Anda di halaman 1dari 18

Mencintai dalam Diam

Hening malam menyelimuti bintang-bintang di langit. Rembulan menyandarkan tubuhnya pada langit tuk berjaga. Detik jarum jam menghipnotis setiap raga untuk terlarut dalam mimpi. Malam itu aku terjaga lalu melihat tempat di samping yang kosong. Termenung memandang ke arah lampu kamar mandi yang nyala. 'Suamiku sudah bangun' suara ku dalam hati. 'Tapi mengapa ia tak bangunkan aku untuk tahajud?'

'Eh, istri ku sudah bangun?' kepala suamiku melongok dari celah pintu kamar mandi. Dia adalah laki-laki yang amat ku kagumi setelah Rasulullah dan ayah. Pernikahan kami sudah berumur 5 tahun, namun Allah belum

mengamanahkan bidadari kecil. 'Abi kenapa tidak bangunkan umi untuk

tahajud?'. 'Umi tidurnya pulas sekali. Abi tidak tega untuk membangunkan. Abi bermaksud bangunkan umi setelah abi wudhu.' Jawabnya. Usai kami solat tahajud, suamiku lalu mengaji. Aku telentang di atas kasur memandang langitlangit kamar. Tiba-tiba dada ini terasa sakit!!

Sakiiiiit sekali!! Dada sebelah kiri, Argh, 'Astaghfirullah!!' seruku dalam hati. Seketika air mata mengalir menahan sakit yang tak tertahankan. Kemudian suamiku menoleh. 'UMI! Astaghfirullah....Umi kenapa? Mengapa keringat dingin begini? Umi....Umi...!' Ketakutan menyelimuti wajahnya. Hanya

panggilan akhir orang yang ku cintai itu terdengar. Perlahan wajah itu pun menghilang dari pandangan. Lalu aku terhanyut, hanya hitam tanpa sinar dimana-mana. Diri ini tersesat entah dimana. Ketika sadarkan diri dan melihat dia yang tercinta duduk di samping sambil menggenggam

tanganku. Dia hanya tersenyum tak bersuara. Namun ia adalah penipu amatir yang tidak bisa berbohong. Begitu nampak kesedihan di balik senyumnya. Rasanya tak kuasa ingin

membuatnya sedih. Maafkan diri ini, Abi. Maafkan istrimu ini. 'Abi sudah makan? Sudah berapa lama umi di rumah sakit ini, Bi?' 'Sudah 1 minggu umi tak sadarkan diri.' jawabnya sambil tersenyum. 'Apa? Yang bener, Bi?' lagi-lagi aku bisa melihat wajar jujurnya tanpa ada tipu sedikitpun.

'Jangan hiraukan hal itu. Abi akan selalu menemani umi disini.' jawabnya sambil

membelai lembut kepalaku. Nampak wajah orang yang ku cintai itu sangat lelah. Sepertinya dia tidak tidur karena selalu menjaga diri nan lemah ini. Rasa bersalah meraja dalam batin. Menghadirkan rasa pilu sendiri bagi diri ini. Sungguh, ingin rasanya mengakhiri semua ini. Astaghfirullah... Aku memandang ke arah dinding ruang itu. Disana ada kalender yang membuat diri ini terkejut. Ternyata betul, aku sudah lama berada disini. Terbaring disini. Tepat seperti apa yang dikatakan Abi.

Aku menatap mata sayu orang yang selalu mencintai dan setia di sampingku 'Entah kenapa umi ingin mengatakan sesuatu pada Abi.' Sambil memegang tangan suaminya itu. 'Apa itu, Umi? Katakanlah, Sayang...' ucap abi penasaran. Tak sabar ingin mendengar kata-kata istrinya. Rambutku dibelai olehnya. Aku tak sanggup tuk menahan agar air mata ini tidak menetes. Ternyata aku gagal tuk menahannya. 'Terimakasih, Abi karena telah mendampingi umi selama ini. Menyayangi dan mencintai umi.' Ucap umi dengan senyum kecilnya.

'Sayang, aku adalah suamimu dan sudah menjadi kewajibanku selalu mendampingimu dan hanya ajal yang memisahkan kita. Suka dan duka untukmu adalah suka dan duka untukku juga. Sakit yang engkau rasakan, itu pun akan ku rasakan karena diri mu adalah sebagian dari tulang rusukku.' Jawabnya sambil tersenyum lalu mencium kening ku. Lagi-lagi aku tak kuat menahan air mata untuk menetes. Dia tidak mengatakan hal yang sebenarnya tentang penyakitku. Dia hanya bilang aku kecapekan. Aku sudah tau apa penyakit ini sebenarnya. Penyakit ini sudah ku rasakan semenjak belum menjadi istrinya. Diri ini tak kuasa harus jujur padanya. Bahkan untuk

menatap matanya saja, tak sanggup. Maafkan aku ya Allah.

Suamiku keluar dari kamar rawat sepertinya ingin solat ke masjid. Ia tidak pernah melewatkan saat-saat bisa beribadah di rumah Allah. Dengan sekuat tenaga aku meraih kertas dan pena di atas meja sisi kiri. Aku mulai menulis. Tak kuasa mata ini bertahan untuk membendung air yang hendak keluar. Diri ini terlarut seperti tiada sadar dalam menarikan pena di atas sehelai kertas, sendirinya tanpa isyarat. Usai menulis, surat itu ku letakkan di bawah bantal. Tak kuasa mata ini menahan untuk tetap terbuka. Lalu ia pun menutup dengan perlahan.

Hari-hari yang telah ku lalui bersama dia yang ku cintai sangat berharga. Suka dan duka kita jalani bersama. Sore itu, aku masih merasakan

genggamannya. Bisa merasakan pelukan hangat tubuhnya. Begitu hangat. Rasanya aku tak ingin semua ini berlalu. Bi, tidakkah abi lelah? Isthirahatlah, Sayang. Umi yang harus banyak istirahat. Umi sedang sakit. Perintahnya halus. Abi tidak pergi kerja? Bagaimana Abi bisa kerja jika pemilik hati abi sedang sakit? ucap abi sambil tersenyum. Matanya yang sipit adalah ciri khasnya. Aku tak bisa lupa akan hal itu.

Bisa aja abi gombalnya. Kita udah tua, Bi. Nggak jaman lagi gombal-gombalan.... Masih ingatkan umi dulu ketika abi bertemu umi di sebuah taman bunga? Masih. Sahutku sambil menganguk. Saat itu abi pikir umi adalah bidadari yang jatuh dari kayangan. Umi yang kecil cantik sedang

mengajari

anak-anak

menggambar

pemandangan. Seketika itulah benih-benih cinta hadir seraya menghembuskan rasa bahagia dalam diri ini. Abi, bukan gambar pemandangan, tapi gambar bunga.

Iya ya? Abi sudah terpaku dengan kecantikan umi saat itu jadi Abi ga peduli deh mereka mau umi ajarin gambar apa. Akhirnya dengan keberanian Abi senyum pada umi. Iya, sampai-sampai lupa di depan ada tiang listrik terus abi kejedot. Iya kan? Hal itu jangan diingat, Mi. Sakit soalnya. Abi mengenggam tanganku lalu ia tertidur sambil duduk di samping. Sungguh tak kuasa aku menahan air mata ini. Seharusnya aku berada di rumah, menyiapkan makanan untuknya.

Terimakasih sayang karena temani ku.

Malam menemani raga cinta ku sendirian. Dinginnya menghantui setiap bulu roma di lehernya. Tiada senyuman yang dapat memecah kesepiannya. Hingga keheningan itu pun

berlanjut sampai esok hari. Pagi itu tepat sehari setelah aku keluar dari rumah sakit, banyak orang yang berkunjung ke rumah. Akhirnya Pintu rumah dibiarkan terbuka. Baru saja dua mata ini terbuka dan raga ini akan menyiapkan sarapan. Aku melihat suamiku menangisi sebuah jenazah. Menciumi jenazah itu, membelai wajahnya perlahan. Tapi itu siapa? Apa itu ibu mertuaku? Itu tidak mungkin karena nampak ibu mertua sedang mengaji duduk di antara sekumpulan

orang yang datang ke rumah ini. Ada ibu serta ayahku yang khusyuknya mengaji surah Yasin di sisi jenazah itu. Lalu siapa dia? 'Kasian dia, masih muda sudah dipanggil Allah. Dia punya penyakit jantung.' ucap salah seorang tamu pada teman di sampingnya. Bisik orang-orang di sekitar membuat penasaran. Mungkin jenazah itu adalah adik atau kakak iparku. Sungguh aku tak mengetahui hal ini. Mengapa tiada yang beritahu sebelumnya? Ada apa ya sebenarnya? Aku mendekat ke badan jenazah lalu memperhatikannya. Ternyata benar, jenazah itu adik iparku. Tapi tunggu dulu. Mengapa rasanya berbeda. Sepertinya aku

mengenal ciri-cirinya. Wajahnya mengapa mirip

sekali denganku? Mengapa orang-orang cuek pada ku? Mengapa mereka tidak menoleh ke arahku? Kenapa semua mata tertuju hanya pada jenazah itu? Ada apa ini ya Allah..? Perlahan aku berlutut di samping jenazah itu. Mencoba meraih kain putih transparan yang menutupi wajahnya. Ingin ku pastikan lagi siapa sebenarnya dia. Tapi mengapa aku tak bisa menyentuh kain itu! Aku terkejut! Ya Allah, jenazah itu adalah diriku. Dengan lafaz Tahlil yang bersenandung lirih siang itu jenazah itu dibopong menuju

pemakaman. Masih terlihat air mata turun dari mata kekasihku. Aku perhatikan tubuhnya yang tegap, lelaki yang mengagumkan itu terlihat

lemah dan bersembunyi dalam lara. Tiada senyum yang nampak dari bibirnya. Matanya merah terbasuh air mata. Sungguh, aku ingin sekali memeluk tubuhnya saat itu. Membiarkan kesedihan itu bersatu padaku. Namun tak mampu. Pandangan ini lalu tertuju pada sehelai kertas dilipat keluar sedikit dari dalam saku celana hitamnya. Sebelum aku pergi meninggalkan mu wahai suamiku... Aku ingin mengatakan hal yang tidak pernah aku katakan seumur hidupku padamu, selain pada Allah. Aku mencintaimu, suamiku..

Engkau jiwaku,

hadirkan rasaku,

cinta

itu

dalam dan

hatiku,

rohku,

setiap senyum serta tangisku. Harihari ku penuh cinta dan kasih sayang mu. Kau selalu ucapkan kata cinta padaku, puji diriku laksana aku ratu dan kau rajanya. Namun aku tak

pernah membalas kata cinta yang kau haturkan karena aku takut, aku takut cinta itu melebihi cinta ku padaNYA. Maafkan aku, suamiku. Aku mencintai mu karena Allah dan akan selalu seperti itu walau aku tiada di

sampingmu. Izinkan aku kembali padaNYA. Karena DIA juga mencintai ku sebagai

umatNYA

&

sudah

waktunya

aku

kembali padaNYA. Istrimu.

SEKIAN

Biodata Narasi Saya adalah Dahvia Nursriyanti, anak sulung dari lima bersaudara, lahir 19 Maret 1990 di Jakarta. Orang-orang biasa manggil PIA/VIA. Saya besar di keluarga sederhana dan bisa

ditemukan di Jalan Taman Malaka Utara Blok C 12/18, Kecamatan Duren Sawit, Kelurahan Malaka Jaya, Pondok Kelapa, Jakarta Timur 13460. Bisa menghubungi saya di

087880537990. Zaman SMA sempet dipercaya menang lomba nulis puisi dan cerpen waktu sekolah di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. Saya belajar di FK Universitas YARSI sejak 2008 dan sedang menjadi koass. Semangat menulis selalu menjiwa dalam diri saya.

Terkadang resep kosong aja bisa saya jadikan bahan untuk coretan puisi.