Anda di halaman 1dari 9

ACARA I PROSES PEMANENAN SAYURAN DAN BUAH A. KARAKTERISTIK PEMANENAN 1. Umur Panen a.

Sayuran Kenikir Kenikir merupakan tanaman herba setahun yang tingginya dapat mencapai 3 m. Batangnya tegak, beralur dan mempunyai banyak cabang. Tanaman kenikir berdaun majemuk dan bergerigi pada bagian tepi. Bunganya tersusun seperti bunga matahari yang terletak di tepi berbentuk pita berjumlah delapan. Kenikir juga mempunyai buah berbentuk lonceng yang mengandung banyak biji berwarna hitam seperti jarum. Tanaman kenikir dapat tumbuh dengan baik pada daerah dengan sinar matahari penuh di dataran rendah sampaipegunungan dengan ketinggian 1 600 m dpl. Perbanyakan kenikir dapat dilakukan melalui biji di persemaian yang kemudian dapat dipindahkan ke lapangan setelah tiga minggu. Menurut hasil wawancara kami dengan Bapak Wijianto di Timorejo Kelurahan Sobokerto Ngemplak Boyolali, pemanenan kenikir dapat dilakukan sebulan setelah penanaman. Berdasarkan teori Pambayun (2008) pemanenan daun kenikir dapat dilakukan setelah tanaman berumur enam minggu. b. Buah Kelengkeng Pingpong Menurut hasil wawancara kami dengan mas Woto (RM. Pancingan V) di Karang Bulu Mudal Boyolali, kelengkeng Pingpong yang ditanam merupakan hasil sambungan dari Mulwojawa dan kelengkeng. Bibit dari sambungan Mulwojawa dan kelengkeng mulai berbunga sekitar 6-7 bulan dan kelengkeng Pingpong menghasilkan buah sekitar 5 bulan setelah pembungaan.

Berdasarkan teori bibit dari cangkokan Pingpong dan Diamond River rata-rata berbunga di bawah umur satu tahun sedangkan dari

biji mulai berbunga pada umur 2 tahun. Untuk pingpong dan Diamond River, dari bunga menjadi buah membutuhkan waktu 100120 hari (Sugiyanto, 2006). 2. Ciri-ciri Fisik Siap Panen a. Sayuran Kenikir Berdasarkan hasil wawancara, kenikir yang siap panen memiliki tinggi sekitar 120 cm. Warna pada kenikir yang siap panen hijau, tekstur batangnya keras, daunnya segar dan batangnya tidak kaku. Berdasarkan teori, Kenikir dapat tumbuh mencapai tinggi antara 50 cm hingga 150 cm dan memiliki belahan daun simetris, aroma daun yang kuat dan warna daun hijau tua (Rahanita, 2009). b. Buah kelengkeng Pingpong Berdasarkan hasil wawancara, kelengkeng yang siap panen sudah bewarna coklat terang, kulit mulai menipis, aroma manis mulai tercium, teksturnya mulai lunak dan ukuran hampir mencapai sebesar bola pingpong. Berdasarkan teori Sugiyanto (2006), buah saat masih muda berwarna kemerahan dan berangsur menjadi kuning kecoklatan sampai coklat terang saat menjelang matang, ukuran maksimal sebesar bola pingpong, rasa buah manis mencapai kadar 200 Brix, kadar air tinggi, rata-rata daging buah basah dan biji besar. 3. Cara Pemanenan a. Sayuran Kenikir Sayur kenikir dipanen dengan cara dipotong sampai tangkai paling bawah sekitar 30-40 cm. Menurut teori metode panen tanaman kenikir yang dilakukan adalah dengan caramemotong cabang muda yang telah berukuran 30 cm sepanjang 15-20 cm,kemudian disatukan hingga terkumpul segenggam lalu diikat (Rahanita, 2009). b. Buah kelengkeng Pingpong Buah kelengkeng dipanen dengan cara dipotong pada tangkai dekat gerombolan buah menggunakan gunting. Buah kelengkeng juga

dapat dipanen dengan cara dipetik secara langsung. Berdasarkan teori dari Kelompok Tani Sidomukti (2012) pemanenan dilakukan dengan memangkas pucuk dahan dengan gunting panen usahakan agar pemotongan rapi untuk memperbanyak tunas yang tumbuh dan menghindari munculnya jamur dan bakteri pada bekas pemotongan. 4. Permasalahan Saat Panen a. Sayuran Kenikir Sayur kenikir jarang mengalami kerusakan pada saat panen. Bila ada, kerusakan tersebut disebabkan oleh hawa wereng sehingga daun dan batang kenikir berlubang. Hama wereng ini dapat dibasmi dengan coragen. Menurut teori Sinar Tani (2012), penyakit yang menyerang kenikir merupakan kutu daun yang dapat menyebabkan kerusakan pada daun seperti daun yang berlubang dan berwarna kehitaman. b. Buah Kelengkeng Pingpong Kerusakan pada buah kelengkeng pingpong disebabkan oleh adanya ulat dan kutu. Biasanya terjadi pada musim hujan. Ulat yang menyerang buah kelengkeng dapat menyebabkan buah kelengkeng menjadi busuk sedangkan kutu yang menyerang kelengkeng dapat menimbulkan bercak putih pada kulit buah kelengkeng. Menurut Eka Widawati (2012), Hama yang biasa menyerang tanaman lengkeng adalah serangga pengisap buah (Tessaratoma javanica). Penyakit yang sering menyerang saat musim hujan adalah mildu seperti yang menyerang tanaman rambutan.Hama penggerek batang yang menimbulkankerusakan pada tanaman kelengkeng tersebut adalah Zeuzera coffeae Neitner. Larva Z. Coffeae mengebor kulit hingga ke bagian kambium kemudian menggerek bagian kambium dan kayunya. Apabila luas gerekan melingkar dan temu gelang, maka bagian tanaman di atas gerekan akan mengering dan mati. Bagian batang dan dahan yang terserang berat akan mudah

patah ketika tertiup angin. Pohon yang masih kecil jika terserang hama ini akan mati (Yulianto, 2008). B. SORTASI 1. Sayur Kenikir Menurut wawancara kami dengan pemilik kebun kenikir di Sobokerto Ngemplak Boyolali, mereka hanya memilih kenikir yang telah dipotong setinggi 30-40 cm dan daunnya masih segar saja yang akan mereka jual. Kemudian kenikir tersebut diikat menjadi beberapa bagian agar mempermudah penjualannya. Menurut Pedro (2012) dilakukan sortasi sesuai dengan kelasnya dengan cara mengamati penampilan, ukuran, bentuk, bobot dan kesehatan sayuran. Tanaman-tanaman sayuran daun yang telah dipanen dikumpulkan dan diletakkan pada tempat yang teduh untuk menghindari kelayuan. Sayuran daun dicuci dengan menggunakan air yang mengalir. Tanaman yang daunnya rusak atau busuk dan batangnya berlubang dipisahkan dari tanaman kangkung yang masih utuh dan kondisinya bagus. Dengan sortasi dan seleksi ini didapatkan tanaman sayur daun yang kualitasnya lebih baik sehingga apabila dijual di

pasaran kemungkinan terjualnya lebih besar. 2. Buah Kelengkeng Pingpong Berdasarkan wawancara di perkebunan kelengkeng Karangbudal Boyolali, sortasi kelengkeng berdasarkan kematangan dan besarnya ukuran kelengkeng. Hanya kelengkeng yang sudah matang, tua dan berukuran besar yang mereka jual. Menurut Djumali (2010) penanganan pasca panen, sejak buah siap dipanen, pemanenan, penyimpanan, pengangkutan, pemasaran, dan sampai di konsumen merupakan rantai perdagangan yang penting.Pemilihan (sortasi) dilakukan untuk memilah buah berdasarkan mutu (baik, tidak rusak/memar, ukuran). Tangkai buah ikat dengan tali raffia, plastic atau benang kuat berisi 1 5 kg tergantung permintaan pasar. C. GRADING 1. Sayuran Kenikir

Pada kenikir yang ditanam oleh Bapak Wijiyanto tidak dilakukan pengkelasan atau grading karena beliau hanya menjual kenikir yang kualitas yang bagus saja sedangkan kenikir yang tidak bagus kualitasnya digunakan untuk pakan ternak atau dikonsumsi sendiri. Sedangkan berdasarkan teori dari Agatho (2011), Grading merupakan kegiatan mengelompokkan produk berdasarkan ukurannya. Kegiatan grading dilakukan pada saat penerimaan sayuran dari petani untuk menentukan standar mutu. BSB memiliki klasifikasi produk sayuran khusus yaitu Grade A dan B. Jenis sayuran daun-daunan umumnya 0,2 kg/pack. 2. Buah Kelengkeng Berdasarkan wawancara kami dengan pemilik kebun kelengkeng Pancingan V di Karangbulu Mudal Boyolali, mereka melakukan pengkelasan buah hanya pada ukuran buahnya saja dan banyaknya kelengkeng setiap rantingnya. Kelengkeng yang tiap ranting jumlahnya banyak dan ukurannya besar dijual dengan harga yang lebih mahal. Berdasarkan teori dari Astawan (2009), buah lengkeng umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar. Ciri-ciri buah layak pilih adalah: (1) kulit buah berwarna kuning sampai cokelat muda, cerah, dan utuh (tidak pecah); (2) tangkai buah masih menempel pada buah; (3) berasa manis dan beraroma harum. Pada dasarnya buah lengkeng yang ada di pasaran dibedakan atas dua kelas mutu (grade), yaitu mutu A jika dalam satu kilogram terdapat 55-75 buah, dan mutu B jika dalam satu kilogram terdapat 76-80 buah. Buah lengkeng yang tidak layak pilih adalah: (1) memiliki bekas tusukan atau gigitan serangga, (2) buah pecah, kulit dekat tangkai tercabut, (3) ukuran terlalu kecil, (4) warna masih hijau.

ACARA II PENANGANAN PASCA PANEN

Penanganan pasca panen pada buah kelengkeng Pingpong dilakukan dengan cara pemberian gas etilen (karbit) pada kelengkeng yang telah dipanen selama dua hari. Pemberian gas etilen ini bertujuan agar kelengkeng cepat masak. Kelengkeng yang diberi karbit disimpan pada kardus yang ditutup rapat pada suhu ruang. Tetapi penggunaan karbit atau pemeraman kelengkeng ini jarang dilakukan. Kelengkeng biasanya sudah matang sejak ada dipohon. Berdasar teori dari Arifin (2010), memperbaiki mutu dan daya simpan kelengkeng dengan teknologi pelilinan. Teknologi pelilinan dilakukan dengan mencelupkan buah kelengkeng ke dalam larutan emulsi lilin 0,25% + fungisida 500 ppm selama 30 detik kemudian ditiris-anginkan dan disimpan pada suhu kamar. Teradopsinya teknologi pelilinan dengan daya simpan lengkeng selama 12 hari memungkinkan distribusi dan jangkauan pemasaran lebih luas, posisi tawar buah lengkeng meningkat, sehingga terjadi peningkatan pendapatan petani. Pada sayur kenikir tidak dilakukan penanganan pasca panen seperti pelilinan maupun gas etilen. Pada sayur kenikir setelah dipanen hanya dicelupkan pada air agar daun kenikir tetap segar dan bersih. Pada kenikir tidak ada perlakuan seperti pelilinan atau pemberian gas etilen. Berdasarkan teori, pencucian

(washing) dilakukan pada sayuran daun yang tumbuh dekat tanahuntuk membersihkan kotoran yang menempel dan memberi kesegaran. Selain itu dengan pencucian juga dapat mengurangi residu pestisida dan hama penyakit yang terbawa. Pencucian disarankan menggunakan air yang bersih, penggunaan desinfektan pada air pencuci sangat dianjurkan (Yunita, 2011).

ACARA III PENYIMPANAN PASCA PANEN

a. Perlakuan suhu 1. Sayur Kenikir Sayur kenikir yang sudah dipanen dicelupkan pada air kemudian diikat dan disimpan pada suhu ruang. Pada suhu ruang kenikir yang disimpan tidak boleh ditumpuk karena dapat

menyebabkan kerusakan pada daun kenikir. Menurut teori Siswadi (2007), sayur-sayuran daun tidak dilakukannya pengemasan, tetapi sayuran diletakkan pada lemari pendingin yang terbuka yang kadangkadang disemprot dengan butir-butir air yang halus untuk mengurangi penguapan. 2. Buah Kelengkeng Pingpong Buah kelengkeng yang sudah dipanen, disimpan selama dua hari dan diletakkan didalam refrigerator (suhu rendah). Penyimpanan pada suhu rendah ini bertujuan agar umur simpan buah kelengkeng pingpong lebih lama dan awet. Menurut Pangestuti (2007), buah kelengkeng dalam suhu kamar (300C) secara umum hanya memiliki umur simpan 2-3 hari. Rekomendasi Internasional untuk

memperpanjang umur simpan kelengkeng adalah dengan penyimpanan suhu rendah (4 s.d 7 0C) dan precooling. Dengan cara-cara ini umur simpan dapat diperpanjang hingga 2 sampai 4 minggu. b. Pengemasan 1. Sayur Kenikir Sayur kenikir dalam penyimpanannya hanya diikat tidak dikemas dalam plastik maupun kardus. Menurut teori Siswadi (2007), Untuk pengemasan dapat dilakukan dengan berbagai cara, untuk yang pertama buah dan sayuran dikemas dalam plastik yang memiliki daya lekat yang kuat, lentur dan tidak mudah sobek sehingga menjadikan buah dan sayuran tetap segar, tahan lama, tidak kering dan melindungi

serta menjaga tetap bersih. Cara yang kedua buah dan sayuran dimasukkan ke dalam plastik polyetilen yang diberi lobang-lobang yangmemungkinkan terjadinya sirkulasi udara. 2. Buah kelengkeng Pingpong Buah kelengkeng pingpong yang dipanen oleh Perkebunan Pancingan V Karangbulu Boyolali dikemas dalam wadah jaring buah (jala). Menurut teori pembungkusan kelengkeng dengan plastik PP dapat meningkatkan umur simpan buah kelengkeng hingga 10-12 hari. Pembungkusan kelengkeng paling baik menggunakan plastik PP 0,03 mm karena dapat menghambat penurunan komponen kualitas buah. Cara ini dianggap praktis, ekonomis dan mudah diterapkan oleh petani (Pangestuti, 2007).

ACARA IV DISTRIBUSI HASIL PERTANIAN

A.

Transportasi dan Pemasaran Sayur kenikir yang sudah siap jual akan diambil oleh tengkulak. Sehingga Bapak wijianto tidak perlu membawanya langsung kepasar. Dalam satu petak lahan mampu menghasilkan 1100 ikat kenikir dengan harga kenikir @700-800/ikat. Sedangkan buah kelengkeng pingpong dijual di rumah makan Pancingan V sebagaia oleh-oleh. Buah kelengkeng ini juga diberikan kepada karyawan yang bekerja dirumah makan Pancingan V. Transportasi yang digunakan untuk mengangkut adalah mobil pick-up. Berdasarkan teori Subbhanudin (2003), pemasaran lengkeng tidak jauh berbeda dengan pemasaran produk lainnya. Ada beberapa ciri khusus dalam jalur pemasarannya. Sistem penjualan yang dilakukan oleh pemilik pohon lengkeng kebanyakan adalah sistem tebas, yaitu menjual lengkeng sebelum panen, yakni sejak tanaman berbunga. Beberapa petani bahkan menebas tanaman lengkengnya sampai beberapa kali musim tanam. Namun ada pulah pemilik menjual lengkengnya setelah panen, biasanya pemilik melakukan perawatan dan pemanenannya sendiri serta

menanggung biaya resiko kegagalan panen. Pemasaran buah lengkeng kini sangat gampang karena stok lengkeng di pasar tradisional maupun pasar modern masih kekurangan. Peminat buah lengkeng juga sangat banyak, karena lengkeng merupakan salah satu buah yang sangat lezat.