Anda di halaman 1dari 91

1

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI R DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI PUSKESMAS BARA-BARAYA MAKASSAR TGL 5 S/D 7 APRIL 2006

KARYA TULIS ILMIAH Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Pendidikan Program DIII Kebidanan Universitas Indonesia Timur

OLEH :

RUSNAINI 03 1301 130

UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR PROGRAM DIII KEBIDANAN MAKASSAR 2006

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bayi berat lahir rendah (kurang dari 2500 gram) merupakan salah satu faktor terhadap kematian perinatal dan neonatal, karena bayi tersebut mudah mengalami gangguan pernapasan, suhu badan rendah, sering sesak napas, kejang-kejang dan infeksi sehingga kalau tidak segera di tolong menyebabkan kematian. Banyak bayi berat lahir rendah (BBLR) di negara berkembang dengan Intra Uterine Growth Retardation (IUGR) sebagai akibat ibu dengan status gizi buruk, anemia, malaria dan menderita penyakit menular seksual (PMS) sebelum konsepsi atau ketika hamil. (http://www.depkes.go.id/index.php.option , Maret 2006). Menurut World Health Organization (WHO) tahun 1998, 17% dari 25 juta persalinan per tahun adalah bayi berat lahir rendah dan hampir semua terjadi di negara berkembang (www.kompas.com , diakses 13 Juni 2006). Di tingkat ASEAN kejadian bayi berat lahir rendah dalam periode 1998-2003 tertinggi di Philipina 20%, menyusul kemudian Myanmar 15% dan Laos 14%, sedangkan yang terendah di Singapura 8%, menyusul kemudian Thailand dan Vietnam sebesar
1

diakses

tanggal

22

9% (http://www.bankdata.depkes.go.id , diakses tanggal 2006.

21Juni

Kejadian bayi berat lahir rendah di Indonesia selama periode tahun 1990-2000 terdapat 7-14% bayi atau 355.000-710.000 bayi berat lahir rendah dari 5 juta bayi lahir per tahun. Sedangkan menurut Survei Demografi dan Kesehatan (SDKI) 2002-2003 memperkirakan setiap tahunnya sekitar 400.000 bayi lahir dengan berat rendah (BBLR) (Depkes RI, Hak-Hak Anak Indonesia Belum Terpenuhi, 2004, http://www.depkes.go.id , diakses 22 Maret 2006). Di tingkat ASEAN, angka kematian bayi di Indonesia 35 per 1.000 kelahiran hidup yaitu hampir 5 kali lipat dibandingkan dengan angka kematian bayi Malaysia, hampir 2 kali dibandingkan dengan Thailand dan 1,3 kali dibandingkan dengan Philipina (Depkes RI, Hak-Hak Anak Indonesia Belum Terpenuhi, 2004, http://www. depkes.go.id , diakses 22 Maret 2006). Menurut survei demografi dan kesehatan (SDKI) tahun 20022003, pada skala nasional juga masih terjadi kesenjangan kematian bayi antara provinsi dengan variasi sangat besar yaitu provinsi Nusa Tenggara Barat mencapai 103/1.000 kelahiran hidup

(tertinggi) dan provinsi Yogyakarta mencapai 23/1.000 kelahiran hidup dan merupakan terendah di Indonesia. Sekitar 57%, kematian

bayi tersebut terjadi pada bayi dibawah 1 bulan dan utamanya disebabkan karena gangguan perinatal dan bayi berat lahir rendah. Menurut data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2005, jumlah bayi yang lahir dengan bayi berat lahir rendah sekitar 1.700 per 113.782 kelahiran hidup (1,49%) bayi lahir yang lahir mati diakibatkan oleh bayi berat lahir rendah sekitar 741 per 114.523 kelahiran (0,65%). Dari bagian pencatatan dan pelaporan Puskesmas BaraBaraya Makassar tahun 2005 didapatkan 1.451 jumlah kelahiran hidup, dari jumlah kelahiran ini didapatkan 74 bayi yang mengalami bayi berat lahir rendah (5,1%). Terjadinya bayi berat lahir rendah (BBLR) tidak lepas dari keadaan ibu pada masa kehamilan dimana terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya. Faktor-faktor penyebab berupa faktor ibu pada waktu hamil antara lain umur ibu, paritas, gizi ibu dan keadaan sosial ekonomi. Faktor kehamilan meliputi hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan ante partum

( plasenta previa dan solusio placenta ), komplikasi hamil seperti preeklampsia/eklampsia, ketuban pecah dini. Faktor janin seperti cacat bawahan dan infeksi dalam rahim. Sehubungan dengan hal tersebut diatas, maka penulis tertarik untuk membuat karya tulis ilmiah dengan mengangkat judul

Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi R Dengan Bayi Berat Lahir Rendah di Puskesmas Bara-Baraya Makassar Tanggal 5 s/d 7 April 2006 dengan menggunakan pendekatan manajemen

kebidanan sesuai dengan kewenangan bidan. B. Ruang Lingkup Penulisan Yang menjadi ruang lingkup penulisan ini adalah studi kasus dengan penerapan Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi R Dengan Bayi Berat Lahir Rendah di Puskesmas Bara-Baraya Makassar Tanggal 5 s/d 7 April 2006. C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Dapat melaksanakan manajemen asuhan kebidanan

pada bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas Bara-Baraya Makassar Tanggal 5 s/d 7 April 2006 dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan sesuai

kewenangan bidan. 2. Tujuan Khusus a. Dapat melaksanakan pengkajian dan analisa data pada bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas BaraBaraya Makassar tanggal 5 s/d 7 April 2006.

b. Dapat merumuskan diagnosa/masalah aktual pada bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas Bara-Baraya Makassar tanggal 5 s/d 7 April 2006. c. Dapat merumuskan diagnosa/masalah potensial pada bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas BaraBaraya Makassar tanggal 5 s/d 7 April 2006. d. Dapat melaksanakan tindakan segera dan kolaborasi pada bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas BaraBaraya Makassar tanggal 5 s/d 7 April 2006. e. Dapat merencanakan tindakan dalam asuhan kebidanan pada bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas Bara-Baraya Makassar tanggal 5 s/d 7 April 2006. f. Dapat melaksanakan tindakan asuhan kebidanan pada bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas BaraBaraya Makassar tanggal 5 s/d 7 April 2006. g. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan pada bayi R degnan bayi berat lahir rendah di Puskesmas Bara-Baraya Makassar tanggal 5 s/d 7 April 2006. h. Dapat mendokumentasikan semua temuan dan tindakan dalam asuhan kebidanan yang telah dilaksanakan pada bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas BaraBaraya Makassar tanggal 5 s/d 7 April 2006.

D. Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari penulisan pada kasus tersebut di atas adalah : 1. Manfaat Praktis Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan ujian akhir jenjang pendidikan Diploma III Kebidanan Universitas Indonesia Timur Makassar. 2. Manfaat Ilmiah Sebagai bahan masukan/informasi bagi tenaga bidan di Puskesmas Bara-Baraya Makassar dalam menyelesaikan kasus khususnya yang berkaitan dengan bayi berat lahir rendah. 3. Manfaat Institusi Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan ujian akhir jenjang pendidikan Diploma III Kebidanan Universitas Indonesia Timur Makassar bahan acuan/pedoman bagi institusi jurusan kebidanan untuk penulisan karya tulis ilmiah (KTI) selanjutnya. 4. Manfaat Bagi Penulis Merupakan pengalaman yang dapat menambah

kemampuan dalam penerapan manajemen asuhan kebidanan khususnya bayi berat lahir rendah.

E. Metode Penulisan Metode yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini secara sistematis meliputi : 1. Studi Kepustakaan Dengan membaca dan mempelajari buku-buku dan

berbagai literatur, mengambil data dari internet, profil kesehatan yang berhubungan dengan judul karya tulis ilmiah ini. 2. Studi Kasus Melaksanakan studi kasus pada bayi R dengan

menggunakan pendekatan pemecahan masalah melalui asuhan kebidanan yang meliputi aktual pengkajian, masalah merumuskan potensial,

diagnosa/masalah

maupun

perencanaan tindakan, implementasi, evaluasi dan dokumentasi. Dalam memperoleh data yang akurat penulis

menggunakan tehnik : a. Anamnesa Penulis melakukan tanya jawab dengan orang tua dan keluarga guna memperoleh data yang diperlukan untuk memberikan asuhan kebidanan pada bayi tersebut.

b. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis untuk menjamin diperolehnya data yang lengkap dengan cara inspeksi terhadap karakteristik luar meliputi kulit, telinga, genitalia, postur dan tonus otot, ukur tinggi badan dan berat badan, apgar score, anus, dan pemeriksaaan diagnostik lainnya sesuai dengan kebutuhan dan indikasi. 3. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi dilakukan dengan mempelajari status kesehatan bayi/klien yang bersumber dari catatan dokter, bidan, dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya yang dapat memberi kontribusi dalam menyelesaikan tulisan ini. 4. Diskusi Penulis menggunakan tanya jawab dengan dokter atau bidan yang menangani langsung bayi tersebut serta berdiskusi dengan dosen pembimbing karya tulis ilmiah ini. F. Sistematis Penulisan Untuk memperoleh gambaran umum tentang karya tulis ini maka penulis menyusun dengan sistematis sebagai berikut : BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang

10

B. Ruang Lingkup Penulisan C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum 2. TujuanKhusus D. Manfaat Penulisan E. Metode Penulisan F. Sistematika Penulisan BAB II : TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Bayi Berat Lahir Rendah 1. Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah 2. Diagnosis Bayi Berat Lahir Rendah 3. Cara Menilai Bayi Berat Lahir Rendah 4. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Bayi Berat Lahir Rendah. 5. Komplikasi Pada Bayi Berat Lahir Rendah 6. Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah 7. Prognosis Bayi Berat Lahir Rendah B. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan C. Pendokumentasian Manajemen Asuhan Kebidanan BAB III : STUDI KASUS Langkah 1 : Pengkajian dan Analisa Data Dasar Langkah 2 : Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual

11

Langkah 3 : Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial Langkah 4 : Tindakan Segera dan Kolaborasi Asuhan Kebidanan Langkah 5 : Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan Langkah 6 : Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan Langkah 7 : Evaluasi Hasil Asuhan Kebidanan Pendokumentasian Hasil Asuhan Kebidanan BAB IV : PEMBAHASAN Pada bab ini penulis akan membahas tentang

kesenjangan antara teori dan pelaksanaan manajemen asuhan kebidanan yang dibahas secara sistematis mulai dari pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan

evaluasi. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN Merupakan bab terakhir yang memuat kesimpulan dari hasil pelaksanaan studi yang dilakukan dan juga

memuat saran-saran operasional untuk kualitas asuhan kebidanan. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

12

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Bayi Berat Lahir Rendah 1. Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah a. Bayi berat lahir rendah adalah bayi dengan berat badan lahir kurang atau sama dengan 2500 gram. (Surasmi A, 2003, hal.3) b. Bayi berat lahir rendah adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram sampai dengan 2499 gram. (Saifuddin A. B, 2000, hal.376). c. Bayi berat lahir adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2.500 gr (Rusepno H, 1998, hal.1051). Untuk mendapat keseragaman, pada Kongres European perinatal ke II di London (1970) telah diusulkan defenisi sebagai berikut a. Bayi kurang bulan ialah bayi yang lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari) b. Bayi cukup bulan ialah bayi yang lahir dengan umur kehamilan mulai 37 minggu sampai 42 minggu ( 259 sampai 293 hari).

11

13

c. Bayi lebih bulan ialah bayi yang lahir dengan umur kehamilan mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih). Dengan pengertian seperti yang telah diterangkan di atas, bayi berat lahir rendah dapat dibagi menjadi 2 golongan yaitu : a. Prematuritas murni Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan. Bayi prematuritas murni mempunyai ciri-ciri yaitu: 1) Berat badan kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkaran dada kurang dari 30 cm lingkaran kepala kurang dari 37 cm. 2) Masa gestasi kurang dari 37 minggu. 3) Kepala relatif lebih besar dari pada badannya, ubun-ubun dan sutura lebar. 4) Kulitnya tipis, transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang. 5) Desensus testikulorum biasanya belum sempurna (pada laki-laki) labia minora belum tertutup oleh labia mayora (pada wanita). 6) Tulang rawan dan daun telinga belum cukup, sehingga elastisitas daun telinga masih kurang.

14

7) Jaringan mamma belum sempurna demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik. 8) Bayi kecil, posisinya masih posisi fetal, pergerakannya kurang dan lemah. 9) Bayi lebih banyak tidur daripada bangum. 10) Tangisnya lemah, pernapasan belum teratur dan sering mengalami apnea. 11) Otot masih hipotonik sehingga sikap selalu dalam

keadaan kedua tungkai dalam abduksi, sendi lutut dan sendi kaki dalam fleksi dan kepala menghadap satu jurusan. 12) Refleks tonus leher lemah, refleks mengisap dan menelan belum sempurna, kalau bayi lapar biasanya menangis, gelisah aktifitas bertambah. Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi. Hal ini disebabkan oleh karena daya tahan tubuh terhadap infeksi masih kurang, sehingga relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap

peradangan belum baik. b. Dismaturitas Bayi lahir dengan berat badan kurang yang seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi

15

pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilan (KMK) dimana bayi ini mempunyai organ-organ yang sudah matang (mature) berfungsi lebih baik dibandingkan dengan bayi lahir kurang bulan, walaupun berat badannya kurang. (Rusepno H, 1985, hal.1051-1053). Dismaturitas dapat terjadi preterm , term , posterm . Pada preterm akan terlihat gejala fisis bayi prematur murni ditambah dengan gejala dismaturitas. Dalam hal ini berat badan kurang dari 2.500 gram, karakteristik fisis sama dengan bayi prematur dan mungkin ditambah dengan

retardasi pertumbuhan, demikian pula pada posterm dengan dismaturitas. 2. Diagnosis Dan Gejala Klinik Bayi Berat Lahir Rendah a. Sebelum bayi lahir 1) Pada anamnesis sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus dan lahir mati. 2) Pembesaran uterus tidak sesuai dengan umur kehamilan 3) Pergerakan janin yang pertama terjadi lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut. 4) Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut yang seharusnya.

16

5) Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau biasa pula dengan hidramnion, hiperemesis gravidarum dan pada hamil lanjut dengan toksemia gravidarum atau perdarahan ante partum. b. Setelah bayi lahir 1) Bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterine, tandatanda bayi inilah adalah tengkorak kepala keras, gerakan bayi terbatas, verniks kaseosa sedikit atau tidak ada, kulit tipis, kering, berlipat-lipat, mudah diangkat. 2) Bayi prematur yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu, tanda-tanda : verniks casoesa ada, jaringan lemak bawah kulit sedikit, tulang tengkorak lunak dan mudah bergerak, muka seperti boneka, abdomen buncit, tali pusat segar dan tebal, menangis lemah dan kulit tipis, merah dan transfaran. 3) Bayi prematur kurang sempurna, pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya, karena itu sangat peka terhadap kelahiran,

gangguan

pernapasan,

infeksi,

trauma

hipotermi dan sebagainya (Mochtar R, 1998, hal.448-450).

17

3. Cara Menilai Bayi Berat Lahir Rendah Penentuan umur kehamilan sangat penting karena angka kematian dan kesakitan menurun dengan kehamilan. Menurut Dubowitz tafsiran maturitas neonatal ditetapkan melalui penilaian 11 tanda fisik luar dan 10 tanda neurologik. Selain Dubowitz, dikenal juga penilaian menurut Ballard yang menilai maturitas neonatal berdasarkan 7 tanda kematangan fisik dan 6 tanda kematangan neuromuskuler. a. Penilaian menurut Dubowitz. 1) Karakteristik fisik eksternal dinilai, kemudian diberi nilai sesuai dengan panduan, lalu nilai yang diperoleh meningkatnya umur

dijumlah, hasil penjumlahan ini disebut juga nilai E. 2) Karakteristik neurologis dinilai, kemudian diberi nilai sesuai dengan panduan, lalu nilai yang diperoleh

dijumlah, hasil penjumlahan ini disebut juga nilai N. 3) Nilai jumlah karakteristik eksternal ditambah dengan nilai karakteristik neurologik ( jumlah nilai E + jumlah nilai N), hasil penjumlahan ini disebut angka perhitungan total. 4) Angka perhitungan total, dimasukkan dalam grafik umur kehamilan bayi menurut Dubowitz, lalu ditarik garis lurus ke atas sampai pada garis miring yang terdapat di tengah-

18

tengah grafik, kemudian ditarik garis ke samping kiri ke arah patokan umur kehamilan dalam minggu, maka angka yang terdapat pada garis menunjukkan kehamilan bayi waktu dilahirkan. (Surasmi, A, 2003 hal. 343). Tabel 1. Karakteristik Eksternal Menurut Dubowitz
Tanda Eksternal Oedema 0 Oedema nyata yang mengenai tangan dan kaki; Menimbulka n lekukan (pitting pada permukaan tibia. Sangat tipis, seperti agar-agar Angka penilaian 2 Tidak Tidak ada terdapat oedema oedema yang nyata pada tangan dan kaki; Menimbulkan lekukan pada permukaan tibia 1 Tipis dan licin Licin, ketebalan sedang, ruam atau pengelupas an yang superficial 3 4

Tekstur kulit

Warna kulit (pada bayi yang tidak menangis)

Merah tua

Merata merah mudah

Merah mudah pucat, warna kulit tubuh bervariasi

Keburaman

Banyak

Pembuluh

Sejumlah

Sedikit tebal, pecahpecah serta menglupas bagian superficial, terutama pada bagian tangan dan kaki. Pucat, yang merah mudah hanya pada telinga, bibir, telapak tangan, atau telapak kaki Sejumlah

Tebal dan seperti perkamen pecahpecah yang superficial atau yang dalam.

Tidak ada

19

kulit (pada batang tubuh)

pembuluh vena dan venula dapat terlihat dengan jelas, terutama di atas, Tidak terdapat lanugo

darah vena dan percabangan nya dapat dilihat.

kecil pembuluh darah besar dapat dilihat dengan jelas di atas abdomen.

Lanugo (di atas belakang tubuh

Guratan telapak kaki

Tidak terdapat guratan pada kulit

Sangat banyak, panjang dan tebal meliputi seluruh bagian belakang tubuh Tanda merah yang tidak jelas yang terdapat pada lebih dari setengah bagian depan

Pembentukan putting susu

Ukuran payudara

Putting susu berbatas jelas, areola licin serta datar, garis tengah <0,75 cm Tidak teraba adanya jaringan payudara

Areola berbintikbintik, tepi tidak timbul, garis tengah < 0,75 cm Jaringanpayu dara teraba pada satu atau atau kedua sisi, dengan garis tengah 0,5 cm

Rambut menepis, terutama di atas belakang tubuh bagian bawah Tanda merah yang jelas pada lebih dari setengah bagian depan, lekukan pada kurang dari telapak kaki Areola berbintikbintik, tep timbul, garis tengah 0,75 cm Jaringan payudara teraba pada kedua sisi, satu atau keduanya dengan garis tengah dari 0,5 sampai 1,0 cm Penkukan ke dalam secara parsial,

kecil pembuluh darah besar dapat dilihat dengan kurang tuas di atas abdomen Sejumlah kecil lanuga dan daerah yang gundul Lekukan pang terdapat pada lebih dari sepertia bagian depan

satupun pembuluh darah yang terlihat.

Paling tidak setengah dari belakang tubuh bebas dari lanugo Kekukan dalam yang jelas dan terdapat pada lebih dari seperti bagian depan.

Bentuk telinga

Daun telingan datar dan titidak

Penekukanan ke dalam sebagian tepi daun telinga

Jaringan payudara teraba pada kedua sisi, satu atau keduanya dengan garis tengah > 1 cm Penekukan ke dalam yang tegas dari

Daun telinga kuk dan tulang rawan

20

Kekuatan daun telinga

berbentuk, penekukan tepi daun telingan ke dalam, sedikit atau tidak ada sama sekali Daun telinga lunak, mudah dilipat tidak ada pembalikan kembali

seluruh bagian atas daun telinga

seluruh bagian atas daun telinga

mencapai tepi daun telinga, pembalikan kembali terjadi segera Tebal dan seperti pecahpecah yang superficial atau yang dalam

Daun telinga lunak, mudah dilihat, pembalikan kembali secara lambat

Alat kelamin laki-laki

Alat kelamin perempuan

Tidak satu testis pun yang terdapat di dalam skrotum Labia mayora terpisah jauh satu sama lain

Paling tidak satu testis berada di bagian bawah skrotum Labia mayora hampir menutup labia minora seluruhnya

Tulang rawan menuju tepi daun telinga, tetapi pada beberapa tempat lunak, pembalikan kembali dengan mudah Tidak ada satu tetis brada di bagian bawah skrotum Labia mayora telah menutupi labia minora secara sempurna

Daun telinga kukuh dan tegas, tulang rawan mencapai tepi daun telinga, pembalika n kembali terjadi segera Tidak ada satupun pembuluh darah yang terlihat Paling tidak setengah dari belakang tubuh bebas dab lanugo.

(Sumber : Surasmi A, 2003, hal.34-36)

Tabel 2. Bagan Karakteristik Neurologi Menurut Dubowitz

21

(Sumber : Asnining Surasmi, 2003, hal.39)

22

Tabel 3. Grafik Hubungan Antara Berat Badan Lahir dengan Usia Kehamilan

Sumber : Mochtar R, 1998, hal.451

23

b. Penilaian dengan menggunakan sistem Ballard. Ballard menilai maturitas neonatus berdasarkan 7 tanda kematangan fisik dan 6 tanda kematangan neuromuskuler. Penilaian dilakukan dengan cara : 1) Menilai 7 tanda kematangan fisik 2) Menilai 6 tanda kematangan neurologik 3) Hasil penilaian aspek kematangan fisik dan neurologik dijumlah 4) Jumlah nilai kedua aspek kematangan tersebut

dicocokkan dengan tabel patokan tingkat kematangan menurut Ballard. (Surasmi A, 2003, hal.40). Tabel 4. Ciri Kematangan Fisik menurut Ballard
0 Kulit Merah seperti agaragar transparan 1 Merah muda licin/halus tampak vena 2 Permukaan mengelupas dengan/tanpa ruam, sedikit vena Menepis Hanya lipatan anterior yang melintang Areola seperti titik, tonjolan 1-2 mm 3 Daerah pucat retak-retak, vena jarang Menghilang Lipatan 2/3 mm 4 Seperti kertas kuit, retak lebih dalam, tidak ada vena Umumnya tidak ada Lipatan diseluruh telapak Areola penuh, tonjolan 10 mm 5 Seperti retakretak, mengerut

Lanugo Lipatan plantar

Tidak ada Tidak ada

Banyak Tanda merah sangat sedikit Areola datara, tidak ada tonjol

Payudara

Hampir tidak ada

Areola lebih jelas, tonjolan 34 mm

5-

24

Daun telinga datar, tetap terlipat Kelamin laki-laki

Sedikit melengkung, lunak

Sedikit melengkung, lunak, lambat membalik

Bentuknya lebih baik, lunak, mudah membalik Testis turun, sedikit ruga

Bentuknya sempurna, membalik seketika Testis ke bawah, ruganya bagus Labia mayora besar, labia minora kecil

Tulang rawan tebal, telinga kaku Testis bergantung, ruganya dalam Klitoris dan labia minora ditutupi labia mayora.

Skrtum kosong, tidak ada ruga Kitoris dan labia minora menonjol

Kelamin perempuan

Labia mayora besar, labia minora kecil

(Sumber : Surasmi A, 2003, hal.41) Tabel 5. Bagan Kematangan Neuromuskular menurut Ballard

(Sumber : Surasmi A, 2003, hal.40)

25

Tabel 6. Penilaian Tingkat Kematangan

Nilai

10 28

15 20 30 32

25 30 35 34 36 38

40 40

45 32

50 34

Minggu 26

(Sumber :Varney H, 2001, hal.287) c. Cara menilai aktivitas neuromuskuler 1) Posture : Dinilai bila bayi dalam posisi

terlentang dan tenang 2) Square window-wrist : Tangan bayi di defleksikan

diantara ibu jari dan telunjuk si pemeriksa lalu diukur sudut antara hypothenar forearm. 3) Arm recoil : lakukan fleksi dengan bawah eminence dengan

selama 5 detik, kemudian lengan tersebut diekstensikan dan dilepas. Nilai derajat kembalinya ke posisi fleksi. 4) Popliteal angle : Bayi tidur telentang, sedemikian paha rupa

dipegang

sehingga terdapat posisi lutut-data

26

(knee-chest position). Setelah itu dilakukan ekstensi tungkai bawah, ukurlah tersebut. 5) Scarf sign : Posisi telentang, peganglah salah satu lengan bayi dan usahakan tangan tersebut mencapai lehar posterior dari bahu sisi lainnya. Angkat dan geserlah siku bayi di atas dadanya dan lihat sampai di mana siku tersebut dapat digeser. Makin muda bayi makin mudah menggeser sikunya melewati garis tengah ke sisi lain. 6) Heel to ear : Posisi telentang, gerakkan kaki sudut di bawah lutut

bayi ke telinga dari sisi yang sama. Perbaikan jarak yang tidak

mencapai telinga ekstensi lutut. (Wiknjosastro H, 2002, hal.773).

27

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Bayi Berat Lahir Rendah Faktor yang dapat menyebabkan persalinan preterm (Prematur) 1) Faktor ibu : a) Gizi saat hamil kurang b) Umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun. c) Jarak hamil bersalin terlalu dekat. d) Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah (perokok). e) Faktor pekerja yang terlalu berat. 2) Faktor kehamilan a) Hamil dengan hidramnion b) Hamil ganda c) Perdarahan antepartum d) Komplikasi pecah dini. 3) Faktor janin a) Cacat bawaan b) Infeksi dalam kehamilan. 4) Faktor yang masih belum diketahui. Selain faktor-faktor diatas terjadinya bayi kecil untuk masa kehamilan atau dismaturitas adalah adanya gangguan transportasi zat-zat makanan kejanin, kelainan congenital, hamil : pre-eklampsia/eklampsia, ketuban

28

infeksi, dan keadaan sosial ekonomi ibu yang rendah (manuaba. I.B.G. 1998, hal.326-329). 5. Komplikasi Pada Bayi Berat Lahir Rendah Pada bayi yang dilahirkan prematur belum mempunyai alat-alat yang tumbuh dengan sempurna seperti pada bayi matur. Oleh karena itu ia lebih banyak mengalami kesulitan untuk hidup di luar uterus ibunya. Makin kecil usia kehamilan makin kurang sempurna pertumbuhan organ-organ tubuhnya. Akibatnya semakin mudah terjadi komplikasi seperti hipotermia, asfiksia, sindroma gangguan pernapasan, hipoglikemia,

hiperbilirubinemia, perdarahan intrakranial, rentang terhadap infeksi dan makin tinggi angka kematiannya. Pada umumnya maturitas bayi ini sesuai dengan masa kehamilannya dan sedikit dipengaruhi oleh gangguan

pertumbuhan di dalam rahim. Dengan kata lain organ-organ dalam tubuhnya sudah bertumbuh dengan baik bila

dibandingkan dengan bayi prematur dengan berat yang sama, sehingga bayi dengan kecil masa kehamilan (KMK) yang tidak prematur akan lebih mudah hidup diluar kandungan, komplikasi yang sering terjadi seperti : sindroma aspirasi mekonium, penyakit membran hialin, yang juga mudah terjadi seperti halnya pada bayi prematur. (Wiknjosastro H, 2002, hal.775-782)

29

6. Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah Perawatan bayi ini hampir sama dengan bayi normal, akan tetapi harus khusus diperhatikan pengaturan suhu

lingkungan, pemberian minum dan bila perlu pemberian oksigen. Ini disebabkan belum sempurnanya kerja organ-organ tubuh yang diperlukan diri untuk dengan pertumbuhan, lingkungan perkembangan, hidup diluar dan

penyesuaian

uterus.

Biasanya kematian disebabkan oleh gangguan pernapasan, cacat bawaan, trauma pada sistem saraf pusat atau otak (perdarahan intrakranial, anorexia) dan infeksi. a. Pengaturan suhu Bayi berat lahir rendah mudah dan cepat sekali mengalami hipotermia bila berada di lingkungan yang dingin. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relatif luas dibandingkan dengan berat badan, kurangnya jaringan lemak di bawah kulit. Untuk mencegah hipotermia bayi diletakkan dalam inkubator, suhu inkubator untuk bayi kurang dari 2000 gram harus 35 0 C, dan untuk bayi dengan berat badan antara 2000 - 2500 gram suhunya 34C supaya ia dapat mempertahankan suhu tubuh sekitar 37 0 C. suhu inkubator dapat diturunkan 1
0

C setiap minggu

untuk bayi 2000 gram dan secara berangsur-angsur ia dapat

30

ditempatkan di tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27 - 29 0 C. Bayi dalam inkubator harus dalam keadaan telanjang untuk memudahkan observasi terhadap pernafasan dan warna kulit (biru, kuning). Bila inkubator tidak ada,

pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol hangat di sekitarnya. (Wiknjosastro H, 2002 hal. 778). b. Pemberian minum Pada bayi prematur refleks isap, telan, dan batuk belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit, daya enzim pencernaan terutama lipase kurang. Prinsip pemberian minum ialah early feeding, yaitu minum sesudah bayi berumur 2 jam untuk mencegah turunnya berat badan lebih dari 10 %, hipoglikemia, dan hiperbilirubinemia. Pedoman pemberian minum bayi yaitu : Jumlah cairan yang pertama diberikan 1-5 ml per jam dan jumlahnya dapat ditambahkan sedikit demi sedikit setiap 12 jam. Penambahan susu setiap kali minum tidak boleh lebih dari 30 ml sehari atau tidak boleh lebih dari 5 ml setiap kali pemberian.

31

Diberi susu buatan yang mengandung lemak yang mudah dicerna bayi. Mengandung 20 kalori per 30 ml atau sekurangkurangnya bayi mendapat 110 per kg berat badan perhari. Bila bayi mengalami serangan sianosis, minuman berikutnya ditunda dan had berikutnya jumlah minuman tidak ditambah. Bayi yang lebih kecil dan bayi yang mengalami distres dapat diberi minum dengan infus teratur ke lambung dengan pompa semprit atau dengan jalan trampilorus dengan pipa pada jejunum. Pada bayi yang sangat kecil dapat digunakan infus larutan asam amino, glukosa, elektrolit dan lemak namun tidak boleh digunakan terlalu lama karena akan berbahaya. c. Perlindungan terhadap infeksi Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi. Hal ini disebabkan oleh karena daya tahan tubuh terhadap infeksi masih kurang, sehingga relatif belum sanggup membentuk anti bodi dan daya fogositosis serta reaksi terhadap

peradangan 780).

belum baik. (Wiknjosastro H, 2002, hal.778-

32

7. Prognosis Bayi Berat Lahir Rendah Prognosis bayi dengan berat badan rendah ini tergantung dari berat ringannya masalah perinatal, misalnya umur

kehamilan (makin muda umur kehamilan / makin rendah berat makin tinggi angka kematian), asfiksia, sindroma gawat

pernapasan, bronkopulmonal,

perdarahan retrolental

intraventrikuler, fibroplasia, infeksi,

displasia gangguan

metabolic (asidosis, hipoglikemia, hiperbilirubinemia ). Prognosis ini juga tergantung dari keadaan sosial

ekonomi, pendidikan orang tua dan perawatan pada saat kehamilan, persalinan dan postnatal (pengaturan suhu

lingkungan, resusitasi, makanan, pencegahan infeksi, cara mengatasi gangguan pernapasan, dan asfiksia. Wiknjosastro H, 2002, hal.783). B. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan 1. Pengertian Manajemen Kebidanan Manajemen asuhan kebidanan adalah proses

pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien (Simatupang E.J, 2006, hal.7).

33

2. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan Menurut Simatupang, E.J, 2006, hal.10-16) a. Langkah I. Pengumpulan dan Analisa Dasar Pengumpulan dan analisa dasar adalah pengumpulan data yang kompleks untuk menilai klien. Data ini termasuk riwayat pemeriksaan dengan klien. b. Langkah II. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual Menginterpretasikan data secara positif ke dalam suatu rumusan diagnosa dan masalah kebidanan. Masalah dan diagnosa keduanya digunakan dan mempunyai pengertian yang berbeda. Masalah tidak dapat didefinisikan sebagai suatu diagnosa tetapi memerlukan penanganan secara fisik dan pemeriksaan yang berhubungan

keseluruhan. Masalah sering dihubungkan dengan keluhankeluhan yang dirasakan klien, sedang diagnosa sering diartikan oleh bidan yang berfokus pada apa yang dialami oleh klien. c. Langkah III. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial Dari semua masalah dan diagnosa, identifikasi faktor-faktor potensial yang memerlukan tindakan sgera dan tindakan pencegahan jika memungkinkan atau waspada sambil

menunggu serta persiapan segala sesuatu yang terjadi.

34

d. Langkah IV. Melaksanakan tindakan segera/Kolaborasi Proses manajemen kebidanan harus dilakukan secara terus menerus sehingga dapat menghasilkan data yang baru dimana dapat segera dinilai. Data yang muncul dapat digambarkan suatu keadaan darurat, maka bidan harus segera bertindak untuk menyelamatkan ibu maupun bayinya, misalnya perdarahan post partum kala III dan asfiksia pada bayi. tapi ada beberapa data yang indikasinya membutuhkan tindakan segera sambil menunggu intervensi dokter. Dalam situasi lain yang tidak darurat perlu konsultasi atau

kolaborasi dokter oleh karena itu bidan harus mampu menilai situasi klien yang disesuaikan dengan kebutuhan klien. e. Langkah V. Perencanaan Tindakan Asuhan Kebidanan Dikembangkan berdasarkan identifikasi saat sekarang dan antisipasi diagnosa serta meliputi data tambahan setelah data dasar. Rencana tindakan komperenhensif bukan

meliputi keadaan klien serta hubungannya dengan masalah yang dialami akan tetapi meliputi antisipasi dengan

bimbingan terhadap klien serta konseling mengenai status ekonomi, agama, budaya ataupun data psikologis. rencana tindakan yang akan dilakukan harus disetujui klien oleh karena itu harus didiskusikan dengan klien. Semua tindakan

35

harus

berdasarkan

rasional

yang

relevan

dan

diakui

kebenarannya sesuai dengan situasi kondisi dimana tindakan harus dapat dianalisa secara teoritis. f. Langkah VI. Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan Implementasi dapat dilaksanakan secara keseluruhan oleh bidan atau bekerjasama dengan tim kesehatan lain. Bidan harus bertanggung jawab terhadap tindakan langsung

ataupun tindakan, konsultasi dan kolaborasi. Implementasi yang efisien akan mempercepat waktu perawatan dan

mengurangi biaya perawatan serta meningkatkan kualitas pelayanan klien. g. Langkah VII. Evaluasi Asuhan Kebidanan Langkah akhir manajemen kebidanan adalah evaluasi,

namun sebenarnya langkah evaluasi ini dilakukan pada setiap langkah manajemen kebidanan. Pada tahap ini bidan harus mengetahui sejauh mana keberhasilan asuhan

kebidanan yang diberikan klien. 3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP) menurut

Simatupang, E.J, 2006, hal.61). a. Data Subyektif Data atau fakta yang merupakan informasi termasuk biodata, mencakup nama, umur, tempat tinggal, pekerjaan,

36

status

perkawinan,

pendidikan

serta

keluhan-keluhan,

diperoleh dari hasil wawancara langsung pada pasien atau dari keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. b. Data Obyektif Data yang diperoleh dari hasil pemeriksaan fisik mencakup inspeksi, palpasi auskultasi, perkusi serta

pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radio

diagnostik. c. Assesment Merupakan keputusan yang ditegakkan dari hasil perumusan masalah yang mencakup kondisi, masalah dan prediksi terhadap kondisi tersebut. Penegakan diagnosa kebidanan dijadikan sebagai dasar tindakan dalam upaya menanggulangi ancaman keselamatan pasien/klien. d. Planning Rencana kegiatan mencakup langkah-langkah yang akan dilakukan oleh bidan dalam melakukan intervensi untuk memecahkan masalah pasien/klien.

37

Tabel 7. Proses Manajemen Kebidanan Kompetensi Bidan dan Dokumentasi SOAP Pencatatan dari Asuhan Kebidanan

Alur Pikir Bidan

Proses Manajemen Kebidanan

Pendokumentasian Asuhan Kebidanan

7 Langkah Varney Data Masalah/Diagnosa Antisipasi Masalah Potensial/Diagnosa lain Menetapkan kebutuhan segera untuk konsultasi, kolaborasi Perencanaan Implementasi Evaluasi

5 Langkah (Kompetensi Bidan) Data

SOAP/Notes Subjektif Objektif

Assesment/ Diagnosa

Assesment/ Diagnosa

Perencanaan Implementasi Evaluasi

Plan : a. Konsul b. Tes lab c. Rujukan d. Pendidikan/ Konseling. e. Follow up

Sumber : Simatupang E.J, 2006, hal.62

38

BAB III STUDI KASUS MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI R DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI PUSKESMAS BARA-BARAYA MAKASSAR TANGGAL 5 S/D 7 APRIL 2006 No. Register Tanggal Lahir : 03.05.90 : 5 April 2006 Jam 15.30 Wita

Tanggal Pengkajian : 5 April 2006 Jam 16.00 Wita Langkah I : Identifikasi Data Dasar A. Identitas 1. Identitas Bayi Nama : By.R

Tanggal, Jam : 5 April 2006 Jam 15.30 Wita. Anak ke : I (Pertama)

Jenis Kelamin : Laki-Laki Alamat : Jl. Ablam Lr.10 No.12

2. Identitas Ibu/Ayah : Nama Ibu / Ayah Umur Nikah / Lamanya Suku Agama Pendidikan : Ny.R / Tn.H : 21 Tahun / 27 Tahun. : 1 kali / 1 Tahun : Bugis / Makassar : Islam / Islam : SMP / SMP 37

39

Pekerjaan Alamat

: IRT / BH : Jl. Ablam Lr.10 No.12

B. Riwayat Kehamilan/Persalinan Sekarang 1. Prenatal a. GI P0 A0 b. HPHT tanggal 9 Juli 2005 c. TP tanggal 16 April 2006 d. Lamanya kehamilan 38 minggu 3 hari. e. Ibu ANC selama 4 kali selama kehamilan. f. Ibu mendapat TT 2 kali selama kehamilan. g. Ibu masuk kamar bersalin jam 14.45 Wita, Dengan keluhan sakit perut tembus ke belakang disertai dengan pelepasan lendir dan darah Jam 11.00 Wita. h. Pemeriksaan palpasi : Leopold I Leopold II Leopold III Leopod IV : pusat-proxeccus xipodeus. : Punggung kanan. : Kepala : Divergen

i. Pemeriksaan tanda-tanda vital : 1) TD : Tidak dilakukan. 2) N 3) S : 80 x /menit : 36 0 C

40

4) P 2. Natal

: 20 x /menit

a. Bayi lahir tanggal 5 April 2006 Jam 15.30 Wita dengan aterm, presentase belakang kepala, spontan. b. Bayi lahir segera menangis dengan BBL 2300 gram, PBL 46 cm, anus (+). c. Bayi dirawat diinkubator dengan suhu 34 0 C. C. Riwayat Kesehatan Ibu 1. Ibu tidak ada ketergantungan obat dan alkohol. 2. Ibu tidak pernah mengalami gangguan/kelainan selama hamil. 3. Ibu tidak ada riwayat penyakit DM, hipertensi, jantung, malaria. D. Pemeriksaan Fisik 1. Pemeriksaan Umum a. BBL/PBL : 2300 gram /46 cm. b. Jenis kelamin : Laki-Laki.

c. Lingkar kepala : 33 cm (normalnya + 31 35,5 cm). d. Lingkar dada 2. Tanda-tanda vital : a. Frekuensi jantung 120 x /menit (normal 120-150 x /menit). b. Pernapasan : 40 x /menit (normal 30-60 x /menit. c. Suhu : 36,5 0 C (normal 36,5 0 C 37,2 0 C). : 32 cm (normal + 30,5 33 cm).

41

3. Pemeriksaan fisik bayi a. Kepala 1) Rambut : tipis hitam dan lurus. 2) Sutura b. Mata 1) Kesemetrisan 2) Sklera 3) Konjungtiva : Simetris kiri dan kanan. : Tidak ikterus. : Tampak merah muda. : teraba jelas

4) Kebersihan mata : Bersih. c. Hidung 1) Simetris kiri dan kanan. 2) Tidak ada sekret. d. Mulut dan bibir. 1) Refleks mengisap kuang baik. 2) Bibir merah muda. e. Kulit Berwarna merah muda. f. Leher Tonus otot leher baik.

g. Dada dan perut 1) Gerakan dada sesuai dengan pola napas bayi.

42

2) Tonjolan/tulang dada tidak ada. 3) Keadaan tali pusat putih/berpilin dan dibungkus dengan gaas steril. h. Punggung/bokong. 1) Tonjolan punggung baik. 2) Lipatan kulit bokong bersih. i. Genitalia/Anus 1) Terdapat testis dan skrotum. 2) Anus (+). j. Ekstremitas 1) Tangan a) Pergerakan : baik dan tidak ada oedema. b) Jari tangan : lengkap kiri dan kanan. c) Refleks menggenggam baik. 2) Kaki a) Pergerakan baik dan tidak ada oedema. b) Jari kaki lengkap kiri dan kanan. E. Data tambahan Obat-obatan : 1. Vitamin K 0,1 ml. 2. Tetes mata choloramphenicol 0,5%.

43

Langkah II. Merumuskan Diagnsoa/Masalah Akutal 1. Bayi cukup bulan/ kecil masa kehamilan/dismaturitas/gestasi 38 minggu tiga hari. a. Data Subjektif Ibu mengatakan HPHT tanggal 9 Juli 2005 b. Data Objektif 1) Tafsiran persalinan 16 April 2006 2) Tanggal lahir 5 April 2006 Jam 15.30 Wita 3) BBL 2.300 gram, PBL 46 cm c. Analisa dan Interpretasi Bayi lahir cukup bulan dengan umur kehamilan 38 minggu tiga harii, dihitung dari HPHT tanggal 9 Juli 2005 sampai dengan tanggal 5 April 2006, berat badan lahir rendah yaitu 2300 gram dan panjang badan lahir 46 cm (Sastrawinata S, 1983, hal.127) 2. Gangguan pemenuhan nutrisi ASI pada bayi a. Data Subjektif 1) Bayi laki-laki lahir tanggal 5 April 2006 Jam 15.30 Wita 2) Bayi diberi ASI tetapi ASInya masih kurang. 3) Bayi masih lemah mengisap dan menelan.

b. Data Objektif 1) Bayi diberi ASI dan produksi ASI masih kurang.

44

2) Berat badan saat lahir 2300 gram panjang badan 46 cm. 3) Refleks mengisap dan menelan masih lemah. c. Analisa dan Interpretasi 1) Gangguan pemenuhan gizi pada Bayi Berat Lahir Rendah karena pada bayi tersebut refleks isap, telan dan batuk belum sempurna, kapasitas lambung masih sedikit dan daya enzim pencernaan masih kurang. (Wiknjosastro H, 2002, hal.78). 2) Makin sering bayi menghisap makin banyak ASI yang dihasilkan, karena isapan bayi dapat melepaskan dua

hormon yaitu oksitosin dan prolaktin. Oksitosin menyebabkan kontraksi di dalam payudara yang menyemburkan ASI keluar sedangkan prolaktin merangsang sel-sel untuk membentuk susu. Makin sering bayi menghisap makin banyak prolaktin yang dibentuk. (Hamilton, 2000, hal.227). Langkah III. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial 1. Potensial terjadi hypotermi a. Data Subjektif : -

b. Data Objektif : 1) BB : 2300 gram, SB : 36,5 0 C

45

2) Bayi terbungkus dan dirawat dalam inkubator 3) Kulit bayi tipis c. Analisa dan Interpretasi Hypotermi dapat terjadi karena kemampuan untuk

mempertahankan panas dan kesanggupan menambah produksi panas sangat terbatas pada bayi dengan berat badan lahir yang rendah mudah mengalami hypotermi disebabkan karena

pertumbuhan otot-otot yang belum memadai jaringan lemak sub kutan yang sedikit,luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan berat badan sehingga lebih mudah kehilangan panas (Surasmi A, dkk, 2003, hal.42). 2. Potensial terjadi infeksi tali pusat. a. Data Subjektif : Ibu mengatakan bayinya lahir cukup bulan dengan berat 2300 gram. b. Data Objektif : 1) Tali pusat belum puput dan masih basah. 2) Berat badan lahir 2300 gram (N > 2500 gram). 3) Suhu badan 36,3 0 C (N 36,5 0 C 37,2 0 C). 4) Pernapasan 40 x /menit (N 30 60 x /menit). c. Analisa dan Interpretasi :

46

Bayi prematur mudah sekali diserang infeksi. Hal ini disebabkan oleh karena daya tahan tubuh terhadap infeksi masih kurang sehingga relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositosis serta reaksi terhadap peradangan belum baik

(Wiknjosastro H, 2002, hal.780). Langkah IV. Tindakan Segera Dan Kolaborasi Asuhan Kebidanan Tidak ada data yang menunjang untuk dilakukan tindakan

segera/kolaborasi. Langkah V. Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan Tujuan : 1. Kebutuhan nutrisi ASI terpenuhi/teratasi. 2. Tidak terjadi hypotemi pada bayi. 3. Tidak terjadi infeksi. Kriteria : 1. Kebutuhan nutrisi ASI terpenuhi yaitu berat badan tidak turun (2300 gram), bayi kuat mengisap, produksi ASI lancar. 2. Suhu badan bayi dalam batas normal (36,5 0 C37,2 0 C). 3. Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti merah, bengkak, panas, nyeri dan pengeluaran pus. Rencana tindakan : 1. Anjurkan ibu untuk memberi ASI ondemand.

47

Rasional : Rangsangan karena isapan bayi merangsang hipofise posterior untuk mengeluarkan hormon oksitosin untuk sekresi ASI dan hipofise anterior untuk mengeluarkan hormon prolaktin untuk produksi ASI. 2. Timbang berat badan bayi setiap hari. Rasional : Berat badan bayi penting untuk menetapkan kebutuhan kalori dan cairan bayi juga dapat mencerminkan kondisi bayi. 3. Pertahankan suhu tubuh bayi dengan perawatan inkubator dan tetap terbungkus. Rasional : Perawatan bayi dengan terbungkus dalam inkubator akan

menghindari terjadinya konduksi dan evaporasi 4. Observasi tanda-tanda vital seperti suhu,pernapasan,dan frekwensi jantung. Rasional : Tanda-tanda vital memberikan gambaram dalam menentukan

tindakan selanjutnya 5. Rawat tali pusat dengan gaas steril Rasional :

48

Melindungi tali pusat dari kemungkinan terjadinya infeksi. 6. Ganti pakaian /popok bayi setip kali basah. Rasional : Pakaian bayi yang basah akan mempengaruhi suhu badan bayi yang mengakibatkan evaporasi. 7. Anjurkan pemberian ASI setelah kelahiran, sesuai dengan

kebutuhan bayi. Rasional : Pemberian ASI secara teratur sangat membantu dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi bayi. 8. Anjurkan pada ibu untuk mengkomsumsi gizi seimbang. Rasional : Pemenuhan asupan gizi pada ibu menyusui sangat mempengaruhi produksi dan kualitas ASI. 9. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi. Rasional : Untuk mencegah kemungkinan terjadinya kontaminasi dengan kuman.

Langkah VI. Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan Tanggal 5 April 2006,jam 16.05 wita

49

1. Mengajurkan ibu untuk memberi ASI ondemand. 2. Menimbang berat badan bayi setiap hari. 3. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan perawatan inkubator dan tetap terbungkus. 4. Mengobservasi tanda-tanda vital seperti suhu badan, pernapasan, dan frekuensi jantung 5. Merawat tali pusat dengan gaas steril. 6. Mengganti pakain /popok bayi setiap kali basah. 7. Mengajurkan pemberian ASI setelah kelahiran, sesuai dengan kebutuhan bayi. 8. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi gizi seimbang. 9. Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi. Langkah VII. Evaluasi Hasil Asuhan Tanggal 5 April 2006 ,jam 16.35 wita 1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi ASI sudah terpenuhi sebagian yaitu berat badan tidak turun (2300 gram), bayi belum kuat mengisap, dan produksi belum ASI lancar. 2. Tidak terjadi hipotermi pada bayi, suhu badannya 36,5 0 C. 3. Tidak terdapat adanya tanda-tanda infeksi yaitu merah, bengkak, nyeri dan pengeluaran pus. PENDOKUMENTASIAN MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI.R DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI PUSKESMAS BARA-BARAYA MAKASSAR TANGGAL 5 APRIL 2006

50

No.Register Tanggal Lahir

: 03.05.90 : 5 April 2006 Jam 15.30 Wita

Tanggal Pengkajian : 5 April 2006 Jam 16.00 Wita A. Langkah I. Identifikasi Data Dasar 1. Identitas Bayi Nama Tanggal /jam Anak ke Jenis Kelamin Alamat : By.R : 5 April 2006 Jam 15.30 Wita : I (Pertama) : Laki-laki : Jl. Ablam Lr.10 No.12

2. Identitas Ibu/Ayah Nama Ibu/Ayah : Ny.R / Tn.H Umur Nikah Suku Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat A. Data Subjektif 1. GI P0 A0 2. HPHT tanggal 9 Juli 2005.
49

: 21 tahun / 27 tahun : Pertama / 1 tahun : Bugis / Makassar : Islam / Islam : SMP / SMP : IRT / Buruh Harian :JL Ablam Lr.10 No.12

51

3. TP tanggal 16 April 2006. 4. Lama kehamilan 38 minggu tiga hari. 5. Ibu ANC selama 4 kali selama kehamilan. 6. Ibu mendapat TT2 kali selama kehamilan. 7. Ibu masuk kamar bersalin jam 14.45 wita, dengan keluhan sakit perut tembus kebelakang disertai dengan pelepasan lendir dan darah sejak jam 11.00 wita. 8. Ibu mengatakan tidak ada ketergantungan obat dan alkohol. 9. Ibu tidak mengalami gangguan/kalainan selama hamil. 10. Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada riwayat penyakit DM, hipertensi, jantung, malaria B. Data Objektif 1. Bayi lahir tanggal 5 April 2006 Jam 15.30 Wita dengan aterm, presentase belakang kepala., spontan. 2. Bayi lahir segera menangis dengan BBL 2300 gram, PBL 46 cm anus (+). 3. Bayi dirawat di inkubator dengan suhu 34 0 C. 4. Pemeriksaan fisik

a. Pemeriksaan umum 1) BBL / PBL : 2300 gram / 46 cm 2) Jenis kelamin laki-laki.

52

3) Lingkar kepala 33 cm (normal : + 31 35,5 cm). 4) Lingkar dada 32 cm (normal : 30,5 33 cm) b. Tanda- tanda vital : 1) Frekwensi jantung 120 x/ menit (Normal 120-140x/menit). 2) Pernapasan 40 x /menit (normal 30-60 x /menit). 3) Suhu 36,5 0 C (normal 36,5 0 C 37,2 0 C). c. Pemeriksaan umum 1) Kepala. a) Rambut tipis hitam dan lurus. b) Sutura teraba jelas. 2) Mata. a) Kesimetrisan simetris kiri dan kanan. b) Sklera tidak ikterus c) Konjungtiva tampak merah muda d) Kebersihan mata bersih 3) Hidung a) Simetris kiri dan kanan. b) Tidak terdapat sekret.

4) Mulut dan bibir a) Refleks mengisap kurang baik. b) Bibir merah muda.

53

5) Kulit. Berwarna merah muda 6) Leher Tonus otot leher baik 7) Dada dan perut a) Gerakan dada : sesuai dengan pola napas bayi. b) Tonjolan/tulang dada : tidak ada. c) Keadaan tali pusat : putih/ berpilin dan dibungkus dengan gaas steril. 8) Punggung/bokong a) Tonjolan punggung : baik. b) Lipatan kulit bokong : bersih 9) Genitalia /anus a) b) 10) Terdapat testis dan skrotum Anus (+) Ekstermitas a) Tangan (1) Pergerakkan : baik (2) Jari tangan : lengkap kiri dan kanan. (3) Refleks menggengam : baik b) Kaki (1) Pergerakan : baik

54

(2) Jari kaki : lengkap kiri dan kanan d. Data tambahan 1) Obat-obatan a) Vitamin K 0,1 ml 2) Tetes mata ( chloramphenicol 0,5%) C. Assesment Diagnosa : Bayi cukup bulan/kecil masa kehamilan/

dismaturitas/gestasi 38 minggu tiga hari. Masalah Aktual : Gangguan pemenuhan nutrisi.

Masalah Potensial : 1. Potensial terjadi hipotermi 2. Potensial terjadi infeksi tali pusat. D. Planning Tanggal 5 April 2006 Jam 16.15 Wita. 1. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan menjaga bayi tetep terbungkus dan merawat dalam inkubator dan suhu badan dalam batas normal. 2. Merawat tali pusat dengan gaas steril, tali pusat belum puput. 3. Menimbang berat badan bayi setiap hari dan BB 2300 gram. 4. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan secara ondemand setiap bayi mau sesuai dengan kebutuhan bayi.

55

5. Mengobservasi TTV bayi seperti frekuensi jantung : 120 x /menit, suhu badan : 36,5 0 C dan pernapasan : 35 x /menit. 6. Mengganti pakaian/ popok bayi tiap kali basah dan bayi terhindar dari ruam popok. 7. Menganjurkan pada ibu untuk mengkonsumsi gizi seimbang. 8. Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi.

56

PENDOKUMENTASIAN MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN BAYI R DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI PUSKESMAS BARA-BARAYA MAKASSAR TANGGAL 6 APRIL 2006 A. Data Subjektif 1. Ibu mengatakan bayinya tidak dirawat inkubator lagi. 2. Ibu mengatakan bayinya diberi ASI dan belum dapat mengisap dengan baik serta ASInya masih kurang. B. Data Objektif 1. Bayi tidak dirawat dalam inkubator . 2. BB : 2300 gram 3. Tanda-tanda vital : a. Frekwensi jantung : 120 x /menit b. Pernapasan : 42 x /menit c. Suhu : 36,5 4. Konjungtiva tampak merah muda. 5. Refleks mengisap dan menelan kurang baik. 6. Kulit berwarna kemerahan. 7. ASI masih kurang. 8. Tali pusat masih basah dan terbungkus dengan gaas steril C. Assesment Bayi cukup bulan/kecil masa kehamilan/dismaturitas/gestasi 38 minggu tiga hari dengan masalah gangguan pemenuhan kebutuhan potensial terjadi hypotermia dan infeksi tali pusat. D. nutrisi, Planning
55

57

Tanggal 6 April 2006 Jam 09.00 Wita 1. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan menjaga bayi tetap terbungkus dengan baik dan suhu badan normal, 2. Merawat tali pusat dengan gaas steril, tali pusat belum puput 3. Menimbang berat badan bayi setiap hari, dan BB 2300 gram. 4. Mengobservasi TTV bayi,seperti frekwensi jantung120 x/menit, suhu badan : 36,5 0 C dan Pernapasan : 42 x /menit 5. Tetap menganjurkan untuk memberikan ASI dan bayi minum ASI setiap bayi mau sesuai dengan kebutuhan bayi. 6. Menganti pakaian /popok bayi tiap kali basah,dan bayi terhindar dari ruam popok. 7. Mengajarkan pada ibu cara merawat bayi, cara menyusui yang benar dan ibu mengerti serta bersedia melaksanakan apa yang dianjurkan.

58

PENDOKUMENTASIAN MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI R DENGAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI PUSKESMAS BARA-BARAYA MAKASSARTANGGAL 7 APRIL 2006 A. Data Subjektif 1. Ibu mengatakan bayinya tidak dirawat di inkubator 2. Ibu mengatakan bayinya diberi ASI dan refelks isapnya sudah mulai baik serta ASInya sudah mulai lancar. B. Data Objektif 1. Bayi tidak dirawat dalam Inkubator 2. BB 2300 gram 3. Tanda-tanda vital : a. Frekuensi jantung :110 x /menit b. Pernapasan c. Suhu : 40 x /menit. : 36,2 0 C.

4. Konjungtiva tampak merah mudah. 5. Refleks mengisap mulai baik. 6. Kulit berwarna kemerahan. 7. ASI sudah mulai lancar. 8. Tali pusat dibungkus dengan gaas steril. C. Assesment Bayi cukup bulan/sesuai masa kehamilan/dismaturitas/gestasi 38 minggu tiga hari dengan masalah gangguan pemenuhan kebutuhan potensial terjadi hypotermi dan infeksi tali pusat. D. nutrisi, Planning
57

59

Tanggal 7 April 2006 Jam 09.30 Wita 1. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan menjaga bayi tetap terbungkus dengan baik dan suhu badan dalam batas normal. 2. Menimbang berat badan bayi setiap hari dan BB 2300 gram. 3. Mengobservasi TTV bayi seperti frekuensi jantung 120 x /menit, Pernapasan 42 x /menit, suhu badan 36,5 0 C. 4. Menganjurkan untuk memberikan ASI setiap bayi mau sesuai dengan kebutuhan bayi. 5. Mengajarkan pada ibu cara memandikan bayi, merawat tali pusat dan menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi gizi

seimbang.

60

BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini penulis akan menguraikan kesesuaian maupun kesenjangan antara teori dan hasil tinjauan kasus bayi R dengan bayi berat lahir rendah di Puskesmas Bara-Baraya Makassar pada tanggal 5-7 April 2006. Berdasarkan proses pikir manajemen asuhan kebidanan

dikembangkan kesesuaian

maupun kesenjangan tersebut sesuai

langkah proses manajemen sebagai berikut : Langkah I. Pengkajian dan Analisa Data Dasar Sesuai dengan konsep teori yang ada bahwa gambaran klinis pada bayi berat lahir rendah, khususnya dismaturitas diantaranya adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram dengan umur kehamilan yang cukup bulan atau di atas 37 minggu, dari gambaran klinis tersebut memang terlihat pada bayi yang didukung dengan datadata penunjang lainnya sehingga ditemukan adanya kesesuaian antara teori dengan fakta yang didapatkan, dimana bayi tersebut memang merupakan berat bayi lahir rendah khususnya dismaturitas. Penulis dalam mengumpulkan informasi dari klien memperoleh hambatan dimana dari klien yang belum mampu mengekspresikan keadaannya dengan berkomunikasi tetapi dalam tahap ini

59

61

pengumpulan data dapat diperoleh dari keluarga serta bidan yang ada di ruangan tersebut yang dapat memberikan informasi. Langkah II. Merumuskan Diagnosa/ Masalah Aktual Berdasarkan data yang diperoleh, diagnosa/ masalah aktual yang ada pada bayi R adalah bayi cukup bulan/kecil masa kehamilan/ masa gestasi 38 minggu 3 hari, sesuai konsep teori bahwa bayi cukup bulan (BCB) adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan di atas 37 minggu, maka hal ini sesuai dengan data yang ada yaitu dari tanggal HPHT ibu klien 9 Juli 2005 sampai klien dilahirkan yaitu pada tanggal 5 April 2006 masa gestasinya adalah 38 minggu 3 hari, dimana berada diantara 37-40 minggu yang menandakan bayi tersebut bayi cukup bulan (BCB). Menurut teori bayi yang lahir dengan usia kehamilan di atas 37 minggu dengan berat badan di bawah 2500 gram adalah bayi berat lahir rendah (BBLR), dimana berat badan ini tidak sesuai dengan berat badan seharusnya untuk usia kehamilan (N : 2500 gram) yang disebut juga dengan kecil untuk masa kehamilan (KMK) atau dengan kata lain dismaturitas dan hal ini memang dialami oleh klien yang dikaji sehingga terdapat kesesuaian antara teori tersebut dengan fakta yang ada. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, berdasarkan teori bahwa bayi berat lahir rendah, refleks isap dan telan belum sempurna,

62

kapasitas lambung masih sedikit dan daya enzim pencernaan masih kurang. Ini memang ditemukan pada bayi yang dikaji yaitu kemampuan menghisap dan menelan belum sempurna dan ditunjang juga dengan ASI yang berlum terbentuk dalam sempurna sehingga bayi tersebut nutrisinya,

mengalami

gangguan

pemenuhan

kebutuhan

sehingga pada tahap ini penulis menemukan kesesuaian antara teori dengan fakta yang ditemukan. Langkah III. Merumuskan Diagnosa/ Masalah Potensial Adapun masalah potensial yang dapat penulis identifikasikan pada kasus ini adalah 1. Potensial terjadi hipotermi, berdasarkan teori bahwa bayi berat lahir rendah mudah mengalami hipotermi karena pertumbuhan organ yang belum sempurna, dimana luas permukaan tubuh bayi relatif lebih besar dari berat badan dengan jumlah lemak subkutan bawah kulit yang sedikit yang memungkinkan bayi mudah kehilangan panas tubuh dan mengalami hipotermi. 2. Potensial terjadi infeksi tali pusat, berdasarkan teori bahwa bayi berat lahir rendah mudah diserang infeksi karena daya tahan tubuh terhadap infeksi masih kurang sehingga relatif belum sanggup membentuk antibodi dan daya fagositois serta reaksi terhadap peradangan belum baik dan ditunjang dengan adanya luka tali

63

pusat yang masih basah yang merupakan media tempat masuk dan berkembang baiknya mikroorganisme. Potensial terjadi hipotermi dan infeksi tali pusat tetap mengacu pada teori dan data yang ada dalam menegakkan masalah yang mungkin muncul pada klien bila tidak segera ditangani, sehingga pada tahap ini tidak ditemukan adanya kesenjangan antara teori dan masalah potensial yang diangkat. Langkah IV. Melaksanakan Tindakan Segera/ Kolaborasi Pada sistem pelayanan asuhan kebidanan harus

mempersiapkan suatu asuhan segera oleh bidan dan dokter dengan tindakan segera/ kolaborasi berdasarkan kondisi dan status kesehatan klien. Pada pelaksanaan perawatan tetap sesuai dengan rencana dan tidak dilakukan tindakan segera/ kolaborasi karena kondisi bayi yang tidak memerlukan tindakan tersebut, sehingga dapat kita lihat adanya kesesuaian antara pelaksanaan tindakan dengan yang seharusnya menurut teori yang ada. Langkah V. Rencana Asuhan Kebidanan Sesuai dengan konsep yang ada bahwa bayi berat lahir rendah khususnya dismaturitas rencana tindakan disusun berdasarkan

64

penatalaksanaan untuk masing-masing diagnosa masalah aktual dan masalah potensial yang diangkat. Penatalaksanaan pada bayi untuk masalah berat lahir rendah dengan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi yaitu anjurkan pada ibu untuk memberi ASI Ondemand, anjurkan pemberian ASI setelah kelahiran dan anjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung kalori dan protein. Potensial terjadi hipotermi dan infeksi tali pusat yaitu pertahankan suhu tubuh bayi, ganti pakaian/ popok bayi setiap kali basah, observasi tanda-tanda vital seperti suhu, pernapasan dan frekuensi jantung dan rawat tali pusat dengan gaas steril serta cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi. Dari penatalaksanaan pada bayi berat lahir rendah khususnya dismaturitas kenyataannya memang direncanakan untuk dilakukan dalam penanganan kasus ini sehingga terdapat kesesuaian antara perencanaan tindakan dengan yang seharusnya menurut teori. Langkah VI. Tindakan Asuhan Kebidanan Berdasarkan teori bahwa dalam penanganan bayi berat lahir rendah khususnya dismaturitas dilakukan perawatan seperti bayi yang normal namun tetap disertai tindakan-tindakan khusus karena

keadaannya yang agak berbeda dari bayi yang normal sesuai dengan diagnosa dan masalah yang dialami. Dimana perencanaan tindakan yang seharusnya dilakukan menyangkut gangguan pemenuhan

65

kebutuhan nutrisi yaitu menganjurkan pemberian ASI setelah kelahiran dan menganjurkan untuk memberi ASI Ondemand serta

mengkonsumsi makanan yang mengandung kalori dan protein. Pencegahan infeksi yang tetap perlu dilakukan, menurut teori karena bayi sangat rentan terhadap infeksi yaitu dengan cara mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi, merawat tali pusat dengan di bungkus gaas steril, mengawasi tanda-tanda infeksi dan tanda-tanda vital. Seluruh penanganan tersebut juga dilakukan pada kasus ini sehingga penulis tidak menemukan kesenjangan antara fakta yang didapatkan dengan teori yang dikemukakan. Selain itu menunjukkan adanya kesesuaian antara teori dan praktek yang telah dilakukan yaitu, melalui usaha pencegahan hipotermi dengan perawatan bayi dalam inkubator, mengganti popok dan pakaian bila basah, menyelimuti tubuh bayi dan kepala bayi dengan kain yang lembut dan hangat. Dilihat dari adanya pelaksanaan rencana tindakan yang telah dilakukan menurut teori yang seharusnya menunjukkan adanya

kesesuaian antara teori yang ada dengan pelaksanaan tindakan manajemen asuhan kebidanan dimana pada kasus ini semua

perencanaan asuhan yang telah dibuat dapat dilaksanakan secara efektif yang berlangsung selama 3 hari pelaksanaan manajemen asuhan kebidanan yang dilakukan oleh penulis.

66

Langkah VII. Evaluasi Asuhan Kebidanan Berdasarkan teori bahwa setelah dilakukan pelaksanaan

tindakan maka seharusnya masalah yang ditangani masalah kasus bayi berat lahir rendah (Dismaturitas) dengan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, ini dapat berhasil ditangani dengan : berat badan tidak turun, bayi kuat mengisap dan menelan, produksi ASI lancar dan tidak terjadi komplikasi. Dan hal ini akhirnya dapat tercapai setelah penanganan selama 3 hari pada bayi tersebut sehingga terdapat kesesuaian antara teori dengan kenyataan yang didapatkan. Sedangkan untuk kemungkinan masalah potensial infeksi tali pusat dan hipotermi yang menurut teori setelah dilakukan penanganan yangdapat dicegah dan tidak terjadi ditandai dengan : tidak ada tandatanda infeksi seperti merah, bengkak, nyeri, panas dan pengeluaran pus, tanda-tanda vital dalam batas normal dimana pada fakta yang didapatkan ada kesesuaian dengan teori sebab penulis berhasil mencegah terjadi infeksi dan hipotermi pada bayi setelah penanganan sampai hari ketiga serta tanda-tanda vital bayi dalam batas normal yaitu denyut jantung 120 x/menit, suhu tubuh 36,5 0 C, pernafasan 40 x/menit.

67

68

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Setelah mempelajari tinjauan pustaka dan pengalaman langsung dari lahan praktek malalui studi kasus serta

membandingkan antara teori dan praktek tentang kasus Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan dismaturitas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa : 1. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan dismaturitas adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram dimana berat badannya tidak sesuai dengan berat badan semestinya untuk usia kehamilan atau biasa juga disebut juga dengan bayi KMK (kecil untuk Masa Kehamilan). 2. Terjadinya bayi berat lahir rendah khususnya dismaturitas dapat dicegah dengan melakukan pengawasan antenatal yang ketat khususnya pada ibu yang mengalami persalinan komplikasi yang selama dan

kehamilannya,

penanganan

tepat

penanganan perawatan bayi agar tidak terjadi komplikasi lebih lanjut. 3. Dengan latar belakang identifikasi data dasar, ditegakkan diagnosa/masalah aktual yaitu : Bayi Cukup Bulan/ Kecil Masa Kehamilan/ Dismaturitas/ masa gestasi 38 minggu 3 hari dengan
66

69

masalah

gangguan

pemenuhan

kebutuhan

nutrisi

serta

diagnosa/masalah potensial antisipasi terjadinya infeksi tali pusat dan hipotermi. 4. Dengan intervensi dengan implementasi yang efektif dan efisien, tujuan yang ingin diraih tercapai dan diagnosa/ masalah potensial tidak terjadi. B. Saran 1. Bagi Petugas Kesehatan (Profesi Kebidanan) a. Untuk dapat mencegah terjadinya bayi berat lahir rendah ini hendaknya diterapkan pengawasan dan penanganan pada ibu hamil yang lebih ketat utamanya yang berisiko tinggi dengan berpedoman pada standar pelayanan kebidanan yang berlaku. b. Penerapan manajemen asuhan kebidanan dalam

memberikan pelayanan di masyarakat perlu ditingkatkan, mengingat dengan penerapan manajemen asuhan kebidanan maka tingkat kesakitan serta kematian bayi dapat ditekan seminimal mungkin melalui penemuan dan penanganan komplikasi secara dini.

2. Bagi Institusi

70

Dapat

meningkatkan tenaga

mutu

pendidikan guna

serta

kualitas

dan

kuantitas

kesehatan

menghasilkan

tenaga

kesehatan yang profesional dan berdedikasi. 3. Bagi Pemerintah a. Pemerintah hendaknya meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai bagi tenaga kesehatan agar dapat memperoleh keterampilan dan pengetahuan secara maksimal dan menghasilkan tenaga kesehatan yang profesional. b. Pemerintah hendaknya berupaya meningkatkan fasilitas

pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau demi terciptanya pelayanan kesehatan yang berkualitas.

71

DAFTAR PUSTAKA Depkes RI, 2003, Buku Kesehatan Ibu dan Anak , Cetakan Baru, Jakarta. Depkes RI, 2004, Hak-Hak Anak Indonesia Belum Terpenuhi , (http://www/depkes.go.id , diakses 22 Maret 2006). http://www.kompas.com , diakses 13 Juni 2006 http://www.bankdata.depkes.go.id , diakses tanggal 21Juni 2006. Hamilton P.M, 1995, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas , Ed.6, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta. Husaini Yk, dkk, 2001, Makanan University, Press, Bogor. Bayi Bergizi , Gadja Mada

Manuaba I.B.G, 1998, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan , EGC, Jakarta. Mochtar R, 1998, Sinopsis Obstetri Fisiologi dan Patologi , Penerbit EGC, Jakarta. Pencatatan dan Makassar. Pelaporan , 2005, Puskesmas Bara-Baraya,

Profil Dinas Kesehatan 2004, Kesehatan Ibu dan Anak , Makassar. Rusepno H, 1985, Ilmu Kesehatan Anak , Cetakan Ketujuh, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, Jakarta. Saifuddin A.B, 2000, Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal , Yayasan Bina Pustaka, Sarwono Prawirohardjo, Jakarta. Sastrawinata S, 1983, Obstetri Fisiologi , Padjajaran, Bandung. Simatupang E.J, 2006, Penerapan Unsur-Unsur Penerbit Buku Awan Indah, Jakarta. Manajemen ,

Varney H, 2001, Buku Saku Kebidanan , Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

72

Wiknjosastro H, 2000, Ilmu Kebidanan , Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohadjo S, Jakarta.

73

Lampiran 1 SATUAN ACARA PENYULUHAN 1. Topik : Pentingnya pemberian ASI bagi Bayi dan Teknik Menyusui yang Benar 2. Waktu/Tempat : Kamis, 7 April 2006/Puskesmas Bara-Baraya Makassar 3. Sasaran 4. Tujuan Umum : Ibu menyusui : Pada akhir memahami penyuluhan klien mengerti serta pentingnya pemberian ASI dan

teknik menyusui yang benar. 5. Tujuan Khusus : Ibu dapat menyebutkan dan menguraikan serta melaksanakan teknik menyusui yang benar 6. Metode 7. Alat dan bahan : Ceramah dan Diskusi : Gambar tentang makanan yang bergizi yang dapat menambah produksi ASI dan gambar tentang cara menyusui yang benar. 8. Pembimbing 9. Referensi : Bidan B : a. Depkes RI, 2003, Buku Kesehatan Ibu dan Anak, Jakarta. b. Husaini YK dkk, 2001, Makanan Bayi

Bergizi, Gadja Mada University Press Bogor.

74

PENTINGNYA ASI BAGI BAYI Bayi sangat membutuhkan ASI untuk pertumbuhan dan

perkembangannya. ASI sebagai makanan yang terbaik untuk bayi, merupakan pembagian Tuhan yang tidak dapat ditiru oleh para ahli dalam bidang pembuatan makanan bayi. ASI mengandung nutrien yang cukup dan nilai nutrisi/ biologinya tinggi. Jumlah produksi ASI sangat dipengaruhi oleh diit ibu. A. Keuntungan Pemberian ASI yaitu 1. Steril, aman dari pencemaran kuman 2. Selalu tersedia dengan suhu yang optimal 3. Mengandung zat antibodi yang melindungi bayi terhadap infeksi 4. Bahaya alergi tidak ada 5. Hemat waktu dan uang B. Keuntungan Menyusui yaitu 1. Terjadi hubungan yang lebih erat antara bayi dan ibunya karena secara alami dengan adanya kontak kulit, bayi merasa aman. Hal ini sangat penting bagi perkembangan psikis dan emosi dari bayi. 2. Dengan menyusui menyebabkan uterus berkontraksi sehingga pengembalian uterus ke keadaan sebelum hamil lebih cepat.

75

3. Dengan menyusui akan mengurangi kemungkinan menderita kanker payudara pada masa mendatang. 4. Dengan menyusui kesuburan ibu akan berkurang untuk

beberapa bulan (membantu keluarga berencana). C. Zat Gizi Pada ASI ASI mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral yang sangat dibutuhkan oleh bayi, selain itu ASI juga mengandung zat untuk pertumbuhan otak dan antibodi. D. Sumber Makanan Yang dapat Menambah Produksi ASI 1. Sumber kalori : beras, roti, kentang, mie dan bihun. 2. Sumber protein : susu, telur, daging dan hati 3. sumber vitamin dan mineral : sayuran yang berwarna hijau/ kuning dan buah-buahan yang dagingnya berwarna

merah/kuning. E. Makanan yang dibatasi untuk ibu menyusui 1. Bahan makanan yang merangsang : cabe, merica, jahe karena dapat menyebabkan bayi mencret. 2. Makanan yang dapat menimbulkan kembung : ubi, singkong, kol, sawi dan daun bawang. 3. Makanan yang manis-manis atau berlemak karena bisa

menyebabkan ibu menjadi gemuk.

76

Gambar 1. Sumber Kalori (Beras, Kentang, Roti) dan Sumber Protein (Susu, Telur, Daging, Hati, Ayam, Kacang Hijau, Tempe dan Tahu). Sumber : Husaini Yk, dkk, 2001

Gambar 2. Sayur-Sayuran dan Buah-Buahan sebagai Sumber Vitamin dan Mineral Sumber : Husaini Yk, dkk, 2001

77

TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR 1. Aturan Umum Menyusui a. Mulailah segera setelah lahir b. Beri ASI setiap bayi membutuhkan, artinya jika ia lapar dengan tanda-tanda menangis atau gelisah c. Terus susui sampai 4-6 bulan sampai bayi membutuhkan makanan tambahan. 2. Teknik Menyusui Yang Benar Cara menyusui dengan sikap duduk a. Duduk dengan posisi santai dan tegak b. Gunakan bantal atau selimut untuk menopang bayi, bayi ditidurkan di atas pangkuan ibu dengan cara kepala bayi berada pada siku bagian dalam lengan kiri, hadapkan bayi kepada ibu, letakkan lengan kanan bayi di seputar punggung ibu dan tangan kiri ibu memegang bokong bayi (bila dimulai dengan payudara kiri). c. Puting susu dan sekitarnya dibersihkan dengan kapas basah d. Tangan kanan menyangga payudara kiri dengan keempat jari dan ibu jari menekan payudara bagian atas areola. e. Sentuhlah mulut bayi dengan putting payudara, tunggu sampai mulut bayi membuka lebar.

78

f.

Masukkan secepatnya seluruh putting payudara sampai aerola ke dalam mulut bayi hingga terletak antara lidah dan langitlangit.

g. Dekaplah bayi ke tubuh dengan organ kiri hingga ujung hidung bayi menyentuh payudara, tekanlah sedikit payudara bagian atas dengan tangan kanan hingga hidung bayi tidak tertutup dan bayi dapat bernafas dengan baik. h. Bila bayi selesai menetek, untuk melepaskan jangan sekali-kali menarik putting susu begitu saja tetapi dengan cara tekanlah dagu bayi atau pijatlah hidungnya atau paling baik dengan kelingking ibu yang bersih masukkan ke dalam sudut mulut bayi. i. Sebelum diletakkan pada payudara sebelah lagi, sendawakan dahulu bayi agar tidak muntah dengan cara sebagai berikut : 1) Bayi digendong agak tinggi, bersandar di pundak ibu, perut bayi dirapatkan ke dada kiri ibu, sedangkan dagunya menempel di bahu ibu, punggung bayi ditepuk-tepuk perlahan sampai bersendawa. 2) Dengan cara menelungkupkan bayi di atas pangkuan ibu, lalu diusap-usap punggung bayi sampai bayi bersendawa. j. Setiap kali menetek sebaiknya diletakkan pada kedua payudara yang terakhir diberikan tadi, lamanya menyusukan untuk

79

payudara pertama kira-kira 10 menit dan payudara kedua selama 20 menit. 3. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada waktu menetekkan bayi a. Susuilah bayi segera setelah lahir b. Berilah bayi ASI saja pada bulan pertama dan keempat c. Ibu yang menyusui sebaiknya makan makanan yang bergizi tinggi dan minum kurang lebih 8-12 gelas perhari. d. Ibu harus beristirahat yang cukup e. Susuilah bayi dengan santai dan penuh kasih sayang f. Jagalah kebersihan, gunakan pakaian yang longgar dan tidak kaku serta gunakan BH yang khusus menyusui.

80

Gambar 3. Teknik Ibu Menyusui Sumber : Depkes RI, 2003

81

SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN WAKTU UJIAN Dengan ini menyatakan : Nama NIM Jurusan :RUSNAINI : 03 1301 130 : DIII Kebidanan

Setuju untuk melakukan ujian akhir Karya Tulis Ilmiah dengan judul Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi R Dengan Bayi Berat Lahir Rendah Di Puskesmas Bara-Baraya Makassar 5 s/d 7 April 2006 Hari/ Tanggal Pukul Demikian seperlunya. : Jumat, 14 Juli 2006 : surat persetujuan Wita ini dibuat untuk dipergunakan

Makassar, 13 Juli 2006 Pembimbing I Pembimbing II

Yurniati, SKM

Hj. Hasnah M. Noor, SKM., M.Kes

Mengetahui Direktur Program DIII Kebidanan

A. Maryam, SKM PENGESAHAN TIM PENGUJI


ii

82

Karya Tulis Ilmiah ini telah diperiksa dan disahkan oleh Panitia Ujian Akhir dan Tim Penguji Program DIII Kebidanan Universitas Indonesia Timur Makassar yang dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2006.

Ketua

: Yurniati, SKM

(.......................................)

Sekretaris : Hj. Hasnah M. Noor, SKM., M.Kes

(.......................................)

Anggota

: 1. A. Maryam, SKM

(.......................................)

2. Marhaeni S,Sit Panitia Ujian Ketua

(.......................................)

Sekretaris

Yurniati, SKM

Hj. Hasnah M. Noor, SKM., M.Kes

Mengetahui Direktur Program DIII Kebidanan

A. Maryam, SKM KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim


iii

83

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT , karena dengan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan pada program studi DIII kebidanan Universitas Indonesia Timur Makassar dengan judul : Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Bayi R Dengan Bayi Berat Lahir Rendah Di Puskesmas Bara-Baraya Makassar Tanggal 5 s/d 7 April 2006. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan karya tulis ilmiah masih jauh dari kesempurnaan. Olehnya itu, penulis mengharapkan masukan berupa saran dan kritikan yang sifatnya membangun guna penyempurnaan karya tulis ilmiah ini. Pada kesempatan ini pula, penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan hormat setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan sampai penyusunan karya tulis ilmiah ini, yaitu : 1. Bapak H. Haruna, MA. MBA, selaku ketua Yayasan Universitas Indonesia Timur Makassar. 2. Bapak Prof. Dr. H. Muin Salim , selaku rektor Universias Indonesia Timur Makassar yang patut menjadi panutan bagi mahasiswa yang cinta pimpinannya dan disiplin ilmu yang dimilikinya.
iv

84

3. Ibu A. Maryam, SKM , selaku Direktur Program DIII Kebidanan Universtas Indonesia Timur Makassar. 4. Ibu Yurniati, SKM , selaku wakil direktur Program DIII Kebidanan Universitas Indonesia Timur Makassar sekaligus pembimbing I yang dengan tulus ikhlas membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan penyusunan karya tulis ini. 5. Ibu Hj. Hasnah M. Noor, SKM, M.Kes selaku pembimbing II yang telah mengarahkan penulis dalam penyempurnaan karya tulis ilmiah ini. 6. Dosen dan Staf Program DIII Kebidanan Universitas Indonesia Timur Makassar yang telah memberikan bekal ilmu dan

pengetahuan yang tak ternilai harganya. 7. Ibu Drg. Hj. Nurhasanah Palinrungi, M.Kes , selaku Kepala Puskesmas Bara-Baraya Makassar beserta staf yang telah

memberikan izin untuk pengambilan data yang penulis butuhkan. 8. Yang tercinta dan saya hormati, Ayahanda dan Ibunda , kakakkakakku terutama kakakku Diana dan seluruh keluarga yang telah memberi dukungan serta bantuan moril maupun materiil. 9. Rekan-rekan mahasiswa Program DIII Kebidanan Universitas Indonesia Timur Makassar khususnya angkatan 2003 yang telah memberikan bantuan dan kerjasamanya yang baik selama penulis v mengikuti pendidikan.

85

10. Sahabatku

Idha Kandar , Marwah , Kurni , Ammi,

anak-anak

Pondok Firdaus , Basecamp , kak Andong , kak Agus dan semua teman-teman yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu terima kasih kebersamaannya selama ini. Akhirnya semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pengembangan Ilmu Kebidanan dan semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan hikmat dan petunjuk guna pemanfaatan Karya Tulis Ilmiah Ini. Amin. Makassar, Juli 2006

Penulis

vi

86

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ................................................................................. ...............................................................................................i PERNYATAAN PERSETUJUAN ................................................... .......................................................................................................ii PENGESAHAN TIM PENGUJI ...................................................... ......................................................................................................iii KATA PENGANTAR ......................................... iv

DAFTAR ISI ................................................................................... .....................................................................................vii DAFTAR TABEL ............................................................................ .....................................................................................ix DAFTAR GAMBAR ........................................................................ ......................................................................................x DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................... .....................................................................................xi BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................. .........................................................................................1 B. Ruang Lingkup Penulisan ................................................. 4 C. Tujuan Penulisan .............................................................. 4....................................................................................... 1. Tujuan Umum .............................................................. ...................................................................................4 2. Tujuan Khusus ............................................................ ...................................................................................4 D. Manfaat Penulisan ............................................................ 6

87

E. Metode Penulisan ............................................................. 7 F. Sistematika Penulisan ...................................................... .........................................................................................8 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Bayi Berat Lahir Rendah ........................ 11 1. Pengertian Bayi Berat Lahir Rendah .......................... .................................................................................11 2. Diagnosis Dan Gejala Klinik Bayi Berat Lahir Rendah ............................................................. ......................................................................14 3. Cara Menilai Bayi Berat Lahir Rendah ....................... .................................................................................16 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Bayi Berat Lahir Rendah ........................................................................ .................................................................................26 5. Komplikasi Pada Bayi Berat Lahir Rendah ................. .................................................................................27 6. Perawatan Bayi Berat Lahir Rendah .......................... .................................................................................28 7. Prognosis Bayi Berat Lahir Rendah ............................ vii .................................................................................31 B. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan ........................... 31 1. Pengertian Manajemen Asuhan Kebidanan ............... .................................................................................31 2. Proses Manajemen Asuhan Kebidanan...................... .................................................................................32 3. Pendokumentasian Asuhan Kebidanan (SOAP) ........ .................................................................................34 STUDI KASUS Langkah I. Identifikasi Data Dasar .................................... ......................................................................37

BAB III.

88

Langkah

II. Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual ......... ......................................................................42 Langkah III. Merumuskan Diagnosa/Masalah Potensial ..... ......................................................................43 Langkah IV. Tindakan Segera dan Kolaborasi Asuhan Kebidanan ....................................................... ......................................................................45 Langkah V. Rencana Tindakan Asuhan Kebidanan .......... ......................................................................45 Langkah VI. Pelaksanaan Tindakan Asuhan Kebidanan .......................................................................... .....................................................................48 Langkah VII. Evaluasi Hasil Asuhan Kebidanan ............. .....................................................................48 Pendokumentasian Hasil Asuhan (SOAP) ...................... 49 BAB IV. BAB V. PEMBAHASAN ....................................................................... 59 KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ..............................................66 B. Saran ..............................................67

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

viii

89

DAFTAR TABEL Tabel 1. Karakteristik Eskternal Menurut Dubowitz .................. 17 2. Bagan Karakteristik Neurologi Menurut Dubowitz ..... 20 3. Grafik Hubungan Antara Berat Badan Lahir dengan Usia Kehamilan ............................................................... 21 4. Ciri Kematangan Fisik menurut Ballard ...................... 22 5. Bagan Kematangan Neuromuskular menurut Ballard .............. 23 6. Penilaian Tingkat Kematangan .................................................... 24 7. Proses Manajemen Kebidanan Kompetensi Bidan dan Dokumentasi SOAP ....................................................................... 36 Halaman

ix ix

90

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Sumber Kalori dan Sumber Protein ............................. 77 2. Sayur-Sayuran dan Buah-Buahan sebagai Sumber Vitamin dan Mineral ....................................................... 77 3. Teknik Ibu Menyusui ...................................................... 79 Halaman

91

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Pentingnya Pemberian ASI bagi Bayi dan Teknik Menyusui yang Benar ............................................................ 72 Halaman

xi