Anda di halaman 1dari 8

Kerentangan Hubungan Otot-saraf Terhadap Kurare

D I S U S U N O L E H: Kelompok B2
Ketua: Robert Christeven (102009178) Anggota: Olivia Josephine (102009018) Ceicilia Vicky V. (102009058) Cristin Oktavianty (102009098) Jhon Morris Sirait (102009138) Hendra Saputra (102009218) Corryana Theresia (102009258) Nurul Faizatul Amira Bt Ab Mutalib (102009298) Muhammad Afiq Bin Maslan Malik (102009338)

Percobaan 2 Tujuan Praktikum


Mengetahui besar reflex nosiseptif akibat tubo-kurarin Melihat perbedaan kaki katak yang dikat dan tidak dikat dengan tubo-kurarin Melihat efek larutan tubo-kurarin pada katak hidup Melihat pemulihan katak yang disuntik antropin dan prostigmin Mengamati perbedaan otot yang direndam dalam ringer dan saraf yang direndam tubokurarin Mengamati perbedaan saraf yang direndam dalam ringer dan otot yang direndam tubokurarin Mengetahui efek tubo-kurarin pada katak Mengetahui kuat reflek faradic

Alat Praktikum
1 pelat kaca + papan fiksasi + beberapa jarum pentul Waskom besar yang berisi air 3 ekor katak + penusuk katak +benang Stimulator induksi + elektroda perangsang Gelas arloji Semprit 2cc + jarumnya Larutan ringer Larutan tubo-kurarin (dicairkan 1:1 dalam ringer) Larutan atropine (0,01 %dalam ringer) Larutan prostigmin (dicairkan 1:1 dalam ringer)

Larutan tubo-kurarin 1% (dari ampul)

Cara kerja
I. Pengamatan sikap, gerakan dan waktu reaksi seekor katak terhadap berbagai rangsangan sebelum dan sesudah penyuntikan kurare
1. Diambil seekor katak dan diletakan di plat kaca. Diperhatikan kegiatan binatang tersebut (aktif atau pasif) hitung frekuensi pernapasan permenit. 2. Katak ditelentangkan tersebut beberapa kali dan perhatikan reaksinya (kembali atau tidak keposisi semula) 3. Katak dimasukkan kedalam waskom yang berisi air dan perhatikan reaksinya ( dapat berenang atau tidak). 4. Katak dikeluarkan dari air dan diselidiki reflex nosiseptif dengan cara berikut: a. Katak dipegang sedemikian rupa sehingga kedua kaki belakang tergantung bebas b. Dirangsang dengan menjepit salah satu telapak kakinya dengan pinset c. Tetapkan waktu reaksinya 5. Disuntikan 0,5 cc larutan tubo-kurarin 1:1 kedalam kantong limfa iliaka ( disebelah os coccygis di bawah kulit). Dalam waktu 15-20 menit percobaan 1 sampai 4 diatas tadi dan perhatikan berbagai perbedaan reaksinya. 6. Sebelum pernapasan berhenti sama sekali, disuntikkan kedalam kantung limfe iliaka berturut-turut a. 0,5 cc larutan atropine 0,01 % b. 1 cc larutan prostigmin 1:1 7. Setelah terjadi pemulihan lakukan sekali lagi percobaan 1-4 diatas. Oleh karena pemulihan dapat memakan waktu 2-3 jam.

II.

Pengaruh kurare terhadap sesuatu bangian lengkung reflex 1. Diambil katak lain dan rusaklah otaknya saja tetapi jangan merusak medulla
spinalisnya

2. Bebaskan n. isichiadicus paha kanan 3. Ikatlah seluruh paha kanan kecuali n. isichiadicusnya

4. Suntikan 0,5 cc larutan tubo kurare 1:1 kedalam kantong limfa dengan membuka
mulut katak cukup lebar dan menusukan jarum suntik kedasar mulut arah lateral. Periksalah pada kaki yang tidak diikat setiap 5 menit berkurang reflex nonsiseptif dan timbulnya kelumpuhan umum. Bila tidak ulangi peristiwa tersebut setiap 20 menit

5. Dirangsang ujung jari kaki kanan dengan rangsangan faradic yang cukup kuat
sehingga terjadi withdrawal reflex catatlah kekutan rangsangan yang digunakan

6. Dirangsang ujung jari kaki kiri dengan rangsangan faradic yang cukup kuat
sehingga terjadi withdrawal reflex catatlah kekutan rangsangan yang digunakan

7. N. isichiadicus kaki kiri dibebaskan dan dibuang sedikit kulit yang menutupi
m.gastrocnemius kanan dan kiri

8. Tentukan ambang rangsangan buka masing-masing n. isichiadicus 9. Tentukan ambang rangsangan buka masing-masing m. gastrocnemius yang
dirangsang secara langsung.

III.

Tempat kerja kurare sediaan otot-saraf


1. Buatlah 2 sendian otot saraf (Adan B dari seekor katak lain dan diusahakan agar mendapat saraf sepanjang-panjangnya 2. Masukan otot sendian A dan saraf sendian Bkadalam gelas arloji yang berisi cc larutan tubo kurare 1 %selama menunggu 20 menit basahilah saraf sendian A dan otot sendian B dengan larutan ringer 3. Berilah rangsangan dengan arus buka pada a. Saraf sendian A b. Saraf sendian B c. Otot sendian A d. Otot sendian B 4. Tentukan kekuatan rangsangan yang digunakan baik untuk sendian yang memberikan jawaban maupun yang tidak memberikan jawaban

Hasil pemeriksaan atau percobaan


TABEL HASIL PRAKTIKUM I. PENGAMATAN SIKAP, GEAKAN, DAN WAKTU REAKSI SEEKOR KATAK TERHADAP BERBAGAI RANGSANG SEBELUM DAN SESUDAH PENYUNTIKAN KURARE. Perlakuan Katak diletakkan di atas plat kaca Frekuensi pernapasan (/menit) Katak ditelentangkan Katak dimasukkan dalam waskom berisi air Kaki katak dijepit Katak diletakkan di atas plat kaca Frekuensi pernapasan (/menit) Katak ditelentangkan Katak dimasukkan dalam waskom berisi air Kaki katak dijepit Katak diletakkan di atas plat kaca Frekuensi pernapasan (/menit) Katak ditelentangkan Katak dimasukkan dalam waskom berisi air Kaki katak dijepit Reaksi Aktif Kembali Berenang 27 detik Tidak Aktif 42/menit Tidak Kembali Tidak Berenang Tidak ada Waktu 120/menit

No Pemberian 1 Sebelum Pemberian Kurare 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 II. Setelah Peberian Prostigmin Setelah Pemberian Kurare

PENGARUH KURARE TERHADAP SESUATU BAGIAN LENGKUNG REFLEKS

Rangsangan Faradik
No 1 2 Rangsangan Jari kaki kanan Jari kaki kiri Kekuatan 500 W 100 W

Ambang Rangsang

No 1 2

Rangsangan Neuron Ischiadicus Muskulus Gastrocnemious

Hasil reaksi Tidak ada ada

Ambang Rangsang 50-500W 50-500W

III. No . 1 2 3 4

TEMPAT KERJA KURARE PADA SEDIAAN OTOT SARAF Sediaan Saraf A Otot A Saraf B Otot B Larutan Ringer Kurarin Kurarin ringer Respon Tidak ada respon Ada respon Ada respon Ada respon

Pembahasan

1. PENGAMATAN SIKAP, GEAKAN, DAN WAKTU REAKSI SEEKOR KATAK TERHADAP BERBAGAI RANGSANG SEBELUM DAN SESUDAH PENYUNTIKAN KURARE Berdasarkan hasil percobaan, sebelum katak disuntikkan tubo kurarin,ketika katak diletakkan di atas plat kaca, katak beraktivtas secara normal. Frekuensi pernapasannya adalah 120/menit. Pada saat katak ditelengtangkan, katak kembadi ke posisi tengkurap. Hal ini, disebabkan oleh righting reflex yng dimiliki katak. Righting reflex adalah suatu kemampuan untuk kembali ke posisi semula (tengkurap) ketika hewan diposisikan ke posisi badan menyamping atau telentang.1 Pada saat katak dimasukkan dalam waskom berisi air, katak berenang secara normal. Ketika katak diselidiki waktu reaksi refleks nosiseptifnya dengan cara menjepit salah satu kaki, diperoleh waktu reaksinya adalah 27 detik. Waktu reaksi adalah waktu antara perangsangan dan timbul jawaban (fleksi kaki katak). Reflex nosispeptif adalah respon flexor sangat dengan penarikan diri hanya oleh rangsangan yang berbahaya.2 Setelah disuntikkan tubo-kurare, katak kurang aktif. Tubo kurare adalah bahan kimia yang bereaksi dengan menghalangi kerja acetylcholin dengan mengikat dengan reseptor acetylcholin sehingga impuls yang diberikan oleh saraf tidak dapat direspon oleh otot. 2 Frekuensi pernapasannya juga menurun menjadi 42/menit. Ketika ditelantangkan, katak juga tidak kembali ke posisi tengkurap, pengujian refleks nosiseptif juga menunjukkan hasil pemberian jawaban respons yang sangat lama atau mungkin tidak ada rangsangan. Hal ini disebabkan oleh impuls otot tidak dapat merespon impuls yang diberikan saraf. Setelah itu, katak diberikan Atropin dan Tubo Kurarin. Atropine menghambat efek asetik kolin di di reseptor muskarinik, tetapi tidak mempengaruhi

receptor nikotinik. Karena bekerja secara selektif yaitu hanya menghambat kerja asetilkolin di tautan muskarinik yang hanya mempengaruhi efek parasimpatis, tetapi tidak akan mempengaruhi efek simpatis.2 Dengan pemberian prostigmin yang berfungsi menghambat enzim asetilkolinesterase, menyebabkan peningkatan konsentrasi asetilkolin pada sinaps dan efek asetilkolin berkepanjangan.1 Memberikan efek langsung cholinomimetic pada otot rangka. Sehingga dengan pemberian prostigmin diharapkan terjadi pemulihan pada katak. Akan tetapi, setelah pemberian prostigmin tidak terjadi perubahan. Hal ini mungkin bisa terjadi karena selang waktu pemberian tubo kurarin dan prostigmin terlalu lama. 2. PENGARUH KURARE TERHADAP SESUATU BAGIAN LENGKUNG REFLEKS

Pada percobaan ini, katak dirusak otaknya dengan tidak merusak medula spinalisnya. Dengan merusak otaknya, otak kecil (cerebellum) tidak dapat menjalankan fungsinya lagi sehingga terjadi gangguan gerak berupa gangguan kecepatan, kekuatan, rentang, dan arah gerak, mengakibatkan gerak tidak lancer dan tidak terkoordinasi dengan baik. Lalu pahanya diikat dengan membebaskan neuron ischiadicus paha kanan, lalu disuntikan 0.5 cc tubo kurarin 1:1 kedalam kantong limfe depan ke arah lateral. Dan ditemukan setiap 5 menit berkurangnya refleks nosiseptif dan akhinya lumpuh total. Kekuatan yang merangsang ujung jari kanan menggunakan rangsang faradik adalah 500 W. Sedangkan ujung kaki kiri adalah 100 W. Dapat dilihat bahwa pemberian rangsang pada kaki kanan lebih besar karena ambang rangsang pada neuron ischiadicus adalah tidak terdapat pergerakan dan ambang rangsang pada muskulus gastrocnemius adalah memberikan pergerakan disekitar otot tersebut. Besar respon yang dihasilkan sama besar walaupun rangsangan yang diberikan besarnya berbeda. Hal ini sesuai dengan Hukum all or None. 3. TEMPAT KERJA KURARE PADA SEDIAAN OTOT SARAF

Berdasarkan hasil percobaan, sediaan A dengan otot dilarutan kurarin dan sarafnya dilarutan ringer. Larutan ringer merupakan larutan fisiologis yang menjaga agar otot tidak mengalami kekeringan. Ketika diberikan rangsangan, Otot sediaan A tidak akan terjadi kontraksi hal ini dikarenakan Tubocurarine bersifat menghalangi neuromuskular atau relaksasi otot rangka dalam kategori penghambatan neuromuskular non depolarisasi. Sedangkan pada sediaan B dengan otot dilarutan ringer dan sarafnya dilarutan kurarin tidak terjadi hambatan untuk rangsangan yang diberikan karena larutan tubokurarin tidak menghalangi rangsangan yang diberikan ke otot melalui saraf.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan, dabat dibuat kesimpulan, yaitu: 1. Tubokurarin dapat menghalangi kerja acetylcholin dengan mengikat dengan reseptor acetylcholin sehingga impuls yang diberikan oleh saraf tidak dapat direspon oleh otot. Sehingga dapat mengakibatkan katak merespons lebih lambat atau bahkan tidak dapat merespons rangsangan yang diberikan. Besar respon yang dihasilkan sama besar walaupun rangsangan yang diberikan besarnya berbeda. Kurarin tidak menghalangi rangsangan yang diberikan ke otot melalui saraf.

2. 3.

Daftar Pustaka

1. 2.

Ganong WF. Fisiologi kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC; 2008. Sherwood L. Fisiologi manusia. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2001. h.206-8.