Anda di halaman 1dari 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Saat ini perkembangan obat-obatan bukan hanya terjadi di dunia medis, melainkan juga pada obat-obatan tradisional. Kini orang-orang lebih memilih obat-obatan tradisional yang berasal dari tubuhan karena menganggap bahwa obat-obatan tradisonal lebih aman karena berasal dari alam dan jarang menimbulkan efek samping atau ketergantungan obat. Sekitar 1000 jenis dari 30.000 jenis tumbuhan telah dimanfaatkan sebagai obat. Berbagai zat bioaktif pada tumbuhan dapat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit diantaranya adalah alkaloid, flavonoid, saponin dan lain-lain, sehingga tumbuhan dapat dijadikan sebgai obat-obatan. Obat tradisional adalah obat yang diolah secra tradisional, turun-temunrun, berdasarkan resep nenek moyang, adat istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan stempat. Saat ini banyak orang yang menggunakan obat tradisional karena menurut beberapa penelitian tidak menimbulkan efek samping karena masih bisa dicerna oleh tubuh. Bagian dari obat tradisional yang bisa dimanfaatkan adalah akar, rimpang, batang, buah, daun dan bunga. Salah satu bahan obat-obatan tradisional adalah meniran (Phyllanthus niruri linn) Nama lain dari niruri L adalah Phyllanthus urinaria L, Phyllanthus alatas BI, Phyllanthus cantonensis Hornen, Phyllanthus echinatus Waall, phyllanthus leptocarpus Wight. Nama lainnya berdasarkan derah adalah meniran, meniran merah, minran hijau (Jawa), memeniran (Sunda), gosaucau, hsieh hsia chu (Maluku).

1.2 Tujuan Mengetahui berbagai macam obat-obatan tradisonal, salah satunya adalah meniran. Mengetahui manfaat meniran bagi kesehatan.

BAB II ISI Taksonomi Meniran Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledone Famili : Euphorbiaceae Gennus : Phyllanthus Spesies : Phyllantus niruri Linn.

Morfologi Meniran merupakan tumbuhan semusim dengan tinggi 30-50 cm dan bercabang-cabang. Batang meniran berwarna hijau dengan daun tunggal yang berseling. Helaian daun bundar memanjang ujung tumpul, pangkal membulat, permukaan bawah bawah berbintik kelenjar, tepi rata, panjang sekitar 1,5 cm, lebar sekitar 7 mm berwarna hijau. Meniran memiliki buah yang berbentuk bulat pipihlicin, bergaris tengah 2-2,5 m berbiji kecil, keras, berbentuk ginjal berwarna coklat. Meniran terbagi kedalam tiga jenis yaitu meniran merah (Phyllanthus urinaria), meniran kuning dan meniran hijau (Phyllanthus niruri). Spesies meniran merah dan meniran hijau memiliki penampakan morfologi luar yang hampir sama, perbedaanya adalah terletak pada warna batang dan cabang. Meniran merah memiliki mempunyai warna batang dan cabang merah tua, sedangkan meniran hijau memiliki batang dan cabang berwarna hijau muda.

Habitat Meniran tumbuh liar di tempat yang lembab dan berbatu, seperti di sepanjang saluran air, semak-semak, dan tanah diantara rerumputan. Meniran juga tumbuh di tanah datar dan daerah pegunungan hingga tinggi 1 mm sampai 1000 m dari permukaan laut. Tumbuhan ini tumbuh liar di tempat terbuka pada tanah gembur, berpasir di ladang, tepi sungai dan di pantai, bahkan tumbuh liar di sekitar pekarangan rumah. Tanaman ini menyebar luas hampir ke setiap daerah tropis ataupun subtropis seperti India, Cina, Malaysia, Filipina, dan Australia.

Kandungan kimia 1. Flavonoid Flavonoid merupakan senyawa larut air yang dapat diekstrasi dengan etanol 70% dan tetap ada lapisan air setelah dikocok dengan eter minyak bumi. Flavonoid berupa senyawa fenol oleh karena itu warnyanya akan berubah jika ditambah oleh basa atau amoiak. Flavonoid umumnya terdapat dalam tumbuhan terikat pada gula sebagai glikosidan dan aglikon. Flavonoid mengandung atom karbon dalam inti dasarnya yang tersusun dalam konfigurasi C6-C3-C6, yaitu dua aromatik yang dihubungkan oleh satuan tiga karbon yang dapat atau tidak membentuk cincin ketiga. Flavonoid pada meniran banyak ditemukan di bagian akar dan daun. Flavonoid pada meniran menempel pada sel imun dan memberikan sinya intraseluler atau rangsangan untuk mengaktifkan kinerja sel imun sel lebih baik. Selain itu meniran juga berungsi sebagai antioksidan yang mampu merangsang kekebalan tubuh. 2. Lignan Lignan berupa zat pada hablur tanpa warna yang menyerupai senyawa aromatik sederhana yang lain dalam sifat kimianya. Lignan tersebar pada tumbuhan, terdapat dalam kayu, daun, eksudat, damar, dan bagian tumbuhan lain. Lignan digunakan sebagai antioksidan pada makanan. Selain itu lignan juga merupakan kandungan kimia yang aktif dalam tumbuhan obat tertentu. Lignan dapat diekstrasi dengan aseton atau etanol dan seringkali diendapkan sebagai garam kalium yang sukar larut. 3. Tanin Tanin tersebar dalam setiap tanaman yang berbatang. Tanin berada dalam jumlah tertentu biasanya pada bagian daun, buah, akar, dan batang. Tanin merupakan senyawa kompleks, biasanya merupakan campuran polifenol yang sukar untuk dipisahkan karena tidak dalam bentuk Kristal. Di dalam tumbuhan, letak tanin terpisah dari protein dan enzim dari sitoplasma. Tanin dapat berfungsi untuk meringankan diare karena dapat mengecilkan selaput lendir usus. 4. Alkaloid Alkaloid merupakan golongan zat tumbuhan sekunder yang terbesar. Alkaloid termasuk senyawa yang bersifat basa yang mengandung satu atom nitrogen dan berbentuk kristal. Alkaloid dalam daun atau buah segar memiliki rsa yang pahit sehingga

memiliki efek fisiologis kuat atau keras terhadap manusia. Sifat lain yaitu sukar larut dalam air dengan suatu asam akan membentuk garam alkaloid yang lebih mudah larut. 5. Saponin Saponin adalah senyawa aktif yang menimbulkan busa bila dikocok dengan air. Pada konsentrasi rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah. Saponin dapat berfungsi sebagai antimikroba. Saponin dapat larut dalam air dan atanol tetapi tidak larut dalam eter.

Manfaat meniran Meniran adalah salah satu tumbuhan obat Indonesia yang telah lama digunakan secara turun-temurun untuk pengobatan berbagai penyakit seperti diuretik, ekspektoran dan pelancar haid. Selain itu herba meniran juga digunakan untuk pengobatan sembab (bengkak), infeksi dan batu saluran kencing, kencing nanah, menambah nafsu makan, diare, radang usus, konjungtivitas, hepatitis, sakit kuning, rabun senja, sariawan, digigit anjing gila, rabun senja, dan rematik gout. Hasil penelitian membuktikan bahwa meniran berfungsi menghambat DNA polymerase dari virus hepatitis B dan virus hepatitis lainnya, menghambat enzim reverse transcriptase dari retrovirus, antibakteri, antifungi, antidiare, dan obat penyakit gastrointestinal lainnya. Meniran juga dapat dijadikan sebagai obat untuk penyakit liannya seperti: 1. Sakit kuning Bahan utama terdiri dari 16 bahan meniran (akar, batang, daun) dan bahan tambahan yaitu 2 gelas air susu. Cara membuat: tanaman meniran dicuci lalu ditumbuk halus dan direbus dengan 2 gelas air susu sampai mendidih hingga tersisa 1 gelas saja. Cara menggunakan: disaring dan diminum sekaligus. Diminum setiap hari. 2. Malaria Bahan utama terdiri dari 7 batang tanaman meniran lengkap dan bahan tambahan 5 biji bunga cengkeh kering dan 1 potong kayu manis. Cara membuat: Seluruh bahan dicuci kemudian ditumbuk halus dan direbus dengan 2 gelas air hingga mendidih. Cara menggunakan: diminum dua kali sehari.

3. Ayan Bahan utama yaitu 17-21 batang tanaman meniran (akar, batang, daun, dan bunga). Cara membuat: bahan dicuci bersih lalu direbus dengan 5 gelas air sampai mendidih hingga tertinggal 2,5 gelas air. Cara menggunakan: disaring dan diminum satu kali sehari gelas selama tig ahari berturut-turut. 4. Demam Bahan utama yaitu 3-7 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun, dan bunga). Cara membuat: bahan dicuci bersih kemudian dilarutkan dengan 1 gelas air panas. Cara menggunakan: disaring kemudian diminum sekaligus. 5. Batuk Bahan utama yaitu 3-7 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun, dan bunga). Bahan tambahan madu secukupnya. Cara membuat: bahan dicuci bersih kemudian ditumbuk halus dan direbus dengan 3 sendok makan air matang kemudian dicampur dengan 1 sendok makan madu . Cara menggunakan: diminum sekaligus dua kali sehari. 6. Disentri Bahan utama yaitu 17 batang tanaman meniran lengkap (akar, batang, daun, dan bunga). Cara membuat: direbus dengan 3 gelas air sampai mendidih. Cara memnggunakan: disaring dan diminum dua kali sehari.

Penelitian baru menyebutkan bahwa meniran dapat berfungsi sebagai imunodulator. Jenis tumbuhan yang diteliti sebagai imunodilator adalah meniran hijau. Imunodulator berperan membuat sistem imun lebih aktif dalam menjalankan fungsinya, menguatkan sistem imun tubuh (imunostimulator) atau menekan reaksi sistem imun yang berlebihan (imunosuppressan). Dengan demikian kekebalan atau daya tahan tubuh selalu optimal. Sebagai imunodilator, meniran juga berfungsi untuk menekan aktivitas sistem imun yang berlebihan. Jika aktivitas sistem imun berkurang, makan kandungan flavonoid dalam meniran akan mengirimkan sinyal intraseluler pada reseptor sel untuk meningkatkan aktivitasnya. Sebaliknya jika aktivitas sistem imun

berlebihan maka meniran berfungsi untuk mngurangi kerja sistem imun tersebut. Jadi meniran berfungsi sebagai penyeimbang sistem imun.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Meniran merupakan tanaman herbal yang dapat dijadikan sebagai obat tradisonal. Meniran mengandung beberpa zat kimia bioaktif yang dapat menyembuhkan penyakit seperti flavonoid, lignan, tannin, alkaloid, dan saponin. Meniran hidup di tempat yang lembab dan berbatu, seperti di sepanjang saluran air, semak-semak, dan tanah diantara rerumputan. Meniran juga tumbuh di tanah datar dan daerah pegunungan hingga tinggi 1 mm sampai 1000 m dari permukaan laut. Meniran tumbuh liar di tempat terbuka pada tanah gembur, berpasir di ladang, tepi sungai dan di pantai, bahkan tumbuh liar di sekitar pekarangan rumah. Meniran digolongkan dalam tiga jenis yaitu meniran merah, meniran kuning dan meniran hijau. Meniran berfungsi sebagai obat-obatan yang dapat menyebuhkan berbagai penyakit yaitu sakit kuning, malaria, ayan, demam, batuk, dan disentri. Meniran juga berfungsi sebagai imunodulator yang berfungsi sebagai penyeimbang aktivitas sistem imun.

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

Ayunigtyas, Kusuma Adreng 2008, Efektivitas Campuran Meniran Phyllanthus niruri dan Bawang Putih Allium sativum untuk Pengendalian Infeksi Bakteri Aeromonas hydrophylia pada Ikan Lele Dumbo Clarias sp, diakses tanggal 7 April 2013 < http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/5015/C08aka.pdf?sequence=5> Dalimarta, S 2000, Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Trubus, Agriwidya: Bogor. Harborne, J. B 1987, Metode Fitokimia. ITB: Bandung. Ifandari et all 2012, Pengaruh Pemberian Ekstrak Meniran Merah (Phyllanthus urinaria) Terhadap Penekanan Jumlah Limfosit pada organ Timus Mencit Balb/C yang Diinfeksi Bakteri Salmonell thypi, diakses tanggal 7 April 2013 < http://biosains.mipa.uns.ac.id/C/C0901/C090101.pdf> Karyawati, Tresna Amor 2011, Aktivitas Antivirus Simian Retrovirus Serotype-2 (SRV-2) dari Ekstrak Meniran (Phyllanthus niruri) dan Temu Lawak (Curcuma xanthorriza)/ Jurnal Penelitian Sains, diakses tanggal 7 April 2013 < http://jpsmipaunsri.files.wordpress.com/2011/11/v14-no3-d-2-amor-52-55.pdf> Mangunwardoyo, wibowo et all 2009, Ekstraksi dan Identifikasi Senyawa Antimikroba Herba Meniran (Phyllanthus niruri. L), diakses tanggal 7 April 2013 < http://jifi.ffup.org/wpcontent/uploads/2009/12/3.-fulltexPDF5.pdf> Munjrekar, A.P et all 2008, Effect of Phyllanthus niruri Linn. Treatment On Liver, Kidney, and Testes in CCL4 Induced Hepatotoxic Rats. Indian J. Exp. Biol Robinson T 1995, Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. ITB: Bandung. Suprapto 2006, Tubuh Kebal dengan Herba, diakses tanggal 7April 2013 <http://www.depkes.go.id> Syamsuhidayat, S.S dan Hutapea, J.R 1991, Inventaris Tanaman Obat Indonesia, edisi kedua. Departemen Kesehatan RI: Jakarta.

Tjay, T. H dan Rahardja, K 2002, Obat-obat Penting Khasiat dan Penggunannya. PT. Elex Media Computindo: Jakarta.