Anda di halaman 1dari 166

diposting oleh nuzulul-fkp09 pada 19 October 2011 di Kep Pencernaan - 7 komentar ASUHAN KEPERAWATAN (ASKEP) PERITONITIS NUZULUL ZULKARNAIN

HAQ FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Gawat abdomen menggambarkan keadaan klinik akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan, infeksi, obstruksi atau strangulasi jalan cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Peradangan peritoneum (peritonitis) merupakan komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ-organ abdomen (misalnya apendisitis, salpingitis, perforasi ulkus gastroduodenal), ruptura saluran cerna, komplikasi post operasi, iritasi kimiawi, atau dari luka tembus abdomen. Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim pencerna aktif, merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya peritonitis.

Keputusan untuk melakukan tindakan bedah harus segera diambil karena setiap keterlambatan akan menimbulkan penyakit yang berakibat meningkatkan morbiditas dan mortalitas. Ketepatan diagnosis dan penanggulangannya tergantung dari kemampuan melakukan analisis pada data anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

1.2 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Rumusan masalah Bagaimana anatomi dari organ peritoneum ? Apa definisi peritonitis ? Bagaimana etiologi pada peritonitis ? Bagaimana klasifikasi dari peritonitis ? Bagaimana patofisiologi dari peritonitis ? Bagaimana manifestasi Klinis pada peritonitis ? Bagaimana pemeriksaan diagnostic pada peritonitis ? Bagaimana penatalaksanaaan pada peritonitis ? Bagaimana komplikasi pada peritonitis ?

10) Bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis ?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan umum 1) Mengetahui anatomi dari organ peritoneum.

2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9)

Mengetahui definisi peritonitis. Mengetahui etiologi peritonitis. Mengetahui klasifikasi dari peritonitis. Mengetahui patofisiologi dari peritonitis. Mengetahui manifestasi Klinis pada peritonitis. Mengetahui pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Mengetahui penatalaksanaaan pada peritonitis. Mengetahui komplikasi pada peritonitis.

10) Mendiskusikan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

1.4 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)

Manfaat Memahami anatomi dari organ peritoneum. Memahami definisi peritonitis. Memahami etiologi peritonitis. Memahami klasifikasi dari peritonitis. Memahami patofisiologi dari peritonitis. Memahami manifestasi Klinis pada peritonitis. Memahami pemeriksaan diagnostic pada peritonitis. Memahami penatalaksanaaan pada peritonitis.

9)

Memahami komplikasi pada peritonitis.

10) Menyimpulkan asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien dengan peritonitis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Peritoneum Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Pada permulaan, mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Kedua rongga mesoderm, dorsal dan ventral usus saling mendekat, sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum, di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati, kurvaturan minor, dan lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Lapisan peritoneum dibagi menjadi 3, yaitu: 1) Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis (tunika serosa). 2) Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis.

3) Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. Fungsi peritoneum: 1) Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis. 2) Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan. 3) Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen. 4) Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi.

2.2 Definisi Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis atau kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral), atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus dan kanker, dan strangulasi kolon asendens. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas, saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi)

merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Sesudah operasi, abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi, insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis, divetikulitis, kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum, pancreas perforasi kolon, kontaminasi peritoneal, syok perioperatif, dan transfuse yang pasif.

2.3

Etiologi 1. Infeksi bakteri 1. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal 2. Appendisitis yang meradang dan perforasi 3. Tukak peptik (lambung/dudenum) 4. Tukak thypoid 5. Tukan disentri amuba/colitis 6. Tukak pada tumor 7. Salpingitis 8. Divertikulitis

Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli, streptokokus alpha dan beta hemolitik, stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. 1. Secara langsung dari luar. 1. Operasi yang tidak steril 2. Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. 3. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa, ruptur hati 4. Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.

2. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus.

Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intra abdomen, tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas, Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain 15%, dan golongan Staphylococcus 3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat peritonitis TB, peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn).

2.4 Klasifikasi Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Peritonitis bakterial primer

Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Sreptococus atau Pneumococus. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua, yaitu: a) Spesifik: misalnya Tuberculosis b) Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis dan Tonsilitis. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi, keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus sistemik, dan sirosis hepatis dengan asites. 1. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractusi gastrointestinal atau tractus urinarius. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Bakteri anaerob, khususnya spesies Bacteroides, dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. Kuman dapat berasal dari: 1. Luka/trauma penetrasi, yang membawa kuman dari luar masuk ke dalam cavum peritoneal. 2. Perforasi organ-organ dalam perut, contohnya peritonitis yang disebabkan oleh bahan kimia, perforasi usus sehingga feces keluar dari usus. 3. Komplikasi dari proses inflamasi organ-organ intra abdominal, misalnya appendisitis. 4. Peritonitis tersier Peritonitis tersier, misalnya:

1. Peritonitis yang disebabkan oleh jamur. 2. Peritonitis yang sumber kumannya tidak dapat ditemukan. Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. 3. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: 1. Aseptik/steril peritonitis. 2. Granulomatous peritonitis. 3. Hiperlipidemik peritonitis. 4. Talkum peritonitis.

2.5 Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal

menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik (sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis.

2.6 Manifestasi Klinis Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda-tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus. Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif

berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial,ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dengan paraplegia dan penderita geriatric. 2.7 Pemeriksaan Diagnostik 1. Test laboratorium 1. Leukositosis Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit, basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 1. Hematokrit meningkat 2. Asidosis metabolic (dari hasil pemeriksaan laboratorium pada pasien peritonitis didapatkan PH =7.31, PCO2= 40, BE= -4 ) 3. X. Ray

Dari tes X Ray didapat: Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan: 1. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. 2. Usus halus dan usus besar dilatasi. 3. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. 3. Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi, yaitu : 1. Tiduran terlentang (supine), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior. 2. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan sinar dari arah horizontal proyeksi anteroposterior. 3. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar horizontal proyeksi anteroposterior. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35x43 cm. Sebelum terjadi peritonitis, jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1) Posisi tidur, untuk melihat distribusi usus, preperitonial fat, ada tidaknya penjalaran. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi, penebalan dinding usus, gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). 2) Posisi LLD, untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi, sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon.Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level.

3) Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance.

2.8 Penatalaksanaan Management peritonitis tergantung dari diagnosis penyebabnya. Hampir semua penyebab peritonitis memerlukan tindakan pembedahan (laparotomi eksplorasi). Pertimbangan dilakukan pembedahan a.l: 1. Pada pemeriksaan fisik didapatkan defans muskuler yang meluas, nyeri tekan terutama jika meluas, distensi perut, massa yang nyeri, tanda perdarahan (syok, anemia progresif), tanda sepsis (panas tinggi, leukositosis), dan tanda iskemia (intoksikasi, memburuknya pasien saat ditangani). 2. Pada pemeriksaan radiology didapatkan pneumo peritoneum, distensi usus, extravasasi bahan kontras, tumor, dan oklusi vena atau arteri mesenterika. 3. Pemeriksaan endoskopi didapatkan perforasi saluran cerna dan perdarahan saluran cerna yang tidak teratasi. 4. Pemeriksaan laboratorium. Pembedahan dilakukan bertujuan untuk : 1. Mengeliminasi sumber infeksi. 2. Mengurangi kontaminasi bakteri pada cavum peritoneal 3. Pencegahan infeksi intra abdomen berkelanjutan. Apabila pasien memerlukan tindakan pembedahan maka kita harus mempersiapkan pasien untuk tindakan bedah a.l : 1. Mempuasakan pasien untuk mengistirahatkan saluran cerna. 2. Pemasangan NGT untuk dekompresi lambung. 3. Pemasangan kateter untuk diagnostic maupun monitoring urin.

4. Pemberian terapi cairan melalui I.V. 5. Pemberian antibiotic. Terapi bedah pada peritonitis a.l : 1. Kontrol sumber infeksi, dilakukan sesuai dengan sumber infeksi. Tipe dan luas dari pembedahan tergantung dari proses dasar penyakit dan keparahan infeksinya. 2. Pencucian ronga peritoneum: dilakukan dengan debridement, suctioning,kain kassa, lavase, irigasi intra operatif. Pencucian dilakukan untuk menghilangkan pus, darah, dan jaringan yang nekrosis. 3. Debridemen : mengambil jaringan yang nekrosis, pus dan fibrin. 4. Irigasi kontinyu pasca operasi. Terapi post operasi a.l: 1. Pemberian cairan I.V, dapat berupa air, cairan elektrolit, dan nutrisi. 2. Pemberian antibiotic 3. Oral-feeding, diberikan bila sudah flatus, produk ngt minimal, peristaltic usus pulih, dan tidak ada distensi abdomen.

1) Terapi Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokus septik (apendiks, dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonik adalah penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan. Keluaran urine tekanan vena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi.

a. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan, karena bakteremia akan berkembang selama operasi. b. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya, kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup, mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi. c. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus, yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi, sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum, karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. d. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan, karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum, dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. 2) Pengobatan Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat, terutama bila terdapat apendisitis, ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan.

Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu : 1. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah, menjalani wawancaran praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Bagaimanapun, aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi. 2. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV), memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Pada beberapa contoh, aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum, bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub, atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh. 3. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase pascaoperatif langsung, focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. Kapan berkaitan dan memungkinkan, proses keperawatan pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi dan evaluasi diuraikan.

2.9 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder, dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu: 1. Komplikasi dini. 1. Septikemia dan syok septic. 2. Syok hipovolemik. 3. Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multisystem. 4. Abses residual intraperitoneal. 5. Portal Pyemia (misal abses hepar). 2. Komplikasi lanjut. 1. Adhesi. 2. Obstruksi intestinal rekuren.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

3.1

Pengkajian

A. Identitas 1. Nama pasien 2. Umur 3. Jenis kelamin 4. Suku /Bangsa 5. Pendidikan 6. Pekerjaan

7. Alamat 8. Keluhan utama: Keluhan utama yang sering muncul adalah nyeri kesakitan di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang. 1. Riwayat Penyakit Sekarang Peritinotis dapat terjadi pada seseorang dengan peradangan iskemia, peritoneal diawali terkontaminasi material, sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus, dan sirosis hepatis dengan asites. 1. Riwayat Penyakit Dahulu Seseorang dengan peritonotis pernah ruptur saluran cerna, komplikasi post operasi, operasi yang tidak steril dan akibat pembedahan, trauma pada kecelakaan seperti ruptur limpa dan ruptur hati. 1. Riwayat Penyakit Keluarga Secara patologi peritonitis tidak diturunkan, namun jika peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer, seperti: Tubercolosis. Maka kemungkinan diturunkan ada. 1. Pemeriksaan Fisik 1. Sistem pernafasan (B1) Pola nafas irregular (RR> 20x/menit), dispnea, retraksi otot bantu pernafasan serta menggunakan otot bantu pernafasan.

1. Sistem kardiovaskuler (B2) Klien mengalami takikardi karena mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. Didapatkan irama jantung irregular akibat pasien syok (neurogenik, hipovolemik atau septik), akral : dingin, basah, dan pucat.

1. Sistem Persarafan (B3) Klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran. 1. Sistem Perkemihan (B4) Terjadi penurunan produksi urin. 1. Sistem Pencernaan (B5) Klien akan mengalami anoreksia dan nausea. Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Selain itu terjadi distensi abdomen, bising usus menurun, dan gerakan peristaltic usus turun (<12x/menit). 1. Sistem Muskuloskeletal dan Integumen (B6) Penderita peritonitis mengalami letih, sulit berjalan, nyeri perut dengan aktivitas. Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kekuatan otot mengalami kelelahan, dan turgor kulit menurun akibat kekurangan volume cairan. G. Pengkajian Psikososial Interaksi sosial menurun terkait dengan keikutsertaan pada aktivitas sosial yang sering dilakukan. H. Personal Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. 1. Pengkajian Spiritual 2. Pemeriksaan penunjang

1) Pemeriksaan Laboratorium

1. Complete Blood Count (CBC), umumnya pasien dengan infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis (>11.000 sel/ L) dengan adanya pergerakan ke bentuk immatur pada differential cell count. Namun pada pasien dengan immunocompromised dan pasien dengan beberapa tipe infeksi (seperti fungal dan CMV) keadaan leukositosis dapat tidak ditemukan atau malah leucopenia 2. PT, PTT dan INR 3. Test fungsi hati jika diindikasikan 4. Amilase dan lipase jika adanya dugaan pancreatitis 5. Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran kemih (seperti pyelonephritis, renal stone disease) 6. Cairan peritoneal, cairan peritonitis akibat bakterial dapat ditunjukan dari pH dan glukosa yang rendah serta peningkatan protein dan nilai LDH 2) Pemeriksaan Radiologi 1. Foto polos 2. USG 3. CT Scan (eg, gallium Ga 67 scan, indium In 111labeled autologous leucocyte scan, technetium Tc 99m-iminoacetic acid derivative scan). 4. Scintigraphy 5. MRI Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi, yaitu: 1. Tiduran telentang (supine), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP). 2. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan sinar horizontal proyeksi AP. 3. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar horizontal, proyeksi AP.

Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. Sebelum terjadi peritonitis, jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. Posisi tidur, untuk melihat distribusi usus, preperitonial fat, ada tidaknya penjalaran. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi, penebalan dnding usus, gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). 2. Posisi LLD, untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi, sedang jika panjang-panjang kemungkinan gangguan di kolon. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. 3. Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial, air fluid level, dan herring bone appearance. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. Distensi usus general, dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang-kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. 2. Air fluid level. 3. Herring bone appearance. Bedanya dengan ileus obstruktif: pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek-pendek (usus halus) dan panjang-panjang (kolon) karena diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. Pada kasus peritonitis karena perdarahan, gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum, pecahnya usus buntu atau karena sebab lain, tanda utama radiologi adalah:

1. Posisi tiduran, didapatkan preperitonial fat menghilang, psoas line menghilang, dan kekaburan pada cavum abdomen. 2. Posisi duduk atau berdiri, didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). 3. Posisi LLD, didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen, preperitonial fat dan psoas line menghilang, dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. 3) X. Ray Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan : 1. Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. 2. Usus halus dan usus besar dilatasi. 3. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.

3.2 Diagnosa 1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. 2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. 5. Ketidakefektifan pola nafas b.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. 6. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.

3.3 Intervensi

1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan: Nyeri klien berkurang Kriteria hasil : 1. Laporan nyeri hilang/terkontrol 2. Menunjukkan penggunaan ketrampilan relaksasi. 3. Metode lain untuk meningkatklan kenyamanan Intervensi Keperawatan Tindakan/Intervensi Mandiri: 1. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lama, intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, konstan) 1. Perubahan pada lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat, dan menyebar ke atas, nyeri dapat lokal bila terjadi abses. 2. Memudahkan drainase cairan/luka karena gravutasi dan membantu meminimalkan 1. Pertahankan posisi semi Fowler sesuai indikasi nyeri karena gerakan. 3. Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien denagn memfokuskan kembali perhatian. 1. Berikan tindakan 4. Menurunkan mual/muntah Rasional

kenyamanan, contoh pijatan punggung, napas dalam, latihan relaksasi atau visualisasi.

yang dapat meningkatkan tekanan atau nyeri intrabdomen. \is

1. Berikan perawatan mulut dengan sering. Hilangkan rangsangan lingkunagan yang tidak menyenangkan Kolaborasi: Berikan obat sesuai indikasi: 1. Analgesik, narkotik 2. Antiemetik, contoh hidroksin (Vistaril) 3. Antipiretik, contoh asetaminofen (Tylenol) Catatan: Nyeri biasanya berat dan memerlukan pengontrol nyeri narkotik, analgesik dihindari dari proses diagnosis karena dapat menutupi gejala. Menurunkan mual/munta, yang dapt meningkatkan nyeri abdomen Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam atau menggigil. Menurunkan laju metabolik dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/lokal, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan.

1. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan. Tujuan: Mengurangi infeksi yang terjadi, meningkatkan kenyamanan pasien. Kriteria hasil: 1. Meningkatnya penyembuhan pada waktunya, bebas drainase purulen atau eritema, tidak demam. 2. Menyatakan pemahaman penyebab individu / faktor resiko. Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Catat faktor risiko individu contoh trauma abdomen, apendisitis akut, dialisa peritoneal. 2. Kaji tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi, penurunan tekanan nadi, takikardia, demam, takipnea. 3. Catat perubahan status mental (contoh bingung, pingsan). 1. Tanda adanya syok septik, endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi, kehilangan cairan dari sirkulasi, dan rendahnya status curah jantung. 2. Hipoksemia, hipotensi, dan asidosis dapat menyebabkan 1. Mempengaruhi pilihan intervensi Rasional

1. Catat warna kulit, suhu, kelembaban.

penyimpangan status mental. 3. Hangat, kemerahan, kulit kering adalah tanda dini septikemia. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin, kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. 4. Oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal, toksin

1. Awasi haluaran urine.

dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. 5. Mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang.

1. Pertahankan teknik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen, luka insisi/terbuka, dan sisi invasif. Bersihkan dengan Betadine atau larutan lain yang tepat kemudia bilas dengan PZ. 2. Observasi drainase pada luka. 1. Memberikan informasi tentang status infeksi. 2. Mencegah penyebaran, membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius.

1. Pertahankan teknik steril bila pasien dipasang kateter, 1. Menurunkan resiko terpajan

dan berikan perawatan kateter/ atau kebersihan perineal rutin. 2. Awasi/batasi pengunjung dan staf sesuai kebutuhan. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Kolaborasi: 1. Ambil contoh/awasi hasil pemeriksaan seri darah, urine, kultur luka.

pada/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun.

1. Mengidentifikasikan mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan prigram antimikrobial. 2. Dilakukan untuk membuang

1. Bantu dalam aspirasi peritoneal, bila diindikasikan.

cairan dan untuk mengidentifikasi organisme infeksi sehingga tetapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. 3. Terapi ditujukan pada bakteri anaerob dan basil aerob gram negatif.Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang

1. Berikan antibiotik, contoh gentacimin (Garamycyin), amikasin (amikin), Klindamisin (Cleocin). Lavase pritoneal/IV

terlokalisasi/menyebar dengan buruk. 4. Pengobatan pilihan (kuratif) pada peritonitis akut atau lokal, contoh untuk drainase abses

lokal, membuang eksudat peritoneal, membuang rupturapendiks/kandung 1. Siapkan untuk intervensi bedah bila diindikasikan empedu, mengatasi perforasi ulkus, atau reseksi usus.

1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia dan muntah. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan nafsu makan dapat timbul kembali dan status nutrisi terpenuhi. Kriteria Hasil: 1. Status nutrisi terpenuhi 2. Nafsu makan klien timbul kembali 3. Berat badan normal

4. Jumlah Hb dan albumin normal Intervensi Keperawatan : Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Awasi haluan selang NG, dan catat adanya muntah atau diare. 1. Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah atau diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. 2. Kehilangan atau peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan 1. Timbang berat badan tiap hari. lanjut diduga ada defisit nutrisi. 3. Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi atau iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorpsi air dan diare. 1. Auskultasi bising usus, catat bunyi tak ada atau hiperaktif. 4. Adanya kalori (sumber energi) akan mempercepat proses penyembuhan. 5. Indikasi adekuatnya protein untuk sistem imun. 6. Menunjukan kembalinya fungsi usus ke normal 1. Catat kebutuhan kalori yang dibutuhkan. Rasional

2. Monitor Hb dan albumin

1. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dam kelancaran flatus. Kolaborasi: 1. Kolaborasi pemasangan NGT jika klien tidak dapat makan dan minum peroral. 2. Kolaborasi dengan ahli gizi dalam diet. 1. Tubuh yang sehat tidak mudah untuk terkena infeksi (peradangan). 1. Berikan informasi tentang zat-zat makanan yang sangat penting bagi keseimbangan metabolisme tubuh 2. Klien dapat berusaha untuk memenuhi kebutuhan makan dengan makanan yang bergizi. 3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. 1. Agar nutrisi klien tetap terpenuhi.

Tujuan: Mengidentifikasi intervensi untuk memperbaiki keseimbangan cairan dan meminimalisir proses peradangan untuk meningkatkan kenyamanan. Kriteria hasil:

1. Haluaran urine adekuat dengan berat jenis normal, 2. Tanda vital stabil 3. Membran mukosa lembab 4. Turgor kulit baik 5. Pengisian kapiler meningkat 6. Berat badan dalam rentang normal.

Intervensi keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Pantau tanda vital, catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural), takikardia, takipnea, demam. Ukur CVP bila ada. 2. Pertahankan intake dan output yang adekuat lalu hubungkan dengan berat badan harian. 3. Rehidrasi/ resusitasi cairan 1. Untuk mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh 1. Ukur berat jenis urine (homeostatis). 2. Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi 1. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema ginjal. 3. Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi mempeburuk turgor kulit, 1. Membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respons terhadap pengobatan. 2. Menunjukkan status hidrasi keseluruhan. Rasional

perifer/sacral. 2. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. Batasi pemasukan es batu. 3. Ubah posisi dengan sering berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan.

menambah edema jarinagan. 4. Menurunkan rangsangan pada gaster dan respons muntah.

1. Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit

Kolaborasi: 1. Awasi pemerikasaan laboratorium, contoh Hb/Ht, elektrolit, protein, albumin, BUN, kreatinin. 2. Berikan plasma/darah, cairan, elektrolit. 1. Memberikan informasi tentang hidrasi dan fungsi organ.

1. Mengisi/mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Koloid (plasma, darah) membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskular 1. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/intestinal dengan meningkatkan tekanan osmotik. 2. Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan dari diare.

1. Ketidakefektifan pola nafas b.d penurunan kedalaman pernafasan sekunder distensi abdomen dan menghindari nyeri. Tujuan: Pola nafas efektif, ditandai bunyi nafas normal, tekanan O2 dan saturasi O2 normal.

Kriteria Hasil: 1. Pernapasan tetap dalam batas normal 2. Pernapasan tidak sulit 3. Istirahat dan tidur dengan tenang 4. Tidak menggunakan otot bantu napas Intervensi Keperawatan: Tindakan Intervensi Mandiri: 1. Pantau hasil analisa gas darah dan indikator hipoksemia: hipotensi, takikardi, hiperventilasi, gelisah, depresi SSP, dan sianosis. 1. Indikator hipoksemia; hipotensi, takikardi, hiperventilasi, gelisah, depresi SSP, dan sianosis penting untuk mengetahui adanya syok akibat inflamasi (peradangan). 1. Auskultasi paru untuk mengkaji ventilasi dan mendeteksi komplikasi pulmoner. 2. Pertahankan pasien pada 2. Gangguan pada paru (suara nafas tambahan) lebih mudah dideteksi dengan auskultasi. 3. Posisi membantu memaksimalkan ekspansi Rasional

posisi semifowler.

paru dan menurunkan upaya pernafasan, ventilasi maksimal membuka area atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan. 4. Oksigen membantu untuk bernafas secara optimal.

1. Berikan O2 sesuai program

1. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan. Tujuan: Mengurangi ansietas klien Kriteria hasil: 1. Mengakui dan mendiskusikan masalah 2. Penampilan wajah tampak rileks 3. Mampu menerima kondisinya Intervensi: Tindakan/Intervensi 1. Evaluasi tingkat pemahaman klien/orang terdekat tentang diagnosa. 1. Bila penyangkalan ekstem atau ansietas mempengaruhi Rasional

kemajuan penyembuhan, menghadapi itu klien perlu dijelaskan dan membuka cara 1. Akui rasa takut/masalah klien dan dorong mengekspresikan perasaan. penyelesaiannya. 2. Takut/ansietas menurun klien mulai menerima secara positif kenyataan dan memiliki kemauan untuk hidup lagi. 3. Dapat membantu memperbaiki beberapa perasaan kontrol/kemandirian pada klien yang merasa tak berdaya dalam menerima 1. Berikan kesempatan untuk bertanya dan jawab dengan jujur. Yakinkan bahwa klien dan perawat mempunyai pemahaman yang sama. 2. Terima penyangkalan klien tetapi jangan dikuatkan. diagnosa dan pengobatan 4. Klien sulit berfikir dengan baik bila berada dalam kondisi yang tidak nyaman

1. Catat komentar perilaku yang menunjukkan menerima dan/atau mengurangi strategi

efektif menerima situasi 2. Libatkan klien/orang terdekat dalam perencanaan perawatan. Berikan waktu untuk menyiapkan pengobatan.

1. Berikan kenyamanan fisik klien 2. Pasien dan orang terdekat mendengar dan mengasimilasi informasi baru yang meliputi perubahan ada gambaran diri dan pola hidup. 3. Dukungan memampukan klien mulai membuka/menerima kenyataan infeksi peritonium dan pengobatannya. Klien mungkin perlu waktu untuk mengidentifikasi perasaan maupun mengekspresikannya. 4. Membuat kepercayaan dan menurunkan kesalahan persepsi/interpretasi terhadap informasi.

DOWNLOAD : WOC ASKEP PERITONITIS

http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35844-Kep%20PencernaanAskep%20Peritonitis.html

Askep Peritonitis PERITONITIS PENGERTIAN Peradangan peritoneum, suatu lapisan endotelial tipis yang kaya akan vaskularisasi dan aliran limpa. ETIOLOGI

1. Infeksi bakteri

Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis

Kuman yang paling sering ialah bakteri Coli, streptokokus dan b hemolitik, stapilokokus aurens, enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. 1. Secara langsung dari luar.

Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal.

Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa, ruptur hati Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.

1. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. GEJALA DAN TANDA

Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum.

Demam

Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung pada perluasan iritasi peritonitis.

Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya.

Nausea Vomiting Penurunan peristaltik.

PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen ke dalam rongga abdomen, biasanya diakibatkan dan peradangan iskemia, trauma atau perforasi tumor, peritoneal diawali terkontaminasi material. Awalnya material masuk ke dalam rongga abdomen adalah steril (kecuali pada kasus peritoneal dialisis) tetapi dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri. Akibatnya timbul edem jaringan dan pertambahan eksudat. Caiaran dalam rongga abdomen menjadi keruh dengan bertambahnya sejumlah protein, sel-sel darah putih, sel-sel yang rusak dan darah. Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotil tetapi segera dikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan di dalam usus besar. TEST DIAGNOSTIK 1. Test laboratorium

Leukositosis Hematokrit meningkat Asidosis metabolik

1. X. Ray

Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral), didapatkan :

Illeus merupakan penemuan yang tak khas pada peritonitis. Usus halus dan usus besar dilatasi. Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi.

PROGNOSIS

Mortalitas tetap tinggi antara 10 % 40 %. Prognosa lebih buruk pada usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 48 jam.

Lebih cepat diambil tindakan lebih baik prognosanya.

LAPARATOMI Pengertian Pembedahan perut sampai membuka selaput perut. Ada 4 cara, yaitu; 1. Midline incision 2. Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang (12,5 cm). 3. Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas, misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy. 4. Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian bawah 4 cm di atas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi appendictomy. Indikasi 1. Trauma abdomen (tumpul atau tajam) / Ruptur Hepar. 2. Peritonitis 3. Perdarahan saluran pencernaan.(Internal Blooding) 4. Sumbatan pada usus halus dan usus besar. 5. Masa pada abdomen

Komplikasi 1. Ventilasi paru tidak adekuat 2. Gangguan kardiovaskuler : hipertensi, aritmia jantung. 3. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. 4. Gangguan rasa nyaman dan kecelakaan Latihan-latihan fisik Latihan napas dalam, latihan batuk, menggerakan otot-otot kaki, menggerakkan otot-otot bokong, Latihan alih baring dan turun dari tempat tidur. Semuanya dilakukan hari ke 2 post operasi. POST LAPARATOMI Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang diberikan kepada pasienpasien yang telah menjalani operasi pembedahan perut. Tujuan perawatan post laparatomi; 1. Mengurangi komplikasi akibat pembedahan. 2. Mempercepat penyembuhan. 3. Mengembalikan fungsi pasien semaksimal mungkin seperti sebelum operasi. 4. Mempertahankan konsep diri pasien. 5. Mempersiapkan pasien pulang. Komplikasi post laparatomi; 1. Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis. Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 14 hari setelah operasi. Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke paru-paru, hati, dan otak.

Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien sebelum mencoba ambulatif. 1. Buruknya intergriats kulit sehubungan dengan luka infeksi. Infeksi luka sering muncul pada 36 46 jam setelah operasi. Organisme yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens, organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan. Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik. 1. Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau eviserasi. Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai akibat dari batuk dan muntah. Proses penyembuhan luka

Fase pertama

Berlangsung sampai hari ke 3. Batang lekosit banyak yang rusak / rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.

Fase kedua

Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru tumbuh dengan kuat dan kemerahan.

Fase ketiga

Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.

Fase keempat

Fase terakhir. Penyembuhan akan menyusut dan mengkerut. Intervensi untuk meningkatkan penyembuhan 1. Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. 2. Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid. 3. Pencegahan infeksi. Pengembalian Fungsi fisik. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini. Mempertahankan konsep diri. Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post laparatomy karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang perubahanperubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi. Pengkajian Perlengkapan yang dilakukan pada pasien post laparatomy, adalah; 1. Respiratory

Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.

1. Sirkulasi

Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.

1. Persarafan : Tingkat kesadaran. 2. Balutan


Apakah ada tube, drainage ? Apakah ada tanda-tanda infeksi? Bagaimana penyembuhan luka ?

1. Peralatan

Monitor yang terpasang. Cairan infus atau transfusi.

1. Rasa nyaman

Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi.

1. Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi. Diagnosa Keperawatan 1. Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya rasa nyeri di abdomen. 2. Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka operasi laparatomi. 3. Potensial kekurangan caiaran sehubungan dengan adanya demam, pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak. Tindakan keperawatan post operasi: 1. Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output 2. Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage. 3. Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati, jangan sampai drain tercabut. 4. Perawatan luka operasi secara steril. Evaluasi

1. Tanda-tanda peritonitis menghilang yang meliputi :


Suhu tubuh normal Nadi normal Perut tidak kembung Peristaltik usus normal Flatus positif Bowel movement positif

1. Pasien terbebas dari rasa sakit dan dapat melakukan aktifitas. 2. Pasien terbebas dari adanya komplikasi post operasi. 3. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dan mengembalikan pola makan dan minum seperti biasa. 4. Luka operasi baik.

DAFTAR KEPUSTAKAAN Dr. Sutisna Himawan (editor). Kumpulan Kuliah Patologi. FKUI Brunner / Sudart. Texbook of Medical Surgical Nursing Fifth edition IB. Lippincott Company. Philadelphia. 1984. Soeparman, dkk. Ilmu Penyakit Dalam : Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987, Edisi II.

http://aqibpoenya.wordpress.com/askep-peritonitis/

dani thanks yang udah berunjung diblog saya

Selasa, 31 Januari 2012 ASKEP PERITONITIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PERITONITIS

Disusun Oleh : Nama NIM : Media Dani A. : 2010.0973

TINJAUAN TEORI

A.

PENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneum yang disebabkan oleh infiltrasi isi usus

dari suatu kondisi seperti ruptur apendiks, perforasi/trauma lambung dan kebocoran anastomosis. (Tucker : 1998,32) Peritonitis adalah peradangan pentoneum yang merupakan komplikasi berbahaya akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (apendisitis, pankreatitis, dll) reputra saluran cerna dan luka tembus abdomen. (Sylvia Anderson & Larraine Carry Wison, 1995: 402). B. a. ETIOLOGI Peritonitis Bakterial Disebabkan invasi/masuknya bakteri kedalam rongga peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi. b. Peritonitis Kimiawi Disebabkan keluarnya enzim pankreas, asam lambung, atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran empedu. (Harison, 2000: 1613) C. 1. TANDA DAN GEJALA

Menurut Price, 1995 : 402 Sakit perut (biasanya terus menerus) Mual dan muntah Abdomen yang tegang, kaku, nyeri Demam dan leukositosis Dehidrasi

2. 3. -

Menurut C. Long 1996 : 228 Kemerahan Edema Dehidrasi Menurut Mubin 1994 : 276 Pasien tidak mau bergerak Perut kembung Nyeri tekan abdomen Bunyi usus berkurang/menghilang D. ANATOMI

Peritoneum adalah lapisan sel mesotel yang meliputi 1. 2. Rongga perut (peritoneum parietake) Alat tubuh dalam rongga perut (peritoneum viserale) Fungsi : Peritoneum merupakan suatu membran semipermeable untuk dialisis yang terus

menerus membuat dan mengabsorbsi cairann jernih, serta memisahkan zat-zat satu dengan yang lain. E. PATOGENESIS Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi akibat penyebaran infeksi. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrinosa yang kelak dapat mengakibatkan obstruksi usus. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik,

usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi syok, gangguan sirkulasi dan oliguria, perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Gejala bebeda-beda tergantung luas peritonitis, beratnya peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Gejala utama adalah sakit perut (biasanya terus menerus), muntah dan abdomen yang tegang, kaku, nyeri dan tanpa bunyi, demam dan leukositosis sering terjadi. (Price, 1995 : 402) Peritonitis (peradangan dari peritoneum) terjadi akibat apendik yang mengalami perforasi, secara cepat pelengketan terbentuk dalam usaha untuk membatasi infeksi dan momentum membantu untuk menutup daerah peradangan, membentuk suatu abses. Ketika penyembuhan terjadi, perlengketan fibrosa dapat terbentuk yang selanjutnya mengakibatkan obstruksi usus. Pada saat lain perlengketan fibrosa tersebut dapat menghilang seluruhnya. Reaksi-reaksi lokal dari peritoneum meliputi kemerahan, edema, dan produksi cairan dalam jumlah besar berisi elektrolit dan protein. Jika infeksi tidak teratasi dapat terjadi hypovolemia, ketidakseimbangan elektrolit, dehidrasi dan akhirnya syok. Peristaltik usus dapat terhenti dengan infeksi peritoneum yang berat. (C. Long, 1996 : 228) F. a. KLASIFIKASI Peritonitis Primer Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi dirongga peritoneum kuman masuk kedalam rongga peritoneum melalui aliran darah/pada pasien perempuan melalui alat genital. b. Peritonitis Sekunder Terjadi bila kuman kedalam rongga peritoneum dalam jumlah yang cukup banyak. c. Peritonitis karena pemasangan benda asing kerongga peritoneum. Misalnya pemasangan kateter 1. 2. Kateter Ventrikula peritoneal Kateter Peritonea Juguler

3.

Continous ambulatory peritoneal dyalisis (Soeparman, 1993 : 175)

G. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

KOMPLIKASI

Ketidakseimbangan elektrolit Dehidrasi Asidosis metabolik Alkalosis respiratonik Syok septik Obstruksi usus H. PENATALAKSANAAN

1. a. b. c. -

Therapy umum Istirahat Tirah baring dengan posisi fowler Penghisapan nasogastrik, kateter Diet Cair nasi Diet peroral dilarang Medikamentosa Obat pertama Cairan infus cukup dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin

Obat alternatif Narkotika untuk mengurangi penderitaan pasien

2. -

Therapy Komplikasi Intervensi bedah untuk menutup perforasi dan menghilangkan sumber infeksi. Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal penggantian cairan dan elektrolit yang dilakukan secara intravena, pembuangan fokus septik (appendiks dsb) atau penyebab radang lainnya bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. (Price, 1995 : 402)

I.

FOKUS PENGKAJIAN

Pengkajian merupakan suatu pengumpulan data baik data subyektif ataupun obyektif yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nyeri abdomen dan kekakuan diatas area inflamasi Nyeri lepas Dapat menyebar ke bahu Distensi abdomen Anoreksia Mual muntah Penurunan bising usus Gagal untuk mengeluarkan feses/flatus Menggigil demam Takikardi Hipotensi

10. Pernafasan torakal Cepat dangkal

11. Emesis fekal

J. 1. DX Tujuan KH

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN FOKUS INTERVENSI

: Perubahan dalam volume cairan berhubungan dengan aliran darah ke peritoneum : Tidak terjadi kekurangan volume cairan setelah dilakukan tindakan keperawatan

: Pasien dapat menunjukkan Hidrasi edukuat dibuktikan oleh turgor kulit normal dan membran mukosa lembab

Tanda vital dan stabil Pasokan dan keluaran seimbang Pantau TTV setiap jam, observasi tanda syok Pertahankan cairan parental dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin Timbang BB setiap hari dengan waktu dan timbangan yang sama Ukur masukan dan keluaran setiap 8 jam, ukur urine setiap jam bila kurang dari 30 sampai 50 ml/jam, beritahu dokter

ntervensi : -

2. DX Tujuan KH : -

Bantu dalam aspirasi Pantau elektrolit, gas darah, HB Lakukan rentang gerak positif dan bantu ajarkan setiap 4 jam : Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan nyeri abdomen distensi : Pola nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan 2 x 24 jam Pasien menunjukkan pernafasan dan bunyi nafas normal Mendemontrasikan kemampuan untuk melakukan latihan pernafasan

Intervensi : - Kaji status pernafasan, pantau terhadap pernafasan dangkal dan cepat Pertahankan tirah baring dalam lingkungan yang tenang dengan kepala ditinggikan 350 sampai dengan 450 - Pantau therapy oksigen/spirometer intensif Bantu pasien dan ajarkan untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan nafas dalam setiap 1 sampai 2 jam - Auskltasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam 3. DX : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan muntah dan masukan kurang

Tujuan KH : -

: Pasien mengatakan tidak ada mual muntah Pasien mentoleransi diet dengan edekuat

Intervensi : - Pantau selang nasogastrik - Berikan hygiene oral dan nasol sering - Ukur lingkar abdomen, sekap 4 jam - Pantau terhadap keluarnya flatus - Auskultasi abdomen terhadap bising usus sampai dengan 8 jam - Bila bising usus kembali selang nasogastrik berikan diet cairan. 4. DX Tujuan KH : : Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan distensi : Tidak akan terjadi nyeri setelah dilakukan tindakan keperawatan

Intervensi : - kaji tipe, lokasi, berat nyeri - Berikan analgetik hanya setelah diagnosis telah dibuat - Kaji keefektifan tindakan penghilang nyeri Pertahankan posisi nyaman untuk meminimalkan stress pada abdomen dan ubah posisi pasien dengan sering - Berikan periode istirahat yang nyaman terencana - Diskusikan dan ajarkan pilihan teknik pelaksanaan nyeri. 5. DX Tujuan : Ansietas berhubungan dengan krisis situasi : Tidak terjadi ansietas setelah dilakukan tindakan keperawatan

KH

: -

Pasien mengekspresikan perasaan/masalah dan pemahaman cara koping positif Pasien menunjukkan lebih relax dan nyaman

Intervensi : - Kaji tingkat ansietas - Kaji ketrampilan koping - Gelaskan semua tindakan dan prosedur - Beri penguatan penjelasan dokter tentang penyakit dan tindakan - Bantu dan ajarkan teknik relaksasi DAFTAR PUSTAKA

C. Long, 1996. Keperawatan Medical Bedah 3 : Jakarta Price, 1995. Patofisiologi : Jakarta Soeparman, 1993. Ilmu Penyakit Dalam (IPD), FKUI : Jakarta

Tucker, 1998. Standar Perawatan Pasien, EGC : Jakarta Diposkan oleh dani di 22.24

http://mediadani.blogspot.com/2012/01/v-behaviorurldefaultvmlo_31.html

Senin, 30 April 2012 Askep Peritonitis

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KASUS PERITONITIS

Disusun Oleh : HINLUB

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN 2006

2.3 Asuhan Keperawatan Klien Dengan Peritonitis 2.3.1 Landasan Teori 1) (1) Pengertian Peritonitis adalah inflamasi peritonium-lapisan membran serosa rongga abdomen dan meliputi viresela. Biasanya, akibat dari infeksi bakteri: Organisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal.(Brunner & suddarth, 2002: 1103) (2) Peritonitis adalah inflamasi rongga peritoneal, dapat berupa primer atau sekunder akut atau kronis dan diakibatkan oleh kontaminasi. (Marilyinn, Doengoes, dkk, 1979: 513)

2)

Klasifikasi

(1) Peritonitis primer Terjadi biasanya pada anak-anak dengan syndroma nefritis atau sirosis hati lebih banyak terdapat pada anak-anak perempuan dari pada laki-laki. Peritonitis terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritonium, kuman masuk ke rongga peritonium melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genital. (2) Peritonitis sekunder Di sini peritonitis terjadi bila kuman masuk ke rongga peritonium dalam jumlah yang cukup banyak. Biasanya dari lumen saluran cerna. Peritonium biasanya dapat masuknya bakteri melalui saluran getah bening diafragma tetapi bila banyak kuman masuk secara terus-menerus akan terjad peritonitis, apabila ada rangsangan kimiawi karena masuknya asam lambung, makanan, tinja, Hb dan jaringan nekrotik atau bila imunitas menurun. Biasanya terdapat campuran jenis kuman yang menyebabkan peritonitis, sering kuman-kuman aerob dan anaerob, peritonitis juga sering terjadi bila ada sumber intra peritoneal seperti appendixitis, divertikulitis, salpingitis, kolesistitis, pangkreatitis, dan sebagainya.

Bila ada trauma yang menyebabkan ruptur pada saluran cerna / perforasi setelah endoskopi, kateterisasi. Biopsi atau polipektomi endoskopik, tidak jarang pula setelah perforasi spontan pada tukak peptik atau peganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perforasi dan peritonitis. (3) Peritonitis karena pemasangan benda asing ke dalam rongga peritoneon yang menimbulkan peritonitis adalah : Kateter ventrikulo peritoneal yang dipasang pada pengobatan hidro sefalus Kateter peritoneal jugular untuk mengurangi asites Continous ambulatory peritoneal dialysis. (Soeparman S, 1990: 174)

3) (1)

Etiologi Masuknya bakteri ke dalam rongga peritonium pada saluran makanan yang mengalami perforasi / dari luka penetrasi eksternal

(2) Keluarnya enzim pangkreas, asam lambung/ empedu sebagai akibat cedera / perforasi usus (3) Peritonitis steril ditemukan pada pasien dengan SLE, demam mediterian familial selama timbulnya serangan penyakit (4) Pemasangan benda asing ke dalam rongga peritonium

4)

Patofisiologi Infeksi organisme yang ada dalam colon, stafilococcus dan streptococcus Invasi oleh bakteri

Keluarnya exudat fibrosa, kantong-kantong anatiles Bentuk antara perlekatan fibrinosa Infeksi tersebar luar pada permukaan peritonium Peritonitis umum Aktivitas peristaltik berkurang Ilius paralitik Usus menjadi atoni dan meregang, cairan dan elektrolit tulang dehidrasi shock, oliguria, gangguan sirkulasi Perlekatan terbentuk antara lekung usus yang meregang Gangguan pergerakan usus Obstruksi usus

5)

Gejala Klinis

(1) Nyeri abdomen akut dan nyeri tekan (2) Badan lemas (3) Peristaltik dan suara usus menghilang (4) Hipotensi (5) Tachicardi (6) Oligouria (7) Nafas dangkal (8) Leukositosis

(9) Terdapat dehidrasi. (Ahmad H. Asdie, 1995: 1612)

6)

Pemeriksaan Diagnosis

(1) Protein / albumin serum (2) Amilase serum (3) Elektrolit serum (4) JDL (5) SDM (6) GDA (7) Kultur (8) Pemeriksaan foto abdominal (9) Foto dada. (Marilyinn Doengos, dkk, 1999: 514)

7)

Prognosis

(1) Mortalitas tinggai antara 10-40% (2) Prognosis lebih buruk untuk usia lanjut dan bila peritonitis sudah berlangsung lebih dari 98 jam (3) Lebih cepat diambil tindakan, lebih baik prognosenya. (Soeparman S, 1990: 175)

8) (1)

Penatalaksanaan Infus darah plasma / whole blood dan albumin, larutan ringer, dextrosa 5% Nacl fisiologis

(2) Kortikosteroid misal metil prednison 30 mg/kgBB/hari (3) Bila hipoxia, berikan O2 (4) Bila terjadi ilius paralitik, perlu dipasang pipa NG tube untuk dekompensasi (5) Analgesik dan obat sedatif jangan sering diberikan kecuali bila diagnosis sudah ditegakkan (6) Antibiotik dengan spektrum luas Misal : aminoglikosid (dosis awal tinggi) setelah itu disesuaikan menurut fungsi ginjal klimdamisin dan metronidazol (tidak perlu penyesuaian dosis bila ada gagal ginjal) (7) Pembedahan setelah keadaan pasien stabil dan renjatan dapat diatasi. (Soeparman S. 1990: 175)

9)

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

(1) Biodata Terjadi pada pasien dengan syndrome nefrotik atau sirosis hepatis, lebih banyak terdapat pada perempuan dari pada laki-laki (2) Keluhan Utama Nyeri tekan pada perut

(3) Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri tekan perut, lemas, terdapat dehidrasi dan tanda-tanda peritonitis seperti kejang abdomen, bunyi usus menghilang / berkurang (4) Riwayat Penyakit Dahulu Adanya riwayat appendixitis, devertikulitis, salpingitis, pangkreatitis, dan sebagainya. (5) Riwayat Penyakit Keluarga Adakah anggota keluarga yang pernah menderita peritonitis (6) ADL (Activity Daily Life) Nutrisi Eliminasi Istirahat Aktivitas : Nafsu makan menurun karena pasien mual / muntah : Ketidakmampuan defekasi dan flatus, diare (kadang) : Terganggu karena nyeri : Terganggu karena pasien lemas

Personal hygiene : Kemungkinan terjadi penurunan kebersihan diri akibat penurunan aktivitas sebagai dampak dari kelemahan (7) Pemeriksaan Fisik : Lemah : Pucat : Nafas dangkal, takipnea : Membran mukosa kering, lidah bengkak, cegukan : Terdapat nyeri tekan, kejang, bunyi usus menghilang / berkurang : Akral dingin, turgor kulit menurun (8) Pemeriksaan Penunjang

an umum

men

mitas

umin serum : menurun karena perpindahan cairan : meningkat : hipokalemia : SDP meningkat, kadang laebih dari 20.000 : meningkat menunjukkan hemokonsentrasi : alkalosis : Organisme penyebab mungkin terindentifikasi dari darah, exudat darah

otein

rum

n foto abdominal : dapat menyebabkan distensi usus / ileum bila perforasi viseral sebagai etiologi, udara bebas ditemukan pada adomen : menyatakan peninggian diafragma. (Marilynnn Doengoes,dkk, 1999: 514)

10) Kemungkinan Diagnosa Post Up Yang Timbul (1) Nyeri berhubungan dengan terputusnya incontinuitas jaringan (2) Perubahan eliminasi usus berhubungan dengan manipulasi operasi, imobilitas, gangguan masukan nutrisi (3) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status puasa, penghisap selang nasogastrik (4) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan risiko peningkatan kehilangan cairan melalui penghisap lambung (5) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan di rumah dan perawatan tindak lanjut

11) Intervensi

(1) Dx. Kep. I Tujuan : Rasa nyaman dapat dipertahankan Kriteria hasil : - Melaporkan tingkat rasa nyaman yang dapat ditoleransi - Memperlihatkan lebih relaks Intervensi : - Pertahankan tirah baring dalam ruangan yang tenang R/ Tirah baring mengurangi penggunaan energi dan membantu mengontrol nyeri - Pantau lokasi, karakteristik dan intensitas nyeri (skala 0-10) R/ Sediakan informasi mengenai kebutuhan / efektifitas intervensi - Kaji tanda-tanda vital, perhatikan takikardi, hipertensi dan peningkatan pernafasan R/ Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan ketidaknyamanan - Dorong penggunaan teknik relaksasi misalnya latihan nafas dalam dan teknik distraksi R/ Teknik relaksasi dan distraksi membantu melonggarkan ketegangan syaraf yang mempengaruhi rasa nyeri dan klien merasa nyaman - Kolaborasi pemberian analgesik R/ Mengurangi rasa nyeri memblok sinyal pada tempat masuknya ke dalam medula spinalis dan memblok sebagian reflek medula spinalis yang timbul akibat rangsangan sakit

(2) Dx. Kep. II Tujuan : Eliminasi kembali normal Kriteria hasil :

- Pasien mengerti faktor-faktor penyebab gangguan eliminasi - Defekasi dengan feses lunak dan berbentuk Intervensi : - Kaji kebiasaan usus pra operasi dan masukan nutrisi : jelaskan penyebab gangguan R/ Klien dan keluarga kooperatif dalam tindakan - Auskultasi abdomen untuk mendengar kembalinya bising usus setiap 8 jam R/ Untuk mengetahui kemajuan fungsi normal usus - Observasi defekasi pertama pasca operasi, kaji warna, konsistensi, jumlah dan frekuensi R/ Mengetahui kemajuan fungsi normal usus - Pertahankan agar area perianal bersih dan kering R/ Mencegah terjadinya infeksi

- Peragakan dan ajarkan irigasi ostomi serta memasang aplikasinya bila ada R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan ostomi dengan benar

(3) Dx. Kep. III Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : - Mempertahankan berat badan yang normal - Mentoleransi diet tanpa rasa tak nyaman Intervensi :

- Pantau masukan dan haluaran sampai adekuat sesuai umur dan berat badan R/ Membantu menciptakan rencana perawatan / pilihan intervensi - Timbang berat badan saat masuk dan secara reguler R/ Memantau status nutrisi dan efektivitas intervensi - Berikan makanan porsi sedikit tapi sering R/ Membantu untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pemasukan - Kolaborasi dengan dokter, ahli, gizi R/ Menambahkan dalam menetapkan program nutrisi spesifik untuk memenuhi kebutuhan individual pasien

(4) Dx. Kep. IV Tujuan : Kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : - Menunjukkan tanda vital stabil - Masukan dan haluaran seimbang - Hidrasi adekuat yang dibuktikan oleh turgor kulit yang normal Intervensi : - Monitor intake dan output, membran mukosa, turgor kulit dan Bj urine serta serum elektrolit R/ Mengidentifikasi keseimbangan cairand an elektrolit dalam tubuh dengan mengobservasi tandatanda kurang cairan, sehingga gangguan kesembangan cairan dapat dihindari - Observasi tanda-tanda vital setiap 2 4 jam R/ Perubahan suhu tubuh dan peningkatan nadi merupakan salah satu tanda terjadi dehidrasi

- Berikan cairan parenteral sesuai dengan petunjuk R/ Mengganti kehilangan cairan yang telah didokumentasikan

(5) Dx. Kep. V Tujuan : Klien dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan tentang perawatan Kriteria hasil : - Mengungkapkan pengertian tentang aturan diet - Memperagakan perawatan ostoi yang adekuat - Mengexpresikan pengertian tentang aktivitas yang diperbolehkan Intervensi : - Jelaskan pada klien dan keluarga tentang perawatan ostomi R/ Membantu mengidentifikasi kesalahpahaman - Demonstrasikan penggantian balutan, perawatan luka, teknik aseptik R/ Menambah pengetahuan klien dan keluarga tentang perawatan dengan benar - Diskusikan aktivitas yang diperbolehkan, pentingnya istirahat dan aktivitas ringan R/ Dengan aktivitas yang berlebihan maka akan terjadi komplikasi yang lebih parah

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2002)Keperawatan Medical Bedah, Edisi 8 Vol 2,EGC, Jakarta

Dongoes Marilynn E. (1993), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.

Soeparman, (1979), Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 4, EGC, Jakarta.

2.3.2 Tinjauan Kasus pada Nn. M dengan Peritonitis Generalisata 2.3.2.1 Pengkajian (Tanggal 05 Oktober 2004 pukul 09.00) 1) Biodata Klien Nama : Nn.M, umur : 18 tahun, jenis kelamin : Perempuan, agama : Islam, suku/bangsa : Jawa/Indonesia, pendidikan : SMU, pekerjaan :- , penghasilan : -, alamat : Pasapen, Suraabya, MRS tanggal 29 - 09 2004, No. CM : 10407631, Diagnosis masuk : peritonitis generalisata. 2) Biodata Penanggungjawab Nama : Ny. N, umur : 40 tahun, jenis kelamin : Perempuan, agama : Islam, suku/bangsa : Jawa/Indonesia, pendidikan : SMP (tamat), pekerjaan : Ibu Rumah tangga, alamat : Pasapen Suraabya, hubungan dengan klien : Ibu kandung 3) Keluhan Utama Nyeri pada seluruh daerah perut. 4) Riwayat Penyakit Sekarang Klien mengatakan nyeri perut sejak dilakukan operasi, nyeri seperti tertusuk, nyeri bertambah bila klien bergerak dan berkurang bila klien istirahat, skala nyeri 3. 5) Riwayat Penyakit Dahulu Klien mengatakan pernah memgalami operasi apendik dan MRS di ruang Bedah G RSU Dr. Soetomo Surabaya. 6) Riwayat Penyakit Keluarga Klien mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit ssaluran pencernaan. 7) Psiko Riwayat Psiko, Sosial dan Spiritual : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh, klien sering menanyakan keadaannya pada petugas.

Sosial

: Klien mengatakan tingal serumah dengan kedua orang tuanya, klien koopeatif dengan petugas.

Spiritual : Klien mengatakan beragama islam dan percaya bahwa semua yang terjadi datangnya dari Allah, klien hanya berdoaagar segera sembuh.

8)

ADL (Activity Daily Live)

(1) Nutrisi : Klien mengatakan makan 3x/hari, komposisi nasi+lauk+sayur, porsi 1 piring sedang. Klien minum air putih 6-7 gelas/hari. : Klien mengatakan makan 3x/hari, komposisi bubur kasar+lauk, klien habis porsi tiap kali makan, klien minum air putih sedikit-sedikit tapi sering. (2) Istirahat tidur : Klien mengatakan tidur malam pk. 21.00 s/d 04.30 WIB. Klien tidur siang kadang-kadang. : Klien mengatakan dapat tidur malam mulai pk.23.00 WIB dan klien sering terbangun karena ramai. (3) Eliminasi : Klien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi lembek, warna kuning tengguli dan BAK 3 4 x/hari dengan konsistensi kuning jernih dan bau khas. : Klien mengatakan BAB 3x/hari konsisitensi cair dan BAK 3x/hari warna kuning jernih dan bau khas. (4) Aktivitas : Klien mengatakan tiap hari pergi sekolah setelah itu membantu ibunya dirumah. : Klien mengatakan hanya berbaring diatas tempat tidur dan kadang-kadang duduk atau kekamar mandi dengan kursi roda dibantu keluarganya.

um sakit

a sakit

um sakit

a sakit

um sakit

a sakit

um sakit

a sakit

(5) Personal hygiene : Klien mengatakan mandi 2x/hari pagi dan sore dengan memakai sabun dan gosok gigi setiap mandi, keramas 2x seminggu dan ganti baju 2 x/hari : Klien mengatakan diseka keluarganya 2 x/hari pagi dan sore hari dengan air hangat tanpa sabun. 9) Pemeriksaan

um sakit

a sakit

(1) Pemeriksaan Umum Kesadaran : Compos mentis, GCS : 4-5-6 TD : 120/80 mmHg, N : 100x/mnt, S : 38oC, RR : 20x/mnt (2) Pemeriksaan Fisik Kepala : Kulit kepala kotor Wajah Mata : Pucat : Konjungtiva merah muda, sklera putih,

Hidung : Bersih, tidak ada sekret, tidak ada polip, pernapasan spontan Mulut : Mukosa bibir lembab, gigi tidak caries.

Telinga : Bersih tidak ada serumen Leher Thorax Inspeksi Palpasi Perkusi : Bentuk dada simetris bulat datar. : Ictus cordis teraba pada ICS ke-5 midklavikula kiri 1 cm, tidak ada nyeri tekan. : Sonor pada kedua lapang paru dan redup pada jantung : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, kelenjar limfe dan tidak ada pembendungan vena jugularis

Auskultasi : Suara nafas vesikuler, suara jantung S1S2 lupdup.

Abdomen : Inspeksi : Perut distended, terdapat luka insisi pada perut kanan bawah 10 cm, keluar pus bercampur darah. Palpasi Perkusi : Nyeri tekan pada seluruh bagian perut, hepar dan lien tidak teraba. : Tympani

Auskultasi : BU 8 x/mnt

Ekstremitas Atas Bawah : Tangan kiri terpasang infus RL : D5 2:2 /hari, tangan kanan dapat bergerak bebas, akral hangat. : Pada kedua kaki dapat digerakkan dengan bebas, akral hangat, tidak ada odem (3) Pemeriksaan Penunjang (Tanggal 26 09 - 2004) Hemoglobin 10,5 L = 13,4 17,7 g/dl P = 11,4 15,51 g/dl Lekosit Hematokrit MCV MCH MCHC 10.500 / ul 31,8 78,5 25,9 33,0 4.300 11.000 /ul 38 42 % 80 - 99 27 - 31 33 - 37

Trobosit Eritrosit LED

380.000 4,05 75

150.000 250.000 /UL 4.33 5,05 juta/UL 20 mm/jam

10) Terapi Infus RL : D5 2 : 2 per hari Inj Cefotaxim 3x1 gr Inj Becombion 3x1 amp Inj Renatal 3x1 amp

Surabaya,

April1 2005

Yang Mengkaji,

Bambang Irianto.S NIM. 2001.08

2.3.2.2 ANALISA DATA Nama Umur No 1 : Nn. M : 18 tahun Pengelompokan Data 2 No. Reg. Ruang Etiologi 3 Proses inflamasi : 10407631 : Bedah G Problem 4 Nyeri TTD 5

DS 1. : Klien mengatakan nyeri pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi DO : Perut distended Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah 10 cm keluar pus bercampur darah - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt, S : 38oC, RR : 20 x/mnt DS 2. : Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh DO : Klien sering menanyakan keadaannya

Kurang pengetahuan tentang proses penyakit

Cemas

pada petugas - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt,

2.3.2.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN Nama Umur : Nn. M : 18 tahun No. Reg. Ruang : 10407631 : Bedah G Tgl. Ditemukan 3 Tgl. Teratasi 4

No.

Diagnosa Keperawatan

Ttd

1 1

2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi yang ditandai dengan: Klien mengatakan nyeri perut pada seluruh bagian perutnya sejak dilakukan operasi - Perut distended - Terdapat luka insisi pada perut kanan bawah 10 cm keluar pus bercampur darah - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt, S : 38oC, RR : 20 x/mnt Cemas b/d kurang pengetahuan tentang proses penyakit ditandai dengan : - Klien mengatakan khawatir dengan kondisinya saat ini dan berharap agar segera sembuh - Klien sering menanyakan keadaannya pada petugas. - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt

2.3.2.4 INTERVENSI Nama M Reg. Umur tahun Ruang No Tanggal / Jam 1 1 2 Diagnosa Keperawatan 3 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi Japen : : Bedah G : 10407631 : 18 : Nn. No.

Tujuan

Intervensi

4 1.

5 Berikan penjelasan pada 1. klien dan

Peningka

Setelah dilakukan askep selama 1x24 jam diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri2. dengan kriteria: Klien dapat mengetahui 3.

keluarganya dan

kel

tentang penyebab nyeri Kaji tingkat nyeri 2.

kooperatif t

Mengetah

terhadap ny ajarkan tehnik relaksasi 3.

Relaksasi

penyebab nyeri Klien dapat menjelaskan kembali penyebab nyeri Klien relaksasi TD : 100/70 130/90 5. mmHg, N : 80 - 100 x/mnt Kolaborasi dengan tim medis obat. dalam pemberian 6. melakukan 4. tehnik Observasi TTV tiap 3 jam5. 4.

dengan cara

Peningka

adanya resp

Cefotax

proses inf

bisa berkur

Me

penyembuh

No Tanggal / Jam 1 2

Diagnosa Keperawatan 3 Japan :

Tujuan

Intervensi

5 - Inj. Cefo 3 x 1 gr Lakukan perawatan luka prinsip septik 1.

Setelah dilakukan askep selama 6.

3x24 jam diharapkan nyeri dengan teratasi antiseptik

Peningkat

dan keluarg

meningkatk Japen : 1. Berikan penjelasan pada 2.

Pengung

Setelah dilakukan askep selama Cemas b/d 2 kurang pengetahuan tentang proses penyakit 1x24 jam diharapkan klien mengerti proses penyakit dengan kriteria: Klien mengetahui proses penyakit 3. 2.

klien dan keluarga tentang dapat meng proses penyakit Anjurkan menceritakan klien

perasaannya menunjang

pada orang yang dipercaya.3. anjurkan keluarga untuk menjadi bagi klien. observasi TTV tiap 4 jam. support 4. system

dukung

Klien dapat menjelaskan kembali penyakit. tentang proses 4.

kecemas

dimanifesta

peningkatan

Klien mengatakan cemas berkurang

TTV dalam batas normal Japan : Setelah dilakukan askep selama 2x24 jam diharapkan cemas

No Tanggal / Jam 1 2

Diagnosa Keperawatan 3 teratasi

Tujuan

Intervensi

2.3.2.5 IMPLEMENTASI Nama Umur No : Nn. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 1 1 Nyeri b/d inflamasi 2 (kronik) proses Tanggal / jam 3 21-8-2004 09.30 No. Reg. Ruang : 10407631 : Bedah G

Implementasi

TTD

4 Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa nyeri perut disebabkan karena proses infeksi dari luka insisi. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa nyeri perut disebabkan oleh proses infeksi dari luka insisi. Mengkaji tingkat nyeri.

09.35

Klien

mengatakan

nyeri

seperti

ditusuk-tusuk. - Skala nyeri 3

Mengajarkan cara bernafas dalam untuk mengurangi nyeri 09.40 - Klien dapat melakukan tehnik relaksasi Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. Observasi TTV - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt - t : 38 oC, RR : 20 x/mnt 10.00

Merawat luka Memberikan injeksi cefotaxim 1 gr iv Cemas 2 kurang pengetahuan tentang penyakit. 09.40 proses b/d 05-09-04 08.00 09.00

Memberikan penjelasan pada klien dan keluarga bahwa penyakit klien dapat sembuh secara bertahap. Klien dapat menjelaskan kembali bahwa peyakit klien dapat sembuh secara bertahap. - Klien mengatakan sudah mengerti Menganjurkan klien menceritakan

perasaannya pada orang yang dipercaya. Klien mengatakan akan bercerita pada keluarganya atau bertanya pada petugas

jika ada apa-apa. 09.45 Klien mengatakan perasaannya sedikit lega. Menganjurkan keluarga untuk menjadi support system bagi klien. Keluarga mengatakan akan mendukung klien sampai sembuh Observasi TTV. - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt. 09.50 - t : 38 oC, RR : 20 x/mnt

10.00

2.3.2.6 CATATAN PERKEMBANGAN Nama Umur : Nn. M : 18 tahun Diagnosa Keperawatan 2 Tanggal / jam 3 No. Reg. Ruang : 10407631 : Bedah G

No

Catatan Perkembangan

TTD

1 1

Nyeri (kronik) b/d 05-09-2004 S : - Klien dapat menjelaskan kembali bahwa proses inflamasi 12.30 nyeri disebabkan karena infeksi luka insisi. Klien mengatakan nyeri berkurang sedikit. O : - Luka keluar pus bercampur darah. Nyeri skala 3

- TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt. - t : 38 oC, RR : 20 x/mnt - Klien dapat melakukan tehnik relaksasi A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan klien melakukan tehnik relaksasi. - Observasi TTV - Berikan antibiotik.

No

Diagnosa Keperawatan 2

Tanggal / jam 3 I

Catatan Perkembangan

TTD

4 Lakukan perawatan luka.

: Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi

E : Nyeri berkurang sedikit. R:-

: - Klien dapat menjelaskan kembali bahwa penyakitnya akan sembuh. - Klien mengatakan sedikit lega.

O : - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt. 2 Cemas b/d kurang 05-09-2004 pengetahuan tentang penyakit . proses t : 38 oC, RR : 20 x/mnt

12.30 A : Tujuan tercapai sebagian P : Rencana dilanjutkan dengan : Anjurkan perasaannya. Anjurkan keluarga menjadi support system bagi klien. - Observasi TTV klien mengungkapkan

No

Diagnosa Keperawatan 2

Tanggal / jam 3 I

Catatan Perkembangan

TTD

4 : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi

E : Masalah teratasi sebagian. R:-

Klien mengatakan nyeri berkurang

setelah dirawat luka dan diinjeksi. O : - Luka basah, keluar pus bercampur darah. - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt. - t : 38 oC, RR : 20 x/mnt Nyeri (kronik) b/d 3 Proses Inflamasi A : Tujuan tercapai sebagian 06-09-2004 P : Rencana dilanjutkan dengan : 12.30 - Observasi TTV - Anjurkan melakukan relaksasi. Lakukan rawat luka.

- Berikan obat sesuai indikasi. I : Melakukan implementasi sesuai dengan intervensi E : Nyeri berkurang.

No

Diagnosa Keperawatan 2

Tanggal / jam 3 R:-

Catatan Perkembangan

TTD

: Klien mengatakan sudah tidak khawatir lagi karena sudah diberi penjelasan dan dirawat.

O : - Klien kooperatif. - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt. - t : 38 oC, RR : 20 x/mnt A : Tujuan tercapai sebagian P Cemas b/d kurang 4 pengetahuan tentang penyakit proses 06-09-2004 S : Klien mengatakan nyeri berkurang. 12.30 O : - Luka basah, keluar pus. - TD : 120/80 mmHg, N : 100 x/mnt. - t : 38 oC, RR : 20 x/mnt A : Masalah tercapai sebagian P : Rencana diteruskan dengan : - Observasi TTV - Anjurkan melakukan relaksasi. : Rencana dihentikan.

No

Diagnosa Keperawatan 2 Nyeri (kronik) b/d proses inflamasi

Tanggal / jam 3 -

Catatan Perkembangan

TTD

4 Lakukan rawat luka.

- Berikan injeksi sesuai indikasi. 07-09-2004 I : Melakukan implementasi sesuai dengan 12.30 intervensi

E : Nyeri berkurang.

Diposkan oleh Udien Martapura di 05.57 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

http://ngecrot-com.blogspot.com/2012/04/askep-peritonitis.html ASKEP PERITONITIS BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan

meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat atau sistemik dengan syok sepsis.

Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral), atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder adalah perforasi apendisitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus dan kanker, dan strangulasi kolon ascendens. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas, saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Jahitan operasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Untuk mengetahui lebih jelasnya, akan dibahas dalam bab selanjutnya. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. Apakah pengertian peritonitis, dan etiologi peritonitis itu? Bagaimanakah patofisiologi peritonitis itu ? Apakah manifestasi klinik peritonitis, dan komplikasi peritonitis itu ? Bagaimanakah penatalaksanaan/pengobatan peritonitis, dan pengkajian keperawatan peritonitis itu ? 5. Apakah diagnosa keperawatan dari peritonitis itu ? dan Bagaimanakah rencana keperawatan/intervensi peritonitis itu dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM itu ? 1.3 Tujuan Makalah

Tujuan Makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui pengertian dan etiologi peritonitis.

2. 3. 4. 5.

Untuk mengetahui patofisiologi peritonitis. Untuk mengetahui manifestasi klinik, dan komplikasi peritonitis. Untuk mengetahui penatalaksanaan/pengobatan, dan pengkajian keperawatan peritonitis. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan, rencana keperawatan dan dampak peritonitis terhadap penyimpangan KDM. 1.4 Manfaat Makalah Manfaat Makalah ini adalah sebagai berikut :

1.

Bagi Kami, Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah KMB I untuk memperoleh nilai tugas.

2.

Bagi teman sejawat, Makalah ini diharapkan dapat berfungsi sebagai bahan bacaan terutama tentang Peritonitis.

3. 4.

Makalah ini dapat digunakan sebagai bahan diskusi kelompok. Bagi para perawat maupun calon perawat (mahasiswa/mahasiswi keperawatan), Makalah ini dapat memberikan informasi tentang bagaimana konsep medis dan konsep keperawatan Peritonitis.

BAB II PERITONITIS

2.1

Konsep Medis 2.1.1 Defenisi

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/ kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. 2.1.2 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan etiologi/penyebab timbulnya peritonitis, yaitu sebagai berikut :

peritonitis sekunder, seperti: perforasi apendisitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus dan kanker, dan strangulasi kolon ascendens.

saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. 2.1.3 Patofisiologi Peritonitis menimbulkan efek sistemik. Perubahan sirkulasi, perpindahan cairan, masalah pernafasan menyebabkan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit. Sistem sirkulasi mengalami tekanan dari beberapa sumber. Respon inflamasi mengirimkan darah ekstra ke area usus yang terinflamasi. Cairan dan udara ditahan dalam lumen ini, meningkatkan tekanan dan sekresi cairan ke dalam usus. Sedangkan volume sirkulasi darah berkurang, meningkatkan kebutuhan oksigen, ventilasi berkurang dan meninggikan tekanan abdomen yang meninggikan diafragma. 2.1.4 Manifestasi klinik Adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral). Kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu, misalnya : perforasi lambung, duodenum, pankreatitis akut yang berat/ iskemia. Tanda-Tanda Peritonitis, yaitu sebagai berikut : Demam tinggi

Pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia Takikardi Dehidrasi Hipotensi 2.1.5 Komplikasi Komplikasi yang timbul dari peritonitis adalah sebagai berikut : Eviserasi Luka. Pembentukan abses. 2.1.6 Penatalaksanaan/ Pengobatan Penggantian cairan, koloid dan elektrolit adalah focus utama. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri anti emetic dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotik, terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal, terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan. Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah, tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa tandatanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. Bila luka menembus peritoneum, maka tindakan laparotomi diperlukan. Prolaps visera, tanda-tanda peritonitis, syok, hilangnya bising usus, terdapat darah dalam lambung, buli-buli dan rectum, adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Bila tidak ada, pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi.

2.2

Konsep Keperawatan 2.2.1 Pengkajian Aktivitas/ Istirahat Penderita peritonitis mengalami letih, kurang tidur, nyeri perut dengan penurunan aktivitas. Eliminasi Pasien mengalami penurunan berkemih. Makanan/ Cairan Kehilangan nafsu makan, mual/ muntah. Hygiene Kelemahan selama aktivitas perawatan diri. Nyeri/ Ketidaknyamanan Kulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental. Interaksi Sosial Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas sosial yang biasa dilakukan. Pemeriksaan Laboratorium Laboratorium : CT-Scan dan USG Pernapasan Pernapasan dangkal, Takipnea

2.2.2

Diagnosa Keperawatan Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif.

Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. 2.2.3 Rencana Keperawatan/ Intervensi Diagnosa Keperawatan 1 : Infeksi resiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan. Tujuan : Infeksi teratasi. Kriteria Hasil :

ko. Intervensi : Tindakan Mandiri : Kaji tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi, penurunan tekanan nadi, takikardia, demam dan takipnea. Rasional : Tanda adanya syok septic, endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi, kehilangan cairan dan sirkulasi, dan rendahnya status curah jantung. Catat perubahan status mental (pusing, bingung).

Rasional : Hipoksemia, hipotensi, dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. Catat warna kulit, suhu, kelembaban. Rasional : Hangat, kemerahan, kulit kering adalah tanda dini septicemia. Selanjutnya manifestasi termasukl dingin, kulit pucat, lembab dan sianosis sebagai tanda syok. Tindakan Kolaborasi : Bantu dalam aspirasi peritoneal, diindikasikan.

Rasional : Dilakukan untuk membuang cairan dan untuk mengidentifikasikan organism infeksi sehingga terapi antibiotik yang tepat dapat diberikan. Ambil contoh/ awasi hasil pemeriksaan seri darah, urine, kultur luka. Rasional : Mengidentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimicrobial. Berikan antimikrobial, contoh: gentamicin (garamycin); amikasim (amikn); klindamisin (cleocin); lavase pretoneal/ IV..

Rasional : Terapi ditunjukkan pada bakteri anaerob dan hasil anaerob gram negative. Lavase dapat digunakan untuk membuang jaringan nekrotik dan mengobati inflamasi yang terlokalisir atau menyebar dengan buruk. Diagnosa Keperawatan 2 : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif. Tujuan : Volume cairan terpenuhi dan bertambah. Kriteria Hasil :

berat jenis normal

kat

Intervensi : Tindakan Mandiri Pantau tanda vital, catat adanya hipotensi (termaksud perubahan postural), takikardia, takipnea, demam.

Rasional : Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan/ keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. Observasi kulit/ membrane mukosa untuk kekeringan, turgor, catat edema perifer. Rasional : Hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. Ubah posisi dengan berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : Jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. Tindakan Kolaborasi : Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh : HB/HT, elektrolit, protein, albumin, BUN, reatinin. Rasional : Memberikan informasi tentang hidrasi, funsi organ. Berbagai gangguan dengan konsekuensi tertentu pada system sistemik mungkin sebagai akibat dari perpindahan cairan. Berikan plasma/ darah, cairan, elektrolit, diuretic sesuai indikasi. Rasional : Mengisi/ mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit. Kolod (plasma, darah, membantu menggerakkan air ke dalam area intravaskuler dengan meningkatkan tekanan osmotic. Diuretic mungkin digunakan untuk pengeluaran toksis dan meningkatkan. Pertahankan puasa dengan aspirasi nasogastrik/ intestinal.

Rasional : Menurunkan hiperaktivitas usus dan kehilangan. Diagnosa Keperawatan 3 : Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, demam dan kerusakan jaringan. Tujuan : Nyeri berkurang/ terkontrol Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Pertahankan posisi semifowler sesuai indikasi. Rasional : Memudahkan drainase cairan/ luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.. Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, nafas dalam, latihan relaksasi/ visualisasi. Rasional : Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamam, intensitas (sakal 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, dan konstan). Rasional : Perubahan dalam lokasi/ intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi. Nyeri cenderung menjadi konstan, lebih hebat dan menyebar ke atas : nyeri dapat local bila terjadi abses. Tindakan Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan indikasi : analgesic, narkotik. Rasional : Menurunkan laju metabolic dan iritasi usus karena toksin sirkulasi/ local, yang membantu menghilangkan nyeri dan meningkatkan penyembuhan. Berikan antiemetic, contoh : hidrokzin (fistaril). Rasional : Menurunkan mual/muntah yang dapat meningkatkan nyeri abdomen. Berikan antipiuretik, contoh : asentaminoven.

Rasional : Menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan demam/ menggigil. Diagnosa Keperawatan 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan muntah dan disfungsi usus. Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi Kriteria Hasil :

Intervensi : Tindakan Mandiri Awasi saluran selang NG. Catat adanya muntah/ diare. Rasional : Jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/ diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut. Auskultasi bising usus, catat bunyi tidak ada/ hiperaktive. Rasional : Meskipun bising usus sering tak ada, inflamasi/ iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air dan diare. Kaji abdomen dengan sering untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus. Rasional : Menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan peroral. Tindakan Kolaborasi : Berikan hiperelimentasi sesuai indikasi. Rasional : Meningkatkan penggunaan nutrient dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tidak mampu mengasimilasi nutrient dengan normal.

Awasi BUN, protein, albumin, glukosa, keseimbangan nitrogen sesuai indikasi. Rasional : Menunjukkan fungsi organ dan status/ kebutuhan nutrisi. Tambahkan diet sesuai toleransi, contoh : cairan jernih sampai lembut.. Rasional : Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster. Diposkan oleh Mhia Unyu Unyu di 22.36

http://ashar-ibenk.blogspot.com/2012/01/ashar-askep.html

Jumat, 23 Januari 2009 Askep Peritonitis BAB I PENDAHULUAN A. ANATOMI DAN FISIOLOGI PERITONIUM Peritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritoneum paretal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritoneum visceral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen. Ruang yang terdapat diantara dualpisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritoneum. Pada laki-laki berupa kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk ke dalam rongga peritoneum, di dalam peritoneum banyak terdapat lipatan atau kantong. Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat disebelah depan lambung. Lipatan kecil (omentum minor) meliputi hati, kurvaturan minor, dna lambung berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus. Fungsi peritoneum :1. Menutupi sebagian dari organ abdomen dan pelvis2. Membentuk pembatas yang halus sehinggan organ yang ada dalam rongga peritoneum tidak saling bergesekan3. Menjaga kedudukan dan mempertahankan hubungan organ terhadap dinding posterior abdomen4. Tempat kelenjar limfe dan pembuluh darah yang membantu melindungi terhadap infeksi.B.

PENGERTIAN PERITONITIS

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Pasien dengan peritonitis dapat mengalami gejala akut, penyakit ringan dan terbatas, atau penyakit berat dan sistemikengan syok sepsis. Infeksi peritonitis terbagi atas penyebab perimer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral), atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi pertitonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (local infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Penyebab lain peritonitis sekunder ialah perforasi apendisitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat diverdikulitis, volvulus dan kanker, dan strangulasi kolon asendens. Penyebab iatrogenic umumnya berasal dari trauma saluran cerna bagian atas termasuk pancreas, saluran empedu dan kolon kadang juga dapat terjadi dari trauma endoskopi. Jahitan oprasi yang bocor (dehisensi) merupakan penyebab tersering terjadinya peritonitis. Sesudah operasi, abdomen efektif untuk etiologi noninfeksi, insiden peritonitis sekunder (akibat pecahnya jahitan operasi seharusnya kurang dari 2%. Operasi untuk penyakit inflamasi (misalnya apendisitis, divetikulitis, kolesistitis) tanpa perforasi berisiko kurang dari 10% terjadinya peritonitis sekunder dan abses peritoneal. Risiko terjadinya peritonitis sekunder dan abses makin tinggi dengan adanya kterlibatan duodenum, pancreas perforasi kolon, kontaminasi peritoneal, syok perioperatif, dan transfuse yang pasif.

C. ETIOLOGI Bentuk peritonitis yang paling sering ialah Spontaneous bacterial Peritonitis (SBP) dan peritonitis sekunder. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asites terjadi kontaminasi hingga kerongga peritoneal sehinggan menjadi translokasi bakteri munuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan akibat penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites, semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses. Ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul komponen asites pathogen yang paling sering

menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. Coli 40%, Klebsiella pneumoniae 7%, spesies Pseudomonas, Proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu Streptococcus pnemuminae 15%, jenis Streptococcus lain 15%, dan golongan Staphylococcus 3%, selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal terutama disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. Peritonitis tersier terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat, bukan berasal dari kelainan organ, pada pasien peritonisis tersier biasanya timbul abses atau flagmon dengan atau tanpa fistula. Selain itu juga terdapat peritonitis TB, peritonitis steril atau kimiawi terjadi karena iritasi bahan-bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium, dan substansi kimia lain atau prses inflamasi transmural dari organ-organ dalam (Misalnya penyakit Crohn).

D. TANDA DAN GEJALA KLINIS Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum visceral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritoneum parietal). Tanda-tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia, tatikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum ditempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasinya yang menyakinkan atau tegang karena iritasi peritoneum. Pada wanita dilakukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatoru disease. Pemeriksaanpemeriksaan klinis ini bisa jadi positif palsu pada penderita dalam keadaan imunosupresi (misalnya diabetes berat, penggunaan steroid, pascatransplantasi, atau HIV), penderita dengan penurunan kesadaran (misalnya trauma cranial, ensefalopati toksik, syok sepsis, atau penggunaan analgesic), penderita dnegan paraplegia dan penderita geriatric.

E. PATOFISIOLOGI Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi dari organ abdomen ke dalam rongga bdomen sebagai akibat dari inflamasi, infeksi, iskemia, trauma atau perforasi tumor. Terjadinya proliferasi

bacterial, terjadinya edema jaringan dan dalam waktu singkat terjadi eksudasi cairan. Cairan dalam rongga peritoneal menjadi keruh dengan peningkatan jumlah protein, sel darah putih, debris seluler dan darah. Respons segera dari saluran usus adalah hipermotilitas, diikuti oleh ileus paralitik disertai akumulasi udara dan cairan dalam usus.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSITIK Drainase panduan CT-Scan dan USG Pembedahan

G. KOMPLIKASI Eviserasi Luka Pembentukan abses

H. PENATALAKSANAANPenggantian cairan, koloid dan elektroli adalah focus utama. Analegesik diberikan untuk mengatasi nyeri antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat, tetapi kadang-kadang inkubasi jalan napas dan bantuk ventilasi diperlukan. Tetapi medikamentosa nonoperatif dengan terapi antibiotic, terapi hemodinamik untuk paru dan ginjal, terapi nutrisi dan metabolic dan terapi modulasi respon peradangan.Penatalaksanaan pasien trauma tembus dengan hemodinamik stabil di dada bagian bawah atau abdomen berbeda-beda namun semua ahli bedah sepakat pasien dengan tanda peritonitis atau hipovolemia harus menjalani explorasi bedah, tetapi hal ini tidak pasti bagi pasien tanpa-tanda-tanda sepsis dengan hemodinamik stabil. Semua luka tusuk di dada bawah dan abdomen harus dieksplorasi terlebih dahulu. Bila luka menembus peritoniummaka tindakan laparotomi diperlukan. Prolaps visera, tanda-tanda peritonitis, syok, hilangnya bising usus, terdaat darah dalam lambung, buli-buli dan rectum, adanya udara bebas intraperitoneal dan lavase peritoneal yang positif juga merupakan indikasi melakukan laparotomi. Bila tidak ada, pasien harus diobservasi selama 24-48 jam. Sedangkan pada pasien luka tembak dianjurkan agar dilakukan laparotomi.Keperawatan perioperatif merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien yang mencakup tiga fase yaitu :1. Fase praoperatif dari peran keperawatan perioperatif dimulai ketika keputusan untuk intervensi bedah dibuat dan berakhir ketika pasien digiring kemeja operasi. Lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien ditatanan kliniik atau dirumah, menjalani wawancaran

praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anastesi yang diberikan dan pembedahan. Bagaimanapun, aktivitas keperawatan mungkin dibatasi hingga melakukan pengkajian pasien praoperatif ditempat ruang operasi.2. Fase intraoperatif dari keperawatan perioperatif dimulai dketika pasien masuk atau dipindah kebagian atau keruang pemulihan. Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan dapat meliputi: memasang infuse (IV), memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Pada beberapa contoh, aktivitas keperawatan terbatas hanyapada menggemgam tangan pasien selama induksi anastesia umum, bertindak dalam peranannya sebagai perawat scub, atau membantu dalam mengatur posisi pasien diatas meja operasi dengan menggunakan prinsip-prinsip dasar kesejajaran tubuh.3. Fase pascaoperatif dimulai dengan masuknya pasien keruang pemulihan dan berakhir dengan evaluasi tindak lanjut pada tatanan kliniik atau dirumah. Lingkup keperawatan mencakup rentang aktivitas yang luas selama periode ini. Pada fase pascaoperatif langsung, focus terhadap mengkaji efek dari agen anastesia dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan kemudian berfokus pada penyembuhan pasien dan melakukan penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan. Setiap fase ditelaah lebih detail lagi dalam unit ini. Kapan berkaitan dan memungkinkan, proses keperawatan pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi dan evaluasi diuraikan.

I. DIAGNOSA YANG MUNCUL 1. Infeksi risiko tinggi berhubungan dengan trauma jaringan2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktif3. Nyeri akut berhuungan dengan agen cidera kimia pasca operasi4. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makanan.5. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kelemahan secara menyeluruh7. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasi8. Hipertermi berhubungan dengan medikasi atau anastesia.

BAB II TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 3 Desember 2007Jam : 07.30 WIBOleh : Kelompok 3ASumber dari : PasienMetode : ObervasiB. IDENTITAS PASIENa. Identitas PasienNama : Ny. "T"Umur : 35 tahunAgama : IslamPekerjaan : Ibu Rumah TanggaSuku/Bangsa : Jawa/IndonesiaJenis Kelamin : PerempuanAlamat : Kota Gede Yogyakartab. Identitas Penanggung JawabNama : Tn. RobertUmur : 40 tahunAgama : IslamPekerjaan : PNSAlamat : Kota Gede YogyakartaHub. Dengan pasien : Suami pasienNo Registrasi : 11.02.1289Tgl. Masuk RS : 3 Desember 2007, 07.30 WIB melalui poli penyakit dalamKELUHAN UTAMAPasien peritonitis mengalami nyeri kesakita dibagian perut bagian kananRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGRIWAYAT KESEHATAN DAHULURIWAYAT KESEHATAN KELUARGAPOLA KESEHATAN SEHARI-HARIAKTIVITAS ISTIRAHATPenderita peritonitis mebgalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas.ELIMINASIPasien mengalami penurunan berkemihMAKAN CAIRANKehilangan nafsu makan,mual/muntahHYGIENEKelemahan selama aktivitas perawatan diriNYERI/KENYAMANANKulit lecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mentalINTERAKSI SOSIALPenurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.PEMERIKSAAN LABLaboratorim : CT-Scan dan USGTERAPI PADA TANGGAL 3 DESEMBER 20071. Terapi antibiotic2. terapi nutrisi dan metabolic3. terapi modulasi respon peradangan.BAB IIIANALISA DATANama : Ny "T" No Reg. : 11.02.1289Umur : 35 tahun Ruang : Poli Penyakit DalamDATA FOKUS :1. Pendrita peritonitis mengalamiletih, kurang tidur, nyeri perut dengan aktivitas2. Pasien mengalami penurunan berkemih3. Kehilangan nafsu makan, mual/muntah4. Kelemahan selama aktivitas perawatan diri5. Nyeri abdomen kanan atas6. Kulitlecet, kehilangan kekuatan, perubahan dalam fungsi mental7. Penurunan keikutsertaan dalam aktivitas social yang biasa dilakukan.DO : - Terdapat luka biopsy- KU cukup- Ulserasi berbentuk nodul dengan tepi berwarna kemerahan- Suhu : 37,5oCDO : - Ku Cukup- Membrane mukosa kering- Kulit kering- Nyeri abdomen kanan atsDO : - KU cukupPasien tampak kesakitan- Dehidrasi- Penurunan berkemihDO : - Nafsu makan menurun- Mulut terasa pahir- Mual / muntahDO : - Gelisah- Pucat- Tekanan darah meningkat- Sering pusingGangguan tidurDO : - KU cukup- Pasien sering salah konsepsi- Periaku tidak sesuai/berlebihanDO : - Kelemahan selamaaktivitas diri- TakikardiDO : - Takikardi- Suhu >37,5oCDO : - Kulit lecet- Kulit keringTrauma jaringanAgen cidera kimia pasca operasiKehilangan volume cairan aktifTidak mampu dalam mencerna makananPerubahan status

kesehatanSalah interpretasi infomasiKelemahan menyeluruhMedikasi/anestesiMedikasiInfeksi resiko tinggiNyeri akutKekurangan volume cairanKetidak seimbangan nutrisiAnsietasKurang pengetahuanIntoleransi aktifitasHipertermiRisiko kerusakan integritas kulitPRIORITAS MASALAHNyeri akut berhubungan dnegan agen cidera kimia pasca operasihipertermi berhubungan dengan medikasi/anastesiinfeksi risiko tinggi berhbungan dengan trauma jaringanrisiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan medikasiketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampu dalam mencerna makananKekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairan aktifAnsietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.Kurang pengetahuan berhubungan dengan salah interpretasi informasi.INTERVENSI/TINDAKAN KEPERAWATANNo/ DXDiagnosaRencanaRasionalTujuanTindakanNyeri akut b/d agen cidera kimia pasca operasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama. Diharapkan nyeri berkurang dnegan criteria:Nyeri berkurang TTV normal- Mampu beraktivitas- Dapat melakukan relaksasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama. Diharapkan panas menurun dengan criteria :Suhu badan normal- Tidak mengalami komplikasi yang berhubunganSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama jam diharapkan tidak terjadi komplikasi dengan kriteria- KU membaik- TTV normal- Pasien tampak rileks- Sensasi menjadi normal- Pertahanan mobilsasi dengan yang sakit- Tinggikan dan dukung extremitas atas- Evaluasi keluhan nyeri- Pantau suhu pasien- Berikan kompres hangat- Kaji tanda vital dengan sering dan catat warna kulit, suhu dan kelembaban, catat resiko individu- Observasi drainase pada luka- Menghilangkan nyeri- Menurunkan nyeri- Mempengaruhi pilihan pengawasan keefektifan intervensi.- Memantau perubahan suhu tubuh pasien- Membantu mengurangi demam- Mempengaruhi pilihan intervensi- Memberikan enformasi tentang status infeksi.Risiko kerusakan integritas kulit b/d medikasiKekurangna volume cairan b/d kehilangan volume cairan aktif- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selamam. Jam diharapkan luka sembuh dengan criteria- Tingkat penyembuhan luka cepat- Mencegah kerusakan kulit- Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama. Jam diharapkan pasien mampu mencerna makanan dengan criteria :- Pasien dapat mencerna makanan dengan baikPasien tidak mual/muntah-- Observasi warna dan karakteri drainase- Observasi kulit- Sedikit laporan peningkatan/tidak hilangnya nyeri- Tambahkan diet sesuai toleransi- Berikan hiperaliemntasiAuskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif- Ukur lingkar abdomen- Timbang berat

badan dnegan teratur- Tambahkan diet seduai dengan toleransi- Pantau TTV- Pertahankan masukan dan haluan yang akurat- Observasi kulit/ membrane turgor kulit- Ubah posisi pasien sesering mungkin- Drainase normal- Mengindikasikan adanya obstruktif- Tanda dugaanadanya abses/pembentukan fistula yang memerlukan intervensi medik- Muntah diduga terjadi obstruksi usus- Meningkatkan penggunaan nutrein dan keseimbangan nitrogen positif pada pasien yang tak mampu mengasimilasi nutrein dengan normal- Inflamasi dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorbs air- Memberikan bukti kuantitas perubahan disters gaster- Kehilangan / peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan lanjut diduga ada deficit nutrisi- Kemajuan diet yang hati-hati saat masukan nutrisi dimulai lagi menurunkan resiko iritasi gaster.- Membantu dalam evaluasi derajat deficit cairan / keefektifan penggantian terapi cairan danrespon terhadap pengobatan- Menunjukkan status hidrasi keseluruhan- Hopovolemia, perpindahan cairan&kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringanJaringan edema & adanya gangguab sirkulasi cenderung merusak kulitIntoleransi aktivitas b/d kelemahan secara menyeluruhSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Memenuhi kebutuhan perawatan diri sendiri- Periksa TTV- Evaluasi peningkatan toleran aktifitasBerikan bantuan dalam aktivitas perwatan diri sesuai indikasi- Membantu dalam evaluasi derajat toleransi- Dapat menunjukkan peningkatan dekompesasi peritoneum daripada kelebihan aktivitas- Pemenuhan kebutuhan perawatan diri pasienAnsietas b/d perubahan status sosialSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- Rasa takut menjadi berkurang- Tampak rileks- Tampak sehat- Evaluasi tingkat ansietas- Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan- Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur- Ketakutan menjadi nyeri hebat- Mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan antesias- Membatasi kelemahan, menghemat energi & meningkatkan kemampuan kopingKurang pengetahuan b/d salah satu interpretasi informasiSetelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan selama..jam diharapkan mencapai peningkatan toleransi aktivitas dengan criteria :- pasien memahami sakit yang dialaminyaPasien mengetahui cara mengobati penyakitnya- Kaji ulang proses penyakit dasar & harapan untuk sembuh- Diskusikan program pengobatan & efek samping- Anjurkan melakukan aktivitas biasa secara bertahap- Kaji ulang pembahasan aktivitas- Lakukan penggantian balutan secara aseptic- Identifikasi gejala yang memerlukan evaluasi medik- Memberikan dasar pengetahuan

pada pasien yang memungkinkan membuat pilihan berdasarkan informasi- Antibiotik dapat dilanjutkan setelah pulang, tergantung lama perawatan- Mencegah kelemahan, meningkatkan perasaan sehat- Menghindari peningkatan intraabdomen & tegangan otot- Menurunkan resiko kontaminasi- Pengenalan dini & pengobatan terjadinya komplikasi dapat mencegah cedera seriusBAB IVPENUTUPKESIMPULANDari tindakan asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien diharapkan yang awalnya dalam keadaan buruk dapat menjadi lebih baik sehingga dapat melakukan aktifitas seperti biasa.SARANKami sebagai penyusun makalah ini menghaapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.DAFTAR PUSTAKABrunner & Suddart. 2002.Keperawatan Medikal Bedah 5, ECG; JakartaSilvia A. Price. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, ECG ; JakartaDiagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Prima Medika : JakartaMarilynn E Doenges, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 8. ECG : JakartaFarmaca Peritonitis, pedih dan sulit diobati. www. Majalah-farmacia.comKATA PENGANTARPuji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat dan karunia-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah NSP mengenai penyakit PERITONITIS pada klien Ny. T dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ihi merupakan tugas dari praktikum NSP (Nursing Simulation Program) yang diberikan untuk memenuhi tugas NSP.Dalam makalah ini penulis memberi judul PENYAKIT PERITORITIS. Dimana makalah ini membahas mengenai pengertian, penyebab dan cara mengatasi penyakit peritonitis. Diposkan oleh Abdul Haris Awie di 21.12 Label: Sistem Gastrointestinal

http://lensaprofesi.blogspot.com/2009/01/askep-peritonitis.html

Askep Peritonitis Jumat, 25 Maret 2011

A. DEFINISI Peritonitis adalah peradangan pada peritonium yang merupakan pembungkus visera dalam rongga perut. Peritoneum adalah lapisan tunggal dari sel-sel mesoepitelial diatas dasar fibroelastik. Terbagi menjadi bagian viseral, yang menutupi usus dan mesenterium; dan bagian parietal yang melapisi dinding abdomen dan berhubungan dengan fasia muskularis. Peritoneum viserale yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh sistem saraf autonom dan tidak peka terhadap rabaan atau pemotongan. Dengan demikian sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa dirasakan oleh pasien. Akan tetapi bila dilakukan tarikan atau regangan organ, atau terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia misalnya pada kolik atau radang seperti apendisitis, maka akan timbul nyeri. Pasien yang merasaka nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjuk dengan tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menujuk daerah yang nyeri. Peritoneum parietale dipersarafi oleh saraf tepi, sehingga nyeri dapat timbul karena adanya rangsang yang berupa rabaan, tekanan, atau proses radang. Nyeri dirasakan seperti seperti ditusuk atau disayat, dan pasien dapat menunjukkan dengan tepat lokasi nyeri. Area permukaan total peritoneum sekitar 2 meter, dan aktivitasnya konsisten dengan suatu membran semi permeabel. Cairan dan elektrolit kecil dapat bergerak kedua arah. Organ-organ yang terdapat di cavum peritoneum yaitu gaster, hepar, vesica fellea, lien, ileum, jejenum, kolon transversum, kolon sigmoid, sekum, dan appendix (intraperitoneum); pankreas, duodenum, kolon ascenden & descenden, ginjal dan ureter (retroperitoneum).

B. ANATOMI Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Dibagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga, dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis, lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ), kemudian ketiga otot dinding perut m. obliquus abdominis eksterna, m. obliquus abdominis internus dan m. transversum abdominis, dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium, yaitu fascia transversalis, lemak preperitonial dan peritonium. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Peritoneum adalah mesoderm lamina lateralis yang tetap bersifat epitelial. Pada permulaan, mesoderm merupakan dinding dari sepasang rongga yaitu coelom. Di antara kedua rongga terdapat entoderm yang merupakan dinding enteron. Enteron didaerah abdomen menjadi usus. Kedua rongga mesoderm, dorsal dan ventral usus saling mendekat, sehingga mesoderm tersebut kemudian menjadi peritonium. Lapisan peritonium dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Lembaran yang menutupi dinding usus, disebut lamina visceralis (tunika serosa). 2. Lembaran yang melapisi dinding dalam abdomen disebut lamina parietalis. 3. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis. Lembaran yang menghubungkan lamina visceralis dan lamina parietalis kanan kiri saling menempel dan membentuk suatu lembar rangkap yang disebut duplikatura. Dengan demikian baik di ventral maupun dorsal usus terdapat suatu duplikatura. Duplikatura ini menghubungkan usus dengan dinding ventral dan dinding dorsal perut dan dapat dipandang sebagai suatu alat penggantung usus yang disebut mesenterium. Mesenterium dibedakan menjadi mesenterium ventrale dan mesenterium dorsale. Mesenterium vebtrale yang terdapat pada sebelah kaudal pars superior duodeni kemudian menghilang. Lembaran kiri dan kanan mesenterium ventrale yang masih tetap ada, bersatu pada tepi kaudalnya. Mesenterium setinggi ventrikulus disebut mesogastrium ventrale dan mesogastrium dorsale. Pada waktu perkembangan dan pertumbuhan, ventriculus dan usus mengalami pemutaran. Usus atau enteron pada suatu tempat berhubungan

dengan umbilicus dan saccus vitellinus. Hubungan ini membentuk pipa yang disebut ductus omphaloentericus. Usus tumbuh lebih cepat dari rongga sehingga usus terpaksa berbelok-belok dan terjadi jiratjirat. Jirat usus akibat usus berputar ke kanan sebesar 270 dengan aksis ductus omphaloentericus dan a. mesenterica superior masing-masing pada dinding ventral dan dinding dorsal perut. Setelah ductus omphaloentericus menghilang, jirat usus ini jatuh kebawah dan bersama mesenterium dorsale mendekati peritonium parietale. Karena jirat usus berputar bagian usus disebelah oral (kranial) jirat berpindah ke kanan dan bagian disebelah anal (kaudal) berpindah ke kiri dan keduanya mendekati peritoneum parietale. Pada tempat-tempat peritoneum viscerale dan mesenterium dorsale mendekati peritoneum dorsale, terjadi perlekatan. Tetapi, tidak semua tempat terjadi perlekatan. Akibat perlekatan ini, ada bagian-bagian usus yang tidak mempunyai alat-alat penggantung lagi, dan sekarang terletak disebelah dorsal peritonium sehingga disebut retroperitoneal. Bagian-bagian yang masih mempunyai alat penggantung terletak di dalam rongga yang dindingnya dibentuk oleh peritoneum parietale, disebut terletak intraperitoneal. Rongga tersebut disebut cavum peritonei.. dengan demikian: o Duodenum terletak retroperitoneal; o Jejenum dan ileum terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium; o Colon ascendens dan colon descendens terletak retroperitoneal; o Colon transversum terletak intraperitoneal dan mempunyai alat penggantung disebut mesocolon transversum; o Colon sigmoideum terletak intraperitoneal dengan alat penggatung mesosigmoideum; cecum terletak intraperitoneal; o Processus vermiformis terletak intraperitoneal dengan alat penggantung mesenterium. Di berbagai tempat, perlekatan peritoneum viscerale atau mesenterium pada peritoneum parietale tidak sempurna, sehingga terjadi cekungan-cekungan di antara usus (yang diliputi oleh peritoneum viscerale) dan peritoneum parietale atau diantara mesenterium dan peritoneum

parietale yang dibatasi lipatan-lipatan. Lipatan-lipatan dapat juga terjadi karena di dalamnya berjalan pembuluh darah. Dengan demikian di flexura duodenojejenalis terdapat plica duodenalis superior yang membatasi recessus duodenalis superior dan plica duodenalis inferior yang membatasi resesus duodenalis inferior. Pada colon descendens terdapat recessus paracolici. Pada colon sigmoideum terdapat recessus intersigmoideum di antara peritoneum parietale dan mesosigmoideum. Stratum circulare coli melipat-lipat sehingga terjadi plica semilunaris. Peritoneum yang menutupi colon melipat-lipat keluar diisi oleh lemak sehingga terjadi bangunan yang disebut appendices epiploicae. Dataran peritoneum yang dilapisis mesotelium, licin dan bertambah licin karena peritoneum mengeluiarkan sedikit cairan. Dengan demikian peritoneum dapat disamakan dengan stratum synoviale di persendian. Peritoneum yang licin ini memudahkan pergerakan alat-alat intra peritoneal satu terhadap yang lain. Kadang-kadang , pemuntaran ventriculus dan jirat usus berlangsung ke arah yang lain. Akibatnya alat-alat yang seharusnya disebelah kanan terletak disebelah kiri atau sebaliknya. Keadaan demikian disebut situs inversus. 13 C. ETIOLOGI Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulitnya misalnya perforasi appendisitis, perforasi tukak lambung, perforasi tifus abdominalis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. D. PATOFISOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian

sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. E. KLASIFIKASI Berdasarkan patogenesis peritonitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Peritonitis bakterial primer. Merupakan peritonitis akibat kontaminasi bakterial secara hematogen pada cavum peritoneum dan tidak ditemukan fokus infeksi dalam abdomen. Penyebabnya bersifat monomikrobial, biasanya E. Coli, Streptococus atau Pneumococus. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi, keganasan intraabdomen, imunosupresi dan splenektomi.

Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik, gagal ginjal kronik, lupus eritematosus sistemik, dan sirosis hepatis dengan asites. 2. Peritonitis bakterial akut sekunder (supurativa) Peritonitis yang mengikuti suatu infeksi akut atau perforasi tractus gastrointestinal atau tractus urinarius. Pada umumnya organisme tunggal tidak akan menyebabkan peritonitis yang fatal. Sinergisme dari multipel organisme dapat memperberat terjadinya infeksi ini. Bakterii anaerob, khususnya spesies Bacteroides, dapat memperbesar pengaruh bakteri aerob dalam menimbulkan infeksi. Selain itu luas dan lama kontaminasi suatu bakteri juga dapat memperberat suatu peritonitis. 3. Peritonitis non bakterial akut Merupakan peritonitis yang disebabkan oleh iritan langsung, sepertii misalnya empedu, getah lambung, getah pankreas, dan urine. d. Peritonitis bakterial kronik (tuberkulosa) Secara primer dapat terjadi karena penyebaran dari fokus di paru, intestinal atau tractus urinarius. 4. Peritonitis non bakterial kronik (granulomatosa) Peritoneum dapat bereaksi terhadap penyebab tertentu melaluii pembentukkan granuloma, dan sering menimbulkan adhesi padat. Peritonitis granulomatosa kronik dapat terjadi karena talk (magnesium silicate) atau tepung yang terdapat disarung tangan dokter. Menyeka sarung tangan sebelum insisi, akan mengurangi masalah ini.

F. MANIFESTASI KLINIS Adanya darah atau cairan dalam rongga peritonium akan memberikan tanda tanda rangsangan peritonium. Rangsangan peritonium menimbulkan nyeri tekan dan defans muskular, pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. Peristaltik usus menurun sampai hilang akibat kelumpuhan sementara usus.

Bila telah terjadi peritonitis bakterial, suhu badan penderita akan naik dan terjadi takikardia, hipotensi dan penderita tampak letargik dan syok. Rangsangan ini menimbulkan nyeri pada setiap gerakan yang menyebabkan pergeseran peritonium dengan peritonium. Nyeri subjektif berupa nyeri waktu penderita bergerak seperti jalan, bernafas, batuk, atau mengejan. Nyeri objektif berupa nyeri jika digerakkan seperti palpasi, nyeri tekan lepas, tes psoas, atau tes lainnya. G. DIAGNOSIS Diagnosis dari peritonitis dapat ditegakkan dengan adanya gambaran klinis, pemeriksaan laboratorium dan X-Ray. 1. Gambaran klinis Gambaran klinisnya tergantung pada luas peritonitis, berat peritonitis dan jenis organisme yang bertanggung jawab. Peritonitis dapat lokal, menyebar, atau umum. Gambaran klinis yang biasa terjadi pada peritonitis bakterial primer yaitu adanya nyeri abdomen, demam, nyeri lepas tekan dan bising usus yang menurun atau menghilang. Sedangkan gambaran klinis pada peritonitis bakterial sekunder yaitu adanya nyeri abdominal yang akut. Nyeri ini tiba-tiba, hebat, dan pada penderita perforasi (misal perforasi ulkus), nyerinya menjadi menyebar keseluruh bagian abdomen. Pada keadaan lain (misal apendisitis), nyerinya mula-mula dikarenakan penyebab utamanya, dan kemudian menyebar secara gradual dari fokus infeksi. Selain nyeri, pasien biasanya menunjukkan gejala dan tanda lain yaitu nausea, vomitus, syok (hipovolemik, septik, dan neurogenik), demam, distensi abdominal, nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus atau umum, dan secara klasik bising usus melemah atau menghilang. Gambaran klinis untuk peritonitis non bakterial akut sama dengan peritonitis bakterial. Peritonitis bakterial kronik (tuberculous) memberikan gambaran klinis adanya keringat malam, kelemahan, penurunan berat badan, dan distensi abdominal; sedang peritonitis granulomatosa menunjukkan gambaran klinis nyeri abdomen yang hebat, demam dan adanya tanda-tanda peritonitis lain yang muncul 2 minggu pasca bedah. 5 2. Pemeriksaan laboratorium

Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis, hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit; basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas, dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. 5 3. Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis; usus halus dan usus besar berdilatasi. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi. Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi, yaitu : (rasad) 1. Tiduran telentang ( supine ), sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior (AP ). 2. Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan, dengan sinar horizontal proyeksi AP. 3. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD), dengan sinar horizontal, proyeksi AP. Gambaran radiologis pada peritonitis secara umum yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen, preperitonial fat dan psoas line menghilang, dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. H. TERAPI Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokus septik (apendiks, dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan.

Keluaran urine tekanan vena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi. Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan, karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya, kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup, mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus, yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi, sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum, karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan, karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum, dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi. I. KOMPLIKASI Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder, dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu : (chushieri) 1. Komplikasi dini

o Septikemia dan syok septic o Syok hipovolemik o Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system o Abses residual intraperitoneal o Portal Pyemia (misal abses hepar) 2. Komplikasi lanjut o Adhesi o Obstruksi intestinal rekuren DAFTAR PUSTAKA 1. Arief M, Suprohaita, Wahyu.I.K, Wieiek S, 2000, Bedah Digestif, dalam Kapita Selekta Kedokteran, Ed:3; Jilid: 2; p 302-321, Media Aesculapius FKUI, Jakarta. 2. Wim de jong, Sjamsuhidayat.R, 1997, Gawat Abdomen, dalam Buku ajar Ilmu Bedah; 221239, EGC, Jakarta. 3. Way. L. W., 1998, Peritoneal Cavity in Current Surgical Diagnosis & Treatment, 7th Ed., Maruzen, USA. 4. Wilson. L. M., Lester. L .B., 1995, Usus kecil dalam Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit, Ed.4, alih bahasa dr. Peter Anugrah, EGC, Jakarta. 5. Schrock. T. R., 2000, Peritonitis dan Massa abdominal dalam Ilmu Bedah, Ed.7, alih bahasa dr. Petrus Lukmanto, EGC, Jakarta. 6. Rasad S, Kartoleksono S, Ekayuda I, 1999, Abdomen Akut, dalam Radiologi Diagnostik, p 256-257, Gaya Baru, jakarta. 7. Schwartz. S. J., Shires. S. T. S., Spencer. F.C., 2000, Peritonitis dan Abces Intraabdomen dalam Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah, Ed.6, alih bahasa dr. Laniyati, EGC, Jakarta.

8. Dahlan. M., Jusi. D., Sjamsuhidajat. R., 2000, Gawat Abdomen dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, Jakarta 9. Putz.R., Pabst.R., 1997, Sobotta, Atlas Anatomi Manusia, EGC, Jakarta 10. Hoyt. D. B., Mackersie. R. C., 1988, Abdominal Injuries in Essential Surgical Practice, 2nd Ed, John Wright, Bristol. 11. Wim de jong, Sjamsuhidayat.R, 1997, Dinding Perut, dalam Buku ajar Ilmu Bedah; 696, EGC, Jakarta. 12. Anonim, 2002, Abdomen, Bagian Anatomi FK UGM, Yogyakarta 13. Darmawan. M., 1995, Peritonitis dalam Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, FKUI, Jakarta Diposkan oleh Laneaz Nifira SKep.NS di 10.35 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langganan: Poskan Komentar (Atom)

http://wongjingkang.blogspot.com/2011/03/askep-peritonitis.html Senin, 16 Agustus 2010 Askep Peritonitis BAB I TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Peritonitis adalah suatu peradangan dan peritoneum, pada membrane serosa, pada bagian rongga

perut. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronik / kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular dan tanda tanda umum inflamasi. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum) lapisan membrane serosa rongga abdomen dan dinding perut bagian dalam.

B. Etiologi Bila di tinjau dari penyebabnya, infeksi peritonitis terbagi atas penyebab primer (peritonitis spontan), sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ viseral) atau penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). Secara umum, infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen. Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena infeksi intrabdomen, namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga terjadi translokasi bakter menuju dinding perut atau pembuluh limfe mensenterium, kadang kadang terjadi juga penyebaran hematogen bila telah terjadi bakterimia. Pathogen yang paling sering menyebabkan infeksi ialah bakteri gram negative (40%), escheria choli (7%), klebsiella pnemunae, sepsis psedomonas, proteus dan gram negatif lainnya (20%). Sementara gram positif, yakni streptococcus (3%), mikroorganisme anaerob (kurang dari 5%) dan infeksi campuran beberapa mikroorganisme (10%). Penyebab lain yang menyebabkan peritonitis sekunder ialah perforasi appendiksitis, perforasi ulkus peptikum dan duodenum, perforasi kolon akibat devertikulisis, volvusus atau kanker dan strangulasi colon asenden. Peritonitis sekunder yang paling sering terjadi disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. Adapun penyebab spesifik dari peritonitis adalah : 1. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi 2. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual.

3. Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang disebabkan oleh gonore dan infeksi clamedia. 4. Kelainan hati atau gagal jantung, dimana bisa terjadi asites dan mengalami infeksi. 5. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. 6. Dialisa peritonial (pengobatan gagal ginjal) 7. Iritasi tanpa infeksi. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat, sering bukan berasal dari kelainan organ. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmen, dengan atau tanpa fistula. Peritonitis tersier timbul lebih sering pada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pasien dengan imunokompromis. Selain tiga bentuk diatas, terdapat pula bentuk peritonitis steril atau kimiawi. Peritonitis ini dapat terjadi karena iritasi bahan- bahan kimia, misalnya cairan empedu, barium dan substansi kimia lain atau proses inflamasi transmural dari organ dalam (mis. Penyakit crohn) tanpa adanya inokulasi bakteri di rongga abdomen.

C. Patofisiologi Reaksi awal peritonium terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Bila bahan bahan infeksi tersebar luas pada permukaan peritonium atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonium umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul illeus paralitik, kemudian usus menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguri. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh, dengan cara ini terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matriks fibrin. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman kuman itu sendiri untuk menciptakan keadaan kondisi abdomen yang steril. Pada keadaan jumlah bakteri yang banyak tubuh tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha menghentikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen kompartemen yang dikenal sebagai abses. Masuknya bakteri dalam

jumlah besar itu bisa berasal dari berbagai sumber, yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di rongga abdomen, peritonitis juga terjadi karena virulensi kuman yang tinggi sehingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur, misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi bacteriodes fragilis dan bakteri gram negatif (E. Coli). Isolasi peritonium pada pasien dengan peritonitis menunjukkan jumlah candida albican yang relatif tinggi, sehingga dengan menggunakan skor apache ii diperoleh mortalitas tinggi akibat kandidosis tersebut.

D. Manifestasi klinis Diagnosis peritonitis ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritonium viseral) yang makin lama makin jelas lokasinya (peritonitis parietal). Tanda tanda peritonitis relative sama dengan infeksi berat yaitu demam tinggi atau pasien yang sepsis dapat terjadi hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga menjadi hipotensi. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maksimum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi. Dinding perut akan terasa tegang karena mekanisme antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum antisipasi penderita secara tak sadar untuk menghindari palpitasi karena iritasi peritoneum. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan, adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus.

E. Komplikasi 1. Penumpukan cairan mengakibatkan penurunan tekanan vena sentral yang menyebabkan gangguan elektrolit bahkan hipovolemik, syok dan gagal ginjal. 2. Abses peritoneal 3. Cairan dapat mendorong diafragma sehingga menyebabkan kesulitan bernafas. 4. Sepsis F. Pemeriksaan Penunjang 1. Tes laboratorium GDA : alkaliosis respiratori dan asidosis mungkin ada.

SDP meningkat kadang kadang lebih besar dari 20.000 SDM mungkin meningkat, menunjukkan hemokonsentrasi. Hemoglobin dan hematokrit mungkin rendah bila terjadi kehilangan darah. 2. Protein / albumin serum : mungkin menurun karena penumpukkan cairan (di intra abdomen) 3. Amilase serum : biasanya meningkat 4. Elektrolit serum : hipokalemia mungkin ada 5. X ray a. Foto polos abdomen 3 posisi (anterior, posterior, lateral) didapatkan : Distensi usus dan ileum Usus halus dan usus besar dilatasi Udara bebas dalam rongga abdomen terlihat pada kasus perforasi. b. Foto dada : dapat menyatakan peninggian diafragma c. Parasentesis : contoh cairan peritoneal dapat mengandung darah, pus / eksudat, emilase, empedu dan kretinum. d. CT abdomen dapat menunjukkan pembentukan abses. 6. Pembedahan

G. Penatalaksanaan Prinsip pengobatan secara umum adalah mengistirahatkan saluran cerna dengan memuaskan pasien, pemberian antibiotik yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogratrik atau intestinal, penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pembungaan focus septic (appendik) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan tindakan menghilangkan nyeri. Prinsip umum dalam menangani infeksi intrabdominal ada 4, antara lain : 1. Kontrol infeksi yang terjadi 2. Pembersihan bakteri dan racun 3. Memperbaiki fungsi organ 4. Mengontrol proses inflamasi

Eksplorasi laparotomi segera dilakukan pada pasien dengan akut peritonitis.

PATHWAY

BAB II ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS

A. Pengkajian 1. Identitas Identitas pasien Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : Identitas penanggung jawab Nama : Umur : Jenis kelamin : Diagnosa : Alamat : 2. Riwayat kesehatan a. Keluhan utama Pasien peritonitis mengalami nyeri kesakitan dibagian kanan. b. Riwayat kesehatan sekarang Pasien peritonitis datang dengan gejala nyeri abdomen, demam tinggi, hipotermia, takikardi, dehidrasi hingga hipotensi bahkan syok.

c. Riwayat kesehatan dahulu Riwayat penyakit perforasi appendicsitis, ulkus peptikum dan duodenum d. Riwayat kesehatan keluarga

3. Pengkajian pola fungsional a. Aktivitas / istirahat Gejala : kelemahan Tanda : kesulitan ambulasi b. Sirkulasi Gejala : takikardi, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok) Tanda : edema jaringan c. Eliminasi Gejala : ketidakmampuan defekasi dan flaktus, diare (kadang kadang). Tanda : cegukan, distensi, abdomen diam. Penurunan haluaran urine, warna gelap Penurunan atau tidak ada bising usus (ileus), bunyi keras hilang timbul, bising usus kasar (obstruksi), kekakuan abdomen, nyeri tekan. Hiperresonan / timpani (ileus) hilang suara pekak di atas hati. d. Makanan Gejala ; anoreksia, mual / muntah, haus Tanda : muntah proyektil Membran mukosa kering, lidah bengkak, turgor kulit buruk. e. Nyeri / keamanan Gejala : nyeri abdomen tiba tiba berat, umum, lokal, menyebar ke bahu, terus menerus oleh gerakan. f. Pernapasan Tanda : pernapasan dangkal , takipnea g. Keamanan Gejala : riwayat inflamasi organ pelvic (salpingitis), infeksi pasca melahirkan.

h. Penyuluhan dan Pembelajaran Gejala : riwayat adanya penetrasi abdomen, contoh luka tembak / tusuk atau trauma tumpul pada abdomen, perforasi kandung kemih / ruptur, penyakit saluran GI.

Diagnosa keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen 2. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan 3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler, intraseluler ke area peritonium. 5. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik 6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Rencana Keperawatan 1. Nyeri berhubungan dengan akumulasi cairan dalam rongga abdomen Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam nyeri hilang / terkontrol Kriteria hasil : pasien menyatakan nyeri terkontrol / hilang Intervensi : a. Kaji derajat nyeri Rasional : untuk membandingkan derajat nyeri pada kondisi sebelumnya. b. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi Rasional : untuk mengontrol keluhan nyeri c. Berikan tindakan kenyamanan Rasional : untuk memberikan keuntungan emosional, mengurangi nyeri d. Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : untuk menghilangkan nyeri 2. Hipertermi berhubungan dengan proses peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam, diharapkan hipertermia pasien dapat teratasi. Kriteria hasil : suhu dalam batas normal (370 C) Tidak mengalam komplikasi Intervensi :

a. Pantau suhu tubuh pasien Rasional : peningkatan suhu diatas 38,90C menunjukkan penyakit infeksius akut. b. Berikan kompres hangat Rasional : dapat membantu mengurangi demam c. Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi. Rasional : suhu ruangan / jumlah selimut diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. d. Kolaborasi pemberian antipiretik Rasional : digunakan untuk mengurangi demam 3. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltik usus Tujuan : setelah dilakukan perawatan 3 x 24 jam, diharapkan tidak terjadi perubahan pola eliminasi klien. Kriteria hasil : pola BAB normal (1 2 x / hari) Mengeluarkan feses tanpa mengejan Intervesi : a. Kaji adanya distensi danik usus Rasional : Distensi dan hilangnya peristaltik usus menandakan bahwa fungsi defekasi hilang. b. Anjurkan pasien untuk melakukan pergerakan sesuai kemampuan Rasional : menstimulasi perstaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus. c. Jelaskan kepada pasien untuk menghindari makanan yang membentuk gas Rasonal : menurunkan distres gastrik dan distensi abdomen. d. Kolaborasi berikan pelunak feses. Rasional : untuk merangsang peristaltik dngan perlahan / evakuasi feses. 4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan perpindahan cairan dari ekstraseluler, intraseluler ke area peritonium. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam, diharapkan volume cairan adekuat. Kriteria : TTV stabil Turgor kulit baik Mukosa lembab Menunjukkanperubahan keseimbangan cairan. Intervensi :

a. Kaji TTV Rasional : indikator keadekuatan volume sirkulasi b. Pantau masukan dan haluran Rasional : untuk menentukan balance cairan. c. Kolaborasi pengawasan hasil laboratorium, elektrolit dan GDA Rasonal : menentukan kebutuhan penggantian dan keefektifan terapi. d. Kolaborasi berikan cairan parental Rasional : mempertahankan penggantian cairan untuk memperbaiki kehilangan cairan. 5. Gangguan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan peristaltik usus. Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam, diharapkan kebutuhan nutrisi pasien adekuat. Kriteria hasil : Menunjukkan peningkatan berat badan Menunjukkan peningkatan nafsu makan. Intervensi : a. Timbang berat badan tiap 2 hari sekali Rasional : untuk menunjukkan keefektifan terapi. b. Auskultasi bising Rasional : peningkatan bising usus menandakan kembalinya fungsi usus. c. Berikan kebersihan oral Rasional : mulut yang bersih dapat meningkatkan rasa makanan d. Kolaborasi rujuk dengan ahli gizi Rasonal : untuk menentukan program diet yang tepat 6. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan peradangan Tujuan : setelah dilakukan perawatan selama 3x24 jam ,diharapkan tidak terjadi infeksi sekunder. Kriteria hasil : Tidak ada tanda / gejala infeksi Tidak terjadi demam Intervensi :

a. Kaji TTV Rasional : peningkatan suhu menandakan adanya infeksi b. Observasi adanya peningkatan nyeri abdomen, kekakuan nyeri tekan, penurunan/ tidak ada bising usus Rasional :di duga peritonitis c. Kolaborasi awasi hasil kultur Rasional : mengindentifikasi mikroorganisme dan membantu dalam mengkaji keefektifan program antimikrobal d. Kolaborasi pemberian antibiotik Rasional : diduga untuk mengurangi / menekan penyebaran mikroba Diposkan oleh Wie2_F@tm@.Story di 07.21 http://fatmazdnrs.blogspot.com/2010/08/askep-peritonitis.html

Askep Peritonitis

Peritonitis adalah inflamasi peritoneum-lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera. Peritonitis adalah inflamasi peritoneum, lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis.

Peritonitis adalah peradangan peritoneum, selaput tipis yang melapisi dinding abdomen dan meliputi organ-organ dalam. Peradangan disebabkan oleh bakteri atau infeksi jamur membran ini. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam. Peritonitis adalah inflamasi membrane peritoneal. Peritoneum adalah kantung dua lapis semipermeabel yang berisi kira-kira 1500 ml cairan yang menutupi organ yang berada dalam rongga abdomen karena bagian ini dipersarafi dengan baik oleh saraf somatic, stimulasi peritoneum parietal yang membatasi rongga abdomen dan pelvis menyebabkan nyeri tajam dan terlokalisasi.

A.

Etiologi 1. Infeksi bakteri Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal Appendisitis yang meradang dan perforasi Tukak peptik (lambung / dudenum) Tukak thypoid Tukan disentri amuba / colitis Tukak pada tumor Salpingitis Divertikulitis Kuman yang paling streptokokus enterokokus dan yang paling berbahaya adalah clostridium wechii. 2. Secara langsung dari luar. Operasi yang tidak steril Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamida, terjadi peritonitisyang disertai pembentukan jaringan granulomatosa sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis granulomatosa serta merupakan peritonitis lokal. Trauma pada kecelakaan seperti rupturs limpa, ruptur hati

Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis. Terbentuk pula peritonitis granulomatosa. 3. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis, glomerulonepritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau pnemokokus. 4. Infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infeksi (umum) dan abses abdomen (lokal infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasarinya. Penyebab peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, tetapi biasanya terjadi pada pasien yang asitesterjadi kontaminasi hinga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuliuh limfe mesenterium, kadang terjadi penyebaran hematogen jika terjadi bakterimia dan penyebab penyakit hati yang kronik. Semakin rendah kadar protein cairan asites semakin tinggi risiko terjadinya peritonitis dan abses, ini terjadi karena ikatan opsonisasi yang rendah antar molekul. Komponen asites pathogen yang sering menyebabkan infeksi adalah bakteri gram negative E. coli 40%, klebsiella pneumoniae 7%, spesies pseudomonas, proteus dan gram lainnya 20% dan bakteri gram positif yaitu strptokokus pneumoniae 15%, jenis streptokokus lain 15%dan golongan staphylokokus 3%. Selain itu juga terdapat anaerob dan infeksi campur bakteri.

B. 1. 2. 3. 4.

Manifestasi Klinik Syok (neurogenik, hipovolemik atau septik) terjadi pada beberpa penderita peritonitis umum. Demam Distensi abdomen Nyeri tekan abdomen dan rigiditas yang lokal, difus, atrofi umum, tergantung pada perluasan iritasi peritonitis.

5.

Bising usus tak terdengar pada peritonitis umum dapat terjadi pada daerah yang jauh dari lokasi peritonitisnya.

6. 7. 8.

Nausea Vomiting Penurunan peristaltik

C.

Anatomi Fisiologi Dinding perut mengandung struktur muskulo-aponeurosis yang kompleks. Di bagian belakang struktur ini melekat pada tulang belakang sebelah atas pada iga, dan di bagian bawah pada tulang panggul. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kuitis dan sub kutis, lemak sub kutan dan facies superfisial ( facies skarpa ), kemudian ketiga otot dinding perut m.obliquus abdominis eksterna, m.obliquus abdominis internus dan m.transversum abdominis, dan akhirnya lapis preperitonium dan peritonium, yaitu fascia transversalis, lemak preperitonial dan peritonium. Otot di bagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektus abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba.6 Dinding perut membentuk rongga perut yang melindungi isi rongga perut. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadilah hernia bawaan, dapatan, maupun iatrogenik. Fungsi lain otot dinding perut adalah pada pernafasan juga pada proses berkemih dan buang air besar dengan meninggikan tekanan intra abdominal. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah. Dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang aa. Intercostalis VI XII dan a.epigastrika superior. Dari kaudal terdapat a.iliaca, a.sircumfleksa superfisialis, a.pudenda eksterna dan a.epigastrika inferior. Kekayaan vaskularisasi ini memungkinkan sayatan perut horizontal maupun vertikal tanpa menimbulkan gangguan perdarahan. Persarafan dinding perut dipersyarafi secara segmental oleh n.thorakalis VI XII dan n. lumbalis I.6

D.

Patofisiologi Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin, dapat memulai respon

hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah. Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut meningkatkan tekana intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi. Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus.

E.

Penatalaksanaan Prinsip umum terapi adalah penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan fokus septik (apendiks, dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Resusitasi dengan larutan saline isotonik sangat penting. Pengembalian volume intravaskular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi, dan mekanisme pertahanan. Keluaran urine tekanan vena sentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi.

Terapi antibiotika harus diberikan sesegera diagnosis peritonitis bakteri dibuat. Antibiotik berspektrum luas diberikan secara empirik, dan kemudian diubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicurigai menjadi penyebab. Antibiotika berspektrum luas juga merupakan tambahan drainase bedah. Harus tersedia dosis yang cukup pada saat pembedahan, karena bakteremia akan berkembang selama operasi. Pembuangan fokus septik atau penyebab radang lain dilakukan dengan operasi laparotomi. Insisi yang dipilih adalah insisi vertikal digaris tengah yang menghasilkan jalan masuk ke seluruh abdomen dan mudah dibuka serta ditutup. Jika peritonitis terlokalisasi, insisi ditujukan diatas tempat inflamasi. Tehnik operasi yang digunakan untuk mengendalikan kontaminasi tergantung pada lokasi dan sifat patologis dari saluran gastrointestinal. Pada umumnya, kontaminasi peritoneum yang terus menerus dapat dicegah dengan menutup, mengeksklusi, atau mereseksi viskus yang perforasi. Lavase peritoneum dilakukan pada peritonitis yang difus, yaitu dengan menggunakan larutan kristaloid (saline). Agar tidak terjadi penyebaran infeksi ketempat yang tidak terkontaminasi maka dapat diberikan antibiotika ( misal sefalosporin ) atau antiseptik (misal povidon iodine) pada cairan irigasi. Bila peritonitisnya terlokalisasi, sebaiknya tidak dilakukan lavase peritoneum, karena tindakan ini akan dapat menyebabkan bakteria menyebar ketempat lain. Drainase (pengaliran) pada peritonitis umum tidak dianjurkan, karena pipa drain itu dengan segera akan terisolasi/terpisah dari cavum peritoneum, dan dapat menjadi tempat masuk bagi kontaminan eksogen. Drainase berguna pada keadaan dimana terjadi kontaminasi yang terusmenerus (misal fistula) dan diindikasikan untuk peritonitis terlokalisasi yang tidak dapat direseksi.

KONSEP KEPERAWATAN

A. 1.

Pengkajian AKTIVITAS / ISTIRAHAT Gejala Tanda : Kelemahan : Kesulitan ambulasi

2.

SIRKULASI Tanda : Takikardia, berkeringat, pucat, hipotensi (tanda syok). Edema jaringan.

3.

ELIMINASI Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. Diare (kadang-kadang). Tanda : Cegukan; distensi abdomen; abdomen diam. Penurunan haluaran urine, warna gelap Penurunan/tak ada bising usus (ileus); bunyi keras hilang timbul, bising usus kasar (obstruksi); kekakuan abdomen, nyeri tekan. Hiperresonan/timpani (ileus); hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen)

4.

MAKANAN / CAIRAN Gejala Tanda : Anoreksia, mual / muntah; haus. : Muntah proyektil. Membran mukosa kering, lidah bengkak, turgor kulit buruk.

5.

NYERI / KENYAMANAN Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat, umum atau lokal, menyebar ke bahu, terus-

menerus oleh gerakan. Tanda 6. : Distensi, kaku, nyeri tekan.

PERNAPASAN Tanda : Pernapasan dangkal, takipnea.

7.

KEAMANAN

Gejala

: Riwayat inflamasi organ pelvik (salpingitis).

B.

Diagnose Keperawatan

Berdasarkan pengkajian diatas,maka diagnosa yang diambil adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan.

C. 1.

Intervensi Keperawatan Infeksi risiko tinggi terhadap septikimia b/d tidak adekuatnya pertahanan primer. Tujuan : Mengurangi/Menghilangkan faktor resiko infeksi. Intervensi :

a.

Catat faktor resiko individu contoh trauma abdomen, apendisitis akut, dialisa peritoneal. Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi.

b.

Kaji tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi, penurunan tekanan nadi, takikardia, demam, takipnea. Rasional : tanda adanya syok septik, endotoksin sirkulasi menyebabkan vasodilatasi, kehilangan cairan dari sirkulasi, dan rendahnya status curah jantung.

c.

Catat perubahan status mental (contoh bingung, pusing)

Rasional : Hipoksemia, hipotensi, dan asidosis dapat menyebabkan penyimpangan status mental. d. Catat warna kulit, suhu, kelembaban. Rasional : Hangat, kemerahan, kulit kering adalah tanda dini septikemia. Selanjutnya manifestasi termasuk dingin, kulit pucat lembab dan sianosis sebagai tanda syok. e. Awasi haluaran urine Rasional : oliguria terjadi sebagai akibat penurunan perfusi ginjal, toksin dalam sirkulasi mempengaruhi antibiotik. f. Pertahankan tekhnik aseptik ketat pada perawatan drein abdomen, luka insisi/terbuka, dan sisi invasif. Bersihkan dengan betadine atau larutan lain yang tepat. Rasional : mencegah meluas dan membatasi penyebaran organisme infektif/kontaminasi silang. g. Observasi dreinase pada luka/drein. Rasional : memberikan informasi tentang status infeksi. h. Pertahankan tekhnik steril bila pasien dipasang kateter, dan berikan perawatan kateter/kebersihan perineal rutin. Rasional : mencegah penyebaran, membatasi pertumbuhan bakteri pada traktus urinarius. i. Awasi/batasi pengunjung staff sesuai kebutuhuan. Berikan perlindungan isolasi bila diindikasikan. Rasional : menurunkan resiko terpajan/menambah infeksi sekunder pada pasien yang mengalami tekanan imun. 2. Kekurangan volume cairan b/d perpindahan cairan ke dalam usus. Tujuan : Memenuhi kebutuhan cairan

Intervensi : a. Pantau tanda vital, catat adanya hipotensi (termasuk perubahan postural), takikardia, takipnea, demam. Ukur CVP bila ada. Rasional : membantu dalam evaluasi derajat defisit cairan/keefektifan penggantian terapi cairan dan respon terhadap pengobatan. b. Pertahankan masukan dan haluaran yang akurat dan hubungkan dengan berat badan harian. Termasuk pengukuran/perkiraan kehilangan contoh penghisapan gaster, drein, balutan, hemovac, keringat, lingkar abdomen. Rasional : menunjukkan status hidrasi keseluruhan. c. Ukur berat jenis urine Rasional : menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal. d. Observasi kulit/membran mukosa untuk kekeringan, turgor. Catat edema perifer/sakral. Rasional : hipovolemia, perpindahan cairan, dan kekurangan nutrisi memperburuk turgor kulit, menambah edema jaringan. e. Hilangkan tanda bahaya/bau dari lingkungan. Batasi pemasukan es batu Rasional : Menurunkan rangsangan pada gaster dan respon muntah f. Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit dengan sering, dan pertahankan tempat tidur kering dan bebas lipatan. Rasional : jaringan edema dan adanya gangguan sirkulasi cenderung merusak kulit. 3. Nyeri akut b/d iritasi kimia peritonium perifer. Tujuan : mengurangi/menghilangkan nyeri Intervensi :

a.

Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lama, intensitas (skala 0-10) dan karakteristiknya (dangkal, tajam, konstan). Rasional : perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkan terjadinya komplikasi.

b.

Pertahankan posisi semi fowler sesuai indikasi Rasional : memudahkan drainase cairan/luka karena gravitasi dan membantu meminimalkan nyeri karena gerakan.

c.

Berikan tindakan kenyamanan, contoh pijatan punggung, napas dalam, latihan relaksasi/visualisasi. Rasional : meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan kemampuan koping pasien dengan memfokuskan kembali perhatian.

d.

Berikan perawatan mulut dengan sering. Hilangkan rangsangan lingkungan yang tak menyenangkan. Rasional : menurunkan mual/muntah, yang dapat meningkatkan tekanan/nyeri intraabdomen.

4.

Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual / peningkatan kebutuhan metabolik. Tujuan : memenuhi kebutuhan nutrisi Intervensi :

a.

Awasi haluaran selang NG. Catat adanya muntah/diare Rasional : jumlah besar dari aspirasi gaster dan muntah/diare diduga terjadi obstruksi usus, memerlukan evaluasi lanjut.

b.

Auskultasi bising usus, catat bunyi tak ada/hiperaktif Rasional : meskipun bising usus sering tidak ada, inflamasi/iritasi usus dapat menyertai hiperaktivitas usus, penurunan absorpsi air dan diare

c.

Ukur lingkar abdomen Rasional : memberikan bukti kuantitas perubahan distensi gaster/usus dan/atau akumulasi asites.

d.

Timbang berat badan dengan teratur Rasional : kehilangan/peningkatan dini menunjukkan perubahan hidrasi tetapi kehilangan.

e.

Kaji abdomen sering mungkin untuk kembali ke bunyi yang lembut, penampilan bising usus normal, dan kelancaran flatus Rasional : menunjukkan kembalinya fungsi usus ke normal dan kemampuan untuk memulai masukan per oral.

5.

Ansietas atau ketakutan b/d ancaman kematian/perubahan status kesehatan. Tujuan : mengurangi atau menghilangkan kecemasan Intervensi :

a.

Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal dan non-verbal pasien. Dorong ekspressi bebas akan emosi. Rasional : ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan perasaan sakit, penting pada prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan.

b.

Berikan informasi tentang proses penyakit dan antisipasi tindakan Rasional : mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas.

c.

Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur Rasional : membatasi kelemahan, menghemat energi, dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

D. 1. 2. 3. 4. 5.

Evaluasi Factor infeksi berkurang atau tidak ada Pasien dapat mempertahankan kebutuhan cairan dan elektrolit Nyeri berkurang atau tidak ada Pasien dapat mengembalikan pola makan seperti biasanya Kecemasan/ansietas berkurang atau hilang

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E. dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC. Smeltzer, Suzanne C, Brenda G. Bare. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth. Jakarta : EGC. http://health.detik.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://keperawatankomunitas.blogspot.com/2009/10/peritonitis.html http://medicastore.com/penyakit/497/Peritonitis_radang_selaput_rongga_perut.html http://medlinux.blogspot.com/2009/03/penanganan-peritonitis.html http://health.detik.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis http://www.indonesiaindonesia.com/f/10758-peritonitis/ http://www.scribd.com/doc/23330489/Asuhan-Keperawatan-Klien-dengan-Peritonitis#

http://silahealt.blogspot.com/2012/05/askep-peritonitis.html

Selasa, 22 Maret 2011 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN PERITONITIS BY : GEFIN WAHYU S. (04.08.2035) PERITONITIS

Definisi Peritonitis

Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut ( peritoneum ). Selain itu Peritonitis merupakan peradangan membrane serosa rongga abdomen dan organ-organ yang terkandung di dalamnya. Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam.

Penyebab Peritonitis Infeksi peritonitis relative sulit ditegakkan dan sangat bergantung dari penyakit yang mendasari. Penyebab utama peritonitis adalah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. Peritonitis bisa terjadi karena proses infeksi atau proses steril dalam abdomen melalui perforasi dinding perut, misalnya pada rupture apendiks atau divertikulum colon. Penyakit ini juga terjadi karena adanya iritasi bahan kimia, misalnya asam lambung dari perforasi ulkus gastrikum atau kandung empedu dari kantong yang pecah atau hepar yang mengalami laserasi. Pada wanita, peritonitis juga terjadi terutama karena terdapat infeksi tuba falopi atau rupture kista ovarium. Penyebab lain dari peritonitis adalah penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi, jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan terjadi peritonitis dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bias berkumpul diperut (asites) dan mengalami infeksi. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada otot kandung empedu, ureter, kandung kemih, atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri kedalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual. Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman.

Iritasi tanpa infeksi, misalnya peradangan pancreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut.

Tanda dan Gejala Peritonitis Tanda dan gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan, adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus. Gejalanya bisa berupa; muntah darah, mengeluarkan tinja yang kehitaman, mengeluarkan darah dari rectum. Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas, misalnya lambung atau usus dua belas jari. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Penderita dengan perdarahan jangka panjang, bisa menunjukkan gejala-gejala anemia, seperti mudah lelah, terlihat pucat, nyeri dada dan pusing. Gejala yang menunjukkan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat, tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah, bisa menyebabkan bingung, disorientasi, rasa mengantuk dan bahkan syok. Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa berkembang cepat. Gerakan peristaltis usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti kegagalan paruparu, ginjal dan bekuan darah yang menyebar.

Patofisiologi Peritonitis

Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intra abdomen (meningkatkan aktifitas inhibitor activator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistim pertahanan tubuh, dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak diantara matrik fibrin. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang seteril. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak, tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk abses. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber, yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen, peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil.

Etiologi Peritonitis Peritonitis dapat disebabkan oleh kelainan di dalam abdomen berupa inflamasi dan penyulit misalnya; perforasi appendicitis, perforasi tukak lambung, perforasi tifus abdominalis. Ileus obstruktif dan perdarahan oleh karena perforasi organ berongga karena trauma abdomen. mycobacterium tubercolusa. Anatomi dan Fisiologi Peritonitis Dinding perut mengandung struktur muskulo-apeneurosis yang komplek. Dinding perut ini terdiri dari berbagai lapis, yaitu dari luar ke dalam, lapis kulit yang terdiri dari kutis dan sub kutis, lemak dan sub kutan dan facies superficial, kemudian ketiga otot dinding perut M. Obliquus abdominis eksterna, M. Obliquus abdominis internus, dan M. Transversum abdominis, rbacter-Klebsiella,

dan akhirnya lapis preperitonium dan peritoneum, yaitu fascia tranversalis, lemak preperitonial dan peritoneum otot dibagian depan tengah terdiri dari sepasang otot rektur abdominis dengan fascianya yang di garis tengah dipisahkan oleh linea alba. Integritas lapisan muskulo-aponeurosis dinding perut sangat penting untuk mencegah terjadinya hernia bawaan, dapatan, maupun iatrogenic. Fungsi lain otot dengan meninggikan tekanan intra abdominal. Perdarahan dinding perut berasal dari beberapa arah, dari kraniodorsal diperoleh perdarahan dari cabang a. Intercostalis VI-XII dan a. Epigastrik superior. Dari kaudal terdapat a. iliaca, a. sirnucmfleksa superfisialis, a. pudenda eksterna dan a. epigastrika inferior.

Terapi Peritonitis Prinsip umum terapi adalah pengganti cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena, pemberian antibiotika yang sesuai, pemberian antibitika yang sesuai, dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik dan intestinal, pembuangan focus septic (apendiks, dsb) atau penyebab radang lainnya, bila mungkin mengalirkan nanah keluar dan tindakan-tindakan menghilangkan nyeri. Resusitasi hebat dengan larutan saline isotonic adalah penting. Pengembalian volume intravascular memperbaiki perfusi jaringan dan pengantaran oksigen, nutrisi dan mekanisme pertahanan. Keluaran urine tekanan venasentral, dan tekanan darah harus dipantau untuk menilai keadekuatan resusitasi., Terapi antibiotika harus diberikan segera diagnosis peritonitis bakteri dibuat, antibiotic berspektrum luas diberikan secara empiric, dan kemudian dirubah jenisnya setelah hasil kultur keluar. Pilihan antibiotika didasarkan pada organisme mana yang dicuragai menjadi penyebab. Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler dan membrane mengalami kebocoran. Jika deficit cairan tidak dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menibulkan kematian sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interlukin, dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolik

oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi hipovolemia. Organ-organ di dalam carvum peritoneum termasuk dinding abdomen mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah dengan adanya kenaikan suhu masukan yang tidak ada, serta muntah. Bila bahan menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat tibul peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum, aktifitas peristaltic berkurang sampai timbul ileus parlistik, usus kemudian menjadi atoni dan meragang, cairan dan elektrolik hilang kedalam lumen usus mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat membentuk antara lengkung-lengkung usus yang merenggang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus. Obstruksi usus dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik maka terjadi peningkatan peristaltic usus sebagai usaha untuk mengatasi hambatan. Ileus stangulasi obstruksi disertai terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dank arena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi peritonitis. Perforasi tukak peptic khas ditandai oleh perangsangan peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas seluruh peritoneum akibat peritonitis generalisata. Perforasi lambung dan duodenum bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam perut. Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium karena rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan atau enzim pancreas, kemudian menyebar seuruh perut menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi, kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia, adanya nyeri di bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa pengenceran zat asam garam yang merangsang, ini akan mengurangi keluhan untuk sementara sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria.

Laparatomi Laparatomi merupakan operasi yang dilakukan untuk membuka abdomem (bagian perut). Laparatomi dilakukan untuk memeriksa beberapa organ di abdomen sebelah bawah dan pelvis (rongga panggul). Operasi ini juga dilakukan sebelum melakukan operasi pembedahan mikro pada tuba falopi. Pembukaan rongga perut lewat irisan dibagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut, puntiran usus, kebocoran usus, maupun untuk memperbaiki keadaan-keadaan tertentu di rongga perut.

ASUHAN KEPERAWATAN PERITONITIS

1. Pemeriksaan Fisik a. Tanda-Tanda Vital 1) Suhu : hipertermi ( >37,5 C) 2) Nadi : takikardi ( >100x/menit) 3) Tekanan Darah : hipotensi ( < 109/69 mmHg) 4) Pernafasan : takipneu ( > 24x/menit)

b. Keadaan Umum Keadaan umum baik. Kesadaran komposmentis. Penampilan pasien sesuai dengan umurnya. Bentuk badan sedang, bicara jelas, namun terkadang disertai dengan merintih. Pasien berbaring

dan bergerak terbatas. Penampilan pasien terlihat kumuh dan kotor. Pasien terlihat pucat dan berkeringat. c. Kulit, Kuku, Rambut Warna kulit normal. Tidak terdapat lesi. Warna kuku kemerahan. Jumlah rambut banyak dan merata. Suhu tubuh teraba hangat, membrane mukosa kering, turgor kulit jelek. d. Kepala Muka simetris, tidak ada kelainan bentuk pada tengkorak.rambut kuat, berwarna hitam, dan distribusinya merata. Kulit kepala kotor dan terdapat ketombe. Tidak ada nyeri tekan maupun massa pada kepala. e. Mata Reflek pupil (+), konjungtiva berwarna merah muda, sclera berwarna kemerahan, iris berwarna coklat. f. Telinga Daun telinga sewarna dengan bagian tubuh lain. Terdapat serumen pada liang telinga, telinga kotor. Catilago pada daun telinga bersifat elastis, tidak terdapat nyeri tekan pada prosesus mastoideus. Pendengaran normal/tidak tuli. g. Hidung Hidung simetris, tidak terdapat secret, perdarahan, maupun sumbatan. Hidung sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak terdapat massa, nyeri tekan, maupun krepitasi. h. Mulut Bibir tidak sianosis. Terdapat plaque dan caries pada gigi. Membrane mukosa kering dan lidah bengkak. Mulut kotor dan berbau.

i. Leher Leher simetris dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak ada pembengkakan, gerakan bebas. Tidak terdapat massa dan nyeri tekan. j. Dada Terdapat peninggian diafragma, dada sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak ada massa maupun nyeri tekan. Payudara simetris, bentuk normal, dan sewarna dengan bagian tubuh lain. Tidak terdapat lesi maupun keluaran. k. Abdomen Bentuk abdomen normal dan simetris, sewarna dengan bagian tubuh lainnya. Terdapat luka bekas operasi laparatomi. Abdomen teraba agak kaku (distensi abdomen). Pada perkusi terdengar bunyi timpani/hiperesonan. Terdapat nyeri tekan pada abdomen. Terjadi penurunan peristaltic usus. l. Anus dan Rektum Tidak terdapat nyeri tekan, massa, maupun hemoroid.

2. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan protein/albumin Protein/albumin menurun karena perpindahan cairan. b. Pemeriksaan amylase Amilase mengalami peningkatan. c. Pemeriksaan elektrolit Hipokalemia.

d. GDA Asidosis metabolic. e. Kultur Organisme penyebab peritonitis teridentifikasi dari darah, eksudat/secret, dan cairan asites. f. Pemeriksaan foto abdominal Distensi usus. g. Foto dada Peninggian diafragma.

NO

SYMTOM

ETIOLOGI

PROBLEM

1.

Nyeri timbul mendadak terutama dirasakan didaerah epigastrium, kemudian menyebar keseluruh perut, Pasien mengalami gangguan pola tidur, distensi abdomen

Agen cedera : biologi (rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pancreas)

Nyeri akut

Gerakan peristaltic usus menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan 2. usus besar. Cairan akan merembes dari peredaran darah kedalam rongga dan Kegagalan dalam mekanisme pengaturan Kekurangan volume cairan

terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit

Pasien mengalami penurunan nafsu makan, membrane mukosa kering, turgor kulit jelek, mulut berbau dan muntah . Tidak mampu 3. Pasien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri pada abdomen, sklera berwarna kemerahan. memasukkan makanan karena faktor biologi Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh

Hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri Mulut berbau, penampilan 4. tampak kumuh dan tidak bersih, gigi tampak kotor Gangguan pola tidur

Pembukaan rongga perut lewat irisan di bagian depan perut untuk visualisasi isi rongga perut, puntiran usus, kebocoran 5. usus, maupun untuk memperbaiki keadaan Kurang perawatan diri mandi / higyen Nyeri dan kelemahan

tertentu di rongga perut Prosedur invasif (tindakan laparatomi) 6. Resiko infeksi

DIAGNOSA

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi : rangsangan peritoneum oleh asam lambung empedu dan enzim pacreas 2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan dalam mekanisme pengaturan 3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak mampuan memasukkan makanan karena factor biologi 4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hal yang mengakibatkan terjaga : nyeri 5. Kurang perawatan diri mandi / higyen berhubungan dengan nyeri dan kelemahan 6. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : tindakan laparatomi

PERENCANAAN NO DX TUJUAN / NOC INTERVENSI / NIC RASIONALISASI

1.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x 24 jam. Diharapkan nyeri dapat berkurang dengan kriteria hasil : Pain control (1605) (160501) mengenali factor penyebab (160503) menggunakan metode pencegahan (160504) menggunakan metode pencegahan non analgetik untuk mengurangi nyeri (160505) menggunakan analgetik sesuai kebutuhan (160509) mengenali gejala nyeri

Pain management (1400) Lakukan pengkjian nyeri secara komperhensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi Perubahan dalam lokasi/intensitas tidak umum tetapi dapat menunjukkkan terjadinya komplikasi

Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien

Agar dapat melakukan tindakan pencegahan nyeri

Ajarkan tentang tehnik non farmakologi ( relaksasi dan distraksi) Meningkatkan oksigenasi keotak dan mengalihkan perhatian klien

Analgesic Administration Keterangan : 1. tidak dilakukan sama sekali 2. jarang dilakukan 3. kadang dilakukan 4. sering dilakukan 5. selalu dilakukan Evaluasi aktifitas analgetik tanda dan gejala (efek samping) Memantau apakah pemberian analgetik perlu diteruskan Fluid Management (4120) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam. Diharapkan kebutuhan 2. akan cairan dapat terpenuhi dengan kriteria hasil : Fluid Balance (0601) (060101) TD dalam batas normal (060102) nadi dalam batas normal (060115) tidak haus berlebihan (060118) elektrolit serum dalam batas normal (060119) nilai hematokrit dalam Menunjukkan status hidrasi dan perubahan pada fungsi ginjal, yang mewaspadakan Monitor status dehidrasi Tanda yang membantu mengidentifikasi fluktasi volume intravascular Monitor tanda-tanda vital (2210) Tentukan analgesic pilihan, rute pemberian dan dosis optimal Mengurangi nyeri yang dirasakan

batas normal

terjadinya gagal ginjal.

Keterangan : 1. sangat digunakan 2. digunakan 3. sedang 4. kurang 5. tidak digunakan Monitor hasil laboratorium berhubungan dengan retensi cairan (peningkatan BUN, penurunan hematokrit) Memberikan informasi berbagai ganguan dengan konsekuensi tertentu pada fungsi sistemik sebagai akibat dari perpindahan cairan Monitor intake dan output Mempertahankan volume sirkulasi dan keseimbangan elektrolit

Setelah dilkukan tindakan keperawatan selama x 24 jam, diharapkan kebutuhan

Manajemen Ketidakteraturan dalam Memakan Mempengaruhi pasien untuk meningkatkan

nutrisi dapat terpenuhi dengan 3. kriteria hasil : Fluid Balance (0601) 060101 Tekanan darah dalam rentang normal 060107 Keseimbangan intake dan output selama 24 jam Status Nutrisi (1004) 100401 Intake nutrisi 100402 Intake makanan dan cairan 100403 Bertenaga

Ajarkan dan tanamkan konsep nutrisi sehat kepada pasien.

nafsu makan.

Memastikan keseimbangan intake Catat intake dan output cairan. Memastikan pasien mendapat cukup kalori untuk Catat intake kalori dalam makanan sehari-hari. menunjang aktivitas. dan output.

Meningkatkan nafsu makan dengan Keterangan : 6. sangat digunakan 7. digunakan 8. sedang 9. kurang 10. tidak digunakan Menghilangkan ketidaknyamanan Berikan makanan berprotein tinggi, kalori tinggi, bergizi, pada mulut. Menjaga asupan nutrisi untuk sumber energi. Manajemen Nutrisi(1100) Berikan pilihan makanan. memberikan makanan yang disukai.

dan minum.

Berikan perawatan mulut sebelum makan. Mengetahui pola tidur dan lamanya tidur pasien.

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam, pola tidur lebih baik dari sebelumnya dengan criteria hasil : 4. Sleep (0004) 000401 Lamanya tidur 000403 Pola tidur 000404 Kualitas tidur 000406 Tidur tidak terganggu 000408 Perasaan segar saat bangun tidur

Peningkatan Tidur Pantau pola tidur dan lamanya tidur pasien.

Menciptakan kenyamanan.

Memberikan kenyamanan.

Ciptakan lingkungan untuk mendukung tidur pasien.

Agar kebutuhan tidur terpenuhi.

Berikan pijatan nyaman.

Memudahkan pasien untuk tidur.

Anjurkan peningkatan lamanya tidur.

Memberikan tindakan yang tepat dalam hal peningkatan tidur.

Berikan obat tidur.

Diskusikan dengan pasien dan keluarga mengenai kenyamanan, teknik peningkatan tidur, dan perubahan gaya hidup yang dapat mengoptimalkan tidur. Meningkatkan kenyamanan pada Bathing (1610) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x24 jam, penampilan lebih baik dan bersih dari sebelumnya dengan criteria : Self-Care: Bathing (0301) 5. 030101 Masuk dan keluar kamar mandi 030110 Membasuh tubuh 030111 Mengeringkan tubuh Self-Care: Activities of Daily Living (0300) 030006 Bersih Pantau kemampuan fungsi tubuh ketika mandi. Pantau kondisi kulit ketika mandi Mandikan dengan air dengan suhu yang nyaman. Untuk menunjang aktivitas pasien Bantu mandi di tempat tidur. pasien. Memantau apakah ada infeksi/luka pada kulit. Mempertahankan kebersihan diri pasien.

Mempertahankan kebersihan diri pasien.

Membantu Perawatan Diri : Mandi/ Kebersihan Bantu pasien sampai benarbenar mampu melakukan perawatan diri. Agar dapat melakukan tindakan yang tepat sesuai kondisi klien

Infection Control (6540) Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x 24 jam, diharapkan klien tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil : Risk Control (1902) (190201) mengetahui risiko 6. (190204) mengembangkan strategi control risiko secara efektif (190208) memodifikasi gaya hidup untuk mengurangi risiko menggunakan dukungan personal untuk mengontrol risiko. (190211) berpartisipasi dalam Gunakan setandar precaution dan gunakan srung tangan selama kontak dengan darah, membrane mukosa yang tidak Agar keluarga Kaji warna kulit, kelembaban tekstur, turgor, cuci kulit dengan hati-hati, gunakan hidrasi dan pelembab seluruh muka Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial Observasi dan laporkan tanda dan gejala infeksi seperti kemerahan, panas, nyeri, tumor, dan adanya fungsiolaisa. Untuk menentukan rencana keperawatan selanjutnya

sceening untuk mengidentifikasi risiko (190217) memonitor perubahan status kesehatan

utuh

mengetahui factor penyebab infeksi

Ajari pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gejala infeksi dan kalau terjadi untuk melapor kepada perawat Untuk mencegah infeksI Berikan terapi antibiotic sesuai instruksi

DAFTAR PUSTAKA

Johnson, Marion et all. 2000. Iowa Intervention Project Nursing Outcomes Classification (NOC). St. Louis : Mosby Inc. Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius. McCloskey, Joanne C. dan Gloria M. Bulechek. 1996. Iowa Intervention Project Nursing Interventions Classification (NIC). St. Louis : Mosby - Year Book Inc. Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Prima Medika. www.medicastore.com Doenges, Marilynn E. et all. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC. Potter dan Perry, 1999, Fundamental Keperawatan Edisi 4 Vol 2. Buku Kedokteran ECG: Jakarta.

Diposkan oleh mbah jito OK la..yaw di 19.45 http://dkp2011.blogspot.com/2011/03/asuhan-keperawatan-pada-klien.html