Anda di halaman 1dari 45

Sejarah Ilmu Penyakit Tumbuhan

Bukti bukti mengenai adanya penyakit pada tumbuhan dapat diketahui dalam bentuk fosil, yang diduga berasal dari masa kira-kira 50 juta tahun yang silam; yakni berupa jamur yang menyerang tumbuhan. Namun ada kecenderungan bahwa penyakit tumbuhan semakin penting artinya setelah manusia mulai mengenal cara-cara bercocok tanam, yaitu 10 ribu tahun yang lalu.

Jadwal Kuliah : Ilmu Penyakit tumbuhan.

1. Pendahuluan 2. Konsep, terminologi, diagnosis dan klasifikasi penyakit tumbuhan. 3. Parasitisme, patogenisitas, patogenesis dan siklus penyakit. 4.Penetrasi patogen ke dalam tumbuhan. 5. Ujian KD 1. 6. Inokulum, inokulum bertahan dan inokulasi. 7. Dampak patogen terhadap terhadap fungsi fisiologis tumbuhan. 8. Mekanisme pertahanan tanaman terhadap patogen. 9. Genetika penyakit tumbuhan. 10. Ujian KD 2. 11. Pengaruh faktor luar terhadap perkembangan penyakit. 12. Epidemiologi 13. Pengukuran penyakit 14. Pengelolaan penyakit 15. Ujian KD 3 16. Ujuan KD 4 (Tugas) Presentasi.

Bukti tertulis mengenai adanya penyakit tumbuhan tersebut dapat dilihat misalnya dalam kitab Perjanjian Lama ( mengenai sejarah orang Yahudi kuno ), dengan didapatkannya penyakit blight dan mildew pada tanaman serealia dan anggur. Demikian pula pada bekas peninggalan kebudayaan Mesir ( kira-kira 4500 tahun yang lalu ), dapat kita temukan gambar-gambar timbul yang menunjukkan bagaimana tumbuhan diserang hama/penyakit ; gambaran tersebut memberikan informasi tentang hukuman Tuhan atau dewa pada manusia yang ingkar.

1. Sejarah Ilmu Penyakit

Tumbuhan.

Sejarah penyakit tumbuhan semakin jelas setelah menginjak zaman kekaisaran Romawi ( + 700 tahun sebelum Masehi ), dengan dikenalnya penyakit karat pada tumbuh-tumbuhan serealia. Kemudian pada sekitar tahun 372 287 sebelum Masehi, muncullah buku dengan judul Historia Plantarum yang menyebutkan beberapa macam penyakit tumbuhan beserta dugaan penyebabnya. Buku tersebut merupakan hasil karya seorang filosof Yunani yang bernama Theophrastus. Titik berat bahasan terjadinya penyakit tersebut adalah karena adanya ketidak seimbangan antara empat unsur pokok, yakni : tanah, air, udara dan api. Pemikiran ini walau pun tidak benar seratus persen , tetapi telah memberikan dasardasar penting yang menjadi dasar utama ilmu penyakit tumbuhan modern, yaitu terlibatnya faktor-faktor alam bagi epidemi suatu wabah penyakit.

Sejarah Ilmu Penyakit Tumbuhan.


Menginjak abad VI, penyakit tumbuhan tertulis semakin jelas, hal ini dapat dilihat di dalam kitab suci Al Quran. Di dalamnya disebutkan secara tersirat tentang gejala, jenis penyakit dan etiologinya : Kami ( Allah ) telah menguji pemilik kebun ( anggur ), ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti panen esok hari ; mereka lupakan ( dalam pembicaraannya ) hak-hak fakir miskin; akibatnya Allah turunkan pada malam harinya organisme penyebab penyakit ( bisa jamur, virus atau bakteri ) pada saat pemilik kebun tersebut tidur lelap; hingga tampaklah kebun tersebut ( menunjukkan gejala ) hitam lekam. ( Al Qalam, 17-20).

Penyebab-penyebab penyakit tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, mudah dimengerti bahwa pada masa itu orang menghubungkan penyakit-penyakit tumbuhan dengan takhayul-takhayul atau kekuatan-kekuatan gaib. Juga di Jawa terdapat kepercayaan-kepercayaan yang berhubungan dengan penyakit dan hama padi. Pada waktu yang silam banyak petani yang percaya bahwa padi adalah inkarnasi Dewi Sri, sedangkan penyakit dan hama padi adalah inkarnasi Kala Gumarang , raksasa yang semasa hidupnya selalu mengejar Dewi Sri. Demikian pula ada petani-petani di daerah tertentu yang percaya bahwa penyakit mentek pada padi disebabkan oleh setan-setan yang berbentuk kanak-kanak yang berseliweran di sawah.

Sejarah Ilmu Penyakit Tumbuhan.


Penyakit karat pada gandum sangat ditakuti pada zaman Romawi Kuno. Mereka percaya bahwa penyakit karat ini dikuasai oleh dewa tertentu, yaitu Dewa Robigus. Sekali setahun mereka menyelenggarakan upacara yang disebut Robigalia untuk memuja Dewa tersebut. Hal ini dimulai oleh Raja Nauma Pompilus, lebih kurang pada tahun 700 SM dan diteruskan dengan mengalami perubahan-perubahansampai ketahun Masehi. Cleidemus (Yunani, 350 SM) menulis adanya penyakit-penyakit pada tanaman zaitun dan anggur. Aristoteles (Yunani, 325 SM) menulis tentang penyakit-penyakit anggur dan gandum. Dalam tulisan Theophrastus (Yunani, 300 SM), yang terkenal dng gelarnya Bapak Ilmu Tumbuhan dapat ditemukan bermacammacam penyakit seperti yang dijumpai dewasa ini misal: penyakit gosong, karat, penyakit busuk dan kudis.

Ilmu penyakit tumbuhan terus berkembang, 1729-1800 berbagai ilmuwan mempelajari taxonomi dari cendawan,terutama penyebab karat, gosong dan cendawan dari kelas Ascomycetes.
Henrich Anton de Bary ( 1853 ) mengemukakan kesimpulan dan membuktikan melalui demontrasi bahwa cendawan adalah penyebab penyakit bukan akibat/hasil dari penyakit tumbuhan. Beliau dijuluki Bapak Ilmu Penyakit Tumbuhan dan banyak bekerja dengan Phytophthora infestans penyebab hawar daun kentang dan siklus hidup Puccinia graminis tritici penyebab karat pada gandum. Buku teks pertama dalam ilmu penyakit tumbuhan diterbitkan pada tahun 1858 oleh Julius Kuhn (penulis), dengan judul Die Kranheiten der Kulturewachse ihre Ursachen un ihre Verhutung ( Penyakit tanaman, Penyebarannya dan Pencegahannya )

Di Indonesia , penyakit tanaman mulai mendapat perhatian dari Pemerintah Hindia Belanda baru pada tahun 1877 yaitu saat epidemik berat penyakit karat daun kopi ( Hemileia vastatrix ) di Sri Langka. Untuk mencegah penyebaran karat kopi ke Indonesia, pemerintah Belanda mengeluarkan ordonansi 19 Desember 1877 yang melarang pemasukan tanaman kopi dari Sri Langka. Sejak 1887 dimulailah kegiatan penelitian di bidang fitopatologi yang dipelopori oleh Treub, Burch dan Warburg yang meneliti penyakit sereh pada tebu, karat daun kopi dan kanker pada kina. Kemudian van Breda de Haan meneliti berbagai penyakit tembakau.

Ilmu , Arti Seni dan Tujuan Ilmu Penyakit Tumbuhan.


Ilmu Penyakit Tumbuhan merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik penyakit, penyebab penyakit, interaksi tumbuhan dan patogen, dan lingkungan biotik serta abiotik, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit dalam suatu populasi atau individual tumbuhan dan berbagai cara pengendalian penyakit. Ilmu penyakit tumbuhan juga memiliki aspek seni yaitu dalam aplikasi pengetahuan yang diperoleh dari mempelajari ilmu tersebut, misal dalam : - Mendiagnosis atau mengenal penyakit tertentu melalui gejala dan tanda penyakit - Menilai mengukur dan meramalkan penyakit - Merekomendasikan cara pengendalian yang tepat dan dapat diaplikasikan di lapangan.

Tujuan utama dalam mempelajari ilmu penyakit tumbuhan ialah mencegah atau menekan seminimum mungkin terjadinya penyakit tumbuhan, bukan hanya untuk meningkatkan produksi makanan tetapi juga untuk menjaga kuantitas dan kualitas dari hasil panen untuk mengamankan dan menjaga tanaman yang digunakan sebagai bahan serat, obat-obatan, dan komoditas yang memiliki nilai estetika.
Telah diketahui bahwa ketergantungan manusia terhadap tanaman sangat tinggi.

Kehilangan atau susut produksi tanaman dapat terjadi dalam berbagai cara, misal :
1. Penyusutan hasil panen karena tanaman sakit 2. Bercak dan hawar daun yang disebabkan oleh patogen, yang mengurangi kapasitas berfotosintesis. 3. Patogen akar yang menyebabkan aktivitas organ tanaman menurun. 4. Busuk buah atau bercak buah yang merugikan karena berkurangnya hasil panen secara kualitas dan kuantitas. 5. Adanya penyakit sudah tentu akan menambah biaya produksi karena diperlukannya tambahan untuk mengendalikan penyakit.

2. KONSEP, TERMINOLOGI, DIAGNOSIS DAN KLASIFIKASI PENYAKIT TUMBUHAN.

Definisi dan Terminologi dalam Ilmu Penyakit Tumbuhan.


Definisi dan konsep dari penyakit tumbuhan bermacam-macam, salah satu konsep yaitu yang dikemukakan oleh Whetzel ( 1929 ) merupakan konsep yang diterima banyak orang. Konsep penyakit tumbuhan tersebut ialah suatu fisiologis tumbuhan yang abnormal dan merugikan, yang disebabkan oleh faktor primer ( biotik/abiotik ), yang gangguannya bersifat terus menerus dan akibatnya dinyatakan oleh aktivitas sel/jaringan yang abnormal dan disebut gejala.

Konsep tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Agrios (1979 ), penyakit tumbuhan terjadi bila salah satu atau beberapa fungsi fisiologis tumbuhan menjadi abnormal karena adanya gangguan atau kondisi lingkungan tertentu ( abiotik faktor ).

Stakmann dan Harrar (1957), penyakit pada tanaman ialah suatu penyimpangan yang cukup tegas , tetap atau permanen dari pertumbuhan dan struktur yang normal pada tanaman, hingga menimbulkan gejala yang dapat dilihat, yang merugikan terhadap mutu dan menurunkan nilai ekonomi tanaman tersebut. Menurut N.H. White, penyakit ialah penyimpangan dari proses proses fungsional dan fisiologis yang normal di dalam tubuh tanaman dan berlangsung cukup lama , serta intensitasnya menimbulkan gangguan atau berhentinya aktivitas-aktivitas normal yang vital . Menurut Heald, penyakit ialah setiap penyimpangan daripada suatu tumbuhan, baik organ-organ maupun bagian tubuh lainnya, termasuk terhenti dan terganggunyan jalan dari fungsi-fungsi vital atau terjadi penyimpangan kesehatannya dari keadaan normal, yg mempunyai akibat yg merugikan baginya.

Sedangkan Klebalnn menyatakan bahwa , penyakit ialah setiap perubahan dari jalan hidupnya yang normal, yang bersifat merugikan.

Soraurer : membedakan penyakit pada tanaman itu atas : 1. Penyakit absolut ( mutlak ), ialah segala peristiwa atau gangguan yang disebabkan oleh jasad pengganggu ( biotis ), patologis, yang mengakibatkan terjadi penyimpangan dari keadaan normal pada kehidupan tanaman tadi. 2. Penyakit relatif ( nisbi ), ialah gangguan-gangguan pada tubuh tanaman , yang pada hakekatnya disebabkan oleh faktor abiotis dan non patologis, yang hanya merupakan akibat dari gangguan atau kesalahan pemeliharaan saja.

Diagnosis Penyakit
Diagnosis ialah suatu proses untuk mengidentifikasi suatu penyakit tanaman melalui gejala dan tanda penyakitnyang khas termasuk faktor-faktor lain yang berhubungan dengan proses penyakit tersebut. Diagnosis penyakit yang benar diperlukan untuk merekomendasikan cara pengendalian yang tepat dalam suatu survei penyakit tanaman. Diagnosis yang berdasarkan kepada sympton saja tidak memadai/cukup untuk identifikasi suatu penyakit tertentu karena banyak penyakit menimbulkan gejala yang sama walaupun penyebab penyakit/patogennya berbeda. Adanya tanda penyakit menambah kepastiansutu diagnosa, tetapi perlu juga diperhatikan kemungkinan akan adanya patogen sekunder atau saprofit yang menyerang bagian tanaman yang sudah terinfeksi pada tingkat lanjut. Jadi mungkin saja organisme yang diperoleh dari tumbuhan bergejala penyakit bukan merupakan patogen primer. Untuk itu perlu dibuktikan dng : Postulat Koch.

Klasifikasi Penyakit Tumbuhan

1. Klasifikasi berdasarkan organ tanaman yang diserang penyakit : a. Penyakit akar ; b. Penyakit daun ; c. Penyakit buah ; d. Penyakit batang. Klasifikasi tersebut berhubungan juga dengan proses fisiologis tumbuhan. 2. Klasifikasi yang berdasarkan gejala : a. bercak daun, karat , mosaik, layu dsb. 3. Klasifikasi berdasarkan tipe/jenis tanaman yg diserang : a. Penyakit sayuran ; b. Penyakit tanaman hutan : c. Penyakit tanaman pangan ; d. Penyakit tanaman perkebunan ; e. Penyakit tanaman hias dsb 4. Klasifikasi penyakit berdasarkan tipe dari patogen : a. Penyakit menular. B. Penyakit yang tidak menular ( abiotik/ non parasitik ).

Terminologi
Beberapa istilah umum yang dipakai dalam ilmu penyakit tumbuhan. Misal : Inokulum, patogen, parasit, parasit obligat, patogenisitas, parasit/ saprofit fakultatif, fitotoksisitas, fungitoksisitas, dll

3. Parasitisme, patogenisitas, patogenesis dan siklus penyakit.


Hubungan antara parasit dengan inangnya disebut Parasitisme. Parasit tumbuhan adalah organisme yang berhubungan sangat dekat dengan tumbuhan dan memperbanyak diri atau tumbuh pada tumbuhan yang dirugikannya. Parasit adalah suatu organisme atau virus yang melakukan asosiasi yang erat dengan organisme hidup lain untuk mendapatkan sebagian materi esensial dari organisme yang diserangnya untuk eksistensinya.
Patogenisitas adalah kemampuan parasit mengganggu satu fungsi penting tumbuhan atau lebih. Parasit/ saprofit obligat. Parasit/ saprofit fakultatif.

Patogenisitas : Kemampuan patogen untuk menimbulkan penyakit melalui suatu rangkaian proses yang disebut Patogenesis
Beberapa proses dalam patogenesis :
1. 2. 3. 4. Produksi dan penyebaran inokulum. Inokulasi tumbuhan peka oleh inokulum. Penetrasi tumbuhan peka oleh patogen. Infeksi dan terjadinya penyakit pada tbhn peka.

Dalam pembentukan dan perkembanganm tiap penyakit yang bersifat menular terjadi suatu seri dari beberapa tahap/ proses yang berlangsung kontinu secara berurutan. Proses yang terjadi berurutan dalam pembentukan dan perkembangan penyakit disebut siklus penyakit. Dalam siklus penyakit tercakup didalamnya aktivitas patogen pada saat ia tidak berada pada inangnya, demikian juga aktifitasnya saat ia ada pada atau didalam inangnya.

Tahap tahap Siklus Penyakit.

Tahap-tahap yang terjadi dalam siklus penyakit yaitu : Fase aktif yang dimulai (1) inokulasi, (2) penetrasi, (3) infeksi, (4) kolonisasi, (5) reproduksi, (6) diseminasi. Fase pasif ( saprogenesa ), dari fase saprogenesa kemudian dapat masuk ke fase aktif lagi. Penetrasi dapat berlangsung pasif atau aktif. Penetrasi dikatakan pasif bila patogen tidak berpatisipasi aktif, misalnya ketika sel bakteri terbawa oleh film air melalui stomata masuk ke dalam jaringan inang.

Penetrasi adalah aktif bila patogen berpatisipasi langsung secara aktif menembus dinding sel dan masuk kedalam jaringan inang, misalnya ketika spora cendawan berkecambah akan membentuk tabung kecambah, selanjutnya membentuk apresorium untuk melekatkan diri dengan kuat, kemudian membentuk hifa infeksi untuk menembus permukaan inang. Infeksi ialah proses yang terjadi setelah penetrasi yaitu tahap patogen sudah menetap dalam jaringan inang dan mendapatkan zat makanan dari inang. Kolonisasi merupakan proses kelanjutan dari infeksi, yaitu patogen melanjutkan pertumbuhannya dan mengkolonisasi inang.Kolonisasi adalah proses pertumbuhan dan perluasan aktivitas patogen melalui jaringan inang.

Diseminasi atau penyebaran.


Setelah gejala berkembang, tanda penyakit/struktur patogen dibentuk pada permukaan inang yang dikolonisasi. Struktur patogen yang berfungsi sebagai inokulum kemudian akan disebarkan/ didesiminasikan oleh agensia penyebar.

4. Penetrasi patogen ke dalam Tumbuhan.

Dalam patogenesa penyakit tumbuhan, penetrasi dan infeksi serta kolonisasi merupakan tahap-tahap yang terjadi setelah inokulasi dan disebut sebagai tahap penyerangan patogen terhadap inang, sedangkan inokulasi dan dan tahaptahap yang terjadi pada patogen setelah inokulasi tetapi sebelum masuknya patogen kedalam jaringan sel inang disebut pra penetrasi.

Penetrasi ialah masuknya patogen kedalam inang. Penetrasi disebut sempurna bila patogen berhasil melalui dinding sel primer atau masuk masuk area interselular sehingga patogen ada di dalam inang. Penetrasi dapat berlangsung pasif atau aktif. Penetrasi dikatakan pasif bila patogen tidak berpartisipasi aktif, misalnya ketika sel bakteri terbawa oleh film air melalui stomata masuk kedalam jaringan inang. Penetrasi adalah aktif bila patogen berpartisipasi langsung secara aktif menembus dinding sel dan masuk ke dalam jaringan inang , misal ketika spora cendawan berkecambah akan membentuk tabung kecambah, selanjutnya membentuk presorium untuk melekatkan diri dengan kuat kemudian membentuk hifa infeksi atau kapak penetrasi untuk menembus permukaan inang. Penetrasi aktif ini dapat dilakukan dengan adanya tekanan mekanik atau melalui proses enzimatik.

Setelah patogen berhasil kontak dengan permukaan sel inang, untuk melanjutkan siklus patogenesa maka ia harus menembus dinding sel yang terdiri dari selulosa, sel parenkima atau kutikula yang melapisi dinding sel. Seringkali pula harus menembus lapisan yang mengandung lilin yang terdapat diatas jaringan kutikula. Setelah patogen mampu berpenetrasi pada inangnya, ia mungkin belum dapat menggunakan zat makanan dari inangnya karena isi sel inang tidak selalu mengandung senyawa dalam bentuk yang tersedia untuk diabsorbsi dan digunakan oleh patogen.

Disamping rintangan-rintangan tersebut diatas, tumbuhan sebagai inang akan melakukan reaksi terhadap kehadiran dan aktifitas patogen, misal dengan membentuk struktur atau senyawa kimia yang dapat menghambat/mempengaruhi kehadiran dan perkembangan patogen.
Penyakit pada tumbuhan akan terjadi jika patogen mampu bertahan dan melanjutkan hidupnya pada inang artinya patogen mampu mengatasi segala rintangan tersebut diatas.

Faktor faktor yang mempengaruhi perkecambahan spora .

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Air Suhu Cahaya Konsentrasi H ion Oksigen dan CO 2 Unsur hara dan rangsangan khusus

Inokulum, inokulum bertahan dan inokulasi

Tipe inokulum, Sumber inokulum dan Inokulum Potensial. Patogen cendawan dapat memproduksi spora secara seksual dan aseksual yang kemudian dapat menimbulkan penyakit. Potongan miselium, tubuh sklerotia, rizhomorf dan miselium dorman dalam benih juga merupakan tipe inokulum yang dapat memulai produksi penyakit tumbuhan. Sumber inokulum ialah bagian tumbuhan atau tumbuhan secara keseluruhan, alat atau tanah, tempat penyimpanan, serangga atau agen hidup lain yang dapat membawa inokulum.

Misalnya : 1. Tumbuhan hidup yang dapat terinfeksi. 2. Sisa sisa tanaman. 3. Tanah yang terinfeksi. 4. Benih yang terinfeksi. 5. Wadah, area penyimpanan atau alat terinfeksi. 6. Serangga.
Sumber inokulum yang utama dilapang ialah tumbuhan yang terinfeksi, termasuk gulma dan inang alternatif lain. Tanah. Juga merupakan tempat atau sumber yang kaya akan berbagai macam patogen/ mikroorganisme tular tanah spt : Slerotium, Rhizoctonia, Phytophthora, Fusarium.

Inokulum Potensial : Potensi dari suatu inokulum, atau sebagai inokulum dan potensinya, termasuk semua faktor yang mempengaruhi pembentukan penyakit tumbuhan.

Tanaman terserang oleh dua patogen.


Responnya : 1. Reaksi patologiknya tidak berbeda dengan bila hanya diserang oleh masing-masing patogen. 2. Mungkin akan mendapatkan reaksi anergistik yaitu penyakit yang timbul akan lebih ringan dari pada yang diharapkan. 3. Mendapatkan reaksi sinergistik, yaitu penyakitnya lebih berat dari pada yang diharapkan.

Tanaman Peka dan Tanaman Tolerant


Persamaan : ?

Perbedaan : ?

Macam macam tanaman inang


Tanaman inang pokok atau utama : Yaitu tanaman yang kita tanam untuk diambil hasilnya dan rentan terhadap patogen. Tanaman inang pengganti : Yaitu tanaman bukan pokok atau tumbuhan liar yang dapat diserang oleh patogen yang stadiumnya sama. ( Alternative Host ). Tanaman inang perantara : Yaitu tanaman bukan pokok atau tumbuhan lain yang dapat diserang oleh patogen yang stadiumnya berbeda dengan yang menyerang tanaman pokok. ( Alternate Host ), jadi merupakan rangkaian stadium dalam daur hidup patogen tersebut . Disebut juga tanaman inang penggilir.

Aplanes treleaseanus ( Humphrey ) Coker.


Nama di dalam tanda kurung adalah nama orang yang pertama - tama menguraikan spesies tersebut, tetapi dengan nama genus yang berbeda, sedangkan nama di belakang tanda kurung adalah nama orang yang mengganti nama genus yang digunakan oleh orang yang pertama.

Aplanes treleaseanus ( Humphrey ) Coker, organisme

tersebut diuraikan pertama tama oleh Humphrey pada tahun 1893 dengan nama Achlya treleasean Humphrey, kemudian thn 1923 Coker berpendapat bahwa jamur tersebut termasuk genus Aplanes, maka namanya diganti dengan Aplanes treleasenus (Humphrey ) Coker.

Inokulasi : ialah kontaknya inokulum pada atau di dalam tempat infeksi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara. Manusia biasanya pelaku inokulasi yang sering tidak disadari /dipikirkan dan tanpa sengaja karena ketidak tahuan. Penggunaan alat-alat pertanian untuk pemangkasan, pembentukan tajuk biasanya dapat memindahkan patogen, dari tanaman sakit ketanaman sehat. Penjual sayuran yang memotong bagian yang terkena busuk lunak dari kubis dan menggunakan pisau yang sama untuk kubis sehat dapat menularkan patogen tanpa sengaja. Serangga memegang peranan penting dalam hal inokulasi di lapang, terutama karena mereka dapat bergerak untuk jarak jauh untuk mendapatkan iangnya.

Di alam, inokulasi yang terjadi karena kebetulan sangat umum terjadi. Beberapa spora yang terbawa angin atau percikan air hujan secara kebetulan jatuh pada stomata atau tempat infeksi lain, sedangkan spora-spora yang lain terdeposisi pada tempat yang salah sehingga inokulasi tidak terjadi. Serangga atau binatang lain yang membawa inokulum pada bagian tubuhnya dapat menginokulasikan inokulum tersebut ketika ia hinggap atau mengesekgesekan tubuhnya pada tempat infeksi yang merupakan inangnya.

INOKULUM BERTAHAN.
Patogen harus mampu bertahan hidup pada kondisi tertekan ( stress ) , jika ingin dapat menginfeksi pada waktu yang akan datang.
Pada negara-negara tropis seperti Indonesia merupakan surga bagi patogen tumbuhan, karena tidak ada faktor lingkungan yang ekstrim yang menjadi kendala bagi patogen. Kendala yang paling mungkin terjadi ialah tidak adanya inang antara dua musim tanam, namun demikian hal itupun tidak terlalu menjadi masalah karena umumnya patogen mempunyai kisaran inang yang cukup luas dan adanya budidaya tanaman yang terus menerus akan membantu patogen untuk mendapatkan inangnya

Patogen dapat bertahan pada kondisi ekstrim buruk, antara lain dengan : 1. Bertahan dalam bentuk saprofit pada sisa-sisa tanaman mati dalam tanah. 2. Membentuk struktur yang berdinding tebal dan resisten. 3. Bertahan dalam gulma atau inang lainnya. 4. Bertahan pada serangga vektor. 5. Bertahan pada benih.

Bertahan sebagai saprofit


Bermacam-macam bakteri dan cendawan yang dalam keadaan tidak ada tanaman inang akan bertahan sebagai saprofit pada bahan organik mati. Beberapa cendawan penghuni tanah (soil inhabitant fungi ) seperti Pythium, Phytophthora,Rhizoctonia, Sclerotium, Fusarium menggunakan sebagaian hidupnya dalam tanah dan bertahan sebagai saprofit. Cendawan lain seperti Helminthosporium dan Septoria hanya sebagian kecil dari hidupnya berada dalam tanah dan bertahan hingga inang yang rentan tersedia kembali.

Cendawan yang bersifat seperti itu disebut cendawan penyerbu tanah ( Soil invader fungi. Bakteri penyebab busuk lunak dan layu juga bertahan dalam keadaan ektrim buruk dalam sisa tanaman yang melapuk dalam tanah.
Virus ?.

Bertahan dalam bentuk struktur bertahan

Cendawan memiliki beragam struktur istirahat yang dapat tetap dorman dan tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrim.
Rhizoctonia dan Sclerotium, membentuk tubuh sklerotia. Fusarium, membentuk khlamidospora yang berbentuk bulat da memiliki dinding sel yang tebal.

Gulma dan inang lain.


Gulma dan inang lain, juga dapat merupakan prasarana patogen untuk dapat bertahan selama tidak adanya inang rentan. Virus TMV, dapat menyerang tomat bila tanaman tembakau tidak ada. Erwinia carotovora, penyebab busuk lunak pada wortel, dapat menyerang kubis, tomat dan terung.

Dengan demikian patogen tidak musnah tetapi tetap dapat mempertahankan keberadaannya di alam.

Bertahan dalam vektor.

Serangga sebagai vektor virus patogen tumbuhan .

Bertahan dalam inang.


Bermacam-macam virus , bakteri dan cendawan dapat bertahan dengan berbagai cara di dalam inangnya. Patogen tersebut berada dalam keadaan pasif atau dorman dan didalam inangnya sampai suatu saat bila kondisi memungkinkan ia akan aktif tumbuh dan berkembang dengan baik. Proses infeksi tsb disebut infeksi laten. Patogen tular benih, dapat bertahan secara dorman di dalam benih ( H. oryzae. P. infestans . Ustilago ).