Anda di halaman 1dari 11

Resume Tentang Spektrofotometri dan Jurnal Fosfat

Spektrofotometri adalah sebuah metode analisis untuk mengukur konsentrasi suatu senyawa berdasarkan kemampuan senyawa tersebut mengabsorbsi berkas sinar atau cahaya. Spektrofotometri adalah alat yang terdiri dari spektrofotometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu, sementara fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorpsi. Istilah spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasi yang diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi maupun pengukuran panjang absorpsi terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu (Underwood,1996). Dalam penggunaan pada masa sekarang, istilah spektrofotometri merupakan metode analisa kimia untuk mengukur seberapa jauh energi radiasi yang diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasi maupun pengukuran absorbsi terisolasi pada suatu panjang gelombang tertentu.

(Underwood, 1996)

Secara umum spektrofotometri menjadi empat macam, yaitu : a) Spektrofotometer ultraviolet b) Spektrofotometer sinar tampak

dibedakan

c) Spektrofotometer infra merah d) Spektrofotometer serapan atom Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca (Hadi,2009).

Spektrofotometri Visible (Spektro Vis) Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380

sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, entah itu putih, merah, biru, hijau, apapun.. selama ia dapat dilihat oleh mata, maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible) (Khopkar,1996). Sample yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang memilii warna. Hal ini menjadi kelemahan tersendiri dari metode spektrofotometri visible. Oleh karena itu, untuk sample yang tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent yang digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat yang akan dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan harus benar-benar stabil (Ali,2011) Spektrofotometri UV (ultraviolet) Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium (Ali,2011). Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang

merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan transparan. Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sample keruh tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau centrifugasi. Prinsip dasar pada spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut sempurna. Tidak ada partikel koloid apalagi suspensi (Ali, 2011). Spektrofotometri UV-Vis Spektrofotometri antara ini merupakan UV dan gabungan Visible. spektrofotometri

Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan hanya satu sumber sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang dilengkapi dengan monokromator. Untuk sistem spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling populer digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat digunakan baik untuk sample berwarna juga untuk sample tak berwarna (Ali,2011).

Spektrofotometri IR (Infra Red) Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 m (Ayu,2012). Pada spektro IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik. Setiap serapan (Ayu,2012). Berdasarkan hukum Lambert-Beer, rumus yang digunakan untuk menghitung banyaknya cahaya yang hamburkan. Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai: A= a . b . c atau A = . b Dimana : A = absorbansi b atau terkadang digunakan l = tebal larutan (tebal kuvet diperhitungkan juga umumnya 1 cm) pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu gugus fungsi spesifik

c = konsentrasi larutan yang diukur = tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar) a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm). Jika suatu sistem mengikuti hukum Beer, grafik antara absorbsi terhadap konsentrasi akan menghasilkan garis lurus melalui titik (0,0). Grafik tersebut dapat disebut sebagai kurva kalibrasi. Arah grafik adalah ab dapat digunakan untuk menghitung absorbtivitas molar (a).

Absorbansi

Konsentrasi

Jurnal : Analisa Sebaran Fosfat dengan Menggunakan

Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner-Schlumberger : Studi Kasus Saronggi, Madura


I. PENDAHULUAN Kebutuhan akan pupuk di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Kelangkaan pupuk seringkali menganggu kebutuhan dasar para petani di Indonesia, Unsur fosfat (P) adalah salah satu nutrisi utama yang sangat penting bagi tanaman di samping Nitrogen (N) dan Kalium (K). Peranan fosfat yang terpenting adalah memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran serta memacu pertumbuhan generatif tanaman. Umumnya deposit fosfat alam ditemukan di daerah-daerahyang banyak mengandung kapur. Namun fosfat alam di Indonesia umumnya mempunyai kandungan P yang rendah, sebagian besar kelas D atau E. Artinya kandungannya dibawah 20% dan jumlahnya hanya cocok untuk penambangan kecil. Dengan mengacu pada kondisi diatas, Oleh karena itu perlu dilakukan suatu studi geofisika agar dapat diketahui sebaran serta potensi fosfat di Jawa Timur, khususnya di daerah Saronggi kabupaten Sumenep Madura.

II. METODOLOGI Pada penelitian ini,tahap pertama yang dilakukan adalah kajian literatur seperti : buku, internet, jurnal dan sebagainya. Tahap kedua yaitu melakukan survei geologi dan morfologi daerah penelitian, merencanakan bentuk lintasan yang akan digunakan. Tahapan selanjutnya adalah pengambilan data. Pengambilan data dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama yaitu pengambilan data di laboratorium, meliputi analisa data kimiawi batuan fosfat dan pengambilan resistivitas sampel batuan.

Kemudian yang kedua adalah pengambilan data di lapangan. Setelah itu tahap pengolahan data dan tahapterakhir adalah interpretasidata dari hasil yang diperoleh di lapangan. Untuk pengukuran nilai resistivitasnya, pengukuran sampel batuan telah dilakukan terhadap 10 sampel batuan yang berbeda. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Automatic LCR meter Fluke and Philips The T&M Alliance PM 6303. Hasil pengukuran sampel di laboratorium dapat dilihat pada Tabel 1. Dari hasil pengukuran nilai resistivitas tersebut akan dijadikan dasar untuk interpretasi persebaran fosfat pada pengolahan data lapangan.

Selanjutnya dilakukan Analisa kimiawi. Analisa ini dilakukan terhadap 3 sampel batuan fosfat yang telah diukur nilai resistivitasnya. Metode yang digunakan adalah spektrofotometer. Uji ini dilakukan untuk mengetahui kandungan fosfat khususnya P2O5 dalam satuan % berat. Kandungan P2O5 pada batuan fosfat dapat dilihat pada tabel 2. Sampel batuan pertama sampai sampel batuan kelimamerupakan

batuan

fosfat

sedangkan

lima

batuan

lainnya

merupakan batuan selain fosfat (limestone dan lempung pasiran), yang nantinya nilai dari resistivitas batuan tersebut digunakan sebagai pembanding dari nilai sampel batuan fosfat yang telah diukur. III. HASIL DAN KESIMPULAN Kesimpulan yang bisa diambil berdasarkan hasil pengukuran, pengolahan data dan pembahasan pada penelitian ini adalah: 1. Harga resistivitas batuan fosfat berdasarkan hasil pengukuran dilaboratorium adalah 96,6112m hingga 353,2269 m. Hasil ini kemudian dijadikan sebagai acuan dalam menentukan sebaran fosfat pada kontur resistivitas lapangan. 2. Pada area penelitian ditemukan 3 buah sebaran batuan fosfat. Sebaran pertama terletak pada petak A, yang memotong lintasan 1 dan 2 dengan arah sebaran ke barat. Sedangkan sebaran kedua dan ketiga terletak pada petak B. Sebaran kedua memotong lintasan 3, lintasan 4, lintasan 5 dan lintasan 6, dan sebaran ketiga memotong lintasan 4, lintasan 5 dan lintasan 6 dengan arah sebaran (sebaran 2 dan 3) ke barat daya. penampang 2D hasil pengukuran di

3. Berdasarkan hasil analisa kimiawi pada 3 sampel batuan fosfat, diketahui nilai kandungan P2O5 masing-masing sampel adalah sebesar 14,90%; 14,40% dan 12,30%.