Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

Penyakit kanker kulit dewasa ini cenderung mengalami peningkatan jumlahnya terutama di kawasan Amerika, Australia dan Inggris. Berdasarkan beberapa penelitian, mereka orang-orang kulit putih yang lebih banyak menderita jenis kanker kulit ini. Hal tersebut diprediksikan sebagai akibat seringnya mereka terkena (banyak terpajan) cahaya matahari. Di Indonesia penderita kanker kulit terbilang sangat sedikit dibandingkan ke-3 negara tersebut, namun demikian kanker kulit perlu dipahami karena selain menyebabkan kecacatan (merusak penampilan) juga pada stadium lanjut dapat berakibat fatal bagi penderita (Imam, 2008). Jenis tumor ganas kulit yang banyak ditemukan diseluruh dunia ialah karsinoma sel basal (basalioma), karsinoma sel squamosa, yang tergolong non melanoma dan melanoma maligna. Karsinoma sel basal adalah paling umum. Di Amerika, sekitar 800.000 orang menghidapi kanker ini setiap tahun. 75% kanker kulit adalah kanser sel basal. Karsinoma sel skuamos pula didapati apa 200.000 orang Amerika setiap tahun. Melanoma adalah yang paling jarang dijumpai tetapi menyebabkan paling banyak kematian. Menurut WHO, sebanyak 160.000 orang menghidapi melanoma setiap tahun dan sebanyak 48.000 kematian dilaporkan setiap tahun (Lim Pei-Wen et al, 2008) Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk mengetahui tentang definisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, diagnosis serta penatalaksanaan dari tumor ganas kulit.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kanker kulit adalah proses keganasan yang timbul dipermukaan kulit dan berasal dari sel epitel, sel pluripotensial atau dari sel melanin di dalam (Djuanda, 1999). Tumor ganas kulit merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel kulit yang tidak terkendali, dapat merusak jaringan di sekitarnya dan mampu menyebar ke bagian tubuh yang lain. Karena kulit terdiri atas beberapa jenis sel, maka kanker kulit juga bermacam-macam sesuai dengan jenis sel yang terkena (Dharmais, 2006).

2.2 Anatomi dan Fungsi Kulit Kulit adalah suatu organ pembungkus seluruh permukaan luar tubuh, merupakan organ terberat dan terbesar dari tubuh. Seluruh kulit beratnya sekitar 16 % berat tubuh, pada orang dewasa sekitar 2,7 3,6 kg dan luasnya sekitar 1,5 1,9 meter persegi. Tebalnya kulit bervariasi mulai 0,5 mm sampai 6 mm tergantung dari letak, umur dan jenis kelamin. Kulit tipis terletak pada kelopak mata, penis, labium minus dan kulit bagian medial lengan atas. Sedangkan kulit tebal terdapat pada telapak tangan, telapak kaki, punggung, bahu dan bokong (David, 2008). Kulit melindungi tubuh dari trauma dan merupakan benteng pertahanan terhadap bakteri, virus dan jamur. Kehilangan panas dan penyimpanan panas diatur melalui vasodilatasi pembuluh darah kulit atau sekresi kelenjar keringat. Setelah kehilangan seluruh kulit,maka ciran tubuh yang penting akan menguap dan elektrolitelektrolit yang penting akan menghilang dari tubuh, akan menguap dan lektrolitelektrolit akan hilang dalam beberapa jam saja. Contoh dari keadaan ini adalah penderita luka bakar. Bau yang sedap atau tidak sedap dari kulit berfungsi sebagai pertanda penerimaan atau penolakan sosial dan seksual. Kulit juga merupakan tempat

sensasi raba, tekan, suhu, nyeri dan nikmat berkat jalinan ujung-ujung saraf yang bertautan (Price, 1995). Secara embriologis kulit berasal dari dua lapis yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang merupakan lapisan epitel berasal dari ectoderm sedangkan lapisan dalam yang berasal dari mesoderm adalah dermis atau korium yang merupakan suatu lapisan jaringan ikat (David, 2008). Secara anatomis kulit tersusun atas 3 lapisan pokok terdiri dari : a. lapisan epidermis, b. lapisan dermis, c. subkutis, sedangkan alat-alat tambahan juga terdapat pada kulit antara lain kuku, rambut, kelenjar sebacea, kelenjar apokrin, kelenjar ekrin. Keseluruhan tambahan yang terdapat pada kulit dinamakan appendices atau adnexa kulit (Djuanda, 1999)

A. EPIDERMIS Epidermis adalah lapisan luar kulit yang tipis dan avaskuler. Terdiri dari epitel berlapis gepeng bertanduk (keratinosit), mengandung sel melanosit, Langerhans dan merkel. Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar 5 % dari seluruh ketebalan kulit. Terjadi regenerasi setiap 4-6 minggu (David, 2008). Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) : 1. Stratum Korneum. Terdiri dari sel keratinosit yang bisa mengelupas dan berganti. 2. Stratum Lusidum. Berupa garis translusen, biasanya terdapat pada kulit tebal telapak kaki dan telapak tangan. Tidak tampak pada kulit tipis. 3. Stratum Granulosum. Ditandai oleh 3-5 lapis sel polygonal gepeng yang intinya ditengah dan sitoplasma terisi oleh granula basofilik kasar yang dinamakan granula keratohialin yang mengandung protein kaya akan histidin. Terdapat sel Langerhans. 4. Stratum Spinosum. Terdapat berkas-berkas filament yang dinamakan tonofibril, dianggap filamen-filamen tersebut memegang peranan penting

untuk mempertahankan kohesi sel dan melindungi terhadap efek abrasi. Epidermis pada tempat yang terus mengalami gesekan dan tekanan mempunyai stratum spinosum dengan lebih banyak tonofibril. Stratum basale dan stratum spinosum disebut sebagai lapisan Malfigi. Terdapat sel Langerhans. 5. Stratum Basale (Stratum Germinativum). Terdapat aktifitas mitosis yang hebat dan bertanggung jawab dalam pembaharuan sel epidermis secara konstan. Epidermis diperbaharui setiap 28 hari untuk migrasi ke permukaan, hal ini tergantung letak, usia dan faktor lain. Merupakan satu lapis sel yang mengandung melanosit. Fungsi Epidermis : Proteksi barier, organisasi sel, sintesis vitamin D dan sitokin, pembelahan dan mobilisasi sel, pigmentasi (melanosit) dan pengenalan alergen (sel Langerhans) (David, 2008).

B. DERMIS Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap sebagai True Skin. Lapisan dermis ini paling tebal dapat dijumpai di punggung dan paling tipis pada palpebrae. Hubungan antara dermis dan epidermis ini tidaklah sebagai bidang yang rata, tetapi berbentuk gelombang. Bagian dermis yang menonjol ke dalam epidermis dinamakan papilla, sedangkan bagian epidermis yang menonjol ke dermis disebut rete ridge. Papila ini pada telapak tangan dan jari-jari terutama tersusun linier yang member gambaran kulit yang berbeda-beda sebagai dermatoglyphic (sidik jari). Bagian dermis papiler ini tebalnya sekitar seperlima dari tebal dermis total. Bagian bawah dari dermis papiler ini dinamakan dermis retikuler yang mengandung vasa darah dan lymphe, serabut syaraf, adnexa dan lainnya (Price, 1995). Dermis ini tersusun dari beberapa unsure atau organ yang meliputi: unsure seluler, unsure fibrous, substansi dasar, pembuluh darah dan limphe, system saraf. Kelima unsure atau organ yang menyusun dermis akan kita bahas satu demi satu.

1. Unsur seluler lebih banyak didapatkan pada stratum papillaris yang terdiri dari: 1. fibroblast: merupakan sel pembentuk unsur untuk fibrous dan substansi dasarnya 2. Sel mast : merupakan sel pembentuk dan penyimpanan histamine dan histamine like substance yang berperan dalam anafilaksis. 3. Makrofag : merupakan sel fagosit yang berfungsi memfagosit bahanbahan asing fan mikroorganisme. 4. Leukosit : Banyak dijumpai pada proses-proses peradangan yang dapat berupa mononuclear ataupun granulosit. 2. Unsur fibrous lebih padat pada stratum retikularis dibandingkan pada stratum papilaris. Unsur fibrous terdiri dari : 1. Kolagen : merupakan 70% dari berat kering seluruh jaringan ikat, serabut ini terbentuk oleh fibroblast, tersusun atas fibrin dari rantai polypeptide. Serabut ini bertanggung jawab pada ketegangan kulit merupakan unsure pembentuk garis langer (cleavage line) 2. Elastin : Hanya 2 % dari berat kering jaringan ikat. Serabut elastin, ini juga dibentuk oleh fibroblast tetapi susunannya lebih halus disbandingkan dengan kolagen. Serabut elastin ini bertanggung jawab atas elastisitas kulit. 3. Retikulin : Merupakan serabut kolagen yang masih muda dan hanyalah dapat dilihat dengan pewarna khusus. 3. Substansi dasar, tersusun dari bahan mukopolisakaris (asam hialuronat dan dermatan sulfat), yang juga dibentuk oleh fibroblast. Substansi dasar hanya merupakan 0,1% dari berat kering jaringan ikat, tetapi substansi dasar ini mampu menahan sejumlah air, sehingga akan menempati ruang terbesar dari dermis. 4. Pembuluh darah dan limfe :

Pada kulit yang masih normal, darah yang sampai pada kulit merupakan 10% dari seluruh peredaran darah dalam tubuh. Pembuluh darah di dalam kulit terdiri dari 2 plexus yaitu : 1. Plexus superficialis : terdapat pada bagian atas dermis dan tersusun sejajar dengan epidermis. Plexus superficialis ini terdiri dari atas kepiler-kapiler, endarteriole dan venulae yang member makan ke papilla. 2. Plexus profunda : Terdapat pada bagian bawah dermis atau dekat subcutis dan terutama terdiri atas pembuluh-pembuluh darah yang lebih besar dari pada plexus superficialis. Pada jari-jari di antara arteriole dan venulae terdapat kelompokan otot polos yang mempunyai fungsi khusus yaitu mengatur shunt arterio-venosa dan sering dinamakan glomus. Sedangkan pembuluh limfe biasanya mengikuti pembuluh darah (Djuanda, 1999). 1. Sistem saraf Kulit diinervasi oleh kira-kira 1.000.000 serabut saraf aferen. Sebagian besar terdapat pada wajah dan ekstremitas, sedangkan pada punggung relative sedikit. Serabut saraf ini mempunyai akson dengan badan sel yang berada pada dorsal root ganglia . Serabut saraf ini masuk kulit melalui lapisan lemak subkutan, kemudian masingmasing terbagi dua yaitu serabut saraf bermyelin dan serabut saraf tidak bermyelin. Serabut saraf bermyelin berjalan horizontal membentuk anyaman dengan serabut yang sama, kemudian naik ascenden bersama pembuluh darah dan menginervasi dermis bagian superficial. Dalam perjalanan selanjutnya serabut ini dibungkus oleh sel Schwann dan sebagian tidak bermyelin. Sebagian berakhir di dermis, beberapa melakukan penetrasi membrane basalis tetapi tidak jauh melanjut ke epidermis. Ada 3 macam serabut saraf yang terdapat pada kulit, yaitu : 1. Serabut adrenergic : berfungsi untuk menginervasi pembuluh darah (untuk vasokonstriksi pembuluh darah, m erector papilare (untuk kontraksi otot tersebut), dan kelenjar apokrin (untuk pengatur sekresi kelenjar apokrin. 2. Serabut kolinergik : berfungsi menginervasi kelenjar ekrin.

3. Serabut sensorik : berfungsi untuk menerima rangsangan dari luar tubuh. Ada beberapa akhiran serabut saraf sensorik, yaitu : 1. Korpuskulum Meisnerri, 2. Korpuskulum Paccini, 3. Akhiran serabut saraf bebas. Ketiga akhiran serabut sensorik tersebut lebih jauh adalah sebagai berikut : 1. Korpuskulum Meisnerri berfungsi menerima rangsangan sentuhan dan tekanan ringan. Terdapat pada papilla dermis dan paling banyak dapat dijumpai pada telapak tangan dan kaki. 2. Korpuskulum Paccini berfungsi untuk menerima rangsangan tekanan dalam dan terdapat pada dermis bagian dalam terutama pada bagian-bagian badan yang sering menahan beban berat. 3. Akhiran saraf rambut bebas berfungsi untuk menerima rangsangan panas, dingin, nyeri, gatal. Akhiran saraf bebas ini terdapat terutama pada papilla dermis dan sekitar folikel rambut. Batas antara epidermis dan dermis dibentuk oleh zone membrane basalis. Dengan menggunakan mikroskop electron, membrane ini dapat dilihat terdiri dari 4 komponen yaitu : membrane sel dari sel basal dengan hemidesmosom, celah intermembranous, lamina basalis, komponen fibrous dermis yang dapat dilihat dengan mikroskop biasa dengan pewarna khusus menggunakan PAS. Zone membrane basalis ini merupakan filter semipermeable yang memungkinkan pertukaran sel dn cairan antara dermis dan epidermis (Djuanda, 1999). Fungsi Dermis : struktur penunjang, mechanical strength, suplai nutrisi, menahan shearing forces dan respon inflamasi (David, 2008).

C. SUBKUTIS Merupakan lapisan di bawah dermis atau hipodermis yang terdiri dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya berbeda-beda menurut daerah di tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi.

Fungsi Subkutis / hipodermis : melekat ke struktur dasar, isolasi panas, cadangan kalori, kontrol bentuk tubuh dan mechanical shock absorber (David, 2008)

VASKULARISASI KULIT Arteri yang memberi nutrisi pada kulit membentuk pleksus terletak antara lapisan papiler dan retikuler dermis dan selain itu antara dermis dan jaringan subkutis. Cabang kecil meninggalkan pleksus ini memperdarahi papilla dermis, tiap papilla dermis punya satu arteri asenden dan satu cabang vena. Pada epidermis tidak terdapat pembuluh darah tapi mendapat nutrient dari dermis melalui membran epidermis (David, 2008)

2.3 Fisiologi Kulit Kulit merupakan organ yang berfungsi sangat penting bagi tubuh diantaranya adalah memungkinkan bertahan dalam berbagai kondisi lingkungan, sebagai barier infeksi, mengontrol suhu tubuh (termoregulasi), sensasi, eskresi dan metabolisme. Fungsi proteksi kulit adalah melindungi dari kehilangan cairan dari elektrolit, trauma mekanik, ultraviolet dan sebagai barier dari invasi mikroorganisme patogen. Sensasi telah diketahui merupakan salah satu fungsi kulit dalam merespon rangsang raba karena banyaknya akhiran saraf seperti pada daerah bibir, puting dan ujung jari. Kulit berperan pada pengaturan suhu dan keseimbangan cairan elektrolit. Termoregulasi dikontrol oleh hipothalamus. Temperatur perifer mengalami proses keseimbangan melalui keringat, insessible loss dari kulit, paru-paru dan mukosa bukal. Temperatur kulit dikontrol dengan dilatasi atau kontriksi pembuluh darah kulit. Bila temperatur meningkat terjadi vasodilatasi pembuluh darah, kemudian tubuh akan mengurangi temperatur dengan melepas panas dari kulit dengan cara mengirim sinyal kimia yang dapat meningkatkan aliran darah di kulit. Pada temperatur yang menurun, pembuluh darah kulit akan vasokontriksi yang kemudian akan mempertahankan panas (David, 2008)

2.4 Klasifikasi Tumor Ganas Kulit Tumor-tumor ganas kulit yang paling sering ditemukan adalah : 1. Karsinoma Sel Basal 2. Karsinoma Sel Skuamosa 3. Tumor Maligna (Melanoma Maligna)

1. KARSINOMA SEL BASAL a. Definisi Karsinoma Sel Basal (KSB) adalah neoplasma ganas dari sel epitelial yang lebih mirip set germmatif folikel rambut dibandingkan dengan lapisan sel basal epidermis. KSB merupakan tumor fibroepitelial yang terdiri alas komponen stroma interdependen (jaringan fibrosa) dan epitelial. Sel tumornya berasal dari primordial pluropofensial di lapisan sel basal, dan dapat juga dari selubung akar luar folikel rambut atau kelenjar sebasea atau adneksa kulit lain (Ramsay, 2003). Nama lain dari Karsinoma Sel Basal adalah Basalioma, Basal Sel l-pitellioma. ulkus rodens. ulkus Jacob, tumor komprecher, basal sel karsinoma. b. Epidemiologi Pertama sekali yang melaporkan Karsinoma Sel Basal ini adalah Jacob pada tahun 1827 yang meruapakan suatu sel invasi dan metastase yang lambat, serta jarang menimbulkan kematian.5 Karsinoma Sel Basal ini lebih sering dijumpai pada orang kulit putih dari pada orang yang kulit berwarna, dan pengaruh sinar matahari sangat berperan dalam perkembangan Karsinoma Sel Basal. Pria lebih banyak dari pada wanita dan umumnya di atas 40 tahun. Lebih dari 80% berlokasi di kepala dan leher, 30% di hidung. Menurut penelitian Tjarta di Indonesia peringkat kanker kulit adalah : 1. Karsinoma Sel Basal 36,67% 2. Karsinoma Sel Skuamosa 11,4% 3. Melanoma Maligna 0,59% 4. Tumor ganas adneksa kulit dan tumor ganas kulit lainnya

Faktor predisposisi dari Karsinoma Sel Basal 1. Faktor internal 2. Faktor external 1. Sinar UV (UVB 290 -320 um) 2. Trauma pada kulit sepeni bekas vaksinasi , luka bakar 3. Zat-zat kimia hidrokarbon polisiklik 4. Radiasi lonisasi 5. Arsen organic : umur, ras, jenis kelamin, dan genetik

c. Patogenesis Patogenesis Karsinoma sel Basal didahului dengan kolagen yang sering dijumpai pada kulit yang sedikit pigmennya dan mendapat sinar matahari yang berlebih sehingga nutrisi epidermis terganggu yang mana hal ini merupakan predileksi terjadinya suatu kelainan kulit. Melanin berfungsi sebagai energi amorf yang dapat menyerap energi dan menghilangkannya dalam bentuk panas Jika energi masuk terlalu besar dapat merusak dan mematikan sel atau mengalami mutasi untuk selanjulnya menjadi sel kanker (Graham, 2005). d. Manifestasi klinik Predileksinya terutama pada wajah (pipi. dahi, hidung, lipat, nasolabial, daerah periorbital), leher. Meskipun jarang dapat pula dijumpai pada lengan, langan, badan, tungkai, kaki, dan kulit kelapa. Tumor ini tumbuh lambat dan jarang metastasis jauh, namun cenderung invasif lokal dan menyebabkan morbiditas yang hebat, rekurrensi lokal dan destruksi jaringan. Metastasis dapat terjadi pada varian noduler yang disebut karsinoma sel basal basaloskuamous (Graham, 2005). Gambaran klinik KSB bervarisasi, Lever membagi KSB menjadi 5 bentuk (Graham, 2005): 1. Nodulo-ulseratif, termasuk ulkus rodens 2. Berpigmen 3. Morfea atau fibrosing atau sklerosing

4. Superficial 5. Fibroepitelioma

Tipe Nodulo Ulseratif Merupakan jenis yang paling sering dijumpai. Lesi biasanya tampak sebagai lesi tunggal Paling sering mengenai wajah, terutama pipi, lipat nasolabial. dahi, dan tepi kelopak mata Pada awalnya lampak papul atau nodul kecil, transparan seperti mutiara.

berdiamater kurang dari 2 cm, dengan tepi meninggi. Permukaannya tampak mengkilat. sering dijumpai adanya teleangiektasia. dan kadangkadang dengan skuama yang halus atau krusta tipis. Berwarna seperti mutiara, kadangkadang seperti kulit normal sampai eritem yang pucat. Lesi membesar secara perlahan dan suatu saat bagian tengah lesi menjadi cekung, meninggalkan tepi yang meninggi keras. Jika terabaikan, lesi-lesi ini akan mengalami ulserasi (disebut ulkus roden), dengan destruksi jaringan di sekiranya (Graham, 20005). Tipe Berpigmen Gambaran klinisnya sama dengan yang tipe nodulo ulseratif Bedanya, pada jenis ini berwama coklat atau hitam berbintik-bintik atau homogen yang secara Minis dapat menyerupai melanoma (Graham, 2005).

Tipe Morfea Fibrosing/Sklerosing Biasanya terjadi pada kepala dan leher lesi tampak sebagai plak sklerotik yang cekung. berwarna putih kekuningan dengan batas tidak jelas. Pertumbuhan perifer diikuti oleh perluasan sklerosis ditengahnya (Graham, 2005). Tipe Superfisial Lesi biasanya multipel, mengenai badan Secara Minis tampak sebagai plak transparan, eritematousa sampai berpigmen terang, berbentuk oval sarnpai iregular dengan tepi berbatas legas sedikit meninggi, seperti benang atau kawat. Biasanya dihubungkan dengan digesti arsenik kronis (Graham, 2005).

Tipe Fibroepitelial Paling sering terjadi pada punggung bawah Secara klinis, lesi berupa papul kecil yang tidak bertangkai atau bertangkai pendek. dengan permukaan halus dengan warm yang bervariasi (Graham 2005) e. Histopatologi Lever membagi KSB dalam beberapa tipe histopalologi yang terdiri atas KSB yang berdiferensiasi dan KSB tidak berdiferensiasi (Lever, 1983) 1. KSB berdiferensiasi a. Jenis keratotik Disebut juga tipe pilar oleh karena berdiferensiasi ke arah rambut Menunjukkan sel-sel parakeratotik dengan gambaran inti yang memanjang dan sitoplasma agak eosinofilik dan dijumpai horncyst, selain sel-sel undiferentiated dengan sitoplasma basofilik

b. Jenis kistik Dijumpai adanya bagian-bagian kistik dibagian tengah massa tumor yang terjadi akibat degenerasi sel-sel tumor atau defferensiasi sel-sel ke arah kelenjar. c. Jenis adenoid Adanya gambaran struktur mirip kelenjar yang dibatasi jaringan ikat Kadangkadang ditemukan lumen yang dikeilingi sel-sel bersekresi. Dalam lumen dapat ditemukan semacam bahan koloid atau massa amorf. 2. KSB tidak berdifferensiasi/ KSB solid Merupakan gambaran histopatologik yang banyak ditemukan. Berupa pulaupulau sel dengan bentuk dan ukuran bermacam-macam, terdiri dari sel-sel basaloid, dengan inti basofilik yang bulal atau lonjong. sitoplasma sedikit, selsel pada tepi massa tumor tersusun palisade. f. Diagnosis Keluhan umumnya adalah lesi seperti tahi lalat yang membesar, dapat pula lesi tersebut berupa borok yang tidak sembuh. Gambaan klasik dikenal sebagai ulkus rodent yaitu ulkus dengan tepi tidak rata, warna kehitaman dengan perifer tampak hiperplasia (meninggi) dan di sentral ulkus. Bentuk tidak klasik bervariasi tergantung tipe klinikkopatologinya. Pada awal ditemukan umumnya karsinoma sel basal kecil, translusen atau seperti mutiara, tampak area yang menonjol dengan adanya pembuluh darah yang dilatasi (telangiectasia). Pertumbuhannya lambat, namun bila diabaikan dapat tumbuh ke lapisan kulit lebih dalam dan menyebabkan kerusakan yang besar, khususnya karsinoma sel basal yang tumbuh pada daerah sekitar mata, hidung, atau telinga (Handayani, 1999) Lesi basalioma umumnya berupa papul, nodul, translusen seperti mutiara, ulkus (sering ditutupi krusta) dengan tepi meninggi, berwarna merah jambu atau merah, telangiektasis dapat dijumpai (dengan bantuan loupe). Jenis pigmented dapat berwarna coklat sampai biru atau hitam. Pada palpasi dapat teraba keras, padat dan kistik. Bentuk biasanya bulat, oval, tengah melekuk (umbilicated).

Hampir tidak pernah didapat metastasis ke kelenjar getah bening regional. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan histopatologi (Lever, 1983) g. Penatalaksanaan Penatalaksanaan KSB bertujuan untuk mendapatkan kesembuhan dengan hasil kosmetik yang baik serta hasil fungsional yang maksimal. Dalam menentukan cara penatalaksanaan KSB, banyak hal yang harus diperhatikan, baik dari faktor tumornya maupun pasiennya. Faktor tumor yang perlu diperhatikan adalah tipe tumor, ukuran lokasi, sifat penumbuhan dan apakah tumor primer atau rekurens. Sedangkan faktor pasien yang perlu dipertimbangkan adalah usia, riwayat penyakit lain, faktor psikologis dan riwayat pengobatan (Handayani, 1999) Secara garis besar penatalaksanaan KSB digolongkan dalam 2 kelompok, yaitu dengan pembedahan dan tanpa pembedahan Pembedahan dapat dilakukan dengan cara eksisi dengan skapel, bedah mikrografik Mote, kuretase dan elektrodesikasi, bedah beku, serta bedah laser Penatalaksanaan tanpa pembedahan dilakukan dengan cara radioterapi, interferon intralesi, kemoterapi. pemberian retinoid dan foto dinamik (Handayani, 1999). h. Prognosis Pengobatan pada KSB primer memberikan angka kesembuhan sekitar 95% sedangkan pada KSB rekuren sekitar 92%. Pengobatan pada KSB rekuren lebih sulit daripada KSB Primer, dan angka kekambuhan selelah dilakukan prosedur yang kedua adalah tinggi (Graham, 2005).

2. KARSINOMA SEL SKUAMOSA a. Definisi Karsinoma sel skuamosa adalah suatu proliferasi ganas dari keratosit epidermis, yang merupakan tipe sel epidermis yang paling banyak dan merupakan salah satu dari kanker kulit yang sering dijumpai setelah basalioma. Faktor predisposisi karsinoma sel skuamosa (KSS) antara lain radiasi sinar ultraviolet, bahan karsinogen. arsenic dan lain-lain (Graham, 2005). Nama lain KSS adalah epitelioma sel skuamosa (Prickle), karsinoma sel prickle, karsinoma epidermoid, pavement epithelioma, spinalioma, karsinoma Bowen dan cormfied epithelioma. b. Epidemiologi KSS lebih sering dijumpai pada orang kulit putih dari pada kulit berwarna dan lebih banyak dijumpai pada laki-laki dibanding wanita, terutama pada usia 40-5tahun. Insiden KSS meninggi setting dengan bertambahnya usia (Graham, 2005) c. Etiologi Seperti pada umumnya kanker yang lain, penyebab kanker kulit ini juga belum diketahui secara pasti Terdapat banyak faktor yang dapat menyebabkan pertumbuhan KSS pada kulit yaitu faktor sinar matahari, arsen, hidrokarbon, suhu, radiasi kronis, parut, virus (Rata, 2005). Peranan UV untuk terjadinya karsinoma sel skuamousa melalui berbagai mekanisme. UV-B tampaknya mempengaruhi densitas dan kapabilitas sel-sel Langerhans interleukin-2 (T helper 1 cytokine) dan Interferon. Penelitian telah membuktikan bahwa sinar ultraviolet meng-introduksi mutasi dari p53 dengan memproduksi dimer dari pyrimidine DNA oleh karena itu dapat dipertimbangkan bahwa sinar ultra violet sebagai petanda pemicu mutasi (Rata, 2005).

d. Manifestasi Kllinik KSS pada umunya sering terjadi pada usia 40-50 tahun dengan lokasi yang tersering adalah pada daerah yang terbanyak terpapar sinar matahari seperti wajah, telinga, bibir bawah, punggung, tangan dan tungkai bawah. Secara klinis ada 2 bentuk KSS, y aitu 1. KSS in situ Karsinoma sel skuamosa ini terbatas pada epidermis dan terjadi pada berbagai lesi kulit yang telah ada sebelumnya seperti solar keratosis, kronis radiasi keratosis, hidrokarbon keratosis, arsenikal keratosis. kornu kutanea. penyakit bowen, dan entroplasia Queyrat KSS in situ ini dapat menetap di epidermis dalam jangka waktu lama dan tak dapat diprediksi. dapat menembus lapisan basal sampai ke dermis dan selanjutnya bermetastase melalui saluran getah bening regional.

2.

KSS invasif KSS invasiv ini dapat berkembang dari KSS in situ dan dapat juga dari kulit normal, walaupun jararang KSS invasif yang dini baik yang muncul pada karsinorna in situ, lesi premaligna atau kulit normal, biasanya adalah berupa nodul kecil dengan batas yang tidak jelas, berwama sama dengan warna kulit atau agak sedikit eritema Permukaannya mula-mula lembut kemudian berkembang menjadi verukosa atau papilomatosa Ulserasi biasanya timbul didekat pusat dari tumor, dapat terjadi cepat atau lambat, string sebelum tumor berdiameter 1-2 cm. Permukaan tumor mungkin granular dan mudah

berdarah, sedangkan pinggir ulkus biasanya meninggi dan mengeras. Dapat dijumpai krusta (Rata, 2005) e. Stadium Klinik Stadium klinik untuk karsinoma sel basal (basiloma) dan karsinoma sel skuamous menggunakan standart TNM-AJCC (American Joint Commission on Cancer) 2002. Stadium 0 TNM Tis.N0.M0 T Tx T0 I T1.N0.M0 Tis T1 II T2.N0.M0 T3.N0.M0 T2 T3 T4 = = = = = = = Tumor Primer Tidak dapat dievaluasi Tidak ditemukan Kanker in situ Tumor terbatas pada kulit, 2cm Tumor terbatas pada mammae, 2-5cm. Tumor > 5cm Invasi tumor dalam ke jaringan dibawahnya III T4.N0.M0.
TiapT.N1.M0

N NX N0 N1 = = =

Nodus Regional Tidak dapat diperiksa Tidak ada metastasis nodus regional Ada nodus regional Metastasis jauh = Tidak dapat diperiksa

IV

TiapT.tiapN.M1

M Mx

M0 M1

= =

Tidak ada metastasis jauh Ada metastasis jauh

f. Histopatologis Secara histopatologi KSS terdiri dari massa yang irreguler dari sel-sel epidermis yang berproliferasi dan menginvasi ke dermis KSS yang berdiferensiasi baik menunjukkan keratinisasi yang cepat dari lapisan sel skuamosa Sel-sel tumor tersusun secara fokal dan konsentris disertai massa keratin, sehingga terbentuklah mutiara tanduk (hom pearls) yang khas pada KSS berdiferensiasi baik. Pada KSS diferensiasi buruk menunjukkan keratinisasi yang terbatas atau kurang sel-sel atipik dengan gambaran mitosis yang abnormal. Tidak dijumpai interseluler bridge. g. Diagnosis Keluhan utamanya adalah lesi dikulit yang tumbuh menonjol, mudah berdarah, bagian atasnya terdapat borok seperti bunga kol disertai bau yang khas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan lesi yang tumbuh eksofitik, tumbuh progresif dan mudah berdarah terkadang berupa ulkud dengan bau yang khas. Karsinoma sel skuamous umumnya tumbuh pertama dalam bentuk bercak keratotik dan selanjutnya menjadi nodul eritematos dengan ulkus yang meninggi, dengan krusta yang berkeratin, bertanduk dengan tepi yang meninggi, basah, mudah berdarah dan berbau khas. KSS sering berhubungan dengan ekstensi subkutaneus yang dapat menyebabkan kerusakan lapisan dalam dermis, yang dapat berhubungan dengan timbulnya rasa nyeri kerena invasi perineural. Secara klinis dicurigai karsinoma sel skuamous bila terdapat lesi di kulit terutama pada kulit yang terpapar sinar matahari atau trauma, betuk plaque, nodul, papula, tumor atau ulkus, mudah

berdarah, konsistensi padat, tumbuh ada yang eksofitik, endofitik, infltrat progresif dengan cepat. Diagnosis pasti dengan pemeriksaan histopatologis. (Graham, 2005) h. Penatalaksanaan Pengobatan KSS tergantung dan ukuran tumor, bentuk dan lokasi tumor, sifat dasar dari kulit dimana tumor itu timbul, tipe. kedalaman jaringan yang diinvsi tumor tersebut. Pada karsinoma sel skuamous batas sayatan yang diajurkan adalah1-2 cm diluar indurasi. Bila terdapat metastasis ke kelenjar getah bening regional, harus dilakukan diseksi kelenjar getah bening yakni diseksi leher modifikasi, diseksi inguinal superfisial atau diseksi aksila sampai level II. Khusus pada karsinoma sel skuamous yang mengenai kulit leher dan kepala diseksi yang dianjurkan adalah classic radical neck dissection oleh karena kanker ini sangat limfogenik dan infiltratif. Penatalaksanaan menurut stadium, stadium I, II, dan III (dengan T4 N0 M0) dilakukan eksisi luas dengan batas sayatan 1-2cm. Stadium III (dengan T1,2,3 N1 M0) dilakukan eksisi luas dan diseksi kelenjar getah bening regional. Stadium IV hanya diberi terapi yang paliatif. Radiasi primer diindikasikan pada kasus inoperable, kasus dengan toleransi operasi yang buruk dan penderita menolak operasi. Radiasi adjuvant diberikan pada kondisi: batas sayatan tidak bebas tumor, batas sayatan dekat tumor, terdapat kontaminasi lapangan operasi oleh sel tumor dan radikalitas sayatan diragukan. Radiasi untuk adjuvant lokoregional diberikan jika kelenjar getah bening mengandung metastasis lebih dari satu, diameter kelenjar getah bening >3 cm, ada pertumbuhan ekstra kapsul atau high grade malignancy. Radioterapi sebaiknya dihindari pada pasien usia muda oleh karena adanya morbiditas kosmetik jangka panjang dan beresiko untuk terjadinya karsinoma sel skuamous di area radiasi.

Kemoterapi primer diindikasikan pada kasus dengan metastasis jauh, inoperable atau penderita yang gagal diterapi dengan pembedahan dan radioterapi. Kemoterapi yang sering digunakan adalah cisplatin, 5-fluorouracil, bleomycin dan doxorubicin. 70%-80% dari semua KSS kulit rekurrent dalam 2 tahun pertama setelah operasi. Oleh karena itu follow up ketat pada periode ini sangat krusial.

3. MELANOMA MALIGNA a. Definisi Adalah tumor ganas kulit yang berasal dari sd melanosit dengan gambaran berupa lesi kehitam-hitaman pada kulit Penyebabnya belum diketahui sering terjadi pada usia 30 sampai 60 tahua Frekwensi sama pada pria maupun wanita (Graham, 2005). Berbagai faktor yang diperkirakan sebagai faktor penting dalam mekanisme karsinogenesis keganasan adalah sebagai berikut. 1. Faktor genetik Adalah keluarga yang menderita keganasan ini meningkatkan risiko 200 kali terjangkitnya Melanoma Maligna. Ditemukan Melanoma Maligna familial pada 8% kasus baru Terjadinya Melanoma Maligna jug didihubungkan dengan teriadinya keganasan lainnya misalnya retinoblastoma dan beberapa sindroma keganasan dalam keluarga. 2. Melanocytic nevi Keadaan ini dapat timbul berhubungan dengan kelainan genetik atau dengan lingkungan tertentu. Jumlah nevi yang ditemukan berkaitan dengan jumlah paparan sinar matahari pada masa kanak-kanak dan adanya defek genetik tertentu. Sejumlah 30-90% Melanoma Maligna terjadi dari nevi yang sudah ada sebelumnya. 3. Faktor biologik Trauma yang berkepanjangan merupakan risiko terjadinya keganasan ini. misalnya pada iritasi akibat ikat pinggang. Keadaan biologik lainnya yang mempengaruhi

adalah berkurangnya ketahanan imunologik. misalnya pada penderita pengangkatan ginjal dan juga M. Hodgkin akan memngkatkan kejadian Melanoma Maligna. Perubahan keadaan hormonal juga meningkatkan kejadian Melanoma Maligna dan juga meningkalkan kekambuhan setelah pengobatan pada penderita Melanoma Maligna 4. Faktor lingkungan Paparan sinar UV dari matahari merupakan faktor penting yang dikaitkan dengan peningkatan terjadinya Melanoma Maligna, terutama bila terjadi sun burn yang berulang pada orang yang berpigmen rendah Gejala dan tanda-tanda spesifik ditemukan pada Melanoma Maligna yang telah dikenal secara luas. adalah sebagai beriku (ABCDEF dari Melanoma Maligna) A-Sy merry, yaitu bentuk rumor yang tidak simetris Border irregularity, yaitu garis batas yang tidak teralur Colour variation, dari yang tidak berwarna sampai hitam pekat dalam satu lesi. Diameter tumor lebih besar dari 6mm Evolution/change dari lesi dapat diperhatikan sendiri oleh penderita atau keluarga.

b. Manifestasi Klinik Terdapat 3 jenis Melanoma Maligna (Clark, 1967,1969 dan Me Govern, 1970) dengan I jenis lambahan baru (Reed, 1976 dan Seiji, M, dkk . 1977). Keempat jenis Melanoma Maligna tersebut terdiri atas:

1. Superficial spreading melanoma (SSM) Merupakan jenis yang terbanyak dari

melanoma (70%) di Indonesia merupakan jenis kedua terbanyak. Pada umumnya timbul dari nervus atau pada kulil normal (de novo), Berupa plak archiformis berukuran 0,5-3 cm dengan lepi meninggi dan ireguler. Pada permukaamya

terdapat campuran dari bermacam-macam warna. seperti coklat. abu-abu, biru. hitam dan sering kemerahan. Meluas secara radial Pada umumnya tesi mempunyai ukuran 2 cm dalam waktu 1 tahun. untuk melanjutkan tumbuh secara vertikal dan berkembang menjadi nodula biru kehitaman Dapal mengalami regresi sponian dengan meninggalkan bercak hipopigmentasi. Predileksinya pada wanita dijumpai di tungkai bawah, sedangkan pada pria di badan dan leher. Epidermis : - Melanosit berbenluk epiteloid, dapat tersusun sendiri-sendiri atau berkelompok - Pada umumnya sel-sel tersebut tidak menunjukkan bentuk yang pleomorfik Dermis : - Sarang-sarang tumor yang padat dengan melanosit berbentuk epiteloid yang besar serta berkromatin atipik - Di dalam sel-sel tersebut terdapat butir-butir melanin - Kadang-kadang dapat ditemukan melanosit berbentuk kumparan (spindle) dan sel-sel radang 2. Nodular Melanoma (NM) Merupakan jeras melanoma kedua terbanyak (15-30%) sifalnya Icbih agresif Di Indonesia mi merupakan jenis yang lersering. Timbul pada kulit normal (de novo) dan jarang dan suatu nevus

Berupa nodul berbentuk setengah bola (dome shaped), atau polipoid dan eksofitik, berwarra coklat kemerahana atau biru sampai kehitaman Pertumbuhannya secara vertikal (invasif) Dapat mengalami ulserasi. perdarahan, dan timbul lesi salelit Metastasis limfogen dan hemalogen, dapat timbul sejak awal terutama dijumpai pada pria dengan prediteksi dipunggung. Perbandingan antara pria dan Wanita 2:1. Epidermis : - Melanosit berbentuk epiteloid dan kumparan atau campuran kedua bentuk tersebul. dapat dilemukan pada daerah dermoepidermal Dermis : - Sejak semula sel-sel tersebut mempunyai kemampuan untuk meluas secara vertikal. Menginvasi lapisan retikularisdermis, pembuluh darah dan subkulis 3. Lentigo Maligna Melanoma (LML) Merupakan kelaman yang jarang ditemukan (410%). Pertumbuhan vertikal. sangat lambal dengan lokasi terbanyak di daerah muka yang terpapar sinar matahari Timbul dari hutchinaons freckle yang terdapat pada muka (pipi, pelipis) atau pada bagian lain tubuh terutama daerah yang terkena sinar matahari Berupa makula coklat sampai kehitaman, berukuran beberapa sentimeter dengan tepi tidak teratur. Meluas secara lambat pada bagian tepi lesi (radial) Pada permukaan dapal dijumpai adanya bercak-bercak yang berwama lebih gelap (hitam) atau biru, tersebar secara tidak teratur Dapat berkembang menjadi nodul biru kehitaman yang invasif dan agak hiperkeratotik Terutama terdapat pada wanita usia lanjut Perbandingan antara pria dan wanita 1: 2-3.

Epidermis : - Melanosit atifik sepanjang membrana basalts, berbentuk pleomorfik dengan inti yang atipik. - Sel-sel yang sering dijumpai berbentuk kumparan (spindleshaped melanocyl) Dermis : - Intilirasi limfosit dan makrofage yang mengandung melanin. - Kadang-kadang pada tempat tertentu ditemukan sarang-sarang tumor. 4. Acral LeMiginous Melanoma (ALM)/Palmar-Plantar-Subungual Melanoma (PPSM) Pada umumnya timbul pada kulit normal (de novo). Berupa nodul dengan wama yang bervariasi dan pada permukaannya dapal timbul papula, nodul serta ulserasi. Kadang-kadang lesinya tidak mengandung pigmen (amelanotic melanoma). Predileksinya : pada telapak kaki, tumit, telapak tangan, dasar kuku, teruiama ibu jari kaki dan tangan Merupakan tipe yang banyak dijumpai pada orang negro dan bangsa lain yang tinggal pada daerah tropik Di Afnka. plantar melanoma dijumpai pada 70% kasus. Acral Lentinginous Melanoma (ALM) merupakan jenis yang lebih banyak ditemukan pada penderita kulit berwarna (35-60%). Menyerupai gambaran Melanoma Maligna, SSM. atau campuran keduanya c. Stadium Klinik Pada Melanoma Maligna digunakan sistem klasifikasi klinik (stadium klinik) dan klasifikasi histologik (tingkat invasi Clark & kedalaman Breslow) (Rata, 2005) Kegunaan atau kepentingan sistem klasifikasi tersebut, yaitu: Untuk menentukan iindakan pengobatan. Untuk menentukan prognosis.

Untuk membandingkan hasil pengobatan antara berbagai klinik Klasifikasi Klinik

Sampai saat ini digunakan Stadium Klinik (dengan beberapa modifikasi) sebagai klasifikasi standar Melanoma Maligna, terdiri atas 3 stadium (Rata, 2005) Stadium I : Melanoma Maligna lokal tanpa metastasis jauh atau ke kelenjar limfe regional. Termasuk stadium 1: Melanoma primer yang belum diobati atau tdah dilakukan biopsi eksisi. Melanoma rekuren lokal yang berada dalam jarak 4 soitimeter dari lesi primer Melanoma primer multipel. Stadium II : Sudah terjadi metastasis yang terbatas pada kelenjar limfe regional. Termasuk Stadium II. Melanoma primer yang mengadakan metastasis secara simultan. Melanoma primer yang terkortrol dan kemudian terjadi metastasis. Melanoma rekuren lokal dengan metastasis. Metastasis in-transit yang berada di luar jarak 4 sentimeter dari lesi primer. Melanoma primer yang tidak diketahui dengan metastasis

Stadium III

Melanoma diseminala, dimana sudah terjadi metastasis jauh. Termasuk Stadium III Bila sudah terjadi metastasis ke alat- alat dalam dan atau subkutan.

Pada kira-kira 25-30% penderita Melanoma Maligna sudah menunjukkan adanya metastasis ke kelenjar limfe regional, walaupun secara klinik belum teraba pembesaran kelenjar limfe. Hal ini menerangkan bahwa untuk menentukan prognosis dan tindakan pengobatannya tidak cukup hanya didasarkan pada klasifikasi Stadium Klinik saja, tetapi perlu disertai dan ditentukan berdasarkan histologik. Klasifikasi Histologik Klasifikasi histologik didasarkan pada perangai biologik Melanoma Maligna. Dikenal dua klasifikai histologik standar yang digunakan, yaitu (Rata, 2005) Klasifikasi lingkat invasi menurut Clark Klasifikasi kedalaman menurut Breslow

Klasifikai Tingkat Invasi Menurut Clark Clark (1969) membagi Melanoma Maligna menurut invasinya didalam kulit atas lima tingkat (Rata, 2005) Tingkat : Sel melanoma terletak di atas membrana basalis epidermis (melanoma in situ : intraepidermal) Sangat jarang dan tidak membahayakan : Tingkat II : Invasi sel melanoma sampai dengan lapisan papilaris dermis (dermis bagian superfisial). Tingkat III : Invasi sel melanoma sampai dengan perbatasan antara lapisan papilaris dan lapisan retikularis dermis Sel melanoma mengisi papila dermis. Tingkat IV : Invasi sel melanoma sampai dengan lapisan retikularis dermis.

Tingkat V

: Invasi sel melanoma sampai dengan janngan subkutan

Klasifikasi kedalaman (ketebalan) tumor menurut Breslow Breslow (1970) membagi Melanoma Maligna dalam tiga golongan (Rata, 2005) Golongan I Golongan II : Dengan kedalaman (ketebalan) tumor kurang dari 0,76 mm : Dengan kedalaman (ketebalan) tumor antara 0,76mm - 1 ,5mm

Golongan III : Dengan kedalaman (ketebalan) tumor lebih dari 1.5 mm Beberapa penulis mengemukakan vanasi sebagai berikut: Kedalaman(ketebalan) tumor kurangdari 0,85 mm 4 Kedalaman (ketebalan) tumor antara 0.85 mm - 1,69 mm. Kedalaman (ketebalan) tumor antara 1,70 mm- 3,64 mm. Kedalaman (ketebalan) tumor lebih dari 3,65 mm. Kedalaman (ketebalan) tumor menurut Breslow, diukur secara langsung menggunakan mikrometer okuler (dinyatakan dalam NM) dan merupakan metode yang objektif untuk menentukan prognosis. Sedangkan Tingkat Invasi menurut Clark merupakan arah pengukuran ketebalan tumor secara tidak langsung. Hubungan antara tingkat menurut Clark dan kedalaman (ketebalan) tumor menurut Breslow: Melanoma Maligna dengan kedalaman sampai 0.65 mm menurut klasifikasi Breslow, sesuai dengan Tingkat II menurut klasifikai Clark. Lesi Melanoma

Maligna dengan kedalaman 1,5 mm atau lebih menurut klasifikai Breslow, sesuai dengan tingkal IV dan V menurut klasifikasi Clark Sedangkan kedalaman antara 0.65 mm dan 1,5 mm menurut klasifikasi Clark. Diagnosa ditegakkan dengan Biopsi dengan mengangkat semua pertumbuhan yang mencurigakan. Apabila jaringan terlalu besar untuk diangkat. maka cukup diangkat contoh jaringannya saja.

d.

Penatalaksanaan

A. Eksisi bedah. Dilakukan pada melanoma stadium I dan II Zitelli dkk Menyarankan untuk mengambil sampai 1.5 cm diluar tepi lesinva, kecuali bila dilakukan Moh's microsurgery. Pada melanoma yang terdapat pada kuku dianjurkan untuk dilakukan amputasi pada seluruh jari yang terkena. B. Elective Lymph Node Dessection( ELND) Dilakukan pada melanoma stadium III, dimana telah terdapat metastase ke kelenjar lymph. Hal ini dibuktikan dengan terabanya pembesaran kelenjar lymph ELND masih merupakan terapi yang kontroversial Cara yang lebih dianjurkan adalah dengan intraoperative lymphatic mapping. C. Interferon a-2b Dapat digunakan sebagai terapi adjuvan pada melanoma yang berukuran lebih dari 4 mm (stadium V), tetapi harus dipertimbangkan tingkat toksisitasnya yang masih tinggi. Tujuannya diharapkan dapat menghambat metastasis yang lebih jauh lagi. D. Kemoterapi Dikatakan tidak terlalu bermanfaat pada terapi melanoma Jenis kemoterapi yang paling efektif adalah dacarbazine (DT1C-Dimethyl Triazone Imidazofe Carboxamidc Decarb zine).

E. Kemoterapi Perfusi Cara ini bertujuan untuk menciptakan suasana hipertermis dan oksigenasi pada pembulun-pembuluh darah pada sel tumor dan membatasi distribusi kemotlerapi dengan menggunakan torniquet Cara ini diharapkan dapat menggantikan amputasi sebagai suatu terapi. F. Terapi Radiasi Digunakan hanya sebagai terapi simptomatis pada melanoma dengan metastasis ke tulang dan susunan syaraf pusat (SSP). Meskipun demikian hasilnya tidak begitu memuaskan. Tanpa pengobatan, kebanyakan melanoma akan bermetastase dan

mengakibatkan kematian pasien. Saat ini, karena diagnosis klinik yang dim. lebih dari 80% melanoma diterapi dengan bedah eksis sederhana dan dengan edukasi yang lebih baik mengenai tanda-tanda klinik melanoma, angka kesembuhannya menjadi 95%.

BAB III KESIMPULAN

1. Tumor ganas kulit adalah proses keganasan yang timbul dipermukaan kulit dan berasal dari sel epitel, sel pluripotensial atau dari sel melanin di dalam kulit. 2. Menurut jenis sel yang berdiferensiasi, tumor ganas kulit diklasifikasikan sebagai berikut: karsinoma sel basal (KSB), karsinoma sel skuamosa (KSS) dan melanoma maligna (MM). 3. Menurut etiologinya, tumor ganas kulit dapat disebabkan oleh (1) faktor ekstrinsik berupa paparan sinar ultraviolet, paparan sinar-X, pemakaian bahan kimia dan adanya jaringan parut yang luas dan lama; (2) faktor intrinsik berupa genetik, sistem imun yang rendah dan ras. 4. Karsinoma sel basal biasanya terdapat pada wajah dan leher dengan gejala klinis berupa nodul ulseratif, berpigmen, morfea, superfisial dan

fibroepitelioma. Biasanya ditandai dengan tepi ulkus yang meninggi tanpa adanya metastasis jauh. 5. Predileksi karsinoma sel skuamosa pada daerah kulit yang terpapar sinar matahari dan pada membran mukosa dengan gambaran klinis berupa: (1) nodul berwarna seperti kulit normal dengan permukaan halus tanpa krusta. (2) nodul kemerahan dengan permukaan papilomatosa/verukosa yang menyerupai bungan kol. (3) ulkus dengan krusta pada permukaannya dengan tepi meninggi berwarna kuning kemerahan. 6. Melanoma maligna paling sering tumbuh pada kulit yang terpapar sinar matahari tapi hampir separuhnya tumbuh dari tahi lalat yang berpigmen,

terdapat tanda-tanda peradangan pada kulit sekitar tahi lalat, terjadi perubahan warna, ukuran, bentuk/konsistensi serta mudah mengadakan metastase jauh. 7. Diagnosis tumor ganas kulit ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan penunjang. 8. Penanganan KSB dan KSS biasanya dengan mengangkat tumor, baik dengan cara kuretase dan elektrodesikasi maupun memotongnya dengan pisau bedah. Sedangkan penanganan MM prinsipnya adalah melakukan eksisi yang pada awalnya dilakukan pengukuran ketebalan invasi terlebih dahulu dengan teknik Breslow thickness. 9. Prognosa dari KSB adalah baik dengan angka kesembuhan skitar 95% sedangkan pada KSS tergantung dari lokasi, ukuran, tingkat diferensiasi selsel dan kedalaman perluasannya, dan pada MM prognosa ditentukan oleh sifat tumor, stadium klinis, lokasi metastase dan faktor penderita.

DAFTAR PUSTAKA 1. Saputra, Budi, Imam, dr, SpKK, 2008. Tumor Kulit. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara 2. Djuanda. A., Hamzah. M., Aisah. S., 1999. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Tumor Kulit, Melanoma Maligna, edisi 3 Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FKUI, Jakarta. 3. Lim Pei-wen, Sharen, 2008. Kanker Kulit. Diakses dari

http://wikipedia.org/kanker_kulit.htm 4. Agung, Gusti, 1985. Tumor Ganas Dini Kulit. Cermin Dunia Kedokteran. FKUI, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. 5. Dharmais, 2006. Mengenal Kanker Kulit. Diakses dari

http://www.dharmais.co.id 6. Perdanakusuma, David, 2008. Anatomi Fisiologi Kulit dan Penyembuhan Luka. Diakses dari http:// surabayaplasticsurgery.blogspot.com/2008/05/ anatomi-fisiologi-kulit-dan-penyembuhan.html 7. Price, Wilson, 1995. Patofisiologi, Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. EGC, Jakarta. 8. Graham, R. 2005. Lecture Notes on Dermatologi. Ed. 8. Jakarta: Erlangga 9. Ramsey, 2003. Basal Cell Carcinoma. Diakses dari

http://www.emedicine.com. 10. Handayani I, Kuswadji. Penatalaksanaan Karsinoma Sel Basal, Dalam: MDVI Vol I, No 26, 1999. 11. Lever WF. Histopathology of the Skin 6 edition, JB Lippincot Company, 1983, 562-74 12. Rata I.G.K. Tumor Kulit. Dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Editor Djuanda A, dkk, ed 4, FKUI, 2005

Anda mungkin juga menyukai