Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KASUS I MODUL FORENSIK Seorang Laki-laki Ditemukan dengan Leher Terikat Lengan Baju

Kelompok IV

Meikhel Alexander Wijaya Meilinda Vitta Sari Meita Kusumo Putri Melati Hidayanti Melissa Mauli Sibarani Melissa Aslamia Aslim Mentari Mirad Aditya M. Satrio Faiz M. Haikal Bakry Monica Olivine Monica Windy M. Alfi Aulya Muhammad Andanu Yunus

030.10.172 030.10.173 030.10.174 030.10.175 030.10.176 030.10.177 030.10.178 030.10.179 030.10.180 030.10.181 030.10.182 030.10.183 030.10.184 030.10.185

Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta, Indonesia 6 Oktober 2012

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI BAB I BAB II BAB III : PENDAHULUAN : SKENARIO KASUS : PEMBAHASAN 1. PERKIRAAN KRONOLOGIS KASUS 2. ASPEK HUKUM 3. PROSEDUR MEDIKOLEGAL 4. INTERPRETASI TEMUAN 5. IDENTIFIKASI FORENSIK 6. PEMERIKSAAN MEDIS 7. TANATOLOGI 8. VISUM ET REPERTUM BAB IV BAB V BAB VI : TINJAUAN PUSTAKA : KESIMPULAN : DAFTAR PUSTAKA

1 2 3

4 4 5 6 8 10 13 14 17 21 22

BAB I PENDAHULUAN

Ilmu Kedokteran Forensik, juga dikenal dengan nama Legal Medicine, adalah salah satu cabang spesialistik dari Ilmu Kedokteran, yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan.1 Dalam perkembangan lebih lanjut, ilmu Kedokteran Forensik tidak semata-mata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan keadilan di lingkup pengadilan saja, tetapi juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lain. Untuk dapat memberi bantuan yang maksimal bagi pelbagai keperluan tersebut di atas, seorang dokter dituntut untuk dapat memanfaatkan ilmu kedokterannya secara optimal. Untuk menjalankan fungsinya sebagai dokter yang diminta membantu dalam pemeriksaan kedokteran forensik oleh penyidik, dokter tersebut dituntut oleh undang-undang untuk melakukannya dengan sejujur-jujurnya serta menggunakan pengetahuan yang sebaikbaiknya. Oleh karena itu, dalam bidang ini dipelajari tata laksana mediko-legal, tanatologi, traumatologi, toksikologi, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait, agar semua dokter dalam memenuhi kewajibannya membantu penyidik, dapat benar-benar memanfaatkan segala pengetahuannya untuk kepentingan peradilan serta kepentingan lain yang bermanfaat bagi kehidupan.

BAB II SKENARIO KASUS


Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Ia mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju yang lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk, namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Perlu diketahui bahwa rumah terdekat dari TKP adalah 2 km. TKP adalah suatu daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat.

BAB III PEMBAHASAN


I. Perkiraan Kronologis Kasus Dua orang laki-laki, Tn. A dan temannya, akan melakukan kegiatan berkemah di suatu perbukitan daerah X. Saat sudah memasuki daerah hutan, teman Tn. A mengajak untuk beristirahat sejenak sambil mencari air untuk kebutuhan berkemah nanti. Pada saat itu, cuaca memang sangat terik, sehingga ketika sampai di dekat sungai, saat turun dari mobil, Tn. A membuka kaos oblongnya serta menggulung celana panjangnya. Kemudian Tn. A berjalan ke arah sungai. Ternyata sungai sudah mengering akibat kemarau yang berkepanjangan, sehingga Tn. A bergegas kembali ke mobil untuk memberitahukan temannya. Sesaat akan sampai mobil, ternyata Tn. A tiba-tiba diserang menggunakan golok yang memang sudah dipersiapkan oleh temannya. Teman Tn. A memang bermaksud untuk membunuh akibat dendam pribadi. Semula teman Tn. A akan menusuk dada bagian kiri, tetapi karena Tn. A menghindar, sehingga yang terkena adalah ketiak bagian kiri yang mengakibatkan perdarahan hebat di daerah tersebut akibat luka bacok. Tn. A masih sempat berlari ke arah sungai sambil memegang ketiak kiri yang terus mengeluarkan darah yang sangat banyak, tetapi dengan keadaan yang mulai melemah, temannya masih mencoba untuk membunuh Tn. A, namun Tn. A masih melakukan perlawanan dengan menendang memakai kakinya sehingga tungkai bawahnya terkena luka sayatan berkali-kali dan akhirnya Tn. A terjatuh dan mulai tidak sadar karena perdarahan hebat di ketiak kiri sehingga ia tergeletak. Melihat Tn. A tidak sadarkan diri, temannya menjerat Tn. A menggunakan kaos oblong Tn. A dan mengikatkannya pada pohon perdu untuk memanipulasi pembunuhan itu dan menghilangkan jejaknya.

II. Aspek Hukum Aspek hukum yang terkait dalam kasus pembunuhan atau penganiayaan yang menyebabkan kematian adalah sebagai berikut.2 1. Pasal 338 KUHP Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun penjara.
4

2. Pasal 339 KUHP Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. 3. Pasal 340 KUHP Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima tahun. 4. Pasal 354 KUHP (1) Barangsiapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana paling lama sepuluh tahun. 5. Pasal 355 KUHP (1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

III. Prosedur Medikolegal 1. Penemuan Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati oleh warga masyarakat atau orang yang melihat dan menemukan. 2. Pelaporan Dilakukan oleh orang yang menemukan ke pihak yang berwajib, contohnya kepolisian RI. 3. Penyelidikan
5

Dilakukan oleh penyelidik yang menindak-lanjuti pelaporan, untuk mengetahui apakah benar ada kejadian pembunuhan seperti yang dilaporkan. 4. Penyidikan Dilakukan oleh penyidik. Penyidikan merupakan tindak lanjut setelah diketahui benarbenar telah terjadi pembunuhan pada kasus ini. Penyidik dapat meminta bantuan seorang ahli. Dalam kasus pembunuhan yang mengenai tubuh manusia, maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan dan penyidikan dengan kedokteran forensik. Penyidik wajib meminta secara resmi melalui surat tertulis kepada instansi kesehatan bagian kedokteran forensik untuk melakukan pemeriksaan korban. 5. Pemberkasan perkara Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensik yang dimintakan kepada dokter. Kemudian hasil berkas perkara ini akan diteruskan ke penuntut umum. 6. Penuntutan Dilakukan oleh penuntut umum di sidang pengadilan setelah berkas perkara yang lengkap diajukan ke pengadilan. 7. Persidangan Persidangan pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim. Dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa pembunuhan, para saksi dan juga para ahli. Dan sebaiknya dokter atau pemeriksa korban dapat dihadirkan di sidang pengadilan ini sebagai saksi ahli. 8. Putusan pengadilan Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan: Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu pembunuhan di kasus ini dan terdakwa memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut. Keyakinan hakim ini harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah. IV. Interpretasi Temuan Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam keadaan mati tertelungkup. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui
6

sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju tersebut. (Keterangan ini menggambarkan keadaan korban yang seolah-olah mati disebabkan karena gantung diri dengan posisi berbaring tertelungkup) Namun masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. (Temuan ini menyingkirkan bahwa korban mati bunuh diri. Karena luka yang ditemukan merupakan tanda dari kekerasan benda tajam yang mengarah pada pembunuhan disertai penganiayaan. Temuan jeratan pada leher hanya manipulasi dari pelaku agar orang menduga korban mati bunuh diri) (Putusnya pembuluh darah ketiak merupakan mekanisme dari kematian korban, karena pembuluh darah ketiak merupakan salah satu pembuluh darah besar dari bagian tubuh. Dimana kekerasan akibat benda tajam menjadi penyebab putusnya pembuluh darah, kekerasan tersebut berupa luka bacok. Luka berupa bacokan memiliki ciri-ciri, yaitu kedua sudut lancip dan relatif dalam, bentuk garis lurus, tak ada lecet atau memar di sekitar luka, tepi dinding rata, folikel rambut terpotong, serta tidak ada jembatan jaringan) (Beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang juga memiliki ciriciri yang sesuai akibat benda tajam. Hal ini dapat terjadi akrena korban sempat melakukan perlawanan dengan kakinya sehingga kaki terluka berupa luka sayatan. Luka sayatan tersebut memiliki ciri kedua sudut lancip dan relatif superfisial, bentuk garis lurus, tak ada lecet atau memar sekitar luka, tepi dinding rata, folikel rambut terpotong, serta tidak ada jembatan jaringan) Korban mengenakan kaos oblong dan celana panjang yang bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai di bawahnya. (Diduga korban bukan warga sekitar TKP, karena dilihat dari kaos dan celana panjang yang bermerek. Korban menggulung celananya karena kondisi cuaca yang terik serta korban berniat mengambil air di sungai yang ternyata sudah mengering.)
7

Tubuh mayat telah membusuk (Diduga korban telah meninggal lebih dari 24 jam yang lalu) Rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah daerah perbukitan yang berhutan cukup lebat (Pembunuhan berlangsung di tempat tersebut karena letaknya jauh dari pemukiman sehingga memberi kesempatan serta memudahkan pelaku untuk melakukan tindak kejahatan tersebut)

V. Identifikasi Forensik Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu penyidik untuk menemukan identitas seseorang. Identitas seseorang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif. Penentuan identitas personal dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan, indentifikasi medik, pemeriksaan gigi, dan pemeriksaan serologi, serta akhir-akhir ini dikembangkan metode DNA. a. Pemeriksaan sidik jari Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante mortem. Setelah mengambil sidik jari jenazah (cap) hasil dapat diberikan kepada pihak yang berwajib. b. Metode visual Jenazah Tn. A sudah membusuk, maka metode ini kurang efektif dilakukan, karena metode visual hanya efektif apabila didapatkan jenazah yang belum membusuk. c. Pemeriksaan dokumen Tidak ditemukan dompet ataupun dokumen dan kartu identifikasi lainnya pada pakaian korban. d. Pemeriksaan pakaian dan perhiasan Dari pakaian dan perhiasan yang dipakai jenazah, mungkin dapat diketahui merek atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya dapat membantu identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan jenazah. Pada pemeriksaan didapatkan mayat berpakaian: Atas: kaos oblong berwarna biru tua dengan merek Polo ukuran M terdapat darah
8

yang telah mengering pada bagian dada dan perut kiri korban. Bawah: celana panjang berwarna hitam merek Lea Jeans dengan dua buah saku bagian belakang dan satu buah saku masing-masing pada bagian kanan dan kiri yang bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Pada bagian depan atas celana terdapat bercak darah. Celana dalam berwarna hitam dengan tulisan Crocodile. Celana dalam ini sedikit berlumuran darah pada bagian depan atas sebelah kiri. e. Identifikasi medik Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata, cacat/kelainan khusus, tattoo (rajah). Metode ini mempunyai nilai cukup tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan melakukan berbagai cara/modifikasi sehingga ketepatannya cukup tinggi. Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, perkiraan umur dan tinggi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya. Pada pemeriksaan didapatkan bahwa mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih dua puluh lima tahun, kulit berwarna putih, gizi cukup, panjang badan 172 cm dan berat badan 65 kg serta zakar disunat. Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lebat dan panjang 7 cm. Hidung berbentuk normal dan kedua daun telinga berbentuk normal, tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur berbentuk bias tidak terdapat kelainan. f. Pemeriksaan gigi Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi serta rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi dan sebagainya. Hasil pemeriksaan dibandingkan dengan data ante mortem. Pada mayat didapatkan gigi geligi lengkap kecuali geraham depan pertama rahang atas sebelah kanan yang tidak ada. g. Pemeriksaan serologik Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah.

Pemeriksaan golongan darah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang.

VI. Pemeriksaan Medis Pemeriksaan Luar 1. Label mayat: sehelai karton berwarna merah muda dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan mayat. 2. Tutup mayat: 3. Bungkus mayat: 4. Pakaian: Korban menggunakan kaos oblong berwarna biru tua dengan merek Polo dan ukuran M yang berlumuran darah di bagian dada dan perut kiri tubuh korban dan celana panjang berwarna hitam dengan merek Lea Jeans dengan dua buah saku di bagian belakang dan satu buah saku masing-masing pada bagian kanan dan kiri yang dbagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Pada bagian depan atas celana terdapat bercak darah, serta celana dalam berwarna hitam dengan tulisan Crocodile. Celana dalam ini sedikit berlumuran darah pada bagian depan atas sebelah kiri. Lehernya terikat lengan baju dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. 5. Perhiasan: tidak ditemukan 6. Benda di samping mayat: pohon perdu setinggi 60 cm dan bebatuan 7. Tanda kematian: Lebam mayat: dilakukan pencatatan letak dan distribusi lebam. Pada kasus ini korban ditemukan dalam posisi tertelungkup, sehingga lebam mayat akan ditemukan pada bagian perut dan dada korban. Dan lebam mayat tidak hilang pada penekanan dan tidak dapat berpindah. Lebam mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit paska mati dan akan menetap 8-12 jam. Kaku mayat: mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis dan distribusinya dimulai dari kepala ke kaki. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap. Suhu tubuh: akan menurun akibat berhentinya proses metabolisme, hal ini dipengaruhi juga oleh suhu lingkungan sekitar korban dan keadaan korban yang hanya menggunakan kaos oblong. Pembusukan: tanda pembusukan tampak pertama kali pada kulit perut sebelah kanan bawah yang berwarna kehijau-hijauan. Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati. Pada kasus ini telah ditemukan adanya pembusukan, jadi perkiraan saat
10

kematian pada korban ini adalah lebih dari 24 jam. 8. Identifikasi umum: Jenis kelamin Bangsa Ras Umur Warna kulit Keadaan gizi Tinggi badan Berat badan : laki-laki : Indonesia : Jawa : 25 tahun : putih : cukup : 172 cm : 65 kg

9. Identifikasi khusus: Tattoo Jaringan parut Anomali :::-

10. Pemeriksaan rambut: hitam dan lurus 11. Pemeriksaan mata: tertutup, tidak ada gambaran perbendungan mata dan tidak ada bintikbintik perdarahan pada konjungtiva bulbi dan palpebra. 12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung: tidak terdapat busa atau cairan dan darah. 13. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut: terdapat luka lecet jenis tekan atau geser dan luka memar pada bagian/permukaan bibir akibat bibir terdorong dan menekan gigi, gusi dan lidah. Tidak ditemukan busa halus. 14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan: tidak ada kelainan. 15. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan: Letak luka: ditemukan adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri. Jenis luka: luka terbuka yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus dan luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Arah luka: melintang Tepi luka: rata dan teratur Sudut luka: kedua sudut luka lancip
11

Dasar luka: dalam luka tidak melebihi panjang luka Ukuran luka: 11 cm

16. Pemeriksaan terhadap patah tulang: tidak ada tanda patah tulang

Pemeriksaan Dalam 1. Lidah 2. Tonsil 3. Kerongkongan 4. Batang tenggorok 5. Rawan gondok : tidak ada bekas gigitan dan masih utuh : tidak ada kelainan : tidak ditemukan benda asing : tidak ditemukan busa : terdapat sedikit resapan darah

6. Arteria karotis interna : tidak terdapat kerusakan 7. Kelenjar timus 8. Paru-paru 9. Jantung : ditemukan thymic fat body : tidak tampak adanya edema : sebesar kepalan tangan kanan mayat. Selaput luar tampak licin, tidak terdapat bintik perdarahan. 10. Aorta thorakalis 11. Aorta abdominalis 12. Ginjal: Bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal sebelah kanan sembilan puluh gram dan yang kiri seratus gram. 13. Hati, kandung empedu, dan pankreas: Hati berwarna coklat, permukaan rata, tepi tajam dan perabaan kenyal. Penampang hati berwarna merah-coklat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu dua ratus lima puluh gram. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendir berwarna hijau. Saluran empedu tidak menunjukkan penyumbatan. 14. Limpa dan kelenjar getah bening: Limpa penampang berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa seratus sepuluh gram. 15. Lambung dan usus: Lambung selaput lendir berwarna putih dan menunjukkan lipatan yang biasa, tidak
12

: tidak ada kelainan : tidak ada kelainan

terdapat kelainan. Usus tidak ada kelainan. 16. Otak besar, otak kecil, dan batang otak: tidak ada kelainan 17. Alat kelamin dalam: tidak ada kelainan

VII. Tanatologi Aspek tanatologi pada kasus ini, yaitu: Tubuh mayat ditemukan telah membusuk, sehingga perkiraan saat kematian korban lebih dari 24 jam karena pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati. Pembusukan ini awalnya berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan disebabkan oleh terbentuknya sulf-met-hemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh tubuh, dan bau busuk pun akan tercium.1 Ditemukan lebam mayat tetap pada bagian dada dan perut korban karena korban ditemukan dalam keadaan tertelungkup. Lebam mayat ini dapat terjadi karena setelah mati klinis, eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi). Lebam mayat yang tetap ini dikarenakan tertimbunya sel-sel darah merah dalam jumlah yang cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi, dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut. Dan lebam mayat yang menetap ini akan terjadi setelah 8-12 jam pasca kematian. Pada korban juga terdapat penurunan suhu tubuh (algor mortis) Pada korban tidak ditemukan kaku mayat (rigor mortis) karena korban meninggal kirakira 24 jam, sedangkan kaku mayat akan timbul dan menjadi lengkap pada 12 jam pertama, kemudian menetap selama 12 jam dan akan menghilang dalam urutan yang sama.

Sebab Kematian Cedera atau luka akibat kekerasan benda tajam.

Cara Kematian Pada kasus ini, cara kematian korban adalah tidak wajar, dengan dugaan pembunuhan oleh seseorang di hutan dengan menggunakan kekerasan tajam. Hal ini juga berdasarkan hasil temuan
13

pada korban, yaitu ditemukan tanda-tanda kekerasan, yaitu luka terbuka pada bagian ketiak dan luka benda tajam pada kedua tungkai bawah.

Mekanisme Kematian Perdarahan masif karena putusnya pembuluh darah ketiak kiri akibat kekerasan benda tajam yang diterima korban.

VIII. Visum et Repertum Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya 6 Telp. 3106197, Fax. 3154626, Jakarta 10430

Nomor : 1432-SK.III/VER/3-12 Jakarta, 3 Oktober 2012 Lamp : Satu sampul tersegel--------------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan------------------------------------------------------------------Atas jenazah Tn. A----------------------------------------------------------------------------------PROJUSTISIA Visum et Repertum Yang bertanda tangan dibawah ini, Fanny, dokter ahli bedah kedokteran forensik pada Bagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Jakarta Barat No. Pol: A/044/Ver/LK/X/2012 tertanggal 1 Oktober 2012, maka pada tanggal dua Oktober tahun dua ribu dua belas, pukul sembilan lewat dua puluh menit Waktu Indonesia Bagian Barat, bertempat di ruang bedah jenazah Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia telah melakukan pemeriksaan atas jenazah yang menurut surat permintaan tersebut adalah: Nama : A----------------------------------------------------------------------------------------------Umur : 25 tahun--------------------------------------------------------------------------------------Jenis kelamin : Laki-laki-------------------------------------------------------------------------------------Warga Negara : Indonesia------------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan : ------------------------------------------------------------------------------------------------Agama : ------------------------------------------------------------------------------------------------Alamat : ------------------------------------------------------------------------------------------------Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak merah, terikat pada ibu jari kaki kanan---------------------------------------------------------------------Hasil Pemeriksaan I. Pemeriksaan Luar 1. Mayat tidak terbungkus-------------------------------------------------------------------------------2. Mayat berpakaian sebagai berikut:------------------------------------------------------------------a. Kaos oblong berwarna biru tua bermerek Polo dengan ukuran M yang berlumuran
14

darah di bagian dada dan perut kiri tubuh korban.--------------------------------------------b. Celana panjang berwarna hitam bermerek Lea Jeans dengan dua buah saku di bagian belakang dan satu buah saku masing-masing pada bagian kanan dan kiri yang bagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. pada bagian depan atas celana terdapat bercak darah.----------------------------------------------------------------------------c. Celana dalam berwarna hitam dengan tulisan Crocodile. Celana dalam sedikit berlumuran darah pada bagian depan atas sebelah kiri.--------------------------------------3. Kaku mayat lengkap pada seluruh persendian korban, lebam mayat ditemukan pada bagian perut dan dada korban berwarna merah kebiruan. Lebam mayat tidak hilang pada penekanan dan tidak dapat berpindah. Mayat dalam kondisi telah membusuk.---------------4. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih dua puluh lima tahun, kulit berwarna putih, gizi cukup, panjang badan seratus tujuh puluh dua sentimeter dan berat badan enam puluh lima kilogram dan zakar disunat.----------------------------------5. Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh lurus, panjang tujuh sentimeter. Alis berwarna hitam, tumbuh lebat.-----------------------------------------------------------------------------------6. Kedua mata tertutup, tidak ada gambaran perbendungan mata dan tidak ada bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva bulbi dan palpebra.-------------------------------------------------7. Hidung berbentuk normal dan kedua daun telinga berbentuk normal.-------------------------8. Mulut tertutup. Kedua bibir tampak tipis. Gigi geligi lengkap kecuali geraham depan pertama rahang atas sebelah kanan tidak terdapat.------------------------------------------------9. Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa.---------10. Alat kelamin berbentuk normal, tidak menunjukkan kelinan. Lubang dubur berbentuk biasa tidak terdapat kelainan.-------------------------------------------------------------------------11. Pada tubuh terdapat luka-luka sebagai berikut:----------------------------------------------------a. Pada daerah ketiak kiri, terdapat luka terbuka melintang berukuran kurang lebih sebelas sentimeter dengan tepi rata dan teratur serta sudut luka lancip, dalam luka tidak melebihi panjang luka. Pembuluh darah ketiak tampak putus.-----------------------b. Pada daerah tungkai bawah kanan, lima belas sentimeter dari mata kaki, dua puluh sentimeter dari garis bawah lutut terdapat beberapa luka terbuka melintang berukuran kurang lebih enam sentimeter dengan tepi beraturan.----------------------------------------c. Pada daerah tungkai bawah kiri, delapan sentimeter dari mata kaki, dua puluh delapan sentimeter dari garis bawah lutut terdapat luka terbuka melintang berukuran kurang lebih delapan sentimeter denga tepi beraturan.------------------------------------------------12. Patah tulang tidak tampak pada tubuh jenazah.----------------------------------------------------II. Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah) 13. Lidah utuh dan tidak terdapat bekas gigitan maupun resapan darah.---------------------------14. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan.--------------------15. Kelenjar gondok rata, tidak ada kelainan.----------------------------------------------------------16. Kerongkongan kosong, selaput lendirnya berwarna putih.---------------------------------------17. Trakea/batang tenggorok tidak ditemukan busa ataupun darah.---------------------------------18. Rawan gondok tidak terdapat resapan darah.------------------------------------------------------19. Arteria karotis interna tidak terdapat kerusakan intima.------------------------------------------20. Kelenjar timus (kacangan): didapati thymic fat body dan tidak terdapat perdarahan berbintik.------------------------------------------------------------------------------------------------21. Paru-paru tidak ada kelainan.------------------------------------------------------------------------15

22. Jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat. Selaput luar tampak licin, tidak terdapat bintik perdarahan.--------------------------------------------------------------------------------------23. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal sebelah kanan sembilan puluh gram dan yang kiri seratus gram.---------------------------------------------------------------------------24. Hati berwarna coklat, permukaan rata, tepi tajam dan perabaan kenyal. Penampang hati berwarna merah-coklat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu dua ratus lima puluh gram.---------------------------------------------------------------------------------------25. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendir berwarna hijau. Saluran empedu tidak menunjukkan penyumbatan.-----------------------------------------------26. Limpa penampang berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa seratus sepuluh gram.---------------------------------------------------------------------------------27. Lambung selaput lendir berwarna putih dan menunjukkan lipatan yang biasa, tidak terdapat kelainan.--------------------------------------------------------------------------------------28. Usus dua belas jari, usus halus dan usus besar tidak ada kelainan.-----------------------------29. Pankreas tidak ada kelainan.-------------------------------------------------------------------------30. Otak besar, otak kecil, dan batang otak tidak ada kelainan.-------------------------------------31. Alat kelamin dalam tidak ada kelainan.-------------------------------------------------------------Kesimpulan Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka dan pembuluh darah yang putus pada daerah ketiak kiri dan beberapa luka terbuka pada tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam.-----------------------------------------------------Luka pada ketiak kiri menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan bacokan benda tajam.---Sebab mati orang ini adalah kekerasan tajam ketiak kiri yang menyebabkan terjadinya perdarahan hebat.----------------------------------------------------------------------------------------------Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik-baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.---------------------------------------------Dokter yang memeriksa,

Dr. Fanny NIP 09123456

16

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

I. Luka Akibat Kekerasan Benda Tajam Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alat-alat seperti pisau, golok, dan sebagainya. Gambaran umum luka yang diakibatkan benda tajam adalah tepi dan dinding luka yang rata, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk garis atau titik. Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau luka sayat, luka tusuk dan luka bacok. Selain gambaran luka yang telah disebutkan, luka iris atau sayat dan luka bacok mempunyai kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka. Sudut luka yang lancip dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran senjata sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi dengan gerak memutar, dapat menghasilkan luka yang tidak selalu berupa garis.3 Umumnya, luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri atau kecelakaan memiliki ciri-ciri berikut:1 Lokasi luka Jumlah luka Pakaian Luka tangkis Luka percobaan Cedera sekunder Pembunuhan Sembarang Banyak Terkena Ada Tidak ada Mungkin ada Bunuh Diri Terpilih Banyak Tidak terkena Tidak ada Ada Tidak ada Kecelakaan Terpapar Tunggal/banyak Terkena Tidak ada Tidak ada Mungkin ada

Ciri-ciri pembunuhan di atas dapat dijumpai pada kasus pembunuhan yang disertai perkelahian. Tetapi bila tanpa perkelahian maka lokasi luka biasanya pada daerah fatal dan dapat tunggal.

II. Jenis Luka Terdapat beberapa jenis luka yang dapat ditemukan pada tubuh korban seperti lecet/abrasi, luka lecet tekan, hematom, laserasi, patah tulang, ruptur abdomen/rongga thoraks, dan perdarahan.
17

Lecet/abrasi: terjadi akibat cedera epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu lintas, tubuh terbentur aspal, atau sebaliknya benda yang bergerak dan bersentuhan dengan kulit. Luka lecet tekan: disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut. Gambaran luka lecet tekan yaitu pada daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya yang disebabkan oleh pemadatan jaringan yang tertekan. Hematom: suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya kapiler dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Laserasi: luka terbuka akibat kekerasan benda tumpul. Ciri-ciri laserasi yaitu tepi atau dinding tidak rata, kadang ditemukan jembatan jaringan, dan lecet mungkin ditemukan di sekitar luka. Patah tulang: dampak patofisiologi yang disebabkan oleh patah tulang antara lain perdarahan, disfungsi, kerusakan jaringan sekitar, emboli lemak dan sumsum tulang. Cedera kepala: dapat mengakibatkan perdarahan dalam rongga tengkorak berupa perdarahan epidural, subdural dan subarakhnoid, kerusakan selaput otak dan jaringan otak.

III. Perdarahan Axilla Axilla adalah daerah berbentuk limas yang terdapat pada peralihan antara lengan atas dan thoraks. Bentuk dan luas axilla berubah-ubah, tergantung dari kedudukan lengan atas. Arteria axillaris, vena axillaris, dan fasciculus plexus brachialis diliputi oleh sarung fascia yang tipis. Ke arah cranial sarung aksilar ini ternyata sinambung dengan lapis prevertebral fascia cervicalis di depan arteria subclavia. Arteria axillaris berawal pada tepi lateral costa I sebagai kelanjutan arteria subclavia dan berakhir pada tepi kaudal musculus teres major. Arteria axillaris dibagi menjadi tiga bagian oleh musculus pectoralis minor.4 Vena axillaris terletak medial dari arteria axillaris. Vena axillaris berawal sebagai lanjutan vena basilica pada tepi kaudal musculus teres major dan berakhir pada tepi lateral costa I untuk menjadi vena subclavia. Vena axillaris menampung anak-anak cabang yang sesuai dengan cabang-cabang arteria axillaris, dan ditepi kaudal musculus subscapularis
18

menampung pasangan vena brachialis yang mengikuti arteria brachialis (vena comitans). Perdarahan pada pembuluh darah di daerah ketiak akan menyebabkan korban mati karena kehabisan darah. Tidak hanya pembuluh darah, pada daerah ketiak juga terdapat saraf yang pada korban kebetulan tidak ditemukan adanya kerusakan. Karena pembuluh darah yang terputus, maka darah yang masuk ke jantung untuk dialirkan ke organ-organ lain akan berkurang. Predarahan yang terdapat pada region axilla dapat menimbulkan kematian yang mungkin didahului fase syok. Syok adalah sindrom klinik yang timbul dari perfusi jaringan inadekuat. Ketidakseimbangan antara penghantaran dan kebutuhan oksigen serta substrat yang diakibatkan oleh hipoperfusi dapat menyebabkan disfungsi seluler. Injuri seluler yang disebabkan oleh penghantaran oksigen dan substrat yang inadekuat dapat menimbulkan produksi dan lepasnya mediator inflamasi dan perubahan struktur dari mikrovaskularisasi. Hal ini akan menyebabkan maldistribusi aliran darah yang nantinya bisa mengarah ke kerusakan organ multipel, sehingga dapat menimbulkan kematian. Bentuk paling umum dari syok adalah karena kehilangan sel darah merah dan plasma dari hemorrhage atau dari kehilangan plasma saja dari sekuestrasi cairan ekstravaskular atau gastrointestinal, traktus urinarius dan insesible loss. Respon fisiologik yang normal pada hipovolemik adalah dengan menjaga perfusi dari otak dan jantung saat mengembalikan volume darah sirkulasi yang efektif. Adanya peningkatan simaptis, hiperventilasi, kolaps pembuluh darah vena, pelepasan hormon stres, dan percobaan untuk membatasi kehilangan volume intravaskular melalui diambilnya cairan interstitial dan interseluler dan menurunya pengeluaran urin. Pembagian hipovolemia: Hipovolemia ringan: kehilangan 20% dari volume darah, ditandai dengan adanya takikardia yang ringan, ekstremitas dingin, meningkatnya waktu pengisian kapiler (cappilary refill time), diaphoresis, kolaps vena, dan gelisah (anxious). Hipovolemia sedang: kehilangan 20-40% volume darah ditandai dengan pertanda hipovolemia ringan ditambah takikardia, takipnoe, oligouri dan perubahan postural. Hipovolemia berat: kehilangan > 40% volume darah ditandai dengan tanda19

tanda ringan dan sedang disertai instabilitas hemodinamika, marked tachycardia, hipotensi, dan koma (penurunan kesadaran). Transisi dari hipovelemia ringan menuju berat dapat berlangsung cepat. Apabila keadaan ini tidak segera ditangani, maka kematian dapat segera terjadi.

20

BAB V KESIMPULAN
Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka dan pembuluh darah ketiak kiri yang terputus dan beberapa luka terbuka pada tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Luka pada ketiak kiri menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan luka bacok yaitu kedua sudut luka lancip dan dalamnya luka tidak melebihi panjang luka. Sebab mati orang ini adalah kekerasan tajam pada ketiak kiri yang menyebabkan terjadinya perdarahan yang banyak sehingga menimbulkan syok dan kematian. Perkiraan saat kematian korban adalah lebih dari 24 jam karena tubuh kroban telah mengalami pembusukan saat ditemukan di TKP.

21

BAB VI DAFTAR PUSTAKA


1. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997. p.1-2, 25-36, 37-40. 2. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan Perundang-undangan Bidang Kedokteran. Hukum Acara Pidana, Prosedur Medikolegal, dan Kejahatan terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1994. p. 11-13, 37-39. 3. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Teknik Autopsi Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2000. p. 56-60, 72-73. 4. Moore KL, Agur AMR. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta: Hipokrates; 2002. 5. Pedarahan Aksila. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/760145/overview#showall. Accessed on October 2nd 2012.

22