Anda di halaman 1dari 5

BIRD SONG AND ANTHROPOGENIC NOISE: VOCAL CONSTRAINTS MAY EXPLAIN WHY BIRDS SING HIGHER-FREQUENCY SONGS IN CITIES

(KICAUAN BURUNG DAN KEBISINGAN: KENDALA SUARA MENJELASKAN MENGAPA BURUNG BERKICAU DENGAN FREKUENSI LEBIH TINGGI DI DAERAH PEROTAAN)

ANALISIS KRITIS JURNAL UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Histologi yang diampu oleh Ibu Sofia Ery Rahayu, S.Pd, M. Si

Oleh : Anissa Puspitawangi (100342404256)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM PROGRAM STUDI BIOLOGI April 2013

A. Latar Belakang Penelitian Hewan yang hidup di daerah perkotaan harus menyesuaikan perilaku dan riwayat hidupnya dengan lingkungan baru. Polusi suara menjadi kendala dalam komunikasi vocal karena mengganggu pendeteksian sinyal akustik. Studi terbaru burung menunjukkan bahwa frekuensi kicauan burung kota lebih tinggi dibandingkan dengan conspesifik burung tersebut pada habitat non-perkotaan. B. Tujuan Penelitian Menemukan hubungan antara amplitudo kicauan dan frekuensi pada sebuah koloni burung yang sukses di daerah perkotaan, yaitu blackbird (Turdus merula). C. Metode Penelitian 1. Alat Ruang kedap suara, software Sound Analysis Pro, software Avisoft Saslab Pro v5, kandang dengan tempat bertengger, mikrofon. 2. Bahan Burung blackbird jantan dari jantan dari kota dan hutan, blackbird yang dipelihara; makanan dan minuman. 3. Cara Kerja Studi burung Kalkulasi profil jarak vokal 12 ekor blackbird budidaya jantan berumur 2 tahun diletakkan dalam sebuah kandang yang besar yang dikondisikan tidak bisa melihat namun bisa mendengar satu sama lain. Jarak frekuensi vokal Blackbird yang hidup bebas di kota dan di hutan dikandangkan per ekor di kandang kedap suara selama 2-3 hari. Aktivitas berkicau direkam menggunakan software Sound Analysis Pro. Dalam masing-masing kandang disediakan 2 tenggeran, makanan dan minuman yang disediakan secara ad libitum. Pola suara kicauan burung menunjukkan sound-dependent yang jelas secara langsung. Dipasang mikrofon vertical di bawah tenggeran dan di pertengahan antara kedua tenggeran, 22 cm

dari kepala burung. Pengaturan ini memungkinkan peneliti memperkecil amplitudo kicauan karena pergerakan kepala lateral. Untuk menilai efek dari posisi burung pada tenggeran terhadap amplitudo dan spektrum rekaman, kita menegakkan karkas blackbird jantan di posisi natural berkicau di tenggeran dengan kebisingan ringan dan frekuensi yang diatur meluas (1-8 kHz, waktu peningkatan 250 ms) siap menyiarkan saluran vokal karkas dari 1 cm diameter pengeras suara yang ditempatkan di siring. Pancaran suara yang terekam dengan pengaturan persis seperti burung hidup, dengan posisi karkas di tengah dan di ujung tenggeran (variasi posisi ini saat berkicau lebih hebat daripada variasi yang diamati selama perekaman dari burung hidup, yang mana selalu berkicau dari tengah tenggeran). Perbedaan terbesar pada level tekanan rekaman kurang dari 2 dB pada setiap kasus (n= 20 ulangan pengukuran pada tiap lokasi, jarak standar deviasi antara 0,08 dan 0,19 dB) dan perbedaan spektral distribusi energi rekaman kebisingan ringan dan meluasnya kurang dari 1,6 dB per 1 Hz unit level spektrum pada jarak burung berkicau. Peneliti meneliti perbedaan hubungan habitat pada frekuensi kicauan yang dipakai dari rekaman lapangan 16 kota dan 17 burung hutan. Di laporan singkat, jantan teritorial terekam di dalam kota Vienna dan di hutan gugur dari Vienna Woods. Secara signifikan, kebisingan di kota lebih tinggi dibanding dengan di hutan. Analisis akustik Blackbird umumnya punya gaya berkicau yang putus-putus, dengan irama yang dibagi menjadi motif dan bagian-bagian kicauan. ]. Analisis akustik dilakukan menggunakan pengukuran parameter fungsi otomatis dari soft-

gudang AVISOFT SASLAB PRO v 5 (Raimund Specht, Berlin, Jerman). Parameter 22 Hz. Penghitungan perbedaan amplitudo blackbird kota dan blackbird hutan Hal ini dilakukan dengan menggunakan rata-rata amplitudo maksimum untuk masing-masing frekuensi, seperti yang asumsi kita bahwa dalam kebisingan spektral yang diukur dengan resolusi frekuensi

burung akan berkicau mendekati batas atas intensitas vokal mereka. Variasi dalam perbedaan mengambil dari amplitudo akar antara burung dan hutan kota dihitung dengan kuadrat amplitudo dari dalam jumlah sampel standar liar dan error kuadrat

distribusi

penangkaran

burung. Dihitung amplitudo kota dan hutan yang dibandingkan dan diuji dengan tdua-sampel (dua sisi). Dataset dicocokan dengan pengujian parametrik, untuk nilai-nilai amplitudo di kedua kelompok tidak menyimpang dari normalitas (Kolmogorov Smirnov Tes). D. Fakta Hasil Penelitian 1. Kisaran profil vocal Ketergantungan variasi frekuensi yang ditandai pada blackbird yang dianalisis, total range amplitudo berbagai profil vocal sebesar 29 dB. 2. Frekuensi distribusi elemen kicauan pada burung hutan dan kota Burung-burung hutan dan kota yang dianalisis menunjukkan perbedaan yang jelas dalam penggunaan frekuensi elemen yang berbeda. Pita frekuensi burung hutan yang lebih sering digunakan adalah 1,8-1,9 kHz (16% dari semua unsur motif), sedangkan burung kota berkicau dengan elemen dalam kisaran antara 2,2 dan 2,3 kHz. 3. Perbedaan amplitudo antara burung hutan dan burung kota Dengan menggunakan elemen maksimum pengukur amplitudo rata-rata amplitudo, burung di kota 6 dB lebih tinggi daripada elemen pada frekuensi yang paling sering digunakan pada burung hutan. E. Konsep yang Didapat 1. Peningkatan frekuensi kemungkinan hasil dari peningkatan amplitudo dari kicauan burung dalam kebisingan. Pergeseran frekuensi dan amplitudo bisa muncul dalam dua cara. Pertama peningkatan frekuensi kicauan bisa menjadi epiphenomenon efek Lombard. Kedua, terdapat penggabungan umum antara amplitudo vocal dan frekuensi berhubungan dengan sifat biofisik dari sumber suara dan saluran vokal. 2. Baik amplitudo dan frekuensi meningkat diikuti dengan tekanan paruparu. Saluran vokal sebagai penyaring kecocokan impedansi

memungkinkan transfer kekuatan terbesar dari sumber (glottis pada

manusia atau syrinx pada burung) ke udara pada frekuensi yang lebih tinggi daripada yang lebih rendah. Frekuensi suara relatif lebih rendah. Frekuensi suara relatif lebih efisien untuk lebih sering meningkatkan amplitudo vokal. 3. Analisis akustik dilakukan menggunakan pengukuran parameter fungsi otomatis dari AVISOFT SASLAB PRO v 5 (Raimund Specht, Berlin, Jerman). Parameter yang diukur dengan resolusi frekuensi22 Hz. Temporal parameter diukur secara terpisah dengan resolusi 2,9 ms. F. Sumbangan pada Penelitian Peneliti menunjukkan bahwa frekuensi dan amplitudo puncak yang digabungkan dalam kicauan blackbird, menunjukkan bahwa burung kota memiliki keistimewaan dengan elemen frekuensi kicauan lebih tinggi yang dapat diproduksi pada intensitas suara yang lebih tinggi. Keneikan terkait amplitudo mengurangi penghalangan akustik dengan frekuensi rendah. Burung kota lebih dapat meningkatkan kapasitas mereka untuk berkicau di amplitudo tinggi untuk mengurangi penghalangan akustik oleh kebisingan.

G. Sumber Rujukan Erwin Nemeth, Nadia Pieretti, Sue Anne Zollinger, Nicole Geberzahn, Jesko Partecke, Ana Catarina Miranda, dan Henrik Brumn. 2013. Bird Song And Anthropogenic Noise: Vocal Constraints May Explain Why Birds Sing Higher-Frequency Songs In Cities. (Online)

(http://rspb.royalsocietypublishing.org/content/280/1754/20122798) diakses tanggal 18 Januari 2013.