Anda di halaman 1dari 51

Tugas Ujian

PEDOFILIA Disusun untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Jiwa

Oleh : Nanda Sulistyaningrum NIM I1A008057

Pembimbing dr. H. Asyikin Noor, Sp.KJ M.AP

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARMASIN Oktober 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas ujian yang berjudul GANGGUAN KEPRIBADIAN ANANKASTIK (OBSESIF-KOMPULSIF), tepat pada waktunya. Tugas ini disusun sebagai tugas ujian Ilmu Kedokteran Jiwa Sambang Lihum Gambut. Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada: Direktur RSJ Sambang Lihum Gambut sekaligus Penguji dan Pembimbing dr. H. Asyikin Noor, Sp.KJ, MAP yang telah memberi kesempatan dalam pembuatan tugas ini. Serta semua pihak atas sumbangan pikiran dan bantuan yang telah diberikan. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, akan tetapi penulis berharap penelitian ini bermanfaat bagi dunia pengetahuan.

Banjarmasin, September 2012

Penulis

ii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL..................................................................... KATA PENGANTAR .................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................. BAB I PENDAHULUAN ............................................................. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Kepribadian ....................................................... B. Gangguan Kepribadian.................................................... C. Jenis Gangguan Kepribadian........................................... D. Gangguan Kepribadian Anankastik ................................ E. Gejala Gangguan Kepribadian Anankastik ..................... F. Diagnosis Gangguan Kepribadian Anankastik ............... G. Epidemiologi Gangguan Kepribadian Anankastik.......... H. Assesment Gangguan Kepribadian Anankastik ............... I. J. Patogenesis Gangguan Kepribadian Anankastik ............ Farmakoterapi Gangguan Kepribadian Anakastik .......... 3 5 9 10 14 15 19 21 23 32 36 i ii iii 1

K. Psikoterapi Gangguan Kepribadian Anankastik .............

iii

BAB VI PENUTUP A. Rangkuman ..................................................................... B. Kesimpulan ..................................................................... 39 44

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

iv

BAB I PENDAHULUAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Pedophilia Pedofilia adalah diagnosis klinis biasanya dibuat oleh psikiater atau psikolog. Ini bukan istilah kriminal atau hukum, tetapi seperti pelanggaran seksual paksa, yang merupakan istilah hukum yang sering digunakan dalam kejahatan statistics.1, 2 The Federal Bureau of Investigasi Nasional Insiden Berbasis Sistem Pelaporan ini (NIBRS) definisi kejahatan seksual paksa termasuk setiap tindakan seksual diarahkan terhadap orang lain secara paksa dan atau bertentangan dengan keinginan orang itu atau tidak secara paksa atau bertentangan dengan keinginan orang tersebut di mana terdapat pihak yang dirugikan.2 Dengan kriteria diagnostik Diagnostik dan Statistik Manual Gangguan Mental, Edisi Keempat, pedofilia adalah seorang individu yang berfantasi sekitar, yang terangsang oleh, atau mengalami dorongan seksual terhadap anak praremaja (umumnya <13 tahun) untuk jangka waktu minimal 6 bulan. Pedofil yang parah sangat tertekan oleh dorongan seksual, pengalaman antarpribadi kesulitan karena mereka, atau bertindak pada mereka.3 Pedofil biasanya datang ke petugas medis atau hukum dengan melakukan perbuatan melawan anak karena sebagian besar tidak menemukan seksual mereka menyedihkan atau ego-dystonic cukup untuk secara sukarela fantasi mencari treatment.3 Umumnya, individu berumur minimal 16 tahun dan setidaknya 5 tahun lebih tua dari remaja yang menarik untuk

memenuhi kriteria untuk pedofilia. Dalam kasus yang melibatkan pelaku remaja, faktor-faktor seperti kematangan emosi dan seksual mungkin dipertimbangkan sebelum diagnosis pedofilia dibuat.3 Pedofil biasanya mengakui bahwa mereka tertarik kepada anak mulai sekitar masa pubertas atau remaja, tapi ini ketertarikan seksual kepada anak-anak juga dapat berkembang di kemudian hari..3-9 Kasus-kasus yang dibedakan dari pedofilia oleh tindakan yang bertentangan dengan individu biasa seperti aktivitas seksual dan perilaku fantasies yang berbeda.3 ,10-12 Beberapa studi telah menemukan bahwa sebanyak 50% sampai 60% dari pedofil juga berkaitan dengan penyalahgunaan zat, tapi yang penting adalah bahwa mereka akan tertarik kepada anak-anak ketika dalm kondisi 12, 13 . Dalam sebuah studi yang meneliti hubungan antara usia dan jenis kejahatan seksual, Dickey et Al14 menemukan bahwa sampai 44% pedofilia dalam sampel mereka dari 168 pelanggar seks berada di orang dewasa yang lebih tua rentang usia (usia, 40-70 tahun). Bila dibandingkan dengan pemerkosa dan sadis seksual, pedofilia terdiri 60% dari semua pelanggar yang berumur tua, hal ini menunjukkan bahwa pedofil pada tahun tersebut menjadi pelanggar seksual terbesar sibandingkan dengan pelanggar seksual yang lainnya..14 Secara teknis, individu yang terlibat dalam kegiatan seksual dengan remaja puber di bawah usia hukum (Usia 13-16 tahun) dikenal sebagai hebophiles

(tertarik pada perempuan) atau ephebophiles (tertarik pada laki-laki) ,15-17 Istilah hebophilia (juga dieja sebagai hebephilia) menjadi generik istilah untuk menggambarkan minat seksual baik dalam laki-laki atau perempuan puber 16-19 .

Perbedaan mencatat dalam literatur antara hebophiles dan pedofilia adalah bahwa hebophiles cenderung lebih tertarik untuk memiliki timbal balik urusan seksual atau hubungan dengan anak-anak, lebih oportunistik ketika terlibat dalam tindakan seksual, memiliki sosial yang lebih baik ,dan memiliki prognosis yang lebih baik daripadapasca pengobatan pedophiles.17, 18 The teleiophile Istilah berlaku untuk orang dewasa yang memilih partnernya secara fisik yang telah matang.16, 19 Ada juga sebuah subklasifikasi pedofilia dikenal sebagai infantophilia, yang menggambarkan individu yang tertarik pada anak-anak muda dari 5 years.20 Perbedaan ini penting dalam memahami saat ini penelitian tentang paraphilias, kriteria seleksi untuk Penelitian perilaku seksual, dan tes yang mengukur seksual (misalnya, plethysmography). Secara umum, pedofil tidak menggunakan kekerasan untuk mendekati atau memiliki anak-anak yang akan terlibat dalam kegiatan seksualnya tetapi bukannya mengandalkan berbagai bentuk manipulasi dan psikis desensitisasi (misalnya, perkembangan dari menyentuh berbahaya tidak tepat menyentuh, menampilkan pornografi anak-anak). 1,5,17,21 Ketika ditanyakan tentang keterlibatan dalam kegiatan-kegiatan tersebut, pedofil umumnya membenarkan dan meminimalkan tindakan mereka dengan menyatakan bahwa tindakan yang saya lakukan "memiliki nilai pendidikan," bahwa kesenangan anak berasal dari tindakan atau perhatian, atau bahwa anak itu provokatif dan mendorong tindakan dalam beberapa way.1 ,3,9,22-24 A US Department of Justice manual untuk

aparat penegak hukum

agar dapat mengidentifikasi 5 psikologis umum

pertahanan pola dalam pedofil, sebagai berikut: a. penyangkalan (misalnya, "Apakah salah untuk memberikan anak pelukan? "), b. minimalisasi (" Ini hanya terjadi sekali "), c. pembenaran (misalnya," Saya seorang lover boy, bukan Anak Selingkuh "), d. fabrikasi (kegiatan yang penelitian untuk proyek ilmiah), dan e. serangan serangan karakter (pada anak, jaksa, atau polisi, serta potensi fisik kekerasan) .

Pedofil adalah sekitar

2,5 kali lebih mungkin untuk terlibat kegiatan

dalam kontak fisik dengan anak dibandingkan voyeuristik atau ekshibisionis. 7 Biasanya, pedofil melakukan cumbuan dan manipulasi, dengan pengecualian lebih dari hubungan kelamin

terjadi dalam kasus-kasus incest, pedofilia

dengan preferensi untuk anak-anak atau remaja, dan ketika anak secara fisik coerced.5-7 Penganiayaan anak bukanlah diagnosis medis dan tidak tentu istilah identik dengan pedophilia.5, 7,15,17,26. Peleceh anak-anak secara luas didefinisikan setiap individu yang menyentuh seorang anak untuk memperoleh kepuasan seksual dengan specifier bahwa pelaku adalah setidaknya 4 sampai 5 tahun lebih tua dari anak.15, 26 The kualifikasi usia ditambahkan untuk menghilangkan perkembangan masa kecil yang normal sex bermain (misalnya, dua 8-year-olds "Dokter bermain") .26 Dengan definisi ini, 13 tahun yang

menyentuh

sebuah

8-tahun

akan

dianggap

sebagai

penganiaya

anak

tetapi tidak akan memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pedofil. Para NIBRS data tentang serangan seksual remaja menemukan bahwa 40% dari serangan terhadap anak-anak muda dari 12 tahun yang dilakukan oleh remaja, dengan usia yang paling sering pelaku yang 14 tahun old.2 Data dari studi oleh Abel dan Harlow15 menunjukkan bahwa 40% dari penganiaya anak, yang kemudian didiagnosis sebagai memiliki pedofilia, telah mencabuli seorang anak oleh Waktu mereka adalah 15 tahun. Sebuah% 88 diperkirakan anak penganiaya dan 95% dari molestations (satu orang, beberapa tindakan) yang dilakukan oleh individu yang sekarang atau di masa depan juga akan memenuhi kriteria untuk pedophilia.9 anak, 15 pedofilia penganiaya rata-rata melakukan 10 kali tindakan lebih seksual terhadap anak-anak dari anak nonpedophilic molesters.15 Secara umum, sebagian besar individu yang terlibat dalam pedofilia atau paraphilias adalah male.2-7, 9,10 Ada waktu ketika itu percaya bahwa perempuan tidak bisa pedofil karena kurangnya jangka panjang dorongan seksual kecuali mereka memiliki primer psikotik disorder.4, 22 Ketika perempuan dipelajari untuk perilaku seksual yang tidak pantas ditujukan terhadap anak-anak, perilaku diklasifikasikan sebagai "pelecehan seksual" atau "Penganiayaan" tetapi tidak pedophilia.6, 7,27 Dari data federal pada kejahatan seksual, perempuan dilaporkan sebagai "Selingkuh" di 6% dari semua anak cases.2 Penelitian oleh Abel dan Harlow dari 4007 "penganiaya anak" ditemukan 1% menjadi perempuan, tetapi penulis percaya bahwa angka ini rendah karena sistematik tidak dilaporkan

perempuan untuk molestation.15, 27 Satu alasan mengapa tindakan pedofilia yang dilakukan oleh perempuan

B.Karakter Pedofilia

Pedofil mungkin terlibat dalam berbagai tindakan seksual dengan anak-anak. Kegiatan tersebut antara lain : a. Kegiatan ini bervariasi dari mulai mengekspos diri mereka sendiri kepada anak-anak (eksibisionisme), b. membuka baju anak, c. mencari anak-anak yang telanjang (voyeurisme), atau masturbasi dalam. d. Kehadiran anak-anak untuk kontak fisik yang lebih mengganggu, seperti menggosok alat kelamin mereka terhadap seorang anak (frotteurism), e. cumbuan anak, terlibat dalam seks oral, atau penetrasi dari

mulut, anus, dan / atau vagina.3, 5,7,9

Empat karakteristik utama yang dimiliki oleh seorang http://eronia.blogspot.com/2009/12/mengenal-pedofilia.html 1.Pola perilaku jangka panjang dan persisten.

pedofilia

1. Memiliki latar belakang pelecehan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa banyak pelaku kekerasan seksual merupakan korban dari kekerasan seksual berikutnya. 2. Memiliki kontak sosial terbatas pada masa remaja. Pada waktu remaja, pelaku biasanya menunjukkan ketertarikan seksual yang kurang terhadap seseorang yang seumur dengan mereka. 3. Riwayat pernah dikeluarkan dari militer. Militer dan organisasi lainnya akan mengeluarkan pedofilia dan akan membuat dakwaan dan tuntutan terhadap mereka.

4. Sering berpindah tempat tinggal. Pedofilia menunjukkan suatu pola hidup dengan tinggal di satu tempat selama beberapa tahun, mempunyai pekerjaan yang baik dan tiba-tiba pindah dan berganti pekerjaan tanpa alasan yang jelas. 5. Riwayat pernah ditahan polisi sebelumnya. Catatan penahanan terdahulu merupakan indikator bahwa pelaku ditahan polisi karena perbuatan yang berulang-ulang, yaitu pelecehan seksual terhadap anak-anak. 6. Korban banyak. Jika penyidikan mengungkap bahwa seseorang melakukan pelecehan seksual pada korban yang berlainan, ini merupakan indikator kuat bahwa ia adalah pedofilia. 7. Percobaan berulang dan beresiko tinggi. Usaha atau percobaan yang berulang untuk mendapatkan anak sebagai korban dengan cara yang sangat terampil merupakan indikator kuat bahwa pelaku adalah seorang pedofilia.

2.Menjadikan anak-anak sebagai obyek preferensi seksual 1. Usia > 25 tahun, single, tidak pernah menikah. Pedofil mempunyai preferensi seksual terhadap anak-anak, mereka mempunyai kesulitan dalam berhubungan seksual dengan orang dewasa dan oleh karena itu mereka tidak menikah. 2. Tinggal sendiri atau bersama orang tua. Indikator ini berhubungan erat dengan indikator di atas. 3. Bila tidak menikah, jarang berkencan. Seorang laki-laki yang tinggal sendiri, belum pernah menikah dan jarang berkencan , maka harus dicurigai sekiranya dia memiliki karakteristik yang disebutkan di sini. 4. Bila menikah, mempunyai hubungan khusus dengan pasangan. Pedofilia kadang-kadang menikah untuk kenyamanan dirinya atau untuk menutupi dan juga memperoleh akses terhadap anak-anak. 5. Minat yang berlebih pada anak-anak. Indikator ini tidak membuktikan bahwa seseorang adalah seorang pedofilia, tapi menjadi alasan untuk diwaspadai. Akan menjadi lebih signifikan apabila minat yang berlebih ini dikombinasikan dengan indikator-indikator lain. 6. Memiliki teman-teman yang berusia muda. Pedofil sering bersosialisasi dengan anak-anak dan terlibat dengan aktifitas-aktifitas golongan remaja. 7. Memiliki hubungan yang terbatas dengan teman sebaya. Seorang pedofil mempunyai sedikit teman dekat dikalangan dewasa. Jika seseorang yang dicurigai sebagai pedofil mempunyai teman dekat, maka ada kemungkinan temannya itu adalah juga seorang pedofil. 8. Preferensi umur dan gender. Pedofil menyukai anak pada usia dan gender tertentu. Ada pedofil yang menyukai anak lelaki berusia 8-10 tahun , ada juga yang menyukai anak lelaki 6-12 tahun. Semakin tua preferensi umur, semakin eksklusif preferensi umur.

10

9. Menganggap anak bersih, murni, tidak berdosa dan sebagai obyek.Pedofil kadang memiliki pandangan idealis mengenai anak-anak yang diekspresikan melalui tulisan dan bahasa, mereka menganggap anak-anak sebagai obyek, subyek dan hak milik mereka.

3.Memiliki teknik yang berkembang dengan baik dalam mendapatkan korban 1. Terampil dalam mengidentifikasikan korban yang rapuh. Pedofilia memilih korban mereka, kebanyakan anak-anak korban broken home atau korban dari penelantaran emosi atau fisik. Ketrampilan ini berkembang dengan latihan dan pengalaman. 2. Berhubungan baik dengan anak, tahu cara mendengarkan anak. Pedofil biasanya mempunyai kemampuan untuk berinteraksi dengan anak-anak lebih baik daripada orang dewasa lainnya. Mereka juga tahu cara mendengarkan anak dengan baik. 3. Mempunyai akses ke anak-anak. Ini merupakan indikator terpenting bagi pedofil. Pedofil mempunyai metode tersendiri untuk memperoleh akses ke anak-anak. Pedofil akan berada di tempat anak-anak bermain, menikah atau berteman dengan wanita yang memiliki akses ke anak-anak, memilih pekerjaan yang memiliki akses ke anak-anak atau tempat dimana dia akhirnya dapat berhubungan khusus dengan anak-anak. 4. Lebih sering beraktifitas dengan anak-anak, seringkali tidak melibatkan orang dewasa lain. Pedofilia selalu mencoba untuk mendapatkan anakanak dalam situasi dimana tanpa kehadiran orang lain. 5. Terampil dalam memanipulasi anak. Pedofil menguunakan cara merayu, kompetisi, tekanan teman sebaya, psikologi anak dan kelompok, teknik motivasi dan ancaman. 6. Merayu dengan perhatian, kasih sayang dan hadiah. Pedofil merayu anakanak dengan berteman, berbicara, mendengarkan, memberi perhatian, menghabiskan waktu dengan anak-anak dan membeli hadiah. 7. Memiliki hobi dan ketertarikan yang disukai anak. Pedofil mengkoleksi mainan, boneka atau menjadi badut atau ahli sulap untuk menarik perhatian anak-anak. 8. Memperlihatkan materi-materi seksual secara eksplisit kepada anak-anak. Pedofil cenderung untuk mendukung atau membenarkan anak untuk menelepon ke pelayanan pornografi atau menghantar materi seksual yang eksplisit melalui komputer pada anak-anak.

4.Fantasi seksual yang difokuskan pada anak-anak

11

1. Dekorasi rumah yang berorientasi remaja. Pedofilia yang tertarik pada remaja akan mendekorasi rumah mereka seperti seorang remaja lelaki. Ini termasuk pernak-pernik seperti mainan, stereo, poster penyanyi rock, dll. 2. Memfoto anak-anak. Pedofilia memfoto anak-anak yang berpakaian lengkap, setelah selesai dicetak, mereka menghayalkan melakukan hubungan seks dengan mereka. 3. Mengkoleksi pornografi anak atau erotika anak. Pedofil menggunakan koleksi ini untuk mengancam korban agar tetap menjaga rahasia aktivitas seksual mereka. Koleksi ini juga digunakan untuk ditukar dengan koleksi pedofil yang lain.

C.

C. Klasifikasi pedofilia Pedofil terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Satu dari perbedaan pertama yang dibuat ketika mengklasifikasikan pedofil adalah untuk menentukan apakah mereka adalah "eksklusif" tertarik anak (pedofilia eksklusif) atau tertarik pada orang dewasa juga sebagai anak-anak (pedofilia eksklusif). Dalam sebuah studi oleh Abel dan Harlow15 dari 2429 pedofil laki-laki dewasa, hanya 7%

mengidentifikasi diri mereka sebagai eksklusif tertarik secara seksual anak, yang menegaskan pandangan umum bahwa sebagian besar pedofil adalah bagian dari kelompok eksklusif. Pedofil biasanya tertarik pada rentang usia tertentu dan / atau jenis kelamin anak. Penelitian mengkategorikan pedofil laki-laki oleh apakah mereka tertarik hanya anak laki-laki (homoseksual

pedofilia), anak perempuan (pedofilia heteroseksual), atau anak-anak dari kedua jenis kelamin (pedofilia biseksual). 3,6,10,29 Persentase pedofil homoseksual

12

berkisar antara 9% sampai 40%, yang kira-kira 4 sampai 20 kali lebih tinggi daripada tingkat pria dewasa tertarik lainnya dewasa laki-laki (menggunakan tingkat prevalensi homoseksualitas dewasa dari 2% -4%) .5,7,10,19,29,30 lebih mungkin untuk anak

Temuan ini tidak berarti bahwa homoseksual menganiaya, hanya bahwa

persentase lebih besar dari pedofilia adalah

homoseksual atau biseksual dalam orientasi ke children.19 Individu tertarik pada perempuan biasanya lebih suka anak-anak antara usia 8 dan 10

tahun.3, 5,31 Individu tertarik pada laki-laki biasanya lebih suka sedikit lebih tua anak laki-laki antara usia 10 dan 13 tahun.3, 5 Pedofil heteroseksual, dalam laporan diri studi, terhadap Rata-rata anak-anak dan disalahgunakan 5.2 melakukan rata-rata 34 tindakan seksual vs pedofil homoseksual yang ada pada Rata-rata 10,7 disalahgunakan anak-anakdan melakukan rata-rata 52 acts.15

pelanggar Biseks terhadap 27,3 disalahgunakan rata anak-anak dan berkomitmen lebih dari 120 acts.15 Sebuah studi oleh

Abel et al32 dari 377 nonincarcerated, non-incest terkait pedofil, yang hukum situasi telah diselesaikan dan yang disurvei menggunakan kuesioner laporan diri anonim, menemukan bahwa heteroseksual pedofil rata-rata dilaporkan menyalahgunakan 19,8 anak-anak dan melakukan tindakan 23,2, sedangkan pedofilia homoseksual telah menyalahgunakan 150,2 anak dan berkomitmen 281,7 tindakan. Studi ini mengkonfirmasi penegakan hukum besar jumlah anak disalahgunakan laporan tentang sifat serial kejahatan, oleh pedofil masing-masing, dan

13

tidak dan

dilaporkan poligraf

assaults.1

Studi bahwa

yang pedofil

menggunakan saat ini

laporan

diri

menunjukkan

dalam

perawatan

tidak melaporkan minat mereka saat ini pada anak-anak dan masa lalu behaviors.33, 34 Lain specifier pedofilia umum adalah apakah

anak-anak dilecehkan terbatas pada anggota keluarga (misalnya, incest) .6 Data federal menunjukkan bahwa 27% dari semua pelanggar seksual diserang anggota keluarga. Lima puluh persen dari pelanggaran yang dilakukan terhadap oleh anak-anak keluarga, 6 muda seperti sampai dari 42% 11 6 dari tahun tahun tindakan dan 24% yang yang dilakukan dilakukan anak

anggota

terhadap

anak-anak

terhadap

12 sampai 17 tahun old.2 Penelitian oleh Abel dan Harlow15 ditemukan bahwa 68% dari "penganiaya anak" telah mencabuli anggota keluarga; 30% telah mencabuli anak tiri, anak angkat, atau

anak angkat, 19% telah mencabuli 1 atau lebih dari mereka yang bioD. .PREVALENSI pedofilia dan PENYALAHGUNAAN SEKSUAL MELIBATKAN ANAK DAN REMAJA

Sulit karena sebagian yang tidak

untuk pedofil besar

memperkirakan beberapa sukarela tersedia

prevalensi berobat didasarkan hukum, memiliki

sejati dan pada 9,43 fantasi

pedofilia karena individu Hal ini

data

yang dengan banyak

telah diketahui

terlibat berapa

system.8 individu

pedofilia

14

dan tidak pernah bertindak atas mereka atau yang melakukan tindakan tetapi tidak pernah caught.1, 10 An 1 diperkirakan dalam 20 kasus pelecehan seksual anak dilaporkan yang usia secara 18 atau acak dan dan seksual 27 15,6% "sebelum di identified.6, sampel 750 8,23,44 wanita menemukan mengalami 17 years.45, Serikat Dua dan studi 750 bahwa "tidak 46 yang pria 32% Kanada, antara dari

tahun,

perempuan hubungan mirip

laki-laki usia

diinginkan Angka-angka melaporkan

dengan

penelitian

Amerika

17% sampai 31% dari perempuan dan 7% sampai 16% laki-laki mengalami diinginkan seksual kontak sebelum usia 18

years.47-49 Dalam studi Kanada, dari mereka yang melaporkan tidak diinginkan seksual pertemuan, 21% dari perempuan dan 44% dari

laki-laki mengalami berulang assaults.45, 46 Dari catatan, sebagian besar dari satu kali pelanggaran yang dilaporkan oleh perempuan yang dilakukan oleh orang lain antara itu remaja age.45 mirip Sebuah korelasi yang gadis kuat atau akhirnya persen

ditemukan anak

jumlah dianiaya dan

kali

baik

seorang tidak

laki-laki (baik

terjadinya atau anonim seorang studi

diinginkan .45,46 Satu

penetrasi dari setelah menjadi

melalui

vagina

dubur)

laki-laki, diserang secara

yang seksual Namun,

disurvei, anak ini sendiri tidak

dilaporkan karena mereka

adult.46

memberikan

15

prevalensi

benar

karena

pedofil

mungkin

mulai

menyinggung

setelah usia 27 tahun.

E. KEPRIBADIAN ciri Pedofil Sulit untuk menyajikan pola kepribadian yang klasik untuk pedofilia karena berbagai sub-kelompok yang exist.53 Beberapa individu yang memiliki pedofilia mampu menyajikan seperti psikologis normal selama pemeriksaan sendiri atau dangkal pertemuan, meskipun mereka memiliki berat mendasari kepribadian disorders.6, 46,54 Penelitian telah menunjukkan bahwa orang dengan pedofilia umumnya mengalami perasaan rendah diri, isolasi atau kesepian, rendah diri, internal dysphoria, dan ketidakdewasaan emosional. Mereka memiliki kesulitan dengan matang sesuai dengan usia interaksi interpersonal, terutama karena berkurangnya ketegasan mereka, peningkatan kadar pasif-agresivitas, dan kemarahan yang meningkat atau hostility.5 ,23,27,28,55-63 Ciri-ciri menimbulkan kesulitan berurusan dengan afek yang menyakitkan, yang mengakibatkan berlebihan penggunaan mekanisme pertahanan utama intelektualisasi, penolakan, kognitif distorsi (misalnya, manipulasi fakta), dan rationalization.6, 24,46,53,56,62 Meskipun pedofil sering mengalami kesulitan dengan hubungan interpersonal, 50% atau lebih akan menikah di beberapa titik di lives.15 mereka, 32,53,55,56,61,64 Adalah umum bagi orang-orang yang didiagnosis mengalami pedofilia juga mengalami lain psikiatris utama gangguan (penyakit afektif 60% -80%, gangguan kecemasan di 50% -60%) dan / atau gangguan kepribadian didiagnosis (70% -80%) pada suatu waktu dalam life.7 mereka, 12,63 Diperkirakan 43% dari pedofil memiliki cluster gangguan kepribadian C, 33% memiliki gangguan kepribadian klaster B, dan 18% memiliki klaster Kepribadian disorders23, 31,53,55 (Tabel 3). Sebuah studi oleh Curnoe dan Langevin, 65 menggunakan Multiphasic Minnesota Kepribadian Inventarisasi dengan pedofil dan lainnya "menyimpang fantasizers "(n = 186), menunjukkan secara signifikan meningkat skor pada skala kejarangan, penyimpangan psikopat skala, skala maskulinitas-feminitas, skala paranoia, dan skala skizofrenia. Hasil ini menunjukkan bahwa pedofil lebih terasing secara sosial dan kurang emosional stabil daripada kebanyakan orang lain, ciri-ciri sering terlihat di pasien dengan cluster A dan B kepribadian disorders.65 Banyak pedofil juga menunjukkan narsistik, sosiopat, dan ciri-ciri kepribadian antisosial. Mereka tidak memiliki penyesalan dan

16

pemahaman bahaya yang mereka tindakan cause.23, 53 Gagasan impulsif sebagai faktor kepribadian dalam pedofil sering diperdebatkan. Pedofil sering melaporkan kesulitan mengendalikan perilaku mereka, meskipun jarang mereka spontan menganiaya seorang anak. Fakta bahwa 70% menjadi 85% dari pelanggaran terhadap anak yang direncanakan berbicara terhadap kurangnya pelaku control.23, 55 Cohen et al55 dibandingkan 20 heteroseksual pedofil untuk kelompok kontrol dan menemukan bahwa pedofil menunjukkan skor tinggi untuk membahayakan penghindaran, tanpa elevasi untuk mencari hal-hal baru pada yang Temperamen dan Inventarisasi Karakter. Cohen et al menunjukkan bahwa, bukannya melihat pedofilia sebagai hasil dari ciri-impuls agresif (misalnya, tidak direncanakan dengan pertimbangan tidak ada untuk konsekuensi), harus dipandang sebagai hasil dari sifat kompulsif-agresif (direncanakan dengan maksud untuk melepaskan tekanan internal atau mendesak) .55

B. Diagnosis Gangguan Kepribadian Anankastik (Obsesif-Kompulsif) Kriteria DSM-IV untuk gangguan obsesif-kompulsif menyatakan bahwa gejala tidak boleh karena seorang menderita gangguan medis gangguan substansi. Gejala obsesif-kompulsif telah dikaitkan dengan berbagai lesi neurologis seperti lesi sirkuit kortiko-striatal-talamik-kortikal, yang dapat timbul setelah pemberian agonis dopamin (seperti metilfenidat atau kokain), atau setelah infeksi streptokokus (mungkin secara autoimun). Gejala gangguan obsesif-kompulsif secara klinis harus disertai dengan tanda marabahaya dan disfungsi. Gejala

17

subklinis obsesif-kompulsif yang tidak biasa dan terlihat selama perkembangan normal. Pasien dengan obsesif-kompulsif dapat mengalami penurunan substansial, termasuk terkena dampak parah pada kualitas hidup. Obsesi dan dorongan tidak boleh dibedakan dengan karakter fleksibel yang terdiri gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (Anankastik). Meskipun perbedaan antara sumbu I (misalnya, sindrom seperti obsesif-kompulsif) dan II (misalnya, gangguan kepribadian seperti gangguan kepribadian obsesif-kompulsif) tidak jelas, obsesi dan dorongan obsesif-kompulsif berbeda secara kualitatif dari ciri-ciri kepribadian obsesif kompulsif seperti perfeksionisme dan overconscientiousness. Demikian pula, meskipun kadang-kadang tumpang tindih, gejala obsesif-kompulsif sangat jelas berbeda dari ketakutan dan kekhawatiran yang terlihat pada gangguan kecemasan lain dari karakteristik gangguan mood dan delusi gangguan psikotik. Gejala obsesif-kompulsif atau stereotipik merupakan komponen intrinsic dari berbagai gangguan, termasuk autisme, sindrom Tourette, dan lesi lobus frontal. Sebaliknya, beberapa gangguan memiliki fokus terbatas pada gejala yang dapat dilihat pada gangguan obsesif-kompulsif6. Sebagai contoh, pasien dengan gangguan tubuh dismorfik (kekhawatiran tentang keburukan yang dibayangkan) dan

hipokondriasis (keprihatinan tentang penyakit yang dibayangkan) memiliki gangguan obsesi somatik dan dorongan biasanya memiliki karakteristik yang tumpang tindih dan psikobiologi untuk obsesif-kompulsif akan dimasukkan dalam obsesif-kompulsif disorders2.

18

Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian obsesifkompulsif mungkin memiliki sikap, kaku formal, dan kaku yang akan mempengaruhi mereka tetapi afeknya tidak tumpul atau flat, namun dapat digambarkan sebagai terbatas. Mereka kekurangan spontanitas, dan suasana hati mereka biasanya serius. Pasien tersebut mungkin cemas tentang tidak dapatnya mengendalikan wawancara. Jawaban mereka atas pertanyaan yang biasa rinci. Mekanisme pertahanan mereka gunakan adalah rasionalisasi, isolasi,

intelektualisasi, pembentukan reaksi, dan kehancuran4. Orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif yang sibuk dengan aturan, peraturan, ketertiban, kerapian, detail, dan pencapaian kesempurnaan. Ciriciri ini menjelaskan penyempitan umum dari seluruh kepribadian. Mereka bersikeras bahwa aturan harus diikuti secara kaku dan tidak bisa mentolerir apa yang mereka anggap pelanggaran. Oleh karena itu, mereka tidak memiliki fleksibilitas dan tidak toleran. Mereka mampu bekerja berkepanjangan, asalkan dirutinkan dan tidak memerlukan perubahan dimana mereka tidak bisa beradaptasi4. Pola kenyamanan dengan keteraturan, perfeksionisme, dan kontrol mental dan interpersonal, dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan dan efisiensi, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) dari hal-hal berikut :4 1. sibuk dengan rincian, peraturan, daftar, urutan, organisasi, atau jadwal sejauh bahwa titik utama dari kegiatan hilang,

19

2. menunjukkan

perfeksionisme

yang

mengganggu

penyelesaian

tugas

(misalnya, tidak dapat menyelesaikan proyek karena standar sendiri terlalu ketat tidak terpenuhi), 3. secara berlebihan dikhususkan untuk pekerjaan dan produktivitas dengan mengesampingkan kegiatan rekreasi dan persahabatan (tidak diperhitungkan oleh kebutuhan ekonomi yang jelas), 4. overconscientious, teliti, dan tidak fleksibel tentang masalah moralitas, etika, atau nilai-nilai (tidak diperhitungkan oleh identifikasi budaya atau agama), 5. tidak mampu untuk membuang benda-benda usang atau tidak berharga bahkan ketika mereka tidak memiliki nilai sentimental, 6. enggan untuk mendelegasikan tugas atau bekerja dengan orang lain kecuali mereka mengikuti cara sesuai pikirannya, 7. mengadopsi gaya belanja kikir baik terhadap diri sendiri dan orang lain, uang dipandang sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk masa depan, 8. menunjukkan kekakuan dan keras kepala. Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian telah membatasi kemampuan interpersonal. Mereka formal dan serius dan seringkali tidak memiliki rasa humor. Mereka mengasingkan orang, tidak dapat berkompromi, dan bersikeras bahwa orang lain tunduk kepada kebutuhan mereka. Mereka bersemangat untuk menyenangkan orang-orang yang mereka lihat lebih kuat daripada mereka dan mereka melaksanakan keinginan orang-orang ini 'dengan cara yang otoriter. Karena mereka takut membuat kesalahan, mereka ragu-ragu

20

dan merenungkan tentang membuat keputusan. Meskipun sudah mendapatkan perkawinan yang stabil dan kecukupan pada pekerjaan umum, orang-orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif hanya memiliki beberapa teman. Apa pun yang mengancam dan mengganggu stabilitas mereka atau rutinitas kehidupan mereka dapat memicu kecemasan jika terikat dalam kebiasaan yang mereka terapkan pada kehidupan mereka dan mencoba untuk memaksakan pada orang lain4. Ketika obsesi berulang atau tekanan yang hadir, obsesif-kompulsif harus dicatat pada Axis I. Mungkin perbedaan yang paling sulit adalah antara pasien rawat jalan dengan beberapa sifat obsesif-kompulsif dan orang-orang dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif. Diagnosis gangguan kepribadian yang diperuntukkan bagi mereka dengan gangguan signifikan dalam efektivitas mereka terhadap pekerjaan atau sosial. Dalam beberapa kasus, gangguan delusional hidup berdampingan dengan gangguan kepribadian ini harus diperhatikan4. C. Epidemiologi pedofilia Data epidemiologi pertama untuk gangguan obsesif-kompulsif didasarkan pada perwakilan sampel nasional dan kriteria diagnostik yang baik. Gangguan obsesif-kompulsif merupakan gangguan paling umum ke empat dari gangguan psikiatri dengan prevalensi seumur hidup sebesar 2,5%. Hasil dari studi lintasnasional dengan metode serupa menunjukkan prevalensi yang tidak berbeda dengan kebanyakan di seluruh populasi yang berbeda. Sebuah review studi masyarakat menunjukkan bahwa meskipun beberapa keraguan tentang validitas

21

diagnosis

gangguan

obsesif-kompulsif

dalam

studi

epidemiologi,

pada

kenyataannya gangguan obsesif-kompulsif ini tidak jarang terjadi pada dewasa dan anak-anak, dengan banyak temuan yang menunjukkan prevalensi mirip

dengan ditemukan dalam studi epidemiologi2. Prevalensi gangguan kepribadian obsesif-kompulsif masih tidak diketahui. Hal ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan pada wanita dan didiagnosis paling sering pada anak tertua. Gangguan juga terjadi lebih sering pada kerabat biologis tingkat pertama seseorang dengan gangguan dibandingkan pada populasi umum. Pasien sering memiliki latar belakang disiplin keras. Freud berhipotesis bahwa gangguan ini terkait dengan kesulitan dalam tahap anal perkembangan psikoseksual, umumnya sekitar usia 2 tahun, namun berbagai penelitian telah gagal untuk memvalidasi teori ini4. Rasio antara laki-laki dan wanita untuk gangguan obsesif-kompulsif kirakira sama, kontras dengan gangguan lainnya seperti kecemasan dan gangguan suasana hati, dimana prevalensi lebih tinggi terjadi pada wanita dibandingkan dengan pria. Usia onset gangguan obsesif-kompulsif memiliki distribusi bimodal. Pada beberapa pasien, gangguan ini dimulai pada pubertas atau sebelumnya. Gangguan obsesif-kompulsif onset remaja sangat umum pada laki-laki, dan memiliki karakteristik yang membedakan dengan yang lainnya seperti familiality yang lebih besar kaitannya dengan tic disorders. Pasien yang lain dapat memiliki onset kemudian, misalnya setelah kehamilan, keguguran, atau partus. Hasil studi epidemiologi yang konsisten dengan sampel orang-orang dari pekerjaan klinis

22

menunjukkan bahwa gangguan obsesif-kompulsif memiliki komorbiditas tinggi dengan kecemasan lainnya dan gangguan mood. Temuan ini juga menunjukkan bahwa beberapa pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif memiliki gambaran impulsif, termasuk gejala gangguan masa kanak-kanak dan tingkat peningkatan angka bunuh diri2. Meskipun gangguan episode akut obsesif-kompulsif telah diketahui, penyakit yang ditemukan biasanya dalam keadaan kronik. Selanjutnya, obsesifkompulsif terkait dengan biaya langsung dan tidak langsung yang cukup besar, yang diperparah oleh tidak adanya pengakuan, underdiagnosis dan pengobatan yang tidak memuaskan. Pasien mungkin terlalu malu untuk mengunjungi seorang dokter, atau mungkin tidak menyadari bahwa bantuan tersebut tersedia, dalam suatu survei yang dilakukan, jeda waktu dari onset gejala untuk diagnosis yang benar adalah 17 tahun2. D. Assessment Gangguan Kepribadian Anankastik (Obsesif-Kompulsif) Karena pasien sering menyembunyikan gejala mereka, sangat penting untuk menyadari dari presentasi kemungkinan obsesif-kompulsif dalam

pengaturan medis, dan untuk menanyakan pasien secara rutin menggunakan pertanyaan tentang obsesi ("Apakah Anda memiliki pikiran tidak menyenangkan datang ke dalam pikiran Anda, meskipun Anda tidak menginginkannya? ") dan dorongan (" Apakah anda harus melakukan hal-hal di atas dan lebih, meskipun Anda tidak ingin? "). Di klinik dermatologi misalnya, pasien yang datang untuk bedah kosmetik kadang-kadang memiliki masalah somatik, pasien secara umum

23

dapat memiliki gejala hipokondriasis, neurologi pasien dengan gangguan gerakan spontan (Sindrom Tourette, Sydenham 's chorea, gangguan Huntington) atau lesi kortiko-striatal-talamik-kortikal mungkin memiliki komorbiditas gangguan

obsesif-kompulsif, anak dapat memiliki obsesif-kompulsif setelah infeksi streptokokus, dan wanita hamil dapat memilikinya secara de novo atau meningkatnya gejala obsesif-kompulsif2. Untuk menilai obsesif-kompulsif, riwayat psikiatri yang menyeluruh dan pemeriksaan harus dilakukan untuk menyelidiki gejala gangguan ini dan komorbiditas untuk memungkinkan diagnosis diferensial dari kecemasan lain, suasana hati, dan gangguan psikotik. Sebuah riwayat medis umum dan pemeriksaan juga harus diperoleh, tic komorbid yang tidak jarang dan harus dinilai dan dalam beberapa pasien, gejala obsesif-kompulsif dimulai setelah infeksi. Indikasi khusus penyelidikan seperti pencitraan otak struktural mungkin termasuk onset terlambat, gejala atipikal, atau pengobatan refraktoriyang parah2. Tingkat keparahan gejala dapat diukur dengan beberapa peringkat skala termasuk skala obsesif-kompulsif Yale-Brown yang cukup terkenal dan mudah digunakan dalam praktek klinis, dan keandalan dan validitas skala ini telah dijadikan standar emas dalam percobaan acak gangguan obsesif-kompulsif. Skala tersebut juga telah diadaptasi untuk digunakan pada anak-anak dan remaja. Mungkin cukup berguna untuk menanyakan pada pasien sendiri tentang penjelasan untuk gangguan mereka dan apa teori tentang penyebabnya serta pengobatan. Pasien dengan skrupel, misalnya, bisa melihat gejala mereka dalam

24

hal agama. Beberapa pasien memiliki pandangan bahwa konflik tidak sadar adalah penyebab gejala. Menyadari model tersebut dan menawarkan perspektif alternatif, merupakan langkah penting dalam memulai pengobatan2.. E. Patogenesis Gangguan Kepribadian Anankastik (Obsesif-Kompulsif)

a. Neuroanatomi Indikasi awal dari gangguan obsesif-kompulsif dimediasi oleh sirkuit saraf tertentu yang mungkin muncul dari pekerjaan yang menunjukkan hubungan antara posensefalitis parkinsonian dan obsesif-kompulsif. Gejala obsesif-kompulsif juga telah diketahui dalam berbagai gangguan saraf dengan keterlibatan striatal, termasuk sindrom Tourette, Sydenham chorea, gangguan Huntington, dan Parkinson. Sebaliknya, pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif dapat memiliki kelainan dalam serangkaian langkah-langkah dan paradigma yang digunakan dalam neuropsikiatri (misalnya, tanda-tanda neurologis, identifikasi penciuman, membangkitkan potensi, prepulse penghambatan, penghambatan intrakortikal) dan neuropsikologi (misalnya fungsi, eksekutif, visual fungsi memori). Kelainan ini konsisten dengan disfungsi kortiko-striatal-talamik-kortikal dan gangguan hambatan, dan dari beberapa bukti menunjukkan bahwa mereka khusus mengalami gangguan obsesif-kompulsif. Kemajuan dalam pencitraan otak telah memberikan data neuroanatomikal yang bagus untuk gangguan obsesif-kumpulsif. Dalam beberapa penelitian, pencitraan struktural menunjukkan kelainan seperti volume menurun atau peningkatan kepadatan materi abu-abu di sirkuit kortikostriatal-talamikortikal. Pencitraan fungsional memiliki konsistensi dan

25

menunjukkan bahwa gangguan obsesif-kompulsif ditandai oleh peningkatan aktivitas di korteks orbitofrontal, cingula, dan striatum saat istirahat terutama selama paparan rangsangan takut (gambar 2.1). Penerapan metode pencitraan molekular untuk obsesif-kompulsif adalah pada tahap awal karena dapat memberikan dukungan untuk temuan struktural dan fungsional2.

Gambar 2.1 Peningkatan aktivitas korteks orbitofrontal dan caudatus pada penderita obsesif-kompulsif Daerah lain pada otak juga mungkin memainkan peran dalam obsesifkompulsif. Misalnya, disfungsi temporal telah dikaitkan dengan gangguan obsesif-kompulsif, dan ada beberapa bukti keterlibatan amigdala dalam gangguan ini. Penelitian pencitraan pada anak-anak telah mendukung keterlibatan sirkuit kortiko-striatal-talamik-kortikal pada obsesif-kompulsif, dan bisa memastikan perkembangan kelainan otak di berbagai daerah2,3.

26

Gambar 2.2 Normalisasi aktivitas otak dengan farmakoterapi dan psikoterapi pada penderita obsesif-kompulsif Farmakoterapi dan terapi perilaku dapat menormalkan aktivitas di sirkuit kortiko-striatal-talamik-kortikal (gambar 2.2). Data ini memiliki implikasi penting untuk pandangan yang terintegrasi dari pikiran dan tubuh. Kegiatan dasar diferensial memprediksi respon terhadap farmakoterapi dan psikoterapi, sehingga metode yang berbeda mungkin efektif melalui mekanisme yang berbeda. Neurosurgikal gangguan sirkuit kortiko-striatal-talami-kortikal juga dapat mengurangi gejala-gejala dan mengurangi volume striatal2,7,8. b. Neurokimia Sistem serotonin mungkin terlibat dalam mediasi obsesif-kompulsif. Bukti awal untuk mekanisme tersebut adalah penemuan bahwa clomipramine, sebuah antidepresan trisiklik yang berfungsi sebagai serotonin reuptake a inhibitor, efektif dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif. Fungsi clomipramine ditunjang dengan penurunan konsentrasi metabolit serotonin asam 5-hydroxyindoleacetic dalam cairan serebrospinal pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif2,9.

27

Hasil salah satu penelitian tindakan statis fungsi serotonergik dalam obsesif-kompulsif tidak begitu bermakna. Akan tetapi, sekarang telah difokuskan pada tindakan dinamis yang lebih informatif. Jadi, misalnya fungsi agonis (5-HT) serotonin m-chlorophenylpiperazine (MCPP) telah disertai dengan gejala gangguan eksaserbasi obsesif-kompulsif dan respon neuroendokrin yang tumpul. Setelah pengobatan dengan serotonin reuptake inhibitor, perilaku dan tanggapan neuroendokrin untuk MCPP tampaknya menjadi normal10. Hal tersebut mengarah ke pertanyaan tentang peran spesifik subreseptor 5-HT dalam obsesif-kompulsif. Efek MCPP pada reseptor 5-HT2C postsinap mungkin sangat relevan. Data praklinis dan data klinis juga menunjukkan bahwa terminal autoreseptor 5-HT1D memainkan bagian penting13; desensitisasi dari reseptor ini di korteks orbitofrontal membutuhkan kebutuhan durasi tinggi dan administrasi dosis tinggi dari serotonin reuptake inhibitors2,9. Meskipun peran sistem serotonin dalam mediasi obsesif-kompulsif sangat penting, untuk saat ini tidak ada kelainan spesifik dalam sistem serotonin yang telah diidentifikasi sebagai penyebab. Memang, banyak sistem lainnya, termasuk neurotransmisi glutamat, beberapa neuropeptida, dan steroid gonad juga

memainkan peranan. Pada akhirnya, peran kedua dan ketiga jalur di obsesifkompulsif perlu menjadi gambaran. Sistem neurotransmiter kortiko-striataltalamik-kortikal yang sangat penting dalam mediasi obsesif-kompulsif pada beberapa pasien adalah dopamine. Dalam penelitian praklinis, administrasi agonis dopamin menyebabkan perilaku stereotipik, sedangkan pada manusia, agen

28

tersebut dapat memperburuk gejala dan tic dari obsesif-kompulsif sehingga blocker dopamin digunakan dalam pengobatan begitu juga dengan sindrom Tourette yang merupakan salah satu spektrum gangguan obsesif-kompulsif. Selanjutnya, augmentasi serotonin reuptake inhibitor dengan agen tersebut dapat berguna dalam pengobatan gangguan obsesif-kompulsif2. c. Neurogenetik Pada awalnya gangguan obsesif-kompulsif diduga memiliki komponen genetik yang telah dikonfirmasi oleh beberapa penelitian di mana peneliti menggunakan wawancara diagnostik probandus yang terkontrol. Hasil dari

beberapa studi telah menunjukkan hubungan genetik antara obsesif-kompulsif dan Tourette. Pasien dengan gejala gangguan obsesif-kompulsif dengan riwayat keluarga Tourette dapat memiliki disfungsi neurobiologis mirip dengan Tourette daripada gangguan obsesif-kompulsif murni. Perhatian mulai fokus pada kemungkinan bahwa polimorfisme genetik fungsional memiliki peran dalam patogenesis obsesif-kompulsif. Dari hasil penelitian menemukan hubungan seksual dimorfik dengan aktivitas rendah di alel katekol-O-metiltransferase (COMT), namun laporan berikutnya didapatkan hasil yang berbeda yaitu dengan alel dari oksidase monoamine-A gen (MAO-A) dan masih dilakukan penelitian lebih lanjut. Pada polimorfisme gen sistem serotonin seperti transporter serotonin juga telah diketahui, namun sampai saat ini belum terbukti kebenarannya. Data awal untuk polimorfisme 5-HT1D sangat menarik dalam pandangan lain dan membuktikan bahwa autoreseptor terminal memiliki peranan penting dalam

29

mediasi gangguan obsesif-kompulsif, namun masih harus dilakukan penelitian lebih lanjut. Penelitian terbaru juga difokuskan pada polimorfisme dopaminergik yang menunjukkan bahwa alel didistribusikan secara berbeda pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif dengan dan tanpa tic. Penelitian tersebut akhirnya bisa memberikan dasar untuk pendekatan rasional untuk gambaran heterogenitas obsesif-kompulsif, termasuk perbedaan karakteristik penyakit dan respon pengobatan2. Bukti terbaik bahwa faktor genetik berkontribusi terhadap gangguan kepribadian berasal dari investigasi dari 15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat. Di antara kembar monozigot, kesesuaian untuk gangguan kepribadian adalah beberapa kali bahwa di antara kembar dizigotik. Selain itu, menurut sebuah studi, kembar monozigot yang terpisah mirip dengan kembar monozigot yang hidup bersama-sama. Kemiripan meliputi beberapa ukuran kepribadian dan temperamen, kepentingan kerja dan waktu luang, dan sikap sosial.

Cluster sebuah gangguan kepribadian yang lebih umum dalam keluarga biologis pasien dengan skizofrenia daripada kelompok kontrol. Kerabat dengan gangguan kepribadian schizotypal terjadi dalam sejarah keluarga penderita schizophrenia daripada kelompok kontrol. Korelasi kurang ditemukan antara gangguan kepribadian paranoid atau skizofrenia4. Gangguan kepribadian cluster B ternyata memiliki basis genetik. Gangguan kepribadian antisosial berhubungan dengan gangguan penggunaan alkohol. Depresi adalah umum pada latar belakang keluarga pasien dengan

30

gangguan kepribadian borderline. Pasien-pasien ini memiliki kerabat lebih dengan gangguan mood daripada kelompok kontrol, dan orang-orang dengan gangguan kepribadian borderline sering memiliki gangguan mood juga. Sebuah hubungan yang kuat ditemukan antara gangguan kepribadian histerik dan gangguan somatisasi (sindrom Briket), pasien dengan gangguan masing-masing

menunjukkan gejala yang tumpang tindih4. Gangguan kepribadian cluster C juga mungkin memiliki dasar genetik. Pasien dengan gangguan kepribadian menghindar sering memiliki tingkat kecemasan tinggi. Ciri obsesif-kompulsif lebih sering terjadi pada kembar

monozigot dibandingkan kembar dizigotik, dan pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif menunjukkan beberapa tanda-tanda yang

berhubungan dengan depresi "misalnya, rapid eye movement (REM) periode laten dan abnormalnya tes sensitisasi deksametason (DST)4 . Anomali kromosom dan varian gen umum telah ditemukan di bawah peningkatan pengawasan di OCD dan OCD-terkait atau gangguan OCDkomorbid. Beberapa wilayah kromosom yang berhubungan dengan fenotipe beberapa telah ditemukan untuk menyertakan individu dengan OCD. Dengan demikian, diagnosis OCD telah dibuat pada individu dengan sindrom mikrodelesi 22q11 (juga dikenal sebagai velocardiofacial syndrome). Dalam satu penelitian komprehensif yang menggunakan skala YBOCS bersama dengan wawancara kejiwaan dalam mengevaluasi sampel klinik VCSF, 33% menerima diagnosis. OCD juga telah didiagnosis pada beberapa individu dengan sindrom dystonic

31

myoclonus terkait dengan kromosom 7q. Dalam sebuah studi dari tiga myoclonus yang didapatkan dari keluarga sindrom dystonic, OCD berdasarkan kriteria DSMIV muncul sekitar 25% (4/16) dari gejala distonia pembawa sindrom myoclonus dengan haplotipe 7q21, tetapi hanya 9% (1/11) dari yang tanpa gejala dan 0% (0/28) dari nonhaplotipe yang karier. Ini adalah kepentingan khusus karena yang 7q21-Q31 memiliki lokus dekat anomali kromosom yang dijelaskan dalam individu lainnya dengan OCD atau sindrom Tourette, tetapi tanpa sindrom dystonic myoclonus yang memiliki anomali di daerah kromosom 7q31 dan 7q3536. Selain itu, sebuah studi berbasis keluarga menggunakan penanda di wilayah 7q31 yang diperagakan sebagai alel penanda pada individu dengan komorbiditas Tourette sindrom, OCD, dan ADHD. Untuk varian 22q11 dan 7q, data tidak cukup ada untuk OCD, gangguan spektrum OCD seperti distonia lainnya dan mungkin terkait gangguan seperti gangguan spektrum autisme untuk menarik kesimpulan tegas mengenai bagaimana perbedaan dengan gangguan yang mungkin terkait. Namun, temuan dari daerah kromosom dan gen jarang menunjukkan perbedaan etiologi untuk fenotipe OCD yang mungkin merupakan jenis OCD spektrum gangguan, yaitu, kelompok genom OCSDs3. d. Neuroimunologi Awal laporan hubungan antara gangguan obsesif-kompulsif chorea sydenham dan itu adalah dikonfirmasi dalam penyelidikan yang sistematis, mengarah ke pertimbangan apakah beberapa kasus gangguan obsesif-kompulsif akibat autoimun dan mengganggu proses sirkuit kortiko-striatal-talamik-kortikal.

32

Memang, gangguan autoimun neuropsikiatri yang berhubungan dengan infeksi streptokokus, telah dimunculkan untuk menggambarkan anak-anak yang memiliki onset akut gejala obsesif-kompulsif streptokokus2. Kontribusi ini diikuti oleh serangkaian studi yang mengeksplorasi berbagai aspek dari suatu hipotesis autoimun obsesif-kompulsif. Pasien memiliki volume striatal yang abnormal pada pencitraan otak. Selain itu, gangguan obsesifkompulsif dan gejala tic merespon intervensi imunomodulator seperti pertukaran plasma dan imunoglobulin intravena. Tindak lanjut jangka panjang menunjukkan perbaikan gejala untuk sebagian besar pasien, terutama ketika antibiotik profilaksis telah efektif dalam pencegahan berulang infeksi streptokokus. Langkah berikutnya pada hipotesis autoimun obsesif-kompulsif adalah untuk menetapkan mekanisme imunologi yang tepat. Dalam beberapa penelitian, ekspresi D8/17, antigen limfosit B dan penanda kerentanan terhadap perkembangan gejala sisa setelah infeksi streptokokus, meningkat pada pasien dengan obsesif-kompulsif. Selain itu, beberapa investigator telah menunjukkan bukti kekebalan beberapa disfungsi dalam obsesif-kompulsif, termasuk autoantibodi normal. Hubungan antara disfungsi kekebalan putatif dan obsesif-kompulsif harus dilakukan studi lebih lanjut untuk menentukan kekhususan (versus gangguan lain), frekuensi (dibandingkan dengan kemungkinan gangguan striatal lainnya), dan hubungannya dengan faktor psikobiologikal lainnya (seperti variabel genetik). Namun dengan atau tanpa tic setelah infeksi

demikian, hal tersebut memperkuat pandangan sekarang bahwa obsesif-kompulsif

33

sebagai gangguan neuropsikiatri, dan akhirnya bisa menyebabkan identifikasi risiko anak-anak dan menemukanpengobatan baru2. F. Farmakologi Gangguan Kepribadian Anankastik (Obsesif-Kompulsif) Pengenalan serotonin reuptake inhibitor diberikan untuk agen yang tidak hanya efektif untuk obsesif-kompulsif, tetapi juga memiliki keamanan dan profil tolerabilitas daripada clomipramine. Memang, semua serotonin selektif tersedia sebagai reuptake inhibitor yang efektif dan ditoleransi dengan baik pada studi acak terkontrol gangguan obsesif-kompulsif, dan beberapa juga efektif dalam gangguan obsesif-kompulsif pada anak-anak12. Sebaliknya, meskipun sesekali uji coba bernilai positif, agen dari golongan obat lainnya (monoamine oxidase inhibitor, benzodiazepin, bloker dopamin) belum secara konsisten efektif dalam monoterapi obsesif-kompulsif12. Hasil percobaan meta-analisis obsesif-kompulsif menunjukkan bahwa agen kurang selektif seperti clomipramine memiliki efek lebih besar daripada agen yang selektif. Namun, metode meta analisis memiliki banyak keterbatasan, dan hasil semua penelitian menunjukkan kesetaraan dalam efikasi dan tolerabilitas serotonin reuptake inhibitor dalam gangguan obsesifkompulsif11. Beberapa agen dengan serotonin reuptake substansial inhibitor (misalnya, venlafaxine), mungkin juga efektif dalam obsesif-kompulsif, namun belum begitu dipelajari. Inositol, yang merupakan agen yang bertindak langsung pada tingkat lini kedua, telah digunakan terutama dalam penelitian. Beberapa peneliti telah melakukan dosis tetap serotonin reuptake inhibitor dalam gangguan obsesif-kompulsif, dan hal tersebut tidak selalu menghasilkan suatu kesimpulan.

34

Namun demikian, kesan umum, didukung oleh konsensus klinis didapatkan bahwa serotonin reuptake inhibitor trial dengan durasi lama (10-12 minggu) dan dosis tinggi (meningkat secara bertahap, pada interval 2-4 mingguan, dengan dosis maksimum yang dianjurkan) harus ditentukan11. Awal efek samping bahkan mungkin dapat diprediksi. Namun, beberapa prediktor negatif telah dijelaskan, termasuk penimbunan gejala, tic komorbiditas, dan gangguan kepribadian schizotipal -konsisten dengan bukti bahwa sistem dopamin penting dalam mediasi mereka. Meskipun respon terhadap pengobatan tidak selalu menyiratkan remisi gejala, itu bisa dikaitkan dengan peningkatan dalam kualitas hidup. Bukti terbaik untuk augmentasi serotonin reuptake inhibitor adalah untuk dosis rendah dopamin bloker, penelitian sebelumnya dilakukan dengan neuroleptik tradisional dan penelitian terbaru telah mengkonfirmasi nilai antipsikotik generasi baru yang lebih baik ditoleransi oleh orang dewasa. Kombinasi dari antidepresan telah berguna dalam beberapa penelitian orang dewasa (terkontrol) dan anak-anak (tidak terkontrol). Berbagai agen dari lainnya kelas (misalnya, lithium, buspirone, pindolol, inositol) memiliki nilai dalam uji coba terkontrol dewasa dengan gangguan obsesif-kompulsif. Pada pasien yang resisten terhadap pengobatan monoterapi, beberapa pendekatan ini dapat dipertimbangkan, namun sampai saat ini mungkin yang paling mendukung adalah penggunaan clomipramine intravena pada dewasa. Farmakoterapi dalam obsesif-kompulsif harus dipertahankan untuk setidaknya setahun. Kemungkinan bahwa beberapa pasien mempertahankan respon pada dosis rendah harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan bahwa

35

pemulihan pengobatan setelah kambuh dapat dikaitkan dengan respon yag buruk. Setelah keputusan dibuat untuk menghentikan obat, tampaknya masuk akal untuk melakukan hal ini secara bertahap (misalnya, penurunan dosis sebesar 25% setiap beberapa bulan)2. Pedoman saat ini menyarankan standar pengobatan terdiri dari tiga percobaan memadai (10-12 minggu pada dosis maksimal) dari agen serotonergik yang berbeda. Langkah pertama adalah untuk memulai pengobatan dengan SSRI. Jika ini terbukti tidak efektif, langkah berikutnya adalah percobaan dengan SSRI yang berbeda. Langkah ketiga adalah untuk beralih dari SSRI ke clomipramine17. Meskipun SSRI dianggap sebagai obat pilihan dalam pengobatan OCD, penelitian terkontrol double-blind secara acak langsung membandingkan efektivitas relatif dari SSRI yang berbeda. Namun, berdasarkan meta-analisis yang membandingkan data dari uji coba terkontrol plasebo sertraline, fluvoxamine, fluoxetine dan clomipramine menemukan khasiat yang sama untuk semua tiga SSRI16. Studi ini juga menemukan clomipramine memiliki khasiat yang lebih tinggi daripada SSRI. Namun demikian, harus diingat bahwa, clomipramine adalah agen pertama yang dipelajari, maka dipelajari dalam populasi baru untuk SSRI. Namun, SSRI dipelajari dalam populasi, termasuk pasien yang telah gagal untuk menanggapi clomipramine. Oleh karena itu, pasien mungkin lebih tahan pengobatan. Namun, sebagian besar studi banding langsung telah menunjukkan keampuhan yang sama untuk clomipramine dan SSRI, tetapi dengan sedikit efek samping dalam kelompok SSRI15. Karena tidak hanya penghambat serotonin

36

reuptake tetapi juga bloker dari adrenergik dan kolinergik reseptor, clomipramine dikaitkan dengan efek samping tinggi antikolinergik dan anti-adrenergik. Selain itu, dapat meningkatkan kejang insiden clomipramine pada dosis tinggi14. Kelemahan lain yang penting dari clomipramine adalah kardiotoksik, karena itu, harus hati-hati ketika meresepkan untuk pasien dengan masalah jantung atau risiko bunuh diri. Jadi meskipun clomipramine mungkin memiliki efektivitas tinggi, pengobatan standar adalah mulai dengan SSRI karena lebih

menguntungkan dari segi efek samping18. Pilihan perawatan pertama terdiri dari pendekatan-pendekatan dengan keberhasilan yang ditunjukkan oleh percobaan terkontrol, tindakan infasif kecil, ketersediaannya luas dan kompleksitas yang minimal. Tentu saja, seperti tercantum dalam review terbaru dan pedoman para ahli tentang isu pengobatan farmakologis gangguan obsesif-kompulsif, SSRI memenuhi semua kriteria tersebut. Saat ini, terdapat beberapa double-blind, studi plasebo-terkontrol menunjukkan hasil positif dengan fluvoxamine, fluoxetine, sertraline, paroxetine, citalopram dan baru-baru ini, escitalopram. Semua SSRI (serta clomipramine) telah disetujui untuk digunakan pada orang dewasa dengan gangguan obsesifkompulsif oleh FDA, dengan pengecualian dari citalopram baru dan escitalopram. Meskipun beberapa dari obat ini tidak diuji dalam pengontrolan,

metode dosis tetap untuk menilai dosis optimal (misalnya, fluvoxamine) dari kebanyakan studi dengan SSRI menunjukkan bahwa pasien harus

diobati dengan dosis toleransi maksimum untuk setidaknya 12 minggu. Namun,

37

ada beberapa bukti bahwa tambahan perbaikan dapat terjadi bahkan kemudian, dan sejumlah pedoman merekomendasikan kelanjutan pengobatan selama minimal 1 sampai 2 tahun19. Lini pengobatan kedua gangguan obsesif-kompulsif yang mirip dengan lini pertama dalam hal ketersediaan, invasifnya, dan kompleksitas. Namun

demikian, strategi ini diuji dalam obat-tahan pasien dengan gangguan obsesifkompulsif (yaitu, individu yang gagal untuk menunjukkan penurunan 35% [25% atau menurut beberapa penulis] di Y-BOCS, dan akhir CGI-perbaikan 2 setelah setidaknya sekali menggunakan obat SSRI)19. Meskipun clomipramine, antipsikotik, pindolol dan dosis tinggi

dari SSRI terdaftar sebagai alternatif yang dapat digunakan`pada tahap pengobatan, tapi ada sebagian yang percaya bahwa mayoritas studi positif yang mendukung dua pilihan pertama. Clomipramine sebagai antidepresan trisiklik adalah obat yang paling dipelajari dalam pengobatan pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif. Beberapa ahli berpendapat bahwa pengobatan dosis tinggi pada obsesif-kompulsif diperlukan clomipramine (sampai dengan 300 mg / hari) untuk waktu yang lebih lama dari biasanya) dan efektivitas clomipramine lebih besar dibandingkan dengan perlakuan lainnya yang tersedia pada waktu itu (independen dari adanya komorbiditas depresi)19. G. Psikoterapi Gangguan Kepribadian Anankastik (Obsesif-Kompulsif) Psikoanalisis pengobatan untuk gangguan obsesif-kompulsif neurosis disarankan oleh Freud, dan untuk waktu yang lama adalah dianggap pendekatan

38

yang efektif untuk manajemennya. Namun, meskipun kontribusi peneliti di penggambaran karakteristik dan psikologi obsesif-kompulsif, saat ini tidak cukup data untuk mendukung penggunaan pengobatan psikoanalitis. Perilaku terapi adalah psikoterapi pertama yang mendukung, dan berguna dalam obsesifkompulsif pada orang dewasa dan anak. Salah satu komponen penting dari perilaku terapi paparan terhadap sesuatu yang ditakuti. Cara yang tepat di mana hasil paparan nanti akan di normalisasi oleh jalur kortikostriatal- talamikkortikal2. Intervensi kognitif juga mungkin memiliki peran dalam pengobatan gangguan obsesif-kompulsif dan menyarankan domain beberapa kepercayaan yang penting dalam obsesif-kompulsif, termasuk meningkatnya jawaban, pikiran yang berlebihan, kekhawatiran berlebihan tentang pentingnya mengendalikan pikiran, dan ancaman yang terlalu tinggi20. Pendekatan kognitif sama efektifnya dengan teknik paparan. Dalam prakteknya, pendekatan kognitif-perilaku sering digunakan, diberikan secara individu maupun kelompok, dengan konteks mulai dari instruksi menolong diri-sendiri melalui pengobatan dalam perawatan unit intensif21,22. Karena gejala obsesif-kompulsif sangat mempengaruhi keluarga pasien, penilaian efek seperti itu dan masuknya mitra pasien atau keluarga di pengembangan strategi pengobatan akan diperlukan pada beberapa kasus. Sayangnya, beberapa peneliti telah menilai cara terbaik untuk urutan atau menggabungkan farmakoterapi dan psikoterapi untuk gangguan obsesifkompulsif. Namun, dari sudut pandang teoritis, integrasi pendekatan yang berbeda

39

dapat sangat berguna. Secara klinis, tampaknya cukup masuk akal untuk mendorong pasien yang menggunakan obat-obatan untuk juga memahami dan mematuhi prinsip-prinsip terapi kognitif-perilaku, dan berdasarkan hasil dari beberapa penelitian ini memberikan hasil yang memuaskan2.

BAB III PENUTUP

A. Rangkuman Kepribadian adalah ekspresi keluar dari pengetahuan dan perasaan yang dialami secara subjektif oleh seseorang. Definisi lain mengemukakan bahwa kepribadian adalah perilaku khas seseorang yang menyebabkan orang tersebut dapat dikenal dan dibedakan dari orang lain karena pola perilakunya. Jadi, kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun dalam diri dan digunakan olehnya untuk bereaksi serta untuk menyesuaikan diri terhadap rangsang, baik yang datang dari lingkungan (dunia luar), maupun yang berasal dari diri sendiri (dunia dalam), sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi individu tersebut1. Gangguan kepribadian adalah gangguan umum dan kronis. Prevalensinya diperkirakan antara 10 dan 20 persen pada populasi, dan durasinya dinyatakan dalam beberapa dekade. Orang dengan gangguan kepribadian sering dicap sebagai memperparah, menuntut, atau parasit, dan umumnya dianggap memiliki prognosis buruk. Sekitar satu setengah dari semua pasien kejiwaan memiliki gangguan kepribadian, yang sering komorbid dengan Axis I kondisi. Gangguan Kepribadian juga merupakan faktor predisposisi untuk gangguan kejiwaan lainnya (misalnya, penggunaan narkoba, bunuh diri, gangguan afektif, impuls-kontrol gangguan, gangguan makan, dan gangguan kecemasan) yang mengganggu hasil pengobatan

39

41

Axis I sindrom dan meningkatkan incapacitation pribadi, morbiditas, dan mortalitas pasien4. Klasifikasi gangguan kepribadian tidak begitu memuaskan, sama dengan klasifikasi kepribadian normal. Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa ke-III (PPDGJ-III) mempunyai blok diagnosis F60-F69 untuk

mengkategorikan gangguan kepribadian1. Gangguan kepribadian anankastik (Obsesif-kompulsif) yang ditandai dengan penyempitan emosional, ketertiban, ketekunan, keras kepala, dan keraguan. Gambaran penting dari gangguan ini adalah pola perfeksionisme dan kaku4. Pada kepribadian anankastik (obsesif-kompulsif), ciri utamanya adalah: perfeksionisme dan keteraturan (ketertiban, kerapian). Ia mungkin sering atau berulang kali melakukan segala sesuatu atau suatu aspek saja dari lingkungannya, agar tertib atau teratur. Hal ini mungkin mempengaruhi apa yang dilakukannya dengan baik (diselesaikan secara baik sekali) atau mungkin tidak baik (pekerjaannya terlambat selesai atau orang lain terganggu karenanya). Ia kaku, pemalu, spontanitas kurang dan mempunyai pengawasan diri yang tinggi. Ia sangat prihatin dengan konformitas, menganut norma-norma etik dan moral yang tinggi serta patuh secara berlebihan. Ia memaksa secara tidak beralasan agar orang lain menuruti persis cara ia mengerjakan sesuatu atau ia enggan secara tidak beralasan untuk menyetujui orang lain mengerjakan sesuatu1.

42

Indikasi awal dari gangguan obsesif-kompulsif dimediasi oleh sirkuit saraf tertentu yang mungkin muncul dari pekerjaan yang menunjukkan hubungan antara postensefalitis parkinsonian dan obsesif-kompulsif. Gejala obsesif-kompulsif

juga telah diketahui dalam berbagai gangguan saraf dengan keterlibatan striatal, termasuk sindrom Tourette, Sydenham chorea, gangguan Huntington, dan Parkinson. Sebaliknya, pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif dapat memiliki kelainan dalam serangkaian langkah-langkah dan paradigma yang digunakan dalam neuropsikiatri (misalnya, tanda-tanda neurologis, identifikasi penciuman, membangkitkan potensi, prepulse penghambatan, penghambatan intrakortikal) dan neuropsikologi (misalnya fungsi, eksekutif, visual fungsi memori). Kelainan ini konsisten dengan disfungsi kortiko-striatal-talamik-kortikal dan gangguan hambatan, dan dari beberapa bukti menunjukkan bahwa mereka khusus mengalami gangguan obsesif-kompulsif2. Sistem serotonin mungkin terlibat dalam mediasi obsesif-kompulsif. Bukti awal untuk mekanisme tersebut adalah penemuan bahwa clomipramine, sebuah antidepresan trisiklik yang berfungsi sebagai serotonin reuptake a inhibitor, efektif dalam pengobatan gangguan obsesif kompulsif. Fungsi clomipramine ditunjang dengan penurunan konsentrasi metabolit serotonin yaitu asam 5-

hydroxyindoleacetic dalam cairan serebrospinal pasien dengan gangguan obsesifkompulsif2. Pada awalnya gangguan obsesif-kompulsif memiliki komponen genetik yang telah dikonfirmasi oleh beberapa penelitian di mana peneliti menggunakan

43

wawancara diagnostik probandus yang terkontrol. Hasil dari beberapa studi telah menunjukkan hubungan genetik antara obsesif-kompulsif dan Tourette2. Awal laporan hubungan antara gangguan obsesif-kompulsif chorea sydenham dan dikonfirmasi dalam penyelidikan yang sistematis, mengarah ke pertimbangan apakah beberapa kasus gangguan obsesif-kompulsif akibat autoimun dan mengganggu proses sirkuit kortiko-striatal-talamik-kortikal. Pengenalan serotonin reuptake inhibitor diberikan untuk agen yang tidak hanya efektif untuk obsesif-kompulsif, tetapi juga memiliki keamanan dan profil tolerabilitas daripada clomipramine. Memang, semua serotonin selektif tersedia sebagai reuptake inhibitor yang efektif dan ditoleransi dengan baik pada studi acak terkontrol gangguan obsesif-kompulsif13, dan beberapa juga efektif dalam gangguan obsesif-kompulsif pada anak-anak12. Sebaliknya, meskipun sesekali uji coba bernilai positif, agen dari golongan obat lainnya (monoamine oxidase inhibitor, benzodiazepin, bloker dopamin) belum secara konsisten efektif dalam monoterapi obsesif-kompulsif12. Hasil percobaan meta-analisis obsesif-kompulsif menunjukkan bahwa agen kurang selektif seperti clomipramine memiliki efek lebih besar daripada agen yang selektif. Namun, metode meta analisis memiliki banyak keterbatasan, dan hasil semua penelitian menunjukkan kesetaraan dalam efikasi dan tolerabilitas serotonin reuptake inhibitor dalam gangguan obsesifkompulsif11. Beberapa agen dengan serotonin reuptake substansial inhibitor (misalnya, venlafaxine), mungkin juga efektif dalam obsesif-kompulsif, namun belum begitu dipelajari. Inositol, yang merupakan agen yang bertindak langsung

44

pada tingkat lini kedua, telah digunakan terutama dalam penelitian. Beberapa peneliti telah melakukan dosis tetap serotonin reuptake inhibitor dalam gangguan obsesif-kompulsif, dan hal tersebut tidak selalu menghasilkan suatu kesimpulan. Namun demikian, kesan umum, didukung oleh konsensus klinis didapatkan bahwa serotonin reuptake inhibitor trial dengan durasi lama (10-12 minggu) dan dosis tinggi (meningkat secara bertahap, pada interval 2-4 mingguan, dengan dosis maksimum yang dianjurkan) harus ditentukan11. Awal efek samping mungkin dapat diprediksi. Namun, beberapa prediktor negatif telah dijelaskan, termasuk penimbunan gejala, tic komorbiditas, dan gangguan kepribadian schizotipal dengan bukti bahwa sistem dopamin penting dalam mediasi mereka. Meskipun respon terhadap pengobatan tidak selalu menyiratkan remisi gejala, itu bisa dikaitkan dengan peningkatan dalam kualitas hidup. Bukti terbaik untuk augmentasi serotonin reuptake inhibitor adalah untuk dosis rendah dopamin bloker, penelitian sebelumnya dilakukan dengan neuroleptik tradisional dan penelitian terbaru telah mengkonfirmasi nilai antipsikotik generasi baru yang lebih baik ditoleransi oleh orang dewasa. Kombinasi dari antidepresan telah berguna dalam beberapa penelitian orang dewasa (terkontrol) dan anak-anak (tidak terkontrol). Berbagai agen dari lainnya kelas (misalnya, lithium, buspirone, pindolol, inositol) memiliki nilai dalam uji coba terkontrol dewasa dengan gangguan obsesif-kompulsif. Pada pasien yang resisten terhadap pengobatan monoterapi, beberapa pendekatan ini dapat dipertimbangkan, namun sampai saat ini mungkin yang paling mendukung adalah penggunaan clomipramine intravena

45

pada dewasa. Farmakoterapi dalam obsesif-kompulsif harus dipertahankan untuk setidaknya setahun. Kemungkinan bahwa beberapa pasien mempertahankan respon pada dosis rendah harus dipertimbangkan terhadap kemungkinan bahwa pemulihan pengobatan setelah kambuh dapat dikaitkan dengan respon yag buruk. Setelah keputusan dibuat untuk menghentikan obat, tampaknya masuk akal untuk melakukan hal ini secara bertahap (misalnya, penurunan dosis sebesar 25% setiap beberapa bulan)2. Pengobatan secara psikoanalisis untuk gangguan obsesif-kompulsif neurosis disarankan oleh Freud, dan diperlukan waktu yang lama karena dianggap sebagai pendekatan yang efektif untuk manajemennya. Namun, meskipun beberapa penelitian telah berkontribusi dalam penggambaran karakteristik dan psikologi obsesif-kompulsif, saat ini tidak tersedia cukup data untuk mendukung penggunaan pengobatan psikoanalitis. Terapi perilaku adalah psikoterapi pertama yang mendukung, dan berguna dalam obsesif-kompulsif pada orang dewasa dan anak. Salah satu komponen penting dari perilaku terapi paparan terhadap sesuatu yang ditakuti. Cara yang tepat di mana hasil paparan nanti akan di normalisasi oleh jalur kortikostriatal- talamik-kortikal2. B. Kesimpulan 1. Gangguan kepribadian anankastik (obsesif-kompulsif) adalah gangguan kecemasan yang parah ditandai dengan adanya obsesi dan dorongan. Obsesi adalah pikiran mengganggu yang tidak diinginkan dan mengganggu, berupa gambar, atau impuls yang menyebabkan kecemasan atau distres.

46

2. Penyebab terjadinya gangguan kepribadian anankastik dantara lain adanya gangguan dalam system neuroanatomi, neurokimia, neurogenetik

neuroimunologi. 3. Pengobatan gangguan kepribadian anankastik antara lain secara farmakologi terutama menggunakan golongan SSRI dan psikoterapi.

DAFTAR PUSTAKA

Maramis WF dan Maramis AA. Catatan ilmu kedokteran jiwa edisi 2. Surabaya : Airlangga University Press, 2009. Stein DJ. Obsessive-compulsive disorder. The LANCET 2002;360:397-405. Mas CS, Pujol J, Alonso P, et al. Identifying patients with obsessive-compulsive disorder using whole-brain anatomy. NeuroImage 2007;35:1028-1037. Sadock BJ and Sadock VA. Kaplan & sadocks synopsys of psychiatry. Lippincott Williams & Wilkins, 2007. Doron G, Derby DS, Szepsenwol O, et al. Flaws and all:exploring partner-focused obsessive-compulsive symptoms. JOCRD 2012;1:234-243. Coughtrey AE, Shafran R, Knibbs D, et al. Mental contamination in obsessivecompulsive disorder. JOCRD 2012;1:244-250. Abramowitz JS, Franklin ME, Zoellner LA, et al. Treatment compliance and outcome in obsessive-compulsive disorder. Behaviour Modification 2002;26:447-463. Carmin CN, Wiegartz PS, Yunus U, et al. Treatment of late-onset OCD following basal ganglia infarct. Depression and Anxiety 2002;15:87-90. Tibrewal P, Kumar HB, Shubha GN, et al. Association of serotonin transporter gene polymorphisms with obsessive-compulsive disorder (OCD) in a south Indian population. Indian J Med Res 2010;132:690-695. Billett EA, Richter MA, King N, et al. Obsessive compulsive disorder, response to serotonin reuptake inhibitors and the serotonin transporter gene. Molecular Psychiatry 1997;2:403-406. Hollander E and Pallanti S. Current and experimental therapeutics of OCD. Neuropsychopharmacology: the fifth generation of progress 2002;114:16471664. Baldwin DS, Anderson IM, Nutt DJ, et al. Evidence-based guidelines for the pharmacological treatment of anxiety disorders: recommendations from the british association for psychopharmacolofy. Journal of Psychopharmacology 2005;19:567-596.

Tobias JAY. Obsessive-compulsive disorders: Orthomolecular psychiatry 1977;6:317-326.

serotonic

hypothesis.

Bystritsky A. Current pharmacological treatments for obsessive-compulsive disorders. Essent psychopharmacol 2004;5:251-272. Fineberg N and Brown A. Pharmachotherapy for obsessive-compulsive disorder. APT 2011;17:419-434. Price LH and Whiteley L. Effective pharmacotherapy for obsessive-compulsive disorders in adults.European psychiatric R\review 2010;3:58-62. Cordioli AV, Heldt E, Bochi DB, et al. Cognitive-behavioural group therapy in obsessive-compulsive disorder: a clinical trial. Rev Bras Psiquiatr 2002;24:113-120. Schruers K, Koning K, Luermans J, et al. Obsessive-compulsive disorder: a critical review of therapeutic perspectives. Acta psychiatr scand 2005;111:261-271. Fontenelle LF, Nascimento AL, Mendlowics MV, et al. An update on the pharmacological treatment of obsessive-compulsive disorder. Expert Opin Pharmacother 2007;8:1-21. Cordioli AV. Cognitive-behavioral therapy in obsessive-compulsive disorder.Rev Bras Psiquiatr 2008;30:565-272. Braga DT, Cordioloi AV, Niederauer K, et al. Cognitive-behavioral group therapy for obsessive-compulsive disorder: a 1-year follow up. Acta Psyciatr Scand 2005;112:180-186. Jaurrieta N, Murcia SJ, Alonso P, et al. Individual versus group cognitive behavioral treatment for obsessive-compulsive: follow up. Psychiatry and Clinical Neurosciences 2008;62:697-704.