Anda di halaman 1dari 21

STRUKTUR ANATOMI KAYU SIMPOER (Dillenia sp.) DAN KAYU WATERGUM (Syzygium sp.)

Oleh

ALISARFIA

sp.) DAN KAYU WATERGUM ( Syzygium sp.) Oleh ALISARFIA -JURUSAN BUDIDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS

-JURUSAN BUDIDAYA HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI

2005

Edit by Nn Colect

RINGKASAN

ALISARFIA. “Struktur Anatomi Kayu Simpoer (Dillenia sp.) dan Kayu Watergum

(Syzygium sp.) di bawah bimbingan Susilo Budi Husodo dan Leo Maturbongs.

Penelitian

ini

bertujuan

untuk

mengamati

ciri

ciri

makroskopis

dan

mikroskopis Kayu Simpoer (Dillenia sp.) dan Kayu Watergum (Syzygium sp.).

Penelitian ini berlangsung selama 4 bulan.

Metode yang digunakan adalah metode

deskripsi dengan teknik observasi.

Data dianalisis dengan analisis ragam dan

disajikan dalam bentuk uraian dan secara visual.

Hasil penelitian menunjukan bahwa Kayu Watergum (Syzygium sp.) memiliki

warna kayu teras coklat gelap (dark brown) dan coklat kekuningan untuk kayu gubal

(yellowish brown), kesan raba agak kasar, serat kayu umumnya lurus, kekerasan kayu

agak

keras.

Kayu

watergum

memiliki

pori

bertipe

tatabaur,

bidang

perforasi

sederhana, noktah bulat berbatas, jari – jari heterogen, tipe jari – jari uniseriate dan

multiseriate,

penyebaran

parenkim

bertipe

predominantly

paratracheal,

winged

aliform.

Diameter pori kayu watergum termasuk besar, tinggi pori termasuk sedang

dan frekuensi kehadiran pori per mm termasuk jarang.

Rata – rata tinggi jari – jari

termasuk kategori sangat pendek, frekuensi kehadiran jari – jari termasuk kategori

banyak.

Panjang serat kayu Watergum (Syzigium sp.) masuk dalam klasifikasi serat

sedang, diameter serat tergolong kecil dan tebal dinding serat tergolong tipis.

Kayu Simpoer (Dillenia sp.) memiliki warna kayu teras yang sama yaitu

Coklat gelap, kedua kayu memiliki kesan raba agak kasar, serat kayu umumnya lurus,

kekerasan kayu agak keras, memiliki kulit luar yang tipis dan mudah terkelupas

seperti kulit pada jenis – jenis jambuan – jambuan. Kayu Simpoer memiliki pori tata

baur, bidang perforasi sederhana, noktah poligonal dan berbatas, jari – jari heterogen,

tipe unilateral parenkim, ditemukan inklusi mineral dalam sel tegak jari – jari.

Edit by Nn Colect

Diameter pori kayu Simpoer (Dillenia sp.) termasuk katergori kecil, tinggi pori

kategori sedang dan frekuensi kehadiran pori per mm termasuk banyak karena

pengaruh tipe tata baur.

Rata - rata tinggi jari – jari termasuk kategori luar biasa

pendek, frekuensi kehadiran jari – jari per mm banyak.

Panjang serat kayu Simpoer

(Dillenia sp.) termasuk serat sedang, diameter tergolong kecil, tebal dinding serat

tergolong sangat tipis.

Variasi struktur anatomi pada kayu Watergum dan kayu Simpoer (Dillenia

sp.) pada arah vertikal dan radial batang dipengaruhi oleh perbedaan lingkaran tahun

(kayu awal dan kayu akhir), umur kayu (juvenil dan kayu dewasa), faktor lingkungan

dan sifat genetis pohon itu sendiri.

Nilai

kualitas

serat

kayu

Watergum

(Syzygium

(Dillenia sp.) tergolong dalam kelas III (151 – 300).

sp.)

dan

kayu

Simpoer

Serat kayu yang berkelas

kualitas III mempunyai serat kayu pendek sampai sedang, dinding sel dan lumen

sedang sehingga serat akan menggepeng dan ikatan antar seratnya masih baik, diduga

akan menghasilkan lembaran dengan kekuatan sobek, retak dan tarik sedang.

Edit by Nn Colect

STRUKTUR ANATOMI KAYU SIMPOER (DILLENIA SP.) DAN KAYU WATERGUM (SYZYGIUM SP.)

Oleh

ALISARFIA

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan Pada Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua

Kehutanan Pada Fakultas Kehutanan Un iversitas Negeri Papua JURUSAN BUDIDAYA HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN UNIVERSITAS NEGERI

JURUSAN BUDIDAYA HUTAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI

2005

Edit by Nn Colect

LEMBAR PENGESAHAN

Judul

Nama Mahasiswa

NIM

Jurusan/Program Studi

: STRUKTUR ANATOMI KAYU SIMPOER (Dillenia sp.) DAN KAYU WATERGUM (Syzygium sp.)

: ALISARFIA

: 00 403 962

:

BUDIDAYAHUTAN /BUDIDAYA HUTAN

Menyetujui :

Komisi Pembimbing

(Ir. Susilo Budi Husodo, MP.) Pembimbing I

Mengetahui:

Ketua Jurusan Budidaya Hutan

(Ir. Leo Maturbongs, M.Sc.F.) Pembimbing II

Dekan Fakultas Kehutanan

Universitas Negeri Papua

(Ir. Patria Hadi, MP.)

Tanggal lulus:

6

Juli 2005

(Ir. C. Y. H. Arwam, MP.)

Edit by Nn Colect

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jayapura pada tanggal 6 oktober 1981 sebagai anak

kedua dari empat bersaudara dari Ayah bernama La Hamimu dan Ibu bernama

Ramlia.

Pendidkan formal dimulai di SD Inpres Kotaraja dan tamat pada tahun 1994,

kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Tingkat Pertama di SMP Negeri I

Abepura

dan

tamat

tahun

1997.

Pada

tahun

yang

sama

penulis

melanjutkan

pendidikan pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas pada SMU Negeri I Jayapura dan

tamat pada tahun 2000. Pada tahun yang sama penulis terdaftar sebagai mahasiswa

Jurusan Kehutanan pada Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih yang sekarang

telah berubah menjadi Fakultas Kehutanan Universitas Negeri Papua.

Edit by Nn Colect

Teks

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR

i

DAFTAR ISI

ii

DAFTAR TABEL

iv

DAFTAR GAMBAR

vi

DAFTAR LAMPIRAN

viii

PENDAHULUAN

Latar Belakang

1

Masalah

2

Tujuan dan Manfaat

3

TINJAUAN PUSTAKA Mengenal Kayu Secara Makroskopis

5

Makroskopis Strukturil

5

Makroskopis Non Strukturil

10

Ciri – Ciri Mikroskopis

12

Sel – Sel Penyusun Kayu

13

Deskripsi Kayu

21

Dillenia Sp

21

Syzygium Sp

23

METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian

25

Bahan dan Alat

25

Metode Penelitian

25

Prosedur Penelitian

25

Pengambilan Contoh

25

Pembuatan preparat

27

Variabel Pengamatan

28

Edit by Nn Colect

Pengukuran

30

Analisis Data

33

HASIL DAN PEMBAHASAN Kayu Watergum (Syzygium Sp.)

34

Ciri Makroskopis

34

Ciri Mikroskopis

34

Dimensi Serat

45

Kayu Simpoer (Dillenia Sp.)

55

Ciri Makroskopis

55

Ciri Mikroskopis

56

Dimensi Serat

64

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

75

Saran

76

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Edit by Nn Colect

DAFTAR TABEL

No.

Teks

Halaman

1.

Sel – Sel Penyusun Kayu Daun Lebar

20

2.

Diameter Pori Kayu Watergum (Syzygium sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

35

3.

Tinggi Pori Kayu Watergum (Syzygium sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

37

4.

Frekuensi Kehadiran Pori Kayu Watergum (Syzygium sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

38

5.

Klasifikasi Diameter, Tinggi dan Kehadiran Pori Menurut IAWA

40

6.

Klasifikasi Tinggi Jari – jari menurut Den Berger (1926)

40

7.

Klasifikasi Frekuensi Kehadiran Jari – jari Menurut IAWA

41

8.

Tinggi Jari – jari Kayu Watergum (Syzygium sp.) Pada Arah Radial dan vertikal

41

9.

Frekuensi Jari – jari Kayu Watergum (Syzygium sp.) Pada Arah Radial dan Vertikal Batang

43

10.

Nilai Rata – rata Pengukuran Panjang Serat Kayu Watergum (Syzygium sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

45

11.

Klasifikasi Panjang Serat Menurut IAWA

45

12.

Diameter Serat Kayu Watergum (Syzygium sp.) Pada Arah Radial dan Vertikal Batang

48

13.

Klasifikasi Diameter Serat Menurut Klemm

48

14.

Klasifikasi Tebal Dinding Serat Menurut Butterfield dan Meyland (1980)

50

15.

Tebal Dinding Serat Kayu Watergum (Syzygium sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

50

16.

Diameter Lumen Kayu Watergum (Syzigium sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

52

17.

Nilai Kualitas Serat Kayu Watergum (Syzygium sp.)

54

Edit by Nn Colect

18. Diameter Pori Kayu Simpoer (Dillenia sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

57

19. Tinggi Pori Kayu Simpoer (Dillenia sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

58

20. Frekuensi Kehadiran Pori Kayu Simpoer (Dillenia sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

60

21. Tinggi Jari – jari Kayu Simpoer (Dillenia sp.) Pada Arah Radial dan vertikal

61

22. Frekuensi Kehadiran Jari – jari Kayu Simpoer (Dillenia spp.) Pada Arah Radial dan Vertikal Batang

62

23. Nilai Rata – rata Pengukuran Panjang Serat Kayu Simpoer (Dillenia sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

65

24. Diameter Serat Kayu Simpoer (Dillenia sp.) Pada Arah Radial dan Vertikal Batang

67

25. Tebal Dinding Serat Kayu Simpoer (Dillenia sp) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

69

26. Rata – rata Diameter Lumen Kayu Simpoer (Dillenia sp.) Pada Arah Vertikal dan Radial Batang

71

27. Nilai Kualitas Serat Kayu Simpoer (Dillenia sp.)

73

Edit by Nn Colect

No.

DAFTAR GAMBAR

Teks

Halaman

1. Bidang Penampang Kayu……………………………………………

6

2. Pengambilan Contoh Uji ……………………………………………

26

3. Dimensi Serat………………………………………………………

32

4. Ciri Makroskopis Kayu Watergum (Syzygium sp.)…………………

34

5. Grafik Rata – rata Diameter Pori Pada Arah Vertikal dan Radial Kayu Watergum (Syzygium sp.) ……………………………………

35

6. Grafik Rata – rata Tinggi Pori Pada Arah Vertikal dan Radial Kayu Watergum (Syzygium sp.)……………………………………………

37

7. Grafik Rata – rata Frekuensi pori Pada Arah Radial dan Vertikal Kayu Watergum (Syzygium sp.)……………………………………

38

8. Grafik Rata – rata Tinggi Jari – jari Pada Arah Radial dan Vertikal Kayu Watergum (Syzygium sp.)……………………………………

41

9. Grafik Rata – rata Frekuensi Jari – jari Pada Arah Radial dan Vertikal Kayu Watergum (Syzygium sp.)……………………………

43

10. Penampang Kayu Watergum (Syzygium sp.)…………………………

44

11. Grafik Rata – rata Panjang Serat Pada Arah Radial dan Vertikal Kayu Watergum (Syzygium sp.)………………………………………

46

12. Grafik Rata – rata Diameter Serat Pada Arah Radial danVertikal Kayu Watergum (Syzygium sp.)………………………………………

48

13. Grafik Tebal Dinding Serat Pada Arah Radial danVertikal Kayu Watergum (Syzygium sp.)……………………………………………

51

14. Grafik Rata – rata Diameter Lumen Pada Arah Radial Vertikal Kayu Watergum (Syzygium sp.)……………………………………………

53

15. Ciri Makroskopis Kayu Simpoer (Dillenia sp.)……………………

56

16. Grafik Rata – rata Diameter Pori Pada Arah Vertikal dan Radial Kayu Simpoer (Dillenia sp.)…………………………………………

57

17. Grafik Rata – rata Tinggi Pori Pada Arah Vertikal dan Radial Kayu Simpoer ( Dillenia sp.)………….……………………………………

59

Edit by Nn Colect

18. Grafik Rata – rata Frekuensi Kehadiran Pori Pada Arah Vertikal dan Kayu Simpoer (Dillenia sp.)…………………………………………

60

19. Grafik Rata – rata Tinggi Jari – jari Pada Arah Vertikal dan Radial Kayu Simpoer (Dillenia sp.)………….……………………………

61

20. Grafik Rata – rata Frekuensi Kehadiran Jari – jari Pada Radial Arah Vertikal Kayu Simpoer (Dillenia sp.)………………………………

63

21. Penampang Kayu Simpoer (Dillenia sp.)……………………………

64

22. Grafik Rata – rata Panjang Serat Pada Arah Radial dan Arah Vertikal Kayu Simpoer (Dillenia sp.)………………………….………………

65

23. Grafik Rata – rata Diameter Serat Pada Arah Radial dan Vertikal Kayu Simpoer (Dillenia sp.)…………………………………………

67

24. Grafik Rata – rata Tebal Dinding Serat Pada Arah Vertikal dan Radial Kayu Simpoer (Dillenia sp.)……………………………………………

69

25. Grafik Rata – rata Diameter Lumen Pada Arah Vertikal Kayu Simpoer (Dillenia sp.)…………………………………………………

71

Edit by Nn Colect

DAFTAR LAMPIRAN

No.

Teks

Halaman

1.

Analysis Of Variance (ANOVA) Diameter dan Tinggi Pori Kayu Watergum (Syzygium sp.)………………………………………

79

2.

Analysis Of Variance (ANOVA) Tinggi Jari – jari Kayu Watergum (Syzygium Sp.) dan Diameter Pori Kayu Simpoer (Dillenia sp.)……

80

3.

Analysis Of Variance (ANOVA) Tinggi Pori dan Jari – jari Kayu Simpoer (Dillenia sp.)…………………………………………………

81

4.

Nilai Panjang Serat Kayu Watergum (Syzygium sp.) dan Penentuan Jumlah Serat Yang diukur Persatuan Pengamatan……………………

82

5.

Nilai Panjang Serat Kayu Simpoer (Dillenia sp.) dan Penentuan Jumlah Serat Yang diukur Persatuan Pengamatan……………………

83

6.

Analysis Of Variance (ANOVA) Panjang dan Diameter Serat Kayu Watergum (Syzygium sp.)…………………………………

84

7.

Analysis Of Variance (ANOVA) Tebal Dinding Serat dan Diameter Lumen Kayu Watergum (Syzygium sp.)………………………………

85

8.

Analysis Of Variance (ANOVA) Panjang dan Diameter Serat Kayu Simpoer (Dillenia sp.)…………………………………………………

86

9.

Analysis Of Variance (ANOVA) Diameter Lumen dan Tebal Dinding Serat Kayu Simpoer (Dillenia sp.)…………………………

87

Edit by Nn Colect

METODOLOGI PENELITIAN

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Hutan Fakultas

Kehutanan Unversitas Negeri Papua. Waktu penelitian berlangsung selama ± 4 bulan

dari tanggal 11 Desember 2004 sampai 11 April 2005.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini potongan kayu berbentuk cakram

yang diambil pada bagian pangkal, tengah dan ujung kayu Simpoer (Dillenia sp.) dan

kayu Watergum (Syzygium sp.), tisu, spirtus, cover glass, dan gelas objek. Penelitian

ini juga menggunakan bahan – bahan kimia antara lain aquades, safranin, ethanol,

kanada balsam, HNO 3 50%, KClO 3 , gliserin dan xylol.

Alat

alat

yang

digunakan

dalam

penelitian

ini

adalah

mikro

meter,

mikroskop, kaca pembesar, buku Munsell, pipet, setting set, gegep, cawan petri,

tabung reaksi, gelas piala, mikrotom, dan kamera digital.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan

teknik observasi.

Prosedur Peneltian

Pengambilan Contoh Pemilihan contoh untuk pembuatan contoh uji dipilih dari jenis – jenis pohon

yang normal dan sehat. Jenis kayu yang digunakan yaitu kayu Simpoer (Dillenia sp.)

dan kayu Watergum (Syzygium sp.), berasal dari hutan alam Manokwari dengan

diameter pangkal (sekitar 10 cm diatas banir) sebesar 48,1 cm untuk kayu Watergum

dan 56,3 cm untuk kayu Simpoer.

Edit by Nn Colect

Contoh kayu diambil dalam bentuk lempengan (cakram) setebal 5 cm pada

tiga bagian batang pohon yaitu pangkal, tengah dan ujung.

Kemudian dari tiap

cakram dibuat contoh uji berukuran 2 cm x 2 cm x 2 cm untuk masing – masing

bagian gubal, teras, peralihan gubal dan teras serta pada pith arah luar kedalam.

Contoh uji masing –masing berjumlah 8 buah untuk irisan (sectioning) dan maserasi

pada setiap cakram satu jenis pohon.

Gambar 2.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

U U

T T

P P

Gubal Gubal Teras Teras 5 5 cm cm T T Peralihan Peralihan Pith Pith Maserasi
Gubal
Gubal
Teras
Teras
5 5
cm
cm
T T
Peralihan
Peralihan
Pith
Pith
Maserasi
Maserasi
Irisan
Irisan
Peralihan Pith Pith Maserasi Maserasi Irisan Irisan Masing – masing 2 x 2 x 2 cm

Masing – masing 2 x 2 x 2 cm

Masing – masing 2 x 2 x 2 cm

untuk irisan dan maserasi

untuk irisan dan maserasi

Gambar 2. Pengambilan Contoh Uji

Untuk pembuatan irisan (sectioning) jumlah contoh uji sebanyak 8 buah x 3

bagian kayu (pangkal, tengah dan ujung) = 24 contoh uji.

Pengamatan dilakukan

pada 3 arah penampang (lintang, tangensial, radial).

Jumlah seluruh contoh uji pada

pada irisan (sectioning) sebanyak 24 x 3 = 72 irisan contoh uji untuk setiap jenis

pohon.

Pada metode maserasi, jumlah contoh uji yang sebanyak 8 x 3 bagian kayu

(pangkal, tengah dan ujung) = 24 preparat contoh uji untuk setiap jenis pohon.

Edit by Nn Colect

Pembuatan Preparat

Preparat Irisan (sectioning)

1. Contoh kayu direndam dalam air selama kurang lebih 48 jam sampai kayu

cukup lunak untuk disayat.

2. Kayu kemudian disayat dengan mikrotom setebal 15 – 25 mikron.

Sayatan

yang dibuat berasal dari tiga bidang kayu meliputi penampang lintang,

penampang radial, dan penampang tangensial.

3. Untuk memudahkan pengamatan, sayatan dari ketiga penampang itu diwarnai

dengan safranin 1% kemudian didiamkan selama kurang lebih 5 menit.

4. Sayatan kemudian dicuci dengan ethanol secara bertingkat 35 %, 65% dan

95% kemudian ditetesin dengan xylol agar sayatan benar – benar bersih dari

air.

5. Setelah itu sayatan ditempatkan di atas kaca objek, lalu ditutup dengan cover

glass dan diamati dibawah mikroskop.

Maserasi

Preparat maserasi dibuat guna pengamatan dimensi serat kayu (panjang

serat, diameter serat dan tebal dinding serat). Preparat yang dibuat melalui proses

maserasi dengan metode Schultze yaitu:

1. Contoh uji dipotong dibuat serpihan sebesar korek api lalu dipanaskan dalam

tabung reaksi yang berisi larutan asam nitrat (HNO 3 ) 50% dan potasium klorat

(KCLO 3 ), sampai serat terurai kemudian didinginkan dan dicuci bersih dengan

aquades sampai bebas asam.

2. Serat yang sudah terurai dipindahkan ke cawan petri lalu diberi zat warna

(safranin) guna memudahkan saat pengukuran.

Edit by Nn Colect

3.

Serat yang telah diwarnai dipindahkan keatas kaca objek yang terlebih dahulu

telah ditetesin gliserin agar serat mudah disebar.

4. Setelah itu ditetesi dengan alkohol dan dibiarkan 10 menit lalu ditutup dengan

cover glass dan diamati di bawah mikroskop.

Variabel Pengamatan

Ciri – Ciri Makroskopis Ciri – ciri makroskopis yang diamati meliputi: warna kayu gubal dan teras,

kulit

kayu,

kesan

raba,

bau,

lingkaran

tahun,

arah

serat

dan

kekerasan

kayu

Pengamatan makroskopis dapat dilakukan secara kasat mata atau menggunakan kaca

pembesar (Lup).

Ciri – Ciri Mikroskopis Meliputi ciri – ciri mikroskopis yang dianjurkan oleh Comite Internasional

Association Of Wood Anatomist (Wheeler et. al., 1989).

Ciri kuatitatif diamati

sebanyak 5 – 30 kali per contoh dengan menggunakan mikroskop meliputi:

Lingkar Tumbuh

Pembuluh :

- Susunan pembuluh (pori)

- Penyebaran pembuluh (pori)

- Bidang perforasi

- Susunan noktah

- Tipe noktah

- Diameter pembuluh

- Frekuensi kehadiran per mm

- Tinggi pembuluh

Jari – jari :

- Tipe sel jari – jari

- Tinggi jari – jari

- Lebar jari – jari

Edit by Nn Colect

- frekuensi kehadiran per mm

Parenkim aksial

- Tipe parenkim

- Susunan parenkim

Trakeid (Vaskular/Vasisentrik)

Inklusi mineral: (ada/tidak)

Dimensi Serat :

- Panjang serat

- Diameter serat

- Tebal dinding serat

- Diameter lumen

- Turunan dimensi serat

Pengukuran

Pengukuran dilakukan pada ciri – ciri anatomi kayu Simpoer (Dillenia sp.) dan

kayu Watergum (Syzygium sp.) yang bersifat kuantitatif seperti panjang, tinggi,

diameter, lebar dan tebal sel penyusunnya, berdasarkan pengamatan yang dilakukan

pada preparat irisan dan maserasi.

Irisan (sectioning):

Sel Pembuluh dan Jari – jari

Tinggi pori dan jari – jari diukur dari ujung atas ke ujung bawah dari sel

pori dan jari – jari.

Diameter pembuluh diukur pada arah melebar dari satu sisi

yang satu ke satu sisi yang lain sebanyak 2 kali.

Maserasi:

Dimensi Serat

Sebelum pengukuran dimensi serat ditentukan dahulu jumlah serat yang

akan diukur.

Jumlah serat (N) yang diukur tergantung dari besarnya variasi

Edit by Nn Colect

panjang serat pada satu pohon, dengan patokan bahwa nilai rata – rata tidak

mempunyai nilai eror lebih dari 5 % (0,05). Jumlah serat yang diukur dalam satu

pohon ditetapkan dengan persamaan (Silitonga dkk, 1972):

N = 4 S 2 / L 2

Dimana: N = Jumlah serat yang diukur

S

= Standar deviasi

L

= Nilai rata – rata contoh x 0,05

Jumlah serat yang diukur tiap satuan pengamatan ditentukan dengan

pengambilan contoh uji.

Pengambilan contoh uji dilakukan dengan mengukur

panjang serat dari masing – masing pengamatan (12 pengamatan) 5 buah secara

acak. Sehingga jumlah serat yang diukur sebanyak 12 x 5 = 60 serat.

Selanjutnya dari data yang diperoleh dapat dihitung standar deviasinya

dengan menggunakan persamaan (Silitonga dkk, 1972):

Sedangkan

berikut:

S 2

nilai

L

L

Dimana: f i = Frekuensi serat

f i x i 2 – (f i x i ) 2 / n

=

n – 1

dapat

dihitung

menggunakan

=

f i x i -------

n

X 0,05

persamaan

x i = Panjang serat n = Jumlah serat yang diukur pada contoh uji

sebagai

Apabila nilai N yang diperoleh lebih besar dari jumlah serat yang diambil

sebagai contoh uji (n), maka pengukuran dapat sesuai dengan penetapan nilai N.

Panjang serat diukur pada arah memanjang serat dari ujung satu ke ujung

yang lain.

Diameter serat diukur pada arah melebar serat yaitu dari sisi yang satu

Edit by Nn Colect

ke sisi yang lain sebanyak 3 kali pengukuran pada 1/4, 1/2 dan 3/4 dari ujung.

Pengukuran tebal dinding serat sebanyak 3 kali yaitu pada jarak 1/4, 1/2 dan 3/4

dari ujung.

Diameter lumen merupakan selisih antara diameter serat dengan 2 kali

tebal dinding serat yang dinyatakan dengan persamaan (Silitonga dkk, 1972 )

I = D – 2W

Dimana: I = Diameter lumen D = Diameter serat W = Tebal dinding serat

I1 W1 L I2 W2 I3 W3 L D 2 – I 2 =
I1
W1
L
I2
W2
I3
W3
L
D 2 – I 2
=

D1

D2

D3

Gambar 3. Dimensi Serat

Keterangan:

= Panjang serat

D (1 – 3) = Diameter serat

I (1 – 3)

= Diameter lumen

W(1 – 3) = Tebal dinding serat

Turunan dimensi serat meliputi:

Bilangan Muhlsteph

X 100 %

D 2

Bilangan Runkel = 2W / I

Daya Tenun = L / D

Koefisien kekakuan = W / D

Edit by Nn Colect

Nilai kelenturan = I / D

Dimana: D = Diameter serat

I

= Diameter lumen

L

= Panjang serat

W = tebal dinding serat

Data

kuantitatif

yang

Analisis Data

diperoleh

ditampilkan

dalam

bentuk

tabulasi

dan

dianalisis dengan analisis ragam untuk melihat keragaman pada arah longitudinal dan

arah radial batang.

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program

minitab versi 13. Data kualitatif disajikan dalam bentuk uraian (deskripsi) dan secara

visual.

Edit by Nn Colect