Anda di halaman 1dari 74

review buku Mal Praktek

I. PERJALANAN JAUH

DOKTER ALDY

DOKTER UMUM DARI SURABAYA

TUGAS PTT DI DESA KACAPIRING, KALIMANTAN

II. HARI PERTAMA YANG MENDEBARKAN


Pasien Laki-Laki : Usia 65 Tahun KU = Sesak Nafas Pasien punya riwayat alergi. Pasien merasa sesak setelah makan ikan pindang. Tubuh pasien tidak dapat dibaringkan karena pasien menahan kedua bahunya untuk membantunya menghembuskan nafas secara dalam. Pemeriksaan Fisik : - Ditemukan wheezing di paru kanan dan kirinya, baik bagian depan maupun belakang dada - Difus (tersebar) di seluruh lapang paru - Tidak ditemukan Ronki di paru kiri dan kanan - Tidak ada udema pada kakinya

Bab 2. hari pertama yang mendebarkan


Pasien sesak anamnesis : sesak sejak jam 5 sore alergi (+) asma (+) Anamnesis kurang tajam, harusnya ditanyakan alergi apa? Pasien tidak mau disuruh tidur kmungkinan sesak akan ber(+) jika baring dr aldy > 1 x menyuruh untuk tidur ???

Terapi

pasien tidak diberikan O2 u mengurangi sesak

Terapi tidak sesuai dengan diagnosis. Status asmatikus harusnya diberi O2 dan nebulizer. Aminophlin + dexamethason tepat pada kasus serangan asma akut

Bab 3. Budi baik dokter Aldy


Dokter menentukan tarif sendiri merupakan tugas administrasi /bendahara apalagi di puskesmas, pada jam dan hari kerja.

BAB 4. MEDIS ATAU NON MEDIS?


Seorang laki-laki berusia sekitar 45 tahun yang meminta pertolongan dr. Aldy karena anak perempuannya kaku. dr. Aldy datang ke rumah laki-laki tersebut. Ketika sesampai di sana, dokter aldy melihat seorang gadis usia sekitar 17 tahun dengan wajah cantik dan rambut panjang lurus. Pasien tersebut hanya diam saja dengan tubuh kaku. Namun pasien menangis tersedu-sedu. Pasien tidak demam.

Diagnosis kejang

terapi
1 ampul diazepam (i.m) menunggu reaksi obat selama 1 jamtidak ada perubahan. dr. Aldi menyarankan bapak tersebut membawa anaknya kepada seorang kyai, karena menurut dr. Aldy gadis tersebut menderita kesurupan.

Penyakit non medis kesurupan ??


Tidak timbul reaksi pemberian diazepam 1 ampul

dr. Aldi langsung memutuskan bahwa gadis tersebut kesurupan.


tampak dr. Aldy yang merupakan orang ilmiah mudah percaya bahwa suatu penyakit timbul akibat sebab nonmedis

Kenapa dr. aldy tidak mendiagnosis banding dengan gangguan jiwa depresif

Diam saja, ditanya tidak mau menjawab, tampak gelisah, menangis tersedu2, tidak ada panas

BAB 5. DIKIRIMI PASIEN KOMA

Rabu pagi dr. Aldy dikejutkan dengan kedatangan pasien koma. Dari pemeriksaan fisik ditemukan luka yang agak membusuk pada ujung kaki kanan pasien, bau aseton (-), nafas teratur, tidak cepat dan tidak dalam, GCS 1-1-1, Slera ikterik (-), anemis (-), refleks patologis (-). Pemeriksaan reduksi urine +4 dan dan GDS 20 mg/dl. Diagnosis koma hipoglikemik. dr. Aldi mengoleskan madu di mukosa pipi & menginjeksi intra vena D40%. Setelah beberapa saat pasien terbangun dari komanya.

Penilaian
dr. Aldy sukses mengatasi koma hipoglikemia tanpa menimbulkan komplikasi
Kesuksesan dr. Aldy ini semakin membuatnya dikenal sebagai dokter yang luar biasa

Pemeriksaan fisik dan penunjang yang dilakukan dr. Aldy sudah tepat
injeksi intra vena D40% sudah cukup, tidak perlu mengoleskan madu pada mukosa pipi
onset dan absorpsi secara intravena lebih cepat daripada melalui mukosa pipi bioavailabilitas secara intra vena lebih baik.

Dr. Aldy tidak melakukan edukasi pada keluarga pasien agar kejadian yang sama tidak terulang kembali

BAB. 6 Tangisan Dokter Aldy


dr. Aldy kedatangan pasien yang tidak sadarkan diri. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik didiagnosis Demam Berdarah Dengue Grade IV

Penilaian
dr. Aldy memerintahkan suster untuk menensi, pasang infus, memeriksa Hb dan trombosit sudah tepat

Pemeriksaan fisik yang dilakukan sudah cukup tepat, namun dr. Aldy tidak memeriksa paru pasien yang mungkin saja terjadi edema paru. vena seksi saat vena colaps sudah tepat. Namun sebaiknya saat diketahui pemasangan infus sulit dan akan dilakukan vena seksi, hendaknya terlebih dahulu dilakukan KIE mengenai risiko dan komplikasi dari tindakan tersebut

Dr. Aldy tidak memberikan oksigen pada pasien shock padahal saat itu otak sedang kekurangan oksigen karena suplai darah ke otak yang berkurang. tangisan pertama kali dr. Aldy karena tidak berhasil menyelamatkan pasien tersebut. Seharusnya sikap seorang dokter kepada pasien adalah berempati bukan bersimpati.

BAB VII DITUDUH ASUSILA


Bagian ini menceritakan dokter Aldy yang dituduh melakukan tindakan asusila pada seorang wanita. Pencemaran nama baik itu dilakukan oleh seorang bidan yang iri dengan keberhasilan dokter Aldy.

Tidak adanya informed concent terhadap penderita saat akan dilakukannya rectal toucher. Pasien masih merasa ragu-ragu bahkan cenderung enggan untuk diperiksa bagian pribadinya seharusnya dr Aldy untuk melakukan tindakan khusus pada seorang wanita harusnya dilakukan di puskesmas bukan dirumahnya, dan itupun harus didampingi oleh seorang perawat perempuan. Tidak menjelaskan tindak lanjut setelah dilakukannya pemeriksaan tersebut.

Terdapat kejanggaglan karena vivin yang menjadi pasien dr. Aldy disuruh menyebarkan sendiri tindakan yang dilakukan dr. Aldy terhadapnya oleh bidan desa, biarbagaimanapun sebagai seorang pasien tidak akan memberitahukan penyakitnya dengan mudah kepada orang-orang disekelilingnya. dr Aldy mengumpulkan orang-orang untuk menjelaskan kronologis apa yang sebenernya terjadi, hal ini sama saja dokter Aldy melanggar kode etik kedokteran tentang simpan rahasia kedokteran.

BAB VIII MENOLONG PASIEN BERDARAH Pada bagian ini, diceritakan pengalaman dokter Aldy menolong orang yang mengalami pendarahan akibat banyaknya luka tusuk ditubuhnya.

Adanya kata-kata mobilnya dokter Aldy, Hal ini terasa janggal, karena pada bagian pertama, diceritakan bahwa dokter Aldy hanyalah anak seorang pensiunan TNI serta tidak diceritakan pula adanya mobil pribadi yang disediakan oleh pemerintah daerah. Lalu mobil tersebut datang dari mana? Apakah dokter Aldy telah sedemikian kayanya hingga mampu membeli mobil? Adanya kantong darah di puskesmas. Hal ini cukup mengherankan dan menimbulkan tanda tanya bila melihat kondisi nyata puskesmas di lapangan. Apakah puskesmas tersebut memiliki lemari pendingin khusus untuk menyimpan kantong darah? Bila iya, puskesmas tersebut patut untuk masuk MURI sebagai satu-satunya puskesmas yang bisa berperan sebagai bank darah.

Arogansi seorang dokter yaitu saat salah seorang perawatnya menyarankan untuk merujuk pasien dengan perdarahan. Dokter Aldy berkata Jangan dulu, masih ada harapan untuk ditolong. Jangan panggil aku Dokter Aldy kalau pasien ini tidak bisa ditolong. Seharusnya hal ini tidak boleh terucap dari mulut seorang dokter, karena seorang dokter seharusnya lebih berorientasi kepada memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya dan bukan menjanjikan suatu hasil yang belum bisa diprediksikan. Bila kemampuan sebagai seorang dokter umum telah terlampaui maka sudah seharusnyalah dokter umum tersebut merujuk pasiennya ke dokter yang lebih ahli.

BAB IX. BERURUSAN DENGAN POLISI


Dokter Aldy dituduh melakukan malpraktek.

Pasiennya meninggal saat menyuntikkan antibiotik Penisilin. Pasien sebelumnya didiagnosa Sifilis dan sudah dilakukan Skin Test. Dokter Aldy diperiksa

saksi ahli, yakni seorang dokter ahli. Dokter Aldy


sempat menjalani persidangan. Namun akhirnya diputuskan bebas bersyarat, yakni tidak boleh lagi

menyuntik pasien sampai meninggal lagi.

Dokter Aldy memerintahkan perawatnya melakukan skin test. Tidak diceritakan lebih lanjut bagaimana perawat itu melakukan skin test

Hasil test (-)

Apakah seorang perawat berhak menilai hasil skin test , tanpa dilihat secara langsung oleh dokter Aldy yang masih berada di tempat itu. Apakah perawat melakukan skin test secara prosedural?

Seharusnya dilakukan otopsi

Mengetahui diagnosa dokter Aldy terhadap pasien ini benar adanya Tepatkah cara penyuntikan Penisilin yang Apakah sebab, mekanisme kematian dan

dilakukan dokter Aldy, yang menurutnya secara IM?

kelainan lainnya yang berhubungan dengan

kematian pasien ini?

Dokter Aldy dinyatakan tidak bersalah oleh dokter ahli Pengadilan

lalu memutuskan bebas bersyarat, yakni tidak boleh lagi menyuntik pasien sampai meninggal lagi.
Apakah ada vonis bebas bersyarat terhadap seseorang yang dinyatakan tidak bersalah?

Seharusnya dihadirkan saksi pembanding Seorang

dokter ahli sama sekali tidak berhak menentukan seseorang bersalah atau tidak

BAB X. TERPAKSA KURETASE


Dokter Aldy melakukan tindakan berupa embriotomi dan kuretase pada seorang ibu hamil tua yang mengalami perdarahan. Tindakan ini dilakukan di rumah sekaligus tempat praktek seorang bidan di desanya saat dia sedang bersilaturahmi ke sana. Walaupun bayinya sudah meninggal, tetapi nyawa ibu tersebut dapat diselamatkan. Dokter Aldy tidak menjelaskan apa diagnosa dari keadaan ibu hamil ini, namun bidan mengatakan bahwa ibu tersebut mengalami keguguran.

Dalam informed consent itu seharusnya pasien juga diberi tau tentang :

Diagnosis Tindakan yang diusulkan atau direncanakan

Prosedur alternatif jika ada


Kepentingan dan manfaat dari tindakan medik tersebut Prosedur pelaksanaan atau cara kerja dokter dalam tindakan medik

tersebut

Risiko yang terjadi bila tidak dilakukan tindakan tersebut Risiko atau efek samping yang terkandung dalam tindakan tersebut Konfirmasi pemahaman pasien terhadap informasi yang disampaikan sehingga mampu mengambil keputusan

Kesukarelaan pasien dalam memberikan izin. Prognosis

Apakah seorang dokter umum berkompeten melakukan tindakan embriotomi? Apakah penanganan awal pada keadaan seperti ini memang harus dilakukan transfusi darah dan embriotomi? Oleh sebab itu, tentu penanganan pertama kasus ini adalah terapi cairan. Selanjutnya sambil melakukan penanganan pertama, lebih baik pasien ini segera dirujuk ke rumah sakit terdekat yang memiliki dokter spesialis kebidanan.

Orang hamil 7 bulan, terjatuh kemudian perdarahan pervaginam, jika laserasi jalan lahir, perdarahannya tidak sebegitu hebat, kecuali kalau terjadi robekan portio.

Jika ada tanda-tanda presyok, tangani ABC nya dulu, bebaskan jalan nafas, longgarkan pakaian, berikan oksigen jika ada, pasang infus dua jalur, jarum besar, cairan RL atau NaCl 0,9% bukan darah, gerojok sampai tanda vital membaik.

Dokter Aldy melakukan tindakan medis tersebut

menggunakan alat dan obat-obat kuretase


yang tersedia di rumah bidan.

Hal ini agak mengherankan karena ternyata seorang bidan yang tidak memiliki kompetensi muntuk melakukan tindakan kuretase, ternyata memiliki alat dan obat-obatan untuk kuretase di

rumahnya.

Bab XI: dipanggil pejabat

Pada kalimat Apa di kota besar tidak ada dokter yang menangani anak Bupati itu?. Di sini dokter Aldy menanyakan karena ada hal janggal, dimana bapak tersebut mendatanginya untuk minta bantuannya, sedangkan pasien tidak berada di dalam desa tempat ia bekerja, melainkan di kota, yang tentunya ada dokter umum selain dirinya atau dokter spesialis di rumah sakit.

Pada kalimat Ada, dok. Sudah 2 dokter spesialis yang merawatnya, namun sampai sekarang kondisinya tetap tidak berubah. Terdapat hal janggal lainnya, dimana bapak tersebut tidak seharusnya meminta bantuan kepada dokter umum yang bekerjanya di desa, sedangkan sebelumnya sudah ada dua orang dokter spesialis yang menangani. Seharusnya, jika kondisi pasien tidak ada perubahan, dapat melakukan konsultasi kepada bagian subspesialis lainnya atau dirujuk ke rumah sakit di luar kota untuk mendapatkan perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut.

Pada kalimat, Dokter Aldy tidak tahu siapa saya? Saya ini pejabat penting. Dokter aldy bisa kehilangan pekerjaan kalau saya bertindak keras !!. Terdapat unsur pemaksaan dan ancaman dari orang yang memiliki kedudukan tinggi, yang dilakukan untuk kepentingannya tanpa memperdulikan kepentingan dokter Aldy.

Pada kalimat Dokter Aldy memerintahkan Iksan untuk memasang sonde, karena sudah 1 minggu pasien tidak makan. Pemasangan sonde sudah cukup tepat untuk pasien yang tidak bisa makan atau minum secara normal. Namun, untuk setiap tindakan dokter Aldy tidak memberikan informed consent terlebih dahulu. Tujuan doktrin informed consent, yaitu :

Memberikan perlindungan pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya Memberikan perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif karena prosedur medik modern tidak tanpa risiko dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu risiko

Pemeriksaan psikiatri tidak lengkap minineurologis saja tapi sudah didiagosis depresi Hipnoterapi, apakah perlu ijin seorang dokter melakukan hal tersebut dan sesuaikah dengan kompetensi? Apakah seorang dokter boleh merawat pasien di rumah padahal tidak dijelaskan ada tenaga medis (perawat) yang merawat setiap waktu karena dr Aldy datang 2 minggu sekali untuk menyuntikan obat? Di rumah sakit???

BAB XII. Kasus Unik

Pasien datang langsung disuruh pulang. Harusnya di anamnesis dulu Datang lagi langsung periksa laboratorium Tidak ada disebutkan keluhan pasien yang mengarah ke Diabetes

Terapi yang diberikan yaitu langsung

dengan injeksi insulin kurang lebih 3 kali dalam sebulan dan akhirnya keluhannya berangsur-angsur berkurang. Terapi yang diberikan ini tidak rasional. Seharusnya pada penderita diabetes terapi awal berupa non farmakologis lalu dilanjutkan dengan penggunaan obat hipoglikemik.

Diberikan

insulin indikasi yaitu :


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

apabila

terdapat

penurunan berat badan yang cepat hiperglikemia berat yang disertai ketosis ketoasidosis diabetik hiperglikemia hiperosmolar non ketotik gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal sters berat (infeki sistemik,operasi besar,IMA,strok) kehamilan dengan Dm gestasional yang tidak terkendali dengan perencanaan makan gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO

Bab 13.MEMBONGKAR KASUS PEMBUNUHAN

Dokter Aldy diminta melakukan otopsi terhadap mayat oleh pihak kepolisian dari kota besar. Mengapa dr.Aldy yang diminta melakukan pemeriksaan ini mengingat TKP bukan merupakan daerah kerja dr. Aldy Di kota besar banyak dokter-dokter lain yang dapat dijadikan saksi ahli bahkan mungkin terdapat ahli kedokteran forensik.

BAB XIII. MEMBONGKAR KASUS PEMBUNUHAN


Menerima permintaan otopsi mayat di luar wilayah kerjanya Permintaan otopsi mayat dari kepolisian tersebut tidak dibuat secara tertulis dalam bentuk surat permintaan Visum et Repertum, melainkan secara lisan saja

KUHAP pasal 133 ayat (2)

MEMBONGKAR KASUS PEMBUNUHAN

Dokter Aldy diminta melakukan otopsi terhadap mayat oleh pihak kepolisian dari kota besar. Mengapa dr.Aldy yang diminta melakukan pemeriksaan ini mengingat TKP bukan merupakan daerah kerja dr. Aldy Di kota besar banyak dokter-dokter lain yang dapat dijadikan saksi ahli bahkan mungkin terdapat ahli kedokteran forensik.

MEMBONGKAR KASUS PEMBUNUHAN

Permintaan otopsi mayat dari kepolisian tersebut tidak dibuat secara tertulis dalam bentuk surat permintaan Visum et Repertum, melainkan secara lisan saja. KUHAP pasal 133 ayat (2) yang menyebutkan bahwa permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

MEMBONGKAR KASUS PEMBUNUHAN

Hasil pemeriksaan otopsi disampaikan langsung secara lisan oleh dokter Aldy. Padahal seorang dokter harus membuat surat keterangan yang disebut Visum et Repertum sebagai hasil pemeriksaannya. Pengertian visum et repertum secara hukum seperti yang tercantum dalam Lembaran Negara tahun 1973 No.350 Pasal 1 dan Pasal 2 yang menyatakan bahwa visum et repertum adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat oleh dokter atas sumpah atau janji tentang apa yang dilihat pada benda yang diperiksanya yang mempunyai daya bukti dalam perkara-perkara pidana

MEMBONGKAR KASUS PEMBUNUHAN


Pasal 187 KUHAP (butir c): surat keterangan seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan keahliannya mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi daripadanya. Visum et Repertum ini merupakan rahasia medis yang harus disampaikan saat persidangan, bukan di tempat kejadian perkara seperti yang dilakukan oleh dokter Aldy. Berarti telah ada cacat hukum pada kasus ini, baik yang dilakukan oleh penyidik sendiri, maupun dokter Aldy. Otopsi merupakan suatu istilah untuk pemeriksaan dalam. Sedangkan apa yang dipaparkan pada bab ini hanyalah pemeriksaan luar.

MEMBONGKAR KASUS PEMBUNUHAN


Dokter Aldy tidak diperkenankan memutuskan bahwa korban meninggal bukan karena gantung diri melainkan karena dibunuh. Karena dalam memutuskan suatu perkara/kejadian adalah penyidik. Dokter hanya memiliki wewenang memberikan keterangan medis yang terkait dengan korban seperti sebab dan mekanisme kematian dan cara kematian secara tersirat.

MEMBONGKAR KASUS PEMBUNUHAN

Bahkan dr.Aldy juga menetapkan pelaku pembunuhan. Hal ini diluar kewenangan seorang dokter sebagai saksi ahli. Dokter Aldy melakukan sesuatu pekerjaan yang di luar tanggung jawabnya. Ada atau tidaknya sperma yang keluar dari kemaluan dan kotoran yang keluar dari anus tidak bisa menentukan apakah ini gantung diri atau dibunuh.

Bab 14.EUTHANASIA ATAU TIDAK?

Bab ini menceritakan tentang prinsip seorang dokter yang tidak mau melakukan tindakan yang bertentangan dengan hati nuraninya di mana dokter Aldy dipaksa untuk mengakhiri nyawa bapak Rohmat yang menderita penyakit hepatoma yang telah mengalami koma hepatikum dengan maksud mengakhiri penderitaanya (euthanasia). Meskipun sudah diminta berkali-kali namun dokter Aldy tetap bersikukuh tidak mau melakukan hal tersebut dengan alasan yang berhak mengambil nyawa orang lain hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa walaupun dr. Aldy merasa kasihan.

EUTHANASIA ATAU TIDAK? Euthanasia dapat diartikan sebagai bentuk kematian

yang baik yang menurut beberapa pihak dianggap suatu yang baik. Dalam proses kematian euthanasia dalam hubungannya dengan seseorang (pasien) yang seharusnya mendapat dan atau sedang dalam perawatan dokter sebenarnya didalamnya telah terjadi sebuah pembunuhan yang didasarkan pada rasa belas kasihan. Dimana pembunuhan jenis ini timbul oleh situasi si pasien yang penyakitnya tidak kunjung sembuh.

EUTHANASIA ATAU TIDAK? Ia tidak mau melakukan euthanasia karena bukan haknya dan yang pasti melanggar undang-undang seperti terdapat dalam KUHP pasal 48, 49, 50 dan 51 yaitu demi apapun, dengan alasan apapun, siapapun yang telah menghilangkan nyawa orang lain tanpa hak, kecuali oleh pihak-pihak lain yang dibenarkan oleh undang-undang harus dianggap sebagai kejahatan.

EUTHANASIA ATAU TIDAK?


KUHP bab XIX. Kejahatan terhadap nyawa . Pasal 338 yang berbunyi barang siapa merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama 15 tahun. Pasal ini merupakan penghalang bagi dokter untuk melakukan euthanasia aktif. Pasal 334 KUHP berbunyi Barang siapa merampas nyawa orang itu sendiri yang jelas dinyatakan dengan kesungguhan hati diancam dengan pidana penjara paling lama 12 tahun. Pasal ini menghalangi dokter untuk melakukan voluntary euthanasia.

BAB XV. Dipaksa Kuret

Gambaran Umum: Dokter Aldy pergi ke luar desa karena mendapat undangan untuk datang ke rumah bupati Hasan. Ternyata, oleh bupati Hasan, dokter Aldy diminta untuk melakukan Aborsi terhadap janin yang di kandung putrinya. Dokter Aldy menolak tindakan tersebut walaupun dijanjikan akan diberi imbalan 3 juta rupiah. Dokter Aldy tetap bertahan akan keputusannya saat diancam bupati Hasan bahwa kariernya sebagai akan hancur.

Review Bab XV
Tindakan

dokter Aldy yang secara tegas menolak permintaan Aborsi sesuai dengan: Isi sumpah Dokter KODEKI Ketentuan KUHP (pasal 299,346, 347,348, 349 UU nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan

BAB XVI. Ajaran Sunat

Gambaran Umum: Menceritakan seorang pasien laki-laki, 30 tahun yang belum disunat dan mengalami pimosis. Dokter Aldy kemudian menjelaskan kepada pasien mengenai apa yang dialami pasien, jalan keluar berupa tindakan sunat dan dampak jika tidak mau disunat. Setelah dijelaskan, pasien tersebut setuju untuk dilakukan sunat pada kemaluannya. Sayangnya, dokter Aldy sempat tertawa saat menanggapi polah pasien yang sedang kesakitan dan akhirnya mau disunat

Dokler Aldy

sudah melakukan informed consent mengenai penyakitnya. Tetapi, Risiko atau efek samping dalam tindakan belum disampaikan Tertawa terhadap keadaan pasien kompetensi profesi dokter etika, moral, medikolegal & profesionalisme serta keselamatan pasien

Sikap

BAB XVII. Pasien Gila

Menceritakan usaha dokter Aldy dalam mendiagnosa pasien tetangganya yang mengalami gangguan jiwa berat. Diagnosis Skizofrenia Paranoid Berkelanjutan diperoleh setelah melakukan autoanamnesa dan alloanamnesa yang alot. Akhirnya dokter Aldy memberikan terapi haloperidol dan artane yang diberikan dengan cara digerus sampai halus dan dicampur minuman.

Diangnosis autoanamnesis yang panjang

Tegak melalui dan alloanamnesis

Terapi sudah Diagnosis

sesuai

dengan

Metode pemberian obat dimasukkan diam-diam dalam minuman tidak ketahuan pasien Sesuai Diagnosis

BAB XVIII
Pada bagian ini diceritakan keberhasilan dokter Aldy dalam melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang akhirnya mampu mendiagnosa penyakit taeniasis, sehingga digambarkan kecerdasannya ini melebihi dokter spesialis penyakit dalam

Analisa Bab XVIII


Kompetensi dokter spesialis dipertanyakan tidak dapat menegakkan diagnosa Taeniasis Menurut Konsil Kedokteran Indonesia 2006 ada 4 area kompetensi dokter yang tidak sesuai, yaitu : 1. Komunikasi efektif - berkomunikasi dengan pasien +, tapi tidak dalam khusus nya dalam menggali anamnesa - berkomunikasi dengan teman sejawat

2. Keterampilan klinis - informasi penyakit dan sosial kurang - prosedur klinis dan laboratorium + 3. Area landasan ilmiah ilmu kedokteran - tidak dapat identifikasi dan menyelesaikan masalah 4. Area pengelolaan masalah kesehatan - konsultasi telah dilakukan - tidak dapat meinterpretasi data klinis dan diagnosis penyakit

BAB XIX
Bagian ini menceritakan keberhasilan dokter Aldy dalam menurunkan angka kematian bayi akibat Tetanus Neonatorum di sebuah desa suku Dayak.

Analisa
Tidak persuasif dalam melakukan pendekatan terhadap suku dayak Pulang tanpa memberikan obat atau saran agar berobat ke puskesmas terhadap bayi yang sakit Perkampungan suku dayak masuk wilayah kerja dr.Aldi?

BAB 20. KONSULTASI DOKTER AHLI

Suatu ketika dokter Aldy didatangi oleh dr Edy, seorang spesialis paru. Dokter ini ingin mendiskusikan pasiennya dengan keluhan batuk dan sesak nafas lama. Sudah diobati dengan berbagai macam obat tapi tidak sembuh sembuh. Dari beberapa keterangan dokter spesialis ini, dokter Aldy kemudian mendiagnosis pasien ini dengan sindroma Loeflerr. Dokter Aldy memberikan obat untuk diberikan ke pasien yang seminggu kemudian dinyatakan sembuh

Analisa

Dokter Aldy didatangi oleh seorang dokter spesialis paru yang ingin mendiskusikan tentang pasiennya

???

Tidak memberitahukan jenis obat yang diberikan ke dr.Sp.P

BAB XXI. DIJAMBRET

Dr.Aldy dalam perjalanan ke pasar untuk membeli kebutuhan dipepet oleh laki laki dengan memakai sepeda motor. Lalu ia menodong dr.Aldy dengan pistol. Si jambret meminta Hp dan dompet dr.Aldy. Lalu dia kabur. Namun di tengah jalan Si jambret berbalik lagi ke dr.Aldy. Dan dia bertanya..Kenapa kamu tidak teriak maling?? Dr.Aldy : Tidak. Aku kasihan. Kalau aku teriakin kamu maling, semua orang akan datang dan menghakimi kamu. Dan kamu pasti mati babak belur dipukuli massa. Uang yang ada di dompetku dan HP-ku tidak lebih berharga daripada nyawa kamu kan?? Kemudian terjadilah percakapan yang singkat cerita, diketahui bahwa si jambret terpaksa melakukannya karena anaknya sedang sakit dan ia butuh biaya berobat. Kemudian dr.Aldy mengobati anak si jambret tersebut sehingga sembuh total.

cukup baik, cukup nyaman, bahasa asing (-) alam Bab XXI ini tidak ada dipaparkan mengenai cerita yang berhubungan secara keilmuan dan bukan kasus malpraktek

Pesan Moral
meskipun dr.Aldy telah dijambret, sebagai seorang dokter, ia tetap mau mengobati anak si jambret tersebut. Bahkan dr.Aldy merelakan Hp dan dompetnya agar si jambret tidak dipukuli masa. Pasal 10 Setiap dokter wajib bersikap tulus ikhlas dan mempergunakan segala ilmu dan ketrampilannya untuk kepentingan penderita

Logis atau tidak logis


beberapa hal yang dipertanyakan Dr.Aldy ditodong dengan pistol di daerah pedalaman Kalimantan. Jambretnya berasal dari kota? Entah mengapa penjambret lalu berbalik ke dr.Aldy dan bertanya mengapa tidak teriak maling. Kira-kira apa yang dilakukan dr.Aldy setelah dijambret? Termenung di TKP? Meneruskan perjalanan ke pasar (dompet sudah tidak ada)?Berniat pulang ke rumah? Karena si jambret ketika berbalik, berhasil bertemu dengan dr.Aldy. Andai kata si jambret tidak bertemu dengan dr.Aldy, apa mungkin si jambret datang ke rumah dr.Aldy dan menanyakan hal yang sama Kenapa kamu tidak teriak maling?

Melihat adanya proses pemepetan, dan percakapan yang memerlukan waktu, ada kemungkinan penjambretan di tempat sepi. Sehingga meskipun dr.Aldy berteriak maling, mungkin juga hanya sedikit orang yang berdatangan.

Namun, berdasarkan pada ringkasan di sampul belakang buku, maka penulis mungkin bermaksud menceritakan pahit getirnya menjadi seorang dokter, salah satunya yaitu DIJAMBRET

XXII. Narkoba Jangan CobaCoba


Pada bab ini, dikisahkan dr. Aldy mendapatkan pasien usia 17 tahun, badannya kurus, dengan keluhan menggigil, kesakitan, keluar banyak keringat dingin, bersin, pilek, berteriak-teriak dan mengomelngomel sendiri. Pada lengan kiri ada tato gambar wanita telanjang dan di lengannya banyak sekali bekas suntikan. Kesimpulan sakaw krn narkotik

Detoksifikasi RL:D5 2:1 20 tpm Valium 10mg/kantong infus instruksi pemberian kurang lengkap CPZ dosis efektif tinggi Antidepresan 1-0-0 Tramadol 3x50 mg slm 2mggu.

Bahasa mudah dipahami. Sakaw = Withdrawel Syndrome Sudah di deskripsikan secara jelas. Pemeriksaan TV tidak dilakukan Instruksi pemberian obat yang belum jelas.

dr. Aldy superhero berhasil mengatasi pasien sakaw yang menyebabkan terbongkarnya sindikat jaringan narkoba. Valium iv 5-15 mg slm 5-10menit bolus pelan. Sebaiknya pemberiannya mulai dr dosis 5 mg dan tidak di drip..

Putus Alkohol valium IV (Dewasa) : 10 mg di awal, keudian 5-10 mg dalam 3-4 jam sesuai keperluan.
pemberian obat

meninggal? Antidepresan?? Pemberian tramadol injeksi 3x50mg sampai 2 minggu. Bagaimana cara pemberiannya? kecuali pasien rawat inap di puskesmas. Tapi apa mungkin dr.aldy setiap 8 jam datang kesana dan menyuntikkan obat tersebut. Pemberian obat ini tidak rasional untuk pasien yang sedang ketagihan narkotika.

CPZ tidak di tensi? hipotensi trus

BAB XXIII Saatnya Untuk Pulang


Saatnya untuk pulang Bab terakhir ini menceritakan tentang kepulangan dokter Aldy ke Surabaya setelah dua tahun mengabdi Berlebihan: bagaikan tetes embun surga yang menyejukkan hati masyarakat. Pasal 8 Dalam melakukan pekerjaannya seorang dokter harus memperhatikan kepentingan masyarakat dan memperhatikan semua aspek pelayanan kesehatan yang menyeluruh (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif), baik fisik maupun psikososial, serta berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenar-benarnya.