P. 1
49765165 Askep Dm Dan Celulitis

49765165 Askep Dm Dan Celulitis

|Views: 37|Likes:
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS DAN CELLULITIS



























A. TINJAUAN TEORITIS


1. Pengertian Diabetes mellitus
Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah (Mansjoer dkk,1999). Sedangkan menurut Francis dan John (2000), Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya.

2. Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes Mellitus dari National Diabetus Data Group: Classification and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Other Categories of Glucosa Intolerance:
a. Klasifikasi Klinis
1) Diabetes Mellitus
a) Tipe tergantung insulin (DMTI), Tipe I
b) Tipe tak tergantung insulin (DMTTI), Tipe II
(1) DMTTI yang tidak mengalami obesitas
(2) DMTTI dengan obesitas
2) Gangguan Toleransi Glukosa (GTG)
3) Diabetes Kehamilan (GDM)


b. Klasifikasi risiko statistik
1) Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa
2) Berpotensi menderita kelainan toleransi glukosa

Pada Diabetes Mellitus tipe 1 sel-sel β pancreas yang secara normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun, sebagai akibatnya penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun.
Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin.

3. Etiologi
a. Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI)
1) Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.
2) Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.


3) Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autuimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.
b. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price,1995). Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS DAN CELLULITIS



























A. TINJAUAN TEORITIS


1. Pengertian Diabetes mellitus
Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah (Mansjoer dkk,1999). Sedangkan menurut Francis dan John (2000), Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya.

2. Klasifikasi
Klasifikasi Diabetes Mellitus dari National Diabetus Data Group: Classification and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Other Categories of Glucosa Intolerance:
a. Klasifikasi Klinis
1) Diabetes Mellitus
a) Tipe tergantung insulin (DMTI), Tipe I
b) Tipe tak tergantung insulin (DMTTI), Tipe II
(1) DMTTI yang tidak mengalami obesitas
(2) DMTTI dengan obesitas
2) Gangguan Toleransi Glukosa (GTG)
3) Diabetes Kehamilan (GDM)


b. Klasifikasi risiko statistik
1) Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa
2) Berpotensi menderita kelainan toleransi glukosa

Pada Diabetes Mellitus tipe 1 sel-sel β pancreas yang secara normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun, sebagai akibatnya penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun.
Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin.

3. Etiologi
a. Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI)
1) Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.
2) Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.


3) Faktor lingkungan
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autuimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas.
b. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI)
Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price,1995). Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Uking Jewell'Poenya 汇卜为下大弯 on May 05, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/23/2014

pdf

text

original

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS DAN CELLULITIS

A. TINJAUAN TEORITIS 1. Pengertian Diabetes mellitus Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah (Mansjoer dkk,1999). Sedangkan menurut Francis dan John (2000), Diabetes Mellitus klinis adalah suatu sindroma gangguan metabolisme dengan hiperglikemia yang tidak semestinya sebagai akibat suatu defisiensi sekresi insulin atau berkurangnya efektifitas biologis dari insulin atau keduanya. 2. Klasifikasi Klasifikasi Diabetes Mellitus dari National Diabetus Data Group: Classification and Diagnosis of Diabetes Mellitus and Other Categories of Glucosa Intolerance: a. Klasifikasi Klinis 1) Diabetes Mellitus a) Tipe tergantung insulin (DMTI), Tipe I b) Tipe tak tergantung insulin (DMTTI), Tipe II (1) DMTTI yang tidak mengalami obesitas (2) DMTTI dengan obesitas 2) Gangguan Toleransi Glukosa (GTG) 3) Diabetes Kehamilan (GDM)

b. Klasifikasi risiko statistik 1) Sebelumnya pernah menderita kelainan toleransi glukosa 2) Berpotensi menderita kelainan toleransi glukosa

Pada Diabetes Mellitus tipe 1 sel-sel β pancreas yang secara normal menghasilkan hormon insulin dihancurkan oleh proses autoimun, sebagai akibatnya penyuntikan insulin diperlukan untuk mengendalikan kadar glukosa darah. Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh awitan mendadak yang biasanya terjadi pada usia 30 tahun. Diabetes mellitus tipe II terjadi akibat penurunan sensitivitas terhadap insulin (resistensi insulin) atau akibat penurunan jumlah produksi insulin. 3. Etiologi a. Diabetes Mellitus tergantung insulin (DMTI) 1) Faktor genetic Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya. 2) Faktor imunologi Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.

3) Faktor lingkungan Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas, sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin tertentu

dapat memicu proses autuimun yang dapat menimbulkan destuksi sel β pancreas. b. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) Secara pasti penyebab dari DM tipe II ini belum diketahui, factor genetic diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Diabetes Mellitus tak tergantung insulin (DMTTI) penyakitnya mempunyai pola familiar yang kuat. DMTTI ditandai dengan kelainan dalam sekresi insulin maupun dalam kerja insulin. Pada awalnya tampak terdapat resistensi dari sel-sel sasaran terhadap kerja insulin. Insulin mula-mula mengikat dirinya kepada reseptor-reseptor permukaan sel tertentu, kemudian terjadi reaksi intraselluler yang meningkatkan transport glukosa menembus membran sel. Pada pasien dengan DMTTI terdapat kelainan dalam pengikatan insulin dengan reseptor. Hal ini dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah tempat reseptor yang responsif insulin pada membran sel. Akibatnya terjadi penggabungan abnormal antara komplek reseptor insulin dengan system transport glukosa. Kadar glukosa normal dapat dipertahankan dalam waktu yang cukup lama dan meningkatkan sekresi insulin, tetapi pada akhirnya sekresi insulin yang beredar tidak lagi memadai untuk mempertahankan euglikemia (Price,1995). Diabetes Mellitus tipe II disebut juga Diabetes Mellitus tidak tergantung insulin (DMTTI) atau Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM) yang merupakan suatu kelompok heterogen bentuk-bentuk Diabetes yang lebih ringan, terutama dijumpai pada orang dewasa, tetapi terkadang dapat timbul pada masa kanak-kanak. Faktor risiko yang berhubungan dengan proses terjadinya DM tipe II, diantaranya adalah: 1) Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 tahun) 2) Obesitas 3) Riwayat keluarga

tubuh memerlukan bahan untuk membentuk sel baru dan mengganti sel yang rusak. genetil.1999). dll sel β pancreas hancur Defisiensi insulin Jmh sel β pancreas menurun Hiperglikemia Katabolisme protein meningkat Lipolisis meningkat Penurunan BB polipagi Glukosuria Glukoneogenesis meningkat Kehilangan elektrolit urine Gliserol asam lemak bebas meningkat Ketogenesis Diuresis Osmotik Kehilangan cairan hipotonik Polidipsi Hiperosmolaritas ketoasidosis ketonuria coma Ibarat suatu mesin. Patofisiologi DM Tipe I Reaksi Autoimun DM Tipe II Idiopatik. .4) Kelompok etnik 3. Energi yang dibutuhkan oleh tubuh berasal dari bahan makanan yang kita makan setiap hari. lemak dan protein (Suyono. Bahan makanan tersebut terdiri dari unsur karbohidrat. Disamping itu tubuh juga memerlukan energi supaya sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. usia.

. Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. karena ambang batas untuk gula darah adalah 180 mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Keadaan asidosis ini apabila tidak segera diobati akan terjadi koma yang disebut koma diabetik (Price. lemak dan protein menjadi menipis. Penyerapan glukosa kedalam sel macet dan metabolismenya terganggu. Sehubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. 10% menjadi glikogen dan 20% sampai 40% diubah menjadi lemak. Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi.1995). akibatnya bau urine dan napas penderita berbau aseton atau bau buah-buahan. Keadaan ini menyebabkan sebagian besar glukosa tetap berada dalam sirkulasi darah sehingga terjadi hiperglikemia. Terlalu banyak lemak yang dibakar maka akan terjadi penumpukan asetat dalam darah yang menyebabkan keasaman darah meningkat atau asidosis. Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria.Pada keadaan normal kurang lebih 50% glukosa yang dimakan mengalami metabolisme sempurna menjadi CO2 dan air. Penyakit Diabetes Mellitus disebabkan oleh karena gagalnya hormon insulin. Zat ini akan meracuni tubuh bila terlalu banyak hingga tubuh berusaha mengeluarkan melalui urine dan pernapasan. Pada Diabetes Mellitus semua proses tersebut terganggu karena terdapat defisiensi insulin. Karena digunakan untuk melakukan pembakaran dalam tubuh. maka klien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intra selluler. hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi.

b) Komplikasi menahun Diabetes Mellitus 1) Neuropati diabetik 2) Retinopati diabetik 3) Nefropati diabetik 4) Proteinuria mengenai pembuluh darah kecil. Keputihan. Banyak kencing dan Penurunan berat badan. Kadar glukosa darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl Sedangkan menurut Waspadji (1996) keluhan yang sering terjadi pada penderita Diabetes Mellitus adalah: Poliuria. b. Komplikasi Beberapa komplikasi dari Diabetes Mellitus (Mansjoer dkk. 5. Bisul/luka. penyakit pembuluh darah kapiler). retinopati. Visus menurun. Gatal. 1999) adalah a) Akut 1) Hipoglikemia dan hiperglikemia 2) Penyakit makrovaskuler : mengenai pembuluh darah besar. Kadar glukosa darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl c. 3) Penyakit mikrovaskuler. Polidipsia. nefropati. saraf otonom berpengaruh pada gastro intestinal. 1990). kardiovaskuler (Suddarth and Brunner. Kesemutan.4. . Berat badan menurun. Lemah. Polifagia. Gejala Klinis Menurut Askandar (1998) seseorang dapat dikatakan menderita Diabetes Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu a. penyakit jantung koroner (cerebrovaskuler. Keluhan TRIAS: Banyak minum. 4) Neuropati saraf sensorik (berpengaruh pada ekstrimitas).

Diet Syarat diet DM hendaknya dapat: 1) Memperbaiki kesehatan umum penderita 2) Mengarahkan pada berat badan normal : : : : : : tidak ada luka kerusakan hanya sampai pada permukaan kulit kerusakan kulit mencapai otot dan tulang terjadi abses Gangren pada kaki bagian distal Gangren pada seluruh kaki dan tungkai bawah distal . Evaluasi Diagnostik Kriteria yang melandasi penegakan diagnosa DM adalah kadar glukosa darah yang meningkat secara abnormal. Penatalaksanaan Diabetes mellitus Tujuan utama terapi DM adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik.5) Kelainan koroner 6) Ulkus/gangren (Soeparman. Tujuan terapeutik pada setiap tipe DM adalah mencapai kadar glukosa darah normal (euglikemia) tanpa terjadi hipoglikemia dan gangguan series pada pola aktivitas pasien. yaitu: a. 1987. Ada lima konponen dalam penatalaksanaan DM. 7. hal 377) Terdapat lima grade ulkus diabetikum antara lain: (a) Grade 0 (b) Grade I (c) Grade II (d) Grade III (e) Grade IV (f) Grade V 6. Kadar gula darah plasma pada waktu puasa yang besarnya di atas 140 mg/dl atau kadar glukosa darah sewaktu diatas 200 mg/dl pada satu kali pemeriksaan atau lebih merupakan criteria diagnostik penyakit DM.

7) Menarik dan mudah diberikan Prinsip diet DM.3) Menormalkan pertumbuhan DM anak dan DM dewasa muda 4) Mempertahankan kadar KGD normal 5) Menekan dan menunda timbulnya penyakit angiopati diabetik 6) Memberikan modifikasi diit sesuai dengan keadaan penderita. 1) Diit DM I 2) Diit DM II 3) Diit DM III 4) Diit DM IV 5) Diit DM V 6) Diit DM VI : : : : : : 1100 kalori 1300 kalori 1500 kalori 1700 kalori 1900 kalori 2100 kalori 2300 kalori 2500 kalori 7) Diit DM VII : 8) Diit DM VIII : Diit I s/d III : diberikan kepada penderita yang terlalu gemuk Diit IV s/d V : diberikan kepada penderita dengan berat badan normal Diit VI s/d VIII : diberikan kepada penderita kurus. adalah: 1) Jumlah sesuai kebutuhan 2) Jadwal diet ketat 3) Jenis: boleh dimakan/tidak Diit DM sesuai dengan paket-paket yang telah disesuaikan dengan kandungan kalorinya. jangan dikurangi atau ditambah : jadwal diit harus sesuai dengan intervalnya. Dalam melaksanakan diit diabetes sehari-hari hendaklah diikuti pedoman 3 J yaitu: JI J II : jumlah kalori yang diberikan harus habis. . Diabetes remaja. atau diabetes komplikasi.

Obesitas sedang . penentuan gizi dilaksanakan dengan menghitung Percentage of relative body weight (BBR= berat badan normal) dengan rumus: BB (Kg) BBR = X 100 % TB (cm) – 100 Kurus (underweight) BBR < 90 % BBR 90 – 110 % BBR > 110 % BBR > 120 % BBR 120 – 130 % BBR 130 – 140 % BBR 140 – 200 % BBR > 200 % 1) Kurus (underweight) : 2) Normal (ideal) 4) Obesitas. adalah: 1) Meningkatkan kepekaan insulin (glukosa uptake). apabila dikerjakan setiap 1 ½ jam sesudah makan. Latihan Beberapa kegunaan latihan teratur setiap hari bagi penderita DM. berarti pula mengurangi insulin resisten pada penderita dengan kegemukan atau menambah jumlah reseptor insulin dan meningkatkan sensitivitas insulin dengan reseptornya.Morbid : : : : : : 3) Gemuk (overweight) : Sebagai pedoman jumlah kalori yang diperlukan sehari-hari untuk penderita DM yang bekerja biasa adalah: 1) kurus : BB X 40 – 60 kalori sehari BB X 30 kalori sehari BB X 20 kalori sehari BB X 10-15 kalori sehari 2) Normal : 3) Gemuk : 4) Obesitas : b. apabila . 2) Mencegah kegemukan apabila ditambah latihan pagi dan sore .Obesitas berat .Obesitas ringan .J III : jenis makanan yang manis harus dihindari Penentuan jumlah kalori Diit Diabetes Mellitus harus disesuaikan oleh status gizi penderita.

tetapi mempunyai efek lain yang dapat meningkatkan efektivitas insulin. Obat 1) Tablet OAD (Oral Antidiabetes) a) Mekanisme kerja sulfanilurea (1) kerja OAD tingkat prereseptor : pankreatik. ekstra pancreas (2) kerja OAD tingkat reseptor b) Mekanisme kerja Biguanida Biguanida tidak mempunyai efek pankreatik. poster. maka latihan akan dirangsang pembentukan glikogen baru 6) Menurunkan kolesterol (total) dan trigliserida dalam darah karena pembakaran asam lemak menjadi lebih baik. dan sebagainya. TV. d. c. diskusi kelompok. kaset video. Penyuluhan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) merupakan salah satu bentuk penyuluhan kesehatan kepada penderita DM. yaitu: (1) ekstra pankreatik Menghambat absorpsi karbohidrat Menghambat glukoneogenesis di hati Meningkatkan afinitas pada reseptor insulin Biguanida pada tingkat prereseptor  (2) Biguanida pada tingkat reseptor : meningkatkan jumlah reseptor insulin (3) Biguanida intraseluler pada tingkat pascareseptor : mempunyai efek . melalui bermacammacam cara atau media misalnya: leaflet.3) Memperbaiki aliran perifer dan menambah supply oksigen 4) Meningkatkan kadar kolesterol-high density lipoprotein 5) Kadar glukosa otot dan hati menjadi berkurang.

dan paha. lengan. agar tidak memberi perubahan kecepatan absorpsi setiap hari.2) Insulin a) Indikasi insulin (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) DM tipe I DM tipe II yang pada saat tertentu tidak dapat dirawat dengan OAD DM kehamilan DM dan gangguan faal hati yang berat DM dan infeksi akut (selulitis. sesudah suntikan subcutan. . Dalam memindahkan suntikan (lokasi) janganlah dilakukan setiap hari tetapi lakukan rotasi tempat suntikan setiap 14 hari. gangren) DM dan TBC paru akut DM dan koma lain pada DM DM operasi DM patah tulang penggunaan (10) DM dan underweight (11) DM dan penyakit Graves b) Beberapa cara pemberian insulin (1) Suntikan insulin subkutan Insulin reguler mencapai puncak kerjanya pada 1-4 jam. kecepatan absorpsi di tempat suntikan tergantung pada beberapa factor antara lain: (a) lokasi suntikan ada 3 tempat suntikan yang sering dipakai yitu dinding perut.

e. Ini berarti suntikan intramuskuler akan lebih cepat efeknya daripada subcutan. hendaklah dilaksanakan 30 menit setelah suntikan. (f) Konsentrasi insulin Apabila konsentrasi insulin berkisar 40 – 100 U/ml. 1992). (d) Suhu Suhu kulit tempat suntikan (termasuk mandi uap) akan mempercepat absorpsi insulin. Cangkok pankreas Pendekatan terbaru untuk cangkok pancreas adalah segmental dari donor hidup saudara kembar identik (Tjokroprawiro. Sedangkan suntikan intravena dosis rendah digunakan untuk terapi koma diabetik. .(b) Pengaruh latihan pada absorpsi insulin Latihan akan mempercepat absorbsi apabila dilaksanakan dalam waktu 30 menit setelah suntikan insulin karena itu pergerakan otot yang berarti. Tetapi apabila terdapat penurunan dari u –100 ke u – 10 maka efek insulin dipercepat. (c) Pemijatan (Masage) Pemijatan juga akan mempercepat absorpsi insulin. (2) Suntikan intramuskular dan intravena Suntikan intramuskular dapat digunakan pada koma diabetik atau pada kasus-kasus dengan degradasi tempat suntikan subkutan. (e) Dalamnya suntikan Makin dalam suntikan makin cepat puncak kerja insulin dicapai. tidak terdapat perbedaan absorpsi.

riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg. pembedahan. penurunan berat badan. 3. 3) Essei hemoglobin glikolisat diatas rentang normal. 1999) 1. Temuan ini menunjukkan gangguan elektrolit dan terjadinya komplikasi aterosklerosis. 5) Kolesterol dan kadar trigliserida serum dapat meningkat menandakan ketidakadekuatan kontrol glikemik dan peningkatan propensitas pada terjadinya aterosklerosis. obesitas. pemeriksaan diagnostik dan tindakan perawatan diri untuk mencegah komplikasi. Pemeriksaan Diagnostik 1) Tes toleransi Glukosa (TTG) memanjang (lebih besar dari 200mg/dl). kontrasepsi oral). tes ini dianjurkan untuk pasien yang menunjukkan kadar glukosa meningkat dibawah kondisi stress. Kaji perasaan pasien tentang kondisi penyakitnya. . 2) Gula darah puasa normal atau diatas normal. Kaji pemahaman pasien tentang kondisi. diuretik tiasid. ASUHAN KEPERAWATAN 1. 4. Biasanya. Kaji terhadap manifestasi Diabetes Mellitus: poliuria. Riwayat atau adanya faktor resiko. polidipsia. riwayat glukosuria selama stress (kehamilan. polifagia.B. infeksi. penyakit) atau terapi obat (glukokortikosteroid. Pengkajian Fokus utama pengkajian pada klien Diabetes Mellitus adalah melakukan pengkajian dengan ketat terhadap tingkat pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan perawatan diri. Riwayat keluarga tentang penyakit. trauma. pruritus vulvular. 2. 5. peka rangsang. gangguan penglihatan. kelelahan. 4) Urinalisis positif terhadap glukosa dan keton. Pengkajian secara rinci adalah sebagai berikut (Rumahorbo. riwayat pankreatitis kronik. dan kram otot. tindakan.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal (Familiar) dengan sumber informasi. b. diagnosa keperawatan menurut NANDA adalah a. e. Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuat pertahanan sekunder atau karena penyakit kronik. Kelelahan berhubungan dengan status penyakit . c. d. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme pengaturan.2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh mengabsorbsi zat-zat gizi berhubungan dengan faktor biologis. Diagnosa Keperawatan Pada klien dengan Diabetes Mellitus.

Keluhan Utama Saat Masuk Rumah Sakit Luka di tumit kaki kiri dan terasa nyeri skala 5-6. namun klien tidak mengetahui penyebabnya. Riwayat Penyakit 1. Riwayat Penyakit Sekarang Satu bulan sebelum masuk rumah sakit klien kena luka di tumit kaki kiri.I. 2. Identitas Diri Klien Nama Umur Jenis kelamin Alamat Pendidikan Pekerjaan Lama bekerja Agama Suku Tanggal Pengkajian Sumber Informasi : : : : : : : : : : SD Petani 20 tahuh Kawin Islam Jawa : …………… Ny W 65 tahun Perempuan Status Perkawinan : Tanggal masuk RS : Klien. Mulai saat itu klien lebih berhati-hati dan pelan-pelan saat berjalan. . Medical Record II. Keluarga.

6 – 1. 1 minggu sebelum masuk rumah sakit keluhan luka pada tumit kaki klien makin bertambah. kemudian dilakukan perawatan luka . Hari masuk rumah sakit.1 1. Klien belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya. 3. Riwayat Penyakit Dahulu Klien menderita tekanan darah tinggi sudah sejak 10 tahun yang lalu.3) (80 – 120) (20 – 40) Creatinin : . 9 mg/dl 47. luka pada tumit menjadi membengkak diperiksakan ke dokter praktek dan hanya diberikan obat oral.4 14. keluhan luka tumit. Klien terdeteksi diabetes mellitus saat menjalani perawatan di rumah sakit ini. Diagnosa Medik Saat Masuk Rumah Sakit: Ulkus Diabetes mellitus Grade II DM2NO Pemeriksaan Penunjang Hasil pemeriksaan laboratorium: Tanggal 23 Maret 2005 Normal ALT AST BUN Glukosa Ureum : : : : : 16. Klien hanya istirahat di rumah dan akhirnya karena merasa tidak kuat dan tidak bisa mengobati luka tersebut maka oleh keuarganya klien dibawa ke rumah sakit. 4. luka makin membenkak dan oleh cucunya luka tersebut di buka atau diiris keluar pusnya banyak.8 22.29 (10 – 40) (10 – 42) (7 – 18) (0.22 515.2 minggu sebelum masuk rumah sakit keluhan dirasa semakin bertambah.

6 103/μl 21. Leukositosis HGB = 10.1 9/dl 31.1 9/dl HCT = 31.5-7) Interpretasi: glukosa = 515.1 103/μl .2 Fl 9.5 Fl 386 103/μl 42.2-11.2 % 87.6 % 82.9 Fl 26.9103/μl (0-8) (40-74) (1-3.4 Fl (3.1) Differential MXD Neut Lym# MXD# Neut# : : : : : 6.81106/μl 10.6 % Tindakan yang telah dilakukan .Diit DM IV (1700 kalori) USG : cista ovarium Rongent : tidak ada osteomyelitis .7) (0-1.9 Fl 8.5) (12-18) (47-75) (80-99) (27-31) (150-450) (35-47) (9-13) (7.6 103/μl 1.2) (1. Hiperglikemi WBC = 25. 9 mg/dl .RBC HGB HCT MCV MCH PLT RDW PDW MPV : : : : : : : : : 3.3 % 1.7-6.

5 mg Ceftriaxon : 2 X 1 gr III. Saat sakit / dirawat di rumah sakit klien hanya menghabiskan rata-rata ¼ porsi pemberian. . Untuk pemerliharaan kesehatan klien selalu memeriksakan diri ke dokter atau mantri praktek di sekitar rumahnya. dengan sayur dan lauk.- EKG : ST elevasi Infus NaCl 30 tetes per menit Injeksi Reguler Insulin 3 X 12 iU Rawat luka dan nekrotomi Metronidazol : 3 X 500 gr Captopril : 2 X 12. Pola Nutrisi / metabolik Program diit RS: DM IV (1700 kalori) Intake makanan : sebelum sakit klien makan 3 kali sehari. BB tidak terkaji. Klien mempunyai pantangan makanan yaitu daging kambing. 2. Saat di rumah sakit ini klien mendapat cairan infus 1000 ml sehari dan minum air putih 3 – 4 gelas sehari . karena klien dan keluarga hanya mengetahui kalau klien tersebut dirawat di rumah sakit hanya karena adanya luka ulkus di tumit tersebut. Intake cairan : sebelum sakit klien minum 6 – 7 gelas sehari.Pengkajian Saat Ini 1. Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan Klien dan keluarga belum mengetahui penyakit diabetes mellitus yang diderita klien. Menurut klien BB turun dari biasanya. minuman pantangan kopi.

4. Oksigenasi: Klien bernafas secara spontan tanpa bantuan alat oksigenasi. Dan saat sakit di rumah sakit klien sekali per dua atau tiga hari. Pola Tidur dan Istirahat . Dan selama di rumah sakit klien terpasang dower cateter mulai tanggal 23 Maret 2005. warna kuning. Buang air kecil Sebelum sakit klien BAK 7 – 8 kali sehari.3. Buang air besar Sebelum sakit: sekali per dua atau tiga hari. 1: alat Bantu. Pola Eliminasi a. Dalam satu hari ± 800 CC warna kuning pekat. b. dengan konsistensi padat. 4 : tergantung total. 5. 2: dibantu orang lain. 3: dibantu orang lain dan alat. Pola Aktivitas dan Latihan Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4 Makan / Minum  Mandi  Toileting  Berpakaian  Mobilitas di Tempat Tidur  Berpindah  Ambulasi / ROM  0 : mandiri.

2. merasa panas seperti terbakar. 10. 11. Dengan suami yang pertama mempunyai 7 anak dan dengan suami yang kedua klien tidak mempunyai anak. tapi meyakini apapun penderitaannya Tuhan yang mengaturNya. skala 5-6 . Komunikasi dengan perawat sekarang hanya apabila ditanya.Klien tidur selama 7-8 jam setiap hari. Keluhan Yang Dirasakan Saat Ini: Nyeri pada luka di tumit kaki kiri. Pola Persepsi Diri Klien mengatakan pasrah dengan penyakit yang dideritanya. Pola Perceptual Klien mengatakan bahwa tidak ada perubahan pada penglihatan dan klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran. Sistem Nilai dan keyakinan Sebelum sakit klien taat sholat. klien menikah dua kali. 6. tidak ada gangguan tidur. Pola Seksualitas dan Reproduksi Klien sudah menopouse. 7. IV. Klien merasa senang dan bahagia karena didampingi oleh suami yang kedua. Saat di rumah sakit klien banyak istirahat dan tidur. saat sakit klien tidak bisa sholat lagi. Tanda-tanda Vital . menggunakan bahasa jawa. Pola Peran-hubungan Klien lebih dekat dengan suami. 9. 8. Pola Managemen koping-stress Setiap ada permasalahan klien senantiasa didampingi oleh keluarganya. Pemeriksaan Fisik 1.

Thorak Inspeks Perkusi Palpasi : : : simetris Sonor kanan kiri fremitus kanan dan kiri./ -). Auskultasi : Auskultasi : 9. gigi banyak yang sudah tanggal. Reflek : bibir kelihatan kering. Kepala Bentuk Rambut Mata Mulut 6. Abdomen Inspeks Palpasi Perkusi : : : Perut kelihatan lebih besar. Inguinal dan genitalia .(3) Suhu (4) Nadi (5) Pernafasan (6) Tekanan Darah 4. klien tampak gemuk. BB / TB TB = 150 cm. : 36. Abdomen supel.5 C : 80 X/menit : 20 X/menit : 160/100 mmHg BB tidak terkaji. sedikit beruban : Conjungtiva : tidak pucat (-/-). hati dan limfe tidak teraba. Sklera: ikterus (. Tidak ada peningkatan JVP. paru-paru : Vesikuler kanan kiri Jantung 8. Leher Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid. 5. tidak ada pembesaran limfe nodus. dengan diameter 30 cm. 7. iktus cordis teraba : normochepal : lebat. tidak ada ketinggalan gerak. cahaya +/+. nyeri tekan (-) timpani Peristaltik 20 x per menit : S1 S2 murni. fungsi penglihatan baik.

Tidak ada kelainan di regio inguinal. nekrotomi B TB Tanggal 29 Maret 2005 . Ekstremitas Terdapat ulkus di tumit kaki kiri. nekrotomi Cek GDN dan 2 jam PP Diit DM IV (1700 kalori) Infus NaCl 30 tetes per menit Injeksi Reguler Insulin 3 X 12 iU Metronidazol : 3 X 500 gr (IV) Captopril : 2 X 12. 10. Terdapat udema di bagian distal kaki kiri.5 mg (oral) Ceftriaxon : 2 X 1 gr (IV) Perawatan luka. luas ulkus dengan diameter ± 5 cm kadalamannya ± 1 cm. Klien terpasang dower catheter sejak tanggal 23 maret 2005. Infus terpasang di tangan kiri. Pergerakan : B B 11. Program Terapi Tanggal 28 Maret 2005 Diit DM IV (1700 kalori) Infus NaCl 30 tetes per menit Injeksi Reguler Insulin 3 X 14 iU Metronidazol : 3 X 500 gr (IV) Captopril : 2 X 12.5 mg (oral) Ceftriaxon : 2 X 1 gr (IV) Perawatan luka. nampak jaringan nekrotik warna putih.

22 515.6 – 1.29 3.1 1.5) Creatinin : .7-6. nekrotomi Diit DM IV (1700 kalori) Infus NaCl 30 tetes per menit Injeksi Reguler Insulin 3 X 12 iU Metronidazol : 3 X 500 gr (oral) Captopril : 2 X 12. 9 mg/dl 47.5 mg (oral) Ceftriaxon : 2 X 1 gr (IV) Perawatan luka.4 14.3) (80 – 120) (20 – 40) (3.8 22. nekrotomi Cek GDN dan 2 jam PP Tanggal 31 Maret 2005 12.81106/μl (10 – 40) (10 – 42) (7 – 18) (0. Hasil Pemeriksaan Penunjang Tanggal 23 Maret 2005 Normal ALT AST BUN Glukosa Ureum RBC : : : : : : 16.Tanggal 30 Maret 2005 Diit DM IV (1700 kalori) Infus NaCl 30 tetes per menit Injeksi Reguler Insulin 3 X 12 iU Metronidazol : 3 X 500 gr (IV) Captopril : 2 X 12.5 mg (oral) Ceftriaxon : 2 X 1 gr (IV) Perawatan luka.

1 9/dl 31.6 103/μl 21.HGB HCT MCV MCH PLT RDW PDW MPV : : : : : : : : 10.2-11.3 mg/dl 154 mg/dl 327 mg/dl 2 Jam PP : 26 Maret 2005 GDN : 2 Jam PP : 28 Maret 2005 GDN : 2 Jam PP : .9 mg/dl 261 mg/dl 431.2 % 87.9103/μl (0-8) (40-74) (1-3.5-7) 24 Maret 2005 GDN : 407.3 % 1.7) (0-1.0 mg/dl 476.9 Fl 8.2) (1.1) Differential MXD Neut Lym# MXD# Neut# : : : : : 6.2 Fl 9.6 103/μl 1.4 Fl (12-18) (47-75) (80-99) (27-31) (150-450) (35-47) (9-13) (7.6 % 82.9 Fl 26.5 Fl 386 103/μl 42.

merasa panas seperti terbakar Terpasang DC sejak tanggal 23 2 Maret 2005 S. O. skala 5-6 .1 103/uL HGB 10. Wajah tegang saat ulkus dibersihkan Klien menyeringai saat ulkus di 3. nyeri seperti terbakar.1 103/uL HGB 10. skala 5-6.ANALISA DATA No 1. S : Klien mengatakan tidak bisa Ketidakseimbangan Faktor biologis . S : Data Masalah PK : Infeksi Etiologi O : WBC = 25. tekan S : Klien mengeluh nyeri pada luka Kerusakan integritas O : WBC = 25. Klien mengeluh nyeri pada luka ulkus grade 2 di tumit kaki kiri. Nyeri akut Agen injury: fisik 4. perubahan sirkulasi.1 gr/dl luka Ulkus grade 2 di tumit kaki kiri.1 gr/dl Ulkus grade 2 di tumit diameter ± 5cm GDN 28 maret 2005 = 154 mg/dl GD 2 jam PP 28 maret 2005 = 327 mg/dl jaringan Faktor mekanik: mobilitas dan penurunan neuropati.

Kebutuhan ADL klien dibantu S: Klien mengatakan kalau Defisit pengetahuan: datang hanya tersebut. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury : fisik . GD 2 jam PP 28 maret 5. Klien menanyakan tentang penyakitnya.1 gr/dl GDN 28 maret 2005 = 154 mg/dl.menghabiskan diit yang diberikan dan merasa bahwa berat badannya turun meskipun tidak ditimbang. PK : infeksi 2. O : Diit yang diberikan habis ¼ HGB 10. O: Klien bingung saat ditanya tentang penyakit DM S: Klien mengatakan sudah PK: HIpertensi sejak 10 tahun yang lalu menderita tekanan darah tinggi O: Tekanan darah tgl 28 Maret 2005 adalah 160/100 mmHg di rumah sakit ini proses penyakit dan karena luka ulkus perawatannya 7. intoleransi aktivitas Kurang familier dengan sumber informasi 6. Diagnosa Keperawatan: 1. nurisi: kurang dari kebutuhan tubuh 2005 = 327 mg/dl S: Klien mengatakan nyeri saat Kerusakan mobilitas melakukan kegiatan O: Seluruh aktivitas dan fisik Tidak nyaman nyeri.

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan tidak nyaman nyeri. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan Faktor mekanik: mobilitas dan penurunan neuropati. intoleransi aktivitas. 6. Ketidakseimbangan nurisi: kurang berhubungan dengan Faktor biologis 5. PK: Hipertensi . perubahan sirkulasi. 4.3. Defisit pengetahuan tentang proses penyakit DM dan perawatannya berhubungan dengan Kurang familier dengan sumber informasi 7.

g) Monitor mual dan muntah. rasa tidak enak badan.RENCANA KEPERAWATAN No. . f) Amati rambut yang kering. hemoglobin dan hemaktokrit. protein total. Dengan criteria: a) intake makan dan minuman b) intake nutrisi c) control BB d) masa tubuh e) biochemical measures f) energy Monitoring Gizi . keletihan dan kelemahan. pengurangan dan penambahan berat badan. h) Amati tingkat albumin. d) Monitor respons emosional pasien ketika ditempatkan pada suatu keadaan yang ada makanan. j) Amati jaringan penghubung yang pucat. e) Monitor lingk tempat makanan.Mengidentifikasi a) Timbang berat badan pasien kekurangan dan pada interval tertentu. penyimpangan dari b) Amati kecenderungan kebutuhan teraupetik. k) Monitor masukan kalori dan bahan makanan b. c) Monitor jenis dan jumlah latihan yang dilaksanakan. kemerahan dan kering. tipis dan mudah rontok. 4. DIAGNOSA KEPERAWATAN/ MASALAH KOLABORASI Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan faktor biologis TUJUAN PERENCANAAN INTERVENSI RASIONAL Setelah dilakukan tindakan keperawaatan selama 6 hari Status Nutrisi meningkat. i) Monitor tingkat energi.

e) Ajari pasien tentang diet yang benar berdasarkan kebutuhan tubuh. a. c) Kerja sama dengan ahli gizi dalam menentukan jumlah kalori. f) Timbang berat badan secara teratur. DIAGNOSA KEPERAWATAN/ MASALAH KOLABORASI TUJUAN PERENCANAAN INTERVENSI b. protein dan lemak secara tepat sesuai dengan kebutuhan pasien. . kalori tinggi dan makanan bergizi yang sesuai.RENCANA KEPERAWATAN No. j) Pastikan kemampuan pasien untuk gizinya. g) Anjurkan penambahan intake protein. zat besi dan vitamin C yang sesuai. h) Pastikan bahwa diet mengandung makanan berserat tinggi untuk mencegah sembelit. i) Berikan makanan berprotein tinggi. Manajemen Nutrisi b) Tanyakan pada pasien apakah memiliki alergi makanan. d) Anjurkan masukan kalori sesuai dengan kebutuhan. memenuhi kebutuhan RASIONAL Nurisi yang adekuat sesuai kebutuhan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi klien.

poliphagia. . pandangan kabur atau sakit kepala c) Monitor v/s :TD dan nadi sesuai indikasi d) Berikan insulin sesuai resep e) Pertahankan akses IV f) Berikan IV fluids sesuai kebutuhan g) Konsultasi dengan dokter jika tanda dan gejala hiperglikemia menetap atau memburuk h) Dampingi/ Bantu ambulasi jika terjadi hipotensi i) Batasi latihan ketika gula darah >250 mg/dl khususnya adanya keton pada urine j) Anjurkan banyak minum k) Monitor status cairan I/O sesuai kebutuhan RASIONAL Hiperglikemia dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya: terlalu banyak makan. keletihan. terlalu sedikit insulin. Managemen Hiperglikemia a) Monitor tingkat gula darah sesuai indikasi b) 23Monitor tanda dan gejala polyuria.RENCANA KEPERAWATAN No. polidypsia. dan kurang aktivitas. DIAGNOSA KEPERAWATAN/ MASALAH KOLABORASI TUJUAN PERENCANAAN INTERVENSI c.

RENCANA KEPERAWATAN No. DIAGNOSA KEPERAWATAN/ MASALAH KOLABORASI Kerusakan integritas jaringan b/d factor mekanik : perubahan sirkulasi. dan klasifikasi pengaruh ulcers b) Catat karakteristik cairan secret yang keluar c) Bersihkan dengan cairan anti bakteri d) Bilas dengan cairan NaCl 0.9% e) Lakukan nekrotomi f) Lakukan tampon yang sesuai g) Dressing dengan kasa steril sesuai kebutuhan h) Lakukan pembalutan i) Pertahankan tehnik dressing steril ketika melakukan perawatan luka j) Amati setiap perubahan pada balutan k) Bandingkan dan catat setiap adanya perubahan pada luka l) Berikan posisi terhindar dari tekanan RASIONAL Pengkajian luka lebih realible dilakukan pemberi asuhan sama dengan posisi sama dan tehnik sama akan oleh yang yang yang Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari Wound healing meningkat: Dengan criteria Luka mengecil dalam ukuran dan peningkatan granulasi jaringan . 3. imobilitas dan penurunan sensasibilitas (neuropati) TUJUAN PERENCANAAN INTERVENSI Wound care a) catat karakteristik luka:tentukan ukuran dan kedalaman luka.

c) Jelaskan tentang proses penyakitnya. e) Jelaskan secara rasional tentang pengelolaan terapi atau perawatan yang dianjurkan. g) Jelaskan komplikasi kronik yang mungkin terjadi. i) Menilai tingkat pengetahuan pasien yang berhubungan dengan penyakitnya.7. b) Menjelaskan tentang proses penyakit. c) Membuat daftar sumber yang akan digerakkan sebagai sumber informasi Pembelajaran proses penyakit a) Jelaskan patofisiologi dari penyakitnya dan bagaimana hubungannya dengan anatomi dan fisiologi. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari dapat mengidentifikasi manajemen diabetes Dengan criteria: a) Mendemonstrasikan bagaimana gambaran tentang prosedur yang akan dijalani. perlunya pengobatan dan memahami perawatan. f) Berikan dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan pilihannya atau mendapatkan second opinion. d) Diskusikan perubahan gaya hidup yang bisa untuk mencegah komplikasi atau mengontrol proses penyakit. h) Anjurkan pada pasien untuk mencegah atau meminimalkan efek samping dari penyakitnya. Kurang pengetahuan tentang Proses Penyakit Diabetes Mellitus berhubungan dengan tidak mengenal (familiar) dengan sumber informasi. b) Jelaskan tanda-tanda dan gejala yang umum dari penyakitnya. Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pertimbangan memilih gaya hidup dapat melakukan tindakan pencegahan supaya tidak terjadi komplikasi .

Dengan pengajaran prosedur perawatan pemahaman klien dan keluarga mengenai prosedur perawatan akan meningkatkan kerja sama yang saling menguntungkan antara perawat dan klien. b) Beritahu pasien atau orang lain yang berkepentingan tentang siapa yang akan melakukan prosedur perawatan tersebut.Pengajaran Prosedur Perawatan a) Beritahu pasien atau orang lain tentang kapan dan dimana. . c) Pastikan pengalaman masa lalu pasien dan tingkat pengetahuan yang berhubungan dengan prosedur perawatan selama tepat. h) Berikan waktu bagi pasien untuk menanyakan pertanyaan dan membicarakan hal-hal yang berkaitaan dengan prosedur perawatan. f) Ajari pasien tentang bagaimana cara bekerja sama selama prosedur g) Ajari pasien untuk menggunakan teknik relaksasi selama prosedur. berapa lama prosedur perawatan akan berlangsung selama tepat. d) Terangkan tujuan dari prosedur e) Terangkan kegiatan sebelum dilakukan prosedur perawatan.

Nyeri berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan dengan agen injury : fisik. Menurunkan ketegangan b) Berikan posisi yang nyaman Menurunkan stimulasi c) Berikan lingkungan yang tenang dapat menurunkan ketegangan Mengetahui tingkat nyeri d) Monitor respon verbal dan non utk menentukan verbal nyeri intervensi e) Monitor vital sign Nyeri mempengaruhi f) Kaji factor penyebab TTV Intervensi disesuaikan g) Berikan support emosi dengan penyebab Emosi berpengaruh thd h) Lakukan touch terapi nyeri i) Lakukan teknik distraksi dan Klien merasa relaksaski diperhatikan Mengalihkan perhatian j) Lakukan anxiety reduction untuk mengurangi nyeri Kecemasan dapat Management medication meningkat Kolaborasi pemberian analgetik Analgetik memblokade reseptor nyeri . menentukan tindakan selanjutnya. selama 6 hari klien dapat Ulkus DM di kaki dan tindakan Kontrol nyeri dan mengidentifikasi Tingkat nekrotomi nyeri. presipitasi.2. Mengetahui subyektifitas frekuensi. durasi dan klien terhadap nyeri untuk lokasi. Dengan criteria hasil: a) penampilan rileks b) Klien menyatakan nyeri berkurang c) skala nyeri 0-2 Akut Pain manajemen a) Kaji tingkat nyeri: kualitas.

Exercise promotion a) Bantu identifikasi program latihan yang sesuai b) Diskusikan dan instruksikan pada klien mengenai latihan yang tepat Exercise terapi ambulasi a) Anjurkan dan Bantu klien duduk di tempat tidur sesuai toleransi b) Atur posisi setiap 2 jam atau sesuai toleransi c) Fasilitasi penggunaan alat bantu ROM exercise membantu mempertahankan mobilitas sendi. mencegah kontraktur.5. keteraturan. Latih ROM pasif. Kerusakan fisik Setelah dilakukan tindakan keperawatan berhubungan dengan tidak selama 6 hari dapat nyaman nyeri. Meningkatkan dan membantu berjalan/ ambulasi atau memperbaiki otonomi dan fungsi tubuh dari injuri . meningkatkan sirkulasi. meningkatkan kenyamanan. Self care:ADLs Dengan criteria hasil: a) aktivitas fisik meningkat b) ROM normal c) Melaporkan perasaan peningkatan kekuatan kemampuan dalam bergerak d) klien bisa melakukan aktivitas e) kebersihan diri klien terpenuhi walaupun dibantu oleh perawat atau keluarga mobilitas Terapi Exercise : Pergerakan sendi a) Pastikan keterbatasan gerak sendi yang dialami b) Kolaborasi dengan fisioterapi c) Pastikan motivasi klien untuk mempertahankan pergerakan sendi d) Pastikan klien untuk mempertahankan pergerakan sendi e) Pastikan klien bebas dari nyeri sebelum diberikan latihan f) Anjurkan ROM Exercise aktif: jadual. otot. intoleransi teridentifikasi Mobility level aktivitas. Pengetahuan yang cukup akan memotivasi klien untuk melakukan latihan. penurunan kekuatan Joint movement: aktif.

kulit d) Monitor kemampuan perawatan diri klien e) Dorong klien melakukan aktivitas normal keseharian sesuai kemampuan f) Promosi aktivitas sesuai usia Self care assistance:dressing/groming a) Berikan baju sesuai ukuran b) Fasilitasi klien menyisir c) Pelihara privasi ketika berpakaian Self care assistance:feeding a) Identifikasi preskripsi diet b) Set tray makanan dan meja secara aktraktif c) Kreasikan lingkungan menarik d) Monitor dan catat intake Self care assistance:toileting a) Dorong keluarga untuk berpartisipasi untuk kegiatan toileting b) Berikan bantuan sampai klien dapat melakukan eliminasi secara mandiri c) Fasilitasi kebersihan /hygiene toiletsetelah dipakai d) Anjurkan klien membiasakan jadwal rutin ketoilet.Self care assistance: Bathing/hygiene a) Dorong keluarga untuk berpartisipasi untuk kegiatan mandi dan kebersihan diri klien b) Berikan bantuan sampai klien dapat merawat secara mandiri c) Monitor kebersihan kuku. sesuai kebutuhan dan kemampuan e) Berikan privasi Memfasilitasi pasien dalam memenuhi kebutuhan perawatan diri untuk dapat membantu klien hingga klien dapat mandiri melakukannya. .

i) Gunakan sarung tangan sesuai peraturan tindakan pencegahan. n) Berikan terapi antibiotik sesuai instruksi menunjukkan dilakukan selama 6 hari klien dapat c) Kaji dan observasi daerah ulkus e) Monitor jika ada infeksi di daerah secepatnya. j) Ganti IV line sesuai aturan yang berlaku. l) Pastikan teknik perawatan luka secara tepat.RENCANA KEPERAWATAN No. leukosit dan bandingkan dengan angka normal.angka leukosit normal dengan f) PERENCANAAN INTERVENSI Tanda infeksi RASIONAL vital sehingga bisa adanya dapat tindakan dilakukan a) Pantau tanda dan gejala infeksi keperawatan b) Kaji tanda-tanda vital dan d) Monitor angka leukosit lain Kolaborasi pemberian antibiotik: ceftriaxon 2 x 1 gr IV. Infeksi TUJUAN Setelah tindakan Mengelola meminimalkan komplikasi. k) Pastikan perawatan aseptik pd IV line. h) Gunakan sabun antimikroba untuk cuci tangan yang sesuai. m) Dorong pasien untuk istirahat.tanda vital stabil . . criteria hasil: . DIAGNOSA KEPERAWATAN/ MASALAH KOLABORASI PK. metronidazol 3 x 500 gr (IV) g) Monitor jumlah granulosit. 1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN/ MASALAH KOLABORASI PK. perawat dapat meminimalkan komplikasi c. sakit kepala. pandangan kabur f.RENCANA KEPERAWATAN No. . Ajarkan klien untuk menunjukkan hipertensi dengan edema ringan atau tanpa edema g. Kaji dan ajarkan untuk melaporkan adanya: edema. Jamin istirahat L klien untuk mendapatkan terhadap RASIONAL Edema akibat retensi garam berhubungan dengan penurunan filtrasi glomerulus Setelah dilakukan a. dari hipertensi d. gangguan penglihatan. Hipertensi TUJUAN PERENCANAAN INTERVENSI Ukur tekanan darah Pantau berat badan setiap hari Pantau edema Pantau hasil laboratorium proteinuria e. 7. tindakan keperawatan b.

00 Jam 10. respirasi 20 X/menit.40 Jam 10.TD: 160/90mmHg nadi 80 X/menit.50 Jam 11.45 Jam 12.00 Jam 11.55 vital Memberikan injeksi antibiotik ceftriaxon 2 x 1 Memonitor tanda Memonitor tanda dan gejala infeksi Mengganti linen klien Melakukan dressing infus Memonitor WBC Memonitor balutan Jam 13. respirasi 24X/menit.00 Jam 10.00 S:O:-kondisi luka kemerahan .00 Jam 09.15 Jam 12.TD: 160/80mmHg nadi 84 X/menit.45 vital Kolaborasi antibiotik: ceftriaxon 2 x 1 gr (IV) Memonitor keadaan umum klien 1 30-03-05 Jam 07.00 injeksi ceftriaxon Implementasi Memonitor tanda dan gejala infeksi Merawat luka ulkus Memonitor WBC Memonitor tanda Evaluasi Jam 13.00 Jam 11.5 0 C A: Masalah teratasi sebagian P: Jam 19.00 S:O:-kondisi luka basah . suhu 36.05 Jam 07.IMPLEMENTASI DAN CATATAN PERKEMBANGAN No DK 1 Tanggal 29-03-05 Jam 08.10 Jam 11. suhu 36 0 C A: Masalah teratasi sebagian P: Pantau adanya tanda-tanda infeksi Paraf .10 luka Jam 12.25 Jam 10.

respirasi 20 X/menit.30 Jam 10.10 Jam 12.45 Jam 13.00 S : Klien merasa nyaman setelah linen dibersihkan.00 Jam 11.40 Jam 11. suhu 36 0 C A: Masalah teratasi sebagian P: Pantau adanya tandatanda infeksi mampu menghabiskan ¾ porsi diit IMPLEMENTASI DAN CATATAN PERKEMBANGAN . Klien yang diberikan O:TD: 170/100mmHg nadi 80 X/menit.00 vital Memberikan injeksi ceftriaxon 2 x 1 gr (IV) Memonitor keadaan umum klien Menganjurkan untuk menghabiskan diit yg diberikan Mengganti linen Memonitor tanda dan gejala infeksi Memonitor WBC Memonitor tanda Jam 13.gr (IV) Memonitor keadaan umum klien Menganjurkan klien makan dan istirahat yang cukup 1 31-03-05 Jam 07.

00 S: Klien mengatakan masih terasa nyeri saat ulkus dirawat.tipe Evaluasi Jam 13.00 - memberikan posisi yang nyaman Memberikan lingkungan yang tenang Memonitor respon verbal dan non verbal Mengkaji faktor penyebab Memberikan support emosi Memonitor vital sign O: Ekspresi wajah tegang saat 2 29-03-05 Jam 08.00 S: Klien mengatakan masih terasa nyeri saat ulkus dirawat.No DK 2 Tanggal 28-03-05 Jam 10.Memonitor respon verbal dan non verbal Jam 11.Mengkaji nilai dan karakteristik nyeri .00 - Implementasi mengkaji karakteristik nyeri:lokasi.Memberikan posisi yang Jam 10.Mengukur vital sign . Paraf Jam 11.00 Jam 12. Skala nyeri 5 O: Ekspresi wajah tegang saat ulkus dirawat Klien mampu melakukan teknik distraksion (nafas dalam) Nadi 84x/menit A: Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan monitoring nyeri Ajarkan teknik non terapi sesuai dirawat.15 .durasi.00 nyaman .Mengobservasi keadaaan pasien .50 Jam 09.Mengajarkan teknik non farmakologi sebelum ulkus dirawat .00 . Skala nyeri 5-6 ulkus nadi:88x/menit A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan monitoring nyeri Kelola program Ajarkan teknik non farmakologi Jam 13.00 Jam 13.

Membantu klien dengan mendiskusikan respon koping memanage nyeri Jam 11.00 . masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan rencana .Observasi keadaan klien 2 31-03-05 Jam 07.Mengukur vital sign .Memonitor respon verbal dan non verbal farmakologi Jam 13.00 S : klien mengatakan ada perubahan meskipun nyerinya masih sekitar 2-3 Ekspresi wajah rileks ketika berbicara Nadi 80 x / menit A: Nyeri berkurang.00 Jam 13. merapikan tempat tidur Jam 08.5 O: Ekspresi wajah tegang saat ulkus dirawat Klien mampu melakukan distraksion (nafas dalam) nadi:84 x / menit A: Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan monitoring nyeri .00 .Memberikan posisi yang nyaman .Observasi keadaan klien O: Jam 13.30 .15 .Mengkaji tingkat nyeri sebelum ulkus dirawat .2 30-03-05 Jam 10.Mengajarkan nafas dalam S: Klien mengatakan masih Jam 13.Mengkaji nilai nyeri dan mendengarkan respon klien Jam 07.00 terasa nyeri berkurang skala nyeri 4 .Memfasilitasi lingkungan yang tenang.10 .30 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->