Anda di halaman 1dari 7

BAB 5 MANUSIA, NILAI, MORAL, DAN HUKUM

A. HAKIKAT NILAI MORAL DALAM KEHIDUPAN MANUSIA 1. Nilai Dan Moral Sebagai Materi Pendidikan Ada beberapa bidang falsafah yang berhubungan dengan cara manusia mencarai hakikat sesuatu, salah satu diantaranya adalah aksiologi, yang disebut dengan falfasah nilai, yang memilki dua kajian utama yaitu estetika dan etika. Estetika berhubungan dengan keindahan, sedangkan etika berhubungan dengan kajian baik atau buruk dan benar atau salah. Ketika persolan etika dan estetika ini semakin diperluas, tentu semakin kompleks, sebab menyentuh hal hal yang berhubungan dengan eksistensi Manusia, apakah jasmaninya, rohaninya, fisiknya, mentalnya, pikirannya bahkan perasaannya. Bertens (2001, hlm. 6) menyebutkan ada 3 jenis makna etika: Kata etika bisa dipakai dalam arti nilai-nilai dan norma yang menjadi pegangan hidup dalam mengatur tungkah lakunya Etika berarti kumpulan asas atau nilai moral ( kode etik) Etika mempunyai arti lain, yaitu ilmu tentang baik atau buruk.

2. Nilai Moral Diantara Pandangan Objektif Dan Subjektif Manusia Nilai erat hubungannya dengan manusia baik dalam bidang etika, maupun bidang estetika, bahkan nilai masuk ketika manusia memahami agama dan keyakinan beragama. Oleh karena itu, nilai berhubungan dengan sikap seseorang sebagai warga masyarakat, warga suatu bangsa, sebagai pemeluk suatu agama, dan sebagai warga dunia. Manusia sebagai makhluk yang bernilai akan memaknai nilai dalam dua konteks, yaitu: a. Memandang nilai sebagai sesuatu yang objektif b. Memandang nilai itu subjektif Nilai itu objektif atau subjektif, bisa dilihat dari dua kategori, yaitu sebagai berikut:

o Apakah objek itu memiliki nilai kerana kita mendambakannya atau kita mendambkannya karena objek itu mempunyai nilai. o Apakah hasrat, kenikmatan, perhatian, yang memberikan nilai pada objek.

3. Nilai Diantara Kualitas Primer Dan Kualitas Sekunder Kualitas adalah suatu sifat, kualitas menentukan tinggi rendahnya derajat sesuatu, kualitas pun menentukan berharga tidaknya suatu objek. Menurut Frondizi, kualitas dibagi atas dua, yaitu kualitas primer dan kualitas sekunder. 1) Kualitas primer adalah kualitas dasar yang tanpa itu objek tidak dapat menjadi ada, sedangkan 2) kualitas sekunder adalah kualitas yang dapat ditangkap oleh panca indra.

Perbedaan mendasar antara kualitas primer dan kualitas sekunder bukan pada bersatu tidaknya kualitas tersebut pada objek, melainkan pada keniscayaannya. Nilai bukanlah kualitas primer atau kualitas sekunder, sebab nilai tidak menambah atau memberi eksitensi objek. Nilai bukan keniscayaan suatu objek, nilai bukan benda atau unsur suatu benda, melainkan sifat yang dimilki objek tertentu.

4. Metode Menemukan Dan Hierarki Nilai Dalam Pendidikan Nilai berhubungan erat dengan kegiatan manusia menilai. Menilai berarti menimbang, yaitu kegiatan manusai menghubungkan sesuatu dengan sesuatuyang lain, yang selanjutnya diambil suatu keputusan. Penilaian ini dihubungkan dengan unsurunsur yang ada pada manusia, seperti jasmani, cipta, rasa, karsa, dan keyakinan. Oleh karena itu nilai itu memiliki polartitas atau hierarki, yaitu sebagai berikut: 1) Nilai menampilkan diri dalam aspek positif dan aspek negatif yang sesuai 2) Nilai tersusun secara hierarkis, yaitu hierarki urutan pentingnya. Berebda pendapat diatas, Nicholas Rescher menyatakan ada 6 klasifikasi nilai, yaitu: a) Pengakuan b) Objek yang dipermasalahkan c) Keuntungan yang diperoleh

d) Tujuan yang kan dicapai e) Hubungan antra pengemban nilai dengan keuntungn Nilai dengan orientasi pada diri sendiri Nilai dengan orientasi pada orang lain

f) Hubungan yang dihasilkan nilai itu sendiri dengan hal lain yang lebih baik

Max Sheler menyebutkan bahwa hierariki terdiri dari: a. Nilai kenikmatan Nilai yang mengenakan atau yang tidak mengenakan yang berkaitan dengan indra manusia yang menyebabkan manusia senang atau menderita. b. Nilai kehidupan Nilai yang penting bagi kehidupan. c. Nilai kejiwaan Nilai yang tidak tergantung pada keadaan jasmani maupun lngkungan. d. Nilai korohanian Moralitas nilai dari yang suci maupun tidak suci. Hierarki menurut Notonogoro (dalam Nardji, D. 1984, hlm.66-67), yaitu: a. Nilai material b. Nilai vital c. Nilai korohanian Sedangkan diindonesia , hierarki dibagi atas tiga: a. Nilai dasar (dalam bahasa ilmiahnya disebut dasar antalogis ) b. Nilai instrumental c. Nilai fraksis

5. Pengertian Nilai Berikut ini akan dikemukakan pengertian nilai menurut pendapat darai beberapa para ahli: a. Menurut Cheng, nilai adalah sesuatu yang potensial, dalam arti terdapatnya hubungan yang harmonis dan kreatif, sehingga berfungsi untuk

menyempurnakan manusia. b. Layso, nilai bagi manusia merupakan landasan atau motifasi alam segala tingkah laku atau perbuatannya. c. Frankena, nilai dalam falsafat dipakai untuk menunjuk kata benda abstrak

6. Makna Nilai Bagi Manusia Yang terpenting dalam upaya pendidikan, keyakinan pada diri individu pada nilai harus menyentuh sampai hirarki nilai tertinggi, seperti yang diungkapkan oleh Sheller: a. Nilai tertinggi menghasilkan kepuasan yang lebih mendalam b. Kepuasaan jangan dikacaukan dengan kenikmatan c. Semakanik kurang kerelatifan nilai, semakin tinggi keberadaannya, nilai tertinggi dari semua nilai adalah nilai abstrak.

B. PROBLEMANTIKA PEMBINAAN NILAI MORAL 1. Pengaruh kehidupan keluarga dalam pembinaan nilai moral Keluarga sebagai bagian dari masyarakat, terpengaruh oleh tuntuntan kemajuan yang terjadi, namun msih banyak orang yang meyakini bahwa nilai moral itu hidup dan dibangun dalam lingkungan keluarga. Persoalan merosotnya intensitas interaksi serta terputusnya komunikasi yang harmonis antara orang tua dngan anak, mengakibabkan merosotnya fungsinkeluarga dalam pembinaan nilai moral anak.

2. Pengaruh teman sebaya terhadap pembinaan nilai moral Pergaulan dengan teman akan menambah pembedaharaan informasi yang akhirnya akan mempengaruhi berbagai jenis kepercayaan yang dimilikinya.Kumpulan

kepercayaan yang dimiliki anak akan membentuk sikap yang dapat mendorong untuk memilih atau menolak sesuatu. Sikap-sikap yang mengkristalisasi pada diri anak akan menjadi nilai, dan nilai tersebut akan berpengaruh pada prilakunya.

3. Pengaruh figur otoritas terhadap perkembangan nilai moral individu Jika seorang anak atau remaja mengungkapkan kebingungannya kepada orang dewasa, maka orang dewasa akan menunjukan jalan mana yang paling bijak, dan paling baik bagi anak atau remaja tresebut. Orng dewasa mempunyai pikiran bahwa fungsi utama dalam menjalin hubungan dengan anak-anak adalah memberitahu sesuatu kepada mereka, apa yang harus mereka lakukan , dan lain sebagainya

4. Pengaruh media komunikasi terhadap perkembangan nilai moral Jika nilai memang mewakili cara pandang terhadap kehidupan atau memberi arahan kepada kehidupan , serta membuat perubahan dalam kehidupan , maka seseorang tentu akan berharap pentingnya memerhatikan perkembangan nilai anak-anak. Oleh karena itu, media komunikasi tentu akan mengembangkan suatu pandangan hidup yang terfokus sehingga memberikan stabilitas nilai pada anak.

5. Pengaruh otak atau berfikir terhadap perkembangan nilai moral Dalam lingkungan pendidikan , peserta didik akan belajar tentang sesuatu yang diinginkan guru/dosen, dan biasanya mahasiswa hanya akan menunjukan respon yang sederhana. Apabila mereka diberi kesempatan untuk berpikir dan memilih responnya setiap hari, maka tanpa disadari akan terjadi pertumbuhan atau kematangan, meskipun mereka tidak mengkristalisasi hal yang sama, namun mereka sama-sama sedang tumbuh dan berubah. Dalam konteks pendidikan , berpikir dimaknai sebagai proses yang berhubungan dengan penyelidikan dan pembuatan keputusan. Dimanapun keputuan diambil,

pertimbangan nilai pasti terlibat, dan dimanapun penyelidikan berlangsung akan selalu melibatkan tujuan. Berpikir adalah hasil kerja otak, namun otak tidak bekerja secara sederhana dalam pengertian stimulus respon dan juga tidak menyimpan fakta secara sederhana sebagai referensi masa depan. Pendidikan tentang nilai moral yang menggunakan pendekatan berpikir dan lebih berorientasi pada upaya-upaya uantuk mengklarisifikasi nilai moral sangat

dimungkinkan bila melihat eratnya hubungan antara berpikir dengan nilai iu sendiri.

6. Pengaruh informasi terhadap perkembangan nilai moral Setiap hari manusia mendapatkan informasi, informasi ini berpengaruh terhadap sistem keeyakinan yang dimiliki oleh individu. Apabila informasi itu diterima oleh individu, serta mengubah atau memperkuat keyakinannya, maka akan terbentuklah sikap. Informasi yang baru dihasilkan, dipengaruhi oleh: a. Bagaimana infprmasi itu diperkenalkan b. Oleh siapa informasi itu di sampaikan c. Dalam kondisi bagaimana informasi itu disampaikan d. Sejauh mana tingkat disonansi kognitif yang terjadi akibat informasi baru e. Level penerimaan individu f. Level kesiapan individu untuk menerima informasi baru serta mengubah tingkah lakunya.

TUGAS 8 ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

DISUSUN OLEH Nama : Iit Suryani Kelas : III. C Prodi : Bahasa Indonesia Npm : 11.10.010.744.088

YAYASAN DHARMA BAKTI SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN LUBUK ALUNG 2012