Anda di halaman 1dari 9

PERSEPSI MASYARAKAT SUKU TENGGER TERHADAP OBEDIENCE

DISUSUN OLEH: SUIMAH HERLIN RACHMAWATI HASAN MAULUDI HENDRAWAN RIZKY ZAINUL HIDAYATUL K DZINNURAIN TEGUH SUWARJO 10.05.411.00053 10.05.411.00034 10.05.411.00064 10.05.411.00062 10.05.411.00060 10.05.411.00010 10.05.411.00058

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU BUDAYA UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA 2013

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Budaya sebagai warisan sosial merupakan suatu komunikasi antar generasi dalam membangun suatu bangsa. Bangsa akan terbentuk sesuai dengan budaya di masingmasing masyarakat setempat. Definisi budaya yang diungkapkan Barnouw dalam buku Matsumoto (2004) menyebutkan budaya sebagai sekumpulan sikap, nilai, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang, yang dikomunikasikan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat bahasa atau beberapa sarana komunikasi lain. Indonesia sebagai negara berjuta budaya merupakan penghasil budaya yang besar bagi dunia, salah satunya budaya suku Tengger. Suasana di kawasan Tengger dikendalikan oleh suatu ajaran, yaitu yang disebut dengan desa kala patra atau desa mawa cara yang artinya: suasana tertib harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi desa setempat. Kondisi yang digambarkan seperti tersebut menunjukkan bahwa adat masyarakat Tengger bersifat dinamis, di samping disebutkan bahwa adat juga merupakan proses administrasi untuk menciptakan suatu kelayakan di dalam pergaulan hidup bermasyarakat, yang jika dilanggar akan mengakibatkan terjadinya kutukan. Dalam hal ini adat masyarakat Tengger telah menjadi pagar batin bagi masyarakat demi terpeliharanya warisan leluhur terkait hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungannya, serta manusia dengan sang

Pencipta. Sementara itu tradisi Tengger terutama hanya dapat dipertahankan di desa-desa dataran tertinggi dekat gunung Bromo dengan penduduk lebih kurang 60 ribu jiwa, mereka adalah rakyat biasa yang tinggal di pegunungan Tengger, dan teguh pada ajaran Hindu secara turun-temurun, tidak mengenal kasta, tidak bergaya hidup priyayi, ramah, tulus, yang terpancar di masyarakat Tengger, dan lebih mementingkan kekeluargaan. Oleh karena itu sosialisasi secara turuntemurun tetap dipertahankan agar kelestariannya tetap terjaga. Terkait dengan hal tersebut fenomena sikap masyarakat suku Tengger yang sangat patuh terhadap budayanya, didalam kajian psikologi sosial lebih mendekati pada term obedience. Proses penelitian ini menggunakan pendekatan kajian pengaruh sosial yang banyak dibahas dalam psikologi sosial. Adapun penjelaskan tentang pengertian obedience adalah patuh, respon permintaan langsung (perintah), perilaku seseorang yang disebabkan adanya tuntutan dari pihak lain (orang tua, kelompok, instansi, pemerintah atau negara). Bila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena adanya tuntutan meskipun sebenarnya ia tidak suka atau tidak mengkehendaki perilaku tersebut dikatakan kepatuhan. Dalam hal ini masyarakat suku Tengger sangat patuh untuk melaksanakan hukum adatnya ( melaksanakan upacara keaagamaan) yang dikarenakan tuntutan dari kelompoknya. Dari uraian diatas peneliti memberikan judul Persepsi Masyarakat Suku Tengger Terhadap Obedience.

Rumusan Masalah: Bagaimana persepsi masyarakat suku Tengger tentang obedience (kepatuhan) terhadap budayanya? Apa yang membuat individu dalam mayarakat suku Tengger itu dapat menumbuhkan obidiennya (kepatuhan) terhadap budayanya? Bagaimana apabila obedience (kepatuhan) itu tidak dijalankan oleh individu dalam masyarakat suku Tengger tersebut?

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui persepsi masyarakat suku Tengger terhadap obedience Untuk mengetahui apa yang membuat individu dalam mayarakat suku Tengger itu dapat menumbuhkan obediennya (kepatuhan) terhadap budayanya Untuk mengetahui bagaimana apabila obedience (kepatuhan) itu tidak dijalankan oleh individu dalam masyarakat suku Tengger tersebut.

Manfaat Penelitian: Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian persepsi masyarakat suku Tengger terhadap obedience dapat menambah khasanah dalam psikologi sosial dan lintas budaya

Manfaat praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang kebudayaan suku tengger dan juga dapat mengetahui persepsi masyarakat suku Tengger terhadap obedience.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Suku Tengger Masyarakat suku tengger merupakan salah satu suku yang mendiami lereng gunung Bromo-Bemeru. Gunung bromo (2.392m) adalah gunung yang dianggap suci bagi masyarakat tengger karena merupakan lambang tempat dewa Brahma, tempat wisata terkenal di jawa timur yang dapat ditempuh lewat empat kabupaten, yaitu: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Puncak gunung Bromo yang luasnya 10 km merupakan perpaduan antara lembah dan ngarai dengan panorama yang menakjubkan bisa menikmati hamparan lautan pasir seluas 50 km. Kawah gunung Bromo berada dibagian utara berketinggian 2.392 m diatas permukaan laut yang masih aktif dan setiap saat mengeluarkan kepulan asap ke udara. Suhu rata-rata digunung Bromo antara 3-170C. Bagian selatan merupakan dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah dan ngarai,

danau-danau kecil yang membentang di kaki gunung semeru yang dirimbuni hutan dan pepohonan sungguh merupakan pesona alam yang mengagumkan. Disamping pemandangan alam yang indah gunung bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena tradisi masyarakat tengger yang tetap berpegang teguh pada adat-istiadat dan budaya yang menjadi pedomannya. Masyarakat tengger memiliki rasa persaudaraan serta solidaritas yang sangat tinggi. Menurur nara sumber di masyarakat tengger kriminalitas sangatlah kecil semua itu disebabkan oleh rasa percaya pada adanya tradisi, kualat, serta akibat yang akan didapat dari Sang Hyang Widhi jika mereka melakukan suatu kesalahan (dalam

http://redendonk.blogspot.com/2012/10/kebudayaan-sukutengger.html).

B. Persepsi Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan, yaitu proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh individu melalui alat reseptornya dan diteruskan ke pusat susunan syaraf yaitu otak, sehingga individu dapat mempersepsi apa yang ia lihat, ia dengar, dan sebagainya (Walgito, 1997). Persepsi juga bisa dimaknai sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan (Rakhmat, 2001). Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa persepsi merupakan masuknya stimulus yang ditangkap oleh panca indra dan diteruskan ke pusat syaraf yaitu otak,

sehingga individu dapat menafsirkan apa informasi atau stimulus yang diterimanya.

C. Obedience Obedience adalah patuh, respon permintaan langsung (perintah), perilaku seseorang yang disebabkan adanya tuntutan dari pihak lain (orang tua, kelompok, instansi, pemerintah atau negara). Bila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena adanya tuntutan meskipun sebenarnya ia tidak suka atau tidak mengkehendaki perilaku tersebut dikatakan kepatuhan. Eksperiment Milgram (1963), mengumpulkan 40 orang untuk mengetahui pengaruh hukuman terhadap prestasi. Kemudian 20 orang menjadi guru dan 20 orang menjadi murid. Didepan guru, duduk murid dan ditengah-tengah ditaruh bel listrik yang tegangannya dari rendah ke tinggi. Bel itu akan menyetrum murid apabila ia melakukan kesalahan (memberikan shock). Dari guru-guru itu ada guru yang tentu memberikan shock sampai murid menunjukkan kesakitan. Dan kalau perlu menambahkan tegangannya. Dasar eksperimen : manusia membutuhkan struktur yang jelas (perintah dari otoritas yang diakui) untuk bergerak dengan cara patuh pada peraturan yang ada. Eksperiment Milgram (1965, 1974) menunjukkan bahwa orang dapat kejam karena pengaruh situasi, orang baik pun dapat berbuat jahat (dalam

http://klara_ia.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9081/handout+bar u+psi+sos+1.pdf).

BAB III

Metode Penelitian Subjek penelitian dalam penelitian adalah masyarakat suku Tengger. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitu suatu metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang dianggap berasal dari masalah sosial atau kemanusiaan oleh sejumlah individu atau sekelompok orang (Creswell, 2010). Gejala penelitian ini adalah Persepsi Masyarakat Suku Tengger Terhadap Obedience. Penelitian ini dilakukan dengan membuat daftar pertanyaan (guide discussion). setelah itu peneliti melakukan tindakan yaitu peneliti melakukan wawancara dan observasi terhadap sampel yang telah ditentukan dan tahap akhir peneliti melakukan analisis dari data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi.

DAFTAR PUSTAKA Creswell, J. W. (2010). Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed Edisi Ketiga. Yogyakarta: Pustaka Pelajar http://klara_ia.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9081/handout+baru+psi os+1.pdf http://redendonk.blogspot.com/2012/10/kebudayaan-suku-tengger.html Matsumoto, D. (2004). Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Rakhmat, J. 2001. Psikologi Komunikasi. Edisi Revisi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Walgito, B. 1994. Psikologi Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi Offset. 1997. Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.

Anda mungkin juga menyukai