Anda di halaman 1dari 18

Tata Kelola Etis dan Akuntabilitas

Erina Raki Dewi Fitra Devy Dwi A

Good Governance
PENGERTIAN GOOD GOVERNANCE Pertama kali dikenalkan oleh Cadbury Committee di Inggris tahun 1922. A set of rules that define the relationship between shareholders, managers, creditors, the goverment, employees, and other internal and external stakeholders in respect to their right and responsibilities, or the system by which companies are directed and controlled.

Good Governance
PENGERTIAN GOOD COVERNANCE Pengertian good governance menurut Bank Dunia adalah suatu penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien.

Karakteristik Good Governance


1. Partisipasi 2. Transparansi 3. Responsif 4. Consensus orientation 5. Equity 6. Efficiency dan effectiveness, 7. Accountability 8. Strategic vision

Prinsip-Prinsip Good Governance


1. Vision 2. Participation 3. Equality 4. Professional 5. Supervision 6. Effective & Efficient 7. Transparent 8. Accountability/Accountable 9. Fairness 10. Honest 11. Responsibility dan Social Responsibility

Ethics & Moral Codes


Encyclopedia of Philosophy mendefinisikan etika dalam tiga cara, yaitu: 1. Pola umum atau cara hidup 2. Seperangkat aturan perilaku atau kode etik 3. Penyelidikan tentang cara hidup dan aturan perilaku

Ethics & Moral Codes


Moralitas dan kode etik didefinisikan dalam Encyclopedia of Philosophy sebagai istilah yang mengandung empat karakteristik, yaitu: 1. Keyakinan tentang sifat manusia 2. Keyakinan tentang cita-cita, tentang apa yang baik atau diinginkan atau kelayakanuntuk mengejar kepentingan diri sendiri 3. Aturan yang menjelaskan apa yang harus dilakukan dan yang seharusnya tidak dilakukan 4. Motif yang cenderung membuat kita memilih jalan yang benar atau jalan yang salah

Pengembangan Program Etika


Code of Conduct Perusahaan adalah sistem nilai atau norma yang dianut oleh perusahaan dalam melaksanakan tugasnya yang didalamnya memuat etika bisnis dan perilaku dalam mencapai tujuan, visi dan misi Perusahaan antara lain etika hubungan antara Perusahaan dengan Karyawan, Pemegang Saham, Pemasok, Kreditur/Investor, Pemerintah, Mitra Usaha, Pesaing, Media Massa, Masyarakat dan Lingkungannya.

Pengembangan Program Etika


Code of Conduct Perusahaan Pendedikasian Kembali Peran Akuntan Profesional - Ekspektasi Publik pada Akuntan Profesional - Dominan antara Nilai Etis dan Teknik Audit atau Akuntansi - Prioritas Kewajiban, Loyalitas, dan Kepercayaan pada Fidusial - Aturan Independensi SEC Baru - Nilai Tambah Kritis oleh Akuntan Profesional - Standar yang Diharapkan untuk Perilaku

Peranan Etika Bisinis dalam Penerapan Good Governance


Nilai-nilai etika perusahaan yang sesuai dengan prinsip-prinsip GCG, yaitu: 1. kejujuran 2. tanggung jawab 3. saling percaya 4. keterbukaan dan kerjasama. Kode Etik hendaknya dapat dimengerti oleh seluruh SDM perusahaan dan akhirnya dapat dilaksanakan dalam bentuk tindakan nyata. Contohnya : Sarbanes-Oxley Act pada tahun 2002 yang menjadi dasar awal konsep GCG di beberapa negara.

Kasus Pelanggaran Etika Pada Enron


1. Enron membujuk Komisi Bursa Saham dan Surat Berharga (SEC) AS untuk membolehkan memakai metode menilai pada harga pasar (mark to market) untuk diberlakukan pada kontrak mereka. 2. Harapannya, perusahaan akan menambahkan arus kas masa datang pada kontrak, menerapkan tingkat diskonto, dan menghitung nilai saat ini bersih (net present value=NPV) dari kontrak tersebut. NPV ini yang kemudian dilaporkan sebagai nilai sebenarnya dari kontrak. Jika NPV lebih tinggi dari yang Enron bayarkan, lalu selisihnya dapat dilaporkan sebagai sebuah laba pada laporan keuangan Enron.

Kasus Pelanggaran Etika Pada Enron


3. Enron bersama konsultan Arthur Andersen membentuk anak perusahaan yang bertujuan untuk mencari tambahan modal yang akan digunakan Enron untuk mengembangkan usahanya. Modal yang diterima dari anak perusahaan yang berasal dari hutang dengan jaminan saham Enron, kemudian diserahkan kepada Enron. Dalam transaksi tersebut, uang yang diterima Enron dari anak perusahaan adalah transaksi hutang. Namun Enron membukukan hutang dari anak perusahaan sebagai pendapatan.

Kasus Pelanggaran Etika Pada Enron


Dalam kasus tersebut Enron, perusahaan telah melanggar etika pengungkapan dalam laporan keuangan. Terdapat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh perusahaan dengan tujuan untuk mencari keuntungan sepihak. Selain itu Arthur Andersen sebagai konsultan tidak menjungjung nilai-nilai integritas yang seharusnya mereka jaga. Sesungguhnya Arthur andersen mengetahui apa yang dilakukan oleh Enron tidaklah benar. Namun, Arthur Andersen memberikan penilaian bahwa Enron telah menyajikan laporan keuangan dengan akurat.

Kesimpulan Kasus
Dalam kasus tersebut Enron, perusahaan telah melanggar etika pengungkapan dalam laporan keuangan. Terdapat hal-hal yang tidak diungkapkan oleh perusahaan dengan tujuan untuk mencari keuntungan sepihak. Selain itu Arthur Andersen sebagai konsultan tidak menjunjung nilainilai integritas yang seharusnya mereka jaga. Sesungguhnya Arthur andersen mengetahui apa yang dilakukan oleh Enron tidaklah benar. Namun, Arthur Andersen memberikan penilaian bahwa Enron telah menyajikan laporan keuangan dengan akurat.

Analisa Kasus Enron dalam Sudut Pandang Murphy


Menurut Murphy, tiga pendekatan yang dapat diterapkan untuk menanamkan prinsip-prinsip etika ke dalam bisnis, yaitu: 1. Credo perusahaan yang mendefinisikan dan mengarahkan kepada nilai-nilai perusahaan 2. Program etika dimana perusahaan berfokus pada isu-isu etika 3. Kode etik yang memberikan panduan spesifik untuk karyawan di area bisnis fungsional

Analisa Kasus Enron dalam Sudut Pandang Murphy


Penelitian Murphy tentang etika dalam manajemen menghasilkan kesimpulan yang harus diingat manajer perusahaan yaitu: 1. Tidak ada pendekatan ideal tunggal untuk etika perusahaan 2. Manajemen puncak harus berkomitmen 3. Pengembangan suatu struktur tidak cukup untuk perusahaan itu sendiri 4. Meningkatkan kesadaran etis dari suatu organisasi tidak mudah

Penyelesaian
Presiden Bush dan pimpinan-pimpinan perusahaan memulai reformasi di aspek tata kelola perusahaan. Pada tanggal 30 Juli 2002 lahirlah Sarbanes Oxley Act (SOX). Kerangka baru yang termuat dalam SOX dimasukkan oleh Securities and Exchange Commision (SEC). kerangka baru ini berlaku bagi seluruh perusahaan anggota SEC dan para akuntan dan pengacara yang berhubungan dengan perusahaan tersebut. SOX dirancang untuk memfokuskan kembali tata kelola perusahaan pada tanggung jawab terhadapa kewajiban fidusia diluar kepentingan mereka sendiri dan lebih kepada kepentingan shareholders dan kepentingan masyarakat.

SEKIAN TERIMA KASIH