Anda di halaman 1dari 11

Dinasti Abbasyiah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kekuasaan bani Abbas atau khilafah Abbasiyah, melanjutkan kekuasaan dinasti bani umayah. Dinamakan khilafah abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti ini adalah keturunan Al-abbas paman nabi Muhammad SAW. Dengan tumbangnya daulah Bani Umayyah maka keberadaan Daulah Bani Abbasiyah mendapatkan tempat penerangan dalam masa kekhalifahan Islam saat itu, dimana daulah Abbasiyah inI sebelumnya telah menyusun dan menata kekuatan yang begitu rapi dan terencana. Dan dalam makalah ini akan diuraikan sedikit mengenai berdirinya masa kekhalifahan Abbasiyah, masa kejayaan dan prestasi apa saja yang pernah diraih, serta apa saja penyebab runtuhnya daulah Abbasiyah. B. Rumusan Masalah Sesuai dengan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan menjadi beberapa masalah yaitu : a. Bagaimana Awal berdirinya Khilafah Abbasiyah, b. Bentuk pemerintahan Abbasiyah, c. Masa keemasan pemerintahan Abbasiyah, d. Gerakan intelektual pada masa Abbasiyah dan, e. Runtuhnya pemerintahan Abbasiyah C. Tujuan Tujuan pembuatan makalah ini agar para pembaca dapat mengetahui perjalanan umat islam setelah wafatnya nabi, khusunya pada masa pemerintahan Abbasiyah. BAB II PEMBAHASAN A. Awal Berdirinya Dinasti Abbasiyah Dinasti abbasiyah didirikan oleh abdullah Al-saffah ibn Muhammad ibnu Ali ibnu Abdullah ibnu Al-Abbas. Pada zaman Daulah Abbasiyah inilah masa kejayaan dan masa keemasan islam mencapai puncaknya. Kekuasaanya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 132 H (750 M)-656 H(1258) M). Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya.

Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode : 1. Periode pertama (132 H/750 M 232 H/847 M), disebut periode pengaruh persia pertama. 2. Periode kedua (232 H/847 M 334 H/947 M), disebut masa pengaruh Turky pertama. 3. Periode ketiga (334 H/945 M 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasty buwaih dalam pemerintahan kholifah abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh persia kedua. 4. Periode keempat (447 H/1055 M 590 H/1194 M), masa kekuasaan dinasti saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua 5. Periode kelima (590 H/1194 M 656 H/1258 M), masa kholifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaanya hanya efektif di sekitar kota baghdad.[1] Pada priode ini mengalami beberapa pergantian kepemimpinan sebanyak 9 kali, diantaranya : Abu Abbas as-Saffah, Abu Jafar al Mansur, al-Mahdi, al-Hadi, Harun al-Rasyid, al-Amin, al-Mamun, al-Mutasim dan Al Wasiq. Nama dinasti Abbasyiah diambil dari nama salah seorang dari paman nabi Muhammad SAW yang bernama al-abbas ibnu Abd al-muttalib ibn Hasyim. Mereka adalah dari cabang Bani Hasyim yang secara nasab keturunan lebih dekat dengan nabi. Menurut mereka, orang Umyyah secara paksa menguasai khilafah melalui tragedi perang siffin. oleh karena itu, untuk mendirikan Dinasti Abbasiyah mereka mengadakan gerakan yang luar biasa melakukan pemberontakan terhadap Bani umayah.[2] Masa pergerakan untuk merebut dari Daulah Umayah ini terjadi pertempuran yang melibatkan dua kubu tentara Abasiyah dan Umayah, bertempur dekat sungai Zab bagian hulu dan dalam pertempuran itu kemenangan ada dipihak bani Abbas dan bala tentaramya, sehingga bergerak dan masuk ke negeri Syam (Suriah) dan disinilah kota demi kota ditaklukan. B. Sistem Kekhalifahan Abbasiyah Negara dipimpin oleh kepala Negara yang bergelar khalifah, dan jabatannya bernama khilafah dan untuk membantu khalifah dalam menjalankan pemerintahan Negara, ditetapkan suatu jabatan yang bernama Wizzarat dan pelaksananya bernama Wazir. Dalam daulah Abassiyah, terdapat dua macam Wizzarat, yaitu: 1. Wizzaratut Tanfiz, dimana wazirnya hanya sebagai pembantu khalifah dan bekerja atas nama khalifah, yang pada zaman sekarang dinamakan presidential cabinet. 2. Wizzaratut Rafwidl, dimana wazirrnya diberi kuasa penuh untuk memimpin pemerintahan, sedangkan khalifah sebagai lambang saja yang dalam zaman sekarang dinamakan parlementer cabinet. Untuk membantu khalifah dalam menjalankan tata usaha Negara diadakan sebuah dewan yang bernama Diwanul Kitabah (Sekretaris Negara) yang dipimpin oleh seorang Raisul Kuttab (Sekretaris Negara) dan dibantu oleh beberapa sekretaris :

1. Katibur Rasail (Sekretaris Urusan Persuratan) 2. Katibul Kharraj (Sekretaris Urusan Keuangan) 3. Katubul Jund (Sekretaris Urusan Tentara) 4. Katibul Syurtah (Sekretaris Urusan Kepolisian) 5. Katibul Qadla (Sekretaris Urusan Kehakiman) Dalam zaman Daulah Abassiyah tata usaha Negara bersifat sentralisasi yang dinamakan An Nidhamul Idary Al Markazy. Wilayah dibagi kedalam beberapa provinsi yang dinamakan Imaarat dengan gubenurnya yang bergelar Amir atau Hakim. Imaarat pada waktu itu ada tiga macam: 1. Imaarat Al Istikfa, yaitu provinsi yang gubenurnya diberi hak kekuasaanyang besar dalam segala bidang urusan Negara, termasuk urusan kepolisian, ketentaraan, keuangan dan kehakiman. 2. Al Imaarah Al Khassah, yaitu propinsi yang kepada gubernurnya hanya diberi hak wewenang yang terbatas. 3. Imaarat Al Istilau, yaitu provinsi de fakto yang didirikan oleh seorang panglima dengan kekerasan, yang kemudian terpaksa diakuinya dan panglima yang bersangkutan menjadi gubernurnya. Kepada wilayah (provinsi) hanya diberikan hak-hak otonomi terbatas yang mendapat hak otonomi penuh adalah desa yang disebut Al Qura dengan kepala desa yang bergelar Syaikh Al Qariyah.[3] Dalam keadaan Darurat, khalifah menyerahkan pimpinan Negara kepada panglima besar angkatan perang Islam, dimana wazir hanya menjadi penasehat saja. Panglima besar yang diserahkan pimpinan Negara diberi gelar Amirul Umara. Untuk mengurus keuangan Negara, termasuk politik keuangan, maka dibentuklah suatu badan yang bernama baitul maal. Baitul maal terdiri dari tiga diwan: 1. Diwanul Khazaanah, untuk mengurus perbendaharaan Negara. 2. Diwan Al Azrau, untuk mengurus kekayaan Negara yang berupa hasil bumi. 3. Diwan Khazainnus Silah, untuk mengurus perlengkapan angkatan perang. Sumber uang masuk bagi baitul maal, yang terpenting yaitu: 1. al kharraj (pajak hasil bumi) 2. Al Jizyah (pajak badan) 3. Az Zakah (segal macam zakat)

4. Al fI (kekalahan pihak musuh karena kalah perang atau rampasan perang) 5. Al Ghanimah (rampasan perang) 6. Al Asyur (pajak perniagaan dan bea cukai).[4] Terdapat perbedaan pokok antara bani Abbasiyah dan bani Umayyah. Yaitu, dinasti Abbas pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam daripada perluasan wilayah. Ada pula ciri-ciri menonjol bani Abbas yang tak terdapat di zaman bani umayyah. 1. Pindahnya ibu kota ke baghdad, pemerintahan bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh arab. Sedangkan bani umayyah sangat berorientasi kepada arab. 2. Dalam penyelenggaraan negara, pada masa bani Abbas ada jabatan wazir, yang tidak terdapat dalam pemerintahan bani umayyah. 3. Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan bani Abbas. Sebelumnya tidak ada tentara khusus yang profesional.[5] C. Kejayaan Daulah Abbasiyah Dalam bidang pendidikan terjadi perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Hal ini sangat ditentukan oleh perkembangan bahasa arab, baik sebagai bahasa administrasi yang sudah berlaku sejak zaman bani Umayyah, kemajuan itu ditentukan oleh dua hal , yaitu : 1. Terjadinya asimilasi antara bangsa arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pengaruh persia, dalam pemberian saham tertentu dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam islam sangat kuat di bidang pemerintahan. di sampimg itu, bangsa persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat , dan sastra. Pengaruh india terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam bidang ilmu, terutama filsafat. 2. Gerakan penerjemahan yang berlangsung dalam tiga fase : 1) Fase pertama, pada masa kholifah al-Manshur hingga Harun al-Rosyid. Pada masa ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. 2) Fase kedua berlangsung mulai masa kholifah al-Mamun hingga tahun 300 H. buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. 3) Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas bidang-bidang ilmu yang yang diterjemahkan semakin meluas. Aliran-aliran teologi sudah ada pada masa bani Umayyah, seperti khawarij, Mujiah, dan Mutazilah. Akan tetapi pengembangan pikiranya masih terbatas. Teologi rasional Mutazilah muncul diujung pemerintahan Bani Umayyah. Namun, pemikiran-pemikiranya yang lebih kompleks dan sempurna baru dirumuskan pada pemerintahan Bani Abbas periode pertama,

setelah terjadi kontrak dengan pemikiran yunani yang membawa pemikiran rasional dalam islam. Kemajuan bani Abbasiyah periode pertama diantaranya : 1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan a. Gerakan penerjemahan Meski kegiatan penerjemahan sudah dimulai sejak Daulah Umayyah, upaya untuk menerjemahkan dan menskrinsip berbahasa asing terutama bahasa yunani dan Persia ke dalam bahasa arab mengalami masa keemasan pada masa Daulah Abbasiyah. Baitul hikmah merupakan perpustakaan yang berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. pada masa Harun ar-Rasyid Institusi ini bernama Khizanahal-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Pada masa al-mamun, Lembaga ini dikembangkan sejak tahun 815 M dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah, yang dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan dari Ethiopia dan India. Direktur perpustakaannya seorang nasionalis Persia dan ahli pahlewi, Sahl Ibn Harun. Di bawah kekuasaan Al-Mamun, lembaga ini sebagai perpustakaan juga sebagai pusat kegiatan studi dan riset astronomi dan matematika.[6] Perkembangan maahid dan maktabaat sangat maju dizaman ini sesuai dengan majunya gerakan terjemah dan industri kertas. Maahid dan maktabaat itu adalah pusat-pusat kebudayaan Islam yang terpenting. Pada permulaan daulah abbasiyah, juga masih belum ada madrasah (sekolah), yang ada hanya mahad (tempat belajar) yang lain, yaitu: 1. Kuttab, yaitu belajar dalam tingkat pendidikan rendah dan menengah. 2. Masjid, yang biasanya digunakan untuk pendidikan tinggi dan takhasus. 3. Masjid Munadharah, yaitu majlis tempat pertemuan para ulama, sarjana, ahli fakir dan pujangga untuk membahas masalah-masalah ilmiah. 4. Darul Hikmah, yang didirikan oleh Khalifah Harun Ar Rasyid yang kemudian disempurnakan oleh khalifah Mamun. Darul Hikmah adalah perpustakaan terbesar, yang juga disediakan ruangan-ruangan tempat belajar. b. Madrasah, Perdana menteri Nidhamul Mulk yang memerintah dalam tahun 456-485 H. adalah orang yang mula-mula mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada sampai sekarang ini, dengan nama madrasah. Madrasah yang didirikan Nidhamul Mulk terdapat di Baghdad, Balkh Muro, Thabristan, Naisabur, Hara, Isfahan, Basrah, Mausil dan di kota-kota lainnya.[7] c. filasafat

Tokoh-tokoh yang terkenal dalam bidang filsafat antara lain Al-farabi, ibn Sina, dan ibnu Rusyd. Al-farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibnu sina juga banyak mengarang tentang filsafat yang terkenal di antaranya ialah al-syifa.[8] d. kedokteran Dalam lapangan kedokteran dikenal nama Al-Razi dan Ibnu sina. Al-rozi adalah tokoh utama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya ilmu kedokteran berada di tangan Ibnu Sina. Ibnu sina yang juga seorang filosof, berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Diantara karyanya adalah Al-Qonun fi Al-Thobib yang merupakan ensiklopedia kedokteran paling besar dalam sejarah. e. Di bidang ilmu lain Dalam lapangan astronomi nama Al-Fazari sebagai astronom islam yang pertama kali menyusun astrolobe, Al-Fargoni, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringakasan Astronomi yang diterjemahkan kedalam bahasa latin oleh Grerard Cremonadan Johanes Hispalensis. Dalam bidang optika Abu Ali Hasan ibnu Alhaythami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen. Di bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Di bidang matematika terkenal nama Muhammad ibn Musa Al-Khawarijmi, yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan Al-jabar. kata al-jabar berasal dari judul bukunya, al-jabr wa al-Muqobalah. Dalam bidang sejarah terkenal nama Al-Masudi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Karyanya yang diantaranyaMuruj al-zahab wa maadin aljawahir. [9] 2. Perkembangan Dalam bidang hukum Islam Imam mahzab hukum yang yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah (700 767 M) dalam pendapat pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kuffah, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan persia yang kemasyarakatanya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi. Karena itu mahzab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Karya pertama yang diketahui adalah Majmu al Fiqh karya Zaid bin Ali (w.122 H/740 M) yang berisi tentang fiqh Syiah Zaidiyah. Hakim agung yang pertama adalah Abu Hanifah (w.150/767). meski dianggap sebagai pendiri madzhab hanafi,karya-karyanya sendiri tidak ada yang terselamatkan. Dua bukunya yang berjudul Fiqh alAkbar (terutama berisi artikel tentang keyakinan) dan Wasiyah Abi Hanifah berisi pemikiran-pemikirannya terselamatkan karena ditulis oleh para muridnnya Berbeda dengan Abu Hanifah, imam malik (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat madinah. Pendapat dua tokoh itu ditengahi oleh Imam Syafii (767-820 M) dan imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M). Disamping empat pendiri mahzab besar tersebut, pada masa pemerintahan bani Abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan

mahzabnya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mahzab itu hilang bersama berlalunya zaman.[10] 3. Perkembangan Dalam Bidang Ekonomi Dalam zaman permulaan dari daulah Abbasiyah, perbendaharaan Negara penuh berlimpahlimpah, uang masuk lebih banyak dari uang keluar. Khalifah Mansyr betul-betul telah meletakkan dasar-dasar yang sangat kuat bagi ekonomi dan keuangan Negara. Pada masa khalifah Mansyur meninggal setelah memimpin Negara selama 22 tahun, dalam kas Negara tersisa kekayaan sebanyak 810.000,- dirham. Demikian kas Negara yang ditinggalkan khalifah Harun Ar Rasyid meninggalkan kekayaan negara dalam kas waktu beliau meninggal sebanyak lebih dari 900.000,- dirham. Sebabnya maka kas Negara demikian kayanya pada permulaan daulah Abbasiyah, yaitu Karena para khalifah betul-betul memandang soal ekonomi dan keuangan Negara sangat penting,sehingga dengan demikan pembangunan dalam segala cabang ekonomi dia pandang soal yang paling penting. dalam bidang Ekonomi ini meiputi pertanian, perdagangan, dan perindustrian. 4. Perkembangan Dalam Bidang Peradaban Di masa daulah Abbasiyah berkembang bermacam corak kebudayaan, yang berasal dari beberapa bangsa. Hal ini disebabkan oleh: 1. Warga Negara terdiri dari berbagai unsur bangsa 2. Pergaulan yang intim dan kawin campuran 3. Berbagai bangsa memeluk agama Islam 4. Meningkatnya kemajuan yang membutuhkan ilmu pengetahuan luas dalam segala bidang kehidupan. D. Runtuhnya Daulah Abbasiyah Daulah Abbasiyah yang berkuasa selama 5 abad (750-1258 M) mengalami masa disintegrasi pada tahun 1000-1250 M. Ibnu khaldun membatasi keberadaan sebuah dinasti yang bertahan sampai 100 tahun(ali, 1976: 558). Dinasti Abbassiyah pun tidak luput dari aturan itu (natural system). Kemegahan dinasti ini dalam waktu yang relatif tidak panjang dan bahkan sempat menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tertinggi ketika itu, ternyata kejayaan itu menuju kulminasi, pasca kekuasaan khalifah wasiq (842-847 M). Kemunduran ini, dinasti Abbasiyah hancur total dengan serangan bangsa mongol ke baghdad.[11] Penyebab kehancuran dinasti Abbasiyah disebabkan dua faktor penting yakni faktor internal dan eksternal diantaranya sebagai berikut : 1. Faktor internal a) Kemerosotan Ekonomi

1) Eksploitasi pajak yang berkebihan menjadi kebijakan favorit yang dibebankan kepada rakyat, kemudian pengaturan wilayah-wilayah (provinsi) demi keuntungan kelas penguasa telah menghancurkan bidang pertanian dan industri.[12] 2) kecenderungan bermewah-mewahan, ditambah dengan kelemahan kholifah dan faktor lain yang menyebabkan roda pemerintahan terganggu dan rakyat menjadimiskin. b) Persaingan Antar Bangsa 1) Masuknya unsur Turki dalam pemerintahan Abbasiyah semakin menambah persaingan antar bangsa. Dari dua belas khalifah pada periode kedua ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, selebihnya kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahta dengan paksa.[13] 2) Adanya persaingan antarbangsa, terutama Arab, Persia, dan Turki. Disamping latar belakang kebangsaan, juga didilatarbelakangi paham keagamaan, ada yang berlatar belakang Syiah dan ada yang Sunni.[14] 3) Terjadinya pemberontakan-pemberontakan. Kemudian mereka mengambil tindakan membunuh, yang kadang-kadang hanya karena curiga semata. Demikianlah sebab munculnya gerakan-gerakan anti kerajaan, dan seterusnya tindakan-tindakan pembalasan kerajaan dengan membunuh dan menindas.[15] c) Konflik Keagamaan 1) Terjadi Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq. Gerakan al-Asyfin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. 2) Konflik antara antara ahlussunnah waljamaah dengan Syiah. 3) Aliran Mutazilah bangkit kembali pada masa dinasti Buwaih. Namun, pada masa dinasti seljuk yang menganut aliran asyariyyah menyingkirkan golongan Mutazilah secara sistematis.[16] 2. Faktor Eksternal 1) Perang Salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode yang menelan banyak korban. 2) Serangan pasukan Tartar (Mongol) ke wilayah kekuasaan islam.[17] 3) munculnya dinasti-dinasti kecil di bagian barat (Tulun, Iksidiyah, Hamdaniyah). 4) Munculnya dinasti-dinasti kecil di bagian timur (Tahiriyah, Buwaihi, Saljuk). BAB III PENUTUP KESIMPULAN

Dari uraian di atas kami menyimpulkan bahwasanya pemerintahan Abbasiyah didirikan oleh Abul Abbas Abdullah ibn Muhammad As-Saffah (750-754 M), yang diumumkan di Masjid Agung Kufah pada tahun 132H/749M. Khalifah yang berkuasa sebanyak 24 orang mulai tahun 750-1258M. Menggulingkan kekuasaan Dinasti Umayyah melalui revolusi sosial. Sistem pemerintahan yang dijalankan pada pemerintahan Abbasiyah para sejarawan membaginya menjadi lima periode : 1. Periode pertama (132 H?750 M 232 H/847 M), disebut periode pengaruh persia pertama. 2. Periode kedua (232 H/847 M 334 H/947 M), disebut masa pengaruh Turky pertama. 3. Periode ketiga (334 H/945 M 447 H/1055 M), masa kekuasaan dinasti buwaih dalam pemerintahan kholifah abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh persia kedua. 4. Periode keempat (447 H/1055 M 590 H/1194 M), masa kekuasaandinasti saljuk dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah, biasanya disebut juga dengan masa pengaruh turki kedua 5. Periode kelima (590 H/1194 M 656 H/1258 M), masa kholifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaanya hanya efektif di sekitar kota baghdad. Sistem pemerintahan pada saat itu bercorak teokrasi dan bersifat internasional.Negara dipimpin oleh kepala Negara yang bergelar khalifah, dan jabatannya bernama khilafah dan untuk membantu khalifah dalam menjalankan pemerintahan Negara, ditetapkan suatu jabatan yang bernama Wizzarat dan pelaksananya bernama Wazir. Otoritas Sipil dipegang oleh Wazir, Otoritas Pengadilan dipegang oleh Hakim, dan Otoritas Militer dipegang oleh Amir (jenderal). Sistem pemerintahan Abbasiyah mengadopsi Persia. Pada pemerintahan Abbasiyah bentuk kemiliteran sudah terbilang lengkap Pasukan terdiri dari HARAS (Pengawal Khalifah), JUND (Pasukan Tetap), MUTATHAWWIAH (Pasukan Sukarelawan). Pada saat itu ekspansi dipusatkan pada penyerangan benteng Byzantium dan Membangun Kota Baghdad sebagai pusat politik dan perdagangan. Kemajuan peradaban saat itu terjadi dalam berbagai bidang dari mulai penerjemahan karyakarya berbahasa Persia, Sankskerta, Yunani dan juga Perkembangan ilmu pengetahuan seperti kedokteran, filsafat, astronomi, matematika, kimia. Selain itu dalam bidang hukum islam Munculnya mazhab/aliran dalam Islam (fiqh, kalam, tasawuf) serta pembangunan Perpustakaan yang diberi nama Khizanah Al-Hikmah, Bait al-Hikmah. Dalam suatu pemerintahan ada kalanya mengalami kemajuan akan tetapi juga akan mengalami kemunduran. Daulah Abbasiyah yang berkuasa selama 5 abad (750-1258 M) mengalami masa disintegrasi pada tahun 1000-1250 M. Kemunduran Abbasiyah dipenaruhi oleh dua faktor yakni faktor internal dan faktor eksternal. faktor internal disebabkan diantaranya adanya eskploitasi pajak, perpecahan Arab non-Arab, muslim-non-muslim, disintegrasi sosial. Kemudian yang faktor eksternalnya disebabkan sebagai berikut :

1. munculnya dinasti-dinasti kecil di bagian barat (Tulun, Iksidiyah,Hamdaniyah). 2. Munculnya dinasti-dinasti kecil di bagian timur (Tahiriyah, Buwaihi, Saljuk). 3. Serangan Pasukan Tartar (Mongol). Dari sejarah perjalanan pemerintahan Abbasiyah kita bisa mengambil pelajaran yang mungkin bisa dijadikan pacuan untuk kedepanya. Hikmah-hikmah yang dapat kita ambil dari sejarah perjalanan Bani Abbasyiah diantaranya adalah : v Suatu peradaban akan maju dan tahan lama ketika ilmu pengetahuan diutamakan v Komunikasi sangat diperlukan agar tidak terjadi fitnah dan saling mencurigai v Sesuatu yang diperoleh dengan tidak baik akan berakhir dengan tidak baik pula (pemberontakan dibalas dengan pemberontakan) v Toleransi terhadap perbedaan akan mempermudah kemajuan v Kelahiran, kemajuan , dan kehancuran tidak terlepas dari kehidupan manusia DAFTAR PUSTAKA Hasjmy, Ahmad.1975. Sejarah Kebudayaan Islam. jakarta : Bulan Bintang. Hassan, Hassan Ibrahim.1989. Sejarah dan Kebudayaan Islam. yogyakarta : Kota Kembang. Karim, M.Abdul.2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta : Pustaka Book Publisher. Syalabi , Ahmad.1993. Sejarah dan Kebudayaan Islam 3. Jakarta : Pusaka Al-husna. Yatim, Badri.2008. Sejarah Peradaban Islam dirasah islamiyah II. Jakarta : Raja grafinda persada.

[1]

Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam dirasah islamiyah II, (jakarta: Raja grafinda persada, 2008), hlm. 49-50.
[2]

M.Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam cetakan 1, (yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2007), hlm. 143.
[3]

Ahmad Hasjmy , Sejarah Kebudayaan Islam, (jakarta : Bulan Bintang, 1975), hlm. 201203.
[4] [5]

Ibid, 205. Badri Yatim, op. Cit., hlm. 50-54

[6]

Ahmad Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 3, (Jakarta : Pusaka Al-husna, 1993), hlm. 199.
[7]

Ahmad Hasjmy , Sejarah Kebudayaan Islam, (jakarta : Bulan Bintang, 1975), hlm. 224225.
[8] [9]

Badri Yatim, op. Cit., hlm. 58. Ibid. Ibid.,hal 56. M.Abdul Karim, op. Cit., hlm. 161. Ibid, hlm. 165. Badri Yatim, op. Cit., hlm. 62. Ibid, hlm.66. Ahmad Syalabi, op. Cit., hlm.158. Badri Yatim, op. Cit., hlm. 83-84. Ibid, hal. 85.

[10] [11] [12] [13] [14] [15] [16] [17]

Anda mungkin juga menyukai