

Sumber

hukum

formal

merupakan

tempat

memperoleh kekuatan hukum. Ini berkaitan dengan bentuk atau cara yang menyebabkan peraturan hukum formal itu berlaku. Yang diakui umum sebagai hukum formil ialah undang-undang, perjanjian antamegara, yurisprudensi, dan kebiasaan. Keempat hukum formal ini juga merupakan sumber hukum kontrak. Sumber hukum kontrak yang berasal dari undang-undang merupakan sumber hukum yang berasal dari peraturan perundangundangan yang dibuat oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR. Sumber hukum kontrak yang berasal dari peraturan undangan, disajikan berikut ini. a. Algemene Bepaling Van Weitgeving (Ab) AB merupakan ketentuan-ketentuan Umum Pemerintah Hindia Belanda yang diberlakukan di Indonesia. AB diatur perundang-

dalam Sib. 1847 Nomor 23, dan diumumkan secara resmi pada tanggal 30 April 1847. AB terdiri atas 37 pasal. b. KUH Perdata (BW) KUH Perdata merupakan ketentuan hukum yang berasal dari produk Pemerintah Hindia Belanda, yang diundangkan dengan Maklumat sedangkan tanggal di 30 April 1847, Stb. 1847, dalam Nomor 23, Indonesia diumumkan Stb.1848.

Berlakunya KUH Perdata berdasarkan pada asas konkordansi. Sedangkan ketentuan hukum yang mengatur tentang hukum kontrak diatur dalam Buku III KUH Perdata. c. KUH Dagang Undang-Undang Praktik Monopoli Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Undang-

undang ini terdiri atas 11 bab dan 53 pasal. Hal-hal yang diatur dalam undang-undang itu meliputi ketentuan umum, asas dan tujuan, perjanjian yang dilarang, kegiatan yang dilarang, posisi dominan, komisi pengawas persaingan usaha, tata cara penanganan perkara, dan sanksi;

25

d. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi Di dalam Undang-undang ini ada dua pasal yang mengatur tentang kontrak, yaitu Pasal 1 ayat (5) dan Pasal 22 UU Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi. Yang diartikan dengan kontrak kerja konstruksi adalah keseluruhan dokumen yang mengatur hubungan hukum antara pengguna jasa dan penyedia jasa dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi (Pasal 1 ayat (5) UU Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi). 1. Kontrak kerja konstruksi sekurang-kurangnya harus mencakup uraian mengenai : para pihak yang memuat secara jelas identitas para pihak. 2. Rumusan pekerjaan, yang memuat uraian yang jelas dan rinci tentang kerja, nilai pekerjaan, dan batasan waktu pelaksanaan. 3. Masa pertanggungan dan/atau pemeliharaan, yang memuat tentang jangka waktu pertanggungan dan/atau pemeliharaan yang menjadi tanggung jawab penyedia jasa; 4. Tenaga ahli, yang memuat ketentuan tentang jumlah, klasifikasi, dan kualifikasi tenaga ahli untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi; 5. Hak dan kewajiban, yang memuat hak penggunajasa untuk memperoleh hasil pekerjaan konstruksi serta kewajibannya untuk memenuhi ketentuan yang diperjanjikan serta hak penyedia jasa untuk memperoleh informasi dan imbalan jasa serta kewajibannya melaksanakan pekerjaan konstruksi: 6. Cara pembayaran, yang memuat ketentuan tentang kewajiban pengguna jasa konstruksi; 7. Cedera janji, yang memuat ketentuan tentang tanggung jawab dalam hal salah satu pihak tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana yang diperjanjikan; 8. Penyelesaian 9. Pemutusan ketentuan perselisihan, yang memuat ketentuan tentang kontrak kerja konstruksi, yang memuat tentang tata cara penyelesaian perselisihan akibat ketidaksepakatan; dalam melakukan pembayaran hasil pekerjaan

26

pemutusan kontrak kerja konstruksi yang timbul akibat tidak dapat dipenuhinya kewajiban salah satu pihak; 10. Keadaan memaksa (force majeure), memuat ketentuan tentang kejadian yang timbul di luar kemauan dan kemampuan para pihak, yang menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak; 11. Kegagalan bangunan, yang jasa memuat ketentuan tentang kewajiban penyedia kegagalan bangunan; 12. Perlindungan pekerja, yang memuat tentang kewajiban para pihak dalam pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja serta jaminan sosial; 13. Aspek lingkungan, yang memuat kewajiban para pihak dalam pemenuhan ketentuan tentang lingkungan (Pasal 22 ayat (2) UU Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi). e. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Pilihan Penyelesaian Sengketa. Undang-undang ini terdiri atas 11 bab dan 82 pasal. Pasal-pasal yang erat kaitannya dengan hukum kontrak adalah Pasal 1 ayat (3) tentang pengertian perjanjian arbitrase, Pasal 2 tentang persyaratan dalam penyelesaian sengketa arbitrase, dan Pasal 7 sampai dengan Pasal 11 tentang syarat arbitrase. f. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional Undang-undang ini terdiri atas 7 bab dan 22 pasal. Hal-hal yang diatur dalam undang-undang ini adalah ketentuan umum, pembuatan perjanjian Internasional, perjanjian internasional, pemberlakuan pengesahan dari dari perjanjian dan/atau pengguna jasa atas

internasional, penyimpanan dari perjanjian internasional, dan pengakhiran dari perjanjian internasional. Traktat adalah suatu perjanjian yang dibuat antara dua negara atau lebih dalam bidang keperdataan, khususnya kontrak. Ini terutama, erat kaitannya dengan perjanjian internasional. Contohnya, perjanjian bagi hasil yang dibuat antara pemerintah Indonesia dengan PT

27

Freeport Indonesia Company tentang perjanjian bagi hasil tembaga dan emas. Yurisprudensi pihak-pihak yang atau putusan pengadilan merupakan perkara produk perdata. yudikatif, yang berisi kaidah atau berperkara, peraturan hukum yang mengikat dalam

terutama

Contohnya, putusan HR 1919 tentang pengertian perbuatan melawan hukum. Dengan adanya putusan HR 1919, maka pengertian melawan hukum tidak dianut arti luas, tetapi arti sempit. Putusan HR 1919 ini dijadikan pedoman oleh para hakim di Indonesia dalam memutuskan sengketa perbuatan melawan hukum. 2. Sumber Hukum Kontrak Amerika Dalam hukum kontrak Amerika (common law), sumber hukum dibagi menjadi dua kategori, yaitu sumber hukum primer dan sekunder. Sumber hukum primer merupakan sumber hukum yang utama. Para pengacara dan hakim menganggap bahwa sumber primer dianggap sebagai hukum itu sendiri. Sumber hukum primer meliputi keputusan pengadilan (judicial opinion), statuta, dan peraturan lainnya. Sumber hukum sekunder merupakan sumber hukum yang kedua. Sumber hukum sekunder ini mempunyai pengaruh dalam pengadilan, karena pengadilan dapat mengacu pada sumber hukum sekunder tersebut. Sumber hukum sekunder ini terdiri dari restatement dan legal comentary. Berdasarkan sumber tersebut, maka sumber hukum kontrak yang berlaku di Amerika Serikat dibedakan menjadi empat macam, yaitu judicial opinion, statutory law; the restatement, dan legal comentary (Charles L. Knapp and Nathan M. Crystal, 1993: 4). Keempat sumber hukum itu dijelaskan berikut ini. a. Judicial Opinion (Keputusan Hakim) Judicial opinion atau disebut juga dengan judge made law atau judicial decision merupakan sumber primer hukum kontrak. Judicial opinion merupakan pernyataan atau pendapat, atau putusan para hakim di dalam memutuskan perkara atau kasus, apakah itu kasus perdata maupun kasus pidana. Putusanputusan hakim ini akan diikuti oleh para hakim, terutama terhadap kasus

28

yang sama dan ada kemiripannya dengan kasus yang sedang terjadi. Seperti kita ketahui bahwa sistem pengadilan Amerika dalam pembuatan keputusan, biasanya dinyatakan sebagai stare decisis, ketaatan terhadap keputusan yang telah lewat atau disebut precedents. Preseden adalah keputusan yang terdahulu yang fakta-

fakta cukup mirip dengan kasus sub judice yang berada di bawah keputusan pengadilan (udjudication) tersebut bahwa pengadilan merasa berkewajiban untuk mengikutinya dan membuat suatu keputusan yang sama. Sistem preseden, lazimnya membenarkan dua hal, berikut ini. Pertama, dia menawarkan derajat yang tinggi tentang yang kemuugkinan memprediksi keputusan yang membolehkan siapa saja yang berhasrat untuk: menangani urusan mereka berkaitan dengan aturan hukum yang dapat diketahui. Kedua, dia meletakkan kendali pada apa yang boleh, sebaliknya menjadi kecenderungan alami dari hakim untuk memutuskan kasus yang menjadi dasar prasangka, emosional pribadi, atau faktor-faktor lainnya yang boleh dihormati sebagai dasar yang tidak pantas untuk suatu keputusan. Sebagaimana suatu sistem yang dengan jelas mempunyai ciri khas, kadangkadang merupakan suatu kebajikan, kadang-kadang merupakan kerusakan menjadi statis dan konservatif, secara umum berorientasi pada pelestarian terhadap status quo. Seorang hakim dari common law menyimpulkan, bahwa kesetiaan yang buta pada preseden ketidakadilan dalam memutuskan yang mungkin dihindari. Memulai akan menghasilkan dengan suatu suatu perkara. Ada sejumlah cara preseden

dipertimbangkan untuk menjadi mengikat bagi suatu pengadilan. hanya jika ini diputuskan oleh pengadilan yang sama atau pengadilan banding yang kedudukannya lebih tinggi dalam wilayah hukum yang sama. Preseden-preseden lainnya dari

pengadilan-pengadilan yang lebih rendah atau pengadilan dari wilayah hukum lainnya hanya bersifat persuasif belaka. Jika suatu preseden terdahulu dalam kenyataannya tidak persuasif maka hakim bebas menghormatinya. Apabila suatu preseden tidak hanya persuasif tetapi bersifat mengikat, preseden tersebut tidak mudah

29

diabaikan.

Hal

itu

mungkin

saja

terjadi,

namun

sebaiknya

dihindari: jika dalam kenyataannya kasus-kasus yang terjadi sekarang tidak memuat suatu fakta yang berisi (bahan-bahan) untuk diperlukan pada suatu keputusan yang lebih awal, maka pengadilan awal boleh "berbeda" dengan preseden tetapi tersebut, atau dan tidak membuat suatu keputusan yang berbeda. Jika preseden yang lebih adalah benar-benar mengikat, sulit mungkin untuk membedakannya maka ada satu cara lain untuk menghindari akibatnya : jika keputusan pengadilan adalah salah satu dan yang menciptakan preseden (atau adalah pengadilan lebih tinggi) (ini bukan maka secara sederhana pengadilan dapat "menolak/mengesampingkan" keputusan yang lebih awal tersebut perubahan yang berlaku surut yang berakibat bagi yang kelompok kasus yang lebih awal, tetapi melakukan perubahan aturan untuk kasus-kasus yang diputuskan dan kasus serupa berikutnya). Penolakan, dipertimbangkan terhadap suatu kegiatan yang relatif drastis dan biasanya dipersiapkan bagi instansi -instansi, yang mana pengadilan merasa bahwa aturan dibedakan oleh preseden terdahulu, yang merupakan kesalahan sederhana, itu adalah suatu ketidakadilan dalam pelaksanaannya di masyarakat, sebab selain kesulitan pada tahap permulaan, juga merupakan suatu ketertinggalan dari pembangunan masa lalu. Pada dasarnya tidak semua kasus dapat diputuskan berdasarkan Preseden. Ini disebabkan oleh hal berikut: 1. tidak adanya preseden yang eksis (hal itu tidak seperti peristiwa dalam proses masyarakat); 2. kasus yang tersedia tidak jelas . Dalam hal kasus tidak jelas maka pengadilan-pengadilan secara umum sebagai tujuan pengadilan pada

mengarah pada kebijaksanaan untuk menyelesaikan kasus. Suatu kebijaksanaan mungkin dihormati masyarakat yang akan diketengahkan oleh keputusan khusus. Kegiatan ekonomi, politik, sosial, atau moral dan mungkin harus melakukan sesuatu dengan kelompok-kelompok tersendiri atau dengan masyarakat secara keseluruhan (atau beberapa bagian

30

yang dapat diuraikan). pengadilan, bahkan bila

Seringkali suatu pengadilan melihat hal itu tidak dilaksanakan secara

kebijaksanaan masyarakat dalam undang-undang atau keputusan langsung terhadap kasus yang ada pada waktu yang lain di pengadilan akan keadilan. b. Statutory Law (Hukum Perundang-undangan) Sumber lain dari hukum kontrak adalah bersumber dari statutory of law (hukum perundang-undangan). Sumber hukum ini melengkapi hukum kebiasaan ( common law). Statutory dibangun of law merupakan sumber hukum yang tertulis. Menurut sejarahnya, hukum kontrak dalam sistem Anglo-Amerika adalah didasarkan pada common law, common law ini lebih tinggi kedudukannya dari statutory of law. Peraturan perundang-undangan ter-tulis (statutory of law), yang ada hubungan dengan hukum kontrak adalah sebagai berikut. 1. Undang-Undang Penggelapan Undang-undang penggelapan ini dibuat pertama kali di Inggris dan kemudian diberlakukan pada setiap negara bagian di Amerika Serikat. Undang-undang ini mempersyaratkan bahwa kontrak yang dibuat harus dalam bentuk tulisan agar dapat dilaksanakan oleh pengadilan. Undang-undang penggelapan itu sendiri telah dibebani oleh keputusan pengadilan yang lebih banyak kualitas hukum kebiasaannya daripada undang-undang modern. 2. Uniform Commercial Code Uniform commercial ini code tidak tetapi merupakan mengatur juga Kitab dan Undang-Undang memuat tentang semua biaya, Hukum Dagang yang berlaku secara umum di Amerika Serikat. Undang-undang transaksi dagang, mengatur muncul perasaan hakim tentang apa itu

terjadinya gangguan, ketidakmenentuan yang disebabkan oleh perbedaan antamegara-negara dalam lingkup hukum komersial.

31

3. Uniform State Laws/NCCUSL Uniform state laws/NCCUSL merupakan hukum yang berlaku umum di bawah pimpinan NewYork, sejumlah negara-negara bagian menyelenggarakan Konferensi Nasional Komisioner tentang Hukum Negara yang berlaku Umum (Uniform State

Laws/NCCUSL). Walaupun tidak mempunyai kekuatan untuk membuat hukum, NCCUSL, membuat rancangan hukum dan merekomendasikan pembuat undang-undang negara dengan seri "undang-undang yang berlaku umum", memberlakukan berbagai ketentuan dagang, seperti instrumen-instrumen yang dapat dinegoisasikan dan peraturan-peraturan standar. 4. Uniform Sales Acts Uniform sales acts merupakan undang-undang penjualan yang berlaku umum. Undang-undang ini diadopsi secara luas dan dibentuk secara besar-besaran dari ketentuan yang dapat diterapkan oleh mereka secara alami. Undang-undang ini hanya mengatur tentang tata cara menjual barang, seperti bagianbagian hak milik dan harta kekayaan, dan lain-lain. Pada tahun 1940 terhadap Uniform Sale Act dan The Uniform Connnercial Code telah diadakan pembaruan. Yang menjadi arsitek dari pembaruan kedua undang-undang itu adalah Profesor Karl Liwellyn dan ia juga perancang utama dari Pasal 2 tentang Perdagangan. Menanggapi pengaruhnya, kitab undang-undang tersebut mewakili suatu upaya tertentu untuk memberikan hukum agar dapat diterapkan pada transaksi perdagangan yang lebih cocok dengan praktik bisnis, jadi diharapkan berguna dalam bisnis. Walaupun penerimaan kedua undang-undang itu oleh negara-negara bagian agak lamban, namun seluruh atau sebagian dari UCC telah diadopsi dan sekarang ditegakkan di negara Amerika Serikat. Ketika pengadilan memutuskan suatu kasus yang diatur oleh suatu undang-undang, alasannya berbeda dengan alasan yang oleh prinsip-prinsip hukum terikat hukum untuk kebiasaan yang digunakan suatu

diterapkan. Beberapa pengadilan bahkan pengadilan tinggi dari wilayah mengikuti ketentuan undang-undang yang valid yang diterapkan untuk suatu sengketa

32

sebelumnya. Tugas ini berasal dari prinsip politik yang mendasar dari masyarakat Amerika. Pembuat undang-undang mempunyai kekuasaan dalam pembentukan hukum, demikian pula terhadap undang-undang terikat dengan berbagai kewenangan konstitusi. Dengan demikian, pembuat undang-undang dapat mengubah dan menyaring aturan hukum kebiasaan. Kadang-kadang, bahasa undang-undang mungkin tunduk pada interpretasi yang berbeda: seperti pada kasus, pengadilan biasanya menegaskan maksud legislator dalam pembuatan undang-undang, undang-undang" agar yang mengadopsi "sejarah pembentukan

terkait dengan debat legislatif , laporan panitia, dan sebagainya. Sebagaimana kita lihat, UCC mempunyai bentuk khusus tersendiri mengenai sejarah legislatif, official comments dari perancang undang-undang (itu bukan sejarah perundang-undangan yang tertulis; mereka bukan produk pembuat undang-undang negara sendiri, tetapi penulis dari official UUC yang didasarkan pada undang-undang negara yang beraneka ragam). Ketika merancang Pasal 2 UCC, Profesor Liwellyn dan rekanrekannya hukum meninggalkan tentang kontrak yakni bentuk dapat Undang-Undang diterapkan Penjualan latar (Uniform Sales Acts) yang terdahulu. Anggapan sebuah badan sebagai belakang, ketentuan tersebut termasuk dalam Kitab Undang Undang (Code), diterapkan sejumlah peraturan yang mengubah penjual barang. Peraturan tersebut aturan-aturan hukum kebiasaan tentang kontrak, seperti yang terhadap mengungkapkan prinsip-prinsip yang juga dapat diterapkan pada kontrak-kontrak selain dari penjualan barang. Pada tahun sekarang ini Pasal lain 2 pengadilan telah mulai menerapkan ketentuantidak dapat diterapkan secara langsung. ketentuan UCC dengan analogi di dalam kasus kontrak bahwa Kecenderungan ini memberikan pengaruh terhadap bentuk dari kewenangan, dengan pendekatan lebih persuasif mempunyai dampak yang sangat kuat pada daripada mengikat, hukum kontrak.

33

c. Restatements Sumber hukum sekunder adalah restatements. Restatements merupakan hasil rumusan ulang tentang hukum. Rumusan ini dilakukan tersebut karena timbulnya ketidakpastian dan kurangnya letter, itu keseragaman dalam hukum dagang (commercial law). Restatement menyerupai undang-undang, dari "aturan meliputi black pernyataan-pernyataan umum" (atau kasus

mengetengahkan konflik dengan aturan yang lebih baik). Restatements ini dilakukan oleh Institut Hukum Amerika (American Law Institute/ALI). Lembaga ini dibentuk pada tahun 1923. Proyek awal yang dijalankan oleh organisasi ini adalah : 1. Melakukan persiapan dan penyebarluasan terhadap apa yang menjadi suatu ringkasan yang akurat dan otoritatif; 2. melakukan (common ringkasan dalam terhadap berbagai aturan macam hukum bidang, kebiasaan termasuk law)

kontrak, masalah kerugian dan harta kekayaan. Restatement yang diterima dan digunakan oleh pengacara dan hakim/pengadilan, seperti restatement tentang kontrak, terutama diadopsi oleh ALI pada tahun 1932 dan diterbitkan secara gradual dalam bentuk rancangan, sekitar beberapa tahun yang lalu. Lagi pula banyak sekali pasal yang didukung dengan beberapa komentar dan ilustrasi. Tidak satu pun dan restatement ALI mengutamakan penegakan hukum seperti perlakuan terhadap undang-undang atau keputusan pengadilan secara individu. Walaupun itu merupakan sumber sekunder, restatement tersebut jarang pengadilan akan membenarkan dalam kenyataannya tidak keputusannya, (mungkin dengan dengan dibuktikan dengan pendekatan yang benar-benar persuasif, memberikan kutipan-kutipan sederhana

menyetujui adanya diskusi) tentang aturan restatement pada poinpoin yang diberikan. Dengan mengetahui bahwa hukum kontrak telah mengalami perkembangan secara substansial sejak tahun 1932, tahun 1962 ALI mulai mempersiapkan terjemahan dari restatement yang direvisi. Akhirnya melakukan adopsi pada tahun 1979. Restatements (kedua) dari kontrak mewujudkan perubahan secara filosofi dari restatement yang aslinya.

34

Restatement penyamarataan dan

pertama

cenderung

untuk atau

menekankan ongkos yang

prediksi terhadap

biaya

beraneka ragam dan fleksibel sedangkan restatement kedua, lebih banyak memberikan komentar yang mendukung catatan editorial. Restatement menyarankan kedua suatu untuk menjawab bagi beberapa kesulitan dari restatement pertama yang dipersiapkan untuk mengabaikan dan kendali keleluasaan keputusan pengadilan. Sebagaimana kami lihat, restatement (kedua) juga mencerminkan suatu derajat yang tinggi, yang memberikan pengaruh terhadap Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (UCC). Secara bahan-bahan ini memberikan referensi terhadap kedua mengatur keseluruhan

restatement pertama atau kedua. Restatement

tentang kontrak. Sedangkan Restatement ALI mengatur lainnya, seperti tentang peragenan, harta kekayaan, atau kerugian. d. Legal Commentary (Komentar Hukum) Legal commentary merupakan sumber hukum sekunder. Legal commentary dianalogkan dengan doktrin dalam hukum Kontinental. Karena commentary of law merupakan pendapat atau ajaran-ajaran dari para pakar tentang hukum kontrak. Pada dasarnya yang banyak dikomentari oleh para pakar hukum kontrak adalah tentang restatement kontrak. Restatement kontrak telah file mempunyai dampak yang kuat dalam membentuk pandangan pengadilan tentang apa yang sepatutnya dilakukan common law dan kontrak. Restatement tentang kontrak cukup mempunyai pengaruh terhadap hukum. Akan tetapi, selama bertahun-tahun telah bermacam artikel dipublikasikan, buku-buku, dan beraneka ragam risalah telah dicurahkan untuk menganalisis, mengevaluasi, tentang dan mempersatukan kontrak yang badan-badan telah yang luas kasus-kasus diakumulasi dalam

keputusan yang dilaporkan oleh pengadilan Amerika. Pengarangpengarang dari pekerjaan ini menghendaki klarifikasi hukum, untuk tujuan penyelesaian permasalahan yang tidak dapat diselesaikan, serta dalam beberapa kasus dibahas secara serius dan seringkali efektif bagi kesempatan hukum. Sejumlah penjelasan telah memberikan pengaruh dalam membentuk bagian-bagian dan hukum

35

kebiasaan kontrak. Mungkin banyak sekali hal penting (tentunya dalam pound dan mungkin juga berpengaruh) dari uraian-uraian dan dari bermacam risalah yang dikemukakan oleh Profesor Samuel Willinston dan Arthur Corbin dilaporkan mengenai restatement asli dari kontrak dan ide-ide tersebut dicerminkan dalam organisasi dan substansinya. Risalah William (pertama kali dipublikasikan tahun 1920, dan kemudian direvisi secara periodik, hal tersebut berwibawa. hingga Risalah tahun dan 1950, Profesor dan ini secara tidak karier alam berkaitan dengan respek hakim yang memandang restatement Corbins dipublikasikan mengakhiri

ilmiahnya yang panjang. Meskipun dia dan Willinston berkawan dan berteman sejawat, namun Corbin sendiri berperan dalam penulisan restatement. Secara filosofis, namun perbedaan dalam memandang hukum. keduanya terdapat Willinston cenderung

menghargai hukum sebagai bagian dari aturan yang abstrak yang mana pengadilan secara deduksi biasanya memutuskan kasus perorangan, sedangkan Corbin menghargai tugasnya sebagai sarjana hukum untuk menemukan apakah pengadilan secara aktual melakukan dan berusaha untuk menyusun temuan ke dalam apa yang disebut dengan "bekerjanya aturan-aturan hukum ". Selain pekerjaan dari kedua tokoh besar hukum kontrak tersebut, banyak penjelasan singkat yang bermunculan dalam tahun ini. Di antaranya baru-baru ini mungkin banyak dipengaruhi dua dari berbagai risalah Profesor E. Alan Famsworth, yang membantu sebagai reporter untuk restatement (kedua) kontrak. Untuk masalah-masalah yang sedang berkembang di bawah UCC, para pengacara dan hakim seringkali mengikuti James J. White dan Robert S. Summers, Kitab Undang-Undang Hukum Dagang yang seragam (Uniform Commercial Code, 3d ed. 1988 ). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa komentar-komentar para pakar hukum dalam restatement sangat membantu pengadilan dan pengacara dalan memecahkan berbagai kasus di bidang kontrak.

36

2.9 Sistem Pengaturan Hukum Kontrak Sistem pengaturan hukum kontrak adalah sistem terbuka (open system). Artinya bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur di dalam undang-undang. Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi: "Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya." Ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata memberikan kebebasan kepada para pihak untuk: 1. membuat atau tidak membuat perjanjian, 2. mengadakan perjanjian dengan siapa pun, 3. menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, dan 4. menentukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis atau lisan (Salim H.S., 1993: 100). Dalam sejarah perkembangannya, hukum kontrak pada mulanya menganut sistem tertutup. Artinya para pihak terikat pada pengertian yang di tercantum dalam undang-undang. Hal ini Ini disebabkan dilihat dan adanya dibaca pengaruh ajaran legisme yang memandang bahwa luar undang-undang. dapat tidak ada hukum

berbagaiputusan Hoge Raad dari tahun 1910 sampai dengan tahun 1919. Putusan Hoge Raad yang paling penting adalah putusan HR 1919, tertanggal 31 Januari 1919 tentang penafsiran perbuatan Perdata. Di melawan hukum, yang diatur dalam Pasal 1365 KUH hanya subjektif

dalam putusan HR 1919 definisi perbuatan melawan hukum, tidak melawan undang-undang, tetapi juga melanggar hak-hak orang lain, kesusilaan, dan ketertiban

umum. Menurut HR 1919 yang diartikan dengan perbuatan melawan hukum adalah berbuat atau tidak berbuat yang: 1. melanggar hak orang lain yang dimaksud dengan hak orang lain, bukan semua hak, tetapi hanya hakhak pribadi, seperti integritas tubuh , kebebasan, kehormatan, dan lain -lain. Termasuk dalam hal ini hak-hak absolut, seperti hak kebendaan, hak atas kekayaan intelektual (HAKI), dan sebagainya; 2. bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku kewajiban hukum hanya kewajiban yang dirumuskan dalam aturan undangundang;

37

3. bertentangan santun yang

dengan tidak

kesusilaan, tertulis yang

artinya tumbuh

perbuatan dengan

yang sopan

dilakukan oleh seseorang itu dalam masyarakat;

bertentangan

dan berkembang

4. bertentangan dengan kecermatan yang harus diindahkan dalam masyarakat, aturan tentang kecermatan terdiri atas dua kelompok, yaitu 1) aturan-aturan yang mencegah orang lain terjerumus dalam bahaya , dan 2) aturan-aturan yang melarang merugikan orang lain ketika hendak menyelenggarakan kepentingannya sendiri (Nieuwenhuis, 1985:118). Putusan HR 1919 tidak lagi terikat kepada ajaran legisme, namun telah secara bebas merumuskan pengertian perbuatan melawan hukum, sebagaimana yang dikemukakan di atas. Sejak adanya putusan HR 1919, maka sistem pengaturan hukum kontrak adalah sistem terbuka. Kesimpulannya, bahwa sejak tahun 1919 sampai sekarang sistem pengaturan hukum kontrak adalah bersifat terbuka. Hal ini didasarkan pada Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata dan HR 1919. 2.10 Asas Hukum Kontrak Di dalam hukum kontrak dikenal lima asas penting, yaitu asas kebebasan berkontrak, asas konsensualisme, asas pacta sunt servanda (asas kepastian hukum), asas iktikad baik, dan asas kepribadian. Kelima asas itu disajikan berikut ini: 2.10.1 Asas Kebebasan Berkontrak Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi: "Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya."Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk: a. membuat atau tidak membuat perjanjian, b. mengadakan perjanjian dengan siapa pun,

38

c.

menentukan isi perjanjian, pelaksanaan, dan persyaratannya, dan

d. menentukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis atau lisan. Latar belakang lahirnya asas kebebasan berkontrak adalah adanya paham individualisme yang secara embrional lahir dalam zaman Yunani, yang diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat dalam zaman renaisance melalui antara lain ajaran-ajaran Hugo de Groot, Thomas Hobbes, John Locke dan Rosseau. Menurut paham individualisme, setiap orang bebas untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Dalam hukum kontrak asas ini diwujudkan dalam "kebebasan berkontrak". Teori leisbet fair in menganggap bahwa the invisible hand akan menjamin kelangsungan jalannya persaingan bebas. Karena pemerintah sama sekali tidak boleh mengadakan intervensi di dalam kehidupan (sosial ekonomi) masyarakat. Paham individualisme memberikan peluang yang luas kepada golongan kuat (ekonomi) untuk menguasai golongan lemah (ekonomi). Pihak yang kuat menentukan kedudukan pihak yang lemah. Pihak yang lemah berada dalam cengkeraman pihak yang kuat, diungkapkan dalam exploitation de homme par lhomme. Pada akhir abad ke-19, akibat desakan paham etis dan sosialis, paham individualisme mulai pudar, terlebih-lebih sejak berakhirnya Perang Dunia II. Paham ini tidak mencerminkan keadilan. Masyarakat ingin pihak yang lemah lebih banyak mendapat perlindungan. Oleh karena itu, kehendak bebas tidak lagi diberi arti mutlak, akan tetapi diberi arti relatif dikaitkan selalu dengan kepentingan umum . namun Pengaturan substansi kontrak tidak semata-mata dibiarkan kepada para pihak perlu diawasi. Pemerintah sebagai pengemban kepentingan oleh pemerintah pemasyarakatan umum menjaga keseimbangan kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Melalui penerobosan hukum kontrak campur tangan pemerintah ini terjadi terjadi pergeseran hukum kontrak ke bidang hukum publik. Melalui (vermastchappelijking) hukum kontrak.

39

2.10.2 Asas Konsensualisme Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata. Dalam pasal itu ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya perjanjian, yaitu adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas konsensualisme merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya Kesepakatan pernyataan merupakan yang dibuat di muncul kesepakatan kedua belah pihak. antara belah kehendak pihak. dan Asas dan kedua persesuaian oleh ilhami

konsensualisme

dari hukum Romawi

hukum Jerman. Di dalam hukum German tidak dikenal asas konsensualisme, tetapi yang dikenal adalah perjanjian riil dan perjanjian formal. Perjanjian riil adalah suatu perjanjian yang dibuat dan yang dilaksanakan secara nyata (kontan dalam hukum Adat). Sedangkan yang disebut perjanjian formal adalah suatu perjanjian telah ditentukan bentuknya, yaitu tertulis (baik berupa akta akta di bawah tangan). Dalam hukum Romawi verbis literis dan contractus innominat . autentik maupun

dikenal istilah contractus

Yang artinya bahwa terjadinya perjanjian apabila memenuhi bentuk yang telah ditetapkan. Asas konsensualisme yang dikenal dalam KUH Perdata adalah berkaitan dengan bentuk perjanjian. 2.10.3 Asas Pacta Sunt Servanda Asas pacta sunt servanda atau disebut juga dengan asas kepastian hukum. Asas ini berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang. Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi: "Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang." Asas pacta sunt servanda pada mulanya dikenal dalam hukum gereja. Di dalam hukum gereja itu disebutkan bahwa terjadinya suatu perjanjian apabila ada kesepakatan kedua belah pihak dan dikuatkan dengan sumpah. Ini mengandung makna bahwa setiap perjanjian yang

40

diadakan oleh kedua pihak merupakan perbuatan yang sakral dan dikaitkan dengan unsur keagamaan. Namun, dalam perkembangannya asas pacta sunt servanda diberi arti hochun, yang berarti sepakat tidak perlu dikuatkan dengan sumpah dan tindakan formalitas lainnya. Sedangkan nudus pactum sudah cukup dengan sepakat saja. 2.10.4 Asas Iktikad Baik (Goede Trouw) Asas iktikad baik dapat disimpulkan dari Pasal (1338 ayat (3) KUH Perdata. Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata berbunyi: "Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik." Asas iktikad merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak. Asas iktikad baik dibagi menjadi dua macam. yaitu iktikad baik nisbi dan iktikad baik mutlak. Pada iktikad baik nisbi, orang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada iktikad baik mutlak, penilaiannya terletak pada akal sehat dan keadilan, dibuat ukuran yang objektif untuk menilai keadaan (penilaian tidak memihak) menurut norma-norma yang objektif. Berbagai putusan Hoge Raad yang erat kaitannya dengan penerapan asas iktikad baik disajikan berikut ini. Kasus yang akan ditampilkan di sini adalah kasus Sarong Arrest dan Mark Arrest. Kedua arrest ini berkaitan dengan turunnya nilai uang Jerman setelah Perang Dunia I (Van Dunne, dkk. 1987: 35-36). Kasus posisi Sarong Arrest sebagai berikut. Pada tahun 1918 suatu firma Belanda memesan pada pengusaha Jerman sejumlah sarong dengan harga sebesar 100.000,-. Karena keadaan memaksa sementara, penjual dalam waktu tertentu tidak dapat menyerahkan pesanan. Setelah keadaan memaksa berakhir, pembeli menuntut pemenuhan prestasi. Tetapi sejak diadakan perjanjian keadaan sudah banyak berubah dan penjual bersedia memenuhi pesanan tetapi dengan harga yang lebih tinggi, karena apabila harga tetap sama ia akan menderita kerugian, yang berdasarkan iktikad baik antara para pihak tidak dapat dituntut darinya. Pembelaan yang ia (penjual) ajukan atas dasar Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata dikesampingkan oleh Hoge Raad dalam arrest

41

tersebut. Menurut putusan Hoge Raad tidak mungkin satu pihak dari suatu perikatan atas dasar perubahan keadaan bagaimanapun sifatnya, berhak berpatokan pada iktikad baik untuk mengingkari janjinya yang secara jelas dinyatakan Hoge Raad masih memberi mengubah keseluruhan. ringan, jika harapan inti hat tentang perjanjian itu bukan hal ini atau dengan suatu memformulasikan putusan perubahan yang inti : mengesampingkan secara lebih atau

Dapatkah

diharapkan

merupakan

mengesampingkan secara keseluruhan. Putusan Hoge Raad ini selalu berpatokan pada saat dibuatnya kontrak oleh para pihak.apabila pihak pemesan sarong sebanyak yang dipesan maka penjual harus melaksanakan isi perjanjian tersebut, karena didasarkan bahwa perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Begitu juga dengan Mark Arrest. Kasus posisinya sebagai berikut. Sebelum Perang Dunia I seorang Jerman memberi sejumlah pinjaman uang kepada seorang Belanda pada tahun l924. Dari jumlah tersebut masih ada sisa pinjaman tetapi karena sebagai akibat peperangan nilai mark sangat turun maka dengan jumlah sisa tersebut hampir tidak cukup untuk membeli prangko sehingga dapat dimengerti kreditur meminta pembayaran jumlah yang lebih tinggi atus dasar devaluasi tersebut. Namun. Pasal 1756 KUH Perdata menyatakan: "Jika sebelum saat pelunasan terjadi suatu kenaikan atau kemunduran harga atau ada perubahan mengenai berlakunya mata uang maka pengembalian jumlah yang dipinjam harus dilakukan dalam mata uang yang berlaku pada saat itu." Hoge Raad menimbang bahwa tidak nyata para pihak pada waktu mengadakan perjanjian bermaksud untuk mengesampingkan ketentuan yang bersifat menambah dan memutuskan bahwa orang Belanda cukup mengembalikan jumlah uang yang sangat kecil itu. Hakim menurut badan peradilan yang tertinggi ini, tidak berwenang atas dasar iktikad baik atau kepatutan mengambil tindakan terhadap undang-undang yang bersifat menambah. Putusan mark arrest ini sama dengan sarong arrest, bahwa hakim terikat pada asas iktikad baik, artinya hakim dalam memutus perkara didasarkan pada saat terjadinya jual beli atau

42

pada saat pinjam-meminjam uang. Apabila orang Belanda meminjam uang sebanyak 1.000,-, maka orang Belanda tersebut harus mengembalikan sebanyak tersebut diatas, walaupun dari pihak peminjam berpendapat bahwa telah terjadi devaluasi uang. Lain halnya dengan di Indonesia. Pada tahun 1997, kondisi negara pada saat itu mengalami krisis moneter dan ekonomi, pihak perbankan telah mengadakan perubahan suku bunga bank secara sepihak tanpa diberitahu kepada nasabah. Pada saat perjanjian kredit dibuat disepakati suku bunga bank sebesar 16% pertahun, namun setelah terjadi krisis moneter, suku bunga bank naik menjadi 21-24 %/tahun. Ini berarti bahwa pihak nasabah berada pada pihak yang dirugikan, karena kedudukan nasabah berada pada posisi yang lemah. Oleh karena itu, pada masa-masa yang akan datang pihak kreditur harus melaksanakan isi kontrak sesuai dengan yang telah disepakatinya, yang didasarkan pada iktikad baik. 2.10.5 Asas Kepribadian (Personalitas) Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUH Perdata. Pasal 1315 KUH Perdata berbunyi: "Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya sendiri ." Inti ketentuan ini bahwa seseorang yang mengadakan perjanjian hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Pasal 1340 KUH Perdata berbunyi: "Perjanjian hanya berlaku antara pihak yang membuatnya."Ini berarti bahwa perjanjian yang dibuat oleh para pihak hanya berlaku bagi mereka yang membuatnya. Namun, ketentuan itu ada pengecualiunnya, sebagaimana yang diintrodusir dalam Pasal 1317 KUH Perdata, yang berbunyi:"Dapat pula perjanjian diadakan untuk kepentingan pihak ketiga, bila suatu perjanjian yang dibuat untuk diri sendiri, atau suatu pemberian kepada orang lain, mengandung suatu syarat semacam itu. Pasal ini mengkonstruksikan bahwa seseorang dapat mengadakan perjanjian untuk kepentingan pihak ketiga, dengan suatu syarat yang ditentukan. Sedangkan di dalam Pasal 1318 KUH perdata, tidak hanya mengatur perjanjian untuk

43

diri sendiri, tetapi juga untuk kepentingan ahli warisnya dan untuk orang-orang yang memperoleh hak dari padanya. Jika dibandingkan kedua pasal itu maka dalam Pasal 1317 KUH Perdata mengatur tentang perjanjian untuk pihak ketiga, sedangkan dalam Pasal 1318 KUH Perdata untuk kepentingan: a. dirinya sendiri , b. ahli warisnya, dan c. orang-orang yang memperoleh hak dari padanya. Pasal 1317 KUH Perdata mengatur tentang pengecualiannya, sedangkan Pasal 1318 KUH Perdata, ruang lingkupnya yang luas. para pihak, pasti Kewarganegaraan dapat Di dalam setiap kontrak yang dibuat oleh umur, tempat domisili, erat dan kewarganegaraan. apakah yang

dicantumkan identitas dari subjek hukum, yang meliputi nama, berhubungan dengan bersangkutan

melakukan perbuatan hukum tertentu, seperti jual beli tanah hak milik. Orang asing tidak dapat memiliki tanah hak milik, karena kalau orang asing diperkenankan untuk memiliki tanah hak milik maka yang bersangkutan dapat membeli semua tanah yang dimiliki masyarakat. Mereka mempunyai modal yang besar, dibandingkan dengan masyarakat kita. WNA hanya diberikan untuk mendapatkan HGB, HGU, dan hak pakai. Disamping kelima asas itu, didalam Loka karya Hukum Hukum Perikatan yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan

Nasional, Departemen Kehakiman dari tanggal 17 sampai dengan tanggal 19 Desember 1985 telah berhasil dirumuskan delapan asas hukum perikatan nasional. Kedelapan asas itu: asas kepercayaan, asas persamaan hukum, asas keseimbangan, asas perlindungan. Kedelapan asas itu berikut ini: 1. Asas kepercayaan Asas kepercayaan mengandung pengertian bahwa setiap orang yang akan mengadakan perjanjian akan memenuhi setiap prestasi yang diadakan mereka di belakang hari. 2. Asas persamaan hukum Yang dimaksud dengan asas persamaan hukum adalah bahwa subjek hukum yang mengadakan perjanjian kepastian hukum, asas moral, asas kepatutan, asas kebiasaan, dan asas

44

mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama dalam hukum. Mereka tidak dibeda-bedakan antara satu sama lain, walaupun subjek hukum itu berbeda wama kulit, agama, dan ras. 3. Asas keseimbangan Asas keseimbangan adalah asas yang menghendaki kedua belah pihak memenuhi dan melaksanakan perjanjian. Kreditur mempunyai kekuatan untuk menuntut prestasi dan diperlukan dapat menuntut pelunasan prestasi jika melalui

kekayaan debitur namun debitur memikul pula kewajiban untuk melaksanakan perjanjian itu dengan iktikad baik. 4. Asas kepastian hukum Perjanjian sebagai figur hukum harus mengandung kepastian hukum Kepastian ini terungkap dan kekuatan mengikatnva perjanjian, yaitu sehari undang-undang bagi yang membuatnya. 5. Asas moral Asas moral ini terikat dalam perikatan wajar, yaitu suatu perbuatan sukarela dari seseorang tidak dapat menuntut hak baginya untuk menggugat prestasi dari pihak debitur. Hal ini terlihat dalam zaakwameniming yaitu seseorang melakukan perbuatan mempunyai dengan sukarela (moral). untuk Salah Yang satu bersangkutan dan yang faktor kewajiban hukum meneruskan

menyelesaikan

perbuatannya.

memberikan motivasi pada yang bersangkutan melakukan perbuatan hukum itu adalah didasarkan pada kesusilaan (moral) sebagai panggilan hati nuraninya. 6. Asas kepatutan Asas kepatutan tertuang dalam Pasal 1339 KUH Perdata. Asas ini berkaitan dengan ketentuan mengenai isi perjanjian. 7. Asas kebiasaan Asas ini dipandang sebagai bagian dari perjanjian. Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk apa yang secara tegas diatur, akan tetapi juga hal-hal yang menurut kebiasaan lazim diikuti. 8. Asas perlindungan ( protection) Asas perlindungan mengandung penger -tian bahwa antara

45

debitur dan kreditur harus dilindungi oleh hukum. Namun, yang perlu mendapat perlindungan itu adalah pihak debitur, karena pihak debitur berada pada pihak yang lemah. Asas-asas inilah yang menjadi dasar pijakan dari para pihak dalam menentukan dan membuat kontrak. 2.11 Unsur-Unsur Kontrak 2.11.1 Aturan Hukum - Setiap kontrak selalu terdiri atas aturan hukum (rule of law) yang di susun dengan cara menggunakan kata-kata sendiri (rumusan kontrak) oleh pihak-pihak maupun dikutip dari ketentuan undang-undang, yurisprudensi, atau konversi. 2.11.2 Subjek Kontrak - Subjek kontrak adalah pihak-pihak dalam kontrak sebagai pelaku utama di samping kemungkinan adanya pihak lain yang berkepentingan dengan kontrak yang bersangkutan - Subjek kontrak subjek hukum (manusia dan badan hukum). - Identitas subjek kontrak harus di tulis dengan jelas. 2.11.3 Kesepakatan Pihak-pihak - Kesepakatan pihak-pihak adalah kesesuaian kehendak antara pihakpihak tentang isi kontrak persetujuan yang mengikat pihak-pihak mengenai isi kontrak yang di buat oleh mereka. Pada dasarnya isi kontrak merupakan hak dan kewajiban pihakpihak, syarat dan prosedur pemenuhan, serta tanggung jawan pihak-pihak apabila terjadi wan prestasi dan cara penyelesaiannya, dan juga akibat hukumnya. 2.11.4 Prestasi Pihak-pihak Prestasi adalah hal wajib di penuhi pihak-pihak guna mencapai tujuan yang di kehendaki pasal 1234 KUHPdt: a. Memberikan sesuatu b. Melakukan sesuatu

46

2.12 Soal dan Jawaban 1. Sebutkan dan jelaskan macam-macam sistem hukum di dunia! Sistem Hukum Eropa Kontinental Berkembang di negara-negara Eropa (istilah lain Civil Law = hukum Romawi). Dikatakan hukum Romawi karena sistem hukum ini berasal dari kodifikasi hukum yang berlaku di kekaisaran Yustinianus merupakan yang Romawi pada masa M). dari masa Pemerintahan Kaisar Kodifikasi hukum itu berbagai kaidah abad 5 (527-565 kumpulan ada sebelum

hukum

Yustinianus yang disebut Corpus Juris Civilis (hukum yg terkodifikasi). Corpus Juris Civilis dijadikan prinsip dasar dalam perumusan dan kodifikasi hukum di negaranegara Eropa daratan seperti Jerman, Belanda, Prancis, Italia, Amerika Latin, Asia (termasuk Indonesia pada masa penjajahan Belanda). Artinya adalah menurut sistem ini setiap hukum harus dikodifikasikan sebagai daar berlakunya hukum dalam suatu negara. Sistem Hukum Anglo Saxon Mula-mula berkembang di negara Inggris, dan dikenal dgn istilah Common Law atau Unwriten Law (hukum tidak tertulis). Sistem hukum common law ini dianut oleh negaranegara yang berbahasa Inggris beserta dengan persemakmurannya, seperti negara Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan Australia. Kecuali negara bagian Lousiana di Amerika Serikat dan provinsi Quebec di Kanada yang menganut sistem hukum civil law. Sistem Hukum Adat Hukum adat adalah sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia dan negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, India, dan Tiongkok. Hukum adat adalah hukum asli bangsa Indonesia. Sumbernya adalah peraturan-peraturan hukum tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dan

47

dipertahankan dengan kesadaran hukum masyarakatnya. Karena peraturan-peraturan ini tidak tertulis dan tumbuh kembang, maka hukum adat memiliki kemampuan menyesuaikan diri dan elastis. Selain itu dikenal pula masyarakat hukum adat yaitu sekelompok orang yang terikat oleh tatanan hukum adatnya sebagai warga bersama suatu persekutuan hukum karena kesamaan tempat tinggal ataupun atas dasar keturunan. Di Indonesia asal mula istilah hukum adat adalah dari istilah Adatrecht yang dikemukakan oleh Snouck Hugronje. Sistem Hukum Islam Suatu sistem hukum yang mendasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah (kitab Al-quran) dan rasul-nya (kitab hadis) kemudian disebut dengan syariat atau hasil pemahaman ulama terhadap ketentuan di atas (kitab fiqih) kemudian disebut dengan ijtihad yang menata hubungan manusia dengan allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan benda. Sistem hukum Islam berasal dari Arab, kemudian berkembang ke negaranegara lain seperti negara-negara Asia, Afrika, Eropa, Amerika secara individual maupun secara kelompok. 2. Apa yang dimaksud dengan kontrak? Kontrak (Perjanjian) adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seseorang yang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Yang bertugas untuk melaksanakan kontrak adalah mereka yang menjadi subjek dalam kontrak. Bentuk perjanjian itu berupa suatu rangkaian perkataan yang mengandung janji-janji atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis.

48

3. Apa yang melandasi dibuatnya kontrak? Era reformasi adalah era perubahan. Perubahan disegala bidang kehidupan demi tercapainya kehidupan yang lebih baik. Salah satunya adalah dibidang hukum. Dalam bidang hukum, diarahkan pada pembentukan peraturan perundang-undangan yang memfasilitasi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam, seperti politik & ekonomi dan menegakkan hukum tersebut. Setiap kegiatan baik itu kecil ataupun besar, tidak luput dari penipuan, ataupun pembatalan perjanjian, sehingga semua masalah itu harus dihindari. Dengan kontrak yang tertulis, semua pihak akan sulit membatal perjanjian dengan sesukanya.

4. Apa yang dimaksud dengan Sistem Pengaturan Hukum Kontrak? Sistem pengaturan hukum kontrak adalah sistem terbuka (open system). Artinya bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur di dalam undang-undang. Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi: "Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya." 5. Sebutkan dan jelaskan asas hukum kontrak? Asas Kebebasan Berkontrak Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi: "Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya. Asas Konsensualisme Asas konsensualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUH Perdata. Dalam pasal itu ditentukan bahwa

49

salah

satu

syarat

sahnya

perjanjian,

yaitu

adanya

kesepakatan kedua belah pihak. Asas konsensualisme merupakan asas yang menyatakan bahwa perjanjian pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan merupakan persesuaian antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak. Asas konsensualisme muncul di ilhami dari hukum Romawi dan hukum Jerman. Asas Pacta Sunt Servanda Asas pacta sunt servanda atau disebut juga dengan asas kepastian hukum. Asas ini berhubungan dengan akibat perjanjian. Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang. Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi: "Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang." Asas pacta sunt servanda pada mulanya dikenal dalam hukum gereja. Asas Iktikad Baik (Goede Trouw) Asas iktikad baik dapat disimpulkan dari Pasal (1338 ayat (3) KUH Perdata. Pasal 1338 ayat (3) KUH Perdata berbunyi: "Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik." Asas iktikad merupakan asas bahwa para pihak, yaitu pihak kreditur dan debitur harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak. Asas iktikad baik dibagi menjadi dua macam. yaitu iktikad baik nisbi dan iktikad baik mutlak. Pada iktikad baik nisbi, orang memperhatikan sikap dan tingkah laku yang nyata dari subjek. Pada iktikad baik mutlak, penilaiannya terletak pada akal sehat dan keadilan, dibuat ukuran yang objektif untuk menilai keadaan

50

(penilaian objektif.

tidak

memihak)

menurut

norma-norma

yang

Asas Kepribadian (Personalitas) Asas kepribadian merupakan asas yang menentukan bahwa seseorang yang akan melakukan dan atau membuat kontrak hanya untuk kepentingan perseorangan saja. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1315 dan Pasal 1340 KUH Perdata. Pasal 1315 KUH Perdata berbunyi: "Pada umumnya seseorang tidak dapat mengadakan perikatan atau perjanjian selain untuk dirinya seseorang yang sendiri ." Inti ketentuan ini bahwa hanya untuk mengadakan perjanjian

kepentingan dirinya sendiri.

51

BAB III Penutup


3.1 Kesimpulan Sejarah hukum kontrak pada dasarnya mengacu kepada sistem hukum yang dianut oleh berbagai Negara-negara di dunia. Ada beberapa sistem hukum yang mempengaruhi sistem hukum yang di anut oleh berbagai Negara di dunia, antara lain : 1. Sistem hukum eropa continental 2. Sistem hukum Anglo Saxon 3. Sistem hukum adat 4. Sistem hukum islam

Kontrak atau perjanjian adalah peristiwa dimana seseorang berjanji kepada seseorang yang lain atau dimana dua orang itu saling
berjanji untuk melaksanakan suatu hal. Hukum Perjanjian di Indonesia menganut ketentuan dari Belanda yang dapat dilihat dalam Buku III KUH Perdata, yang mana

mendasarkan pada tiga prinsip : 1. Prinsip kewajiban para pihak 2. Prinsip kebebasan berkontrak 3. Prinsip Konsensualisme Sedangkan bentuk kontrak dapat di buat kepada dua bentuk, yaitu lisan dan tertulis. Sumber hokum kontrak dapat di sajikan kedalam dua bentuk, antara lain : 1. Sumber hokum kontrak dalam civil low 2. Sumber hokum kontrak Amerika

52

Di dalam hukum kontrak dikenal lima asas penting, yaitu asas kebebasan berkontrak, asas konsensualisme, asas pacta sunt servanda (asas kepastian hukum), asas iktikad baik, dan asas kepribadian.

53

DAFTAR PUSTAKA
1. Pengantar Hukum Adat Indonesia Edisi II, TARSITO, Bandung. 2. Hilman H, 1992, Pengantar Ilmu Hukum Adat Indonesia, Mandar Maju,Bandung. 3. Mahadi, 1991, Uraian Singkat Tentang Hukum Adat, Alumni, Bandung. 4. Moh. Koesnoe, 1979, Catatan-Catatan Terhadap Hukum Adat Dewasa Ini, Airlangga University Press. 5. Seminar Hukum Nasional VII, Jakarta, 12 s/d 15 Oktober 1999. Djaren Saragih, 1984 6. Soerjo W, 1984, Pengantardan Asas-asas Hukum Adat, P.T. Gunung Agung. 7. Soemardi Dedi, SH. Pengantar Hukum Indonesia, IND-HILL-CO Jakarta. 8. Soekamto Soerjono, Prof, SH, MA, Purbocaroko Purnadi, Perihal Kaedah Hukum, Citra Aditya Bakti PT, Bandung 1993 9. Djamali Abdoel R, SH, Pengantar hukum Indonesia, Raja Grafindo Persada PT, Jakarta 1993. 10. Tim Dosen UI, Buku A Pengantar hukum Indonesia 11. http://ocw.usu.ac.id/course/download/10500000010-hukum perusahaan/.kn_508_slide_ 12. istilah_dan_pengertian_hukum_kontrak.pdf 13. http://gemaisgery.blogspot.com/2010/06/pengertian-kontrak.html 14. http://www/findthatfile.com/search-3468163-hPDF/downloaddocuments-doc_legaladvices_09012009.pdf.htm 15. Sumber : http://riau.kemenag.go.id/index.php?a=artikel&id=12097

54