P. 1
FLO - Definisi, Diagnosis, Etiologi

FLO - Definisi, Diagnosis, Etiologi

|Views: 57|Likes:
Dipublikasikan oleh Dimas Gatra Diantoro
fsfsdfs
fsfsdfs

More info:

Published by: Dimas Gatra Diantoro on May 06, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

I.

DEFINISI Sindrom Stevens-Johnson (SSJ) merupakan kumpulan gejala yang mengenai kulit, selaput lendir di orifisium, dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari ringan sampai berat. Kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel/bula, dan dapat disertai purpura. (Hamzah, 2002). Sindrom Steven-Johnson disebut juga sebagai sindrom de Friessinger-Rendu, eritema eksudativum multiform mayor, eritema poliform bulosa, sindrom muko-kutaneo-okular, dan dermatostomatitis (Adithan,2006). Bentuk yang lebih berat dari SSJ adalah Nekrolisis Epidermal Toksik (NET). Pada pemeriksaan kulit bisa didapatkan eritema, vesikel, dan bula generalisata, erosi dan ekskoriasi mukosa, serta epidermolisis numular sampai plakat dan purura yang tersebar di seluruh tubuh (Siregar, 2004). Sindrom Stevens-Johnson pertama diketahui pada tahun 1922 oleh dua orang dokter anak dari Amerika, Albert Mason Stevens dan Frank Chambliss Johnson, pada dua pasien anak laki-laki. Namun dokter tersebut tidak dapat menentukan penyebabnya. Insidensi SSJ dan NET adalah sekitar 2-3 kasus per juta populasi per tahun di Eropa dan Amerika Serikat. Wanita dua kali lebih banyak terserang sindrom ini dibanding laki-laki. Angka kejadian lebih tinggi pada pasien dengan Sindrom Lupus Eritematosa (SLE) dan infeksi HIV (Adithan,2006). II. DIAGNOSIS SSJ dan NET biasanya mulai dengan gejala prodromal yang berkisar antara 114 hari. Gejala ini berupa demam, malaise, batuk, korizal, sakit menelan, nyeri dada, muntah, pegal otot dan atralgia yang sangat bervariasi dalam derajat berat dan kombinasi gejala tersebut. Kemudian pasien mengalami ruam datar berwarna merah pada wajah yang sering kali kemudian meluas ke seluruh tubuh dengan pola yang tidak merata. Daerah ruam membesar dan meluas, dan sering membentuk lepuh pada bagian tengahnya. Pada NET, bagian kulit yang luas mudah mengelupas hanya dengan sentuhan halus. Pada sebagian besar kasus, 30% atau lebih lapisan kulit permukaan tubuh hilang. Daerah kulit yang terpengaruh sangat nyeri dan pasien merasa sangat sakit

papel. anorektal. kuping. merupakan inflamasi kronik dari mukosa okuler yang menyebabkan kebutaan. simblefaron. membran hidung. Kelainan mukosa berupa vesikel. dan muncul pada membran mukosa. Pada mata terjadi: konjungtivitis (radang selaput yang melapisi permukaan dalam kelopak mata dan bola mata). iridosiklitis. dan meatus uretra. Bengkak di kelopak mata. Pada kasus berat terjadi erosi dan perforasi kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. vesikel. ekskoriasi. hidung atau alat kelamin c. konjungtivitas kataralis . mucosa mulut dan mata yang timbul akut atau dapat juga beberapa hari sesudah masuknya obat 3) Rasa gatal yang dapat pula disertai demam yang biasanya subfebris b. atau mata merah. mata. f. Pada SSJ dan NET. Pada beberapa kasus. dubur. tenggorokan. Lepuh dalam mulut. Waktu yang diperlukan mulai onset sampai terjadinya ocular cicatricial pemphigoid bervariasi mulai dari beberapa bulan sampai 31 tahun. atau bula secara simetris pada hampir seluruh tubuh d. dapat terjadi kuku dan rambut rontok (Adithan. Anamnesis yang teliti mengenai : 1) Obat-obatan yang dipakai 2) Kelainan kulit. 2002) : a. dan mata. e. Kelainan kulit berupa eritema. perdarahan dan kusta berwarna merah. dapat terjadi lepuh pada selaput mukosa yang melapisi mulut. 2006) a.dan demam. blefarokonjungtivitis. erosi. Dasar diagnosis sindroma steven johnson adalah: (Lee. bula. Cedera mukosa okuler merupakan faktor pencetus yang menyebabkan terjadiny aocular cicatricial pemphigoid. mulut. kelamin. daerah vulvovaginal. Kelainan kulit yang ditemukan: 1) Distribusi menyeluruh dan simetris . iritis. 2006). Gejala awal termasuk SSJ dan NET (Mansjoer. Bula terjadi mendadak dalam 1-14 hari gejala prodormal. kelopak mata edema dan sulit dibuka. Ruam b.

terutama pada penderita yang mengkonsumsi obat yang mempunyai waktu paruh yang lama atau mengalami erupsi reaksi obat yang bersifat persisten. C3 dan C4 normal atau sedikit menurun dan dapat dideteksi adanya kompleks imun beredar. demam. mata. leukosit biasanya normal atau sedikit meninggi. data kronologis mengenai cara pemberian obat serta jangka waktu antara pemakaian obat dengan onset timbulnya erupsi harus ikut dikumpulkan. Tetapi ada kalanya hal ini sulit untuk dievaluasi.2) Bentuk kelainan yang timbul 3) Adanya lesi berbentuk ruam atau eritema pada kulit Penegakkan diagnosis harus dimulai dari pendeskripsian yang akurat dari jenis lesi dan distribusinya serta tanda ataupun gejala lain yang menyertainya. Anemia dapat dijumpai pada kasus berat dengan perdarahan. pemeriksaan imunologik. biakan kuman serta uji resistensi dari darah dan tempat lesi. 2002 dan Lee. Rangkuman penilaian yang harus dilakukan (Revus & Allanore. terdapat peningkatan eosinofil. mukosa. dosisnya. perbesaran limfonodus Catat semua obat yang dipakai pasien dan waktu pertama pemakaiannya Waktu ketika timbulnya erupsi Interval waktu saat pemberian obat dengan munculnya erupsi kulit Respon terhadap penghentian agen yang dicurigai menjadi penyebab Respon saat dilakukan pemaparan kembali Data yang dikumpulkan oleh perusahaan obat Daftar pemakaian obat dengan peringatan Bibliografi obat Literatur Diagnosis ditujukan terhadap manifestasi yang sesuai dengan trias kelainan kulit. Data mengenai semua jenis obat yang pernah dimakan pasien. 2003) Karakteristik klinis Faktor kronologis Tipe lesi primer Distribusi dan jumlah lesi Keterlibatan membran mukosa Tanda dan gejala yang timbul: demam. iris atau mata. Selain itu didukung pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan darah tepi. kelainan pada mukosa. Kadar IgG dan IgM dapat meninggi. serta hubungannya dengan faktor penyebab yang secara klinis terdapat lesi berbentuk target. serta pemeriksaan histopatologik biopsi kulit. Imunoflurosesensi direk bisa membantu diagnosa kasus-kasus atipik (Hamzah. . pruritus. Biopsi kulit direncanakan bila lesi klasik tak ada. 2006).

Tolbutamide. Salicylates. penyebab SSJ yang paling sering adalah Nevirapine dan Cotrimoxazole. M. Methylprednisolone. Itraconazole Famotidine. Gold. Obat-obatan yang menyebabkan Sindrom Stevens-Johnson Golongan Obat Antimikroba Contoh Obat Sulfonamide. Sulindac Allopurinol. Chloroquine. Grepafloxacin. Sindrom Stevens-Johnson. Jakarta. Amoxicillin. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. obat-obatan. 2002. Prednisolone Antikonvulsan Anti jamur Obat-obat Gastro Intestinal OAINS Lain-lain DAFTAR PUSTAKA 1. Ethambutol. Tramadol. Omeprazole. Erythromycin. 2006. Terkait dengan HIV. bakteri. Nitrofurantoin. Ciprofloxacin. kehamilan) (Siregar. Valdecoxib. Ibuprofen. Amiodarone. Azithromycin. antikejang dan analgetik. terutama antibiotik. ETIOLOGI Hampir semua kasus SSJ dan NET disebabkan oleh reaksi toksik terhadap obat. Hal. Fosphenytoin. Isoxicam. Ranitidine Oxybutazone. Dapsone. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tabel 1. Cocaine. Verapamil. Siregar. Ofloxacin. Dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. dan lain-lain (keganasan. Beberapa faktor penyebab timbulnya SSJ diantaranya : infeksi (virus. 163-165 . Edisi Kelima. Chlorpromazine. Thiacetazone.III. Ampicillin. Clindamycin. Isoniazid. Pentamidine. makanan. Cotrimoxazole. 2004). Phenytoin. Levofloxacin. Reaksi ini muncul segera setelah mengonsumsi obat. Fenbufen. faktor fisik (udara dingin. Hamzah. 2004). Streptomycin Carbamazepine. Nevirapine. Fluconazole. jamur. parasit). walaupun pada umumnya sering berkaitan dengan respon imun terhadap obat. Etiologi SSJ sukar ditentukan dengan pasti karena dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Phenobarbital Griseofulvin. Lamotrigine. sinar matahari. biasanya dalam 2-3 minggu (Adithan. sinar X).

2006.edu/charu/v2issue1. A. p: 333-352 . Siregar. India. Philadelphia. A. J. Departement of Pharmacology. Edisi Kedua. Dalam : Drug Alert. Diakses tanggal : 16 April 2006. 2003.2.V. C. J. EGC.S. Dalam : Adverse Drug Reactions. United States of America. Stevens-Johnson Syndrome. Jakarta. Edisi Kedua. Elserve limited. dan Thomson.com/pt/re/drs/pdf 5. Diakses dari : http://drugsafety. Revus. Volume One. Volume 2.adisonline. Drugs Reaction. 2006. dan Allanore. Sindrom Stevens Johnson. Adithan. R. 2nd edition. Hal 141-142 4. Issue 1. Drug-induced skin. Dalam : Saripati Penyakit Kulit. Pharmaceutical Press. Dalam : Bolognia Dermatology.pdf 3. Diakses tanggal : 16 April 2011. 2004. Lee. JIPMER.jipmer. Diakses dari : www.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->